
Menjelang peluncurannya di Indonesia pada 11 Mei mendatang, Vivo X300 Ultra tak hanya menawarkan spesifikasi yang gahar di atas kertas, melainkan juga ekosistem aksesoris fotografi yang mutakhir.
Dengan bantuan aksesoris tambahan berupa teleconverter kit 400 mm, pengguna dapat menjangkau pembesaran zoom yang lebih jauh lagi, melampaui kemampuan telefoto pada kamera bawaan ponsel.
Dalam acara media hands-on Vivo X300 Ultra yang diselenggarakan di kawasan Kota Tua, Jakarta, tim 91Mobiles Indonesia berkesempatan mencoba kebolehan dari aksesoris ini. Sejauh apa zoom yang bisa dicapainya, dan bagaimana hasil fotonya? Simak penjelasannya berikut ini.
Table of Contents
Jangkauan ekstrem 400 mm

Lensa teleconverter 400 mm ini dirancang untuk dipasang di atas lensa telefoto periskop bawaan Vivo X300 Ultra yang punya focal length asli 85 mm.
Dengan tambahan teleconverter tersebut, jangkauan zoom meningkat hingga 400 mm secara optis, sehingga detail dan ketajaman lebih terjaga ketimbang zoom digital atau hibrida. Setelah focal length 400 mm ini dicapai, selanjutnya zoom akan beralih ke hibrida atau digital.
Aksesoris ini berukuran cukup panjang. Jadi, ketika terpasang dengan unit ponsel, kami merasa bahwa beban perangkat jadi beralih ke bagian depan. Kami pun agak sedikit kesulitan saat berusaha memotret pada jangkauan paling tinggi (1.600 mm), terutama saat orientasi portrait.
Pada jangkauan paling jauh, viewfinder jadi terasa sangat goyang dan tidak stabil. Hal ini namun tidak menyulitkan kami untuk mendapatkan hasil foto terbaik yang umumnya mustahil dicapai oleh flagship lain pada umumnya.
Contoh hasil Teleconverter Kit 400 mm
Kami menguji kehebatan teleconverter kit ini pada objek foto yang sama pada pengujian kamera bawaan Vivo X300 Ultra, yakni bendera, subjek manusia, logo BNI, dan kubah museum. Contoh hasil foto tersebut bisa dilihat di tautan ini.
Bahkan tanpa melibatkan aksesoris tambahan, hasil fotonya terlihat memadai dari sisi ketajaman, dynamic range, dan pencahayaannya, bahkan pada zoom terjauh sekalipun. Aksesoris teleconverter ini membawa jangkauan zoom lebih luas lagi dengan kualitas yang kurang lebih sama bagusnya.
Pertama-tama, kami mencoba mengambil foto bendera merah putih dari jarak yang sangat jauh. Pada mode default di 35 mm, bendera tersebut nyaris tak terlihat lantaran jarak pemotretan yang begitu jauh. Dengan zoom 400 mm, bendera ini jelas terlihat meski belum dapat dikatakan close-up.
Meningkatkan zoom menjadi 800 mm membuat bendera jadi lebih terlihat. Warna dan detail pada bendera masih tampak sama bagusnya. Namun, detail pada objek di belakangnya (seperti permukaan tembok dan atap genteng) sudah terlihat agak buram.
Kami pun berhasil mendapatkan foto close-up pada bendera ini pada zoom 1.600 mm. Di tingkatan ini, sebenarnya sah-sah saja jika ada penurunan tajam dari segi detail dan warna. Namun berdasarkan pengamatan kami, bendera tersebut masih terlihat sangat tajam tanpa noise yang kentara.
Dedaunan di pohon sebelahnya pun masih tampak sangat jelas dan detail, nyaris tidak tampak ciri-ciri penurunan kualitas yang biasanya timbul pada zoom maksimal.
Selanjutnya, kami mencoba memotret gedung dengan logo BNI yang bertengger pada dindingnya. Hasil dari foto 35 mm cukup predictable, logo BNI ini benar-benar tidak dapat dikenali karena saking jauhnya posisi gedung dengan tempat penulis berdiri.
Menggunakan teleconverter kit, logo BNI jadi jelas terlihat pada jangkauan optis 400 mm dan zoom 800 mm. Uniknya, pada pembesaran 1.600 mm, logo BNI malah terlihat lebih terang dan jelas tanpa terlihat adanya penurunan kualitas secara kasat mata. Bercak-bercak di sekelilingnya pun terlihat lebih detail dan terekspos dari sebelumnya. Kalau pun ada penurunan kualitas di foto ini, kami pribadi tidak menyadarinya.
Pemotretan subjek manusia dari kejauhan ini berjalan dengan sama mulusnya. Dari kejauhan (35 mm), sulit untuk mengetahui siapa yang akan menjadi fokus utamanya. Wajah salah satu awak media pun baru terlihat jelas ketika zoom dilakukan pada focal length 400 mm. Pada zoom sejauh ini, penampakan unit Vivo X300 Ultra yang dipegangnya pun terlihat jelas.
Begitu pun dengan zoom 800 mm dan 1.600 mm, logo Zeiss di tengah-tengah modul kamera Vivo X300 Ultra bahkan mulai terlihat. Ini benar-benar sebuah pengalaman zoom paling menakjubkan yang pernah kami lihat.
Di pengujian berikutnya, nyaris keseluruhan dari gedung Museum Fatahillah masuk dalam frame di mode default (35 mm). Kami pun mencoba untuk fokus pada kubah di atas gedung pada jangkauan 400 mm. Sesuai dugaan, lagi-lagi hasilnya cukup memukau tanpa penurunan kualitas drastis.
Untuk pembesaran 800 mm dan 1.600 mm, kubahnya pun kini sama sekali tidak terlihat karena fokusnya kini beralih ke alat penentu arah angin di atasnya dengan detail yang sangat tinggi. Yang tak kami sangka, bahkan tekstur berkarat di permukaan objek ini pun terlihat dengan jelas.
Ketersediaan di Indonesia
Kemampuan zoom luar biasa dari teleconverter kit 400 mm ini didukung penuh oleh sensor utama pada kamera telefoto Vivo X300 Ultra yang beresolusi 200 MP. Kamera ini sudah dibekali stabilisasi CIPA 7.0 yang sangat efektif untuk meredam guncangan, bahkan pada tingkat pembesaran tinggi sekalipun.
Namun yang perlu dicatat, kestabilan tangan pengguna masih tetap diperlukan pada focal length 1.600 mm supaya objek berhasil masuk frame. Alangkah baiknya menggunakan tripod agar hal ini teratasi dengan mudah.
Vivo X300 Ultra yang diotaki Snapdragon 8 Elite Gen 5 ini sudah dipesan melalui program Early Pre-Order hingga 11 Mei 2026 dengan uang muka Rp 2 juta. Meski begitu, harga unit ponsel Vivo X300 Ultra maupun bundle kit untuk pasar Indonesia masih belum diumumkan hingga saat ini.









