Lama ditunggu, ponsel flagship terbaru Samsung, Galaxy S26 Ultra, akhirnya resmi meluncur pada Februari 2026 atau lebih lama sekitar sebulan dibandingkan dengan Galaxy S generasi terdahulu yang biasanya hadir pada bulan Januari tiap tahun.
Pembaruan yang diterapkan Samsung di model “Ultra” lini flagship besutannya kali ini bisa dibilang tak terlalu kasatmata karena lebih bersifat under the hood. Namun, apabila diamati lebih dekat, sebenarnya ada banyak hal baru yang bukan hanya menarik saja, tetapi juga berguna untuk aktivitas sehari-hari.
Di Indonesia, Galaxy S26 Ultra dijual dalam tiga varian memori: 12 GB/ 256 GB (Rp 24,5 juta), 12 GB/ 512 GB (Rp 27,5 juta), dan 16 GB/ 1 TB: Rp 32 juta). Apakah Galaxy S26 Ultra bisa menjustifikasi banderol tinggi tersebut? Ikuti ulasan lengkapnya di bawah.
Table of Contents
Kesimpulan awal
Peningkatan yang diterapkan oleh Samsung di Galaxy S26 Ultra sebagian besar memang bersifat “di balik layar”, secara kiasan maupun harfiah (benar-benar mengubah panel layar), sehingga ponsel ini terkesan tak banyak berubah. Padahal, terdapat sejumlah peningkatan signifikan yang sayang apabila terlewat.
Desain Samsung Galaxy S26 Ultra: Lebih bulat tapi makin ramping
Apabila disandingkan bersebelahan, sebagian orang mungkin akan keliru mengira Galaxy S25 Ultra sebagai Galaxy S26 Ultra. Wajar saja, sebab penampilan flagship terbaru Samsung memang sangat mirip dengan pendahulunya walaupun tak persis sama.
Perbedaan kecil terletak di sudut-sudut perangkat yang kini lebih rounded. Galaxy S25 Ultra sebelumnya sudah membulatkan bagian tersebut untuk mengatasi persoalan ujung Galaxy S24 Ultra yang terlalu runcing. Galaxy S26 Ultra lebih jauh memperhalusnya sehingga menjadi lebih membulat lagi. Efeknya, perangkat ini terasa semakin nyaman saat digenggam dan tidak lagi membuat kantong celana jadi rawan bolong.
Susunan kamera belakang tetap sama seperti sebelumnya. Namun, lensa kamera utama, ultrawide, dan telephoto 5x kini memiliki penampang dasar alias camera island berbentuk kapsul. Ketiga lensa tersebut lebih menonjol ke luar bodi dibandingkan sebelumnya, sehingga membuat ponsel lebih miring saat ditempatkan di permukaan datar seperti meja.
Bodi Galaxy S26 Ultra menjadi lebih ramping dengan ketebalan 7,9 mm dan bobot 214 gram, sementara bahan frame berganti dari titanium menjadi aluminium. Untungnya, bagian layar tetap berlapis kaca pelindung Gorilla Armor 2 dengan coating anti-pantulan, sedangkan punggungnya dilindungi Gorilla Glass Victus 2.
Daya tahannya ikut ditunjang oleh ketahanan terhadap air dan debu dengan sertifikasi IP68 yang mulai terlihat agak tertinggal dibandingkan dengan model-model smartphone flagship dari para pabrikan China.
Seperti biasa, di sisi bawah dan atas terdapat grille speaker stereo, konektor USB-C, dan laci (nano) SIM card. Di salah satu pojokan bagian bawah ada kompartemen khusus untuk memuat perangkat pena stylus S Pen yang menjadi ciri khas lini Galaxy S dari Samsung.
Layar Samsung Galaxy S26 Ultra: Anti pengintip? Bisa diatur!
Panel display yang digunakan oleh Galaxy S26 Ultra sekilas tampak tak berubah dari sebelumnya, masih dengan Dynamic LTPO AMOLED 2X 6,9 inci (3.120 x 1.440 piksel, refresh rate 120 Hz, tingkat kecerahan maksimal 2.600 nits), berikut lapisan DX anti-pantulan yang membuat tampilannya senantiasa cemerlang di kondisi apa pun.
Namun, Samsung sebenarnya mengubah susunan piksel di layar Galaxy S26 Ultra secara khusus untuk menerapkan fitur baru bernama Privacy Display. Fungsinya adalah untuk membatasi field-of-view (FoV), alias lebar sudut pandang layar, menjadi lebih sempit apabila diaktifkan, supaya isi layar tak diintip orang lain.
Privacy Display Samsung Galaxy S26 Ultra bisa dihidupkan-dimatikan dengan mudah lewat Quick Settings, dapat pula diatur agar lebih gelap atau hanya membatasi pandangan pada elemen tertentu di layar.
Kegunaannya mirip dengan screen protector anti-spy yang banyak dijual di lokapasar online, tapi lebih canggih karena bisa dinyalakan dan dimatikan sesuka hati. Privacy Display juga dapat diatur agar hanya membatasi pandangan pada elemen tertentu pada layar, seperti notifikasi yang masuk. Bisa pula ketika mendeteksi situasi tertentu, seperti input password.
Saat Privacy Display diaktifkan, tampilan layar Galaxy S26 Ultra berubah menjadi gelap dan tidak jelas terlihat ketika dipandang dari sudut tertentu, tetapi tetap tampak seperti biasa dari sudut lurus. Orang lain yang melirik layar ponsel dari samping pun bakal kesulitan melihat isinya.
Sayangnya, pembatasan sudut pandang oleh Privacy Display ini masih agak lebar. Layar baru mulai terlihat gelap ketika dipandang dari sudut sekitar 45 derajat, lalu menjadi semakin gelap ketika melewati sudut sekitar 60 derajat. Artinya, orang lain yang berada di dekat pengguna dan memandang layar dari lebar sudut kurang dari itu – misalnya penumpang lain di belakang pengguna saat berdiri di kereta api- masih bisa mengetahui apa yang ditampilkan.
Perbandingan tampilan layar Samsung Galaxy S26 Ultra dalam kondisi normal (kiri), saat Privacy Display diaktifkan (tengah), dan ditambah opsi Maximum Privacy, dilihat dari sudut sekitar 60 derajat.
Samsung agaknya menyadari persoalan ini dan menambahkan opsi ekstra untuk mempersempit lebar sudut pandang lebih jauh, yaitu “Maximum Privacy” yang bisa diaktifkan dari menu Privacy Display di Settings. Tampilan layar menjadi lebih gelap saat dilihat dari samping, tapi display secara keseluruhan menjadi lebih gelap dan warna-warnanya terlihat washed out alias memudar.
Meskipun masih memiliki kekurangan, Privacy Display layak diapresiasi karena bisa mengurangi kekhawatiran pada saat ponsel menampilkan informasi sensitif, seperti ketika membuka aplikasi perbankan. Pada waktu-waktu macam demikian, agaknya persoalan keamanan jauh lebih penting ketimbang kualitas layar yang menjadi kurang cemerlang.
Kamera Samsung Galaxy S26 Ultra: Winning formula?
Ponsel seri Galaxy S dari Samsung adalah pelopor kamera serba bisa yang lengkap dan mampu mengabadikan berbagai jenis objek, dekat maupun jauh, dari pemandangan dan arsitektur hingga potret model dan permukaan bulan. Hal ini karena rangkaian kameranya yang komplit: ada kamera ultra wide, kamera utama, dan dua buah kamera telephoto dengan jangkauan optical zoom berbeda.
Sayangnya, kamera Galaxy S26 Ultra hanya sedikit berubah dari sebelumnya. Samsung memang memperlebar aperture lensa kamera utama (dari f/1.7 menjadi f/1.4) dan lensa kamera telephoto kedua (dari f/3.4 menjadi f/2.9) sehingga ponsel tersebut menjadi lebih mumpuni dalam situasi low-light atau malam hari.
Sensor yang digunakan masih sama seperti Galaxy S25 Ultra sebelumnya, yakni Isocell HP2 200 MP untuk kamera utama (f/1.4, 23 mm, OIS), Isocell JN3 50 MP untuk kamera ultra wide (f/1.9, 13 mm, AF), dan Sony IMX 854 50 MP (f/2.9, 115 mm, zoom 5x, OIS) untuk kamera telephoto. Kamera depannya juga tetap menggunakan Isocell 3LU 12 MP (f/2.2, 23 mm, AF). Kamera telephoto pertama justru menggunakan sensor dengan ukuran fisik yang lebih kecil, yakni Isocell 3LD 10 MP (f/2.4, 69 mm, 3x zoom, OIS).
Apakah Samsung menganggap konfigurasi kamera Galaxy S26 Ultra sebagai “winning formula”, sehingga tak perlu dirombak besar sejak Galaxy S24 Ultra keluaran dua tahun lalu? Meskipun tetap sangat mumpuni, rangkaian kamera seri ponsel yang memelopori tren “HP konser” ini mulai terlihat outdated dibandingkan dengan model-model flagship dari pabrikan China.
Dua kamera telephoto 3x dan 5x di Galaxy S26 Ultra, misalnya, terlihat redundan di kala ponsel China bisa menerapkan tingkat pembesaran serupa berkat in-sensor zoom lewat penggunaan sensor beresolusi setinggi 200 MP di kamera telephoto tunggal. Hasilnya juga lebih konsisten dibandingkan dengan dua kamera telephoto di Galaxy S26 Ultra yang kualitasnya berbeda karena memang berlainan sensor. Samsung agaknya perlu meningkatkan kamera di Galaxy S Ultra tahun depan untuk menghindari kesan tertinggal dari flagship lain.
Tentu saja, the proof is in the pudding. Hasil jepretan Galaxy S26 Ultra sendiri masih tergolong sangat bagus di berbagai situasi, termasuk indoor dan malam hari. Meskipun tanpa resep, warna hasil kolaborasi dengan pabrikan kamera terkenal, image processing Samsung selalu berhasil menghasilkan gambar-gambar yang sedap dipandang.
Aneka warna dan kontras tinggi di kondisi gelap berujung pada foto (HDR) dengan exposure seimbang, tanpa highlights terlalu terang atau shadows terlalu gelap, maupun kesan overprocessed. Kinerja cemerlang kamera Galaxy S26 Ultra di situasi low-light agaknya ikut terbantu oleh bukaan lebar semua kameranya yang kini berada di kisaran f/1.4 hingga f/2.9.
Video Galaxy S26 Ultra: Menarik untuk dicoba
Masih terkait kamera, Samsung menerapkan sejumlah fitur video baru di Galaxy S26 Ultra yang layak mendapat sorotan dan menarik untuk dicoba. Salah satunya adalah Horizontal Lock yang dihadirkan sebagai peningkatan dari fitur Super Steady sebelumnya.
Horizontal Lock menjaga rekaman video agar tetap lurus (level) dengan garis horizon meskipun ponsel diputar-putar hingga 360 derajat di sumbu vertikal. Fungsinya identik dengan horizon lock yang umum ditemukan di kamera aksi macam GoPro Hero, DJI Osmo Action, atau Insta360.
Opsi Horizontal Lock di mode video Samsung Galaxy S26 Ultra.
Seperti Super Steady, Horizontal Lock mengandalkan tangkapan gambar dari kamera ultrawide Galaxy S26 Ultra dan karenanya hanya bisa digunakan pada kamera tersebut. Stabilisasi elektronik Sper Steady juga diterapkan untuk menjaga agar video bebas goyangan.
Meskipun tidak benar-benar baru karena fitur serupa sudah lebih dulu diterapkan di ponsel lain seperti seri Edge dari Motorola, Horizontal Lock tetap menarik untuk digunakan karena membuka peluang baru dalam berkreasi. Contoh hasil rekamannya bisa dilihat dalam posting Reels oleh 91mobiles Indonesia di bawah.
Fitur video lainnya adalah pengembangan dari kemampuan merekam video dengan profil gamma Log yang kontras dan saturasinya sangat rendah untuk memudahkan proses color grading saat post-production. Galaxy S26 Ultra kini menyediakan lima buah preset Look Up Table (LUT) yang diterapkan di mode Pro Video.
Begitu LUT diterapkan, tampilan antarmuka kamera akan langsung berubah mengikuti preset warna dari LUT yang bersangkutan. Meskipun demikian, hal ini hanya bersifat sebagai preview agar pengguna bisa melihat seperti apa hasilnya jika LUT tertentu diterapkan pada video Log. Hasil rekamannya sendiri akan tetap flat seperti biasa karena itulah poin utama video Log, yaitu untuk memperoleh video “mentah” untuk dimatangkan dalam editing.
Perbandingan mode Pro Video Samsung Galaxy S26 Ultra saat merekam video dengan profil gamma tanpa LUT (kiri) dan dengan dua preset LUT berbeda sebagai preview.
Kelima LUT yang sama bisa diterapkan saat menyunting video Log di fungsi editing bawaan di aplikasi galeri Galaxy S26 Ultra. 91mobiles Indonesia tidak menemukan opsi untuk mengimpor LUT tambahan seperti di HP lain yang juga mampu merekam video Log. Mungkin kami luput. Namun, kalau memang tidak ada, alangkah baiknya Samsung menambah kemampuan tersebut lewat update software.
Kemampuan baru lain yang juga menarik -meski juga tak benar-benar baru karena sudah pernah diterapkan ponsel lain sebelumnya- adalah Portrait Video yang bisa memberi efek depth-of-field (bokeh) pada latar belakang ketika merekam video. Hasilnya seperti foto portrait, tapi diterapkan pada gambar bergerak.
Mode Portrait Video membuahkan hasil yang terkesan sinematik dengan efek depth-of-field.
Portrait Video bisa digunakan baik dengan kamera depan maupun belakang. Terdapat limitasi frame rate maksimal 30 fps untuk resolusi FHD maupun UHD (4K), tapi fitur ini tetap membuka peluang baru untuk kreasi konten yang lebih sinematik.
AI Samsung Galaxy S26 Ultra: Makin canggih dan lengkap
Bukan Samsung namanya kalau tak menghadirkan inovasi anyar dalam hal kecerdasan buatan alias AI. Sebagai pionir yang telah memopulerkan artificial intelligence di smartphone flagship sejak Galaxy S24 Ultra, Samsung kembali membawa sejumlah kemampuan baru yang mumpuni untuk rangkaian fitur yang tergabung di bawah bendera Galaxy AI.
Kemampuan AI generatif di fitur Enhanced AI Photo Assist dalam aplikasi Gallery kini lebih canggih dan pintar dalam mendeteksi konteks gambar. Yang lebih penting, setelah mengubah gambar dengan prompt teks, pengguna bisa menerapkan editing lanjutan lewat opsi “Keep Editing” hingga berkali-kali.
Misalnya, 91mobiles Indonesia dapat meminta Galaxy S26 Ultra untuk mengembalikan wujud steak yang sudah terlanjur dipotong menjadi utuh kembali. Setelahnya, kami melakukan editing lebih lanjut dengan memasukkan prompt kedua untuk membersihkan tampilan piring agar kinclong.
Selesai? Belum, karena kami ingin mengubah potongan-potongan kentang french fries menjadi mashed potatoes lewat input prompt ketiga. Setelah puas editing dengan AI, barulah gambar disimpan. Hasilnya tampak halus dan sangat meyakinkan. Enhanced AI Photo Assist juga bisa diminta untuk melakukan berbagai hal lain lewat prompt dengan akurat, seperti mengganti warna langit.
Satu fitur AI lainnya yang juga menarik adalah Call Screening untuk menyaring panggilan masuk (voice call) dengan chatbot AI yang mampu bercakap-cakap dengan suara. Saat ada penelepon, pengguna bisa memilih untuk menjawabnya dengan opsi “Call Screening”.
Call Screening di Samsung Galaxy S26 Ultra bisa otomatis mengangkat voice call dan mengobrol dengan penelepon.
Chatbot AI -atau yang disebut Samsung sebagai Call Assitant- kemudian akan mengangkat telepon dan mulai berbicara dengan penelepon untuk menanyakan identitas dan keperluannya. Jika dinilai bukan spam, phising, atau sejenisnya, panggilan bisa diteruskan ke pengguna.
Percakapan suara dengan AI ini diubah menjadi teks yang kemudian ditampilkan di layar sehingga bisa dibaca oleh pengguna. Apabila diinginkan, pengguna bisa mengambil alih telepon dari AI kapan saja. Rekaman teks dari percakapan yang terjadi juga bisa dilihat di call log.
Bagaimana dengan S Pen? Meskipun tak mendapat sorotan, seperti telah disebutkan sebelumnya, perangkat stylus ini setia mendampingi Galaxy S26 Ultra. Konektivitas Bluetooth masih belum dikembalikan sejak dihapus pada S Pen untuk Galaxy S25 Ultra.
Desainnya masih mirip, dengan sedikit pengecualian di bagian tombol clicker di bagian belakang yang kini agak melengkung, mungkin untuk mengikuti sudut ponsel yang lebih membulat. Karena itu, pastikan S Pen menghadap ke orientasi yang benar saat dimasukkan ke kompartemen. Jika keliru, stylus tetap bisa masuk, tapi bagian belakangnya akan menonjol ke luar.
Bodi ramping Galaxy S26 Ultra yang merupakan ponsel Ultra tertipis dari Samsung ikut membuat S Pen menjadi lebih kurus, tapi masih bisa digunakan untuk menulis dan menggambar dengan relatif nyaman di layar perangkat seperti biasa.
Aplikasi Samsung Notes yang bisa dipakai bersama S Pen menyediakan fitur AI Sketch to Image untuk mengubah coretan gambar menjadi lebih bagus dan berwarna, serta Math Solver untuk melakukan kalkulasi otomatis pada persoalan matematika yang ditulis tangan di layar.
Kinerja Samsung Galaxy S6 Ultra: Tenaga besar di balik layar
Sekian banyak fitur yang dihadirkan oleh Galaxy S26 Ultra bisa dijalankan dengan lancar tanpa hambatan sedikit pun berkat tenaga besarnya di balik layar. Berbeda dengan dua adiknya yang beralih ke Exynos 2600, perangkat ini menggunakan chip teratas Qualcomm, yaitu Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy yang dipadukan dengan RAM hingga 16 GB dan storage mencapai 1 TB.
Hasilnya bisa terlihat dari skor benchmark AnTuTu yang menembus kisaran 3,7 juta poin. Beberapa pengujian lain yang dilakukan oleh 91mobiles Indonesia turut memberikan skor sangat tinggi dan relatif konsisten.
Aneka game pun bisa dimainkan dengan lancar tanpa hambatan, baik yang tergolong ringan seperti Mobile Legends maupun yang kelas berat macam Genshin Impact. Bentuk sudut ponsel yang lebih membulat membuatnya terasa lebih nyaman dalam genggaman, tapi modul kamera sedikit mengganggu pegangan.
Memang terdapat sedikit throttling saat diuji menggunakan stress test 3D Mark, tapi penurunannya tak terlalu kentara dan peningkatan suhunya masih bisa ditoleransi. Ketika melakukan pengetesan kinerja, 91mobiles Indonesia tidak memasang casing di bodi Galaxy S26 Ultra.
Seperti biasa, Samsung memberikan jaminan update versi Android dan patch sekuriti hingga 7 tahun untuk Galaxy S26 Ultra yang datang dengan sistem operasi One UI 8.5 berbasis Android 16.
Samsung Galaxy S26 Ultra dapat menjalankan aneka game dengan lancar dan cukup nyaman dalam genggaman, meskipun modul kameranya terasa agak mengganjal.
Satu hal yang agak disayangkan adalah kapasitas baterai Galaxy S26 Ultra tak berubah semenjak dua generasi terdahulu, tetap bertahan di angka 5.000 mAh sementara flagship lain sudah menerapkan baterai lebih besar. Namun, setidaknya Samsung meningkatkan kecepatan fast charging menjadi 60 watt.
Kesimpulan
Dengan rangkaian inovasi dan fitur terkini yang selalu dibawanya, smartphone seri Galaxy S Ultra boleh dibilang adalah “benchmark” untuk ponsel-ponsel flagship Android. Perangkat teratas dari Samsung ini biasanya susah untuk dipepet oleh merek lain. Galaxy S26 Ultra meneruskan tradisi tersebut dengan menjadi ujung tombak baru.
Pada 2026, lanskap smartphone flagship di Indonesia sudah berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun lalu lewat kehadiran produk-produk papan atas lainnya yang berkemampuan meyakinkan.
Dibandingkan dengan mereka, Galaxy S26 Ultra mungkin sekilas mengecewakan karena terkesan hanya menyajikan pembaruan yang minim dari segi hardware di luar penggunaan chip Snapdragon termutakhir. Rangkaian kameranya relatif hanya berubah sedikit; kapasitas baterai masih sama, begitu pula dengan sertifikasi IP68. Di atas kertas, ponsel ini seolah tertinggal dari pesaing.
Pandangan tersebut bisa dimaklumi karena Samsung cenderung menerapkan peningkatan di balik layar pada Galaxy S26 Ultra sehingga tak terlalu tampak. Calon konsumen perlu mencermati perangkat ini dari dekat supaya kelebihannya bisa terlihat.
Fitur seperti Privacy Display atau Horizontal Lock yang banyak digaungkan di media sosial boleh jadi sudah banyak diketahui. Tapi ada juga yang menarik lainnya, seperti Galaxy AI yang makin canggih dan lengkap, serta kemampuan video baru.
Satu aspek yang menjadi ciri khas sekaligus pembeda Galaxy S26 Ultra dari flagship lain adalah kehadiran pena stylus S Pen. Kehadirannya saja mungkin sudah cukup untuk menjadi alasan meminang Galaxy S26 Ultra bagi mereka yang memang membutuhkan stylus, seperti profesional kreatif.
Galaxy S26 Ultra pun sanggup meladeni keinginan pengguna dengan berbagai macam background lain, entah eksekutif, kreator konten, pengguna kasual, gamer kelas berat, hingga penggemar konser musik. Memang di situlah kelebihannya: smartphone ini merupakan all-rounder terbaik yang memberikan something for everyone.
Karena itu, dilihat secara keseluruhan, paket (semakin) lengkap pada Galaxy S26 Ultra sebenarnya masih sulit ditandingi oleh flagship lain dan bisa menjustifikasi banderol harganya yang naik dibanding produk terdahulu, setidaknya untuk sekarang. Tahun depan, mungkin Samsung perlu merombak hardware dengan lebih signifikan sambil mempertahankan keunggulan software.
Rating editor: 8.5/10
Kelebihan: + Privacy display adalah inovasi yang berguna + Fitur-fitur video baru menarik untuk dicoba + AI lebih canggih dan lengkap di banyak aspek + Bodi lebih ramping dari sebelumnya + S Pen tetap menjadi keunikan tersendiri
Kekurangan: – Kamera hanya sedikit berubah, meski tetap mumpuni – Kemampuan baterai tertinggal dari pesaing – Rating ketahanan IP68 kurang relevan pada 2026