Itel resmi memperkenalkan Itel A80 di Indonesia pada 10 September kemarin, menyasar pasar harga entry-level di harga Rp 1 jutaan. Ponsel ini menghadirkan keunggulan pada beberapa aspek sekaligus seperti kamera, desain bodi, serta harganya yang terjangkau.
Ponsel ini juga unik lantaran menampilkan desain kamera punch hole di harga terjangkau, serta memiliki dapur pacu yang lumayan bertenaga untuk sehari-hari dan bermain game. Di harga rilisnya yang hanya Rp 1,2 jutaan, Itel A80 adalah salah satu ponsel paling layak di kelasnya. Namun di segmen yang cukup kompetitif ini, mampukah Itel A80 menonjol dibandingkan pesaingnya? Simak berikut ini.
Table of Contents
Itel A80 merupakan ponsel entry-level yang layak dipertimbangkan bagi pengguna yang membutuhkan ponsel dengan layar besar untuk membaca dan menonton konten. Kameranya juga cukup memadai untuk kelas harganya, meski tentu saja ekspektasi perlu disesuaikan.
Itel A80 menampilkan bodi belakang yang simpel dan minimalis. Ponsel ini ditawarkan dalam tiga varian warna, cukup jarang di kelas harganya. Unit yang diterima 91Mobiles merupakan varian Wave Blue yang menampilkan pola garis halus pada bagian belakang, memberikan kesan elegan tanpa membuatnya terlihat “norak”. Sementara itu, dua opsi lainnya yakni Glacier White dan Sandstone Black, hadir dengan pola khas masing-masing, menawarkan variasi tampilan yang dapat disesuaikan dengan selera pengguna.
Semua tiga varian warna ini memiliki konsep desain yang sama, dengan dua bulatan kamera di punggung yang memuat setup kamera ganda. Modul kamera demikian ini tampaknya mengambil inspirasi dari iPhone 16, meskipun ukuran LED Flash miliknya tampak kebesaran untuk memberi kesan sebagai kamera ketiga. Bahkan keempat sisinya dan juga bingkai yang rata menjadikannya mirip seperti iPhone terbaru.
Dari sisi dimensi bodi, Itel A80 punya ketebalan 8,54 mm dengan bobot 195 gram, tergolong standar untuk ponsel entry-level di harga sejutaan. Namun menariknya, HP terjangkau ini sudah tersertifikasi IP54 sehingga dapat mengurangi risiko rusak saat terkena debu dan percikan air. Ini membuatnya cocok dipakai sebagai sarana driver online, terutama di saat curah hujan sedang tinggi.
Sebagai ponsel murah, bodinya tentu terbuat dari bahan plastik. Namun, ponsel ini tetap terasa kokoh dan tidak murahan. Penempatan port-nya cukup standar yakni USB-C dan jek audio 3,5 mm di sisi bawah, sementara tombol daya dan volume terletak di sisi kanan. Di sisi kirinya pun terdapat laci kartu SIM yang mendukung Dual SIM.
Secara ukuran dan bobot, smartphone ini terasa ergonomis dan nyaman digenggam, terutama bagi pengguna yang menyukai ponsel berlayar besar. Itel A80 hadir dengan layar IPS berukuran 6,67 inci beresolusi HD Plus (1.600 x 720 piksel) dan refresh rate 120 Hz, spesifikasi yang umum di kelas harganya. Dengan begitu, pengalaman visualnya tidak membawa terobosan baru, namun tetap menawarkan kecerahan memadai dan warna yang cukup baik, meski tidak secerah panel AMOLED.
Kami menguji kualitas layar ponsel ini dengan menampilkan beberapa video YouTube, dan kualitasnya memang cukup baik untuk kelas harganya. Namun, ponsel ini hanya mendukung sertifikasi DRM Widevine L3, sehingga tidak dapat menampilkan konten Netflix di resolusi Full HD. Keterbatasan ini lumrah untuk ponsel di kelasnya, dan bukan untuk dianggap sebagai kekurangan.
Itel A80 menampilkan lampu LED kecil yang “tersembunyi” di bawah bezel hitam di sisi atas layar. Lampu LED ini menyala setiap ponsel dicas atau ketika kamera depan sedang aktif untuk selfie. Meski fungsinya tidak terlalu beragam, namun fitur ini terasa unik dan menyenangkan untuk ponsel di harga Rp 1 jutaan kecil.
Seperti kebanyakan ponsel kelas budget di segmennya, Itel A80 menawarkan setup kamera sederhana dengan sensor utama 50 MP sebagai andalannya. Panel belakangnya juga memiliki lensa kamera sekunder, meski lebih berfungsi sebagai elemen desain ketimbang peningkatan fungsionalitas. Di sisi depannya, terdapat kamera selfie 8 MP yang ditempatkan dalam lubang punch hole, memberikan tampilan lebih segar dan modern dibandingkan waterdrop notch yang masih digunakan mayoritas ponsel Rp 1 jutaan lainnya. Desain punch hole ini membantu menciptakan kesan layar yang lebih bersih dan immersive, sekaligus mengurangi tampilan bezel tebal.
Berdasarkan hasil pengujian, performa kamera Itel A80 tergolong cukup baik, meski tidak menonjol. Ponsel ini memang menawarkan beragam fitur pemotretan, namun hasil fotonya cenderung kurang kaya warna dan detail. Dalam kondisi pencahayaan yang cukup, Anda masih dapat menghasilkan foto yang tajam, namun pemotretan di kondisi minim cahaya cukup buruk. Selain itu, kamera juga kesulitan menangkap warna kulit subjek manusia secara konsisten, dan mode portrait masih jauh dari ideal, seperti yang terlihat pada perbandingan berikut.
Itel A80 disokong oleh chipset Unisoc T603, dipadankan dengan RAM 4 GB. Varian dasarnya memiliki penyimpanan internal 128 GB eMMC 5.1 yang di atas kertas tampak mengesankan. Namun, standar memori ini masih lebih lambat dibandingkan UFS 2.2, baik dalam kecepatan data maupun tulis.
Untuk aktivitas sehari-hari seperti browsing ringan, berkirim pesan, menelepon, dan bermain game sederhana, performa Itel A80 tergolong cukup meski kadang terasa lagging atau stutter. Tidak ada masalah performa yang berarti selama pengujian, namun waktu booting yang lama bisa terasa mengganggu dalam pemakaian jangka panjang.
Karena menggunakan Android 14 Go Edition, ponsel ini memang tidak dibekali banyak aplikasi pihak ketiga. Meski begitu, rupanya justru terdapat banyak aplikasi bawaan dari Itel yang sebagiannya mungkin tidak terlalu berguna. Dalam pengalaman kami, aplikasi Google bawaan tetap terasa lebih fungsional dan efisien dibandingkan aplikasi bawaan dari Itel, misalnya untuk menjelajahi internet atau mengunduh aplikasi.
Berdasarkan pengujian kami, Itel A80 hanya meraih skor AnTuTu v10 di angka 157.831 poin, sangat rendah untuk dimanfaatkan sebagai ponsel gaming, terutama untuk beberapa judul berat seperti PUBG Mobile dan COD Mobile. Perangkat ini juga mendapatkan skor cukup rendah di Geekbench 6 yakni 215 poin untuk single-core dan 875 poin untuk multi-core. Terbilang rendah, karena dengan menambahkan beberapa ratus ribu saja Anda sudah bisa memiliki ponsel yang dibekali Helio G85 atau bahkan Helio G99, yang pastinya lebih siap dipakai untuk gaming.
Pengalaman bermain game di Itel A80 juga tidak dapat dikatakan istimewa, karena perangkat ini memang ditujukan untuk pengguna entry-level. Sebaiknya jangan berharap terlalu tinggi untuk menjalankan game berat seperti BGMI (PUBG Mobile versi India) atau COD Mobile di HP ini. Sebaliknya, jika Anda lebih suka game ringan dan kasual seperti Ludo atau Subway Surfer, performanya akan terasa cukup lancar dan memadai.
Itel A80 dibekali baterai dengan kapasitas 5.000 mah, disertai fitur pengisian daya 10 watt via kabel. Daya tahan baterainya tergolong awet, berkat layar LCD beresolusi HD Plus yang memang tidak terlalu boros baterai.
Dengan hardware yang cukup sederhana, pengguna bisa mengandalkan ponsel ini untuk penggunaan seharian penuh dalam aktivitas dasar seperti menelepon, berkirim pesan, atau berselancar di internet. Hal positif lainnya adalah kehadiran port USB-C, sebuah peningkatan yang patut diapresiasi dibandingkan port Micro USB yang masih sering dijumpai di segmen entry-level. Tampaknya kehadiran port USB-C di HP semurah ini adalah dampak dari mandat Uni Eropa dalam menyeragamkan lubang port di seluruh alat elektronik.
Walau baterainya awet, kecepatan pengisian dayanya yang cuman 10 watt tergolong lambat, terutama jika dibandingkan dengan ponsel Rp 1 jutaan lain yang sudah mendukung fast charging 18 watt. Dalam pengujian, pengisian daya dari 20-100 persen perlu waktu hampir 2,5 jam.
Secara garis besar, Itel A80 adalah pilihan cukup layak bagi pengguna entry-level yang mencari ponsel dengan layar besar untuk menonton YouTube Shorts, membaca, serta bertelepon atau berkirim pesan. Kamera miliknya juga tergolong lumayan, meski pengguna tetap perlu menyesuaikan ekspektasi.
Dikarenakan Itel A80 dibanderol seharga Rp 1.299.000, jelas saja smartphone ini belum didukung dengan 5G dan masih mentok di 4G. Nyaris tidak ada ponsel sejutaan di Indonesia yang dilengkapi 5G kecuali “rival”-nya dari perusahaan yang sama, yakni Itel P55 5G.
Jika dukungan 5G bukan prioritas Anda dan hanya membutuhkan ponsel 4G sederhana yang mudah digunakan untuk sendiri atau orang tua, Itel A80 bisa menjadi opsi ponsel entry-level yang layak, apalagi dengan banderol harga yang sangat terjangkau.
Rating editor: 7,5 / 10
Alasan membeli:
Alasan tidak membeli: