Review Samsung Galaxy Z Flip 7: HP Flip Terbaik, Tapi…

Ringkasan Tinjauan

Peringkat Pakar

8.0/10
Desain
 
8.5
/10
Layar
 
8.5
/10
Sistem operasi
 
8.0
/10
Kamera
 
7.5
/10
Kinerja
 
7.5
/10
Baterai
 
7.5
/10

Pros

  • Layar cover yang lebih besar
  • Bodi ramping, ringkas, mudah masuk kantong
  • Kapasitas baterai sedikit meningkat dari pendahulu

Cons

  • Fungsionalitas layar cover agak terbatas
  • Pengisian daya lambat
  • Cenderung throttling saat beban berat

Samsung pada dasarnya merupakan pelopor kategori ponsel lipat, namun dalam beberapa tahun ke belakang, lini produknya terasa kurang membawa pembaruan besar. Dengan hadirnya Galaxy Z Flip 7 dan Galaxy Z Fold 7, Samsung akhirnya menghadirkan peningkatan yang terasa lebih bermakna, dan angka pre-order pada bulan Juli menunjukkan bahwa minat pembeli memang meningkat.

Jika Galaxy Z Fold 7 berfokus pada penyempurnaan dan desain lebih ramping, maka Galaxy Z Flip 7 menonjol lewat layar cover yang lebih besar dan fungsional. Selain itu, terdapat juga sejumlah peningkatan di sisi hardware, dan dalam review ini kita akan melihat lebih dekat apa saja yang ditawarkan Flip 7 serta siapa pengguna yang paling cocok untuk ponsel tersebut.

Table of Contents

Layar cover besar, dengan potensi tinggi yang tidak dimaksimalkan

Samsung melengkapi Galaxy Z Flip 7 dengan layar cover berukuran jauh lebih besar dari pendahulunya, yakni 4,1 inci, yang memuat area kamera. Sekilas, ini terlihat sebagai peningkatan visual besar-besaran. Layar ini tampak tajam, tetap terang bahkan saat dilihat di bawah sinar matahari. Bahkan layar ini pun mendukung refresh rate 120 Hz yang mulus, menjadikannya Flex Window terbaik dan paling fungsional sejauh ini. Sekarang pengguna dapat melihat lebih banyak teks pada notifikasi, mengetik dengan lebih mudah, dan melakukan berbagai tugas cepat tanpa perlu membuka lipatan ponsel.

Namun, software di HP ini belum sepenuhnya mengikuti lompatan sang hardware. Secara bawaan, pengguna masih terbatas pada sejumlah kecil aplikasi yang didukung. Untuk membuka akses penuh, Anda harus mengunduh modul Multistar melalui aplikasi Good Lock. Kinerjanya pun tidak konsisten. Fitur Now Bar dan integrasi dengan Gemini Live memang terlihat menarik, namun belum memaksimalkan potensi layar besar tersebut.

Secara garis besar, peningkatan layar cover di Galaxy Z Flip 7 sebenarnya signifikan, namun masih butuh beberapa pembaruan software lagi agar benar-benar optimal. Kami bahkan mencoba menghabiskan satu hari penuh bekerja hanya lewat layar cover untuk melihat sejauh mana kemampuannya, dan berikut ini pengalaman kami.

Hal-hal yang menyenangkan

Hanya menggunakan layar depan ternyata punya sisi positif yang tidak terduga, kami jadi jauh lebih jarang membuka media sosial. Godaan untuk membuka Instagram dan X/Twitter sekadar untuk scrolling-scrolling sekilas nyaris tidak lagi ada. Memang, aplikasi-aplikasi tersebut masih dapat berjalan dengan baik di layar cover, namun ukurannya yang kecil membuatnya kurang nyaman, dan keharusan membuka lipatan ponsel setiap ingin membuka media sosial terasa melelahkan.

Layar depan ini kurang ideal untuk media sosial, sehingga seolah memaksa pengguna untuk melakukan “digital detox”.

Dengan kata lain, layar cover ini memang tidak ideal untuk scrolling media sosial, namun ini justru hal yang sangat bagus. Rasanya bagaikan digital detox bawaan.

Sebaliknya, sejumlah aplikasi justru bekerja dengan sangat baik. Google Maps, YouTube Music, Netflix, dan Google Photos dapat dijalankan tanpa perlu membuka lipatan smartphone sama sekali. Kami bahkan bisa menegakkan Flip 7 dalam posisi tent mode untuk menonton serial TV berjudul “Friends” di Netflix sambil memasak, setup yang praktis dan menyenangkan.

Menonton Netflix di mode tenda sungguh menyenangkan, bisa sambil melakukan aktivitas lain.

Layar depan ini juga terasa nyaman untuk digunakan menonton video atau konten sambil melakukan aktivitas yang lain. Menariknya lagi, ukuran layarnya yang begitu kecil justru membuat interaksi dengan kecerdasan buatan (AI) terasa lebih alami. Kami biasanya tidak terlalu suka menggunakan aplikasi AI, namun memakai Gemini di layar depan terasa seperti berbicara dengan asisten pribadi mini. Bentuknya yang compact seperti Rabbit R1 (salah satu perangkat asisten personal) membuat perintah suara dan pencarian cepat terasa lebih menyenangkan.

Hal-hal yang kurang menyenangkan

Layar cover yang lebih besar memang memudahkan saat membalas pesan lantaran punya ukuran keyboard yang lebih lega. Sehingga, kesalahan mengetik pun menjadi lebih jarang. Namun pengalaman membalas pesan di WhatsApp tetap terasa menyebalkan, keyboard bawaan Samsung menutupi seluruh layar sehingga pesan terakhir yang ingin dibalas malah tidak terlihat. Padahal, kami suka melihat pesan sebelumnya untuk konteks percakapan.

Di Motorola Razr 60 Ultra, hal ini tidak terjadi karena layout Google Keyboard yang lebih tidak makan tempat. Semoga Samsung memperbaiki hal ini melalui pembaruan software.

Google Keyboard di Razr 60 Ultra (kiri) masih memperlihatkan pesan terakhir dari lawan bicara, sementara keyboard Samsung di Galaxy Z Flip 7 (kanan) menutupi seluruh area.

Hal-hal yang membuat frustrasi

Bahkan tugas sederhana seperti menambahkan aplikasi ke layar depan, mengubah tampilan jam, atau mengedit widget masih sering memunculkan peringatan “buka ponsel untuk melanjutkan”. Kelihatannya sih sepele, namun cukup mengganggu dalam hal penggunaan sehari-hari. Dalam hal ini, Razr 60 Ultra lebih praktis lantaran bisa menambahkan aplikasi secara langsung tanpa perlu membuka lipatan ponsel.

Sejumlah aktivitas di layar cover mengharuskan pengguna untuk membuka lipatan ponsel untuk melanjutkan.

Selain itu, beberapa widget seperti Weather dan Calendar juga belum memanfaatkan sepenuhnya ukuran layar cover yang lebih besar. Widget tersebut tampil dalam format kecil 4 x 2 dan baru membesar ke tampilan penuh ketika disentuh. Motorola lagi-lagl unggul dalam hal ini karena menampilkan widget dalam bentuk kartu penuh secara default.

Galaxy Z Flip 7 (kanan) menampilkan widget seperti Weather dan Calendar pada format 4×2 ketimbang ditampilkan secara penuh seperti pada Motorola Razr 60 Ultra (kiri).

Di luar itu semua, layar depan yang besar ini tetap dipadukan dengan desain bodi yang ramping dan elegan. Galaxy Z Flip 7 lebih tipis dibandingkan Motorola Razr 60 Ultra, baik saat dilipat maupun dibuka. Sisi belakang bodi yang matte memang tampak premium, namun agak licin ketika digenggam. Sedangkan, varian Scarab pada Razr 60 Ultra dengan tekstur kain lebih praktis dan aman di tangan.

Kedua ponsel flip ini memang tidak ideal untuk dibuka-tutup dengan satu tangan, namun curved edge pada Razr 60 Ultra membuatnya sedikit lebih mudah dioperasikan.

Performa gesit, ada jaminan update 7 tahun

Chipset Exynos 2500 yang digunakan Galaxy Z Flip 7 sebenarnya cukup bertenaga, meski potensinya belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan pada ponsel flip ini. Maksudnya, Galaxy Z Flip 7 bukanlah ponsel yang diperuntukkan pada aktivitas berat seperti bermain game intensif atau mengedit foto beresolusi super tinggi, sehingga Anda bakal jarang memaksimalkan performanya. Jika dipaksakan, maka ponsel ini akan cenderung memunculkan sedikit throttling performa, kemungkinan untuk menjaga suhu perangkat tetap stabil dan menghemat baterai.

Sementara itu, Galaxy Z Fold 7 disokong oleh Snapdragon 8 Elite, dan menurut kami, ini lebih masuk akal untuk pengguna yang berorientasi pada “power”. Galaxy Z Flip 7 lebih cocok dianggap sebagai perangkat lifestyle, dirancang agar nyaman digunakan pada aktivitas harian, terutama melalui layar depannya. Untuk menjelajahi internet, mengecek email, dan melakukan multi-tasking ringan di layar utama, Exynos 2500 mampu menjalankan semuanya tanpa masalah berarti.

Yang paling menarik dari Galaxy Z Flip 7 (dan juga Fold 7) justru terletak di pengalaman software. One UI dari Samsung tetap menjadi salah satu antarmuka terbaik yang punya tampilan bersih, mudah digunakan, dan kaya akan fitur. Kabar bagusnya, kedua ponsel lipat tersebut langsung menjalankan Android 16 secara out-of-the-box dan dijanjikan menerima pembaruan OS serta patch keamanan selama 7 tahun. Secara teori, itu berarti Galaxy Z Flip 7 akan didukung hingga tahun 2032.

Dengan kata lain, akan ada banyak lipatan dan bukaan selama bertahun-tahun, dan Flip 7 sudah mempersiapkannya untuk itu. Samsung mengklaim bahwa perangkat ini tahan hingga lebih dari 200 ribu kali lipatan, cukup untuk menemani pengguna yang paling aktif sekalipun dalam jangka panjang.

Fotografi yang teroptimasi untuk Flip

Salah satu keuntungan besar dari ponsel flip adalah bisa memakai kamera utama untuk selfie melalui layar depan alias cover screen, sehingga kamera depan di layar utama yang kualitasnya lebih rendah jadi hampir tidak diperlukan.

Kamera utama 50 MP ISOCELL GN 3 miliknya mampu menghasilkan foto siang hari yang memanjakan mata, dengan warna akurat dan detail yang baik. Saat melakukan tingkatan zoom di 2x, hasilnya masih cukup solid, namun setelah melewati tingkatan 4x, detail mulai turun dan foto menjadi terlihat biasa saja. Sementara itu, kamera ultrawide 12 MP miliknya tidak memiliki autofokus, sehingga lebih cocok untuk memotret objek diam seperti bangunan atau lanskap dibandingkan subjek manusia.

Untuk selfie, Anda juga ditawarkan banyak mode yang dapat dicoba. Kamera utamanya menghasilkan selfie tajam dengan warna kulit natural, bahkan bisa melakukan zoom di tingkatan 2x, 4x, atau bahkan 10x untuk hasil yang lebih dekat. Kamera ultrawide cukup fungsional untuk foto grup, dan layar depan yang lebih besar memudahkan pengguna untuk memeriksa sudut dan komposisi gambar sebelum menekan tombol shutter.

Baterai tahan seharian penuh

Galaxy Z Flip 7 dibekali dengan baterai 4.300 mAh, naik 300 mAh dari pendahulunya. Ini adalah peningkatan cukup signifikan, terlebih mengingat Galaxy Z Fold 7 yang lebih besar hanya dibekali baterai 4.400 mAh. Di atas kertas, Motorola Razr 60 Ultra memang lebih unggul dengan baterai 4.700 mAh. Namun dalam penggunaan sehari-hari, perbedaannya tidak terlalu besar.

Pada penggunaan normal, Galaxy Z Flip 7 bisa bertahan seharian penuh kendati tidak cukup untuk dua hari penggunaan. Biasanya Anda perlu mengisi daya lagi pada malam harinya, tergantung dari seberapa sering layar utama digunakan. Sisi positifnya, saat baterai menipis, pengguna dapat menghemat daya dengan lebih sering menggunakan layar depan untuk aktivitas sederhana seperti membalas pesan atau mengecek notifikasi.

Sayangnya, kecepatan charging di ponsel ini tidak meningkat sama sekali. Galaxy Z Flip 7 masih mentok di 25 watt via kabel, membutuhkan sekitar 80 menit untuk mengisi dari 20-100 persen. Ini tentu saja terasa lambat, terutama jika Anda sudah terbiasa dengan ponsel yang mendukung fast charging lebih cepat. Ada juga dukungan wireless charging 15 watt, tapi ini jauh lebih lambat dan lebih cocok digunakan saat malam hari.

Kesimpulan

Galaxy Z Flip 7 adalah ponsel lipat clamshell paling matang yang pernah dibuat Samsung sejauh ini. Layar depannya kini lebih besar dan terang, terasa sebagai peningkatan yang benar-benar berarti. Namun, sayangnya dari segi software masih terasa sedikit tertinggal. Performanya cukup mumpuni untuk penggunaan sehari-hari, daya tahan baterai juga aman untuk seharian penuh, dan desain bodinya pun terasa lebih smooth dan premium.

Sistem kameranya andal untuk berbagai kondisi, dan kemampuan untuk mengambil selfie dengan kamera utamanya sungguh membuatnya jauh lebih unggul dibandingkan ponsel biasa.

Namun, Galaxy Z Flip 7 tetap tidak luput dari sejumlah kekurangan yang ada. Kecepatan pengisiannya masih terasa lambat, beberapa fungsi di layar cover juga terkunci di balik langkah tambahan, dan penurunan performanya bisa muncul saat beban kerja berat. Di luar hal itu, Galaxy Z Flip 7 tetap tampil dengan bodi ringkas, elegan, dan lebih praktis digunakan dibandingkan generasi sebelumnya.

Jika Anda mencari ponsel lipat yang mengutamakan gaya, portabilitas, dan pengalaman penggunaan yang menyenangkan, Galaxy Z Flip 7 adalah pilihan yang sangat menarik.

Rating editor: 8 / 10

Kelebihan:


Kekurangan:

Samsung Galaxy Z Flip 7 Harga
Rp. 13.719.000
Pergi Ke Toko
Rp. 13.999.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua
Home Reviews