Seperti biasa, setelah lebih dulu menghadirkan lini flagship Galaxy S26 Series beberapa waktu lalu, kini telah disusul oleh jajaran ponsel kelas menengah dari pabrikan tersebut, yakni Galaxy A37 5G dan Galaxy A57 5G.
Kedua ponsel mengalami kenaikan harga dibandingkan dengan pendahulu masing-masing karena krisis kelangkaan komponen memori yang tengah berlangsung di industri teknologi.
Banderol Galaxy A57 5G kini dimulai dari angka Rp 7 jutaan dan nyaris menyentuh Rp 9 juta untuk varian tertinggi. Apakah Galaxy A57 5G layak ditebus dengan harga tersebut? Simak ulasan lengkapnya oleh 91mobiles Indonesia di bawah ini.
Table of Contents
Kesimpulan singkat
Meskipun terbilang minor, tetap ada sejumlah peningkatan yang diterapkan oleh Samsung pada Galaxy A57 5G. Bodinya sekarang menjadi lebih ramping dan ringan, sementara dapur pacunya menjadi sedikit lebih kencang. Beberapa aspek, seperti kameranya, terlihat ketinggalan dibandingkan dengan kompetitor, tapi sebenarnya ada peningkatan yang tak kasatmata dan masa dukungan software yang sangat lama.
Unboxing Samsung Galaxy A57 5G: Tipis nan minimalis
Seperti biasa untuk ponsel-ponsel buatan Samsung, Galaxy A57 5G datang dalam kotak kemasan yang jauh lebih tipis dibandingkan dengan boks HP merek lain karena di dalamnya tidak ada aksesori charger.
Samsung Galaxy A57 5G dengan kotak kemasan dan aksesori pelengkap di dalamnya.
Tampilannya juga sederhana dengan warna latar putih serta nama dan gambar HP yang bersangkutan di sisi depan. Warna perangkat dalam gambar sesuai dengan ponsel asli di baliknya, dalam hal ini Awesome Icy Blue. Kotak Samsung Galaxy A57 5G sendiri hanya berisi kabel USB-C ke USB-C dan booklet panduan singkat, di samping unit ponsel.
Desain Samsung Galaxy A57 5G: Tetap menarik, tapi lebih ramping
Samsung mempertahankan hampir semua aspek desain dari perangkat terdahulu. Yang berubah adalah dimensi fisik perangkat yang kini lebih tipis dengan ketebalan hanya 6,9 mm dan bobot 179 gram, lebih ramping dibandingkan dengan kebanyakan ponsel lain sekelasnya di pasaran.
Samsung Galaxy A57 5G tetap berbalut Gorilla Glass Victus+ di bagian depan dan belakang, berikut frame aluminium berwarna senada. Ketiga kamera belakang ditempatkan dalam modul berbentuk kapsul dengan background gelap dan aksen stripes di sekeliling.
Rancangannya secara keseluruhan terkesan minimalis sekaligus elegan, cenderung understated tapi menarik. Desain macam demikian sepertinya sayang apabila ditutupi oleh casing, meskipun Samsung juga menyediakan aksesori case yang bisa dibeli secara terpisah.
Layar Samsung Galaxy A57 5G tak berubah, masih dengan panel Super AMOLED Plus 6,7 inci (2.340 x 1.080 piksel, 120 Hz) dengan tingkat kecerahan maksimal 1.900 nits. Tampilannya jernih dan memukau dengan saturasi dan kontras tinggi, walaupun area display keseluruhan mungkin tak terlalu luas karena ukuran layar yang sedang-sedang saja.
Seperti ponsel-ponsel seri A lainnya dari Samsung, Galaxy A57 5G menempatkan tombol daya dan pengatur volume di bagian “Key Island” yang agak menonjol dibandingkan dengan frame selebihnya agar mudah ditemukan. Pemindai sidik jarinya terletak di sisi bawah layar (in-display, optical) dan bisa bekerja dengan cukup gesit asalkan jari tidak basah.
Walaupun lebih tipis, bodi Galaxy A57 5G justru lebih tangguh dibandingkan pendahulunya karena Samsung meningkatkan ketahanannya terhadap air dan debu dengan rating IP68 (dari sebelumnya IP67 pada Galaxy A56 5G). Artinya, Galaxy A57 5G bisa bertahan di dalam air hingga 1,5 meter selama 30 menit.
Rating tersebut memang tidak setinggi beberapa ponsel menengah lain yang bisa mencapai IP69. Beberapa smartphone entry-level bahkan ada yang lebih tinggi lagi. Namun, di luar kondisi ekstrem yang jarang terjadi, agaknya ketahanan Galaxy A57 5G terhadap air dan debu sudah lebih dari cukup untuk penggunaan sehari-hari.
Kamera Samsung Galaxy A57 5G: Masih itu-itu saja
Satu aspek lainnya yang merupakan carry-over dari perangkat terdahulu adalah kamera. Spesifikasinya di atas kertas tak berubah, dengan kamera utama 50 MP (f/1.8, OIS), didampingi kamera ultrawide 12 MP (f/2.2) dan kamera makro 5 MP (f/2.4), ditambah kamera depan 12 MP (f/2.2).
Pada kenyataannya memang demikian, Samsung Galaxy A57 5G dalam hal ini seolah stagnan sejak beberapa tahun lalu. Rangkaian kamera tersebut sudah kurang relevan untuk tahun 2025, dan semakin tertinggal dari ponsel-ponsel menengah lain pada 2026.
Para kontemporer di kelas harga Samsung Galaxy A57 5G, seperti Vivo V70, Realme 16 Series, hingga Oppo Reno 15 Series rata-rata sudah menyematkan kamera telefoto untuk menjepret objek di kejauhan sekaligus menghasilkan foto portrait menawan. Sementara, fungsi makro ditangani kamera ultrawide (atau telefoto) yang memiliki kemampuan AF jarak dekat.
Galaxy A57 5G masih mandek dengan rangkaian kamera yang pertama kali diperkenalkan lewat Galaxy A54 pada 2023 lalu, di luar kamera depan yang berubah menjadi 12 MP sejak Galaxy A55. Hasil gambarnya sendiri sebenarnya masih cukup oke jika dilihat in isolation tanpa dibandingkan dengan ponsel-ponsel lain sekelasnya.
Proses khas Samsung membuat foto-foto jepretan Galaxy A57 terlihat cerah dengan saturasi tinggi, tapi masih cukup natural. Cocok untuk pengguna yang ingin langsung mengunggah gambar ke media sosial tanpa perlu banyak mengedit lagi.
Kamera utama bisa membuahkan foto-foto berkualitas tinggi di kondisi cahaya cukup, tapi agak kedodoran saat low-light karena noise reduction yang cukup agresif sehingga mengubah foto jadi mirip lukisan cat air. Efek ini lebih kentara pada kamera ultrawide, meskipun hasil gambarnya di siang hari tetap bisa diandalkan.
Kamera depan menghasilkan foto selfie yang tampak cukup natural dan bisa ditambahi efek bokeh lewat mode portrait apabila diinginkan. Satu kamera yang mengecewakan adalah kamera makro. Fokusnya terkunci di kisaran 3-5 cm dari objek, dan kualitas gambarnya pun berbeda jauh dari kamera-kamera lain.
Kinerja Samsung Galaxy A57 5G: Meningkat tipis
Samsung memperbarui dapur pacu pada Galaxy A57 5G dengan menanam chip Exynos 1680 yang lebih baru dibandingkan dengan Exynos 1580 pada ponsel generasi terdahulu. Kedua chip sama-sama diproduksi dengan proses fabrikasi 4 nm.
Perbedaan utama di antara mereka terletak pada layout CPU, di mana Exynos 1680 kini memiliki konfigurasi 1 prime core (2,9 GHz), 4 performance core (2,6 Ghz), dan 3 efficiency core (1,95 GHz). Dengan kata lain, dibandingkan dengan Exynos 1580, jumlah performance core meningkat satu buah, sementara efficiency core berkurang satu. Selain itu, GPU pada Exynos 1680 juga diperbarui menjadi Xclipse 550.
Pada kenyataannya, kinerja Galaxy A57 5G meningkat tipis dibandingkan dengan pendahulunya. Skor AnTuTu V11 dari perangkat ini berada di kisaran 1,3 juta poin, sedangkan Galaxy A56 5G biasanya mencetak 1,2 juta poin. Skor Geekbench keduanya pun tak jauh berbeda.
Ketika digunakan untuk bermain game, Galaxy A57 5G versi 8 GB/128 GB di tangan 91mobiles Indonesia dapat menjalankan judul-judul kompetitif populer dengan lancar, meskipun setting grafis tertinggi tidak bisa dipilih. Misalnya, game Mobile Legends: Bang Bang hanya menampilkan opsi frame rate “Super”. Opsi “Ultra” yang berada setingkat di atasnya tidak ditemukan.
Delta Force pun setali tiga uang. Frame rate tertinggi yang bisa dipilih adalah “Ultimate” (60 fps) dengan grafis “Standard”. Menurunkan setelan ke “Smooth” tidak membuka pilihan frame rate yang lebih tinggi.
Meskipun demikian, setidaknya Galaxy A57 5G bisa menjalankan game dengan lancar, tanpa stuttering ataupun gejala pelambatan kinerja karena panas.
Pinggiran frame perangkat ini yang terbuat dari logam dan berbentuk flat mungkin terasa kurang nyaman di tangan. Apabila merasa demikian, sebaiknya tambahkan aksesori casing agar ponsel lebih enak dalam genggaman.
Software Samsung Galaxy A57 5G: Mengandalkan AI
Mengikuti lini flagship Galaxy S26 Series yang telah lebih dulu dirilis di Indonesia, Galaxy A57 5G kini menjalankan sistem operasi One UI 8.5 terbaru yang berbasis Android 16. Samsung ikut menyematkan sejumlah fitur kecerdasan buatan yang tergabung dalam rangkaian Awesome Intelligence sebagai andalan.
Circle to Search kini menjadi lebih canggih karena bisa mengenali banyak objek sekaligus dalam area seleksi. Misalnya, pengguna bisa mengetahui apa saja outfit yang dikenakan seseorang, mulai dari topi, baju, hingga sepatu, dengan melingkari keseluruhan orang tersebut tanpa mesti menyeleksi barang satu per satu.
Tampilan sistem operasi One UI 8.5 berbasis Android 16 pada Galaxy A57 5G.
Best Face dihadirkan kembali setelah sebelumnya debut di Galaxy A56 5G. Fitur yang satu ini memungkinkan pengguna mengganti ekspresi wajah orang dalam foto agar lebih baik—misalnya, agar mata tidak terpejam—dengan memanfaatkan teknologi motion photo.
Ada juga Object Eraser untuk menghapus objek yang tidak diinginkan dari foto, serta automatic suggestion yang otomatis menampilkan saran untuk meningkatkan kualitas gambar berdasarkan konteksnya.
Beberapa fitur AI pada Samsung Galaxy A57: Automatic Suggestion (kiri), Remaster (tengah), dan Circle to Search.
Dalam praktiknya, fitur-fitur AI (“Awesome Intelligence”) di Galaxy A57 5G tak selalu membuahkan hasil sesuai keinginan. Misalnya, fitur “Remaster” yang digadang-gadang bisa menjernihkan foto lama hanya menghasilkan sedikit perubahan dibandingkan dengan aslinya. Object eraser juga kurang meyakinkan dalam menghapus benda-benda di dalam frame.
Jika sudah pernah menggunakan rangkaian fitur Galaxy AI yang mumpuni di ponsel flagship Samsung, Awesome Intelligence pada Galaxy A57 5G jadi terasa agak terbatas. Samsung mungkin harus meningkatkan kemampuan lini HP menengahnya dalam hal ini agar tak terpaut terlalu jauh dari seri Galaxy S.
Baterai Samsung Galaxy A57 5G: Kecil tapi tahan lama
Di saat ponsel-ponsel lain sekelasnya sudah banyak berdatangan dengan baterai berkapasitas jumbo, angka 5.000 mAh pada Galaxy A57 5G terlihat mengecewakan. Samsung agaknya memang lebih berfokus untuk merampingkan bodi perangkat ketimbang menaikkan kapasitas tampungan dayanya.
Namun, jangan salah, meskipun kapasitasnya kecil, baterai Galaxy A57 5G ternyata bisa bertahan relatif lama dalam pengujian PCMark Work 3.0 battery life dengan hasil menembus 15 jam. Capaian tersebut lebih lama dibandingkan dengan Galaxy A56 5G yang menorehkan 12 jam 39 menit dalam pengujian yang sama.
Skor benchmark AnTuTu v11 (kiri), Geekbench 6 (tengah), dan PCMark Work 3.0 battery life pada Samsung Galaxy A57 5G.
Untuk pengisian daya, dukungan fast charging masih tetap 45 watt seperti sebelumnya. Aspek ini tak dapat diuji lantaran Samsung tidak menyertakan charger. Apabila dipasangkan dengan charger yang mendukung teknologi Super Fast Charging 45 watt dari Samsung, Galaxy A57 5G mestinya bisa mengisi daya dalam waktu relatif singkat mengingat kapasitas baterainya juga tidak terlalu besar.
Kesimpulan
Galaxy A57 5G kembali menghadirkan formula familiar yang sudah dibawa oleh Samsung sejak beberapa generasi sebelumnya. Seri Galaxy A5x selalu menjadi all-rounder di papan tengah yang bisa diandalkan di banyak aspek sambil tampil dengan desain menarik.
Kali ini Galaxy A57 5G tampil makin menawan dengan bodi lebih ramping, tipis tapi tangguh dengan sertifikasi IP yang meningkat. Meskipun kapasitas baterai tidak berubah, daya tahannya ternyata tinggi sehingga tak terlalu membuat khawatir akan cepat lowbat.
Sayangnya, di luar desain, Galaxy A57 5G tidak menawarkan banyak perubahan lain dari segi hardware sehingga tertinggal dari lineup para kompetitornya yang makin mumpuni dari tahun ke tahun.
Hal tersebut utamanya terasa dari rangkaian kamera yang masih serupa sejak bertahun-tahun lalu dan sudah tidak relevan lagi pada 2026 untuk ponsel di kelas harganya di rentang Rp 7,6 juta hingga Rp 9 juta. Samsung agaknya perlu merombak hardware dengan lebih signifikan untuk generasi berikutnya agar seri Galaxy A5x bisa tetap kompetitif.
Meskipun demikian, ada satu hal dari Galaxy A57 5G yang masih unggul dibandingkan para rivalnya, yakni dukungan software dari Samsung yang sangat lama, mencapai 6 tahun untuk upgrade versi Android atau hingga Android 22. Mengenai apakah ponselnya sendiri akan dipakai selama itu, tentu tergantung pada masing-masing pengguna.
Rating editor: 7/10
Kelebihan: + Bodi ramping dan ringan bersertifikat IP68 + Baterai tahan lama + Dukungan software panjang
Kekurangan: – Kamera masih itu-itu saja – Hardware kurang kompetitif di kelas harganya