
Qualcomm belum lama ini telah meluncurkan chipset flagship terbaru mereka pada Snapdragon Summit bulan lalu, yakni Snapdragon 8 Elite. Ini merupakan penamaan yang berbeda dari seri pendahulunya yang memakai nama Snapdragon “8 Gen 3”.
Pengubahan nama yang semestinya Snapdragon 8 Gen 4 menjadi 8 Elite lantaran untuk menyelaraskan produk chipset HP dengan prosesor laptop bernama Snapdragon X Elite. Bahkan, Snapdragon 8 Elite sendiri sudah tidak lagi memakai core Kryo, melainkan inti custom “Oryon”.
Chipset ini mengalami peningkatan clock speed cukup drastis, kini mampu mencapai 4,32 GHz alias lebih besar 1 GHz dari seri pendahulunya. Akan tetapi, kini beredar kabar bahwa Snapdragon 8 Elite memiliki kemungkinan isu overheating.
Perusahaan Qualcomm dan MediaTek memang sudah tidak lagi memakaikan inti efisiensi sejak Snapdragon 8 Gen 3 dan Dimensity 9300.
Pihak Qualcomm menjelaskan alasan di balik penghapusan core hemat daya pada Snapdragon 8 Elite. Pada acara Snapdragon Summit, Qualcomm menjelaskan bahwa inti performa mereka dapat bekerja di tegangan rendah untuk tugas ringan sehingga konsumsi dayanya tidak jauh berbeda dari inti efisiensi.
Dengan begini, inti performa tetap dapat beroperasi di kecepatan rendah saat menangani tugas ringan tapi tetap bisa meraih kecepatan tinggi saat diperlukan, berdasarkan keterangan Qualcomm yang dihimpun 91mobiles Indonesia dari Android Central.
Belum diketahui pasti apakah absennya core efisiensi daya ini berpengaruh pada kecenderungan ponsel mengalami overheating. Sejauh ini, kecurigaan penyebab terjadinya overheating lebih ditujukan pada optimasi HP tertentu.
Table of Contents
Realme GT 7 Pro merupakan salah satu ponsel pertama yang diotaki dengan Snapdragon 8 Elite. Sebagaimana dihimpun 91mobiles Indonesia dari 9to5Google, ponsel ini juga merupakan salah satu HP pertama yang diuji coba oleh para reviewer.
Nah, rupanya para reviewer tersebut dengan cepat menyadari bahwa perangkat yang mereka uji mudah terasa hangat. Dua penguji yang merasakannya adalah author di situs Android Authority dan Digital Trends. Keduanya bahkan sampai menerima pesan peringatan panas dari perangkat Realme GT 7 Pro yang diuji.
Pesan peringatan yang diterima rupanya datang saat perangkat melakukan benchmarking. Proses benchmark akan memberikan beban yang sangat berat pada perangkat, lebih berat dari skenario penggunaan sehari-hari. Jadi, kasus ini tidak sepenuhnya dapat dijadikan patokan untuk menggambarkan pemakaian nyata.
Namun yang tetap perlu menjadi perhatian, kemunculan pesan peringatan panas seperti ini sebenarnya jarang terjadi pada proses benchmarking, terutama sampai sistem Android perlu menghentikan proses benchmark karena saking panasnya. Apalagi mengingat Realme GT 7 Pro sudah dibekali sistem pendingin dengan vapor chamber berukuran luas yang seharusnya bisa mengurangi kemungkinan overheating.
Sebelumnya sempat disinggung bahwa sebuah perangkat akan menangani beban kerja lebih berat saat benchmark, dibandingkan saat digunakan sehari-hari. Jadi, seharusnya potensi isu overheating ini tidak akan begitu mengkhawatirkan ketika dipakai untuk aktivitas selain benchmarking.
Masih berdasarkan sumber yang sama, Realme GT 7 Pro rupanya masih terasa nyaman saat dipakai bermain game. Ketika memainkan Asphalt Legends United selama 30 menit (pencahayaan layar maksimal, GT Mode aktif), perangkat hanya sedikit terasa panas, menurut pengakuan reviewer di laman Digital Trends.
Reviewer dari Android Authority menyebutkan bahwa Realme GT 7 Pro gagal menyelesaikan pengujian GPU 3DMark Stress Test. Saat di tengah-tengah proses benchmark, sistem Android mematikan proses tersebut lantaran dianggap terlalu panas. Pesan peringatan pun muncul dalam laman notifikasi kalau HP terasa panas dan sejumlah fungsi tidak dapat digunakan (contohnya, LED Flash). Bahkan, perangkat dibatasi sementara waktu dan hanya bisa membuka beberapa aplikasi, hanya memperbolehkan aktivitas panggilan telepon.
Barulah ketika menggunakan aplikasi 3DMark yang disamarkan sebagai aplikasi lain, proses benchmarking berjalan tanpa kendala. Tiga Stress Test yang dilakukan (Wild Life, Wild Life Extreme, dan Solar Bay) mengungkapkan hasil skor stabilitas 68,7 persen, 66,7 persen, dan 64,3 persen.
Setelah pengujian selesai, perangkat diketahui mencapai suhu 45 derajat Celsius paska diujikan Wild Life Stress Test. Sedikit lebih panas dari suhu puncak Galaxy S24 Ultra dan Google Pixel 9 Pro XL.
Fakta bahwa pengujian 3DMark baru bisa dilakukan dengan cara “disamarkan”, bisa menjadi pertanda bahwa Realme GT 7 Pro melakukan manipulasi pada proses benchmark.
Perangkat ini pun akhirnya diujikan lagi dengan Geekbench 6 versi “spoof” (dimanipulasi agar tidak dikenali sistem sebagai Geekbench 6). Hasilnya sesuai yang disangka, skor single-core dan multi-core menurun sebanyak 63 persen dan 47 persen.
Awalnya Realme GT 7 Pro meraih skor 3.011 poin (single-core) dan 9.143 poin (multi-core) saat memakai aplikasi Geekbench 6 versi stock, namun menurun menjadi 1.110 poin (single-core) dan 4.857 poin (multi-core) memakai versi “spoof”. Hal ini membuat skor single-core miliknya berada di bawah Google Pixel 9 Pro yang memakai chip Tensor.
Alasan di balik melakukan pengujian ulang dengan Geekbench 6 yang disamarkan, karena ada dugaan Realme GT 7 Pro sengaja “dirancang” untuk mengeluarkan performa setinggi-tingginya saat mendeteksi aplikasi benchmark. Ini juga yang diduga menyebabkan ponsel tersebut terasa panas saat diujikan 3DMark.
Realme menyebut bahwa hasil skor Geekbench 6 yang semula terlihat sangat tinggi sebagai “optimalisasi yang ditargetkan terkait manajemen suhu dan performa”. Realme pun menganggap ini sebagai “praktik umum di industri”.
Reviewer di laman Android Authority juga telah melakukan ujicoba benchmark pada HP lain yang memakai chip Snapdragon 8 Elite. Namun, identitas HP tersebut masih dirahasiakan.
HP tersebut tidak mengalami perbedaan performa yang menurun drastis saat dites memakai aplikasi Geekbench 6 versi “spoof”. HP tersebut juga dapat melalui pengujian tiga Stress Test GPU dengan lancar.
Selain HP tersebut, pihak Android Authority juga berhasil melakukan benchmark Wild Life Stress Test pada perangkat Qualcomm yang dipamerkan di Snapdragon Summit. Jadi, pada intinya, ponsel-ponsel lain yang memakai Snapdragon 8 Elite terbukti bisa menyelesaikan benchmark tanpa terkendala force close dan peringatan panas.
Para reviewer tampaknya masih perlu menunggu hingga ponsel-ponsel Snapdragon 8 Elite lainnya meluncur di pasaran. Ini untuk memastikan apakah isu overheat terjadi juga pada ponsel-ponsel lainnya atau hanya pada Realme GT 7 Pro saja.