
Dampak kenaikan harga makin terlihat pada pasaran smartphone. Laporan terbaru dari firma riset pasar Counterpoint Research menyebutkan bahwa pengiriman ponsel secara global terjun bebas sebesar 20 persen pada kuartal-III 2026 sehingga mencapai titik terendah dalam 14 tahun terakhir.
Semua pemain di industri pun terdampak. Lima besar pabrikan, yakni Apple, Oppo, Samsung, Vivo, dan Xiaomi, sama-sama mencatat penurunan shipment dalam besaran yang berbeda. Menurut Counterpoint, meskipun angka pengapalan menurun 3 persen secara year-over-year (YoY), Samsung tetap bercokol di puncak dengan pangsa pasar 23 persen berkat demand tinggi atas HP lipat Galaxy Z Fold 8.
Apple bernasib lebih buruk. Gara-gara tak merilis iPhone 18 reguler (non-Pro), Counterpoint mengatakan bahwa pabrikan berlogo buah apel tergigit itu mengalami penurunan shipment sebesar 22 persen, meskipun pangsa pasarnya justru naik ke angka 22 persen dari 18 persen tahun lalu, menempatkannya persis di bawah Samsung.
Xiaomi duduk di urutan ketiga dengan pangsa pasar yang jatuh dari 14 persen menjadi 12 persen. Sementara itu, Oppo dan Vivo sama-sama mencatat penurunan shipment lebih dari 20 persen secara YoY. Pangsa pasar mereka ikut ambles, masing-masing menjadi 9 persen dan 8 persen, dari 12 persen dan 9 persen tahun lalu.

Situasi pasar mengubah perilaku konsumen dan pabrikan
Analis Senior Counterpoint, Shilpi Jain, mengatakan pasaran ponsel telah terpukul efek krisis memori sebanyak dua kuartal berturut-turut. Dampak lainnya adalah bahwa baik konsumen maupun pabrikan sama-sama melakukan penyesuaian.
“Konsumen semakin lama bertahan memakai perangkat mereka, mempertimbangkan perangkat refurbished (bekas) dan lebih memprioritaskan perangkat-perangkat bernilai lebih tinggi,” ujar Jain. Sementara itu, lanjutnya, pabrikan ponsel mengubah portofolio serta strategi harga dan pasar agar tetap bisa mencetak untung.
“Ini memberikan tekanan di mass market, sementara angka permintaan di pasar premium masih bertahan sehingga kesenjangan antara segmen premium dan sensitif harga semakin melebar,” imbuhnya.
Ke depan, Counterpoint memperkirakan sisa tahun 2026 akan tetap menantang bagi pasar. Di tengah-tengah harga komponen yang terus naik dan daya beli yang melemah, para pabrikan semakin memprioritaskan profitabilitas ketimbang volume pengiriman.
Pemangkasan produksi, perampingan portofolio, dan pengerucutan fokus ke perangkat premium agaknya akan terus berlanjut. Sementara itu, segmen sensitif harga bakal mengalami tekanan lebih tinggi dari banderol perangkat yang menanjak dan kelangkaan komponen. Counterpoint pun memprediksi pasar tak akan pulih dalam hal volume keseluruhan sampai situasi harga dan pasokan komponen membaik.









