AWS: Indonesia Marak Adopsi AI, tapi Kebanyakan Masih Coba-coba

Sorotan

Amazon Web Services (AWS) merilis studi terbarunya tentang penggunaan AI di Indonesia dalam event AWS Summit Jakarta 2026 yang dilangsungkan pekan ini.
Studi bertajuk “Unlocking Indonesia’s AI Potential 2026” tersebut dilakukan oleh Strand Partners dengan menyurvei 10.000 pemimpin bisnis dan 1.000 anggota masyarakat umum untuk memetakan adopsi AI di seluruh Indonesia.

Ada sejumlah hal menarik yang diungkap, salah satunya adalah peningkatan adopsi AI di kalangan pelaku bisnis di Indonesia. Angkanya tercatat naik dari 28 persen tahun lalu menjadi 40 persen pada 2026, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 43 persen.

Meskipun demikian, AWS mencatat bahwa sebagian besar bisnis pengadopsi AI di Indonesia masih berada dalam tahap awal perjalanan dengan eksplorasi, belum sepenuhnya mengintegrasikan teknologi AI.

Sebanyak 56 persen bisnis pengadopsi AI ada dalam fase coba-coba itu, sementara yang sudah menerapkan AI sepenuhnya ke dalam kegiatan operasional dan menjadikannya sebagai pusat strategi bisnis baru berjumlah 12 persen.

Menurut AWS, para pelaku bisnis yang masih mengeksplorasi AI berada dalam posisi untuk meningkatkan skala seiring dengan matangnya strategi dan tata kelola, sehingga mendorong adopsi AI tahap menengah dan tahap lanjut.

Table of Contents

AI meningkatkan produktivitas, lebih-lebih AI agentik

Dari keseluruhan pelaku usaha di Indonesia yang telah mengadopsi AI, sebanyak 75 persen melaporkan peningkatan produktivitas yang terukur. Angka tersebut naik dari 68 persen yang tercatat tahun lalu.

Sebanyak 72 persen menyatakan bahwa AI telah mempercepat siklus inovasi, dan 62 persen melaporkan pertumbuhan pendapatan yang didorong oleh pemanfaatan AI.

Di kalangan bisnis yang mengadopsi teknologi AI generasi berikutnya seperti AI agentik, mereka yang melaporkan kenaikan produktivitas lebih tinggi lagi persentasenya, mencapai 84 persen.

Namun, baru sedikit organisasi yang merasa sepenuhnya siap untuk mengadopsi AI next-gen seperti AI Agentic, yakni sejumlah 14 persen. Sebanyak 56 persen menyebut kurangnya keterampilan AI dan digital sebagai hambatan dalam adopsi yang lebih luas.

Kesadaran terhadap AI agentik memang masih berada dalam tahap awal. Kurang dari empat dari sepuluh bisnis (38 persen) menyatakan pernah mendengar tentang AI agentik. Dari angka tersebut, sebanyak 6 persen melaporkan telah menerapkannya secara penuh, sementara 14 persen lainnya sedang bereksperimen atau melakukan uji coba.

Tantangan keterampilan AI di Indonesia

Tantangan keterampilan AI di Indonesia sedang berkembang. Masalahnya bukan lagi sekadar akses ke talenta teknis, melainkan memastikan organisasi memiliki tata kelola internal, kapabilitas tenaga kerja, dan proses pengambilan keputusan yang diperlukan untuk menggunakan AI dengan penuh keyakinan dan rasa bertanggung jawab.

Menurut studi AWS, pengembangan lebih lanjut dari basis keterampilan Indonesia adalah kunci untuk mendukung lebih banyak adopsi AI dan integrasi AI yang lebih luas.

Sebanyak 56 persen organisasi mengidentifikasi kurangnya keterampilan AI dan digital sebagai hambatan dalam mengadopsi atau memperluas AI. Sementara, 46 persen mengatakan kurangnya keterampilan menghambat mereka dalam mengadopsi alat generasi berikutnya seperti AI agentik, AI fisik, dan robotika canggih.

Pada saat yang sama, bisnis melaporkan bahwa hanya 28 persen karyawan telah berpartisipasi dalam pelatihan atau peningkatan keterampilan digital dalam setahun terakhir – setara dengan 26 persen tahun lalu.

Seiring AI semakin terintegrasi dalam operasional bisnis, organisasi yang berinvestasi dalam tata kelola internal serta kapabilitas tenaga kerja akan lebih siap untuk beralih dari tahap eksperimen dan berhasil menerapkan AI dalam skala besar.

Show Full Article
Home Berita Pengumuman