Review Gadget Terbaru, Baca review ponsel selengkapnya https://www.91mobiles.com/id/hub Fri, 19 Jun 2026 09:21:52 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.5.3 Review Infinix Note 60 Ultra Pininfarina: HP Mewah Bernuansa Mobil Sport https://www.91mobiles.com/id/hub/review-infinix-note-60-ultra-pininfarina-hp-mewah-bernuansa-mobil-sport/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-infinix-note-60-ultra-pininfarina-hp-mewah-bernuansa-mobil-sport/#respond Thu, 11 Jun 2026 02:07:40 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=22432 Kemunculan Infinix Note 60 Ultra Pininfarina beberapa waktu lalu cukup menarik perhatian penggemar gadget di Indonesia karena “mendobrak” kebiasaan sang pabrikan berkutat di segmen budget dan mid-range.Berbeda dari ponsel-ponsel Infinix lainnya, Note 60 Ultra tampil berani dengan rancangan hasil kolaborasi bersama firma desain otomotif asal Italia, Pininfarina. Harganya pun kontras dengan HP Infinix selama ini, […]

The post Review Infinix Note 60 Ultra Pininfarina: HP Mewah Bernuansa Mobil Sport first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Kemunculan Infinix Note 60 Ultra Pininfarina beberapa waktu lalu cukup menarik perhatian penggemar gadget di Indonesia karena “mendobrak” kebiasaan sang pabrikan berkutat di segmen budget dan mid-range.

Berbeda dari ponsel-ponsel Infinix lainnya, Note 60 Ultra tampil berani dengan rancangan hasil kolaborasi bersama firma desain otomotif asal Italia, Pininfarina. Harganya pun kontras dengan HP Infinix selama ini, dengan banderol mencapai belasan juta rupiah.

Kendati demikian, Note 60 Ultra memberikan sejumlah keistimewaan yang jarang ditemukan di produk smartphone lain pada umumnya. Boleh jadi apa yang ditawarkan bisa menjustifikasi banderol harganya di mata calon pembeli.

Kesimpulan awal

Kelebihan utama Infinix Note 60 Ultra  terletak pada tampilan luarnya, tepatnya desain dan kelengkapan aksesori. Aspek-aspek lain seperti performa dan kemampuan kamera bisa diandalkan atau setidaknya sebanding dengan ponsel premium lain, meskipun ada juga beberapa kekurangan yang agak mengganjal.

Unboxing Infinix Note 60 Pro Pininfarina: Kental nuansa mobil sport

Nama “Pininfarina” pada ponsel ini mengacu pada firma desain otomotif dan karoseri asal Italia yang didirikan oleh Battista “Pinin” Farina lebih dari 90 tahun lalu, pada 1930. Pininfarina banyak merancang produk mobil mulai dari bikinan Alfa Romeo, Peugeot, Honda, hingga pabrikan supercar macam Ferrari dan Maserati.

Karena itu, tak mengherankan bahwa visual Infinix Note 60 Ultra kental dengan nuansa balap, termasuk aksesori pelengkapnya yang datang dalam boks persegi berukuran besar. Bukan sekadar jumbo, kotak hitam yang tampil mewah dengan handle dan dua klip pengunci tersebut dipenuhi aksesori pelengkap.


Begitu membongkar kotak dengan membuka pengunci dan menariknya ke arah atas, pengguna akan mendapati dua boks lain di dalamnya. Kedua kemasan berwarna merah itu bisa dilipat ke arah samping, seperti mekanisme pintu butterfly di mobil sport, untuk menampakkan unit ponsel di dasar kemasan.

Masing-masing kotak merah tadi memuat rangkaian aksesori. Sebagian besar terdapat di dalam kotak di sisi kiri, mencakup hard case, wireless charger berbentuk bundar, pelindung layar berjenis tempered glass, kabel USB-C ke USB-C, serta charger dengan keluaran daya 100 watt.

Kotak merah lainnya memuat sebuah benda mirip miniatur mobil dengan warna dasar hitam, empat kaki dari karet, aksen emas, serta lubang bundar di bagian tengah untuk menempatkan wireless charger. Fungsinya memang sebagai alas ponsel untuk melakukan charging nirkabel, karena di bagian bawah juga tersedia channel untuk melakukan routing kabel.

Satu catatannya, untuk bisa menempelkan wireless charger, pengguna mesti lebih dulu memasang hard case yang dilengkapi magnet. Sebab punggung Infinix Note 60 Ultra sendiri tidak memiliki magnet.

Aksesori terakhir adalah SIM card ejector tool yang disematkan pada kartu nama. Posisinya di bawah alas wireless charger berbentuk mobil. Alat sederhana ini pun tampil unik dengan desain yang mirip mobil.

Kelengkapan boks Infinix Note 60 Ultra.

Desain Infinix Note 60 Ultra: Tampil sporty dan galak

Selain kelengkapan aksesori, nuansa otomotif pastinya ikut menjalar ke unit ponsel Note 60 Ultra. Varian Torino Black yang berada di genggaman 91mobiles Indonesia memancarkan aura sporty dengan bagian punggung berpola mirip bahan carbon fiber. Ditambah dengan aksen lampu notifikasi berwarna merah di bawah camera island yang memuat logo “Pininfarina”, ia juga terkesan galak.

Sayang, dibandingkan ponsel-ponsel lain sekelasnya, ketahanan smartphone yang memiliki ketebalan 7,90 mm dan bobot 220 gram ini agak tertinggal karena hanya memiliki sertifikasi IP64. Namun, setidaknya Note 60 Ultra terbilang masih aman apabila terkena hujan ringan atau cipratan air.

Infinix menerapkan layar LTPS AMOLED berdiagonal 6,78 inci (2.644 x 1.208 piksel) dengan refresh rate hingga 144 Hz, tingkat kecerahan 1.600 nits (HBM), cakupan color space DCI-P3 100 persen, dan lapisan kaca pelindung Gorilla Glass 7i. Tampilannya jernih, cerah, dan jelas terlihat, termasuk ketika berada di luar ruangan pada siang hari.

Bagian frame yang berbentuk flat memuat dua tombol tambahan di luar power button dan pengatur volume. Pertama, di sisi kiri terdapat tombol bernama One-tap Button yang secara default berfungsi untuk mengaktifkan mode mute dengan cara menekan dan menahannya (long press).

Fungsi One-tap Button diganti dengan shortcut sejumlah fitur, mulai dari menyalakan senter, menjalankan asisten pribadi Folax, hingga melakukan screen recording.



Kedua, yang terdapat di sisi kanan dan berbentuk kapsul, sebenarnya bukan tombol, melainkan sensor denyut nadi. Pengguna bisa memakainya untuk mengukur heart rate dan kadar oksigen darah (SpO2) lewat aplikasi Health yang tersedia di ponsel. Caranya cukup dengan meletakkan ujung jari di sensor selama beberapa saat, lalu aplikasi pun akan menampilkan hasil pengukurannya.

Kamera Infinix Note 60 Ultra: Lengkap dan memadai

Untuk keperluan pengambilan gambar, Note 60 Ultra menyajikan rangkaian kamera yang tergolong lengkap. Modul di bagian punggung memuat kamera utama 200 MP dengan sensor Isocell HPE (1/1/,4 inci, 23 mm, f/1.7, OIS), didampingi kamera telefoto 50 MP bersensor Isocell JN5 (1/2,76 inci, 90 mm, f/2.8 zoom optis 3,5x, OIS), dan kamera ultrawide 8 MP (f1/4.0 inci, 14 mm, f/2.2 AF).

Kamera utama membuahkan hasil gambar yang berkualitas tinggi dalam berbagai situasi. Saat siang hari, warna-warnanya tampak cerah dengan kontras tinggi. Jepretan di kondisi low-light pun minim noise.

Sayangnya, lensa di kamera utama rentan mengalami flaring ketika dihadapkan pada sumber cahaya yang terang seperti lampu. Efeknya adalah pendaran di sekeliling sumber cahaya dan ghosting berupa bola-bola berwarna hijau yang bisa kentara serta mengganggu.


Output default yang dihasilkan adalah 12 MP. Infinix menyediakan mode khusus untuk menjepret gambar dengan resolusi native 200 MP pada kamera utama. Namun, ketika di-zoom 100 persen (actual pixel), hasilnya terlihat kurang meyakinkan karena detail halus pada gambar banyak yang hilang oleh smoothing.

Untuk menjepret dari kejauhan, kamera telefoto mampu membuahkan hasil gambar dengan karakteristik yang mirip dengan kamera utama. Bukaannya yang relatif lebar di angka f/2.8 juga membuat kamera ini tetap bisa diandalkan saat lingkungan sekitar berubah gelap.


Note 60 Ultra menyediakan digital zoom hingga 100x. Namun, seperti bisa, kualitasnya akan berangsur turun seiring dengan makin tingginya pembesaran. Hasil terbaiknya tentu diperoleh pada tingkat zoom native 3,5x. Angka 7x yang berasal dari in-sensor zoom masih membuahkan gambar berkualitas tinggi yang sulit dibedakan dari optical zoom.

Kamera ultrawide menjadi titik terlemah, seperti bisa diduga dari ukuran lensanya yang sangat kecil, persis di bawah unit flash LED. Kualitas jepretannya cenderung berada di bawah kamera utama dan telefoto, dengan warna-warna yang tampak lebih pudar (washed out) dan kontras lebih rendah.

Metering kamera juga kadang tidak konsisten ketika menggunakan lensa ultrawide, rentan mengalami overexposure di kondisi low-light. Untungnya, asalkan masih ada cukup cahaya di sekitar, tangkapan gambarnya masih bisa bagus. Kamera ultrawide di ponsel ini juga mampu melakukan autofokus yang berguna untuk memotret objek-objek berukuran kecil dari jarak dekat, seperti mainan.

Untuk perekaman video, masing-masing kamera di Infinix Note 60 Ultra memiliki kemampuan yang berbeda. Kamera utama dan telefoto sanggup merekam hingga resolusi 4K/ 60 fps. Kamera depan sedikit mundur ke 4K/ 30 fps. Sementara itu, kamera ultrawide mentok di angka 2K/ 30 fps.

Kinerja Infinix Note 60 Ultra: Lancar dengan catatan

Bukan hanya eksterior saja, tema otomotif Pininfarina juga meluas sampai ke tampilan antarmuka sistem operasi XOS 16 berbasis Android 16 yang dijalankan oleh Note 60 Ultra. Infinix menerapkan desain ikon dan wallpaper kustom dengan tema warna yang sama seperti tampilan luarnya, yakni paduan hitam, merah, dan putih.



Bagian kanan modul kamera memuat jajaran lampu LED putih bernama Active Matrix Display. Selain informasi seperti waktu, kapasitas baterai (ketika charging), dan cuaca, panel yang sebenarnya berbentuk persegi panjang kecil ini bisa pula menampilkan animasi gambar, tentu dalam format titik-titik LED.

Pengguna bisa mengatur apa yang ditampilkan oleh Active Martrix Display melalui menu ponsel, atau via widget yang disertakan di home screen secara default sebagai shortcut. Di sini terdapat banyak opsi pengaturan kustomisasi, termasuk juga untuk lampu berwarna di bawah camera island.

Review Infinix Note 60 Ultra Pininfarina: HP Mewah Bernuansa Mobil Sport
Opsi kustomisasi lampu LED dan Active Matrix Display.


Terkait performa, Note 60 Ultra mengandalkan MediaTek Dimensity 8400 Ultra yang sebenarnya merupakan chipset keluaran tahun lalu dan kini sudah diteruskan oleh seri Dimensity 8500. Chip tersebut dipadankan dengan RAM LPDDR5X dan media internal UFS 4.0 dengan konfigurasi 12 GB/ 512 GB.

Perangkat ini pun duduk di kelas menengah atas atau kategori premium untuk soal spesifikasi hardware, seperti yang ikut tercermin dari hasil benchmark. Di AnTuTu v11, Note 60 Ultra mencetak skor di kisaran 2 juta poin.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan ponsel Dimensity 8400 pada umumnya yang memiliki range skor di bawah 2 juta poin, meskipun masih belum setinggi Dimensity 8500 yang mampu mencetak nilai di atas 2,2 juta poin di benchmark serupa.

Ketika dipakai bermain sejumlah judul game mobile populer, Note 60 Ultra mampu menjalankan semuanya dengan lancar, meskipun menggunakan preset “Balanced” di menu sidebar Xboost AI yang dapat dipanggil dari sisi kiri layar lewat swiping jari ke arah tengah. Namun, ada sedikit catatan di sini.


Game MOBA Mobile Legends: Bang Bang yang termasuk judul ringan mampu berjalan dengan setting grafis “Ultra” dan frame rate “Ultra”. Akan tetapi, frame rate tidak selalu konsisten berada di angka 120 fps. Apabila terdapat war yang ramai dengan efek visual, frame rate dapat turun di bawah 100 fps.

Genshin Impact yang termasuk kelas berat juga dapat dijalankan dengan setting grafis “Highest” dan target frame rate 60 fps. Setelah sekitar 30 menit, performa cenderung mengalami penurunan ke kisaran 50 fps. Mungkin ini adalah efek throttling di mana ponsel mengurangi kinerja untuk meredam panas akibat setting tinggi.

Satu game yang relatif lebih konsisten adalah Delta Force. Ketika dijalankan dengan setting grafis “Standard”, Delta Force membuka pilihan frame rate hingga maksimal 120 fps. Infinix Note 60 Pro pun sanggup bertahan mendekati angka tersebut sepanjang permainan.

Baterai Infinix Note 60 Ultra: Kurang tahan lama

Infinix menyematkan baterai berkapasitas 7.000 mAh sebagai sumber tenaga Note 60 Ultra. Angka itu termasuk standar untuk ukuran ponsel masa kini, tidak  kecil, tapi bukan pula yang terbesar.

Review Infinix Note 60 Ultra Pininfarina: HP Mewah Bernuansa Mobil Sport
Hasil benchmark AnTuTu V11, Geekbench V6, dan PCMark Work 3.0 battery life dari Infninx Note 60 Ultra.

Ketika diuji menggunakan PC Mark Work 3.0 Battery Life, daya tahannya  cenderung kurang lama dengan capaian 12 jam dan 48 menit. Saat dipakai bermain game Mobile Legends: Bang Bang dengan profil kinerja “Balanced” pun, penurunan kapasitas baterainya mencapai 14 persen setelah bermain selama lebih kurang satu jam.

Untungnya, charger 100 watt dan kabel bawaan mampu mengisi baterai dengan cepat. Infinix Note 60 Ultra hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk mengembalikan kapasitas baterai dari 0 hingga 26 persen. Setelah 30 menit berlalu, angkanya meningkat jadi 62 persen, lalu 87 persen di menit ke-45. Pengisian hingga penuh 100 persen memakan waktu sekitar 57 menit.

Kesimpulan

Daya tarik utama dari Infinix Note 60 Ultra Pininfarina tak lain dan tak bukan adalah desain uniknya yang berasal dari kolaborasi dengan firma desain otomotif tersebut. Elemen-elemen visual lain seperti garis lampu di bawah camera island dan Active Matrix Display semakin menambah pesonanya.

Kelengkapan ponsel ini juga layak diacungi jempol. Bukan hanya boks kemasannya yang besar itu terkesan eksklusif, rangkaian aksesori di dalamnya pun jarang ditemukan di ponsel lain di pasaran.

Mulai dari yang memiliki kegunaan tinggi seperti screen protector tempered glass dan hard case magnetik hingga yang lebih bersifat trivia macam alas wireless charging dan SIM card ejector tool, semuanya didesain dengan apik.



Aspek-aspek lain dari Note 60 Ultra sebenarnya termasuk biasa saja dibandingkan para kontemporernya, kalau bukan malah agak tertinggal. Hal tersebut lebih terasa lagi apabila mempertimbangkan banderolnya yang mencapai belasan juta rupiah, tepatnya Rp 11.999.000 (12 GB/ 512 GB).

Apabila ingin mencari kinerja, banyak ponsel lain di papan tengah yang menawarkan performa sebanding atau lebih kencang. Baterai pun setali tiga uang. Smartphone zaman now sudah umum dibekali baterai mencapai kisaran 8.000 mAh atau lebih, bahkan di papan bawah sekalipun.

Kamera Infinix Note 60 Ultra sebenarnya cukup menjanjikan, tapi lagi-lagi tersandung jika menilik harga. Rangkaian kamera serupa bisa ditemukan di ponsel dengan kisaran harga di bawah Rp 10 juta, yang rata-rata sudah dibekali telefoto berjangkauan tinggi dengan dukungan video hi-res.

Akan tetapi, memang bukan hal-hal tersebut yang ditawarkan oleh Infinix Note 60 Ultra. Seperti yang disebutkan di awal tadi, nilai jualnya ada pada desain serta aksesori pelengkap eksklusif hasil rancangan bersama Pininfarina. Apabila itu yang Anda cari, maka Anda tidak akan kecewa.

Rating editor: 7.5/10

Kelebihan:
+ Desain bernuansa sporty yang menarik
+ Aksesori pendamping sangat lengkap dan mewah
+ Kamera utama 200 MP berkualitas tinggi
+ Fast charging kencang mengisi baterai

Kekurangan:
Rating ketahanan hanya IP64
– Kamera ultrawide agak mengecewakan
– Baterai tidak tahan lama
– Harga cenderung tinggi untuk spesifikasinya

The post Review Infinix Note 60 Ultra Pininfarina: HP Mewah Bernuansa Mobil Sport first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-infinix-note-60-ultra-pininfarina-hp-mewah-bernuansa-mobil-sport/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/06/infinix_note_60_ultra_pininfarina_review_featured-1-150x150.jpg150150
Review Samsung Galaxy A37: Cocok untuk Pemakaian Jangka Panjang https://www.91mobiles.com/id/hub/review-samsung-galaxy-a37-cocok-untuk-pemakaian-jangka-panjang/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-samsung-galaxy-a37-cocok-untuk-pemakaian-jangka-panjang/#respond Wed, 10 Jun 2026 02:31:51 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=22255 Punya budget di kisaran Rp 6 jutaan? Anda mungkin tidak mau melewatkan Samsung Galaxy A37 yang hadir dengan fitur-fitur menarik. Perangkat ini merupakan penerus dari Galaxy A36 yang meluncur pada tahun lalu, kini kembali menggunakan chipset Exynos besutan sendiri setelah sebelumnya sempat beralih ke Snapdragon. Pengalaman tim 91Mobiles Indonesia saat menjajal Galaxy A37 pun cukup memuaskan. Ponsel ini sanggup menunjang […]

The post Review Samsung Galaxy A37: Cocok untuk Pemakaian Jangka Panjang first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Punya budget di kisaran Rp 6 jutaan? Anda mungkin tidak mau melewatkan Samsung Galaxy A37 yang hadir dengan fitur-fitur menarik. Perangkat ini merupakan penerus dari Galaxy A36 yang meluncur pada tahun lalu, kini kembali menggunakan chipset Exynos besutan sendiri setelah sebelumnya sempat beralih ke Snapdragon. 

Pengalaman tim 91Mobiles Indonesia saat menjajal Galaxy A37 pun cukup memuaskan. Ponsel ini sanggup menunjang kebutuhan produktivitas dan hiburan dengan baik dengan performa yang meningkat, bodi ramping, dan pengalaman kamera yang memadai. 

Kesimpulan awal

Tampilan bodi Samsung Galaxy A37 tidak berbeda dengan pendahulunya, namun masih sama-sama ramping dan juga menawan. Kini Samsung membekalinya dengan IP68, sekaligus memberikan sedikit peningkatan pada kamera utama. Terdapat peningkatan performa untuk bermain game, serta dijanjikan masa pembaruan Android hingga 6 tahun. Meski begitu, kapasitas baterai dan sejumlah hal lainnya tidak mengalami perubahan. 

Unboxing: Minim aksesori

Isi kemasan Samsung Galaxy A37.
Isi kemasan Samsung Galaxy A37.

Samsung Galaxy A37 hadir dalam sebuah kotak kemasan berukuran tipis. Dengan boks berwarna dominan putih, isiannya memang tidak terlalu lengkap dibandingkan mayoritas ponsel lain.

Selain menyediakan unit ponsel, boks penjualan ini hanya berisikan kabel data berwarna putih, buku panduan, dan alat pembuka laci kartu SIM. Ya, Samsung menjadi satu dari segelintir brand ponsel yang sudah tidak lagi menyertakan kepala charger di dalam boksnya. 

Meski tidak dibekali charger, fitur pengisian daya pada HP ini sebenarnya tergolong bersaing yakni 45 watt. Walau sudah banyak ponsel lain yang didukung daya lebih besar, Galaxy A37 setidaknya lebih baik dari Galaxy S26 yang masih memakai daya 25 watt. Hanya saja, sayangnya Anda mesti membeli charger yang sesuai secara terpisah. 

Desain: Seperti pinang dibelah dua

Melanjutkan bahasa desain sebelumnya, Galaxy A37 kembali menawarkan modul kamera berbentuk kapsul yang memuat tiga kamera belakang. Hal ini kontras dengan beberapa seri Galaxy A terdahulu yang lensa-lensa kameranya “menempel” langsung di permukaan bodi. 

Dengan modul kamera berbentuk pil ini, kami merasa Galaxy A37 lebih terasa wobbly saat ditaruh di atas permukaan yang datar seperti meja. Penampilannya pun jadi kehilangan nuansa “unik” yang biasanya menjadi ciri khas Samsung Galaxy. Walau begitu, kamera belakang ini jadi lebih mudah dibersihkan dan tidak mudah dihinggapi debu di sekeliling lensa-lensanya.

Dari segi penampilannya, Galaxy A37 dan A36 bak pinang dibelah dua lantaran saking miripnya. Nyaris tidak ada perbedaan antara keduanya, bahkan Galaxy A37 kembali mengusung dimensi bodi yang sama, yaitu 162,9 x 78,2 x 7,4 mm dengan bobot 196 gram. 

Layar ponsel ini kembali dilindungi Corning Gorilla Glass Victus+, sehingga lebih tahan terhadap goresan dan benturan ringan. Selama pengujian, kami menyimpannya di dalam tas bersama berbagai barang lain dan layar tetap mulus tanpa goresan.

Laci kartu SIM dan sensor sidik jari di layar Samsung Galaxy A37.
Laci kartu SIM dan sensor sidik jari di layar Samsung Galaxy A37.

Satu hal baru yang ditingkatkan pada bodi Galaxy A37 adalah kehadiran rating IP68, meningkat dari sebelumnya yang hanya IP67. Hal ini menunjukkan bahwa Galaxy A37 dapat bertahan di rendaman air hingga kedalaman lebih dari 1 meter selama 30 menit. 

Secara garis besar, Galaxy A37 tidak memiliki peningkatan besar dibandingkan dengan Galaxy A36 dari segi desain bodi. Keduanya masih sama-sama mengusung frame datar berbahan plastik, desain Key Island khas Samsung, serta perlindungan Gorilla Glass Victus+ di sisi depan dan belakang. Pembeda utamanya hanya pada peningkatan sertifikasi IP67 menjadi IP68. 

Kamera: Kini dengan ukuran sensor lebih besar

Setup kamera belakang Samsung Galaxy A37.
Setup kamera belakang Samsung Galaxy A37.

Jika hanya dilihat dari spesifikasi di atas kertas, Galaxy A37 tampak tidak mengalami peningkatan kamera ketimbang pendahulunya. Ya, smartphone ini kembali hadir dengan kamera utama 50 MP f/1,8 wide-angle, 8 MP f/2,2 ultrawide, dan 5 MP f/2,4 makro. 

Bedanya, kamera utama Galaxy A37 kini memiliki ukuran sensor 1/1,56 inci, lebih besar dari pendahulunya yang berukuran 1/1,96 inci. Samsung membenamkan teknologi “Big Pixel”, meningkatkan ukuran piksel yang semula 0,8 μm pada Galaxy A36 menjadi 1,0 μm pada A37. 

Dengan ukuran sensor lebih besar, kamera ponsel dapat menangkap lebih banyak cahaya. Hasil fotonya bakal cenderung lebih terang dan detail, terutama di kondisi minim cahaya (low-light). Detail, ketajaman, dynamic range, hingga depth of field juga akan meningkat dengan ukuran sensor yang lebih besar. 

Sesuai ekspektasi, hasil foto kamera utamanya sanggup menghadirkan hasil foto yang indah dengan warna cerah dan dynamic range yang luas. Kemampuan zoom hingga 2x dan 4x tingkatan juga masih dapat diandalkan, kendati secara keseluruhan hanya sanggup mencapai zoom di tingkatan 10x (digital). 

Pada fotografi malam hari, kamera mampu menekan noise dengan baik sekaligus meminimalkan efek flaring dari sumber cahaya. Bahkan di kondisi yang sangat gelap, hasil foto tetap tampak terang tanpa menampilkan cahaya dari lampu secara berlebihan.

Kemampuan kamera ultrawide pun tergolong cukup baik, meski hasil fotonya tidak sebaik kamera utama. Ini tampaknya menjadi masalah universal untuk smartphone di rentang harga menengah. Setidaknya, kami masih berhasil mendapatkan foto sudut lebar di kondisi outdoor dengan dynamic range yang baik. Sekilas kualitasnya pun tidak terlihat jauh berbeda. Namun, warna pada beberapa objek, seperti pohon dan dedaunan, tampak kurang menonjol. 

Kami pun mencoba menghasilkan foto close-up menggunakan mode makro, dan hasilnya masih cukup jauh dari kata memuaskan. Seperti pada perangkat pendahulunya, kamera makro di HP ini masih bersifat fixed focus sehingga sulit untuk mempertahankan detail tekstur permukaan benda. 

Pada mode portrait, kami berhasil mendapatkan foto dengan efek bokeh alami tanpa mengeluarkan banyak effort, berlaku untuk kamera belakang maupun kamera depan. Separasi foto pada portrait selfie cukup rapi, bahkan saat kami menggunakan mode zoom out untuk meraih bidang pandang lebih luas. 

Galaxy A37 tergolong cukup bagus untuk memenuhi kebutuhan fotografi sehari-hari, termasuk menggunakan mode portrait untuk menghasilkan foto yang estetis dan “medsos-ready”. Perangkat ini juga dapat menawarkan hasil video yang stabil saat merekam sambil berjalan. Namun, merekam sambil berlari membuat videonya sesekali jitter, meski sudah berada di frame rate 60 PFS. Untuk perekaman maksimalnya, Galaxy A37 sanggup mendukung hingga 4K di 30 FPS, baik kamera depan maupun belakang. 

Performa: Bukan yang terbaik, tapi cukup memadai

Dari kiri ke kanan: skor AnTuTu v11, Geekbench 6, dan CPU Throttling Test untuk Samsung Galaxy A37 5G.
Dari kiri ke kanan: skor AnTuTu v11, Geekbench 6, dan CPU Throttling Test untuk Samsung Galaxy A37 5G.

Soal dapur pacu Galaxy A37, Anda mungkin tidak akan merasakan pengalaman yang kompetitif. Ponsel ini memang mengalami kenaikan performa ketimbang pendahulunya yang memakai Snapdragon 6 Gen 3. 

Ponsel ini ditenagai Exynos 1480, chipset mid-range Samsung yang pertama kali menghadirkan GPU Xclipse berbasis AMD RDNA ke seri Exynos 1xxx. Chip ini debut melalui Galaxy A55 5G pada Maret 2024 sebelum diumumkan secara resmi oleh Samsung pada akhir bulan yang sama.

Exynos 1480 diproduksi dengan proses fabrikasi 4 nm Samsung 4LPP+ dan mengusung CPU octa-core yang terdiri dari empat inti Cortex-A78 berkecepatan hingga 2,75 GHz serta empat inti Cortex-A55 hingga 2,0 GHz. Untuk pengolahan grafis, chipset ini mengandalkan GPU Xclipse 530 berbasis AMD RDNA.

Samsung mengklaim GPU Xclipse 530 menawarkan peningkatan performa grafis hingga 53 persen dibandingkan dengan GPU Mali-G68 MP5 pada Exynos 1380.

Samsung mengklaim bahwa GPU Xclipse 530 tersebut mendapatkan peningkatan performa hingga 53 persen ketimbang pendahulunya, Exynos 1380. 

Hal ini pun membuat Galaxy A37 cukup nyaman untuk menjalankan berbagai tugas multitasking dan juga gaming. Akan tetapi, pada pengujian AnTuTu v11, perangkat ini hanya menorehkan skor 1.066.802 poin. Untuk ponsel seharga Rp 6 juta, skor ini bukanlah yang terbaik. Kompetitornya di kelas harga yang sama bisa menghasilkan kinerja jauh lebih tinggi.  

Pada benchmark lainnya, Galaxy A37 mendapatkan skor 1.147 poin (single-core) dan 3.429 poin (multi-core) pada Geekbench 6. Saat diujikan pada CPU Throttling Test, perangkat ini berhasil mempertahankan sekitar 75 persen dari performa maksimalnya selama 10 menit pengujian. 

Lantas, bagaimana kinerjanya saat diujikan bermain game? Galaxy A37 rupanya masih bisa diandalkan untuk memainkan sejumlah judul game kompetitif populer di Indonesia, meski sebenarnya masih banyak ruang untuk bertumbuh.

Sebagai salah satu game MOBA populer yang paling ringan dan optimized di Android, tentu saja Galaxy A37 dapat memainkan Mobile Legends: Bang Bang dengan sangat nyaman tanpa kendala. Sebab, meskipun kami memainkannya di pengaturan mentok kanan, frame rate yang terasa memang sangat mulus dan konsisten di 60 FPS. 

Game berikutnya yang kami coba adalah PUBG Mobile, permainan shooter yang cukup digandrungi banyak mobile gamer di Indonesia. Di sini, kami langsung mencoba memakai pengaturan grafis HDR dengan frame rate Ultra, dan pengalaman yang dirasakan cukup “playable”. 

Frame rate yang diperlihatkan memang tidak mencapai 60 FPS, namun setidaknya masih konstan di 30 FPS dengan sesekali turun ke bawahnya. Menariknya lagi, gyroscope di HP ini sudah bersifat hardware, terasa dari betapa responsifnya bidikan pistol saat kami menggerakkan ponsel untuk melawan musuh. 

Pengalaman yang dirasakan cukup unik saat memainkan salah satu game dunia terbuka paling berat di Android, yakni Genshin Impact. Pasalnya, memainkannya pada pengaturan terendah di Lowest 30 FPS tetap terasa kurang nyaman karena adanya sedikit stutter yang mengganggu. Beberapa objek yang berlokasi jauh dari karakter pun mengalami keterlambatan render.

Meski begitu, frame rate pada pengaturan tertinggi (Highest 60 FPS) rupanya tidak merosot terlalu jauh. Stutter dan keterlambatan rendering pada beberapa objek kembali muncul di Highest, namun setidaknya kami disuguhkan visual yang lebih bagus.

Karena pengalaman performanya tidak begitu jauh antara Lowest dan Highest, sebaiknya sekalian saja pilih yang Highest. Namun, Anda juga perlu mempertimbangkan durasi permainan yang panjang, karena isu overheating dan throttling bakal lebih terasa jika berada di pengaturan Highest dalam waktu lama. 

Software: Punya jaminan update panjang

Dari kiri ke kanan: tampilan antarmuka Home Screen Samsung Galaxy A37, tampilan About Phone, laman "Software Information", dan daftar fitur Awesome Intelligence pada One UI 8, dijamin masa pembaruan OS hingga 6 tahun.
Dari kiri ke kanan: tampilan antarmuka Home Screen Samsung Galaxy A37, tampilan About Phone, laman “Software Information”, dan daftar fitur Awesome Intelligence pada One UI 8, dijamin masa pembaruan OS hingga 6 tahun.

Menyoal software, Galaxy A37 berjalan pada sistem operasi Android 16 dengan polesan antarmuka One UI 8, langsung dari pabrikannya. Karena ini HP Samsung, tentu masa dukungan update yang dijanjikan tergolong sangat lama, yakni mencapai 6 kali update OS utama Android. Ini merupakan durasi masa update yang sama dengan Galaxy A36. 

Bedanya, karena Galaxy A37 rilis dengan Android 16, maka dia akan sanggup diperbarui hingga Android 22 pada tahun 2032. Lain halnya dengan Galaxy A36 yang mencapai Android 21 pada tahun 2022. 

Beralih ke fitur kecerdasan buatan, Galaxy A37 tidak dibekali fitur Galaxy AI seperti pada Galaxy S atau Z Series. Meski begitu, Samsung tetap memasukkan serangkaian fitur AI yang disebut sebagai “Awesome Intelligence”. 

Isi dari “paket fitur AI” tersebut meliputi Circle to Search untuk pencarian Google via melingkari objek dan teks di layar, AI Select yang dapat mengekstrak teks dari gambar, serta Gemini Integration. 

Galaxy A37 juga dilengkapi dengan Edit Suggestions dan Object Eraser untuk memodifikasi gambar agar lebih “medsos-ready”, misalnya dengan mengurangi bayangan, menghilangkan refleksi, menambahkan efek blur latar belakang, dan menghapus benda tak diinginkan pada foto. 

Sayangnya, kemampuan Object Eraser pada ponsel ini masih belum setara dengan Galaxy S26 series. Saat kami menghapus tangan yang menutupi sebagian wajah, fitur ini gagal menghasilkan bagian wajah yang natural dan proporsional.

Hasil serupa juga terlihat ketika kami mencoba menghapus kontroler dari genggaman. Ketimbang merekonstruksi jari dengan baik, fitur ini justru menghasilkan bentuk tangan yang terlihat janggal dan tidak realistis.

Secara keseluruhan, pengguna yang berharap kualitas Object Eraser di Galaxy A37 setara dengan Galaxy S26 series kemungkinan bakal kurang puas. Kemampuan penghapusan objeknya belum terasa cukup konsisten untuk merekonstruksi bagian gambar yang kompleks, seperti wajah dan tangan. 

Meski begitu, untuk keperluan yang lebih simpel seperti menghilangkan orang asing di latar belakang foto, fitur ini masih dapat diandalkan dan cukup membantu.

Ada satu catatan lain yang kami temui selama pengujian. Kami mengakses fitur Object Eraser melalui menu Edit Suggestion di aplikasi Galeri bawaan Samsung. Masalahnya, menu tersebut tidak selalu menampilkan opsi Object Eraser.

Dalam beberapa kesempatan, yang muncul malah rekomendasi fitur lain, misalnya remaster. Alhasil, akses fitur ini terasa agak “hit-and-miss”. Sebagai alternatif, saat opsi Object Eraser tidak muncul, kami dapat menggunakan fitur serupa yang tersedia di Google Photos. 

Baterai: Kapasitas masih sama

Dari kiri ke kanan: kabel USB-C ke USB-C dari kotak penjualan Galaxy A37 (tanpa kepala charger), laman pengujian PC Mark Battery Life.
Dari kiri ke kanan: kabel USB-C ke USB-C dari kotak penjualan Galaxy A37 (tanpa kepala charger), laman pengujian PC Mark Battery Life.

Samsung merupakan salah satu brand ponsel yang jarang melakukan peningkatan kapasitas baterai pada produk-produknya. Pada Galaxy A37, Samsung pun kembali menyematkan baterai 5.000 mAh, kontras dengan para pesaingnya yang sudah beralih ke 6.000 atau bahkan 7.000 mAh. 

Galaxy A37 juga masih mempertahankan daya pengisian yang sama dengan pendahulunya, yaitu 45 watt. Akan tetapi, pengguna harus membeli charger terpisah atau menggunakan adapter yang sudah ada di rumah. 

Daya charging 45 watt sebenarnya cukup layak diapresiasi, karena setidaknya Anda akan mendapatkan durasi pengisian lebih cepat dibandingkan dengan daya 25 watt pada Galaxy S26 standar. 

Bagaimana dengan durasi ketahanan baterai Samsung Galaxy A37? Meskipun tidak mengalami peningkatan kapasitas, skor PC Mark yang didapatkannya sedikit lebih baik dari sebelumnya. Ponsel ini meraih skor ketahanan 12 jam 25 menit, mengungguli Galaxy A36 yang hanya meraih skor 11 jam 34 menit. Kendati begitu, kenaikan skor tersebut tetap tidak membuatnya menjadi yang terbaik di kelas harganya.

Sesi permainan Mobile Legends: Bang Bang selama 30 menit membuat baterainya berkurang 7 persen. Ini kontras dengan Galaxy A36 yang berkurang 11 menit. Peningkatan efisiensi daya ini tampaknya berkat penggunaan Exynos 1480 yang lebih hemat daya. 

Saat melakukan pengujian charging, kami menggunakan adapter daya 90 watt. Hasilnya cukup memuaskan, karena baterai ponsel sanggup terisi dari 0-49 persen dalam waktu 30 menit pertama. Sementara untuk mengisi daya dari 0-100 persen, hanya memerlukan waktu pengisian sekitar 80 menit. 

Kesimpulan

Samsung Galaxy A37

Samsung tampak menganut konsep “if it’s not broken, don’t fix it” terhadap desain bodi belakang Galaxy A37. Dari tampilannya, nyaris tidak ada yang berubah dari Galaxy A36 karena sama-sama mengusung konsep housing kamera berbentuk pil. Dimensi bodinya pun tidak berubah.

Meski begitu, tidak dipungkiri bahwa desain demikian membuatnya tampil menawan dengan pengalaman grip yang nyaman karena hanya setipis 7,4 mm. Bagi yang suka bepergian ke daerah perairan seperti curug atau kolam, peningkatan rating IP67 menjadi IP68 pada Galaxy A37 juga layak diapresiasi. Dengan rating lebih tinggi, semakin kecil pula kemungkinan ponsel rusak akibat terjatuh ke kolam.

Performanya pun tergolong “cukup”, meskipun masih kalah saing dengan kontestan lain di kelas harga yang sama. Meski tidak lagi memakai Snapdragon, chipset Exynos 1480 miliknya mampu memberikan peningkatan frame rate saat bermain game

Akan tetapi, Galaxy A37 rasanya bukan pilihan yang menarik bagi Anda yang ingin upgrade dari Galaxy A36. Ini karena ponsel tersebut hampir tidak mengalami peningkatan yang berarti selain dari chipset dan ketahanan bodi. Kamera utamanya memang mendukung ukuran piksel lebih besar, namun resolusi dan setup kamera secara keseluruhannya tetap sama. Kapasitas baterainya pun tetap sama, kendati kini sedikit lebih hemat daya. 

Meski tidak memberikan banyak perubahan dari sebelumnya, pengguna yang beralih dari smartphone lain kemungkinan bakal mengapresiasi semua hal yang ditawarkan Galaxy A37. Kemampuan fotografinya solid, versi OS utama di ponsel ini bisa diperbarui hingga 6 tahun, dan bisa digenggam dalam waktu lama tanpa membuat tangan pegal. 

Samsung Galaxy A37 sudah dapat dibeli di Indonesia dengan pilihan warna Awesome Charcoal, Awesome Lavender, Awesome Graygreen, dan Awesome White dengan harga Rp 6.599.000 untuk RAM 8 GB/ 128 GB dan Rp 7.299.000 untuk RAM 8 GB/ 256 GB. 

Rating editor: 7,5/ 10

Kelebihan

+ Desain bodi tipis dan menawan, nyaman digenggam.
+ Ada peningkatan performa, lancar dipakai gaming.
Pengisian daya ngebut dengan fast charging 45 watt.
Dijanjikan masa pembaruan OS yang panjang hingga 6x.

Kekurangan

– Kapasitas baterai tidak berubah.
– Hanya sedikit peningkatan pada kamera.
– Tidak dibekali charger.

Samsung Galaxy A37 Harga
Rp. 4.967.908
Pergi Ke Toko
Rp. 5.275.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review Samsung Galaxy A37: Cocok untuk Pemakaian Jangka Panjang first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-samsung-galaxy-a37-cocok-untuk-pemakaian-jangka-panjang/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/06/photo_69_2026-06-08_12-00-56-150x150.jpg150150
Review Poco X8 Pro Max: Performa Gaming Monster, Kamera Standar https://www.91mobiles.com/id/hub/review-poco-x8-pro-max-performa-gaming-monster-kamera-standar/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-poco-x8-pro-max-performa-gaming-monster-kamera-standar/#respond Fri, 05 Jun 2026 07:14:32 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=22070 Bagi pengguna yang memprioritaskan kemampuan gaming, Poco X8 Pro Max menjadi salah satu perangkat yang patut dipertimbangkan. Ponsel ini dibekali dengan chipset kelas atas, baterai berkapasitas besar, serta sistem pendingin vapor chamber luas yang dirancang untuk menjaga performa tetap stabil selama sesi permainan yang panjang.Ulasan POCO X8 Pro Max yang kami sajikan ini akan menguji […]

The post Review Poco X8 Pro Max: Performa Gaming Monster, Kamera Standar first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Bagi pengguna yang memprioritaskan kemampuan gaming, Poco X8 Pro Max menjadi salah satu perangkat yang patut dipertimbangkan. Ponsel ini dibekali dengan chipset kelas atas, baterai berkapasitas besar, serta sistem pendingin vapor chamber luas yang dirancang untuk menjaga performa tetap stabil selama sesi permainan yang panjang.

Ulasan POCO X8 Pro Max yang kami sajikan ini akan menguji performa secara keseluruhan, termasuk keandalannya untuk penggunaan sehari-hari di luar aktivitas gaming. Simak ulasan lengkapnya untuk mengetahui apakah ponsel ini benar-benar mampu berfungsi sebagai perangkat all-rounder.

Kesimpulan awal

Poco X8 Pro Max menawarkan awal yang kuat berkat performa yang mengesankan, daya tahan baterai yang andal, serta pengalaman visual yang solid. Kendati demikian, sektor perangkat lunak pada ponsel ini terasa kurang rapi dan belum matang, sementara sektor kamera juga dinilai belum memenuhi ekspektasi. Meskipun memiliki kekurangan di sisi tersebut, bagi para gamer, kemampuan pencitraan (imaging) sering kali menjadi perhatian sekunder, sehingga kompromi ini cenderung lebih mudah diabaikan.

Desain sederhana namun solid

Poco X8 Pro Max mempertahankan desain yang bersih dan tidak asing, senada dengan Poco F7 rilisan tahun lalu melalui modul kamera berbentuk pil. Namun, kali ini ukuran modul tersebut dibuat sedikit lebih ringkas serta mengintegrasikan lampu LED RGB untuk memberikan sentuhan gaya. Menariknya, lampu ini tidak hanya berfungsi sebagai estetika, melainkan juga bertindak sebagai indikator notifikasi, status pengisian daya (charging), panggilan masuk, aktivitas kamera, hingga dapat disinkronisasikan dengan efek ritmis saat bermain game.

Pengguna dapat melakukan personalisasi pencahayaan tersebut dengan berbagai pilihan warna serta menyesuaikan tingkat kecerahan (brightness) melalui menu pengaturan. Kendati demikian, implementasi fitur ini dinilai kurang intuitif. Alih-alih mudah diakses, kontrol pencahayaan tersebut letaknya cukup tersembunyi di bawah menu additional settings dan “Back light effect”, sebuah penempatan yang terasa kurang efisien untuk fitur yang seharusnya ditonjolkan.

Di luar fungsi pengisian daya (charging) dan pengingat (alert), keberadaan lampu LED ini dinilai kurang fungsional. Poco mengklaim bahwa lampu-lampu tersebut dapat meningkatkan pengalaman bermain game. Namun, pada praktiknya, dukungan fitur dan penempatan posisi lampu membuat klaim tersebut kurang terbukti. Karena pencahayaan berada di bagian punggung perangkat, pengguna akan jarang memperhatikan lampu saat sedang bermain game, yang secara langsung mengurangi esensi dari efek bersangkutan.

Varian warna, port, dan pengalaman audio

Poco X8 Pro Max hadir dalam tiga varian warna, yaitu putih, hitam, dan biru. Unit yang diuji kali ini adalah varian warna hitam, yang menampilkan lapisan serat kaca (fiberglass) untuk membantu meminimalkan goresan kecil, sekaligus menjaga permukaan perangkat tetap bersih dan tahan terhadap bekas sidik jari. Desain secara keseluruhan tampil cukup minimalis, tanpa banyak aksen yang mencolok selain penempatan logo branding Poco di bagian kiri bawah.

Pada sisi atas, terdapat sensor infrared dan lampu kilat (LED Flash) yang tertata rapi di samping modul kamera. Desain lampu RGB pada ponsel ini juga dirancang secara samar. Saat dalam kondisi mati, lampu tersebut menyatu dengan sangat baik dengan bodi perangkat, sehingga keberadaannya hampir tidak terlihat.

Perangkat ini memiliki bobot 220 gram yang langsung terasa saat digenggam, terutama bagi pengguna yang terbiasa dengan ponsel yang lebih ringan seperti Samsung Galaxy S26 Plus. Kendati demikian, pengguna akan segera terbiasa dengan bobot serta ketebalan perangkat yang berukuran 8,2 mm ini. Ponsel ini juga terasa kokoh dan telah mengantongi sertifikasi ingress protection berlapis, mulai dari IP66, IP68, IP69, hingga IP69K, yang menawarkan ketahanan kuat terhadap debu, cipratan air, bahkan paparan air bertekanan tinggi.

Untuk sektor port, Poco X8 Pro Max menyematkan port USB Type-C di sisi bawah untuk kebutuhan pengisian daya dan transfer data, berdampingan dengan grille speaker utama. Ponsel ini juga dilengkapi dengan speaker sekunder di sisi atas untuk menghadirkan konfigurasi stereo. Dukungan teknologi Dolby Atmos pada konfigurasi ini mampu menawarkan pengalaman audio yang baik pada tingkat volume 70-80 persen, meski belum terasa sepenuhnya imersif. Jika volume ditingkatkan lebih dari itu, kualitas audio berpotensi mengalami sedikit penurunan.

Layar AMOLED 1,5K yang memukau

Poco X8 Pro Max mengusung layar AMOLED berukuran 6,83 inci dengan resolusi 1,5K, refresh rate 120Hz, dukungan HDR10+, serta tingkat kecerahan maksimal mencapai 3.500 nits. Meskipun tingkat kecerahan ini sedikit lebih rendah dibandingkan kompetitor terdekatnya, iQoo 15R, perbedaannya tidak terlalu signifikan saat digunakan di luar ruangan di bawah kondisi terik matahari. Layar Poco X8 Pro Max dinilai sama mampunya dalam memberikan pengalaman visual yang nyaman. Dalam pengaturan bawaan, reproduksi warna yang dihasilkan tampak bagus dan cerah, meski sedikit kontras.

Selain itu, dukungan HDR sudah tersedia secara langsung (out-of-the-box) pada sejumlah platform seperti Netflix, YouTube, dan layanan streaming lainnya. Karena ponsel ini telah mendukung panel dengan kedalaman warna 12-bit, perangkat ini juga kompatibel dengan konten Dolby Vision, yang memungkinkan tampilan warna lebih kaya dan kontras yang lebih baik saat menikmati tayangan streaming.

Kendati demikian, kualitas HDR dirasa sedikit kurang memuaskan saat digunakan untuk bermain game dengan grafis tinggi, seperti Tomb Raider dan Hitman: Absolution. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh optimasi atau dukungan yang terbatas dari sisi pengembang game, bukan karena keterbatasan dari panel layar itu sendiri.

Untuk sektor keamanan, Poco X8 Pro Max dilengkapi dengan pemindai sidik jari ultrasonik di dalam layar. Fitur ini mampu membuka kunci perangkat dengan cepat serta ditempatkan di posisi yang ergonomis, tepat di mana ibu jari secara alami bertumpu saat pengguna ingin membuka kunci ponsel.

Performa papan atas, tapi software-nya masih kurang oke

Poco X8 Pro Max dibekali hardware yang mampu menangani tugas sehari-hari hingga beban kerja berat seperti bermain game dengan lancar. Dapur pacu perangkat ini mengandalkan SoC sub-flagship MediaTek Dimensity 9500s berfabrikasi 3nm, yang dipadukan dengan opsi RAM LPDDR5X Ultra hingga 12GB serta media penyimpanan (storage) UFS 4.1 berkapasitas 256GB atau 512GB. Kombinasi ini tidak hanya memastikan performa yang mulus di berbagai skenario, tetapi juga menyajikan waktu pemuatan (load time) serta responsivitas yang konsisten cepat.

Ponsel pintar ini juga dilengkapi dengan sistem pendingin berupa vapor chamber besar berukuran 5.800 mm persegi dan lapisan grafit seluas 11.000 mm persegi untuk membuang panas. Sistem ini terbukti memberikan hasil yang efektif, baik dalam pengujian internal maupun penggunaan di dunia nyata.

Dari kiri ke kanan: AnTuTu v11, Geekbench 6, dan throttling test.
Dari kiri ke kanan: AnTuTu v11, Geekbench 6, dan throttling test.

Perangkat ini tercatat jauh lebih efisien secara termal dibandingkan dengan kompetitor utamanya, iQoo 15R, saat digunakan untuk memainkan sejumlah game populer seperti BGMI (PUBG Mobile versi India) dan COD: Mobile. Poco X8 Pro Max memang terasa agak hangat saat menjalankan Hitman: Absolution, namun hal tersebut dinilai wajar mengingat game tersebut merupakan porting dari versi PC dan merupakan salah satu judul yang menuntut performa tinggi.

Untuk sebagian besar skenario penggunaan lainnya, ponsel pintar ini dapat diandalkan untuk menangani berbagai tugas dengan lancar. Hal tersebut juga terbukti dalam pengujian stabilitas performa menggunakan Burnout CPU. Dalam uji tersebut, Poco X8 Pro Max mampu mempertahankan 51 persen dari performa maksimalnya, atau sekitar 20 persen lebih tinggi dibandingkan kompetitornya, iQoo 15R.

Di sektor perangkat lunak (software), Poco X8 Pro Max langsung menjalankan sistem operasi HyperOS 3 berbasis Android 16 secara bawaan (out-of-the-box). Ini menandai iterasi ketiga dari antarmuka (custom Android skin) milik Xiaomi sejak berganti nama dari MIUI. Lini flagship terbaru, Xiaomi 17 series, juga meluncur dengan versi yang sama, sehingga pengguna pada dasarnya mendapatkan tampilan antarmuka serta rangkaian fitur yang serupa. Daftar fitur tersebut meliputi depth dan cinematic wallpaper, animasi yang lebih mulus, hingga fitur HyperIsland untuk menampilkan peringatan (alert), notifikasi, dan “Live Activities” seperti pemutaran musik, hitung mundur pengatur waktu (timer countdown), arah navigasi, pelacakan ojek daring, serta panggilan masuk.

Perangkat ini juga dilengkapi fitur optimasi WildBoost yang mampu meningkatkan pengalaman bermain game dengan menyajikan gameplay hingga 120 fps, menjadikannya fitur krusial untuk game bertempo cepat seperti BGMI (PUBG Mobile versi India). Selain itu, ponsel ini turut menyediakan beberapa fitur bertenaga AI untuk membantu pengguna dalam menulis, mentranskripsi, mencari informasi dari apa yang tampil di layar, hingga menyunting gambar.

Kendati demikian, antarmuka ini dinilai kurang intuitif dan tidak sebersih beberapa custom skin Android lainnya. Perangkat ini hadir dengan banyak aplikasi bawaan (pre-installed app) yang mencapai total 63 aplikasi, dengan 21 di antaranya merupakan aplikasi pihak ketiga (third-party). Jumlah tersebut menjadi salah satu yang terbanyak untuk sebuah ponsel pintar di kelas sub-flagship.

Selain itu, panel notifikasi juga tampak penuh akibat adanya rekomendasi yang tidak diperlukan dari game centre serta aplikasi sistem lainnya. Ditemukan pula beberapa bug, khususnya pada profil pengguna sekunder (secondary user profile), yang tampaknya perlu segera diperbaiki melalui pembaruan sistem.

Beralih ke kebijakan pembaruan, Poco X8 Pro Max dijanjikan akan menerima setidaknya empat tahun pembaruan sistem operasi utama dan enam tahun pembaruan keamanan. Dukungan ini setara dengan standar yang ditawarkan oleh ponsel pintar kontemporer lainnya di segmen harga yang sama.

Baterai yang bisa diandalkan

Poco X8 Pro Max dibekali baterai berbahan silikon-karbon berkapasitas besar 9.000 mAh, yang didukung oleh fitur pengisian daya cepat (fast charging) 100 watt dan pengisian daya balik (reverse charging) 27 watt. Kepala pengisi daya (charger) yang kompatibel sudah tersedia di dalam kotak penjualan, dan mampu mengisi daya perangkat dari tingkat 20 persen hingga penuh dalam waktu sekitar satu jam 15 menit.

Perlu dicatat bahwa secara bawaan, ponsel pintar ini membatasi pengisian daya hanya sampai 80 persen melalui fitur Intelligent Charging demi memperpanjang kesehatan baterai. Pengguna dapat menonaktifkan fitur ini melalui menu Battery Protection di dalam opsi Battery pada aplikasi Settings.

Skor PC Mark pada Poco X8 Pro Max.
Skor PC Mark pada Poco X8 Pro Max.

Setelah terisi penuh, Poco X8 Pro Max mampu bertahan selama 21 jam 21 menit dalam uji baterai sintetis menggunakan PCMark. Hasil tersebut menjadi pencapaian tertinggi untuk ponsel di segmen ini sekaligus menunjukkan tingkat daya tahannya.

Di dunia nyata, ketahanan baterai ponsel pintar ini kurang lebih selaras dengan hasil pengujian sintetisnya. Kendati demikian, iQoo 15R dinilai sedikit lebih teroptimasi. Sebagai perbandingan, saat digunakan untuk melakukan pemutaran video dan bermain game selama satu jam, daya baterai iQoo berkurang sebesar 11 persen, sementara Poco X8 Pro Max mengonsumsi daya sebesar 13 persen.

Menyoal waktu screen-on time, ponsel pintar Poco ini secara meyakinkan mampu menawarkan waktu penggunaan sekitar tujuh jam dalam sekali pengisian daya di bawah penggunaan berat, yang mencakup sesi bermain game yang intens, streaming video, berselancar di web, serta mengakses media sosial.

Sementara itu, untuk skenario penggunaan sehari-hari yang lebih sedang, pihak pabrikan mengklaim bahwa perangkat ini dapat bertahan hingga tiga hari dalam sekali pengisian daya. Hal tersebut menjadikannya sebuah perangkat yang andal bagi pengguna yang memprioritaskan ketahanan baterai.

Konfigurasi kamera yang lumayan memadai

Untuk sebuah ponsel gaming kelas menengah (mid-range) yang dibekali perangkat keras (hardware) sekuat itu, sejumlah kompromi memang tidak dapat dihindari. Pada Poco X8 Pro Max, kompromi tersebut paling terlihat jelas pada sektor kamera. Perangkat ini mengusung konfigurasi kamera belakang ganda yang terdiri dari kamera utama 50MP dengan sensor Light Fusion 600 dilengkapi fitur OIS, serta lensa ultrawide 8MP. Sementara untuk kamera depan, terdapat sensor 20MP untuk kebutuhan swafoto (selfie) dan panggilan video yang ditempatkan dalam modul punch-hole.

Sebagai pembanding untuk memberikan konteks yang lebih baik, kami menyandingkan Poco X8 Pro Max dengan iQoo 15R yang juga menawarkan konfigurasi kamera serupa.

Daylight

Before image
POCO X8 Pro Max
After image
iQOO 15R

Poco X8 Pro Max dinilai kurang mampu menangkap gambar dengan reproduksi warna yang terlihat natural. Hasil foto cenderung terlampau “gonjreng” (oversaturated), dengan saturasi warna merah dan hijau yang tampak ditingkatkan. Dari segi detail, kualitas yang disajikan sebenarnya sudah tergolong lumayan, namun masih kurang memuaskan jika dibandingkan dengan iQoo 15R yang berhasil menghasilkan akurasi warna lebih mendekati kondisi aslinya.

Ultrawide

Before image
POCO X8 Pro Max
After image
iQOO 15R

Kedua ponsel pintar ini mengikuti karakter warna (color science) yang serupa saat beralih menggunakan lensa ultrawide. Poco X8 Pro Max, dengan karakteristik visual yang lebih cerah, mampu menarik perhatian pengguna secara instan. Kendati demikian, iQoo 15R dinilai memiliki keunggulan berkat penyajian detail yang lebih superior serta tata pencahayaan (exposure) yang lebih baik pada area bayangan (shadow).

Portrait

Before image
POCO X8 Pro Max
After image
iQOO 15R

Foto portrait pada Poco X8 Pro Max dapat terlihat sedikit lebih tajam, sebagian besar disebabkan oleh kecenderungan perangkat yang melakukan kelebihan pencahayaan (overexpose) pada hasil bidikan. Pemrosesan yang lebih cerah ini juga membantu menonjolkan detail yang sedikit lebih banyak dibandingkan dengan iQoo 15R. Sementara itu, performa deteksi tepi (edge detection) dan efek bokeh tercatat cukup serupa pada kedua perangkat. Namun, bagi pengguna yang lebih menyukai reproduksi warna kulit (skin tone) yang terlihat lebih natural, iQoo menjadi pilihan yang lebih baik.

Selfie

Before image
POCO X8 Pro Max
After image
iQOO 15R

Hal serupa juga terjadi pada hasil swafoto (selfie). Hasil gambar yang lebih cerah membuat foto dari Poco X8 Pro Max terlihat lebih menarik perhatian dibandingkan iQoo 15R. Kendati demikian, reproduksi warna kulit (skin tones) dan akurasi warnanya dinilai kurang akurat, serta kualitas detail yang dihasilkan pun tergolong sangat rata-rata.

Low light (night mode)

Before image
POCO X8 Pro Max
After image
iQOO 15R

Dengan night mode diaktifkan, Poco X8 Pro Max menangkap gambar yang lebih mencerminkan adegan sebenarnya. Sebagai perbandingan, iQoo 15R cenderung overexpose dan menerapkan smoothing yang lebih berat. Meskipun bidikan Poco dapat terlihat sedikit grainy, mereka mempertahankan finer details dan texture dengan lebih efektif.

Secara keseluruhan, sektor kamera Poco X8 Pro Max tampak lebih memprioritaskan hasil foto dengan warna yang cerah (saturated) dengan pencahayaan terang (overexposed) ketimbang mengejar akurasi. Meski dinilai agak kesulitan dalam menangkap akurasi warna dan detail di siang hari, performa ponsel ini justru mampu mengungguli iQoo 15R saat kondisi minim cahaya atau setelah matahari terbenam. Untuk perekaman video, kamera utama perangkat ini sudah mampu merekam hingga resolusi 4K pada 60 frames per second (fps), sementara kamera depan dan lensa ultrawide masih terbatas pada resolusi 1080p pada 30fps. Jika kemampuan kamera menjadi prioritas utama Anda, beralih ke alternatif lain di segmen ini seperti Vivo V70 atau Realme 16 Pro+ bisa menjadi pertimbangan yang lebih tepat.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Poco X8 Pro Max menawarkan hampir semua aspek yang dicari dari sebuah ponsel pintar kelas menengah (mid-range) yang berfokus pada performa. Mulai dari penggunaan chipset yang bertenaga, sistem pendingin yang efektif, hingga kapasitas baterai yang besar, ponsel ini konsisten menyajikan pengalaman penggunaan yang mulus, khususnya untuk aktivitas bermain game. Perangkat ini juga dapat diandalkan untuk kebutuhan harian berkat dukungan layar yang responsif dan jernih serta daya tahan baterai kuat yang mampu menemani aktivitas intensif pengguna sepanjang hari.

Kendati demikian, perangkat ini dinilai belum berhasil menjadi ponsel all-rounder yang sempurna. Catatan terbesarnya terletak pada konfigurasi kamera yang tergolong standar, dengan kecenderungan memprioritaskan visual yang terlampau oversaturated ketimbang akurasi warna dan detail. Selain itu, pengalaman antarmuka ponsel ini juga terasa kurang rapi dan belum se-inklusif kompetitornya, imbas dari banyaknya aplikasi bawaan serta kemunculan bug minor yang sesekali masih mengganggu kenyamanan. Ponsel lain di kelas yang sama, seperti iQoo 15R, mungkin bisa menjadi opsi yang lebih tepat jika Anda mendambakan perangkat yang lebih seimbang di sektor-sektor tersebut selain untuk kebutuhan gaming.

Meskipun begitu, iQoo 15R tersebut tidak dibanderol dengan harga sekompetitif Poco X8 Pro Max, yang membuatnya tetap menjadi pilihan yang sangat menarik di kelasnya. Di pasar Indonesia, ponsel pintar ini dipasarkan dengan harga Rp 6.099.000 untuk varian dasar dengan storage 256 GB, serta Rp 6.599.000 untuk varian tertinggi dengan storage 512GB.

Rating Editor: 8.4/10

Alasan untuk membeli

  • AMOLED display yang cerah dan mulus.
  • Performance luar biasa dengan output yang kuat dan berkelanjutan.
  • Cooling system yang efektif untuk sesi gaming yang panjang.
  • Battery besar dengan endurance yang andal.

Alasan untuk tidak membeli

  • Kamera kurang konsisten dan reproduksi warna natural.
  • Software yang berantakan dengan terlalu banyak pre-installed apps.

The post Review Poco X8 Pro Max: Performa Gaming Monster, Kamera Standar first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-poco-x8-pro-max-performa-gaming-monster-kamera-standar/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/06/DSC02712-e1780643532330-150x150.jpg150150
Review Vivo X300 Ultra: HP Flagship untuk Fotografer Serius https://www.91mobiles.com/id/hub/review-vivo-x300-ultra-hp-flagship-untuk-fotografer-serius/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-vivo-x300-ultra-hp-flagship-untuk-fotografer-serius/#respond Thu, 28 May 2026 06:22:19 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=21795 Banyak flagship mendekati penawaran sistem kamera layaknya DSLR, seperti Vivo X300 Pro, OPPO Find X9 Pro, Samsung Galaxy S26 Ultra, dan iPhone 17 Pro Max. Namun, kemudian hadir Vivo X300 Ultra yang tidak hanya “mendekati penawaran foto layaknya DSLR.” Ia mencapainya. Tentu saja, asalkan Anda bersedia totalitas dan membeli tidak hanya ponselnya tetapi juga photography kit-nya. […]

The post Review Vivo X300 Ultra: HP Flagship untuk Fotografer Serius first appeared on Indonesia Blog.

]]>
.perf_test { border-bottom: 1px solid #e0e0e0; padding: 20px 0 20px 0; } .perf_test_wrap { padding: 7px 0 1px; position:relative; } .sortcode-table th:last-child, .sortcode-table td:last-child { border-right: none; } .perf_test_wrap:before { content: ''; background-image: repeating-linear-gradient(to right, #ededed54 0%, #f6f6f6 1px, transparent 1px, transparent 9.6%); position: absolute; left: 12%; top: 0; height: 100%; width: 100%; z-index: 1; } .pref-row { display: flex; align-items: flex-start; justify-content: space-between; background-image: repeating-linear-gradient(to right, black 1px, /* Line color & thickness */ transparent 1px 50px); z-index: 2; position: relative; margin: 3px 0; } .perf-img { flex: 0 0 10%; margin: 1px 10px 0 0; height: 38px; } .td-pb-span12 .perf-img { flex: 0 0 9.5%; } .perf-box { flex: 1; max-width: 100%; overflow: hidden; } .perf-num { flex: 0 0 20%; font-size: 16px; text-align: right; font-weight:normal; line-height: 25px; } .td-pb-span12 .perf-num { flex: 0 0 23%; } .perf-img img { max-width: 100%; border-radius: 0; max-height: 100% } .perf-meter { position: relative; font-size: 14px; font-weight: 400; height:20px; display: flex; align-items: center; } span.pref_meterbar { position: absolute !important; background: #ccc; height: 22px; width: 100%; left: 0; z-index: -1; border-radius: 2px; } .perf-meter span { margin: 9px 0 0; position: relative; width: 100%; padding: 0 6px; white-space: nowrap; text-overflow: ellipsis; overflow: hidden; color:#000000; } .perf-meter.thisphone span:first-child { font-weight: 600; } .thisphone .pref_meterbar { background: #FF9352; } .thisphone .perf-meter { color: #fff; } .perf-val { font-size: 12px; color: #7c7c7c; margin: 2px 0 10px; display: flex; align-items: center; font-weight:normal; } .perf_desc { text-align: center; font-size: 14px; margin-bottom: 30px; margin-bottom: 10px; } .greytxt { font-size: 14px; color: #777; line-height: 18px; display: block; } .perf_test_wrap .sprite-icn { background: url(https://www.91-cdn.com/images/hub/sort-code-widget-sprite.svg); background-repeat: no-repeat; } .sprite-icn.battery { background-position: 0px -16px; width: 19px; height: 15px; display: inline-block; } .sprite-icn.processor { background-position: 1px 1px; width: 19px; height: 17px; display: inline-block; } .sprite-icn.cam { background-position: 0 -31px; width: 19px; height: 11px; display: inline-block; } .perf-num.thisphone { font-weight: bold; } .td-container perf-img { flex: 0 0 8%; } .sortcode-container { width: 100%; overflow: auto; } .sortcode-table { width: 100%; background: #fff; text-align: left; border: solid 1px #e4e0e0; border-bottom: none; border-radius: 8px; border-collapse: unset; overflow: hidden; border-collapse: separate; } .sortcode-table th, .sortcode-table td { border: none; padding: 8px 12px; line-height: 20px; border-bottom: solid 1px #d4d4d4; border-right: solid 1px #d4d4d4; min-width:120px; font-size:16px; } .sortcode-table thead { background-color: #FFECDE; font-weight: bold; height:48px; } .sortcode-table th { text-align: center; font-size: 16px; line-height: 20px; } @media only screen and (min-width : 1025px) { .perf_test { padding-top: 0px; overflow: hidden; } .perf-img { flex: 0 0 10%; margin: -2px 7px 0 0; height: 50px; width: 46px; } .perf-img img { max-height: 100%; max-width: 100%; } .perf-num { flex: 0 0 9%; margin: -2px 0 0 16px; line-height: 25px; } .perf-val { font-size: 14px; margin-top: 7px; } .perf_test_wrap:before { left: 70px; } .td-pb-span12 .perf_test_wrap:before { left: 70px; } span.pref_meterbar{ height: 28px; } .pref-row { margin:13px 50px 0 0; } .perf_test_wrap:before { background-image: repeating-linear-gradient(to right, #ededed87 0%, #f6f6f6 1px, transparent 1px, transparent 9%); margin: 3px 60px 0 0; } .perf_desc { margin-top: 22px; } .perf-meter { font-size: 16px; } .greytxt { font-size: 16px; line-height: 22px; } .td-pb-span12 .perf-img { flex: 0 0 6.3%; margin: -2px 5px 0 0; } .td-pb-span12 .perf-num { flex: 0 0 16%; line-height: 28px; } .sortcode-table th, .sortcode-table td { padding: 12px 12px; } }

Banyak flagship mendekati penawaran sistem kamera layaknya DSLR, seperti Vivo X300 Pro, OPPO Find X9 Pro, Samsung Galaxy S26 Ultra, dan iPhone 17 Pro Max. Namun, kemudian hadir Vivo X300 Ultra yang tidak hanya “mendekati penawaran foto layaknya DSLR.” Ia mencapainya. Tentu saja, asalkan Anda bersedia totalitas dan membeli tidak hanya ponselnya tetapi juga photography kit-nya. Vivo X300 Ultra bukanlah flagship untuk khalayak umum; ini untuk pembeli yang serius tentang fotografi. Maksud saya, benar-benar serius.

Kesimpulan awal

Vivo X300 Ultra adalah, yang pertama dan terpenting, sebuah camera phone. Setiap keputusan desain, mulai dari Zeiss camera module yang besar hingga aksesori photography kit, memperkuat identitas tersebut. Sebagai camera phone, X300 Ultra adalah yang terbaik yang bisa Anda beli saat ini. Sistem tiga lensanya memberikan konsistensi terdepan di kelasnya di seluruh focal length, color science Vivo tetap menjadi yang terbaik di industri, dan Zeiss Telephoto Extender Kit memperluas kemampuan X300 Ultra ke wilayah yang tidak tersentuh smartphone lain.

Performance, display, dan baterai semuanya berkelas flagship. Software-nya memiliki beberapa kekurangan, tombol shortcut-nya tidak ada, dan harga mulai Rp 26 juta untuk ponselnya saja memastikan ini adalah ponsel untuk pembeli yang sangat spesifik. Jika kamera adalah alasan utama Anda membeli ponsel, X300 Ultra adalah jawabannya. Jika tidak, ada flagship yang lebih seimbang, termasuk Vivo X300 Pro milik Vivo sendiri, yang tersedia dengan harga lebih murah.

Kamera: Tiga lensa, satu standar konsisten

Anda bisa saja membeli Vivo X300 Ultra tanpa photography kit dan tetap puas dengan kameranya. Vivo telah memastikan ponsel seharga mulai Rp 26 juta ini memiliki sistem kamera terbaik yang seharusnya ditawarkan oleh ponsel ultra-premium.

Secara teknis, X300 Ultra memiliki empat kamera belakang, tiga di antaranya dapat digunakan, masing-masing dengan tujuan yang berbeda. 35 mm Zeiss Documentary Camera adalah kamera utama dengan sensor 200 MP Sony LYTIA 901 berukuran 1/1,12 inci. Focal length tersebut adalah yang paling mendekati cara mata manusia melihat suatu pemandangan, yang menjadikannya default alami untuk street photography, travel, dan pengambilan gambar sehari-hari. 14 mm Zeiss ultra-wide menggunakan sensor 50 MP dengan 2-degree OIS dan dukungan untuk 4K 120 fps. 85mm ZEISS Gimbal-Like Stabilisation APO Telephoto melengkapi tiga lensa utama, dengan gimbal-grade 3-degree OIS, 200MP output, dan 60fps AF tracking dalam mode Snapshot. Ini mencakup apa yang Vivo sebut sebagai “golden focal length.”

Masing-masing dari ketiga lensa ini memiliki coating ZEISS T* dan Super Blue Glass untuk mengurangi flare dan ghosting. Kamera keempat, 5MP multispectral sensor dengan 12 color channels, berada di latar belakang dan memastikan warna di setiap bidikan seakurat mungkin, terlepas dari ambient light.

Hal yang paling mengesankan dari kamera X300 Ultra adalah konsistensinya di ketiga lensa. Baik Anda memotret pada 14mm, 35mm, atau 85mm, hasilnya terasa seperti berasal dari kamera yang sama. Satu-satunya perbedaan berarti yang saya temukan adalah bahwa telephoto dan ultrawide sedikit lebih rentan terhadap motion blur dengan subjek bergerak cepat dalam pencahayaan yang kurang ideal. Saya menghabiskan lebih banyak waktu memilih di antara lensa untuk menemukan framing yang tepat untuk sebuah bidikan daripada menghitung lensa mana yang paling tidak akan mengecewakan saya. Itu adalah masalah yang menyenangkan untuk dimiliki.

Color science Vivo terus menjadi yang terbaik. Pemrosesannya naturalistik daripada punchy, menghindari tampilan oversaturated yang diandalkan beberapa pesaing untuk membuat foto terlihat mengesankan pada pandangan pertama. Anda perlu tahu tentang Zeiss colour styles, khususnya Vivid, Refined, dan Natural. Vivid cenderung meningkatkan warna untuk foto-foto cerah yang siap di media sosial. Natural menurunkan colour saturation dan merupakan gaya yang paling saya sukai. Refined membawa warna paling dekat dengan apa yang mata Anda lihat, sehingga paling akurat, meskipun relatif kusam. Saya juga menemukan Super Macro mode cukup mengesankan untuk bidikan ultra-close bunga dan serangga, dengan stability dan detail yang sangat baik.

Saya membandingkan X300 Ultra dengan X300 Pro untuk memberi Anda gambaran yang lebih baik tentang apa yang Anda dapatkan dengan tambahan sekitar Rp 7juta. Semua sampel diambil dalam Zeiss Natural mode.

Cahaya Siang

Kamera ultrawide X300 Ultra adalah salah satu yang terbaik di kelasnya dalam cahaya yang baik. Dynamic range-nya luas, white balance akurat, dan level detail pada native 14mm focal length-nya secara konsisten sangat baik. Kamera utama 35mm memberikan keandalan yang sama. Warna-warna cerah tanpa terasa diproses, background blur dalam Photo mode cukup alami sehingga Portrait mode jarang diperlukan.

Pada resolution modes, kamera utama memotret pada 12MP secara default, tetapi sweet spot di ketiga lensa adalah 25MP atau 50MP. Mode 200MP menghasilkan hasil yang dapat digunakan dalam cahaya yang baik tetapi menambah ukuran file. Sebaiknya tetap gunakan 50MP sebagai batas atas.

Dibandingkan dengan X300 Pro pada default 12MP resolution-nya, X300 Ultra menangkap warna yang lebih realistis, dan ada lebih banyak ketajaman serta detail retention saat zooming in. Kamera utama 35mm pada Ultra menangkap frame yang lebih rapat dibandingkan dengan lensa 24mm pada X300 Pro, memberikan yang terakhir sedikit lebih banyak kebebasan dalam framing bidikan.

Before image
Vivo X300 Pro
After image
Vivo X300 Ultra

Pada ultrawide, X300 Ultra juga unggul, menawarkan sharpness dan detail yang lebih baik daripada X300 Pro.

Before image
Vivo X300 Pro
After image
Vivo X300 Ultra

Potret

Pada 50mm, lensa telephoto menangani bidikan orang dengan sangat baik. Proporsi wajah alami, skin tones akurat, dan ada cukup background separation pada jarak dekat hingga menengah tanpa perlu mengaktifkan Portrait mode. Telephoto 85mm membawa ini lebih jauh dengan framing yang lebih rapat, subject isolation yang lebih baik, dan headshots yang mempertahankan detail.

Sampel di bawah ini diambil dengan kedua ponsel dalam ZEISS Natural mode. Kedua gambar serupa dalam colour reproduction, menawarkan warna alami dan true-to-life di seluruh latar belakang dan pakaian. Potret 85mm juga crisp dan detailed di kedua perangkat. Namun X300 Ultra menghasilkan skin tones yang lebih datar dan netral, sedangkan X300 Pro cenderung ke arah warna yang lebih hangat, keemasan, yang mungkin lebih disukai untuk media sosial.

Before image
Vivo X300 Pro 50mm
After image
Vivo X300 Ultra 50mm
Before image
Vivo X300 Pro
After image
Vivo X300 Ultra

Selfie

Kamera depan memotret pada 24mm dan 47mm crop. X300 Pro dan OPPO Find X9 Ultra keduanya lebih lebar untuk memungkinkan lebih banyak orang dalam frame. Ini bukan kekurangan yang berarti dalam praktiknya, dan X300 Ultra menangani close-up selfie dengan baik terlepas dari itu. Sharpness umumnya sangat baik dalam cahaya siang, tetapi cenderung melunak di area wajah tertentu saat memotret di dalam ruangan atau dalam low light. Meskipun demikian, dynamic range sangat baik, dan warna-warna akurat saat memotret di luar ruangan.

Dibandingkan dengan X300 Pro, portrait selfie X300 Ultra menunjukkan exposure yang lebih seimbang, warna yang lebih realistis, dan subject separation yang lebih baik.

Before image
Vivo X300 Pro
After image
Vivo X300 Ultra

Makro

Saya sebutkan sebelumnya bahwa super macro mode X300 Ultra benar-benar hebat. Meskipun X300 Pro dan Ultra keduanya menawarkan macro shots yang stabil, Ultra menangani colour separation dengan lebih baik. Itulah inti cerita X300 Ultra: color reproduction yang lebih baik.

Before image
Vivo X300 Pro
After image
Vivo X300 Ultra

Low-light

Kamera utama 35mm adalah yang terkuat dari ketiganya dalam low light, menghasilkan dynamic range yang luas, warna yang akurat, dan sharpness yang sangat baik tanpa noise reduction agresif yang menghaluskan tekstur pada ponsel lain. Ultrawide juga bertahan dengan baik, dengan exposure yang seimbang dan white balance yang akurat. Telephoto bekerja dengan andal pada native 85mm-nya dan tetap dapat digunakan melalui 135mm zoom range, meskipun detail mulai melunak secara signifikan di luar itu dalam cahaya yang menantang.

Sensor yang lebih besar pada X300 Ultra menangkap lebih banyak cahaya dan mempertahankan clarity serta detail yang lebih baik daripada X300 Pro dalam low-light conditions.

Before image
Vivo X300 Pro
After image
Vivo X300 Ultra

Video

Vivo telah melakukan dorongan serius pada video tahun ini, meskipun peningkatannya ditujukan langsung untuk pengguna profesional . X300 Ultra mendukung 4K 120 fps 10-bit Log recording di ketiga lensa belakang, dengan color science dan dynamic range yang konsisten di antara focal length yang ada. Custom 3D LUTs dapat diimpor untuk real-time monitoring, dan Pro Video mode menawarkan full manual controls, termasuk shutter speed, ISO, white balance, dan fokus. Jika Anda tahu apa arti semua itu, X300 Ultra adalah salah satu smartphone dengan kemampuan video paling mumpuni yang tersedia saat ini. Jika tidak, mode video standar sangat baik dan tidak memerlukan pengetahuan tambahan untuk menghasilkan hasil yang bagus.

Perlu juga disebutkan bahwa X300 Ultra memiliki camera app UI yang didesain ulang. Photo mode sekarang menunjukkan focal length alih-alih tingkat zoom. Ada ikon enam titik baru di kanan bawah untuk akses yang lebih mudah ke pengaturan aspect ratio, pemilihan super macro, snapshot, dan sebagainya. Street Photography kini telah berpindah ke carousel alih-alih menggeser ke atas dari bawah — meskipun saya lebih suka cara geser ke atas yang lama. Meskipun desain baru ini memudahkan penggunaan beberapa kontrol tambahan tanpa meregangkan jari atau menggunakan dua tangan, ini masih bisa terasa overwhelming.

Photography kit: Mengubah kamera hebat menjadi luar biasa

ZEISS Telephoto Extender Kit membawa X300 Ultra ke tempat yang sebagian besar kamera smartphone tidak bisa menjangkau. Sebenarnya ada kit dengan dua lensa teleconverter seperti tampak di bawah, masing-masing dengan focal length 200 mm dan 400 mm. Namun, di Indonesia hanya ada satu versi dengan lensa 400 mm saja seharga Rp 6 juta. 

Sebelum Anda bersemangat, ada realitas praktis yang patut disebutkan di awal. Ini bukan kit untuk memotret secara spontan. Memasang grip dan lensa membutuhkan satu menit atau lebih, jadi setiap momen yang membutuhkan reaksi cepat sudah hilang. Anggap saja seperti perbedaan antara point-and-shoot dan DSLR: keduanya mengambil foto, tetapi hanya satu yang mengharuskan Anda memutuskan terlebih dahulu. Satu hal lagi: selalu pastikan teleconverter yang benar dipilih di camera app. Memilih yang salah akan menciptakan masalah stabilitas yang merusak seluruh pengalaman.

Lensa 200mm adalah lensa yang lebih praktis untuk penggunaan sehari-hari. Ini lebih kecil, lebih ringan, dan cukup serbaguna untuk potret dari jarak jauh, detail arsitektur, dan situasi di mana Anda membutuhkan jangkauan ekstra. 

Lihat beberapa bidikan yang diambil menggunakan lensa 200mm di bawah ini.

Lensa 400mm beroperasi dalam kategori yang sama sekali berbeda. Ini front-heavy dan membutuhkan dukungan dari grip, tetapi ketika Anda memiliki subjek di kejauhan yang tidak dapat dijangkau dengan jelas oleh smartphone lain, hasilnya benar-benar sulit dipercaya berasal dari ponsel.

Berikut adalah beberapa hasil tangkapan dengan lensa 400mm. 

Camera grip menambahkan two-stage shutter, control dial yang dapat disesuaikan, zoom lever, dan baterai built-in 2,300 mAh untuk mengoperasikan kontrol, bukan untuk mengisi daya ponsel. Di tangan, pengaturan lengkap ini terasa seperti kamera khusus. Saya telah menulis secara panjang lebar tentang pengalaman ini, termasuk siapa yang harus dan tidak boleh membelinya, dalam artikel khusus di sini. Versi singkatnya: untuk pemotretan yang direncanakan dan subjek yang jauh, lensa teleconverter benar-benar masuk akal. Untuk fotografi kasual dan spontan, tiga kamera native sudah lebih dari cukup.

Desain: Besar, berat, tapi tak mengapa

Vivo X300 Ultra adalah versi yang sedikit lebih tebal dan lebih besar dari X300 Pro. Bagian belakang, tentu saja, adalah highlight-nya, dengan modul kamera bundar yang menonjol lebih dari pada X300 Pro. Begitu menonjolnya hingga Anda bahkan bisa memegang camera module dengan jari dan mengangkat ponsel. Varian warna Victory Green yang kami terima memiliki dual-tone finishing yang terlihat cukup bagus. 

Bagian belakang glass fiber matte finish terasa lembut saat disentuh, terkadang sedikit licin, dan tidak akan meninggalkan noda di bagian belakang. Anda kemungkinan akan menggunakan case untuk melindunginya dari benturan. Softcase berwarna hijau yang disertakan membuat ponsel lebih mudah digenggam. Dan saya lebih menyukai ini daripada camera kit case, yang membuat ponsel menjadi lebih bulky dari yang sudah ada.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, X300 Ultra adalah ponsel besar dan akan memenuhi seluruh saku Anda. Varian warna Victory Green memiliki berat 237 gram, yang terasa substansial dan dapat membuat pergelangan tangan Anda tegang jika Anda menggunakan ponsel dengan satu tangan untuk waktu yang lama. Versi Eclipse Black beberapa gram lebih ringan.

Menariknya, Vivo telah menghilangkan shortcut button pada X300 Ultra dan X300 FE. Sebagai pengingat, X300 Pro memiliki tombol tambahan di sisi kiri yang dapat melakukan beberapa fitur, seperti beralih antara ring dan vibrate, mengaktifkan senter, merekam audio secara instan, atau meluncurkan aplikasi favorit. Pada saat hampir setiap brand lain telah menambahkan shortcut button (mirip dengan Action button iPhone), Vivo memilih untuk melewatkannya pada ponsel X300 terbaru. Meskipun bukan dealbreaker, saya merindukannya untuk beralih sound profiles dengan cepat.

X300 Ultra memiliki sertifikasi IP68 dan IP69, memastikan tidak ada kondisi cuaca yang menghentikan Anda menangkap jenis foto wildlife atau alam yang dirancang untuk dihasilkan oleh kamera.

Layar: Cerah, tajam, dan tanpa cela

Dalam hal layar, Vivo telah melakukan segalanya. X300 Ultra mendapatkan layar 6.82 inci yang luar biasa dengan bingkai yang sangat tipis di sekelilingnya, resolusi 2K, refresh rate 144 Hz, tingkat kecerahan maksimal 4500 nits, cakupan color space P3 100 persen, dan dukungan untuk Dolby Vision, di antara fitur-fitur lainnya.

Layarnya besar, jernih, dan menarik, menjadikannya bagus untuk melihat konten saat bepergian. Warna terlihat cerah, dan hitam tampak pekat. Speaker stereo juga jernih dan detil pada tingkat volume menengah. Layar juga cukup terang di bawah sinar matahari yang terik. Secara keseluruhan, hampir tidak ada yang bisa dicela dari layar X300 Ultra.

Kinerja: Snapdragon 8 Elite Gen 5 melakukan apa yang dijanjikan

Sama seperti layarnya, kinerja X300 Ultra juga top. Ditenagai oleh chip flagship Snapdragon 8 Elite Gen 5, Vivo X300 Ultra memecahkan benchmark dan dengan mudah menangani apa pun yang Anda berikan padanya setiap hari. Ada beberapa flagship Snapdragon 8 Elite Gen 5 tahun ini, termasuk Xiaomi 17 Ultra, Samsung Galaxy S26 Ultra, iQOO 15, OnePlus 15, dan Realme GT 8 Pro. Vivo X300 Ultra menjadi yang paling dekat untuk mencapai angka 4 juta dalam uji AnTuTu kami, menunjukkan bahwa Vivo telah melakukan optimalisasi yang mengesankan.

Skor AnTuTu
vivo X300 Ultra
Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5
3,977,648
Samsung Galaxy S26 Ultra
Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5
3,905,605
iQOO 15
Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5
3,842,735
Xiaomi 17 Ultra
Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5
3,654,776
vivo X300 Pro
MediaTek Dimensity 9500
3,536,552
AnTuTu mengukur kinerja CPU, GPU, memori, dan user experience keseluruhan dari sebuah smartphone (lebih tinggi lebih baik)

Selama saya menggunakan X300 Ultra sebagai daily driver, saya tidak menemukan masalah apa pun dengan kinerja ponsel ini. Semuanya berjalan cepat, lancar, dan tanpa lag, mulai dari membuka apps hingga beralih di antaranya. Saya tidak mengalami aplikasi yang crash secara acak. Ponsel memang menjadi lebih hangat daripada flagship lain yang kami uji selama 30-menit main game, tetapi saya sebagian menyalahkan itu pada cuaca musim panas yang semakin meningkat.

Software: Cerdas dengan beberapa kekurangan

Vivo X300 Ultra hadir dengan Android 16 dan OriginOS 6. Ponsel ini menerima beberapa update selama proses review, termasuk security patch untuk April. Vivo menjanjikan update versi OS selama lima tahun dan patch sekuriti selama tujuh tahun. Lumayan lama, tetapi Samsung dan Google masih unggul dengan kebijakan update 7+7 tahun mereka. 

OriginOS 6 memiliki banyak daya tarik bagi pengguna yang suka melakukan kustomisasi tampilan ponsel mereka, seperti flip cards di lockscreen themes, di mana wallpaper dapat bergeser antara dua gambar saat ponsel dimiringkan. Ada Origin Island yang menampilkan notifikasi, music playback, live alerts, dan lainnya. Anda mendapatkan Airdrop support dengan Quick Share, memungkinkan transfer file antara X300 Ultra dan iPhone. Animasi lebih cepat dan lebih responsif.

Meskipun OriginOS sebagian besar lancar dan mengesankan, saya merasa lockscreen notifications dapat ditingkatkan, seperti menampilkan chat terpisah dari aplikasi seperti WhatsApp dan tidak membatasi kemampuan untuk memperluas notifikasi ke panah kecil yang mengarah ke bawah di sudut kanan. Masalah lain yang terus-menerus adalah ketika Anda beralih dari app drawer ke widgets dan lupa untuk beralih kembali, dan widgets menjadi default setiap kali Anda swipe up. Saya juga menemukan sensor sidik jari terkadang glitchy, gagal mengenali sidik jari saya atau membeku sama sekali, yang saya yakin dapat diperbaiki melalui update software.

Baterai: Cukup untuk bertahan sehari, pengisian 100 watt menangani sisanya

Baterai Li-ion 6,600 mAh di dalam Vivo X300 Ultra mungkin tidak terdengar besar hari ini. Sekarang sudah umum melihat sub-flagship diluncurkan dengan baterai 8.000 mAh dan 9.000 mAh. Kapasitas 6.600 mAh masih lebih besar dari Xiaomi 17 Ultra atau Samsung Galaxy S26 Ultra, meskipun lebih kecil dari unit 7.050 mAh di OPPO Find X9 Ultra. Pada kenyataannya, daya tahan baterai Vivo X300 Ultra sama bagusnya dengan flagship mana pun di pasaran saat ini.

Skor Baterai PCMark (dalam jam)
vivo X300 Pro
6510 mAh
16.0
Xiaomi 17 Ultra
6000 mAh
15.5
vivo X300 Ultra
6600 mAh
15.2
Samsung Galaxy S26 Ultra
5000 mAh
14.4
PCMark battery test mengukur daya tahan baterai ponsel dari 100 persen ke 20 persen (lebih tinggi lebih baik)

Vivo X300 Ultra dapat dengan nyaman bertahan sehari penuh dengan sekali pengisian daya. Pada penggunaan sedang, saya bisa mendapatkan sekitar 1,5 hari dengan sekali charge, yang sama sekali tidak buruk.

Juga membantu bahwa Vivo X300 Ultra mendukung 100W FlashCharge, dan Anda mendapatkan charger 100 watt di dalam kotak. Saat Anda menancapkannya, Anda dapat memilih antara normal dan rapid charging. Memilih yang terakhir mengisi baterai dari 20 persen hanya dalam 36 menit, tetapi akan menghangatkan perangkat dalam proses tersebut. Normal mode membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk mengisi daya, yang harus Anda pilih jika Anda tidak terburu-buru.

Kesimpulan: Untuk siapa sebenarnya Vivo X300 Ultra?

Vivo X300 Ultra tidak mencoba menjadi flagship all-round terbaik. Ia mencoba menjadi camera phone terbaik di luar sana, dan ia berhasil. Sistem tiga lensanya adalah yang paling konsisten yang pernah saya uji pada smartphone mana pun, colour science-nya naturalistik dan akurat, dan kemampuan videonya menempatkannya dalam kategori tersendiri untuk mobile video profesional. Vivo X300 Ultra dengan Zeiss telephoto extender kit membuat fotografi jarak jauh tingkat profesional yang menakjubkan terasa sangat mudah dijangkau oleh siapa pun yang menggunakannya.

Di luar kamera, X300 Ultra adalah flagship yang mumpuni dalam setiap aspek lainnya. Snapdragon 8 Elite Gen 5 menangani semuanya tanpa ragu, layar 6.82-inci 2K termasuk yang terbaik yang tersedia, dan baterai 6.600 mAh dengan charging 100 watt berarti Anda mengakhiri setiap hari dengan sisa daya dan menghabiskan sangat sedikit waktu menunggu untuk mengisi penuh. OriginOS 6 memiliki personality dan sebagian besar lancar, meskipun masalah keandalan pemindai sidik jari, notifikasi di lockscreen, dan beberapa elemen lain membutuhkan perhatian. Jaminan update software lumayan panjang, tetapi Samsung dan Google tetap unggul dalam hal ini.

Harga mulai Rp 26 juta dan berat 237 gram menjadikan X300 Ultra ponsel yang menuntut komitmen. Tambahkan photography kit, dan Anda melihat total investasi di kisaran 30 jutaan untuk sistem kamera penuh. Ini bukan untuk pengguna kasual, melainkan fotografer serius yang menginginkan kamera paling mumpuni dalam form factor ponsel, yang berfungsi sebagai daily driver tanpa kompromi. Vivo X300 Ultra berada di liganya sendiri pada tahun 2026.

Rating Editor: 8.7 / 10

Alasan untuk membeli:

  • Sistem kamera tiga lensa terbaik dan paling konsisten pada smartphone mana pun saat ini.
  • Colour science Vivo naturalistik, akurat, dan dapat disesuaikan dengan film simulation profiles yang benar-benar berguna.
  • Zeiss Telephoto Extender Kit membuka optical zoom 200mm dan 400mm yang tidak dapat ditandingi smartphone lain.
  • Flagship performance dan 2K display yang luar biasa menjadikannya ultra-premium flagship phone yang hampir sempurna.

Alasan untuk tidak membeli:

  • Banderol mulai Rp 26 juta adalah harga yang signifikan, dan full photography kit menambah Rp 6 juta lagi ke total.
  • Meskipun daya tahan baterai dapat diandalkan, jarang bertahan lebih dari sehari penuh, terutama jika Anda banyak menggunakan kamera.
  • OriginOS belum sepenuhnya sempurna, terutama notifikasi lockscreen, dan masa update tertinggal dari Samsung dan Google.
vivo X300 Ultra Harga
Rp. 24.599.900
Pergi Ke Toko
Rp. 25.999.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review Vivo X300 Ultra: HP Flagship untuk Fotografer Serius first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-vivo-x300-ultra-hp-flagship-untuk-fotografer-serius/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/05/tampilan-belakang-saat-hp-terhubung-dengan-phone-case-dan-teleconverter-150x150.jpg150150
Review Motorola Signature: Jagonya Software di Kelas Flagship https://www.91mobiles.com/id/hub/review-motorola-signature-jagonya-software-di-kelas-flagship/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-motorola-signature-jagonya-software-di-kelas-flagship/#respond Mon, 18 May 2026 05:58:57 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=18982 Motorola Signature menandai ambisi besar kembalinya sang pionir telekomunikasi ke panggung utama ponsel flagship konvensional (slab). Dengan banderol harga mulai dari 59.999 rupee di pasar India (atau sekitar Rp 11 jutaan), perangkat ini tampil agresif untuk menantang dominasi pemain lama, terutama mengingat spesifikasi yang ditawarkan tergolong sangat komprehensif.Motorola tidak main-main dalam mempersenjatai Signature. Di balik […]

The post Review Motorola Signature: Jagonya Software di Kelas Flagship first appeared on Indonesia Blog.

]]>
.perf_test { border-bottom: 1px solid #e0e0e0; padding: 20px 0 20px 0; } .perf_test_wrap { padding: 7px 0 1px; position:relative; } .sortcode-table th:last-child, .sortcode-table td:last-child { border-right: none; } .perf_test_wrap:before { content: ''; background-image: repeating-linear-gradient(to right, #ededed54 0%, #f6f6f6 1px, transparent 1px, transparent 9.6%); position: absolute; left: 12%; top: 0; height: 100%; width: 100%; z-index: 1; } .pref-row { display: flex; align-items: flex-start; justify-content: space-between; background-image: repeating-linear-gradient(to right, black 1px, /* Line color & thickness */ transparent 1px 50px); z-index: 2; position: relative; margin: 3px 0; } .perf-img { flex: 0 0 10%; margin: 1px 10px 0 0; height: 38px; } .td-pb-span12 .perf-img { flex: 0 0 9.5%; } .perf-box { flex: 1; max-width: 100%; overflow: hidden; } .perf-num { flex: 0 0 20%; font-size: 16px; text-align: right; font-weight:normal; line-height: 25px; } .td-pb-span12 .perf-num { flex: 0 0 23%; } .perf-img img { max-width: 100%; border-radius: 0; max-height: 100% } .perf-meter { position: relative; font-size: 14px; font-weight: 400; height:20px; display: flex; align-items: center; } span.pref_meterbar { position: absolute !important; background: #ccc; height: 22px; width: 100%; left: 0; z-index: -1; border-radius: 2px; } .perf-meter span { margin: 9px 0 0; position: relative; width: 100%; padding: 0 6px; white-space: nowrap; text-overflow: ellipsis; overflow: hidden; color:#000000; } .perf-meter.thisphone span:first-child { font-weight: 600; } .thisphone .pref_meterbar { background: #FF9352; } .thisphone .perf-meter { color: #fff; } .perf-val { font-size: 12px; color: #7c7c7c; margin: 2px 0 10px; display: flex; align-items: center; font-weight:normal; } .perf_desc { text-align: center; font-size: 14px; margin-bottom: 30px; margin-bottom: 10px; } .greytxt { font-size: 14px; color: #777; line-height: 18px; display: block; } .perf_test_wrap .sprite-icn { background: url(https://www.91-cdn.com/images/hub/sort-code-widget-sprite.svg); background-repeat: no-repeat; } .sprite-icn.battery { background-position: 0px -16px; width: 19px; height: 15px; display: inline-block; } .sprite-icn.processor { background-position: 1px 1px; width: 19px; height: 17px; display: inline-block; } .sprite-icn.cam { background-position: 0 -31px; width: 19px; height: 11px; display: inline-block; } .perf-num.thisphone { font-weight: bold; } .td-container perf-img { flex: 0 0 8%; } .sortcode-container { width: 100%; overflow: auto; } .sortcode-table { width: 100%; background: #fff; text-align: left; border: solid 1px #e4e0e0; border-bottom: none; border-radius: 8px; border-collapse: unset; overflow: hidden; border-collapse: separate; } .sortcode-table th, .sortcode-table td { border: none; padding: 8px 12px; line-height: 20px; border-bottom: solid 1px #d4d4d4; border-right: solid 1px #d4d4d4; min-width:120px; font-size:16px; } .sortcode-table thead { background-color: #FFECDE; font-weight: bold; height:48px; } .sortcode-table th { text-align: center; font-size: 16px; line-height: 20px; } @media only screen and (min-width : 1025px) { .perf_test { padding-top: 0px; overflow: hidden; } .perf-img { flex: 0 0 10%; margin: -2px 7px 0 0; height: 50px; width: 46px; } .perf-img img { max-height: 100%; max-width: 100%; } .perf-num { flex: 0 0 9%; margin: -2px 0 0 16px; line-height: 25px; } .perf-val { font-size: 14px; margin-top: 7px; } .perf_test_wrap:before { left: 70px; } .td-pb-span12 .perf_test_wrap:before { left: 70px; } span.pref_meterbar{ height: 28px; } .pref-row { margin:13px 50px 0 0; } .perf_test_wrap:before { background-image: repeating-linear-gradient(to right, #ededed87 0%, #f6f6f6 1px, transparent 1px, transparent 9%); margin: 3px 60px 0 0; } .perf_desc { margin-top: 22px; } .perf-meter { font-size: 16px; } .greytxt { font-size: 16px; line-height: 22px; } .td-pb-span12 .perf-img { flex: 0 0 6.3%; margin: -2px 5px 0 0; } .td-pb-span12 .perf-num { flex: 0 0 16%; line-height: 28px; } .sortcode-table th, .sortcode-table td { padding: 12px 12px; } }

Motorola Signature menandai ambisi besar kembalinya sang pionir telekomunikasi ke panggung utama ponsel flagship konvensional (slab). Dengan banderol harga mulai dari 59.999 rupee di pasar India (atau sekitar Rp 11 jutaan), perangkat ini tampil agresif untuk menantang dominasi pemain lama, terutama mengingat spesifikasi yang ditawarkan tergolong sangat komprehensif.

Motorola tidak main-main dalam mempersenjatai Signature. Di balik desainnya yang elegan, tertanam “otak” terbaru Snapdragon 8 Gen 5, layar LTPO AMOLED yang memanjakan mata, konfigurasi kamera 50MP dengan kemampuan perekaman 8K, serta jaminan dukungan software jangka panjang. Di atas kertas, Motorola Signature nyaris tanpa celah.

Namun, spesifikasi tinggi bukanlah segalanya. Ujian sesungguhnya adalah bagaimana semua komponen tersebut berharmoni dalam penggunaan sehari-hari. Apakah performanya konsisten? Bagaimana daya tahan baterainya di bawah tekanan aktivitas yang intens?

Setelah menguji ponsel ini sebagai perangkat utama selama sepekan, berikut adalah ulasan lengkap Motorola Signature dari kami.

Kesimpulan Awal

Motorola Signature tampil unggul dengan performa tinggi dan dukungan software terdepan di kelasnya. Desainnya yang unik menjadi nilai plus bagi mereka yang ingin tampil beda. Namun, daya tahan baterai yang biasa-biasa saja, manajemen panas yang kurang optimal, serta karakter kamera yang terlalu konservatif menjadi catatan penting. Meski sangat kompetitif dari segi harga, kekurangan tersebut membuat perangkat ini harus bersaing ketat dengan alternatif lain yang lebih seimbang di sektor daya dan fotografi.

Desain Motorola Signature: Ramping, Ringan, dan Tahan Lama

Motorola Signature tampil memukau lewat bodi super ramping (7 mm) dan bobot ringan (186 gram), sangat ergonomis untuk layar 6,8 inci. Varian Martin Olive tampil unik dengan finishing kain yang nyaman, meski pilihan warna ini terasa terlalu kalem bagi sebagian orang.

Kami juga tidak pernah kesulitan menyelipkannya ke dalam atau mengeluarkan dari saku, yang semakin menambah daya tarik praktisnya.

Kami menerima Motorola Signature dalam opsi warna Pantone Martin Olive, dan pendapat tentangnya beragam. Sementara beberapa anggota tim kami menghargai pesona unik dan sederhananya, yang lain merasa warna tersebut sedikit terlalu kalem untuk sebuah flagship device. Kami termasuk dalam kategori yang terakhir dan merasa Pantone Carbon akan lebih sesuai dengan selera kami. Varian tersebut terlihat jauh lebih berkelas, setidaknya dalam gambar render.

Bagian punggung Motorola Signature dilapisi dengan material kain yang memberikan tekstur premium dan nyaman digenggam. Selama pengujian, permukaannya cukup bersih dari noda, namun daya tahannya terhadap keausan jangka panjang masih perlu dibuktikan.

Motorola Signature memancarkan nuansa premium yang kental berkat penggunaan frame aluminium dengan finishing warna senada serta lekukan sudut yang ergonomis. Kombinasi ini memberikan impresi genggaman yang solid sekaligus mewah.

Sayangnya, Motorola memilih desain modul kamera berbentuk persegi yang terkesan “main aman”. Pendekatan ini terasa kurang eksklusif karena sangat mirip dengan lini mid-range mereka, misalnya Edge 70. Bagi sebuah ponsel flagship, absennya bahasa desain yang “distinctive” tentu menjadi catatan tersendiri karena membuatnya sulit dibedakan dari seri di bawahnya.

Namun, di balik estetika yang minimalis tersebut, Motorola Signature adalah sebuah ponsel yang sangat tangguh. Ponsel ini tidak hanya mengantongi sertifikasi IP68 dan IP69 yang menjamin ketahanan terhadap debu serta rendaman air, tetapi juga telah lolos standar ketahanan militer MIL-STD-810H. Untuk perlindungan layar, Motorola menyematkan Corning Gorilla Glass Victus 2 yang diklaim mampu meredam dampak benturan maupun jatuh ringan. Secara keseluruhan, ponsel ini menawarkan durabilitas tingkat tinggi dalam balutan bodi yang tetap terlihat elegan.

Layar mantap, tapi audio kurang oke

Motorola Signature mengusung layar LTPO AMOLED 6,8 inci beresolusi Super HD, peak brightness hingga 6.200 nits, dukungan Dolby Vision, serta refresh rate dinamis 1Hz-165Hz. Namun, refresh rate tertinggi tersebut dibatasi hanya untuk game tertentu saja, sementara UI dan mayoritas aplikasi lain tertahan di 120Hz pada penggunaan harian. Ini bukan masalah besar, mengingat banyak produsen lain juga menerapkan kebijakan serupa demi efisiensi. 

Secara praktis, perbedaan antara 120Hz dan 165Hz tidak akan terlihat jelas bagi semua orang, dan refresh rate yang lebih tinggi pasti menyebabkan peningkatan konsumsi daya. Bagi kami, ini bukan masalah besar.

Catatan: Kami tidak dapat menemukan game yang saat ini mendukung refresh rate 165 Hz di Motorola Signature. Kami telah menghubungi Motorola untuk daftar judul yang kompatibel dan akan mengujinya setelah tersedia, memperbarui review ini sesuai kebutuhan.

Layar ini hadir dengan punch-hole kecil dan bezel tipis yang menjamin pengalaman visual imersif. Tingkat kecerahannya mumpuni di bawah sinar matahari, meski sempat tersamarkan oleh wallpaper dan tema bawaan Motorola yang senada dengan warna bodi, sehingga layar terkesan lebih kusam dari aslinya. Hal ini tetap terasa meski profil warna sudah diatur ke mode Vivid secara default.

Profil warna standarnya cenderung oversaturated, menghasilkan visual yang hidup. Pengguna bisa beralih ke Natural untuk tone realistis atau Radiant demi vibransi tambahan. Di berbagai konten, layar tetap tajam dan jernih. Dari film hingga game berat, Motorola Signature mampu menangani dynamic range dengan sangat baik, lengkap dengan kontras kaya dan hitam yang pekat.

Sektor audio dibekali setup dual-speaker bersertifikasi Bose dengan grille top-firing khusus, bukan sekadar memanfaatkan earpiece. Teoretisnya, ini menghasilkan suara imersif, namun realitanya audio terasa kurang bertenaga bahkan saat Dolby Atmos aktif. Dibandingkan OnePlus 15 yang lebih lantang dan jernih dengan low-end dominan, suara Signature cenderung melengking dengan frequency separation yang kurang rapi.

Meski audionya mengecewakan, in-display fingerprint scanner ponsel ini patut diacungi jempol. Posisinya sangat ergonomis, tepat di tempat ibu jari bersandar secara alami. Sensornya bekerja dengan sangat cepat, konsisten, serta akurat dalam membuka kunci perangkat.

Dukungan software yang clean serta cocok untuk jangka panjang 

Motorola Signature hadir dengan Android 16 langsung dari kotak. Meski pengalaman penggunanya mendekati stock Android, Motorola menyisipkan skin Hello UI yang apik di atasnya. Kami sebelumnya telah menjajal antarmuka baru ini pada Edge 60 Pro melalui pembaruan OTA tahun lalu.

Pada Signature, sensasinya tetap konsisten dengan pendekatan minimalis dan ekosistem aplikasi Google yang dominan. Menariknya, ponsel ini memiliki jumlah aplikasi bawaan (bloatware) terendah di kelasnya—hanya 38 aplikasi—sehingga antarmuka terasa sangat bersih dan ringan.

Animasi kini terasa lebih matang dan kaya akan opsi kustomisasi. Tersedia juga AI Key khusus di sisi kiri yang bisa diatur untuk mencatat cepat atau memicu fitur Update Me guna meringkas notifikasi.

Tekanan lama (press and hold) pada tombol ini akan mengaktifkan rangkaian fitur Moto AI, mulai dari ringkasan teks, image generation, transkripsi catatan, hingga pengarsipan momen. Pengguna bisa menonaktifkan pintasan ini, namun itu hanya akan membuat tombol tersebut tidak berfungsi. Akan lebih praktis jika Motorola memberi kendali lebih luas, seperti untuk pemindai QR, profil audio, atau shortcut sistem lainnya. Semoga hal ini diperbaiki pada pembaruan mendatang, bersama implementasi Material 3 Expressive, gaya jam dinamis, dan kustomisasi lock screen yang lebih mendalam.

Motorola menjanjikan dukungan hingga 7 tahun untuk pembaruan OS dan keamanan pada Signature. Komitmen ini menempatkannya setara dengan flagship besutan Google dan Samsung, sekaligus memastikan perangkat ini tetap relevan dan aman hingga tahun 2033 mendatang.

Integrasi AI, kolaborasi berbagai asisten

Terkait fitur Moto AI, fungsinya serupa dengan apa yang kami temukan pada Edge 70. Pengguna kini memiliki opsi lebih luas melalui Perplexity, mesin pencari berbasis AI yang terintegrasi langsung di sistem. Motorola juga menggandeng Microsoft untuk menghadirkan aplikasi Copilot, memungkinkan pengguna berinteraksi dengan lingkungan sekitar via kamera serta berbincang dengan asisten AI. Kehadiran keduanya melengkapi Google Gemini sebagai bagian dari upaya Motorola mempermudah akses teknologi kecerdasan buatan bagi pengguna.

Anehnya, baik Copilot maupun Perplexity justru sudah terinstal di profil pengguna sekunder yang kami buat saat pengujian. Kedua aplikasi ini tidak muncul di app drawer profil utama, sebuah inkonsistensi sistem yang terasa janggal. Anda mendapatkan versi gratis dari seluruh alat AI ini dan bisa menetapkan salah satunya sebagai asisten digital default. Meski menyadari potensi manfaat besar yang ditawarkan deretan tools canggih ini, dalam penggunaan sehari-hari kami pribadi tidak terlalu sering memanfaatkannya.

Performa Motorola Signature: Mengesankan, tapi Mungkin Mengalami throttle

Di sektor dapur pacu, Motorola Signature ditenagai oleh SoC Snapdragon 8 Gen 5 dari Qualcomm, chipset yang sama dengan yang memulai debutnya pada OnePlus 15R bulan lalu.

Meskipun posisinya setingkat di bawah Snapdragon 8 Elite Gen 5, saya sama sekali tidak memiliki keluhan selama penggunaan sehari-hari. Faktanya, penggunaan chip ini menjadikan Motorola Signature sebagai smartphone tercepat dan paling bertenaga di kelas harga Rp 11 jutaan, setidaknya untuk saat ini.

Skor AnTuTu
Motorola Signature
Qualcomm Snapdragon 8 Gen 5
3,098,258
AnTuTu menilai CPU, GPU, memori, dan pengalaman pengguna ponsel pintar secara keseluruhan (lebih tinggi lebih baik)

Unit yang kami uji merupakan varian tertinggi yang dibekali RAM 16GB LPDDR5x dan penyimpanan 1TB UFS 4.1. Spesifikasi tinggi ini tampaknya berkontribusi pada raihan skor benchmarking global, seperti AnTuTu dan Geekbench, yang sedikit lebih tinggi dibandingkan OnePlus 15R yang mentok di RAM 12GB dan storage 512GB. Perpaduan kapasitas memori yang luas dan kecepatan transfer data terbaru ini memastikan manajemen multitasking terasa sangat enteng tanpa hambatan.

Skor Geekbench Single-Core
Motorola Signature
Qualcomm Snapdragon 8 Gen 5
2,889
Geekbench menilai efisiensi inti tunggal (single core) dan banyak inti (multi core) pada CPU (lebih tinggi lebih baik)
Skor Geekbench Multi-Core
Motorola Signature
Qualcomm Snapdragon 8 Gen 5
9,583
Geekbench menilai efisiensi inti tunggal (single core) dan banyak inti (multi core) pada CPU (lebih tinggi lebih baik)

Secara realistis, Anda kemungkinan tidak akan merasakan perbedaan performa yang signifikan antara kedua smartphone ini dalam penggunaan harian, mulai dari scrolling media sosial, streaming, hingga multitasking

Skor Burnout
Motorola Signature
39.1%
Burnout menilai throttling CPU dan performa berkelanjutan di bawah beban berat (lebih tinggi lebih baik)

Dalam pengujian, suhu smartphone Motorola melonjak sekitar 15,5 derajat Celsius. Pada uji CPU Burnout throttle, kinerja Motorola Signature merosot hingga ke angka 39,1 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa meski flagship Motorola ini andal menangani beban kerja berat, perangkat ini tampak kesulitan menjaga stabilitas performa maksimal dalam durasi penggunaan yang panjang.

Baterai Motorola Signature: Daya tahan di bawah ekspektasi flagship

Motorola Signature dibekali baterai 5.200 mAh dengan pengisian daya cepat fast wired charging 90 watt. Adaptor pengisi daya tersedia dalam paket penjualan dan hanya membutuhkan waktu kurang dari 40 menit untuk mengisi daya dari 20 hingga 100 persen. Ponsel ini juga mendukung kecepatan wireless charging 50 watt.

Namun, kapasitas baterainya terasa biasa saja—tidak hanya di atas kertas, tapi juga dalam penggunaan nyata—jika dibandingkan dengan lini flagship Android terbaru. Bahkan, beberapa ponsel sub-flagship kini sudah membawa baterai di atas 7.000 mAh, yang membuat daya tahan Motorola Signature terasa kurang kompetitif.

Signature hanya bertahan 12 jam 53 menit dalam uji baterai PCMark dan memberikan screen-on time sekitar 4 hingga 5 jam. Selama pengujian lab kami, baterainya berkurang 4 persen setelah streaming YouTube selama 30 menit dan merosot 12 persen setelah satu jam bermain game.

Ini adalah performa yang cukup untuk penggunaan sehari penuh, asalkan Anda tidak membebani perangkat terlalu berat. Kami berharap flagship ini bisa melampaui standar dasar tersebut. Sedikit daya tahan ekstra akan membuat Signature menjadi pendamping yang lebih andal untuk bernavigasi, mengabadikan momen, hingga scrolling tanpa henti saat di luar ruangan tanpa harus terus-menerus merasa cemas akan sisa baterai.

Kamera Motorola Signature: Mumpuni tapi Konservatif

Motorola Signature membawa konfigurasi triple-camera serbaguna, dipimpin oleh sensor utama 50MP Sony Lytia 828 dengan OIS, kamera ultrawide 50MP (112 derajat), dan lensa periskop telefoto 50MP Sony Lytia 600 dengan 3x optical zoom. Untuk video, kamera belakangnya mendukung perekaman hingga 8K 30fps dengan Dolby Vision. Sementara di bagian depan, tertanam sensor 50MP Sony Lytia 500 dengan autofocus untuk kebutuhan selfie dan video call.

Antarmuka kameranya kini lebih simpel, meski transisi antar-lensa masih memperlihatkan color shift yang kentara—di mana lensa ultrawide tampak lebih kusam dan telefoto cenderung lebih saturated. Saturasi memang menjadi “bumbu” utama Motorola; bahkan pada profil ‘Natural’, warna tetap terasa sangat hidup, yang mungkin disukai pegiat media sosial. Detail pada kamera utama dan telefoto tergolong baik, namun gambar sering kali mengalami overexposure di siang hari dengan noise reduction yang agresif, sehingga membatasi dynamic range.

Untuk portrait dan selfie, detailnya cukup, namun tuning warna cenderung terlalu hangat (warm) dan hasil processing yang lembut mengurangi akurasi skin tone. Di kondisi low-light, Signature memprioritaskan gambar yang bersih daripada realisme, menghasilkan visual yang apik namun minim tekstur. Secara keseluruhan, kamera ini menawarkan hasil yang aman, meski processing yang berat seolah menahan potensi asli hardware-nya.

Siang Hari

Before image
Motorola Signature
After image
OnePlus 15

Motorola Signature mengandalkan sensor utama Sony LYT-828 yang secara teori sangat superior. Namun dalam pengujian nyata, kamera ini cenderung menghasilkan foto dengan exposure yang agak berlebih (overexpose). Hal ini terkadang memicu munculnya efek sedikit berkabut (haze) yang membatasi cakupan dynamic range. Meskipun mampu menekan noise dengan sangat baik, processing Motorola terasa terlalu agresif dalam menghaluskan area bayangan, yang berisiko mengorbankan tekstur alami dan detail halus pada objek.

Ultrawide

Before image
Motorola Signature
After image
OnePlus 15

Lensa ultrawide pada ponsel ini menawarkan sudut pandang yang sangat luas, memungkinkan lebih banyak elemen masuk ke dalam satu bingkai. Sayangnya, eksekusinya terasa kurang maksimal dalam menjaga keaslian suasana. Hasil tangkapan layarnya cenderung lebih gelap dengan distorsi yang cukup terlihat di sepanjang tepi frame. Selain itu, retensi detail pada lensa ini belum bisa dikatakan memuaskan, terutama saat digunakan untuk mengabadikan pemandangan yang kompleks.

Portrait

Before image
Motorola Signature
After image
OnePlus 15

Lensa telefoto 50MP Sony LYT-600 pada Signature menjanjikan spesifikasi tinggi untuk kebutuhan portrait. Sayangnya, fitur edge detection dan efek bokeh yang dihasilkan terkadang terasa kurang organik. Hal serupa ditemukan pada kamera selfie; meski detail wajah tertangkap dengan baik, processing Motorola memberikan warm cast (semburat warna hangat) yang cukup mencolok pada kulit serta saturasi yang berlebihan pada pakaian. Dynamic range pada latar belakang juga terasa kurang seimbang di kondisi cahaya yang menantang.

Before image
Motorola Signature
After image
OnePlus 15

50MP Sony LYT-600 telephoto lens Motorola Signature sekali lagi superior dibandingkan dengan 50MP S5KJN5 sensor Samsung milik OnePlus 15. Namun, smartphone OnePlus berhasil mengungguli penawaran Motorola dengan edge detection yang lebih baik dan bokeh effect yang terlihat alami. OnePlus 15 juga menghasilkan detail yang superior serta skin tone dan warna yang akurat.

Dalam hal selfie, processing Signature Motorola memperkenalkan warm cast yang terlihat jelas pada kulit subjek dan melakukan oversaturasi warna sweater. Handset Motorola juga kurang dalam dynamic range, menyebabkan detail background yang berkurang dan exposure overall yang kurang seimbang.

Low light (mode malam)

Before image
Motorola Signature
After image
OnePlus 15

Saat beralih ke kondisi minim cahaya, Motorola Signature lebih memprioritaskan estetika visual daripada realisme. Foto yang dihasilkan memang terlihat sangat bersih dari grain, namun hal itu dicapai melalui proses penghalusan detail secara digital yang cukup masif. Meskipun tekstur aslinya menjadi berkurang dan hasil akhir tampak kurang realistis, foto mode malamnya tetap tergolong memanjakan mata dan sangat layak untuk dibagikan ke media sosial.

Kesimpulan Akhir

Motorola Signature memang bukan tanpa cela. Sektor kamera, meski dibekali hardware kelas atas, masih terhambat oleh processing yang terlalu konservatif sehingga membatasi detail dan dynamic range. Baterai 5.200mAh miliknya memang sanggup bertahan sehari penuh, namun akan kedodoran di bawah penggunaan berat. Begitu pula dengan audio racikan Bose dan Dolby Atmos yang terasa kurang bertenaga dari segi volume maupun kejernihan untuk ukuran flagship. Adanya thermal throttling saat dipacu maksimal juga menjadi catatan bagi para hardcore gamer.

Namun, di balik kekurangan tersebut, ponsel ini tetap menjadi perangkat yang mampu memenuhi kebutuhan esensial banyak pengguna dengan cara yang sulit ditandingi oleh kompetitor. Chipset Snapdragon 8 Gen 5 menjamin performa harian yang sangat responsif, dipermanis dengan Hello UI yang bersih, ringan, dan bebas bloatware. Dikombinasikan dengan desain yang sangat ramping, layar memukau, serta jaminan update software jangka panjang, Motorola berhasil meramu keseimbangan apik antara performa tinggi dan kepraktisan penggunaan.

Di Indonesia, Motorola Signature sudah diluncurkan pada April lalu dan bisa diperoleh seharga Rp 12.999.000 untuk varian memori tunggalnya dengan konfigurasi 12 GB/256 GB. 

Rating Editor: 8.4/10

Alasan untuk membeli

  • Desain ramping, ringan, dan premium meskipun memiliki display 6.8-inci yang besar.
  • LTPO AMOLED panel yang memukau dengan brightness dan contrast yang sangat baik.
  • Pengalaman Android yang bersih, mendekati stock, dengan minimal bloatware dan tujuh tahun support software.
  • Kinerja Snapdragon 8 Gen 5 yang powerful untuk penggunaan sehari-hari.

Alasan untuk tidak membeli

  • Battery life hanya rata-rata untuk sebuah flagship.
  • Audio output kurang kedalaman dan bass.
Motorola Signature Harga
Rp. 12.639.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review Motorola Signature: Jagonya Software di Kelas Flagship first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-motorola-signature-jagonya-software-di-kelas-flagship/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/02/Motorola-Signature-review05-e1770733617663-150x150.jpg150150
Review Samsung Galaxy S26 Ultra: HP Flagship All-rounder Terbaik https://www.91mobiles.com/id/hub/review-samsung-galaxy-s26-ultra-hp-flagship-all-rounder-terbaik/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-samsung-galaxy-s26-ultra-hp-flagship-all-rounder-terbaik/#respond Mon, 06 Apr 2026 02:31:53 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=20513 Lama ditunggu, ponsel flagship terbaru Samsung, Galaxy S26 Ultra, akhirnya resmi meluncur pada Februari 2026 atau lebih lama sekitar sebulan dibandingkan dengan Galaxy S generasi terdahulu yang biasanya hadir pada bulan Januari tiap tahun.Pembaruan yang diterapkan Samsung di model “Ultra” lini flagship besutannya kali ini bisa dibilang tak terlalu kasatmata karena lebih bersifat under the […]

The post Review Samsung Galaxy S26 Ultra: HP Flagship All-rounder Terbaik first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Lama ditunggu, ponsel flagship terbaru Samsung, Galaxy S26 Ultra, akhirnya resmi meluncur pada Februari 2026 atau lebih lama sekitar sebulan dibandingkan dengan Galaxy S generasi terdahulu yang biasanya hadir pada bulan Januari tiap tahun.

Pembaruan yang diterapkan Samsung di model “Ultra” lini flagship besutannya kali ini bisa dibilang tak terlalu kasatmata karena lebih bersifat under the hood. Namun, apabila diamati lebih dekat, sebenarnya ada banyak hal baru yang bukan hanya menarik saja, tetapi juga berguna untuk aktivitas sehari-hari.

Di Indonesia, Galaxy S26 Ultra dijual dalam tiga varian memori: 12 GB/ 256 GB (Rp 24,5 juta), 12 GB/ 512 GB (Rp 27,5 juta), dan 16 GB/ 1 TB: Rp 32 juta). Apakah Galaxy S26 Ultra bisa menjustifikasi banderol tinggi tersebut? Ikuti ulasan lengkapnya di bawah.

Kesimpulan awal

Peningkatan yang diterapkan oleh Samsung di Galaxy S26 Ultra sebagian besar memang bersifat “di balik layar”, secara kiasan maupun harfiah (benar-benar mengubah panel layar), sehingga ponsel ini terkesan tak banyak berubah. Padahal, terdapat sejumlah peningkatan signifikan yang sayang apabila terlewat. 

Desain Samsung Galaxy S26 Ultra: Lebih bulat tapi makin ramping

Apabila disandingkan bersebelahan, sebagian orang mungkin akan keliru mengira Galaxy S25 Ultra sebagai Galaxy S26 Ultra. Wajar saja, sebab penampilan flagship terbaru Samsung memang sangat mirip dengan pendahulunya walaupun tak persis sama.

Perbedaan kecil terletak di sudut-sudut perangkat yang kini lebih rounded. Galaxy S25 Ultra sebelumnya sudah membulatkan bagian tersebut untuk mengatasi persoalan ujung Galaxy S24 Ultra yang terlalu runcing. Galaxy S26 Ultra lebih jauh memperhalusnya sehingga menjadi lebih membulat lagi. Efeknya, perangkat ini terasa semakin nyaman saat digenggam dan tidak lagi membuat kantong celana jadi rawan bolong.

Susunan kamera belakang tetap sama seperti sebelumnya. Namun, lensa kamera utama, ultrawide, dan telephoto 5x kini memiliki penampang dasar alias camera island berbentuk kapsul. Ketiga lensa tersebut lebih menonjol ke luar bodi dibandingkan sebelumnya, sehingga membuat ponsel lebih miring saat ditempatkan di permukaan datar seperti meja.

Bodi Galaxy S26 Ultra menjadi lebih ramping dengan ketebalan 7,9 mm dan bobot 214 gram, sementara bahan frame berganti dari titanium menjadi aluminium. Untungnya, bagian layar tetap berlapis kaca pelindung Gorilla Armor 2 dengan coating anti-pantulan, sedangkan punggungnya dilindungi Gorilla Glass Victus 2.

Daya tahannya ikut ditunjang oleh ketahanan terhadap air dan debu dengan sertifikasi IP68 yang mulai terlihat agak tertinggal dibandingkan dengan model-model smartphone flagship dari para pabrikan China.

Seperti biasa, di sisi bawah dan atas terdapat grille speaker stereo, konektor USB-C, dan laci (nano) SIM card. Di salah satu pojokan bagian bawah ada kompartemen khusus untuk memuat perangkat pena stylus S Pen yang menjadi ciri khas lini Galaxy S dari Samsung.

Layar Samsung Galaxy S26 Ultra: Anti pengintip? Bisa diatur!

Panel display yang digunakan oleh Galaxy S26 Ultra sekilas tampak tak berubah dari sebelumnya, masih dengan Dynamic LTPO AMOLED 2X 6,9 inci (3.120 x 1.440 piksel, refresh rate 120 Hz, tingkat kecerahan maksimal 2.600 nits), berikut lapisan DX anti-pantulan yang membuat tampilannya senantiasa cemerlang di kondisi apa pun.

Namun, Samsung sebenarnya mengubah susunan piksel di layar Galaxy S26 Ultra secara khusus untuk menerapkan fitur baru bernama Privacy Display. Fungsinya adalah untuk membatasi field-of-view (FoV), alias lebar sudut pandang layar, menjadi lebih sempit apabila diaktifkan, supaya isi layar tak diintip orang lain.

Review Samsung Galaxy S26 Ultra: HP Flagship All-rounder Terbaik
Privacy Display Samsung Galaxy S26 Ultra bisa dihidupkan-dimatikan dengan mudah lewat Quick Settings, dapat pula diatur agar lebih gelap atau hanya membatasi pandangan pada elemen tertentu di layar.

Kegunaannya mirip dengan screen protector anti-spy yang banyak dijual di lokapasar online, tapi lebih canggih karena bisa dinyalakan dan dimatikan sesuka hati. Privacy Display juga dapat diatur agar hanya membatasi pandangan pada elemen tertentu pada layar, seperti notifikasi yang masuk. Bisa pula ketika mendeteksi situasi tertentu, seperti input password.

Saat Privacy Display diaktifkan, tampilan layar Galaxy S26 Ultra berubah menjadi gelap dan tidak jelas terlihat ketika dipandang dari sudut tertentu, tetapi tetap tampak seperti biasa dari sudut lurus. Orang lain yang melirik layar ponsel dari samping pun bakal kesulitan melihat isinya.

Sayangnya, pembatasan sudut pandang oleh Privacy Display ini masih agak lebar. Layar baru mulai terlihat gelap ketika dipandang dari sudut sekitar 45 derajat, lalu menjadi semakin gelap ketika melewati sudut sekitar 60 derajat. Artinya, orang lain yang berada di dekat pengguna dan memandang layar dari lebar sudut kurang dari itu – misalnya penumpang lain di belakang pengguna saat berdiri di kereta api- masih bisa mengetahui apa yang ditampilkan.

Review Samsung Galaxy S26 Ultra: HP Flagship All-rounder Terbaik
Perbandingan tampilan layar Samsung Galaxy S26 Ultra dalam kondisi normal (kiri), saat Privacy Display diaktifkan (tengah), dan ditambah opsi Maximum Privacy, dilihat dari sudut sekitar 60 derajat.

Samsung agaknya menyadari persoalan ini dan menambahkan opsi ekstra untuk mempersempit lebar sudut pandang lebih jauh, yaitu “Maximum Privacy” yang bisa diaktifkan dari menu Privacy Display di Settings. Tampilan layar menjadi lebih gelap saat dilihat dari samping, tapi display secara keseluruhan menjadi lebih gelap dan warna-warnanya terlihat washed out alias memudar.

Meskipun masih memiliki kekurangan, Privacy Display layak diapresiasi karena bisa mengurangi kekhawatiran pada saat ponsel menampilkan informasi sensitif, seperti ketika membuka aplikasi perbankan. Pada waktu-waktu macam demikian, agaknya persoalan keamanan jauh lebih penting ketimbang kualitas layar yang menjadi kurang cemerlang.

Kamera Samsung Galaxy S26 Ultra: Winning formula?

Ponsel seri Galaxy S dari Samsung adalah pelopor kamera serba bisa yang lengkap dan mampu mengabadikan berbagai jenis objek, dekat maupun jauh, dari pemandangan dan arsitektur hingga potret model dan permukaan bulan. Hal ini karena rangkaian kameranya yang komplit: ada kamera ultra wide, kamera utama, dan dua buah kamera telephoto dengan jangkauan optical zoom berbeda.

Sayangnya, kamera Galaxy S26 Ultra hanya sedikit berubah dari sebelumnya. Samsung memang memperlebar aperture lensa kamera utama (dari f/1.7 menjadi f/1.4) dan lensa kamera telephoto kedua (dari f/3.4 menjadi f/2.9) sehingga ponsel tersebut menjadi lebih mumpuni dalam situasi low-light atau malam hari.

Sensor yang digunakan masih sama seperti Galaxy S25 Ultra sebelumnya, yakni Isocell HP2 200 MP untuk kamera utama (f/1.4, 23 mm, OIS), Isocell JN3 50 MP untuk kamera ultra wide (f/1.9, 13 mm, AF), dan Sony IMX 854 50 MP (f/2.9, 115 mm, zoom 5x, OIS) untuk kamera telephoto. Kamera depannya juga tetap menggunakan Isocell 3LU 12 MP (f/2.2, 23 mm, AF). Kamera telephoto pertama justru menggunakan sensor dengan ukuran fisik yang lebih kecil, yakni Isocell 3LD 10 MP (f/2.4, 69 mm, 3x zoom, OIS).

Apakah Samsung menganggap konfigurasi kamera Galaxy S26 Ultra sebagai “winning formula”, sehingga tak perlu dirombak besar sejak Galaxy S24 Ultra keluaran dua tahun lalu? Meskipun tetap sangat mumpuni, rangkaian kamera seri ponsel yang memelopori tren “HP konser” ini mulai terlihat outdated dibandingkan dengan model-model flagship dari pabrikan China.

Dua kamera telephoto 3x dan 5x di Galaxy S26 Ultra, misalnya, terlihat redundan di kala ponsel China bisa menerapkan tingkat pembesaran serupa berkat in-sensor zoom lewat penggunaan sensor beresolusi setinggi 200 MP di kamera telephoto tunggal. Hasilnya juga lebih konsisten dibandingkan dengan dua kamera telephoto di Galaxy S26 Ultra yang kualitasnya berbeda karena memang berlainan sensor. Samsung agaknya perlu meningkatkan kamera di Galaxy S Ultra tahun depan untuk menghindari kesan tertinggal dari flagship lain.

Tentu saja, the proof is in the pudding. Hasil jepretan Galaxy S26 Ultra sendiri masih tergolong sangat bagus di berbagai situasi, termasuk indoor dan malam hari. Meskipun tanpa resep, warna hasil kolaborasi dengan pabrikan kamera terkenal, image processing Samsung selalu berhasil menghasilkan gambar-gambar yang sedap dipandang.

Aneka warna dan kontras tinggi di kondisi gelap berujung pada foto (HDR) dengan exposure seimbang, tanpa highlights terlalu terang atau shadows terlalu gelap, maupun kesan overprocessed. Kinerja cemerlang kamera Galaxy S26 Ultra di situasi low-light agaknya ikut terbantu oleh bukaan lebar semua kameranya yang kini berada di kisaran f/1.4 hingga f/2.9.

Video Galaxy S26 Ultra: Menarik untuk dicoba

Masih terkait kamera, Samsung menerapkan sejumlah fitur video baru di Galaxy S26 Ultra yang layak mendapat sorotan dan menarik untuk dicoba. Salah satunya adalah Horizontal Lock yang dihadirkan sebagai peningkatan dari fitur Super Steady sebelumnya.

Horizontal Lock menjaga rekaman video agar tetap lurus (level) dengan garis horizon meskipun ponsel diputar-putar hingga 360 derajat di sumbu vertikal. Fungsinya identik dengan horizon lock yang umum ditemukan di kamera aksi macam GoPro Hero, DJI Osmo Action, atau Insta360.

Review Samsung Galaxy S26 Ultra: HP Flagship All-rounder Terbaik
Opsi Horizontal Lock di mode video Samsung Galaxy S26 Ultra.

Seperti Super Steady, Horizontal Lock mengandalkan tangkapan gambar dari kamera ultrawide Galaxy S26 Ultra dan karenanya hanya bisa digunakan pada kamera tersebut. Stabilisasi elektronik Sper Steady juga diterapkan untuk menjaga agar video bebas goyangan.

Meskipun tidak benar-benar baru karena fitur serupa sudah lebih dulu diterapkan di ponsel lain seperti seri Edge dari Motorola, Horizontal Lock tetap menarik untuk digunakan karena membuka peluang baru dalam berkreasi. Contoh hasil rekamannya bisa dilihat dalam posting Reels oleh 91mobiles Indonesia di bawah.

Fitur video lainnya adalah pengembangan dari kemampuan merekam video dengan profil gamma Log yang kontras dan saturasinya sangat rendah untuk memudahkan proses color grading saat post-production. Galaxy S26 Ultra kini menyediakan lima buah preset Look Up Table (LUT) yang diterapkan di mode Pro Video.

Begitu LUT diterapkan, tampilan antarmuka kamera akan langsung berubah mengikuti preset warna dari LUT yang bersangkutan. Meskipun demikian, hal ini hanya bersifat sebagai preview agar pengguna bisa melihat seperti apa hasilnya jika LUT tertentu diterapkan pada video Log. Hasil rekamannya sendiri akan tetap flat seperti biasa karena itulah poin utama video Log, yaitu untuk memperoleh video “mentah” untuk dimatangkan dalam editing.

Review Samsung Galaxy S26 Ultra: HP Flagship All-rounder Terbaik
Perbandingan mode Pro Video Samsung Galaxy S26 Ultra saat merekam video dengan profil gamma tanpa LUT (kiri) dan dengan dua preset LUT berbeda sebagai preview.

Kelima LUT yang sama bisa diterapkan saat menyunting video Log di fungsi editing bawaan di aplikasi galeri Galaxy S26 Ultra. 91mobiles Indonesia tidak menemukan opsi untuk mengimpor LUT tambahan seperti di HP lain yang juga mampu merekam video Log. Mungkin kami luput. Namun, kalau memang tidak ada, alangkah baiknya Samsung menambah kemampuan tersebut lewat update software.

Kemampuan baru lain yang juga menarik -meski juga tak benar-benar baru karena sudah pernah diterapkan ponsel lain sebelumnya- adalah Portrait Video yang bisa memberi efek depth-of-field (bokeh) pada latar belakang ketika merekam video. Hasilnya seperti foto portrait, tapi diterapkan pada gambar bergerak.

Review Samsung Galaxy S26 Ultra: HP Flagship All-rounder Terbaik
Mode Portrait Video membuahkan hasil yang terkesan sinematik dengan efek depth-of-field.


Portrait Video bisa digunakan baik dengan kamera depan maupun belakang. Terdapat limitasi frame rate maksimal 30 fps untuk resolusi FHD maupun UHD (4K), tapi fitur ini tetap membuka peluang baru untuk kreasi konten yang lebih sinematik.

AI Samsung Galaxy S26 Ultra: Makin canggih dan lengkap

Bukan Samsung namanya kalau tak menghadirkan inovasi anyar dalam hal kecerdasan buatan alias AI. Sebagai pionir yang telah memopulerkan artificial intelligence di smartphone flagship sejak Galaxy S24 Ultra, Samsung kembali membawa sejumlah kemampuan baru yang mumpuni untuk rangkaian fitur yang tergabung di bawah bendera Galaxy AI.

Kemampuan AI generatif di fitur Enhanced AI Photo Assist dalam aplikasi Gallery kini lebih canggih dan pintar dalam mendeteksi konteks gambar. Yang lebih penting, setelah mengubah gambar dengan prompt teks, pengguna bisa menerapkan editing lanjutan lewat opsi “Keep Editing” hingga berkali-kali.

Misalnya, 91mobiles Indonesia dapat meminta Galaxy S26 Ultra untuk mengembalikan wujud steak yang sudah terlanjur dipotong menjadi utuh kembali. Setelahnya, kami melakukan editing lebih lanjut dengan memasukkan prompt kedua untuk membersihkan tampilan piring agar kinclong.

Selesai? Belum, karena kami ingin mengubah potongan-potongan kentang french fries menjadi mashed potatoes lewat input prompt ketiga. Setelah puas editing dengan AI, barulah gambar disimpan. Hasilnya tampak halus dan sangat meyakinkan. Enhanced AI Photo Assist juga bisa diminta untuk melakukan berbagai hal lain lewat prompt dengan akurat, seperti mengganti warna langit.

Satu fitur AI lainnya yang juga menarik adalah Call Screening untuk menyaring panggilan masuk (voice call) dengan chatbot AI yang mampu bercakap-cakap dengan suara. Saat ada penelepon, pengguna bisa memilih untuk menjawabnya dengan opsi “Call Screening”.

Review Samsung Galaxy S26 Ultra: HP Flagship All-rounder Terbaik
Call Screening di Samsung Galaxy S26 Ultra bisa otomatis mengangkat voice call dan mengobrol dengan penelepon.

Chatbot AI -atau yang disebut Samsung sebagai Call Assitant- kemudian akan mengangkat telepon dan mulai berbicara dengan penelepon untuk menanyakan identitas dan keperluannya. Jika dinilai bukan spam, phising, atau sejenisnya, panggilan bisa diteruskan ke pengguna.

Percakapan suara dengan AI ini diubah menjadi teks yang kemudian ditampilkan di layar sehingga bisa dibaca oleh pengguna. Apabila diinginkan, pengguna bisa mengambil alih telepon dari AI kapan saja. Rekaman teks dari percakapan yang terjadi juga bisa dilihat di call log.

Bagaimana dengan S Pen? Meskipun tak mendapat sorotan, seperti telah disebutkan sebelumnya, perangkat stylus ini setia mendampingi Galaxy S26 Ultra. Konektivitas Bluetooth masih belum dikembalikan sejak dihapus pada S Pen untuk Galaxy S25 Ultra.

Desainnya masih mirip, dengan sedikit pengecualian di bagian tombol clicker di bagian belakang yang kini agak melengkung, mungkin untuk mengikuti sudut ponsel yang lebih membulat. Karena itu, pastikan S Pen menghadap ke orientasi yang benar saat dimasukkan ke kompartemen. Jika keliru, stylus tetap bisa masuk, tapi bagian belakangnya akan menonjol ke luar.

Bodi ramping Galaxy S26 Ultra yang merupakan ponsel Ultra tertipis dari Samsung ikut membuat S Pen menjadi lebih kurus, tapi masih bisa digunakan untuk menulis dan menggambar dengan relatif nyaman di layar perangkat seperti biasa.

Aplikasi Samsung Notes yang bisa dipakai bersama S Pen menyediakan fitur AI Sketch to Image untuk mengubah coretan gambar menjadi lebih bagus dan berwarna, serta Math Solver untuk melakukan kalkulasi otomatis pada persoalan matematika yang ditulis tangan di layar.

Kinerja Samsung Galaxy S6 Ultra: Tenaga besar di balik layar

Sekian banyak fitur yang dihadirkan oleh Galaxy S26 Ultra bisa dijalankan dengan lancar tanpa hambatan sedikit pun berkat tenaga besarnya di balik layar. Berbeda dengan dua adiknya yang beralih ke Exynos 2600, perangkat ini menggunakan chip teratas Qualcomm, yaitu Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy yang dipadukan dengan RAM hingga 16 GB dan storage mencapai 1 TB.

Hasilnya bisa terlihat dari skor benchmark AnTuTu yang menembus kisaran 3,7 juta poin. Beberapa pengujian lain yang dilakukan oleh 91mobiles Indonesia turut memberikan skor sangat tinggi dan relatif konsisten.

Aneka game pun bisa dimainkan dengan lancar tanpa hambatan, baik yang tergolong ringan seperti Mobile Legends maupun yang kelas berat macam Genshin Impact. Bentuk sudut ponsel yang lebih membulat membuatnya terasa lebih nyaman dalam genggaman, tapi modul kamera sedikit mengganggu pegangan.

Memang terdapat sedikit throttling saat diuji menggunakan stress test 3D Mark, tapi penurunannya tak terlalu kentara dan peningkatan suhunya masih bisa ditoleransi. Ketika melakukan pengetesan kinerja, 91mobiles Indonesia tidak memasang casing di bodi Galaxy S26 Ultra.

Seperti biasa, Samsung memberikan jaminan update versi Android dan patch sekuriti hingga 7 tahun untuk Galaxy S26 Ultra yang datang dengan sistem operasi One UI 8.5 berbasis Android 16.

Review Samsung Galaxy S26 Ultra: HP Flagship All-rounder Terbaik
Samsung Galaxy S26 Ultra dapat menjalankan aneka game dengan lancar dan cukup nyaman dalam genggaman, meskipun modul kameranya terasa agak mengganjal.

Satu hal yang agak disayangkan adalah kapasitas baterai Galaxy S26 Ultra tak berubah semenjak dua generasi terdahulu, tetap bertahan di angka 5.000 mAh sementara flagship lain sudah menerapkan baterai lebih besar. Namun, setidaknya Samsung meningkatkan kecepatan fast charging menjadi 60 watt.

Kesimpulan

Dengan rangkaian inovasi dan fitur terkini yang selalu dibawanya, smartphone seri Galaxy S Ultra boleh dibilang adalah “benchmark” untuk ponsel-ponsel flagship Android. Perangkat teratas dari Samsung ini biasanya susah untuk dipepet oleh merek lain. Galaxy S26 Ultra meneruskan tradisi tersebut dengan menjadi ujung tombak baru.

Pada 2026, lanskap smartphone flagship di Indonesia sudah berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun lalu lewat kehadiran produk-produk papan atas lainnya yang berkemampuan meyakinkan.

Dibandingkan dengan mereka, Galaxy S26 Ultra mungkin sekilas mengecewakan karena terkesan hanya menyajikan pembaruan yang minim dari segi hardware di luar penggunaan chip Snapdragon termutakhir. Rangkaian kameranya relatif hanya berubah sedikit; kapasitas baterai masih sama, begitu pula dengan sertifikasi IP68. Di atas kertas, ponsel ini seolah tertinggal dari pesaing.

Pandangan tersebut bisa dimaklumi karena Samsung cenderung menerapkan peningkatan di balik layar pada Galaxy S26 Ultra sehingga tak terlalu tampak. Calon konsumen perlu mencermati perangkat ini dari dekat supaya kelebihannya bisa terlihat.

Fitur seperti Privacy Display atau Horizontal Lock yang banyak digaungkan di media sosial boleh jadi sudah banyak diketahui. Tapi ada juga yang menarik lainnya, seperti Galaxy AI yang makin canggih dan lengkap, serta kemampuan video baru.

Satu aspek yang menjadi ciri khas sekaligus pembeda Galaxy S26 Ultra dari flagship lain adalah kehadiran pena stylus S Pen. Kehadirannya saja mungkin sudah cukup untuk menjadi alasan meminang Galaxy S26 Ultra bagi mereka yang memang membutuhkan stylus, seperti profesional kreatif.

Galaxy S26 Ultra pun sanggup meladeni keinginan pengguna dengan berbagai macam background lain, entah eksekutif, kreator konten, pengguna kasual, gamer kelas berat, hingga penggemar konser musik. Memang di situlah kelebihannya: smartphone ini merupakan all-rounder terbaik yang memberikan something for everyone.

Karena itu, dilihat secara keseluruhan, paket (semakin) lengkap pada Galaxy S26 Ultra sebenarnya masih sulit ditandingi oleh flagship lain dan bisa menjustifikasi banderol harganya yang naik dibanding produk terdahulu, setidaknya untuk sekarang. Tahun depan, mungkin Samsung perlu merombak hardware dengan lebih signifikan sambil mempertahankan keunggulan software.

Rating editor: 8.5/10

Kelebihan:
+ Privacy display adalah inovasi yang berguna
+ Fitur-fitur video baru menarik untuk dicoba
+ AI lebih canggih dan lengkap di banyak aspek
+ Bodi lebih ramping dari sebelumnya
+ S Pen tetap menjadi keunikan tersendiri

Kekurangan:
– Kamera hanya sedikit berubah, meski tetap mumpuni
– Kemampuan baterai tertinggal dari pesaing
– Rating ketahanan IP68 kurang relevan pada 2026

Samsung Galaxy S26 Ultra Harga
Rp. 19.418.000
Pergi Ke Toko
Rp. 19.434.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review Samsung Galaxy S26 Ultra: HP Flagship All-rounder Terbaik first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-samsung-galaxy-s26-ultra-hp-flagship-all-rounder-terbaik/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/04/samsung_galaxy_s26_ultra_review_device-1-150x150.jpg150150
Review Oppo Reno 15 Pro Max: HP Berkamera Menarik https://www.91mobiles.com/id/hub/review-oppo-reno-15-pro-max-hp-berkamera-menarik/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-oppo-reno-15-pro-max-hp-berkamera-menarik/#respond Sat, 14 Mar 2026 04:42:27 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=21314 Perangkat seri Reno dari Oppo selama ini dikenal sebagai jajaran smartphone kelas menengah yang mengedepankan aspek desain menarik sekaligus kamera mumpuni. Reno 15 Series yang diluncurkan di Indonesia pada Januari 2026 melanjutkan tradisi itu.Model teratas dari lini tersebut adalah Reno 15 Pro Max yang diposisikan lebih tinggi dibandingkan dengan model “Pro” di generasi terdahulu. Selain […]

The post Review Oppo Reno 15 Pro Max: HP Berkamera Menarik first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Perangkat seri Reno dari Oppo selama ini dikenal sebagai jajaran smartphone kelas menengah yang mengedepankan aspek desain menarik sekaligus kamera mumpuni. Reno 15 Series yang diluncurkan di Indonesia pada Januari 2026 melanjutkan tradisi itu.

Model teratas dari lini tersebut adalah Reno 15 Pro Max yang diposisikan lebih tinggi dibandingkan dengan model “Pro” di generasi terdahulu. Selain desain baru yang tampil lebih menarik dibandingkan sebelumnya, Reno 15 Pro Max kini juga dibekali kemampuan fotografi yang lebih mumpuni.

Kesimpulan awal

Melalui Reno 15 Pro Max, Oppo menghadirkan ponsel premium dengan rangkaian kamera belakang mumpuni dan kamera depan bersudut pandang lebar. Hasil fotonya cemerlang, ditunjang dengan perekaman video beresolusi tinggi. Kinerjanya juga bisa diandalkan, dengan sedikit catatan soal konsistensi.  

Desain Oppo Reno 15 Pro Max: Lebih sederhana, tapi mewah

Oppo untuk pertama kalinya memboyong model “Pro Max” dari lini ponsel Reno ke Indonesia. Meskipun perdana, hal tersebut sebenarnya tidak mengherankan karena Oppo sendiri baru memperkenalkan varian Pro Max tahun ini.

Jajaran Reno 15 Series sendiri berubah dibandingkan sebelumnya, dengan total anggota sebanyak 4 model, yakni Reno 15F, Reno 15, Reno 15 Pro, dan Reno 15 Pro Max. Reno 15 Pro Max dengan panel AMOLED 6,78 inci (2.772 x 1.272 piksel, 120 Hz, 1.800 nits) mungkin lebih tepat dipandang sebagai penerus Reno 14 Pro (6,83 inci) dari segi ukuran layarnya.

Reno 15 Pro yang diposisikan di bawah model Pro Max memiliki ukuran layar jauh lebih kecil dengan diagonal hanya 6,32 inci, sehingga akan terlihat agak aneh apabila dirilis di Indonesia sebagai pendamping Oppo Reno 15 yang layarnya berukuran lebih besar di angka 6,59 inci.

Unboxing Oppo Reno 15 Pro Max, Rp 13 Juta Dapat Apa Saja?
Aksesori pelengkap dalam kotak kemasan Oppo Reno 15 Pro Max.

Terlepas dari urusan layar dan penamaan, Reno 15 Pro Max sendiri tetap mempertahankan aspek ketahanan tinggi terhadap air dan debu dengan sertifikasi IP68/IP69. Perubahan lain yang menarik adalah digunakannya Gorilla Glass Victus 2 untuk melindungi bagian depan.

Oppo sedikit mengubah desain Reno 15 Pro Max dibandingkan dengan generasi sebelumnya, terutama pada modul kamera yang kini memisahkan LED flash dari kamera ketiga (ultrawide). Dua kamera lainnya disusun secara sejajar di tepi kiri modul yang berbentuk persegi dengan sudut-sudut membulat.

Unboxing Oppo Reno 15 Pro Max, Rp 13 Juta Dapat Apa Saja?
Close up modul kamera Reno 15 Pro Max.

Dua model lainnya dari lini Reno 15 Series mengadopsi desain yang serupa. Bedanya, model Pro Max tampil lebih sederhana karena tidak memiliki pola Aurora Design di bagian punggung, tetapi tetap menarik dengan dua warna Dusk Brown dan Aura Gold.

Kesan yang ditimbulkan adalah understated, tapi mewah. Pendekatan tersebut berbeda dibandingan Reno 14 Pro keluaran tahun lalu yang ikut menerapkan pola desain -ketika itu bernama Iridescent Mermaid- seperti di model non-Pro dan F.

Kamera Oppo Reno 15 Pro Max: Kualitas tinggi, selfie lebar

Bukan Reno series dari Oppo namanya kalau tidak mengetengahkan kamera mumpuni dan inovasi fotografi. Reno 15 pun tak mengecewakan dalam hal ini karena mengusung sejumlah pembaruan yang signifikan.

Kamera utamanya kini memiliki sensor besar berukuran 1/1,56 inci, dengan resolusi setinggi 200 MP (24 mm, f/1.8, OIS). Kamera ultrawide 50 MP (f/2.0, FoV 116 derajat, AF), dan kamera telephoto 50 MP (f/2.8, zoom optis 3,5x, OIS).

Rangkaian kamera tersebut sebenarnya sudah lengkap dan sanggup memenuhi beragam kebutuhan dan jenis objek yang ingin diabadikan, mulai dari pemandangan hingga artis di panggung konser musik.

Namun, Oppo masih memberikan tambahan menarik berupa kamera depan 50 MP dengan lensa bersudut pandang lebar (f/2.0, FoV 100 derajat), yang turut dilengkapi dengan kemampuan autofocus (AF).

Tangkapan gambar dari ketiga kamera belakang bisa dibilang sama bagusnya dan sulit dibedakan. Meskipun tanpa resep warna racikan Hasselblad seperti di kamera seri Find X dari Oppo, baik kamera utama, ultrawide, maupun telephoto di Reno 15 Pro Max mampu menghasilkan foto-foto berkualitas tinggi yang sedap dipandang.

Ketika berhadapan dengan situasi low-light pun, seperti di dalam ruangan atau malam hari, Reno 15 Pro Max tak mengalami masalah berarti. Penguncian fokus agak melambat untuk kamera telephoto dan ultrawide, tapi hasil gambar keduanya tetap bagus asal situasi tidak terlalu gelap. Kamera utama tentunya membuahkan jepretan terbaik dengan warna-warna yang tetap cerah.

Satu hal yang menarik adalah sudut pandang yang sangat lebar dari kamera depan. Perspektifnya mirip-mirip dengan kamera ultrawide di kebanyakan ponsel. Ditambah dengan kemampuan autofokus, front camera dari Reno 15 Pro Max sangat berguna ketika menjepret foto selfie yang memperlihatkan pemandangan luas di latar belakang, atau foto grup bersama teman.

Ingin foto di bawah air? Reno 15 Pro Max juga bisa memfasilitasinya dengan tambahan sebuah mode underwater khusus yang akan mematikan input touchscreen layar supaya tak terjadi salah sentuh. Tombol volume dan daya digunakan untuk mengambil gambar.

Untuk video, semua kamera Reno 15 Pro Max -termasuk kamera depan- bisa merekam hingga 4K/ 60 fps. Pengguna juga bisa menyalakan fitur electronic stabilization Ultra Steady dengan mempertahankan perekaman resolusi tinggi itu, kecuali untuk kamera depan yang akan beralih ke 1080p/30 fps apabila stabilisasi tambahan diaktifkan.

Secara keseluruhan, rangkaian kamera Reno 15 Pro Max lengkap dan mumpuni, bahkan bisa bersaing dengan sebagian ponsel kelas flagship yang beredar di pasaran. Smartphone ini sanggup memenuhi aneka kebutuhan memotret dalam berbagai situasi. Kekurangannya adalah tidak ada mode pro untuk video, hanya untuk foto saja.

Kinerja Oppo Reno 15 Pro Max: Kencang, tapi rawan turun

Ketika pertama kali diluncurkan pertengahan tahun lalu, Reno 14 Pro menjadi smartphone pertama di Indonesia yang ditenagai chipset MediaTek Dimensity 8450. Chip yang sama kembali digunakan di Reno 15 Pro Max, begitu pun dengan RAM LPDDR5X dan storage UFS 3.1 dalam konfigurasi tunggal 12 GB/512 GB.

Ponsel ini pun bisa dibilang masih mirip pendahulunya dalam aspek kinerja. Kesamaan tersebut bukan hal buruk karena Reno 15 Pro Max memiliki performa yang relatif tinggi untuk kelasnya, dengan skor AnTuTu menembus kisaran 2 juta poin. Performanya di benchmark tercermin ketika bermain game.

Review Oppo Reno 15 Pro Max: HP Berkamera Menarik
Tampilan layar yang memperlihatkan spesifikasi dan menu Oppo AI di dalam menu Settings Reno 15 Pro Max.

Judul-judul game kompetitif yang dijajal oleh 91mobiles Indonesia dapat dijalankan dengan lancar. Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) mampu mencapai setting frame rate “Ultra”, begitu pula dengan Delta Force yang bisa meraih 120 fps.

Genshin Impact, yang termasuk game kelas berat, bisa pula “mentok kanan” dengan setelan grafis “highest” dan target frame rate 60 fps. Counter frame rate bawaan Oppo menunjukkan tingkat fps benar-benar berada di 60 fps untuk Genshin Impact, serta 120 fps untuk MLBB dan Delta Force.

Namun, ada satu catatan. Reno 15 Pro Max ternyata rawan kepanasan apabila dipaksa menjalankan game di setting tertinggi dalam waktu lama. Di Genshin Impact, gejala penurunan kinerja akibat throttling karena suhu mulai terasa selewat menit ke-30. Apabila dibiarkan, angka frame rate bisa menurun dari 60 fps ke 45 fps.

Gejala serupa ikut terjadi di MLBB. Frame rate memang konsisten di 120 fps ketika sedang farming santai, tapi bisa anjlok ke kisaran 90 fps saat terjadi war yang ramai dengan efek visual, terutama di late game sewaktu kedua tim bertempur di base.

Pengujian dengan aplikasi Burnout dan 3DMark Wildlife Extreme Stress Test (looping benchmark) menunjukkan bahwa memang terjadi penurunan kinerja yang signifikan seiring dengan peningkatan temperatur.

Untuk menjaga konsistensi kinerja di dalam game, pengguna  Oppo Reno 15 Pro Max bisa memakai solusi pendingin tambahan atau setidaknya bermain di tempat yang tidak panas. Melepas casing juga bisa membantu.

Review Oppo Reno 15 Pro Max: HP Berkamera Menarik
Hasil pengujian menunjukkan bahwa terdapat throttling yang cukup dalam di suhu tinggi.

Di luar game, Oppo Reno 15 Pro Max yang menjalankan sistem operasi ColorOS 16 berbasis Android 16 juga menawarkan sejumlah fitur menarik berbasis kecerdasan buatan. Fitur-fitur yang ada terangkum dalam menu “Oppo AI” di Settings sehingga bisa diketahui dengan mudah.

Selain kemampuan transkripsi, terjemahan, dan penulisan yang juga banyak tersedia di ponsel lain, Reno 15 Pro Max dibekali sejumlah fitur AI yang berguna untuk meningkatkan kualitas foto jepretan pengguna. Fitur-fitur ini bisa diakses lewat tombol “AI Editor” ketika membuka foto di galeri.

Salah satunya yang paling menarik adalah AI Portrait Glow yang bisa memperbaiki pencahayaan di wajah subjek dalam foto potrait. Hasilnya, wajah tampak lebih cerah dengan exposure lebih seimbang dengan cahaya ambient.

Review Oppo Reno 15 Pro Max: HP Berkamera Menarik
Beberapa fitur editing gambar berbasis AI di Oppo Reno 15 Pro Max: AI Recompose (kiri), AI Portrait Glow (tengah), dan AI Perfect Shot.

Selain itu, ada AI Recompose untuk melakukan cropping gambar agar memperoleh komposisi yang lebih ketat dan menarik. Ada juga AI Perfect Shot yang bisa mengubah ekspresi wajah subjek manusia dalam foto dengan wajah orang yang sama dari foto lain. Gunanya adalah memperoleh ekspresi wajah yang lebih cocok, misalnya apabila subjek dipotret dalam keadaan mata berkedip.

Baterai Oppo Reno 15 Pro Max: Meningkat tipis

Soal penampungan daya, kapasitas baterai Reno 15 Pro Max meningkat tipis dibandingkan dengan pendahulunya, dari 6.200 mAh menjadi 6.500 mAh.

Pengujian dengan PC Mark membuahkan ketahanan selama sekitar 12 jam yang tergolong rata-rata untuk ponsel mid-range pada 2026. Sudah mencukupi untuk meladeni aneka aktivitas harian penggunanya.

Review Oppo Reno 15 Pro Max: HP Berkamera Menarik
Hasil benchmark AnTuTu v.11 (kiri), Geekbench 6 (tengah), dan PC Mark Work 3.0 battery life di Oppo Reno 15 Pro Max.


Oppo mempertahankan kecepatan fast charging SuperVOOC sebesar 80 watt, berikut kemampuan wireless fast charging 50 watt dan reverse wired charging.

Ketika diuji dengan charger (80 watt) dan kabel USB bawaan, Reno 15 Pro Max sanggup mengisi daya sebesar 30 persen dalam waktu 15 menit. Memasuki menit ke-45, kapasitas yang terisi mencapai 83 persen. Pengisian baterai dari nol hingga 100 persen memakan waktu 55 menit.

Kesimpulan

Oppo Reno 14 Pro tahun lalu sudah sangat mumpuni sehingga Reno 15 Pro Max memiliki tugas berat sebagai penerus. Ditambah lagi, harganya naik dengan selisih cukup signifikan, sekitar Rp 2 juta dibandingkan dengan ponsel terdahulu itu.

Untungnya, Oppo menerapkan sejumlah peningkatan yang berguna, seperti kamera depan bersudut pandang lebar -ditambah autofokus- untuk selfie yang lebih wide, serta kamera utama 200 MP dengan ukuran fisik yang juga besar (1/,56 inci).

Sayang, beberapa aspek lainnya relatif tak berubah, seperti chipset, dan baterai yang kenaikannya tidak terlalu signifikan. Aspek performa pun menjadi sedikit batu ganjalan untuk Reno 15 Pro Max di kelas harganya yang mencapai Rp 12.999.000.

Di segmen itu, mau tak mau Reno 15 Pro Max bersaing dengan ponsel-ponsel yang performanya cukup “mengerikan”, macam iQoo 15 dan Poco F8 Ultra. Reno 15 Pro Max pun terlihat kurang menarik untuk pengguna yang mengutamakan kinerja, seperti mobile gamer.

Satu aspek yang bisa membuatnya stand out di antara pesaing adalah rangkaian kamera mumpuni, ditambah kamera depan lebar dengan autofokus. Fitur itu pula yang agaknya bisa menjadi alasan utama konsumen meminang Reno 15 Pro Max.

Smartphone ini siap meladeni kebutuhan pengambilan gambar di berbagai tempat dan situasi, jauh ataupun dekat, gelap maupun terang, di tempat kering hingga di dalam air. Soal apakah banderolnya sepadan dengan yang didapatkan, tentu kembali ke masing-masing orang.

Rating editor: 8/10

Kelebihan:
+ Bodi tangguh yang tahan air
+ Rangkaian kamera belakang lengkap dan berkualitas
+ Kamera depan lebar ditambah autofokus
+ Perekaman video hingga 4K/ 60 fps dengan stabilisasi

Kekurangan:
– Dapur pacu tak berubah dibanding pendahulu
– Rawan mengalami throttling kinerja akibat panas
– Kapasitas baterai hanya meningkat tipis

OPPO Reno15 Pro Max Harga
Rp. 14.149.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review Oppo Reno 15 Pro Max: HP Berkamera Menarik first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-oppo-reno-15-pro-max-hp-berkamera-menarik/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/05/oppo_reno_15_pro_max_unboxing-14-150x150.jpg150150
Review Samsung Galaxy Tab A11 Plus: Tablet Terjangkau untuk Hiburan dan Multitasking https://www.91mobiles.com/id/hub/review-samsung-galaxy-tab-a11-plus-tablet-terjangkau-untuk-hiburan-dan-multitasking/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-samsung-galaxy-tab-a11-plus-tablet-terjangkau-untuk-hiburan-dan-multitasking/#respond Mon, 23 Feb 2026 06:37:35 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=19366 Setelah 2 tahun, Samsung akhirnya merilis suksesor Galaxy Tab A9 Plus sebagai tablet 11 inci berharga terjangkau. Perangkat bernama Galaxy Tab A11 Plus itu mendarat di Indonesia pada Desember tahun lalu. Tampilan Galaxy Tab A11 Plus sangat mirip dengan pendahulunya, tapi Samsung menerapkan sejumlah pembaruan dari segi hardware. Kesimpulan awalGalaxy Tab A11 Plus bisa dibilang adalah […]

The post Review Samsung Galaxy Tab A11 Plus: Tablet Terjangkau untuk Hiburan dan Multitasking first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Setelah 2 tahun, Samsung akhirnya merilis suksesor Galaxy Tab A9 Plus sebagai tablet 11 inci berharga terjangkau. Perangkat bernama Galaxy Tab A11 Plus itu mendarat di Indonesia pada Desember tahun lalu. Tampilan Galaxy Tab A11 Plus sangat mirip dengan pendahulunya, tapi Samsung menerapkan sejumlah pembaruan dari segi hardware

Kesimpulan awal

Galaxy Tab A11 Plus bisa dibilang adalah Galaxy Tab A9 Plus yang lebih bertenaga. Tablet ini mempertahankan banyak aspek dari produk sebelumnya sambil menghadirkan dapur pacu yang lebih baru dan banderol terjangkau. Apsek hiburannya ditunjang keluaran audio mumpuni sementara DeX membantu untuk multitasking.

Unboxing: Kelengkapan minimalis

Seperti biasa untuk perangkat Samsung, Galaxy Tab A11 Plus datang dengan kelengkapan minimalis. Di dalam kotak kemasannya yang tipis hanya terdapat sebuah folder karton berisi panduan singkat, SIM card ejector tool, dan kabel berjenis USB C ke USB C.

Tidak ada unit charger yang disertakan. Meskipun memiliki kapasitas baterai yang sama (7.0490 mAh), Galaxy Tab A11 Plus sebenarnya mendukung pengisian daya cepat 25 watt yang lebih tinggi dibandingkan Galaxy Tab A9 Plus pendahulunya (15 watt). Namun, pengguna harus menyediakan sendiri charger yang sesuai.

Di Indonesia, Samsung memaketkan Galaxy Tab A11 Plus bersama Trifold book cover. 91mobiles Indonesia mendapatkan aksesori tersebut yang bermerek Mobeen. Bentuknya seperti book cover untuk tablet pada umumnya dengan hard case pelindung perangkat serta penutup layar yang bersifat magnetik dan bisa dilipat untuk difungsikan sebagai stand.

Desain: Ibarat pinang dibelah dua

Sebagai suksesor Galaxy Tab A9 Plus, desain Galaxy Tab A11 Plus nyaris tak berbeda dibandingkan pendahulunya itu. Perangkat ini tetap berdimensi fisik 257,1 x 168,7 x 6,9 mm dengan bobot 477 gram yang hanya berselisih tipis dibandingkan tablet sebelumnya.

Kebetulan 91mobiles Indonesia mendapatkan model WiFi only dari Galaxy Tab A11 Plus. Tersedia pula model 5G dengan laci SIM card yang mampu menampung sebuah kartu nano-SIM, di samping kartu memori microSD (hingga 2 TB). Bobotnya sedikit lebih berat di angka 482 gram. Di luar dua hal tersebut, tidak ada perbedaan lain di antara versi WiFi dan 5G.

Bagian punggung terlihat sederhana dengan finishing matte dan sedikit garis aksen duo tone di salah satu sisi yang memuat logo Samsung. Tubuh tablet ini juga tahan debu dan cipratan air dengan sertifikasi IP52 sehingga diklaim tetap aman saat digunakan di luar ruangan.

Layar Galaxy Tab A11 Plus sendiri masih menggunakan panel TFT LCD 11 inci (1.920 x 1.200 piksel) dengan refresh rate 90 Hz. Rangkaian kameranya juga diwariskan dari Galaxy Tab A9 Plus, dengan kamera belakang 8 MP dan kamera depan 5 MP.

Satu fitur yang cukup menarik dari tablet ini adalah kehadiran empat buah speaker stereo dengan teknologi audio Dolby Atmos. Ada dua buah speaker di tiap sisi kiri dan kanan apabila tablet ditempatkan dalam orientasi horizonal, ideal untuk konsumsi konten seperti streaming video.

Selain konektor USB C standar, Samsung juga masih menyertakan port jack audio 3,5 mm di salah satu pojokan Galaxy Tab A11 Plus sehingga pengguna bisa memasang headphone berkabel ataupun perangkat audio lain apabila diinginkan.

Software: Andal untuk nonton dan multitasking

Keempat speaker Dolby Atmos Galaxy Tab A11 Plus langsung menunjukkan keandalannya ketika digunakan untuk menonton video, dengan menghasilkan suara yang lantang. Suaranya terdengar cukup jernih untuk ukuran perangkat mobile, meskipun frekuensi rendahnya (bass) kurang terasa.

Tablet ini sudah menjalankan One UI 8.0 berbasis Android 16 tebaru secara out-of-the-box. Samsung memberikan dukungan pembaruan OS yang sangat lama untuk Galaxy Tab A11 Plus, yakni mencapai 7 generasi versi Android dan 7 tahun patch sekuriti. Durasi tersebut bahkan lebih lama dari beberapa perangkat flagship.

One UI 8.0 di Galaxy Tab 11 Plus juga datang lengkap dengan Samsung Dex versi terbaru yang dapat diaktifkan dengan mudah lewat menu quick settings dari atas layar.Saat diaktifkan, Samsung Dex mengubah tampilan antarmuka tablet menjadi mirip PC/ laptop dengan dock atau taskbar berukuran kecil di sisi bawah yang memuat rangkaian shortcut aplikasi.

Pengguna Galaxy Tab A11 Plus bisa membuka beberapa aplikasi sekaligus dan dapat mengatur ukuran jendela masing-masing aplikasi dengan leluasa, seperti halnya di tampilan OS komputer desktop.

Jadi, bukan hanya tampilan split screen seperti pada umumnya di tablet. Multitasking pun jadi mudah karena pengguna bisa berpindah-pindah antar jendela aplikasi yang terbuka dengan gesit di tampilan DeX Galaxy Tab A11 Plus.

Samsung turut menyematkan sejumlah fitur berbasis AI seperti Gemini dan Circle to Search Google. Aplikasi Samsung Notes juga memiliki fitur AI Solve Math untuk secara otomatis mengerjakan soal matematika yang ditulis tangan di layar.

Untuk keperluan produktivitas lain, Galaxy Tab A11 Plus sayangnya tidak datang dengan keyboard ataupun stylus S Pen yang bisa berguna untuk berbagai keperluan. Namun, setidaknya pengguna masih bisa mengetik dengan cukup nyaman di permukaan layar.

Soal layar, panel TFT LCD yang digunakan Galaxy Tab A11 Plus menghasilkan warna-warna yang cenderung pudar, dengan viewing angle yang agak sempit pula. Bezel di sekeliling cukup tebal dan layar juga tidak terlalu terang saat digunakan di luar ruangan. Namun, beberapa keterbatasan itu masih bisa dimaklumi mengingat segmen harganya.

Kinerja dan kamera: Masih memadai

Aspek kamera jelas bukan prioritas utama di Galaxy Tab A11 Plus karena konfigurasinya masih tak berubah dari perangkat terdahulu, dengan kamera belakang beresolusi 8 MP dan kamera depan 5 MP yang diposisikan mirip webcam di laptop.


Kualitas kamera belakang ternyata masih lumayan bagus apabila terdapat cahaya yang mencukupi di sekitar pengguna. Image quality kamera depan terpaut cukup jauh dari kamera belakang dengan warna-warna washed out dan dynamic range sempit, tapi masih dapat diandalkan sekadar untuk video call.

Bagaimana dengan kinerjanya? Berbekal chipset MediaTek Dimensity 7300, RAM 6 GB, dan media internal 128 GB, Galaxy Tab A11 Plus mencetak skor cukup tinggi di benchmark AnTuTu Lite, Geekbench, dan PCMark.

Berbeda dari Galaxy Tab A9 Plus sebelumnya yang tersedia dalam varian memori 4 GB/ 64 GB dan 8 GB/ 128 GB, Galaxy Tab A11 Plus kini hanya dipasarkan dalam satu konfigurasi 6 GB/ 128 GB saja. Namun, kinerjanya secara keseluruhan leih kencang dari perangkat terdahulu.

Performa Galaxy Tab A11 Plus tercermin dalam pengalaman penggunaannya yang relatif mulus tanpa hambatan bahkan ketika menjalankan beberapa apliakasi sekaligus. Dengan kinerja yang lebih tinggi dibanding Galaxy Tab A9 Plus sebelumnya, tablet ini pun ternyata masih bisa diandalkan untuk bermain game.

Ketika dicoba untuk bermain PUBG Mobiles, Galaxy Tab A11 Plus sanggup menangani setting grafis “Smooth” dan frame rate “Extreme” dengan lancar. Begitu pula dengan Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) yang tergolong game ringan.

Persoalan saat bermain game kompetitif macam PUBG dan MLBB mungkin bukan soal kinerja, tapi lebih di kenyamanan subyektif saat menggunakan tablet untuk bermain.

Apabila terbiasa menggunakan ponsel, mungkin layout kendali on-screen mesti disesuaikan agar lebih mudah dijangkau. Bobot perangkat 11 inci seperti tablet ini pun bisa membuat pegal jika dipakai push rank berlama-lama.

Review Samsung Galaxy Tab A11 Plus: Tablet Terjangkau untuk Hiburan dan Multitasking
Galaxy Tab A11 Plus sebenarnya memiliki kinerja memadai untuk game kompetitif. Hanya saja, seperti halnya tablet 11 inci lain, ukurannya mungkin kurang ideal.

Kesimpulan

Sebagai kelanjutan dari Galaxy Tab A9 Plus sebelumnya, perubahan utama yang dihadirkan oleh Galaxy Tab A11 Plus terletak di bagian dalam, pada rangkaian hardware yang digunakan sehingga kinerjanya meningkat. Sementara, bagian luar relatif masih sama dengan pendahulunya itu.

Skenario penggunaannya pun mirip. Tablet ini cocok untuk konsumsi konten dan berbagai kegiatan lain, terutama multitasking dengan beberapa jendela aplikasi yang bisa terbuka bersamaan berkat antarmuka DeX. Pengguna, misalnya, bisa memasak sambil membuka video tutorial di satu jendela dan detil resep masakan di jendela lain.

Pengguna pun dapatmemakai tablet untuk melakukan pekerjaan ringan yang membutuhkan coretan di layar atau input berbasis teks. Sayang, Samsung tak memasarkan aksesori S Pen atau cover keyboard resmi untuk Galaxy Tab A11 Plus.

Kendati demikain, di pasaran tersedia beberapa pena stylus dan keyboard pihak ketiga yang bisa dicoba. Produk yang kompatibel dengan Galaxy Tab A9 Plus mestinya bisa digunakan juga di Galaxy Tab A11 Plus karena desain dan dimensi keduanya identik.

Daya tarik utama Galaxy Tab A11 Plus terletak pada harganya. Perangkat ini adalah salah satu tablet termurah dari Samsung dengan banderol mulai Rp 3 juta. Kendati relatif terjangkau, masa dukungan sistem operasinya yang mencapai 7 tahun bisa mengalahkan perangkat-perangkat mahal.

Yang perlu dicermati adalah perbedaan harga antar variannya. Galaxy Tab A11 Plus WiFi dijual seharga Rp 2.999.000, sedangkan banderol versi 5G berselisih cukup jauh di angka Rp 3.999.000. Di luar konektivitas seluler, tidak ada perbedaan spesifikasi lain antara keduanya sehingga Galaxy Tab A11 Plus WiFi menjadi pilihan yang lebih menarik.

Rating editor: 7/10

Kelebihan:
+ Punya 4 speaker dengan suara lantang
+ Kinerja lebih tinggi dibanding pendahulu
+ Masa dukungan OS mencapai 7 tahun
+ Antarmuka DeX mempermudah multitasking

Kekurangan:
– Aspek lain di luar chipset masih identik dengan sebelumnya
– Kamera depan kurang bagus
– Beda harga jauh antara versi WiFi dan 5G

The post Review Samsung Galaxy Tab A11 Plus: Tablet Terjangkau untuk Hiburan dan Multitasking first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-samsung-galaxy-tab-a11-plus-tablet-terjangkau-untuk-hiburan-dan-multitasking/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/02/samsung_galaxy_tab_a11_plus_device-10-150x150.jpg150150
Review Realme C85 Pro: HP Tahan Air Ekstrem di Harga Murah https://www.91mobiles.com/id/hub/review-realme-c85-pro-hp-tahan-air-ekstrem-di-harga-murah/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-realme-c85-pro-hp-tahan-air-ekstrem-di-harga-murah/#respond Tue, 17 Feb 2026 08:12:11 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=19148 Selama ini ponsel dengan ketahanan unggul terhadap air kerap identik dengan harganya yang selangit. Dulu, hanya smartphone Rp 10 jutaan ke atas yang tersertifikasi IP68 sehingga aman saat terendam di air. Kala itu hanya Samsung yang dapat memberikan sertifikasi tahan rendaman air di bawah Rp 10 juta. Kini, Realme tampaknya menjadi pionir dalam hal ketahanan bodi […]

The post Review Realme C85 Pro: HP Tahan Air Ekstrem di Harga Murah first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Selama ini ponsel dengan ketahanan unggul terhadap air kerap identik dengan harganya yang selangit. Dulu, hanya smartphone Rp 10 jutaan ke atas yang tersertifikasi IP68 sehingga aman saat terendam di air. Kala itu hanya Samsung yang dapat memberikan sertifikasi tahan rendaman air di bawah Rp 10 juta. Kini, Realme tampaknya menjadi pionir dalam hal ketahanan bodi di harga murah.

Ya, Realme C85 Pro yang dibanderol Rp 3 jutaan hadir dengan sertifikasi IP69 Pro, sebuah sorotan unik yang dipertahankan dari pendahulunya, Realme C75 series. Perangkat ini tak hanya sanggup bertahan di air kolam biasa, melainkan juga mampu bertahan di air dengan suhu ekstrem (dingin atau panas), dan bahkan bisa memotret serta merekam video di bawah air. 

Ponsel ini pun diuntungkan dengan kapasitas baterainya yang sebesar 7.000 mAh, tahan hingga lebih dari satu hari sehingga membuatnya cocok untuk penggunaan di luar ruangan. Kehadiran Realme C85 Pro dengan segala fitur ketahanannya menjadi pertanda bahwa keunggulan HP rugged mulai merambah ke industri ponsel konvensional. 

Namun yang jadi pertanyaannya, apa rahasia Realme sehingga mampu mengadopsi ketahanan tinggi di ponsel dengan harga murah? Apakah ada fitur yang mesti dikorbankan untuk memangkas harga? Untuk mengetahui jawabannya, Anda bisa menyimak review Realme C85 Pro berikut ini setelah pemakaian selama sepekan.

Unboxing

Seperti ponsel-ponsel Realme sebelumnya, kali ini C85 Pro pun hadir dengan paket penjualan yang lengkap. Selain unit ponsel itu sendiri, smartphone ini dilengkapi dengan casing transparan, manual book, pin ejektor laci kartu SIM, charger 45 watt, dan kabel data. 

Boks Realme C85 Pro sebenarnya memiliki tampilan luar berwarna kuning yang memang sudah menjadi ciri khas Realme C series. Hanya saja, boks tersebut diselipkan ke dalam cover yang memperlihatkan keunggulan ponsel.

Di bagian utama pada cover tersebut, terlihat adanya ilustrasi unit ponsel yang direndam ke dalam air, beserta sejumlah sorotan utamanya seperti IP69 Pro, kecerahan layar, chipset yang digunakan, dan lain sebagainya. 

Desain

Dari segi tampilan, Realme C85 Pro menghadirkan desain yang tampak lebih premium dibandingkan rata-rata ponsel lain di kelas harganya. Bodi belakangnya tampil dengan finishing mengilap dan modul kamera berukuran besar yang membuatnya terlihat modern. 

Pada housing kamera tersebut, terdapat tiga buah bulatan lensa yang disusun secara vertikal, serta lampu LED Pulse Light dan flash di samping kanannya. Lampu LED Pulse Light ini dapat menyala sebagai indikator notifikasi ketika menerima pesan atau panggilan masuk. Selain itu, lampu ini juga bisa berkedip atau menyala sebagai indikasi status charging

Tampilan LED Pulse Lighting.
Tampilan LED Pulse Lighting.

Lewat menu pengaturan, fitur Pulse Light ini dapat dikustomisasi dari segi periode aktifnya, warna, apakah ingin mengusung mode breathing atau ringtone sync, dan masih banyak lagi. 

Frame bodi yang berbentuk datar alias flat membuatnya mudah digenggam tanpa khawatir tergelincir dari tangan. Untuk semakin mempertegas kenyamanan genggam, Anda dapat mengaplikasikan casing khusus yang tersedia pada boks penjualan. Ini akan membuatnya sedikit lebih glossy, namun akan melindungi ponsel dari goresan dan benturan ringan saat digunakan sehari-hari. 

Realme C85 Pro pun masih terasa cukup ramping saat digenggam sehari-hari, lantaran hanya setebal 8,09 mm dengan bobot 205 gram. Cukup impresif mengingat kapasitas baterainya yang sebesar 7.000 mAh.

Berbicara soal ketahanan, Realme C85 Pro adalah salah satu ponsel paling tangguh di kelas harga menengah, terutama terhadap air. Ponsel ini dibekali sertifikasi ketahanan militer MIL-STD-810H, yang sering digunakan sebagai penanda bahwa sebuah perangkat sanggup menghadapi kondisi ekstrem seperti guncangan, benturan, atau perubahan suhu secara mendadak.

Standar yang dahulu umumnya hanya dijumpai pada ponsel outdoor atau rugged, kini sudah bisa dimiliki pada HP mid-range mainstream seperti Realme C85 Pro. Perangkat ini juga dibekali sertifikasi IP69 Pro yang merupakan gabungan dari tiga sertifikasi tahan air, yakni IP66 (tahan cipratan air bertekanan tinggi), IP68 (tahan terendam air pada kedalaman tertentu), dan IP69/ IP69K (tahan semburan air bertekanan tinggi dan panas ekstrem). 

Realme C85 Pro ini bahkan bisa tahan terhadap 36 jenis cairan yang berbeda, mulai dari air tawar biasa, kopi, hingga soda. Bahkan, HP ini pun tetap berfungsi normal setelah direndam di air mendidih selama beberapa detik. Ini membuatnya cocok digunakan untuk mengantisipasi skenario sehari-hari yang tidak terduga, seperti kehujanan, tercebur air, atau ketumpahan minuman. 

Uniknya lagi, tersedia pula mode pemotretan underwater yang membuatnya mampu memotret serta merekam video di bawah air tanpa menggunakan layar sentuh.

Di Indonesia, Realme C85 Pro ditawarkan dalam dua varian warna yakni Parrot Purple dan Peacock Green. Unit yang kami terima merupakan varian Peacock Green yang menawarkan kesan tenang namun elegan, dengan tone hijau yang sedikit lebih gelap sehingga tidak terlalu mencolok. 

Layar

Layar Realme C85 Pro.
Layar Realme C85 Pro.

Di harganya yang Rp 3 jutaan, tentu Realme C85 Pro tidak lagi dibekali panel IPS LCD, melainkan memakai panel AMOLED yang lebih cerah. Panel layar yang seluas 6,8 inci Full HD Plus ini benar-benar memiliki kontras tinggi dan warna lebih hidup, membuat pengalaman menonton video dan bermain game terasa lebih menyenangkan. 

Sayangnya, layar ini belum mendukung fitur HDR sehingga tidak dapat menampilkan konten high dynamic range di YouTube. Kami sudah mencoba mencari resolusi HDR pada salah satu video yang menyediakannya, namun opsi tersebut tidak muncul.

Layar Realme C85 Pro mendukung gamut warna 100 persen DCI-P3 yang membuat tampilan warnanya lebih kaya dan akurat, terutama ketika menonton film atau melihat hasil foto. Refresh rate yang didukungnya mencapai 120 Hz guna membuat animasi antarmuka dan transisi terasa lebih mulus ketimbang 60 Hz konvensional. Fitur ini sangat terasa ketika sedang browsing dan menjelajahi media sosial.

Namun yang cukup mengherankan, mode refresh rate tinggi sama sekali tidak aktif saat mencoba memainkan judul game yang mendukung HRR, seperti Dead Trigger 2. Saat dimainkan, di menu pengaturan hanya muncul mode default 60 FPS, yang berarti mode 120 FPS tidak kompatibel di HP ini.

Mungkin ini adalah isu yang dapat diperbaiki melalui update OTA atau pembaruan versi game, atau bisa saja karena memang dapur pacu Realme C85 Pro yang kurang mendukung. 

Menyoal kecerahannya, layar Realme C85 Pro ini mampu mencapai titik cerah paling tinggi di angka 4.000 nit. Tentu ini bukanlah kecerahan yang dicapai saat di bawah terik matahari. Namun, dengan bantuan fitur AI Outdoor Mode, kami berhasil membuat teks dan gambar di layar tetap layak dilihat meski di bawah sinar matahari langsung. Ini karena adanya fitur AI yang membantu layar menyesuaikan tingkat kecerahan secara cerdas sesuai kondisi cahaya sekitar.

Kami pun tidak menemukan masalah responsivitas saat memainkan game di HP ini. Dengan dukungan touch sampling rate 180 Hz pada Realme C85 Pro, setiap tembakan atau serangan nyaris tidak terasa delay sama sekali.

Bahkan saat jari kami basah setelah menyentuh kaleng minuman dingin, responsivitas layar tetap relatif normal berkat adanya teknologi wet-hand touch. Secara garis besar, untuk ponsel di kelasnya, pengalaman layar yang ditawarkan cukup memadai.

Sayangnya, speaker ponsel ini hanya tunggal alias bukan stereo. Ini akan membuat suara hanya keluar dari satu sisi saja. Suara yang dikeluarkan namun cukup jernih dan lantang, bahkan memiliki fitur Ultraboom untuk meningkatkan volume di level yang melebihi batas maksimal, kendati membuatnya terdistorsi. Jenis frekuensi bass dan treble cukup jelas namun tentunya tidak akan sebaik speaker flagship.

Kamera

Sektor fotografi bisa dibilang bukan salah satu “strong suit’ yang dimiliki Realme C85 Pro. Namun, perangkat ini tetap dapat menghasilkan foto yang cukup memadai, asalkan pengguna rela menyesuaikan ekspektasinya. 

Rangkaian kamera di HP ini cukup sederhana, dengan kamera tunggal 50 MP di belakang yang memiliki aperture f/1,8 dan autofokus PDAF. Di bagian depan, tersedia kamera 8 MP f/2,0 yang dapat menunjang kebutuhan selfie serta video call.

Jadi, penampakan “tiga kamera” di punggungnya sebenarnya tidak akurat lantaran cuman salah satunya saja yang merupakan sensor kamera aktif. Dua lainnya hanya dirancang sebagai aksen desain atau dekorasi.

Ketiadaan kamera ultrawide adalah salah satu kekurangan utama pada smartphone seharga Rp 3 jutaan ini. Meski begitu, ini memang bukan kali pertama seri entry pada merk ponsel China meniadakan kamera ultrawide. Vivo Y series dan Oppo A series juga kerap melakukannya.

Jika menginginkan kamera ultrawide di harga Rp 2-3 jutaan, tampaknya perlu melirik Galaxy A series, misalnya seperti Galaxy A17. 

Foto siang hari dan indoor

Menyoal hasil fotonya sendiri, pemotretan di siang hari hanya meninggalkan impresi “sedang” di benak kami. Kata “mediocre” kerap muncul saat melihat hasil foto yang berhasil kami dapatkan. Dynamic range sebenarnya cukup luas, detail yang didapatkan pun cukup melimpah. Namun, kami pernah mendapatkan pengalaman fotografi lebih memuaskan pada HP di harga Rp 2 jutaan, yakni Moto G45 (review).

Penyesuaian lighting pada foto siang harinya menurut kami masih cukup jauh dari kata “estetis”, setidaknya saat dibandingkan dengan Moto G45. Bahkan, kami berani bilang bahwa hasil fotonya hanya sedikit lebih baik dari HP Rp 1 jutaan yang dijadikan daily driver kami, yaitu Itel RS4.

Apabila dinilai tanpa dibandingkan, hasil foto Realme C85 Pro sebenarnya tidak bisa dikatakan buruk. Hanya perlu sedikit polesan untuk membuatnya medsos-ready, terutama untuk menambahkan efek background blur. Sebab, agak sulit mendapatkan efek bokeh creamy di ponsel ini, bahkan saat tingkat kedalamannya sudah diatur ke f/1,4. 

Foto malam hari

Perihal foto malam hari, di sini justru Realme C85 Pro cukup tergolong oke. Tingkat noise masih tergolong minim di sini, efek flare di sekitar sumber cahaya pun masih sanggup ditangani dengan baik. 

Absennya kamera telefoto di HP ini membuat pengalaman zoom miliknya kurang menarik. Pembesaran maksimal yang didukungnya adalah 10x, dan kami hanya dapat menghasilkan foto jarak jauh yang “usable” di tingkatan sekitar 3-5x. Tentu saja semua tingkat pembesarannya adalah digital, bukan optis maupun hibrida.

Realme C85 Pro juga tergolong standar saat dijadikan sarana kreasi konten. Perekaman videonya tidak stabil saat berjalan atau panning, dan resolusi maksimal yang didukungnya hanya 1080p di 30 FPS, alias tidak mendukung 60 FPS maupun 4K. 

Pada kamera depan, Realme C85 Pro cukup memberikan hasil yang baik saat selfie secara kasual maupun ketika melakukan video call. Hasil fotonya tergolong biasa-biasa saja. Tidak dapat disebut buruk, namun tidak pula masuk kategori “memukau”. Namun untuk kebutuhan sehari-hari, rasanya kamera depan HP ini masih cukup. Seperti yang disebut di awal, selama pengguna dapat menyesuaikan ekspektasi, pengalaman fotografi di Realme C85 Pro masih tergolong “aman”. 

Foto underwater (di dalam air)

Realme tampak seperti memanfaatkan sertifikasi IP69 Pro di ponsel ini ke tingkat paling tinggi. Karena tahan direndam, Realme C85 Pro pun dibekali mode pemotretan underwater agar bisa menghasilkan foto unik sambil menyelam di air. 

Saat mode ini diaktifkan, layar perangkat tidak akan mampu memberikan respons terhadap sentuhan. Pengguna mesti memanfaatkan tombol volume dan daya sebagai tombol shutter, berpindah antara kamera belakang dan depan, serta mematikan layar. 

Bagaimana dengan hasil fotonya? Detail tentu tidak akan sebagus pemotretan di atas air, namun masih cukup jelas dan layak untuk diunggah ke media sosial. Lalu, autofokusnya pun kadang meleset dan malah menghasilkan foto objek yang blur. Ini namun dirasakan ketika memotret objek secara dekat, pengalamannya mungkin bakal berbeda jika memotret subjek manusia dari jarak sedang. 

Mikrofon juga bekerja cukup baik saat merekam video, karena suara perekam yang berada di atas permukaan air masih terdengar dengan jelas. Seperti kamera belakang, kami juga menemukan masalah autofokus yang sedikit “hit and miss” pada kamera selfie.

Akan tetapi, cukup dengan dua hingga tiga kali percobaan ulang, kami akhirnya berhasil mendapatkan foto di dalam air dengan kualitas yang layak, baik untuk kamera depan maupun belakang. Warna objeknya pun masih terbilang akurat dengan aslinya. 

Perihal fitur pengeditan fotonya, Realme C85 Pro menyediakan fitur bernama AI Edit Genie yang fungsinya untuk mengubah foto secara mudah dengan perintah teks dan suara. Pengguna bahkan bisa menjelaskan dalam bentuk “prompt” mengenai jenis pengeditan apa yang ingin dilakukan, dan AI Edit Genie bakal memahami perintah tersebut untuk melakukan pengeditan yang sesuai. 

Performa

Dapur pacu bukanlah fokus utama pada ponsel seharga Rp 3 jutaan ini. Meski merupakan ponsel mid-range, jenis chipset yang dipakai adalah Snapdragon 685 (6 nm) yang merupakan chip entry-level keluaran 3 tahun lalu.

Prosesor di dalamnya terdiri dari 8 inti yang merupakan 4x inti performa Cortex A73 (2,8 GHz) dan 4x inti hemat daya Cortex A53 (1,9 GHz). Chip ini juga dilengkapi dengan GPU Adreno 610.

Agak mengherankan sebenarnya sebuah HP Rp 3 jutaan di tahun 2026 memakai chip 4G, di saat sejumlah ponsel Rp 2-3 jutaan lainnya sudah mendukung jaringan seluler 5G. Akan tetapi, mungkin ini adalah harga yang perlu dibayarkan demi mendapatkan bodi dengan tingkat ketangguhan di atas rata-rata.

Performance-wise, Realme C85 Pro masih terasa lancar saat beraktivitas sehari-hari seperti penggunaan media sosial, YouTube, hingga berselancar di dunia maya. Terdapat juga fitur Game Mode yang dapat mengoptimalkan pengalaman game.

Dari kiri ke kanan: skor benchmark Realme C85 Pro AnTuTu 11, Geekbench 6, dan Burnout.
Dari kiri ke kanan: skor benchmark Realme C85 Pro AnTuTu 11, Geekbench 6, dan Burnout.

Dari tangkapan layar di atas, terlihat bahwa Realme C85 Pro menorehkan skor 450.585 poin di AnTuTu v11, dan ini tergolong rendah untuk seukuran ponsel mid-range di harga Rp 3 jutaan. Pengujian Geekbench 6 mencatatkan skor 422 poin untuk single-core dan 1.312 poin untuk multi-core. Sementara, pengujian throttling di aplikasi Burnout menunjukkan bahwa HP ini hanya dapat mempertahankan 50,8 persen dari maksimal performa setelah dites selama 9 menit 25 detik.

Kami sempat menguji beberapa judul permainan di ponsel ini, dan hasilnya tergolong oke meski tidak selancar beberapa pesaingnya di harga yang sama. 

Di PUBG Mobile, pengaturan grafis dan frame rate tertinggi yang dimungkinkan adalah Balanced – High. Pengalaman yang dirasakan cukup normal tanpa ada stutter atau lag yang mengganggu, kecuali di beberapa kasus di mana karakter pemain berusaha menyerang beberapa musuh sekaligus.

Selebihnya, saat berkelana on foot maupun berkendara, frame rate yang didapatkan cukup mulus. Namun dari segi grafis, HP ini kalah saing dengan pesaingnya yang sudah bisa merasakan grafis HD dan HDR. 

Pengguna sebenarnya dimungkinkan mengaktifkan fitur gyroscope untuk membidik lawan. Namun sayangnya, gyroscope tersebut hanya bersifat virtual dan memiliki tingkat responsivitas yang buruk. Terdapat delay yang sungguh terasa ketika memindahkan crosshair, yang ujungnya membuat kami gagal menembak musuh.

Pengalaman serupa juga dirasakan untuk dua judul lainnya yaitu Delta Force dan COD Mobile. Pengaturan frame rate tertinggi yang bisa dipilih untuk grafis Exquisite adalah Medium, dan pengalaman yang dirasakan cukup playable meski bukan yang terbaik.

COD Mobile juga memperlihatkan gameplay yang cukup mulus, meski hanya dapat dimainkan hingga pengaturan grafis High pada frame rate Medium. Beberapa pesaingnya di harga yang sama, seperti Infinix GT 30 atau iQoo Z10, dapat meraih pengaturan grafis Very High dan frame rate Max. 

Gyroscope kembali dapat digunakan untuk game ini, namun masih dengan responsivitas yang sama seperti sebelumnya, pertanda bahwa ini adalah isu sensor ketimbang masalah di dalam game

Karena tidak punya sensor gyro yang memadai, rasanya Realme C85 Pro lebih cocok untuk permainan non-shooter, misalnya seperti Heartopia yang belakangan ini sedang ramai dibicarakan komunitas gamer.

Permainan farming ini dapat dijalankan cukup nyaman di Realme C85 Pro, selama dimainkan pada pengaturan grafis Low di 60 FPS. Jika ingin pengaturan grafis yang lebih tinggi dari itu, Anda mesti beralih ke ponsel lain dengan chipset lebih kuat dari Snapdragon 685. 

Menariknya, meski tidak difokuskan untuk gaming, Realme C85 Pro dibekali fitur untuk mengatur mode performa (Mode low power, Balanced, dan Pro Gamer). Fitur ini bahkan memungkinkan pengguna membuka floating window dengan cara cepat, cocok untuk yang ingin mengisi voucher Google Play atau browsing tanpa meninggalkan game

Software

Tampilan antarmuka Realme UI 6.0 di Realme C85 Pro.
Tampilan antarmuka Realme UI 6.0 di Realme C85 Pro.

Realme C85 Pro berjalan pada sistem antarmuka Realme UI 6.0 berbasis Android 15. Cukup lawas memang, mengingat sejumlah HP keluaran 2026 lainnya sudah banyak yang memakai Android 16. 

Tampilannya sangat jauh dari stock Android, lantaran memiliki beberapa “bloatware” yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan oleh sebagian besar orang. Meski begitu, antarmuka ini punya tampilan transparan modern seperti iOS 26, terutama saat mengakses panel Quick Settings.

Unit yang kami terima memiliki storage 256 GB dengan RAM 8 GB. Saat pertama kali dibuka, ROM di ponsel ini tercatat memakan penyimpanan sebanyak 26,5 GB. Kami sungguh menyarankan memilih varian ini ketimbang versi 128 GB yang lebih murah, mengingat cukup banyaknya aplikasi prainstal yang disediakan.

Di luar dari aplikasi bawaan dari Google, Realme C85 Pro mencakup sejumlah aplikasi prainstal berupa aplikasi Agoda, Block Blast!, Fineasy, Fitbit, Qpon, Netflix, Prime Video, J&T Express, LinkedIn, TikTok, Spotify, Tomoro Coffee, Booking.com. 

Tampilan antarmuka yang terindikasi memperlihatkan iklan dalam bentuk saran aplikasi.
Tampilan antarmuka yang terindikasi memperlihatkan iklan dalam bentuk saran aplikasi.

Antarmukanya pun dibekali dengan aplikasi bawaan untuk Files dan Photos, alih-alih menggantungkan fungsi pada aplikasi bawaan Google seperti yang sering dilakukan HP Motorola. Pada aplikasi Files, saat memilih “App management”, pengguna akan ditawarkan beberapa “saran aplikasi”. Kurang jelas apakah saran-saran ini masuk ke dalam kategori iklan atau tidak.

Lalu, setiap menginstal aplikasi dari Google Play Store, akan ada tampilan “scanning for virus” yang di bawahnya memperlihatkan saran aplikasi yang serupa. Tampaknya ini adalah upaya Realme untuk menampilkan iklan dengan cara yang lebih subtil.  

Di tengah tren AI yang semakin pesat, Realme tentu tidak mau ketinggalan kesempatan ini. Terdapat sejumlah fitur AI yang bisa dimanfaatkan untuk mempermudah pengguna. Fitur AI Edit Genie yang sempat dibahas di section kamera adalah salah satunya, dapat editing foto langsung dari galeri dengan perintah teks atau suara. Tersedia juga fitur AI Smart Loop sebagai jalan pintas otomatis sesuai konteks pemakaian aplikasi.

Google Gemini AI dan Circle to Search juga ikut disematkan, mampu melakukan pencarian visual serupa Google Lens dengan memilih objek di layar tanpa harus melakukan pencarian secara manual. 

Secara garis besar, software di Realme C85 Pro cantik dan modern dari segi desain, namun jauh dari pengalaman stock Android mengingat adanya iklan dan bloatware di dalamnya. 

Baterai dan pengisian daya

Realme C85 Pro tampaknya memang berfokus pada penggunaan outdoor. Tidak hanya tercermin dari ketahanan bodinya, perangkat ini turut disertai baterai jumbo 7.000 mAh yang berbasis teknologi silikon-karbon.

Pihaknya menyebutkan bahwa Realme C85 Pro bisa tahan hingga 19 jam saat menonton video online, 16 jam chatting, dan 59 jam durasi panggilan telepon. Bahkan ketika baterai tersisa 50 persen, perangkat ini diklaim masih kuat untuk 3 jam navigasi, 1 jam streaming, 1 jam chat, 3 jam mendengarkan musik, 2 jam telepon, dan 2 jam mode siaga. 

Dalam pemakaian kami sehari-hari, Realme C85 Pro memang bisa bertahan hingga 2-3 hari pemakaian saat kondisi ideal. Pada skenario normal, baterainya bisa tahan lebih dari satu hari, dari pagi hari pertama hingga malam di hari kedua saat dipakai gaming, browsing, dan tes kamera.

Pada pengetesan PC Work 3.0 Battery Life, Realme C85 Pro tercatat meraih skor ketahanan selama 17 jam 40 menit. Durasi ini jauh lebih unggul ketimbang Infinix GT 30 (5.500 mAh) yang hanya meraih 10,5 jam. 

Selain unggul di baterai, fitur pengisian di HP ini juga cukup melimpah. Terdapat fast charging 45 W SuperVOOC. Klaim dari Realme, disebutkan bahwa 5 menit pengisian sudah cukup untuk memberikan durasi pemutaran musik 5,9 jam dan pemutaran video selama 1 jam.

Tanpa perlu membeli charger secara terpisah, Realme sudah menyediakan charger dengan daya 45 watt di dalam paket penjualan. Berdasarkan pengujian, pengisian selama 30 menit dapat mengisi baterai dari 1-33 persen. Sementara untuk durasi 60 menit, baterai akan terisi hingga 64 persen. Total keseluruhan durasi charging dari kosong hingga penuh adalah sekitar 1 jam 38 menit. Durasi yang cukup cepat untuk baterai berkapasitas 7.000 mAh. 

Karena ini HP mid-range, tentu Realme tidak menyematkan fitur wireless charging. Akan tetapi, ponsel ini disematkan dengan bypass charging yang dapat mengalirkan daya dari sumber listrik langsung ke mainboard, tanpa melewati baterai sama sekali. 

Kesimpulan

Realme C85 Pro sudah tersedia di Indonesia sejak 28 November 2025 dengan harga rilis Rp 3 juta untuk versi RAM 8 GB/ 128 GB dan Rp 3,3 juta untuk varian RAM 8 GB/ 256 GB. 

Sedari awal, Realme C85 Pro sungguh dirancang untuk keperluan outdoor dan aktivitas ekstrem, ini terlihat jelas dari kehadiran sertifikasi IP69 Pro yang membuatnya tahan di air, serta standar militer MIL-STD-810H yang mengurangi potensi rusak saat terbentur. 

Ponsel ini bakal cocok untuk mereka yang sering bepergian ke tempat perairan, seperti kolam renang, danau, atau di tempat dengan curah hujan tinggi. Akan tetapi, sayangnya, banyak kompromi yang mesti dilakukan untuk membuatnya setahan banting itu.

Pertama, bagian dapur pacunya yang kurang bersaing. Pemakaian chipset Snapdragon 685 di rentang Rp 3 jutaan adalah keputusan yang cukup merugikan dari sisi perspektif gamer. Absennya 5G di rentang harga ini juga membuatnya kurang future-proof

Kedua, meski kameranya bisa menghasilkan foto dengan cukup oke (terlebih dengan mode underwater yang unik), absennya ultrawide juga menjadi kekurangan yang cukup disayangkan. 

Namun di luar dari dua kekurangan ini, Realme C85 Pro punya keunggulan lain selain bodinya yang tahan air, dan itu adalah baterainya yang sangat besar, yakni 7.000 mAh. Keberadaan fitur AI Edit Genie juga sungguh layak diapresiasi karena bisa memodifikasi foto hanya dari perintah suara atau arahan via teks. 

Rating editor: 7 / 10

Kelebihan:

  • Bodi tersertifikasi IP69 Pro, tahan terhadap berbagai jenis air.
  • Memiliki mode fotografi underwater untuk mengambil foto bawah air dengan mudah.
  • Baterai super awet untuk kebutuhan harian, punya kapasitas 7.000 mAh.
  • Layar AMOLED yang cerah.
  • Tampilan antarmuka yang cantik dan modern, turut hadir dengan fitur AI Edit Genie yang intuitive

Kekurangan:

  • Tidak ada sensor giroskop hardware.
  • Tanpa kamera ultrawide
  • Hasil perekaman video kurang stabil dan tidak mendukung resolusi 60 FPS.
realme C85 Pro Harga
Rp. 3.115.000
Pergi Ke Toko
Rp. 3.250.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review Realme C85 Pro: HP Tahan Air Ekstrem di Harga Murah first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-realme-c85-pro-hp-tahan-air-ekstrem-di-harga-murah/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/02/photo_13_2026-02-16_01-02-25-150x150.jpg150150
Review iQoo 15: HP Gaming yang Layak Jadi Flagship https://www.91mobiles.com/id/hub/review-iqoo-15-hp-gaming-yang-layak-jadi-flagship/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-iqoo-15-hp-gaming-yang-layak-jadi-flagship/#respond Fri, 06 Feb 2026 01:02:23 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=18762 Desember lalu, iQoo 15 resmi mendarat di Indonesia. Seperti sebelum-sebelumnya, ia menjadi smartphone pertama di Indonesia yang ditenagai chip terbaru dan teratas dari Qualcomm, kali ini Snapdragon 8 Elite Gen 5.Satu hal yang agak mengejutkan adalah harganya yang berselisih cukup jauh dengan iQoo 13. Dibandingkan pendahulunya itu, iQoo 15 dibanderol lebih mahal Rp 2-3 juta […]

The post Review iQoo 15: HP Gaming yang Layak Jadi Flagship first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Desember lalu, iQoo 15 resmi mendarat di Indonesia. Seperti sebelum-sebelumnya, ia menjadi smartphone pertama di Indonesia yang ditenagai chip terbaru dan teratas dari Qualcomm, kali ini Snapdragon 8 Elite Gen 5.

Satu hal yang agak mengejutkan adalah harganya yang berselisih cukup jauh dengan iQoo 13. Dibandingkan pendahulunya itu, iQoo 15 dibanderol lebih mahal Rp 2-3 juta untuk varian memori yang sama.

Kendati demikian, iQoo 15 mendapat banyak peningkatan, termasuk dari segi kamera yang kini kembali berlensa periskop dan kapasitas baterai. Apakah kelebihan yang ditawarkan bisa menjustifikasi harganya? Ikuti ulasan oleh 91Mobiles Indonesia di bawah.

Kesimpulan awal

iQoo 15 first and foremost adalah HP gaming yang mengutamakan performa maksimal. Namun, ponsel ini sudah berada di taraf di mana penggunanya bisa dengan nyaman melakukan hal-hal lain, tak melulu bermain game saja. Ia pun menjadi all-rounder yang mampu bersaing ketat dengan smartphone flagship di pasaran, ditambah dengan kinerja yang sangat tinggi.

Unboxing: Siap gaspol

Kotak kemasan iQoo 15 melanjutkan tradisi dengan warna latar hitam, hanya saja penamaan produk kini lebih menonjol dengan ukuran font lebih besar. Gambar siluet squircle di latar belakang merupakan representasi dari fitur Halo Dynamic Light yang diwarisi dari iQoo 13, di mana modul kamera dikelilingi oleh lampu LED RGB yang fungsi dan warnanya bisa diatur sesuai kehendak.

Review iQoo 15: HP Gaming yang Layak Jadi Flagship
iQoo 15 varian warna Legend (putih) dan kotak kemasannya.

Isi kelengkapan boks iQoo 15 sendiri lengkap dengan aksesori seperti layaknya kebanyakan HP modern. Meskipun tidak ada item ekstra yang menonjol -kecuali mungkin soft case berwarna senada dengan ponsel- pengguna iQoo 15 sudah bisa langsung gaspol memakai perangkat tanpa perlu merogoh kocek untuk membeli barang lain.

Di dalam kemasan terdapat unit charger dengan keluaran daya 100 watt sesuai dengan fast charging yang didukung iQoo 15, berikut kabel USB A ke USB C yang sama-sama berwarna putih. Terdapat pula booklet panduan singkat dan garansi serta sebuah SIM card ejector tool.

Review iQoo 15: HP Gaming yang Layak Jadi Flagship
Kelengkapan aksesori di dalam kemasan iQoo 15.

Desain: Bersih dan menarik

iQoo 15 mempertahankan ciri khas desain minimalis yang tampilannya bersih dan menarik tanpa harus norak dengan estetik ala “gamer”, meskipun hardware di dalamnya termasuk paling bertenaga saat ini.

Bodi iQoo 15 varian warna Legend alias putih di tangan 91Mobiles Indonesia memiliki finishing matte yang nyaris kebal sepenuhnya terhadap noda sidik jari. Terdapat logo “iQoo” dan slogan “Monster Inside” berukuran kecil di salah satu sisi, berikut lambang bernuansa racing yang diwariskan dari beberapa generasi terdahulu. 

Di Indonesia, iQoo 15 juga tersedia dalam pilihan warna lain, yakni Alpha atau hitam. Tampilannya lebih polos dengan hanya memuat logo “iQoo” yang nyaris tak terlihat karena berwarna gelap.

Bagian frame terbuat dari logam aluminium berwarna silver dengan finishing serupa, serta berbentuk flat tapi dengan pinggiran yang agak membulat sehingga terasa nyaman di tangan meskipun digunakan tanpa casing.

Di sisi atas terdapat IR blaster yang diletakkan berdampingan dengan mikrofon dan grille speaker kedua, sementara sisi bawah memuat laci SIM card yang bisa memuat 2 buah nano SIM tanpa microSD, berikut konektor USB C (USB 3.2) dan grille speaker pertama.

Perangkat dengan dimensi fisik 163,65 x 76,80 x 8,10 mm dengan bobot 215 gram ini juga mengantongi sertifikasi IP68/ IP69 sehingga sama tangguhnya dengan ponsel-ponsel flagship modern lain yang rata-rate sudah mengusung ketahanan tinggi terhadap debu dan air.

Layar iQoo 15 menggunakan panel LTPO AMOLED 6,85 inci (3.168 x 1.440 piksel) dengan refresh rate hingga 144 Hz dan tingkat kecerahan 2.600 nits (HBM). Di sisi bawahnya terdapat ultrasonic in-display fingerprint scanner yang bekerja dengan gesit dan akurat meskipun digunakan saat jari dalam keadaan basah.

Review iQoo 15: HP Gaming yang Layak Jadi Flagship
Halo Dynamic Light bisa dikustomisasi sesuai kehendak.

Satu elemen desain lainnya yang menarik adalah Halo Dynamic Light berupa lampu LED RGB di sekeliling pinggiran luar modul kamera. Lighting serupa sebelumnya sudah diterapkan di iQoo 13, kemudian diteruskan ke iQoo 15. Warna dan pola lampunya bisa dikustomisasi sesuai selera. Fungsinya pun bisa sebagai indikator notifikasi, event tertentu dalam game, atau dinyalakan terus menerus untuk memeriahkan suasana.

Kamera: Bersaing dengan flagship

Apabila dilihat sekilas di lembar spesifikasi, rangkaian kamera iQoo 15 terkesan masih identik dengan pendahulunya. Ponsel ini tetap datang dengan tiga buah kamera belakang beresolusi 50 MP dan kamera depan 32 MP. Perbedaan yang langsung terlihat mungkin hanya unit LED flash yang tidak lagi berbentuk cincin.

Namun, di balik tampilan camera island yang seperti tak berubah itu, iQoo sebenarnya merombak susunan kamera sehingga lebih canggih. Kamera utama kini menggunakan sensor 50 MP Sony IMX921 berukuran 1/1,56 inci (f/1.9, 24 mm, OIS), sementara kamera ultrawide datang dengan sensor 50 MP Samsung Isocell JN1 (f/2.0, 15 mm, AF).

Review iQoo 15: HP Gaming yang Layak Jadi Flagship
Modul kamera iQoo 15.

Paling menarik mungkin kamera telephoto yang mengembalikan lensa periskop dengan jangkauan zoom optis 3x (f/2.56, 85 mm, OIS) dengan sensor 50 MP Sony IMX882. Kamera depan bersensor 32 MP (f/2.2, 21 mm).

Dengan rangkaian kamera tersebut, iQoo 15 boleh dibilang memiliki kemampuan fotografi dan video bersaing dengan ponsel flagship dalam hal fleksibilitas pemotretan yang lengkap. Ponsel ini bisa merekam berbagai jenis objek, dekat maupun jauh, arsitektur dan pemandangan hingga detil halus.

Hasil fotonya sendiri, seperti bisa diamati dalam jepretan-jepretan 91Mobiles Indonesia, cenderung menghasilkan gambar dengan kontras tinggi dan warna yang punchy, tapi tetap konsisten antara ketiga kamera belakang.

Kamera utama menghasilkan gambar paling cemerlang di segala situasi karena memang sensornya adalah yang terbaik. Kamera telephoto dan ultrawide agak kedodoran di situasi low-light, tapi kualitasnya masih bagus. Di kondisi cahaya cukup, ketiga kamera nyaris tak bisa dibedakan dalam hal image quality.

Satu kekurangannya adalah dari segi fitur yang tak selengkap ponsel flagship dengan kamera lebih mumpuni, seperti misalnya Vivo X300 Pro dan Oppo Find X9 Pro, yang menyajikan resep warna khas pabrikan legendaris (Zeiss dan Hasselblad).

iQoo 15, misalnya, tidak memiliki simulasi bokeh lensa ikonik Zeiss seperti Vivo X300 Pro atau opsi video super lengkap berikut perekaman LOG di semua kamera seperti Oppo Find X9 Pro. Namun, sebenarnya fitur-fitur ekstra tersebut boleh dibilang tak terlalu esensial di penggunaan sehari-hari. Jepretan kamera depan iQoo 15 pun masih bisa diandalkan dengan hasil yang cerah serta efek bokeh yang halus dan presisi dalam mode Portrait.  



Meskipun bisa melakukan zoom hingga 100x, hasil zoom jarak jauhnya pun tak sebaik saudaranya dari Vivo meski sama-sama dibekali lensa dengan zoom optis yang mirip. Kemampuan sensor 200 MP di kamera telephoto X300 Pro masih sulit ditandingi dalam hal ini dengan membuahkan hasil lebiih tajam ketimbang iQoo 15.

Meskipun demikian, di luar segelintir pengguna yang sangat concern terhadap kemampuan kamera, rasa-rasanya iQoo 15 bisa memuaskan sebagian besar kebutuhan fotografi. Untuk menambah peluang berkreasi, ponsel ini juga menyertakan mode Humanistic yang umum ditemukan di ponsel Vivo dan bisa dipanggil dengan swiping dari bagian bawah interface aplikasi kamera.

Mode Humanistic mengetengahkan sejumlah filter warna yang bisa dikustomisasi lebih lanjut sesuai selera, misalnya dengan mengatur efek vignetting atau intensitas penerapannya. Terdapat juga mode full-manual dan sejumlah preset focal length populer untuk street photography mulai dari 24 mm hingga 100 mm.

Untuk kemampuan video, semua kamera di iQoo 15 sanggup merekam hingga 4K 60 fps. Kamera utama bisa setingkat lebih tinggi di 8K/ 30 fps. Terdapat opsi pengaturan manual lewat mode Pro (foto dan video), tetapi tidak ada perekaman dengan profil gamma Log.

Kinerja: Benar-benar monster

Dengan slogan “Monster inside”, aspek kinerja pastinya menjadi menu utama dari iQoo 15. Ponsel tersebut melanjutkan tradisi iQoo menjadi pabrikan pertama yang merilis perangkat dengan chipset teratas dan terbaru dari Qualcomm setiap tahun, kali ini Snapdragon 8 Elite Gen 5.

Sepert biasa, iQoo memadukan Snapdragon 8 Elite Gen 5 dengan chip pendamping khusus buatan sendiri, yaitu Supercomputing Chip Q3. Fungsinya adalah untuk mendongkrak kinerja gaming dengan menambahkan DA core (untuk upscaling), RT core (untuk ray tracing), dan AI core (untuk pengolahan fitur AI).

Dengan kata lain, Supercomputing Chip Q3 menjalankan fitur gaming andalan iQoo 15, yaitu full-scene ray tracing, super resolution (upscaling), dan interpolasi frame hingga 144 fps. Di dalam menu Settings, Vivo menyediakan daftar judul-judul game yang mendukung ketiga fitur tersebut, berserta opsi untuk mengunduhnya apabila belum terpasang di perangkat. Jumlahnya relatif belum terlalu banyak. Misalnya, untuk ray-tracing, hanya terdapat satu buah judul game MMORPG populer, Genshin Impact.

Untuk memorinya, iQoo 15 menggunakan RAM LPDDR5X Ultra/ LPDDR5X Ultra Pro dan storage UFS 4.1. Konfigurasinya tersedia dalam tiga pilihan: 12 GB/ 256 GB, 16 GB/ 512 GB, dan 16 GB/ 1 TB. jenis RAM LPDDR5X Ultra Pro hanya digunakan di varian tertinggi saja.

Komponen-komponen di atas didinginkan oleh cooler chamber berukuran besar dengan luas 8.000 mm persegi. iQoo 15 pun diklaim sanggup menjalankan game dengan frame rate tinggi secara konsisten tanpa mengalami penurunan kinerja, sekaligus menjaga suhu perangkat tetap dalam batasan normal.

Hasilnya? Perangkat ini menjelma menjadi “monster” yang menorehkan kinerja sangat tinggi di dalam game maupun benchmark sintetis. Untuk menfasilitasi aktivitas gaming, iQoo 15 menyediakan Game Sidebar yang dapat dipanggil dengan cara swiping dari sisi kiri layar untuk mengakses aneka fungsi.

Terdapat tiga profil kinerja bernama “Battery Saver”, “Balanced”, dan “Monster”, berikut slider refresh rate, brightness, jaringan, dan touch sampling rate yang dapat diatur sesuai keinginan kapanpun saat berada di dalam game. Yang menarik adalah tab “Q Chip Zone” di mana pengguna dapat mengakses fitur-fitur khusus dari Supercomputing Chip Q3 apabila didukung oleh game yang bersangkutan.

Misalnya, di game Genshin Impact, Q Chip Zone menyediakan opsi untuk menyalakan dan mematikan efek ray-tracing secara real time sehingga perubahannya bisa langsung dilihat di layar. Di game kompetitif seperti Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), tersedia opsi Super Resolution dan Super Frame Rate untuk mendongkrak kinerja agar game berjalan semulus mungkin.

Kinerjanya sendiri jelas tak perlu diragukan. MLBB bisa berjalan di setting grafis tertinggi dengan frame rate 144 fps dengan relatif konsisten, kecuali saat berlangsung war yang sangat ramai di layar, di mana frame rate bisa menurun ke kisaran 120-an fps.

Delta Force bisa dijalankan hingga setting grafis “Max” dengan frame rate “Ultimate” (60 fps). Pengguna bisa menurunkan setelan grafis ke “HD” agar bisa memilih frame rate 120 fps. Sayangnya, opsi 144 fps tak dapat dipilih. Namun, setidaknya game ini bisa berjalan di setting HD dengan frame rate 120 secara konsisten.

Genshin Impact mampu berjalan dengan setting grafis “Highest” dan target frame rate 60 fps secara mulus dan konsisten. Saat ray-tracing diaktifkan, perbedaannya cukup kentara, misalnya dari bayangan awan di tanah yang menutupi cahaya matahari. Kinerjanya tetap konsisten, tapi perangkat agak memanas.

Review iQoo 15: HP Gaming yang Layak Jadi Flagship
Perbedaan tampilan game Genshin Impact saat ray tracing diaktifkan (bawah) dan non-aktif.

Soal ini, iQoo 15 ternyata masih bisa mengalami throttling meskipun dibekali pendingin berukuran besar. Pengujian stress test dengan 3DMark Wild Life Extreme menunjukkan bahwa kinerja iQoo 15 berangsur menurun seiring dengan makin banyaknya loop yang dijalankan, sebelum akhirnya stagnan ketika suhu menyentuh kisaran 50 derajat celsius dengan nilai stabilitas 57,9 persen.

Review iQoo 15: HP Gaming yang Layak Jadi Flagship
Berdasarkan hasil stress test 3DMark dan burnout, iQoo 15 masih bisa mengalami throttling yang cukup signifikan apabila dipaksa bekerja keras terus menerus.

Baterai: Besar, tapi…

Mengikuti tren di industri smartphone, iQoo mendongkrak kapasitas baterai di ponsel gaming terbarunya sehingga kini mencapai 7.000 mAh, lebih besar dari baterai iQoo 13 sebelumnya yang berkapasitas 6.500 mAh.

Akan tetapi, angka tersebut ternyata tak lantas tercermin dalam daya tahan yang lama. Pengujian 91Mobiles dengan PCMark Work 3.0 battery life menghasilkan angka 13 jam 7 menit yang agak mengecewakan karena kalah dari saudaranya, Vivo X300 Pro, yang mencatat daya tahan 3 jam lebih lama.

Review iQoo 15: HP Gaming yang Layak Jadi Flagship
Skor benchmark AnTuTu v11 (kiri), Geekbench 6 (tengah) dan PCMark Work 3.0 battery life untuk iQoo 15.

Padahal, X300 Pro hanya dibekali baterai 6.510 mAh. Daya tahan baterai ponsel flagship lain seperti Oppo Find X9 Pro lebih lama lagi. Efisiensi daya Snapdragon 8 Elite Gen 5 di iQoo 15 boleh jadi masih tertinggal dari MediaTek Dimensity 9500 di kedua ponsel lain itu.

Untungnya, iQoo 15 bisa mengisi daya dengan cukup cepat, meski hanya berselisih tipis dari Vivo X300 Pro. Saat diuji dengan charger 100 watt dan kabel bawaan, baterai iQoo 15 terisi 17 persen dalam 10 menit, lalu 45 persen dalam 30 menit.

Setelah satu jam berlalu, kapasitas baterai menunjukkan angka 85 persen. Pengisian dari nol hingga penih memakan waktu sekitar 75 menit.

Kesimpulan

iQoo sekali lagi membuktikan kepiawaiannya merancang ponsel berkinerja tinggi yang sanggup menjalankan aneka game dengan mulus. Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang menjadi dapur pacunya memiliki performa sangat kencang, ditambah dengan fitur-fitur Supercomputing Chip Q3 yang berguna untuk menambah kemulusan bermain dan meningkatkan visual game.

Di luar urusan gaming, iQoo 15 pun bisa diandalkan sebagai ponsel harian all-around yang serba bisa. Semua hal sanggup ditangani dengan apik, termasuk kreasi konten berkat kemampuan kameranya yang mumpuni meskipun belum bisa menyamai flagship terkini.

Ditambah lagi, desainnya juga simple dan menarik tanpa terkesan norak ala ponsel gaming. Halo Dynamic Light di sekeliling modul kamera menambah aksen yang manis dan tampak indah di varian warna Legend lantaran punggungnya yang putih bersih.

Lantas, apakah iQoo 15 cocok buat Anda? Seperti biasa, jawabannya tergantung kebutuhan dan budget. Jika memerlukan kamera terbaik, mungkin flagship yang mengedepankan imaging seperti Vivo X300 Pro dan Oppo Find X9 Pro lebih cocok.

Apabila mencari ponsel berkinerja tertinggi, Anda dapat memiliih di antara tiga ponsel berbasis Snapdragon 8 Elte Gen 5 yang ada di Indonesia saat ini, yaitu iQoo 15, Redmagic 11 Pro, dan Poco F8 Ultra. Redmagic 11 Pro dibanderol lebih tinggi dengan selisih signifikan sehingga kompetitor langsung dari iQoo 15 adalah Poco F8 Ultra di kisaran Rp 12 juta.

Konsumen memang mesti merogoh kocek ekstra untuk membeli iQoo 15 yang dijual mulai Rp 13 juta hingga Rp 16 juta -lebih mahal dari iQoo 13 yang dijual Rp 10-12 juta pada saat peluncuran. Namun, ponsel ini menawarkan kapasitas media internal hingga 1 TB dan baterai lebih besar.

Sekali lagi, keputusan akhir berada di tangan konsumen. Apabila menjatuhkan pilihan pada iQoo 15, hal yang pasti adalah Anda akan mendapatkan salah satu smartphone berkinerja tertinggi saat ini yang mampu memenuhi berbagai macam kebutuhan dan layak menyandang julukan “flagship”.

Rating editor: 8/10

Kelebihan:
+ Kinerja sangat tinggi
+ Fitur gaming lengkap dan berguna
+ Kamera lebih bagus dari generasi sebelumnya
+ Desain minimalis tapi menarik

Kekurangan:
– Baterai besar, tapi tak tahan terlalu lama
– Selisih harga cukup jauh dari iQoo 13
– Masih bisa mengalami throttling karena panas

iQOO 15 Harga
Rp. 12.609.030
Pergi Ke Toko
Rp. 15.699.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review iQoo 15: HP Gaming yang Layak Jadi Flagship first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-iqoo-15-hp-gaming-yang-layak-jadi-flagship/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/02/iqoo_15_review_device-13-150x150.jpg150150