Persaingan tablet di Indonesia turut diramaikan oleh Xiaomi Pad 7, tablet di harga Rp 5 juta yang memiliki segudang keunggulan. Perangkat tablet pintar ini dibawa masuk ke Indonesia pada Kamis (13/3/2025) lalu, bersamaan dengan Xiaomi Pad 7 Pro dan duo ponsel flagship Xiaomi 15 dan Xiaomi 15 Ultra.
Selama beberapa minggu, tim 91Mobiles Indonesia menjajal tablet Xiaomi Pad 7 yang ternyata tak hanya cocok berfungsi sebagai sarana hiburan, namun juga ideal dipakai bekerja.
Dalam review kali ini, kami pun tidak hanya akan sekadar membahas soal aspek-aspek spesifikasinya, melainkan juga pengalaman memakai Xiaomi Pad 7 untuk keseharian, termasuk apakah tablet ini nyaman digunakan untuk multi-tasking atau tidak. Mari simak review Xiaomi Pad 7 selengkapnya berikut ini.
Table of Contents
Xiaomi Pad 7 adalah tablet yang paling “serba ada” di kelas harga Rp 5 juta. Perangkat ini menawarkan performa lebih kencang dari mayoritas pesaingnya, juga memiliki daya tahan baterai yang baik untuk bekerja seharian penuh. Bodinya tidak hanya stylish dari segi tampilan tapi juga terasa ringan dan kokoh saat digunakan.
Kameranya pun tidak hanya dirancang seadanya demi menunjang kebutuhan scanning dokumen, melainkan juga dapat menjadi sarana fotografi dengan hasil foto memadai. Jika calon konsumen mencari tablet alternatif yang lebih murah dari iPad, Xiaomi Pad 7 dapat menjadi pilihan terbaik.
Unit Xiaomi Pad 7 yang diterima 91Mobiles Indonesia datang dalam kotak kemasan berwarna dominan putih, begitu pun dengan boks keyboard dan Xiaomi Focus Pen yang turut disediakan khusus untuk dijadikan bahan review kali ini. Sebab, aksesoris keyboard dan stylus tersebut umumnya dijual secara terpisah.
Isian boks unit perangkat Xiaomi Pad 7 terbilang cukup lengkap, terdiri atas unit tablet itu sendiri, charger 45 watt, kabel USB-A ke USB-C, dan juga buku panduan. Ketersediaan charger ini layak diapresiasi mengingat brand lain tertentu sudah jarang menghadirkan benda penting ini pada produk besutannya.
Sekilas, tampilan bodi belakang Xiaomi Pad 7 menyerupai sebuah iPad karena sama-sama terlihat minimalis dan simpel. Bedanya, modul kamera Xiaomi Pad 7 berbentuk persegi dengan latar belakang hitam, membuatnya tak beda jauh dengan Xiaomi Pad 6 yang menjadi pendahulunya.
Menggenggam tablet ini dalam waktu lama tidak terlalu membuat tangan mudah pegal lantaran bobotnya yang hanya 500 gram. Bobot ini sedikit meningkat dibandingkan Pad 6 yang seberat 490 gram, namun ini tentu bukan hal yang mesti dipermasalahkan.
Bagian belakang dan rangkanya yang terbuat dari aluminium memberikan kesan kokoh dan premium saat disentuh. Xiaomi bahkan berhasil menekan kerampingan bodinya hingga setipis 6,2 mm. Sebagai informasi, angka ini mengungguli Galaxy Tab S9 FE yang punya ketebalan 6,5 mm.
Perihal penempatan tombol, sisi kanan (dilihat secara portrait) menampilkan tombol volume dan area khusus untuk menempelkan stylus secara magnetis. Uniknya, sisi ini tidak dihiasi dengan tombol daya alias power.
Tombol power justru terletak di bagian atas dengan lokasi yang menjorok ke pojok kanan. Bagi yang belum terbiasa, pemosisian ini mungkin akan cukup membingungkan.
Lalu karena ukuran tombol volume dan power yang mirip, terkadang akan sulit membedakan keduanya. Tak jarang, kami malah mengunci layar tablet saat berniat mengecilkan volume. Akan tetapi hal ini akan semakin jarang terjadi seiring bertambahnya kebiasaan dan kenyamanan dalam penggunaan.
Bagian bawah tentu menampilkan port USB-C, dan sisi kirinya memiliki magnet untuk ditempelkan dengan aksesoris keyboard.
Perlu diketahui juga bahwa Xiaomi Pad 7 hadir dengan stereo speaker berjumlah empat, tepatnya dua speaker di sisi bawah dan dua speaker di atas pada orientasi portrait.
Dua hal yang mesti diperhatikan dari tablet ini adalah absennya port audio 3,5 mm dan sensor sidik jari di seluruh sisinya. Semula kami mengira sensor sidik jarinya terletak di layar. Namun saat mengingat tablet ini hanya memakai IPS LCD, rasanya hal ini tidak mungkin.
Rupanya benar saja, Xiaomi Pad 7 memang tidak mendukung sensor sidik jari sama sekali. Ini berarti pengguna mesti rela membuka kunci layar menggunakan PIN, kata sandi, pola, atau Face ID.
Laci kartu SIM di tablet ini juga sama sekali tidak ditemukan, karena Xiaomi Pad 7 memang tidak mendukung jaringan seluler (Wi-Fi only).
Di luar itu, perlu diapresiasi bahwa kamera depan Xiaomi Pad 7 ini terletak di bagian kanan pada posisi portrait. Artinya, jika tablet dihubungkan ke keyboard, kamera ini akan menempati posisi yang sama seperti webcam di laptop, yakni di sisi tengah atas (secara lanskap).
Beralih ke sisi depan, Xiaomi Pad 7 dipenuhi dengan permukaan kaca dengan layar IPS LCD 11,2 inci beresolusi 2.136 x 3.200 piksel alias WQXGA Plus.
Aspek rasio layar ini adalah 3:2 sehingga dapat memiliki ruang lebih luas untuk membaca dokumen dibandingkan rasio lain seperti 16:9 dan 16:10.
Walaupun bukan memakai AMOLED, kecerahan layarnya masih terasa nyaman di mata saat mengoperasikan tablet di dalam ruangan. Tampilan layarnya pun masih terlihat ketika tablet digunakan di luar ruangan untuk memotret pemandangan.
Yang cukup menariknya, Xiaomi Pad 7 menyediakan opsi refresh rate antara 60 Hz, 90 Hz, dan up to 144 Hz. Setidaknya tiga opsi itulah yang muncul saat mengakses menu pengaturan layar.
Saat opsi up to 144 Hz dipilih, pengguna dapat memilih aplikasi mana saja yang mendukung refresh rate tinggi tersebut. Hal ini agar baterai tablet tidak cepat habis lantaran meraih refresh rate tinggi terus-menerus.
Untuk penggunaan sehari-hari, kemungkinan pengguna hanya akan merasakan refresh rate paling tinggi di angka 120 Hz, misalnya saat membuka aplikasi pihak ketiga seperti YouTube dan Google Chrome.
Sayangnya, refresh rate yang ditampilkan saat memainkan sejumlah permainan tidak berhasil mencapai 144 Hz. Beberapa judul seperti Alto’s Adventure, Alto’s Odyssey, dan Brawl Stars semestinya mendukung 144 Hz.
Akan tetapi, Alto’s Adventure dan Alto’s Odyssey hanya meraih 120 Hz sementara Brawl Stars hanya mencapai 60 Hz, kendati sudah memilih opsi memprioritaskan frame rate dan melakukan boost pada menu Game Turbo.
Setelah diulik sedikit, yakni dengan melakukan clear all data pada aplikasi Battery and Performance, barulah Brawl Stars berhasil meraih 120 Hz. Namun lagi-lagi itu pun belum menyentuh angka 144 Hz.
Salah satu judul lainnya, Dead Trigger 2, juga paling mentok hanya meraih 120 Hz. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa kami tidak pernah menyaksikan refresh rate 144 Hz ini pada penggunaan sehari-hari. Mungkin hal ini dapat diperbaiki dengan update OTA berikutnya.
Di luar dari pengalaman unik tadi, kualitas layar Xiaomi Pad 7 masih enak untuk dipakai menonton film, bermain game, dan melakukan scrolling media sosial.
Tablet ini juga masih dapat menyeleksi opsi HDR pada aplikasi YouTube, serta berhasil memamerkan visual yang memukau kendati hanya menggunakan panel IPS LCD.
Kami membandingkan tampilan HDR salah satu video YouTube pada tablet ini dengan dua perangkat lain: satu ponsel yang menggunakan IPS LCD dan satu ponsel lain dengan AMOLED.
Tampak bahwa tampilan HDR pada Xiaomi Pad 7 lebih mendekati kualitas layar ponsel yang menggunakan AMOLED, kendati masih berada sedikit di bawahnya. Walau begitu, perbedaan kualitas HDR pada tablet ini jauh lebih bagus dari tampilan SDR di ponsel berpanel IPS LCD, bagaikan langit dan bumi.
Layar perangkat ini juga sudah tersertifikasi Widevine L1, sebagaimana yang ditunjukkan pada aplikasi Netflix. Artinya, Xiaomi Pad 7 dapat memutarkan konten dalam resolusi Full HD pada aplikasi streaming.
Vendor perangkat pintar umumnya tidak terlalu memerhatikan unsur fotografi pada tablet. Lagi pula, siapa juga yang lebih memilih memotret memakai tablet ketimbang smartphone, bukan? Kendati begitu, saat mengujikan aspek kamera pada Xiaomi Pad 7, kami cukup terkesima dengan kualitasnya.
Di atas kertas, spesifikasi kamera tablet ini memang tidak begitu impresif lantaran hanya mengusung resolusi 13 MP. Kamera ini namun masih dibekali autofokus.
Fitur perekaman videonya mendukung hingga frame rate 60 FPS pada resolusi 1080p. Jika ingin lebih tajam lagi, bisa ditingkatkan menjadi 4K kendati frame rate-nya mentok di 30 FPS.
Walau pun Xiaomi tidak mencatutkan fitur stabilisasi pada material promosinya, kami berhasil mendapatkan footage yang mulus, stabil, dan tanpa jitter saat merekam di 1080p 60 FPS.
Kekurangannya hanya satu. Saat merekam di malam hari, tablet ini cenderung kesulitan mengunci fokus ke subjek dengan cukup lama sehingga akan memperlihatkan gerakan defocus dan refocus.
Akan tetapi, kalau bicara soal hasil pemotretan, kamera Xiaomi Pad 7 tampak terlalu bagus untuk seukuran tablet. Tidak disangka-sangka tablet di kelas menengah bisa menghasilkan foto dengan detail, pencahayaan, dan warna sebagus ini.
Saat dicoba mengambil foto dengan mode portrait, kami cukup terkesima dengan betapa mudahnya menghasilkan efek bokeh creamy yang diinginkan. Antarmuka kameranya pun masih memungkinkan pengguna mengatur depth field secara real-time.
Begitu pun dengan kamera depan, “hanya” memiliki resolusi 8 MP di atas kertas namun aslinya sanggup menghasilkan foto selfie yang estetis dan Instagram-able.
Detail dan tone warnanya memang tidak sebaik kamera belakang. Namun, kamera ini masih dapat menyuguhkan dynamic range yang luas kendati membelakangi sumber cahaya.
Adapun saat mencoba memotret menggunakan mode portrait, pengalaman yang serupa turut dirasakan seperti saat memakai kamera belakang, yakni dengan separasi subjek yang rapi serta penerapan background blur yang memadai.
Karena ini produk besutan Xiaomi, tentu performa adalah salah satu aspek yang paling diperhatikan. Xiaomi Pad 7 disokong oleh chipset Snapdragon 7 Plus Gen 3 yang dibangun pada fabrikasi 4 nm.
SoC ini menggunakan konfigurasi CPU 8-core yang mencakup 1x Cortex X4 (2,8 GHz), 4x Cortex A720 (2,6 GHz), dan 3x Cortex A520 (1,9 GHz) berikut GPU Adreno 732.
Saat dilakukan pengujian benchmark, Xiaomi Pad 7 berhasil menorehkan skor tinggi pada AnTuTu v10 yaitu 1.364.573 poin. Ini dua kali lipat lebih tinggi dari pesaingnya di kelas harga lebih mahal, Samsung Galaxy Tab S9 FE, yang meraih skor 500 ribu poin menggunakan chipset Exynos 1380.
Perangkat ini juga berhasil menorehkan skor tinggi di pengujian Geekbench yaitu 1.834 poin untuk single-core dan 4.721 poin untuk multi-core, serta berhasil mempertahankan peak performance di angka 80 persen setelah diujikan CPU Throttling Test selama 10 menit.
Aktivitas bermain game di tablet ini juga sangat memuaskan. Semua game berat yang diujikan, seperti GTA San Andreas Definitive Edition, Genshin Impact, Delta Force, dan Grid Autosport, berjalan sangat mulus pada pengaturan grafis tertinggi.
Ini menunjukkan bahwa Xiaomi Pad 7 tidak hanya unggul di sisi layar dan desain, melainkan juga cocok digunakan untuk aktivitas berat seperti bermain game, mengedit video, atau kegiatan produktif kelas profesional.
Pengalaman produktivitas yang kami rasakan saat mengujikan Xiaomi Pad 7 beberapa minggu membuahkan hasil yang menarik. Unit yang kami pegang datang bersamaan dengan Xiaomi Focus Pen dan keyboard, membuat aktivitas mengetik dan mencatat menjadi menyenangkan.
Sayangnya, jika pengguna membeli Xiaomi Pad 7, dua aksesoris ini tidak disertakan dan harus dibeli secara terpisah.
Adapun salah satu kekurangan dari keyboard tersebut adalah minimnya trackpad. Kendati layar tabletnya touchscreen, pengguna harus mengangkat tangan untuk menyentuh layar setiap kali ingin melakukan scrolling, memilih menu, berpindah jendela, atau menyeleksi objek. Kontras dengan trackpad yang lebih mudah dijangkau oleh jari.
Ini hanya kekurangan minor dan bisa diatasi dengan pembiasaan. Namun jika keyboard tersebut disertai trackpad, pastinya akan lebih nyaman lagi. Soalnya, salah satu tablet lokal di harga Rp 2 jutaan masih mampu menghadirkan keyboard secara bundling yang dilengkapi trackpad.
Di luar dari absennya trackpad, kami masih merasakan pengalaman mengetik yang cukup nyaman. Ukurannya yang ringkas juga membuatnya mudah dibawa bepergian namun masih tetap enak dipakai mengetik, dengan jarak antar-tombol selebar 18 mm serta keycap berukuran 15 mm x 15 mm pada key travel 1,3 mm.
Menghubungkan tablet dengan keyboard-nya juga terasa mudah karena memiliki titik kontak magnetik yang membuat posisi tablet lebih kokoh (tidak mudah bergeser).
Saat dipakai mengetik di atas pangkuan, tak pernah sekalipun tablet terlepas dari keyboard dan jatuh ke belakang, seperti yang kemungkinan sering terjadi jika menggunakan tablet murah dengan keyboard universal.
Selan itu, layar tablet juga dapat mendeteksi posisi cover dengan akurat selayaknya ketika laptop ditutup. Saat cover dilipat, layar tablet akan otomatis mengusung mode tidur, dan bakal otomatis menyala saat cover dibuka.
Kini beralih pada kemampuan Xiaomi Focus Pen, stylus yang semula dirancang untuk Xiaomi Pad 6S Pro 12,4, kini juga dapat diterapkan pada Xiaomi Pad 7.
Stylus ini menghadirkan peningkatan spesifikasi dibandingkan Xiaomi Smart Pen Gen 2. Pertama-tama, kini Focus Pen mendukung sensitivitas tekanan 8.192 tingkatan, meningkat dua kali lipat dari Smart Pen dengan 4.096 tingkat sensitivitas tekanan.
Kedua, yang semula Smart Pen 2 hanya punya dua tombol, kini Focus Pen punya tiga tombol yang terdiri atas Spotlight Button, Screenshot Button, dan Writing Button. Bobot bodinya seberat 15,6 gram, naik sedikit dari bobot 13 gram pada Smart Pen.
Walau beratnya meningkat, menulis dan menggambar dengan stylus ini masih terasa nyaman dan tidak membuat tangan mudah pegal.
Sensitivitas tekanan pada stylus ini tampaknya memang sesuai dengan klaim, karena pengalaman yang kami rasakan benar-benar terasa seperti pulpen di atas kertas. Nyaris tidak terasa delay sedikit pun saat menulis di aplikasi.
Xiaomi Focus Pen juga berhasil memberikan stroke dengan tingkat ketebalan berbeda-beda sesuai dengan tekanan yang diberikan. Hal ini menjadikannya cocok untuk mengarsir atau membuat sketsa.
Menyimpan stylus juga terasa praktis karena dapat menempel secara magnetis pada sisi atas kanan bodi. Aktivitas ini sekaligus dapat mengisi daya stylus.
Secara keseluruhan, Xiaomi Focus Pen adalah stylus yang dapat direkomendasikan untuk menunjang produktivitas sehari-hari seperti mencatat atau membuat sketsa. Namun jika ingin memakainya untuk menggambar sekelas profesional, alangkah baiknya memakai stylus yang sudah mendukung tilt detection.
Dari pabrikannya. Xiaomi Pad 7 menjalankan sistem operasi Android 15 dengan antarmuka HyperOS 2. Pihak perusahaan menjanjikan masa update versi OS hingga 2 tahun.
Jumlah aplikasi bawaannya masih tergolong sedikit, bahkan nyaris tak ada. Hanya terdapat sejumlah aplikasi bawaan dari Google seperti Gmail, Maps, YouTube, serta aplikasi tool dari Xiaomi seperti Mi Mover, Mi Remote, Mi Home, Mi Browser, Mi Canvas, dan sebagainya.
Jika pun ada aplikasi pra-instal yang bisa dianggap bloatware, aplikasi tersebut hanyalah LinkedIn dan Facebook yang masih bisa dihapus jika diinginkan. Lalu, selama masa pengujian review, sama sekali tidak ditemukan iklan baik di dalam aplikasi bawaan mau pun tampilan antarmuka.
Bagaimana dengan pengalaman multi-tasking? Menurut kami, cukup memuaskan untuk tablet di kelas harganya. Di bagian bawah antarmuka tersedia daftar shortcut aplikasi dalam bentuk dock-style bar, mirip seperti Dock yang ada di MacOS.
Selain hadir sebagai jalan pintas ke aplikasi, daftar ini juga bakal menampilkan recent app window yang sedang terbuka. Pengalaman yang dirasakan sedikit mirip seperti laptop.
Berapa banyak jendela aktif yang dapat ditampilkan pada Xiaomi Pad 7? Saat menggunakan Google Chrome, tablet ini bisa menampilkan dua halaman terpisah secara side-by-side.
Lalu, kami pun masih berhasil menambahkan dua floating window dari aplikasi lain seperti Mi Canvas dan Gmail. Sehingga jika ditotal-total, ada empat jendela aktif yang muncul bersamaan, yakni dua jendela penuh dan dua floating window.
Uniknya, setiap membuka dua aplikasi secara split-screen dan kembali ke Home Screen, jalan pintas menuju kombinasi jendela ini akan muncul di Dock, sehingga pengguna tidak perlu lagi mengulang proses pemasangan split-screen.
Pada menu pengaturan, Xiaomi Pad 7 menyediakan opsi Workstation yang akan membuat antarmukanya semakin mirip desktop, kendati dengan sejumlah keterbatasan.
Dalam antarmuka Workstation, ukuran Dock menjadi mengecil, dan pengguna pun kini dapat mengakses recent app window dengan cara tradisional seperti perangkat Android pada umumnya.
Saat berada di mode ini, setiap aplikasi yang dibuka akan mengusung bentuk floating window (hingga maksimal empat jendela). Namun entah mengapa, split screen tidak tersedia dalam mode Workstation. Anda hanya dapat mengubah floating window menjadi jendela aktif penuh atau sebaliknya.
Tidak lupa, mengikuti tren industri masa kini, Xiaomi Pad 7 juga dilengkapi sederet fitur kecerdasan buatan (AI) yang bisa menunjang keseharian pengguna, seperti Gemini, AI Writing, AI Art, AI Interpreter, AI Speech Recognition, dan AI Subtitles yang terkandung di dalam Xiaomi Hyper AI.
Menyoal konektivitasnya, tablet ini sudah mendukung hingga jaringan Wi-Fi 6 kendati tidak dibekali dukungan seluler. Selain itu terdapat juga dukungan extend ke monitor eksternal via nirkabel atau kabel. Ini berkaitan dengan port USB-C miliknya yang sudah mengusung versi 3.2, sehingga dapat menunjang DisplayPort.
Xiaomi Pad 7 dibekali dengan kapasitas baterai 8.850 mAh serta pengisian daya 45 watt via kabel, diklaim dapat terisi penuh dalam waktu 1 jam 20 menit.
Tablet ini memberikan pengalaman yang cukup sulit saat kami berupaya menghabiskan baterainya.
Dari kondisi baterai 98 persen, tablet ini dipakai untuk bermain GTA San Andreas Definitive Edition selama 1 jam 30 menit dan hanya berkurang 4 persen. Aktivitas berikutnya adalah menonton Netflix selama 4 jam lebih, membuat baterai berkurang dari 94 persen ke 82 persen.
Pada pengujian PC Mark Battery Life, Xiaomi Pad 7 berhasil bertahan selama 12 jam 4 menit.
Yang lebih menariknya lagi, Xiaomi Pad 7 tidak hanya menawarkan baterai tahan lama tapi juga fitur pengisian daya yang gesit. Charger 45 watt turut disediakan di dalam boks penjualan, begitu pun dengan kabelnya. Ini jelas menjadi poin tambahan mengingat merk tertentu lainnya sering kali tidak menyertakan charger.
Dari pengisian daya yang kami lakukan, baterai Xiaomi Pad 7 membutuhkan waktu 30 menit untuk terisi dari kosong hingga 40 persen. Adapun total durasi yang dibutuhkan untuk mengisi baterai Xiaomi Pad 7 dari 0-100 persen adalah 1 jam 29 menit. Waktu yang tergolong sebentar untuk baterai seukuran 8.850 mAh.
Buat yang sedang mencari alternatif iPad dengan harga murah, Xiaomi Pad 7 dapat dijadikan pilihan. Performanya tidak sekadar kencang namun juga ditunjang dengan pengalaman software yang baik, sehingga tetap lancar saat melakukan tugas multi-tasking. Desain bodinya pun memberikan kesan kokoh saat menggenggamnya, serta tidak terasa berat sama sekali. Mengangkatnya dengan satu tangan pun sungguh terasa ringan.
Layarnya, meski bukan AMOLED, masih menampilkan dynamic range yang baik saat menonton konten HDR. Secara garis besar, Xiaomi Pad 7 memiliki “value-for-money” sangat baik yang bisa membuatnya bersaing dengan sejumlah tablet flagship di pasaran.
Sejumlah hal yang disayangkan dari tablet ini adalah absennya sensor sidik jari dan juga dukungan jaringan seluler. Untuk tablet yang sebegitu nyamannya dipakai di luar ruangan, ia masih harus dibatasi dengan ketersediaan Wi-Fi.
Xiaomi Pad 7 dijual seharga Rp 5.499.000 di Indonesia, dengan kedua aksesorisnya yang dijual terpisah (Xiaomi Focus Pen dan Keyboard) dengan harga masing-masingnya Rp 999.000.
Rating editor: 8 / 10
Kelebihan:
Kekurangan: