Punya budget di kisaran Rp 6 jutaan? Anda mungkin tidak mau melewatkan Samsung Galaxy A37 yang hadir dengan fitur-fitur menarik. Perangkat ini merupakan penerus dari Galaxy A36 yang meluncur pada tahun lalu, kini kembali menggunakan chipset Exynos besutan sendiri setelah sebelumnya sempat beralih ke Snapdragon.
Pengalaman tim 91Mobiles Indonesia saat menjajal Galaxy A37 pun cukup memuaskan. Ponsel ini sanggup menunjang kebutuhan produktivitas dan hiburan dengan baik dengan performa yang meningkat, bodi ramping, dan pengalaman kamera yang memadai.
Table of Contents
Tampilan bodi Samsung Galaxy A37 tidak berbeda dengan pendahulunya, namun masih sama-sama ramping dan juga menawan. Kini Samsung membekalinya dengan IP68, sekaligus memberikan sedikit peningkatan pada kamera utama. Terdapat peningkatan performa untuk bermain game, serta dijanjikan masa pembaruan Android hingga 6 tahun. Meski begitu, kapasitas baterai dan sejumlah hal lainnya tidak mengalami perubahan.
Samsung Galaxy A37 hadir dalam sebuah kotak kemasan berukuran tipis. Dengan boks berwarna dominan putih, isiannya memang tidak terlalu lengkap dibandingkan mayoritas ponsel lain.
Selain menyediakan unit ponsel, boks penjualan ini hanya berisikan kabel data berwarna putih, buku panduan, dan alat pembuka laci kartu SIM. Ya, Samsung menjadi satu dari segelintir brand ponsel yang sudah tidak lagi menyertakan kepala charger di dalam boksnya.
Meski tidak dibekali charger, fitur pengisian daya pada HP ini sebenarnya tergolong bersaing yakni 45 watt. Walau sudah banyak ponsel lain yang didukung daya lebih besar, Galaxy A37 setidaknya lebih baik dari Galaxy S26 yang masih memakai daya 25 watt. Hanya saja, sayangnya Anda mesti membeli charger yang sesuai secara terpisah.
Melanjutkan bahasa desain sebelumnya, Galaxy A37 kembali menawarkan modul kamera berbentuk kapsul yang memuat tiga kamera belakang. Hal ini kontras dengan beberapa seri Galaxy A terdahulu yang lensa-lensa kameranya “menempel” langsung di permukaan bodi.
Dengan modul kamera berbentuk pil ini, kami merasa Galaxy A37 lebih terasa wobbly saat ditaruh di atas permukaan yang datar seperti meja. Penampilannya pun jadi kehilangan nuansa “unik” yang biasanya menjadi ciri khas Samsung Galaxy. Walau begitu, kamera belakang ini jadi lebih mudah dibersihkan dan tidak mudah dihinggapi debu di sekeliling lensa-lensanya.
Dari segi penampilannya, Galaxy A37 dan A36 bak pinang dibelah dua lantaran saking miripnya. Nyaris tidak ada perbedaan antara keduanya, bahkan Galaxy A37 kembali mengusung dimensi bodi yang sama, yaitu 162,9 x 78,2 x 7,4 mm dengan bobot 196 gram.
Layar ponsel ini kembali dilindungi Corning Gorilla Glass Victus+, sehingga lebih tahan terhadap goresan dan benturan ringan. Selama pengujian, kami menyimpannya di dalam tas bersama berbagai barang lain dan layar tetap mulus tanpa goresan.
Satu hal baru yang ditingkatkan pada bodi Galaxy A37 adalah kehadiran rating IP68, meningkat dari sebelumnya yang hanya IP67. Hal ini menunjukkan bahwa Galaxy A37 dapat bertahan di rendaman air hingga kedalaman lebih dari 1 meter selama 30 menit.
Secara garis besar, Galaxy A37 tidak memiliki peningkatan besar dibandingkan dengan Galaxy A36 dari segi desain bodi. Keduanya masih sama-sama mengusung frame datar berbahan plastik, desain Key Island khas Samsung, serta perlindungan Gorilla Glass Victus+ di sisi depan dan belakang. Pembeda utamanya hanya pada peningkatan sertifikasi IP67 menjadi IP68.
Jika hanya dilihat dari spesifikasi di atas kertas, Galaxy A37 tampak tidak mengalami peningkatan kamera ketimbang pendahulunya. Ya, smartphone ini kembali hadir dengan kamera utama 50 MP f/1,8 wide-angle, 8 MP f/2,2 ultrawide, dan 5 MP f/2,4 makro.
Bedanya, kamera utama Galaxy A37 kini memiliki ukuran sensor 1/1,56 inci, lebih besar dari pendahulunya yang berukuran 1/1,96 inci. Samsung membenamkan teknologi “Big Pixel”, meningkatkan ukuran piksel yang semula 0,8 μm pada Galaxy A36 menjadi 1,0 μm pada A37.
Dengan ukuran sensor lebih besar, kamera ponsel dapat menangkap lebih banyak cahaya. Hasil fotonya bakal cenderung lebih terang dan detail, terutama di kondisi minim cahaya (low-light). Detail, ketajaman, dynamic range, hingga depth of field juga akan meningkat dengan ukuran sensor yang lebih besar.
Sesuai ekspektasi, hasil foto kamera utamanya sanggup menghadirkan hasil foto yang indah dengan warna cerah dan dynamic range yang luas. Kemampuan zoom hingga 2x dan 4x tingkatan juga masih dapat diandalkan, kendati secara keseluruhan hanya sanggup mencapai zoom di tingkatan 10x (digital).
Pada fotografi malam hari, kamera mampu menekan noise dengan baik sekaligus meminimalkan efek flaring dari sumber cahaya. Bahkan di kondisi yang sangat gelap, hasil foto tetap tampak terang tanpa menampilkan cahaya dari lampu secara berlebihan.
Kemampuan kamera ultrawide pun tergolong cukup baik, meski hasil fotonya tidak sebaik kamera utama. Ini tampaknya menjadi masalah universal untuk smartphone di rentang harga menengah. Setidaknya, kami masih berhasil mendapatkan foto sudut lebar di kondisi outdoor dengan dynamic range yang baik. Sekilas kualitasnya pun tidak terlihat jauh berbeda. Namun, warna pada beberapa objek, seperti pohon dan dedaunan, tampak kurang menonjol.
Kami pun mencoba menghasilkan foto close-up menggunakan mode makro, dan hasilnya masih cukup jauh dari kata memuaskan. Seperti pada perangkat pendahulunya, kamera makro di HP ini masih bersifat fixed focus sehingga sulit untuk mempertahankan detail tekstur permukaan benda.
Pada mode portrait, kami berhasil mendapatkan foto dengan efek bokeh alami tanpa mengeluarkan banyak effort, berlaku untuk kamera belakang maupun kamera depan. Separasi foto pada portrait selfie cukup rapi, bahkan saat kami menggunakan mode zoom out untuk meraih bidang pandang lebih luas.
Galaxy A37 tergolong cukup bagus untuk memenuhi kebutuhan fotografi sehari-hari, termasuk menggunakan mode portrait untuk menghasilkan foto yang estetis dan “medsos-ready”. Perangkat ini juga dapat menawarkan hasil video yang stabil saat merekam sambil berjalan. Namun, merekam sambil berlari membuat videonya sesekali jitter, meski sudah berada di frame rate 60 PFS. Untuk perekaman maksimalnya, Galaxy A37 sanggup mendukung hingga 4K di 30 FPS, baik kamera depan maupun belakang.
Soal dapur pacu Galaxy A37, Anda mungkin tidak akan merasakan pengalaman yang kompetitif. Ponsel ini memang mengalami kenaikan performa ketimbang pendahulunya yang memakai Snapdragon 6 Gen 3.
Ponsel ini ditenagai Exynos 1480, chipset mid-range Samsung yang pertama kali menghadirkan GPU Xclipse berbasis AMD RDNA ke seri Exynos 1xxx. Chip ini debut melalui Galaxy A55 5G pada Maret 2024 sebelum diumumkan secara resmi oleh Samsung pada akhir bulan yang sama.
Exynos 1480 diproduksi dengan proses fabrikasi 4 nm Samsung 4LPP+ dan mengusung CPU octa-core yang terdiri dari empat inti Cortex-A78 berkecepatan hingga 2,75 GHz serta empat inti Cortex-A55 hingga 2,0 GHz. Untuk pengolahan grafis, chipset ini mengandalkan GPU Xclipse 530 berbasis AMD RDNA.
Samsung mengklaim GPU Xclipse 530 menawarkan peningkatan performa grafis hingga 53 persen dibandingkan dengan GPU Mali-G68 MP5 pada Exynos 1380.
Samsung mengklaim bahwa GPU Xclipse 530 tersebut mendapatkan peningkatan performa hingga 53 persen ketimbang pendahulunya, Exynos 1380.
Hal ini pun membuat Galaxy A37 cukup nyaman untuk menjalankan berbagai tugas multitasking dan juga gaming. Akan tetapi, pada pengujian AnTuTu v11, perangkat ini hanya menorehkan skor 1.066.802 poin. Untuk ponsel seharga Rp 6 juta, skor ini bukanlah yang terbaik. Kompetitornya di kelas harga yang sama bisa menghasilkan kinerja jauh lebih tinggi.
Pada benchmark lainnya, Galaxy A37 mendapatkan skor 1.147 poin (single-core) dan 3.429 poin (multi-core) pada Geekbench 6. Saat diujikan pada CPU Throttling Test, perangkat ini berhasil mempertahankan sekitar 75 persen dari performa maksimalnya selama 10 menit pengujian.
Lantas, bagaimana kinerjanya saat diujikan bermain game? Galaxy A37 rupanya masih bisa diandalkan untuk memainkan sejumlah judul game kompetitif populer di Indonesia, meski sebenarnya masih banyak ruang untuk bertumbuh.
Sebagai salah satu game MOBA populer yang paling ringan dan optimized di Android, tentu saja Galaxy A37 dapat memainkan Mobile Legends: Bang Bang dengan sangat nyaman tanpa kendala. Sebab, meskipun kami memainkannya di pengaturan mentok kanan, frame rate yang terasa memang sangat mulus dan konsisten di 60 FPS.
Game berikutnya yang kami coba adalah PUBG Mobile, permainan shooter yang cukup digandrungi banyak mobile gamer di Indonesia. Di sini, kami langsung mencoba memakai pengaturan grafis HDR dengan frame rate Ultra, dan pengalaman yang dirasakan cukup “playable”.
Frame rate yang diperlihatkan memang tidak mencapai 60 FPS, namun setidaknya masih konstan di 30 FPS dengan sesekali turun ke bawahnya. Menariknya lagi, gyroscope di HP ini sudah bersifat hardware, terasa dari betapa responsifnya bidikan pistol saat kami menggerakkan ponsel untuk melawan musuh.
Pengalaman yang dirasakan cukup unik saat memainkan salah satu game dunia terbuka paling berat di Android, yakni Genshin Impact. Pasalnya, memainkannya pada pengaturan terendah di Lowest 30 FPS tetap terasa kurang nyaman karena adanya sedikit stutter yang mengganggu. Beberapa objek yang berlokasi jauh dari karakter pun mengalami keterlambatan render.
Meski begitu, frame rate pada pengaturan tertinggi (Highest 60 FPS) rupanya tidak merosot terlalu jauh. Stutter dan keterlambatan rendering pada beberapa objek kembali muncul di Highest, namun setidaknya kami disuguhkan visual yang lebih bagus.
Karena pengalaman performanya tidak begitu jauh antara Lowest dan Highest, sebaiknya sekalian saja pilih yang Highest. Namun, Anda juga perlu mempertimbangkan durasi permainan yang panjang, karena isu overheating dan throttling bakal lebih terasa jika berada di pengaturan Highest dalam waktu lama.