
Peluncuran Galaxy S25 series semakin di depan mata. Namun sebelum peluncurannya pada 23 Januari 2025 nanti, sudah ada kabar perihal seri flagship penerusnya, Galaxy S26 series.
Belakangan muncul kabar soal teknologi baterai yang dipakai pada Galaxy S26. Seri ponsel ini konon akan menggunakan teknologi baterai silikon-karbon seperti sejumlah flagship terbaru yang baru-baru ini dirilis, misalnya iQoo 13 5G, Vivo X200 Pro 5G, dan OnePlus 13.
Galaxy S26 series diduga akan menggunakan baterai silikon-karbon
- Informasi soal penggunaan baterai silikon-karbon pada Galaxy S26 series datang dari tipster Ice Universe via Jukanlosreve. Seri tersebut baru akan rilis tahun depan, hadir sebagai penerus dari Galaxy S25 yang akan rilis 23 Januari nanti.
- Pemakaian teknologi silikon-karbon ini memiliki beberapa manfaat, misalnya pada efeknya terhadap lingkungan, ketahanan baterai, serta ketebalan bodi ponsel.
- Tidak seperti baterai lithium-ion, unit baterai silikon-karbon menyimpan energi dalam elemen silikon-karbon ketimbang elemen langka seperti kobalt, litium, dan nikel yang proses pengambilannya sangat merusak lingkungan.
- Teknologi silikon-karbon juga memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi dibandingkan Li-Ion (lithium-ion), sehingga dapat meningkatkan ketahanan baterai.
- Sebelumnya, beredar kabar dari media Korea Selatan bernama The Elec (via Jukanlosreve), bahwa Samsung SDI sedang mengembangkan baterai dengan teknologi bertumpuk (stacked). Teknologi ini menawarkan kepadatan energi hingga 10 persen lebih tinggi ketimbang metode penggulungan (winding) dalam pengemasan baterai. Namun, rencana ini tampaknya berubah. Samsung kini diduga memilih langkah penggunaan baterai silikon-karbon.
- Beberapa ponsel besutan merk China berhasil memanfaatkan teknologi silikon-karbon untuk meningkatkan kapasitas baterai (misalnya dari 5.000 mAh menjadi 6.000 mAh atau lebih) tanpa membuat bodi membengkak.
- Contohnya, Vivo X200 Pro punya baterai 6.000 mAh, lebih besar dari X100 Pro dengan baterai 5.400 mAh. Namun, ketebalan Vivo X200 Pro justru lebih kecil, hanya 8,2 mm. Sedangkan Vivo X100 Pro diketahui punya ketebalan 8,9 mm.
- Hal yang sama terjadi pada OnePlus 13 yang punya baterai Si/C 6.000 mAh, sementara OnePlus 12 pendahulunya punya baterai 5.400 mAh. Namun, justru malah OnePlus 13 yang lebih tipis dibandingkan OnePlus 12 (8,5 mm ketimbang 9,2 mm).
- Oppo Find X8 juga demikian. HP dengan baterai 5.630 mAh ini punya ketebalan 7,9 mm. Padahal, Oppo Find X7 hanya punya baterai 5.000 mAh, namun HP ini justru lebih tebal (mulai dari 8,7 mm).
Selain kabar soal baterai, Galaxy S26 Ultra juga dirumorkan bakal mengalami peningkatan layar. Media Korea Selatan, The Elec, melaporkan bahwa Samsung berencana menerapkan teknologi CoE (“Colour-filer-on-thin-film-ecapsulation”), alias penyaring warna pada enkapsulasi film tipis.
Teknologi CoE ini sudah diterapkan pada beberapa generasi HP lipat, dari Galaxy Z Fold 3 hingga Z Fold 6. CoE akan menggantikan lapisan polarisasi pada layar OLED dengan filter warna, serta mengubah lapisan PDL (Pixel Define Layer) menjadi warna hitam.
Dengan CoE, filter warna akan meningkatkan reproduksi warna. Layar pun akan menjadi lebih tipis, lebih cerah, sekaligus lebih hemat daya. Filter warnanya juga akan dicetak pada Thin-Film Encapsulation (TFE) sehingga melindungi layar dari oksigen dan kelembapan, sekaligus menawarkan peningkatan daya tahan.










