Ringkasan Tinjauan
Peringkat Pakar
Pada Februari 2025 lalu, Honor X9c hadir di Indonesia dengan ponsel layer lipat Honor Magic V3. Honor X9c sekilas terdengar seperti peningkatan dari Honor X9b yang rilis tahun lalu. Namun, jika melihat lebih dekat pada spesifikasinya, tampaknya tidak demikian. Sebab, Honor X9c lebih condong merupakan sebuah varian baru dengan hanya satu peningkatan utama, yakni pada kapasitas baterai. Sayangnya, peningkatan tersebut mesti dibayar dengan hilangnya satu kamera di belakang.
Pertanyaannya, seberapa sanggup Honor X9c bersaing di segmen harganya? Hal ini mengingat iQoo Z10 tersedia di rentang harga yang sama. Untuk menjawab pertanyaan ini, silakan simak review lengkap berikut ini.
Table of Contents
Kesimpulan
Honor X9c layak dipertimbangkan lantaran punya desain bodi yang ramping dan Tangguh, baterai besar, layer yang cerah dan hidup, serta performa gesit untuk penggunaan sehari-hari. Namun, kameranya bukan yang terbaik, dan bagi pengguna yang mencari performa lebih tinggi, ada pilihan lain yang lebih layak.
Desain bodi ramping dan tangguh
Tim 91mobiles pernah menguji ketangguhan Honor X9b tahun lalu dengan cara melindasnya menggunakan mobil, dan perangkat bersangkutan tetap selamat. Penerusnya, Honor X9c, mempertahankan desain tangguh yang sama. Ponsel ini telah tersertifikasi ketahanan jatuh SGS, berkat material peredam benturan yang disebut cushioning technology yang diklaim mampu melindungi layer dari jatuh hingga ketinggian 1,5 meter. Meski begitu, rasanya akan lebih baik jika Honor meningkatkan IP rating dari IP65 menjadi IP68 atau IP69, agar mendapatkan perlindungan terhadap debu dan air yang lebih maksimal.
Secara desain, Honor X9c menawarkan sedikit perubahan dibandingkan pendahulunya. Modul kamera yang melingkar di sisi belakangnya kini memiliki tepian miring, memberikan tampilan yang lebih mulus dan elegan. Tonjolan kamera ini dikelilingi oleh cincin berwarna yang senada dengan bodi ponsel, menghadirkan kesan visual yang serasi. Bagian tengah camera island yang menampung sensor kamera dan lampu Flash tetap berwarna hitam pekat, menciptakan kontras yang mencolok. Tulisan “Matrix 108 MP Sensor”, yang muncul pada generasi pendahulunya, kini diposisikan secara vertikal di tengah modul.

Honor X9c ditawarkan dalam dua pilihan warna yakni Titanium Black dan Jade Cyan. Unit yang diuji 91Mobiles adalah varian Jade Cyan, memiliki pola menyerupai marmer di sisi belakang sehingga memberikan kesan kokoh dan premium. Sisi backdoor memiliki finishing matte, nyaman digenggam dan tidak licin, sementara sisi-sisinya yang melengkung secara halus guna membuat perangkat mudah dipegang. Secara keseluruhan, ponsel ini tampak begitu ramping dan stylish.
Perihal penempatan port dan tombol, perangkat ini memiliki port USB-C untuk pengisian daya dan transfer data di sisi bawah. Terdapat juga konfigurasi stereo speaker (atas dan bawah) yang menghasilkan suara jernih pada kondisi volume tinggi sekalipun. Selain itu, sensor sidik jari di layar bekerja dengan cepat dan akurat meskipun posisinya agak rendah, sedikit kurang nyaman dijangkau.
Layar yang terang dan berwarna cerah
Honor X9c hadir dengan teknologi panel layar AMOLED curved berukuran 6,78 inci beresolusi 1,5K, refresh rate 120 Hz, cakupan warna 100 persen DCI-P3, tingkat kecerahan maksimal hingga 4.000 nit, serta dukungan HDR10+. Panel ini secara umum masih sama dengan pendahulunya, namun ini memiliki dua perbedaan utama: lubang kamera berbentuk pil dan tingkat kecerahan yang jauh lebih tinggi.
Peningkatan kecerahan ini membuat visibilitas layar lebih oke saat dibaca di bawah terik matahari langsung. Berdasarkan pengalaman penggunaan, tampilan layar tetap jelas dan nyaman dibaca baik di dalam ruangan maupun di luar, meski perlu dicatat bahwa pengujian dilakukan saat cuaca mendung, bukan di tengah teriknya musim panas Delhi.

Lubang kamera depan berbentuk pil ini tampaknya terinspirasi dari Honor 200 Pro, yang memiliki dua sensor depan untuk selfie dan panggilan video. Namun pada Honor X9c, hanya ada satu kamera selfie di lubang tersebut, yang bahkan tidak sepenuhnya mengisi ruang yang tersedia. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang alasan desainnya, apalagi bentuk pil tersebut sedikit mengurangi immersion saat menonton konten. Pengguna memang dapat menyembunyikan area cutout pada dual punch-hole tersebut, yakni dengan menambahkan bilah hitam yang bisa dianggap sebagai “bezel virtual”. Akan tetapi, bezel tersebut cukup tebal dan benar-benar mengurangi rasio aspek ke layar.
Terlepas hal demikian, layar perangkat ini tetap menawarkan pengalaman visual yang tajam, dengan hitam yang pekat, warna-warna yang cerah, serta sudut pandang yang luas. Ponsel ini juga telah tersertifikasi Widevine L1 sehingga dapat memutar konten dari Netflix dan layanan streaming lain dalam resolusi Full HD.
Untuk kenyamanan mata, layar ini dilengkapi teknologi peredupan dinamis hingga 3.840 Hz serta mode Circadian Night, dapat menyesuaikan suhu warna layar pada malam hari untuk mengurangi paparan cahaya biru. Namun, fitur Circadian Night ini perlu diaktifkan secara manual melalui menu pengaturan.
Kurang menggoda bagi penggemar fotografi
Honor X9c masih dibekali konfigurasi kamera yang sama dengan pendahulunya, yakni sensor kamera 108 MP dan ultrawide 5 MP di sisi belakang. Akan tetapi, kali ini kamera 2 MP yang ada pada Honor X9c kini dihilangkan.

Kesan terhadap kamera tersebut tak jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Kamera utama ini memberikan hasil terbaik dalam kondisi pencahayaan terang, dengan warna yang cukup kontras. Meski begitu, tingkat ketajaman dan detailnya terasa kurang memuaskan, terlebih jika melihat harganya di kisaran Rp 5 jutaan. Foto portrait miliknya juga tampil biasa saja, dengan pemisahan subjek yang tidak akurat, bagian edge yang agak terdistorsi, dan detail yang kurang tajam.

Sementara itu, kamera ultrawide miliknya hanya menghasilkan foto lanskap yang tampak grainy alias berbintik, dengan warna yang cenderung pucat. Hasil foto low light dan selfie sebenarnya masih bisa ditoleransi, namun kurang cukup baik untuk membuat Honor X9c unggul di kelasnya. Secara keseluruhan, setup kamera ini terasa kurang memadai untuk kategori harga Rp 5 juta, sehingga Honor X9c kurang direkomendasikan bagi pengguna yang mengutamakan fotografi.
Performa ideal untuk pemakaian sehari-hari
Honor X9c disokong oleh chipset Snapdragon 6 Gen 1, tidak berubah dari pendahulunya, Honor X9b. Chip ini memberikan performa yang cukup baik untuk aktivitas ringan sehari-hari seperti scrolling media sosial, streaming, dan browsing. Namun, performanya masih tertinggal dibandingkan sejumlah ponsel terbaru di kelas harga yang sama, terutama dalam hal raw performance dan kemampuan pemrosesan berat.
Skor AnTuTu Honor X9c sebesar 576.392 poin, lebih rendah dari iQoo Z10 yang sebesar 804.936 poin (menggunakan Snapdragon 7s Gen 3). Meskipun skor Geekbench miliknya tergolong di atas rata-rata (939 poin untuk single-core dan 2.799 untuk multi-core), hasilnya tetap kalah dibandingkan pesaingnya.
Meski begitu, Honor X9c menunjukkan hasil yang cukup solid dalam uji Burnout CPU Throttle, dengan efisiensi mencapai 80 persen, menandakan manajemen suhu yang baik. Namun, perangkat ini tidak dirancang untuk pemakaian berat. Dalam praktiknya, Honor X9c mulai tersendat ketika melakukan multi-tasking, terutama ketika banyak aplikasi yang aktif di latar belakang.
Selain itu, kameranya kesulitan menjaga konsistensi saat mengambil foto berturut-turut, kalah stabil dibandingkan salah satu rivalnya.
Honor X9c mampu menjalankan berbagai game, termasuk yang menuntut grafis tinggi seperti BGMI (PUBG Mobile versi India), Call of Duty: Mobile, dan Real Racing 3. Dalam pengujian selama 30 menit untuk masing-masing game, perangkat ini dapat menanganinya tanpa penurunan frame rate yang signifikan. Namun, selama sesi tersebut, suhu perangkat meningkat sekitar 14 derajat Celsius secara keseluruhan, angka yang masih tergolong cukup impresif untuk ponsel dengan desain setipis ini.
Kendati demikian, Honor X9c bukan yang paling efisien secara termal di kelasnya. Berdasarkan pengujian, Infinix GT 30 pro masih menjadi pemimpin dalam hal pengendalian suhu. Jadi, bagi pengguna yang lebih fokus pada gaming, Infinix GT 30 Pro bisa menjadi pilihan yang lebih ideal.
Secara keseluruhan, Honor X9c cukup andal untuk gamer kasual. Ponsel ini dibekali RAM 8 GB dan storage 256 GB, namun tidak mendukung ekspansi memori tambahan.
Sisi software yang perlu disempurnakan
Honor X9c berjalan pada Android 15 berpoleskan antarmuka MagicOS 9 secara out-of-the-box. Antarmukanya terasa intuitive, namun terdapat sejumlah aplikasi prainstal yang mungkin tidak terlalu dibutuhkan. Untungnya sejumlah aplikasi ini masih bisa dihapus. Tampian antarmukanya terlihat jauh dari gaya Android stock murni dan tidak selengkap skin Android custom lain dalam hal fitur.
Ponsel ini menawarkan sejumlah fitur berbasis AI seperti Circle to Search, asisten suara Google Gemini, serta alat pengeditan foto seperti AI Eraser dan AI Recompose. Fitur-fitur ini mampu menangani pengeditan sederhana dengan cukup baik, namun performanya terasa biasa saja. Untuk skenario kompleks seperti menyesuaikan bayangan atau menghapus objek yang jauh di latar belakang, hasilnya sering tampak kurang sempurna, meninggalkan noda atau area tidak alami pada bagian yang “diisi”.
Tampaknya masalah-masalah tersebut masih bisa diperbaiki via pembaruan OS di masa depan. Honor X9c diperkirakan akan menerima 2 pembaruan OS utama dan 3 tahun patch keamanan, masih sesuai dengan standar di kelasnya.
Baterai cukup awet
Perangkat mid-range ini disuplai dengan baterai 6.600 mAh, meningkat dibandingkan pendahulunya yang sebesar 5.800 mAh. Menariknya, peningkatan kapasitas ini tidak membuat bodi menjadi lebih tebal atau berat, tetap memiliki ketebalan 7,98 mm dan bobot 185 gram. Hal ini lantaran ponsel menggunakan teknologi baterai silikon-karbon dengan kepadatan energi lebih tinggi dibandingkan baterai Li-Ion konvensional tanpa menambah ukuran fisik.
Sayangnya, optimalisasi daya pada Honor X9c tampaknya masih belum maksimal. Ini karena pengujian hasil sintetis dan penggunaan nyata menunjukkan skor yang lebih rendah dari ekspektasi. Bahkan, sejumlah ponsel lain dengan kapasitas 5.500 mAh di kelas harga yang sama berhasil tahan lebih lama di pengujian PC Mark.

Dalam pengujian streaming video YouTube selama 30 menit dan bermain game selama 90 menit, baterai berkurang hingga 24 persen, lebih terkuras banyak dibandingkan iQoo Z10. Namun untuk penggunaan harian biasa, Honor X9c masih mampu bertahan seharian penuh dengan mudah. Dalam skenario pemakaian normal, ponsel ini biasanya menyisakan sekitar 30 persen daya di penghujung hari. Saat dicas, dukungan fast charging 66 watt mampu mengisi daya dari 20-100 persen dalam waktu kurang dari satu jam. Meski tergolong cepat, iQoo Z10 tetap lebih unggul karena dapat mengisi penuh baterai 7.300 mAh hanya dalam 42 menit menggunakan charger 90 watt miliknya.
Selain itu, Honor X9c dilengkapi dengan lapisan pelindung khusus pada baterai dan sistem manajemen daya cerdas yang diklaim mampu beroperasi dengan aman pada suhu ekstrem antara -30 hingga 55 derajat Celsius.
Kesimpulan
Honor X9c dirilis di Indonesia pada Februari 2025 dengan harga Rp 5.999.000. Ponsel ini sebenarnya cukup bagus, namun karena persaingan ponsel yang kini semakin ketat, ponsel ini kalah saing dengan iQoo Z10 dengan tawaran nilai lebih baik di segmen harga yang sama.
Alhasil, Honor X9c bukan menjadi pilihan utama bagi pengguna yang mengutamakan raw performance atau kemampuan kamera terbaik. Meski begitu, ponsel ini tetap layak dilirik jika kebutuhan Anda berfokus pada penggunaan harian yang stabil dan kenyamanan menikmati konten multimedia. Ponsel ini menonjol berkat desain bodinya yang ramping namun tangguh, layar AMOLED yang terang dan berwarna cerah, performa gesit untuk pemakaian ringan, dan baterai besar dalam bodi yang tipis.
Alasan membeli:
- Bodinya ramping, stylish, dan punya ketahanan baik terhadap benturan.
- Layar AMOLED curved yang terang baik di dalam maupun luar ruangan.
- Daya tahan baterai oke untuk pemakaian sehari-hari, termasuk browsing, streaming, dan scrolling.
Alasan tidak membeli:
- Setup kamera kurang memadai.
- Performa kalah saing.

