Wawancara Andi Renreng: Awal Mula Panggilan “Bung” dan Rahasia Sukses Xiaomi Indonesia

Desember lalu, 91Mobiles Indonesia berkesempatan mengunjungi kantor Xiaomi Indonesia di bilangan SCBD, Jakarta. Tujuan kami adalah mewawancarai sosok yang dikenal sebagai “wajah” Xiaomi di Indonesia, yakni Andi Renreng.

Setelah melalui rintik hujan di siang yang kelabu, kami melangkahkan kaki ke lantai 9 gedung perkantoran One Pacific Place. Nuansa warna putih dan oranye cerah ala Xiaomi seketika menyeruak, sungguh kontras dengan mendung yang menggantung di luar.

Bagian depan kantor ini berupa etalase yang dirancang mirip dengan toko-toko ritel Xiaomi di Indonesia. Berbagai produk terbaru sang pabrikan dipajang untuk menyambut tamu, termasuk dari merek Poco dan Redmi yang merupakan sub-brand Xiaomi.

Persis di sampingnya ada lounge berisi sejumlah sofa dan kursi, lalu area kerja terbuka yang dilengkapi meja panjang. Suasananya tampak santai, tidak serius atau kaku seperti kantor lainnya. Beberapa karyawan berdandanan casual tampak asyik bekerja dengan laptop.

Wawancara Andi Renreng: Awal Mula Panggilan "Bung" dan Rahasia Sukses Xiaomi
Suasana kantor Xiaomi Indonesia.

Tim 91Mobiles Indonesia diarahkan ke salah satu ruangan yang memajang aneka macam perangkat IoT Xiaomi, mulai dari kulkas hingga AC. Di sinilah kami menemui Andi Renreng alias Bung Andi dengan senyum semringahnya yang khas.

Kok dipanggil “bung”?

Andi berkisah, kantor saat ini baru ditempati beberapa tahun belakangan. Sebelumnya, Xiaomi Indonesia sempat beberapa kali berpindah tempat. “Waktu gue pertama kali masuk Xiaomi malah nggak punya kantor. Kami kerja di co-working space saja,” tutur dia.

Xiaomi bukan persinggahan pertama Andi di dunia teknologi. Pria bertubuh tinggi ini lebih dulu berkiprah di Huawei pada 2014, lalu pindah pada 2017 untuk berperan sebagai leader brand baru Xiaomi saat itu, Poco. Saat bergabung, Andi menjadi karyawan ke-9 di Xiaomi Indonesia yang masih berbentuk tim kecil. Di sini, dia mulai dikenal lewat panggilan “Bung Andi”.

“Bung” dalam bahasa Indonesia merupakan sapaan untuk kakak laki-laku, seperti “abang” yang berasal dari bahasa Betawi. Kata tersebut relatif jarang terdengar di industri gadget, namun banyak digunakan di lingkup olahraga seperti dalam percakapan antar komentator pertandingan.

Rupanya dari situ pula asal panggilan “Bung Andi”. Selepas lulus kuliah jurusan Komunikasi dari salah satu Universitas di Sumatera Utara, Andi memulai karir di bidang promosi event olahraga. Salah satu kliennya adalah sebuah tabloid sepak bola terkemuka.

“Jadi di sana, sesama teman itu panggilannya memang ‘bung’, siapapun dipanggil ‘bung’,” ujar Andi menjelaskan. Kebiasaan yang muncul spontan dari percakapan sehari-hari itu kemudian terbawa hingga di Xiaomi.

Andi mengaku terkesima dengan Xiaomi lantaran produknya sudah banyak dibicarakan bahkan sebelum resmi meluncur. Percakapan di ranah online banyak terjadi di antara fans yang tumbuh secara organik, lalu berlanjut menjadi kopi darat alias pertemuan tatap muka offline.

Tertarik dengan aktivitas di komunitas penggemar yang dikenal sebagai Mi Fans ini, Andi pun melakukan riset hingga kemudian bergabung dengan Xiaomi. Karena penasaran, pada hari pertamanya bekerja di Xiaomi Indonesia, Andi langsung menyambangi komunitas itu.

Dia terkejut karena mereka ternyata melakukan semua aktivitas atas inisiatif sendiri, tanpa disponsori oleh Xiaomi. “Tidak ada bayarannya sama sekali. Makan bayar sendiri, mereka juga rela mengeluarkan uang untuk semua kegiatan terkait Xiaomi.”

Teknologi untuk semua kalangan

Komunitas Mi Fans berkontribusi besar membawa Xiaomi ke kesuksesan yang diraihnya sekarang. Para penggemar ini begitu loyal ke Xiaomi sampai “ulah” uniknya kerap membuat kaget Andi. Bukan cuma rela mengunjungi event di luar kota dengan modal dengkul layaknya fans klub sepak bola, ada juga yang sampai menamai anaknya “Xiaomi”.

Kenapa mereka mau sangat loyal dan berdedikasi untuk Xiaomi? Itulah pertanyaan besar yang menggantung di benak Andi. Dari penelusurannya, dia perlahan menemukan jawaban: sedari Awal Xiaomi memiliki filosofi membuat teknologi yang bisa diakses oleh semua kalangan, dan menganggap pengguna sebagai teman.

Mindset itu benar-benar kami jalankan karena salah satu strategi kami adalah mendengar para user. Mereka (komunitas) menjadi bagian dari brand ini. Ada sense of belonging,” ujar Andi.

Loyalitas pengguna Xiaomi, menurut Andi, ikut didukung oleh kualitas produk yang tinggi meskipun dihargai terjangkau. Dalam pandangannya, bersama dengan beberapa pabrikan lain dari Negeri Tirai Bamgu, Xiaomi berandil besar mendongkrak image smartphone China menjadi lebih positif.

Lambat laun, Xiaomi yang tadinya bahkan tidak punya kantor sendiri mulai bertumbuh pesat di Indonesia. Sesuai dengan filosofi “teknologi untuk semua kalangan”, Xiaomi perlahan menyediakan opsi produk di semua segmen harga. Mulai dari flagship dengan teknologi tercanggih hingga produk yang dibanderol ramah kantong.

Word of mouth dan perjalanan yang terbalik

Jajaran produk Xiaomi didukung oleh pusat-pusat pelayanan purna jual yang tersebar di ratusan titik. Pengguna yang masih berada di luar jangkauan pun tetap bisa memanfaatkan after sales service lewat layanan pengiriman alias mail-in. Hal ini, lanjut Andi, berhasil membangun brand trust konsumen terhadap Xiaomi sehingga bisa meraih sukses di Indonesia.

“Kembali lagi ke strategi market kami tadi, mendengar market seperti apa, mendengar pengguna,” katanya. Saat pengguna puas, mereka pun akan berbagi pengalaman positifnya ke pengguna lain sehingga menghasilkan efek word of mouth.

Kepuasan pelanggan yang diteruskan ke orang-orang lain menjadi makin penting belakangan ini, terutama di kalangan konsumen muda. Media sosial, menurut Andi, telah mengubah journey pembelian produk menjadi terbalik.

Dulu, tutur Andi, biasanya brand mengawali dengan mendorong awareness produk dari awal, misalnya lewat iklan atau review. Konsumen yang terpapar kemudian tertarik, mencari referensi tambahan, mempertimbangkan (consideration), dan akhirnya melakukan pembelian.

Sekarang, lanjut dia, pengguna yang tak pernah tahu tentang suatu produk bisa tiba-tiba mendapat awareness lewat media sosial, kemudian melakukan pembelian meskipun tadinya tidak berencana mencari apalagi membeli. Impulse buying pun terjadi.

Feedback dari sesama konsumen sangat mempengaruhi consideration dan keputusan dalam hal ini. Sebab, konsumen cenderung lebih mempercayai pendapat dari orang lain sesama konsumen ketimbang informasi promosional dari brand atau pihak ketiga.

“Mereka (konsumen masa kini) sudah tidak masuk dengan cara iklan yang biasa. Adanya komentar-komentar dari komunitas, dari para pengguna, memudahkan kami dari sisi marketing,” ungkap Andi.

Resolusi 2026: belajar EV

Wawancara Andi Renreng: Awal Mula Panggilan "Bung" dan Rahasia Sukses Xiaomi
Andi Renreng sewaktu masih menjabat sebagai Head of Marketing Poco di Indonesia.

Perbincangan 91Mobiles Indonesia dengan Bung Andi berlanjut hingga ke cara pemasaran Poco yang sengaja dibuatnya berbeda dari brand lain dan khusus menyasar anak muda. Upaya dia awalnya mendapat resistensi, tapi dia menilainya sebagai hal positif karena sudah berhasil menarik perhatian dari segi komunikasi. Sekarang gaya bicara ala Poco sudah menjadi ciri khasnya.

Tentu saja, lini Xiaomi 17 yang hingga kini masih belum masuk Indonesia ikut menjadi topik pembicaraan. Menurut Andi, jajaran flagship tersebut sengaja melompati angka “16” -dari sebelumnya Xiaomi 15- lantaran membawa sangat banyak peningkatan seperti layar kedua di bagian punggung. Itu pula yang menjadi alasan penamaan “Pro Max”.

Namun, Andi belum mengungkap kapan atau model apa saja dari lini Xiaomi 17 Series yang akan dihadirkan di Indonesia. Dia menyarankan konsumen agar memantau terus akun Xiaomi Indonesia agar senantiasa mengetahui produk-produk terbarunya.

Andi kemudian mengungkap resolusinya untuk tahun 2026, yakni pindah konsentrasi untuk belajar sesuatu yang bukan smartphone, misalnya kendaraan listrik atau EV (electric vehicle). Xiaomi memang memiliki beberapa EV seperti lini SU7 yang sempat dikabarkan bakal masuk Indonesia.

Apakah ini menjadi indikasi akan hadirnya EV Xiaomi di Tanah Air? Andi hanya tersenyum lebar. “Gue mau belajar lebih banyak, kalau EV itu gimana sih, seluk beluknya dan lain-lain,” pungkasnya.