
Sudah bukan rahasia lagi bahwa krisis kelangkaan memori telah memicu kenaikan harga aneka macam produk elektronik. Industri gadget termasuk salah satu yang paling terimbas. Berbagai pabrikan terpaksa mengerek banderol produknya.
Dampak kenaikan harga tersebut sudah terlihat dalam penurunan pasaran smartphone yang kini semakin kentara. Terbaru, firma riset FDM CCS Insight mencatat bahwa angka shipment produk ponsel pintar secara global mengalami penurunan hingga 7 persen pada kuartal-II 2026, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Year-over-year, YoY).
Penurunan tersebut lebih dalam dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, di mana FDM mengamati penurunan sebesar 4 persen YoY. Angka pengiriman smartphone global terakhir mengalami pertumbuhan pada kuartal-IV 2025, sebesar 4 persen. Trennya kemudian berlaku terbalik.

Harga HP bakal makin mahal, pasar makin jeblok
Ke depan, FDM memproyeksikan penurunan pasaran smartphone bakal berlanjut dan bertambah buruk, hingga jeblok sebesar 12 persen sepanjang 2026, sebagaimana dilaporkan oleh GSM Arena.
Di sisi lain, FDM ikut mencatat bahwa pasaran smartphone bekas (organized secondary market) masih mencatat pertumbuhan, sebesar 3 persen pada kuartal-II 2026. Pada kuartal sebelumnya, pasaran HP second hand juga mengalami pertumbuhan dengan angka yang sama.
Dari sini terlihat bahwa konsumen belakangan cenderung memilih HP bekas yang harganya lebih terjangkau dibandingkan dengan perangkat baru. Hal tersebut masuk akal mengingat banderol smartphone anyar yang makin lama makin mahal gara-gara krisis memori berkepanjangan.
Menurut FDM, pada kuartal-II 2026, harga smartphone baru 13 persen lebih mahal dibandingkan kuartal-I 2026. FDM turut memperkirakan bahwa harga ponsel bakal terus naik pada semester kedua tahun ini.







