
Table of Contents
Situasi ini menyebabkan para pabrikan smartphone berada dalam posisi terjepit. Selagi harga memori meroket, kebutuhan akan DRAM dan NAND di ponsel masa kini justru tinggi. Sebabnya, fitur-fitur terkini yang mengandalkan model AI on-device seperti Gemini Nano membutuhkan sejumlah besar RAM dan media internal berkecepatan tinggi untuk bisa dijalankan secara lokal di perangkat.
Alasan lainnya adalah masa dukungan update sistem operasi yang lama, mencapai 7 tahun atau 7 generasi, menciptakan kebutuhan untuk menanamkan memori dalam jumlah mencukupi untuk antisipasi kebutuhan di masa depan alias future proofing. Jika kapasitas RAM atau storage terlalu sedikit, perangkat nanti bisa berjalan terseok meskipun sistem operasinya menggunakan versi terbaru.
Faktor lainnya yang ikut menekan para pabrikan ponsel di luar harga DRAM dan NAND, menurut laporan Android Police, adalah harga chipset yang semakin mahal. Misalnya, Qualcomm diyakini mendongkrak harga chipset flagship terbarunya, Snapdragon 8 Elite Gen 5 –chip yang bakal banyak digunakan di ponsel Android papan atas pada 2026- sebesar 20 persen dibandingkan generasi terdahulu.
Para pabrikan smartphone pun disinyalir pusing tujuh keliling. Mereka harus memutar otak untuk mengakali kenaikan harga sambil mempertahankan inovasi di calon perangkat baru. Hal tersebut agaknya bakal melibatkan sejumlah kompromi dalam aspek apa yang bisa diberikan selagi menjaga harga agar tak naik terlalu tinggi.
Sebagai contoh, calon lini flagship baru Samsung, Galaxy S26 Series, belakangan dikabarkan bakal memiliki rangkaian kamera yang sama dengan Galaxy S25 pendahulunya demi mengirit ongkos produksi. Sementara, Google Pixel 10a diduga akan menjadi sekadar Pixel 9a yang dinamai ulang.
Siasat-siasat lain bisa mengambil aneka bentuk, seperti jumlah promo trade-in, benefit peluncuran, dan deals lain yang lebih sedikit. Untuk segmen mid-range yang marginnya sudah tipis, kenaikan harga agaknya tak terhindarkan. Kalaupun tidak naik, mungkin fiturnya yang dikorbankan menjadi tak meningkat.
Efek situasi kelangkaan DRAM dan NAND di industri smartphone masih harus dilihat tahun depan. Sementara itu, para pemain di industri PC sudah babak belur di ronde pertama kenaikan harga. OEM seperti Dell dan Lenovo dilaporkan bersiap menaikkan banderol PC bikinannya sebesar 15-20 persen.
Harga komponen RAM di pasaran consumer sudah melejit. Modul DDR5-6000 32 GB kini dihargai Rp 5-6 jutaan. Padahal, beberapa bulan lalu banderolnya hanya setengah angka itu. Bahkan harga komputer mini Rasberry Pi mengalami kenaikan hingga ratusan ribu rupiah.
Situasi ini kemungkinan baru tahap awal karena harga DRAM dan NAND diprediksi bakal naik lebih tinggi lagi di “ronde-ronde” berikutnya di 2026. Konsumen PC sudah menjerit. Apakah pengguna smartphone akan bernasib sama?