
Sebabnya mungkin karena semua foto diambil dengan tingkat sensitivitas (ISO) rendah, mulai dari ISO 50 hingga paling tinggi ISO 125, menggunakan kamera utama dengan focal length setara 23 mm dan aperture f/1.67, seperti bisa dilihat di watermark tiap foto.
ISO rendah memastikan kualitas gambar berada pada tingkat terbaik sekaligus mencegah noise yang mulai muncul pada sensitivitas tinggi. Namun, karena mampu menjepret foto di malam hari dengan ISO rendah dan shutter speed yang masih cukup cepat, boleh jadi kamera utama Xiaomi 17 Ultra memang mampu menangkap banyak cahaya.
Beberapa scene lain yang melibatkan nyala api menjadi ajang demonstrasi teknologi “LOFIC ultra-high dynamic range” di Xiaomi 17 Ultra yang diklaim mampu menyeimbangkan exposure dan warna di scene dengan kontras sangat tinggi semacam ini.
Biasanya, kamera akan kesulitan menangkap detil subyek manusia dan api karena perbedaan tingkat cahaya yang sangat jauh di antara keduanya. Entah api bisa ditangkap dengan exposure tepat tapi subyek manusia tampak terlalu gelap, atau sebaliknya subyek manusia terlihat jelas tapi api menjadi terlalu terang sehingga menjadi terlihat putih kehilangan detil.
Teknologi LOFIC di Xiaomi 17 Ultra tampaknya mampu mengatasi kendala tersebut dengan menyesuaikan exposure antara nyala api dan subyek manusia sehingga keduanya bisa terlihat jelas. Api memang jadi tampak agak flat karena restorasi highlight, tapi detilnya masih tertangkap.
Contoh foto Xiaomi 17 Ultra dalam resolusi tinggi bisa dilihat dalam posting di Weibo di tautan berikut. Selain rangkaian foto, seperti dihimpun 91Mobiles Indonesia dari Gizmochina, Xiaomi turut memamerkan video hasil rekaman Xiaomi 17 Ultra ketika diterbangkan dengan drone untuk membidik pertunjukan kembang api dari ketinggian.