Review Xiaomi Redmi 15C: Layar dan Baterai Besar, Kamera Memadai

Ringkasan Tinjauan

Peringkat Pakar

7.7/10
Desain
 
8.0
/10
Layar
 
7.3
/10
Sistem operasi
 
6.5
/10
Kamera
 
8.3
/10
Kinerja
 
7.8
/10
Baterai
 
8.0
/10

Pros

  • Performa memadai untuk sehari-hari
  • Kameranya cukup oke di kelas entry-level
  • Baterai tahan lama
  • Layar jumbo yang imersif, refresh rate 120 Hz

Cons

  • Banyak bloatware
  • Chipset kalah saing

Kabar baik bagi datang bagi mereka yang tengah mencari smartphone murah dengan spesifikasi tinggi. Pasalnya, Xiaomi telah merilis Redmi 15C yang hanya dibanderol Rp 1 jutaan saja.

Perangkat satu ini mengalami peningkatan baterai guna tahan seharian penuh dalam satu kali pengisian. Begitu pun dengan fitur fast charging miliknya, kini mampu mengisi baterai lebih cepat dengan daya 33 watt. Layarnya berukuran di atas rata-rata, dan kameranya pun punya daya saing yang tinggi di kelas entry-level, terlebih pada kondisi malam hari.

Kali ini, tim 91Mobiles Indonesia bakal menyelami fitur-fitur Redmi 15C secara mendalam untuk mengetahui kelayakannya di segmen entry-level. Simak review Redmi 15C berikut ini.

Table of Contents

Kesimpulan awal

Xiaomi Redmi 15C adalah perangkat berukuran jumbo yang punya performa memadai di kelas harganya. Ini merupakan ponsel yang cocok jika ingin menikmati aktivitas menonton bersama pasangan lantaran punya ukuran layar di atas rata-rata. Kameranya cukup mumpuni untuk sekelas entry-level, serta mendukung baterai jumbo demi menunjang kebutuhan pengguna seharian.

Sayangnya, sisi software ponsel ini perlu dibenahi karena menyisakan cukup banyak bloatware dan iklan. Beberapa aplikasinya bahkan akan mendatangkan notifikasi yang cukup mengganggu, walau sebenarnya ada cara mudah untuk mengatasi hal ini melalui menu pengaturan.

Unboxing: Lengkap dengan charger-nya

Unboxing Redmi 15C.

Di saat sejumlah brand lain tidak menghadirkan charger pada boks penjualan, Xiaomi adalah merk yang masih konsisten menyediakan aksesoris lengkap di boksnya. Pada boks Redmi 15C yang berpenampilan dominan merah, di dalamnya terdapat buku panduan dan kartu garansi, SIM Card Ejector Tool, charger 33 watt, dan kabel data. Tidak lupa, terdapat pula casing transparan yang dapat meningkatkan ketahanan ponsel tanpa mengganggu estetika desain.

Desain: Tidak lagi berdesain kamera “oreo”, namun tetap fresh dan estetis

Ada peningkatan besar pada desain Redmi 15C dibandingkan Redmi 14C, yakni pada bentuk modul kamera. Sebelumnya, Redmi 14C hadir dengan desain modul kamera bundar raksasa yang terletak di tengah, atau yang biasa disebut desain “oreo”. Kini, Redmi 15C menawarkan camera island persegi yang terletak di pojok kiri atas.

Meski kini modul kameranya tampak “lawas”, namun kesan mewah dan cantik masih bisa didapatkan. Sebab, modul tersebut memiliki warna yang sama dengan varian warna ponsel. Khusus varian warna Moonlight Blue yang kami terima, kami cukup terkesima dengan aksen pola riak air yang membuatnya tampak berkilau.

Tampilan bodi belakang Redmi 15C, punya efek glitter dan pola riak air yang menawan serta modul kamera persegi.

Seperti mayoritas ponsel entry-level lainnya, Redmi 15C mengusung rangka bangun bingkai datar, sehingga membuatnya mudah digenggam tanpa takut tergelincir. Ponsel ini memiliki ketebalan 8 mm, hanya menipis 0,2 mm dibandingkan Redmi 14C yang setebal 8,2 mm. Walau hanya berkurang sedikit, ketebalan 8 mm tersebut tetap tergolong tipis, terlebih mengingat ponsel ini punya baterai 6.000 mAh.

Panjang dan lebarnya adalah 171,6 mm dan 79,5 mm, lebih bongsor dari rata-rata ponsel lainnya. Ini karena smartphone tersebut punya layar 6,9 inci yang sangat nyaman untuk dipakai konsumsi konten. Meskipun bodinya besar, kami pribadi tidak merasa kagok saat mengoperasikannya sehari-hari. Namun bagi kaum hawa dan anak-anak yang umumnya bertangan kecil, mungkin bakal sedikit struggle.

Ukuran tombol pada ponsel ini tampaknya disesuaikan dengan ukuran bodi ponsel keseluruhan. Sebab, tombol power dan volume rocker yang berlokasi di sisi kanan terlihat lebih besar dari rata-rata. Ini merupakan hal bagus, berhubung tombol power tersebut sekaligus menjelma sebagai pemindai sidik jari.

Di sisi atas ponsel ini hanya ada earpiece, dan di bawahnya ada port USB Type-C, speaker grille, mikrofon, dan port audio jek 3,5 mm. Sebelah kirinya tidak menampilkan apa pun kecuali laci kartu SIM yang memuat dua kartu Nano SIM dan satu MicroSD.

Menyoal ketahanan bodinya, Redmi 15C kini tersertifikasi IP64 yang membuatnya tahan terhadap debu dan percikan air dari segala sisi. Perangkat ini juga dilindungi dengan lapisan Gorilla Glass 3 sehingga cenderung aman dari goresan.

Layar: Berukuran jumbo, tapi masih HD Plus

Aktivitas multimedia seperti menonton film dan membaca ebook dapat dilakukan dengan nyaman pada smartphone ini. Pasalnya, Redmi 15C dibekali layar jumbo 6,9 inci IPS LCD yang sangat besar. Layar ini namun masih beresolusi HD Plus serta menampilkan bezel tebal. Kamera depannya pun masih mengusung desain waterdrop notch, tapi ini lumrah untuk di kelas harganya.

Layar Redmi 15C menyediakan dua opsi refresh rate yaitu default dan custom. Memilih opsi default akan mendorong ponsel untuk menyesuaikan refresh rate berdasarkan aktivitas di layar agar dapat menghemat baterai. Jika memilih custom, Anda ditawarkan opsi 60 Hz dan up to 120 Hz. Sayangnya tidak ada opsi 90 Hz di ponsel ini.

Soal kecerahannya, kami tidak pernah menemui kendala visibilitas saat berada di luar ruangan di siang hari. Jika digunakan di dalam ruangan, brightness cukup disetel di 50 persen dan ini sudah lebih dari cukup. Apabila dimaksimalkan, siapa pun yang melihatnya bakal merasa silau karena saking terangnya.

Kustomisasi warna layarnya cukup memuaskan. Pengguna bisa memilih antara tiga opsi yaitu vivid, saturated, dan standar. Di bawahnya, ada color wheel yang memungkinkan pengguna mengatur temperatur warna dengan lebih fleksibel.

Yang cukup mengagetkan, walau layar ponsel ini hanya mendukung resolusi HD Plus, Redmi 15C sudah tersertifikasi Widevine L1. Artinya, sudah eligible untuk menikmati konten Full HD Plus di platform OTT (over-the-air) seperti Netflix dan Amazon Prime Video. Setidaknya, pengguna tidak perlu dibatasi pada konten beresolusi SD (480p) seperti pada ponsel yang tersertifikasi Widevine L3.

Lalu karena ini merupakan ponsel entry-level, tentu layarnya belum mendukung HDR10+. Hal ini terlihat dengan tampilan opsi yang terbatas saat memilih resolusi video di YouTube, tidak ada opsi HDR di sana.

Meskipun begitu, tampilan layar pada ponsel ini masih terbilang bagus. Jika tidak diperhatikan terlalu dalam, nyaris tidak terlihat adanya visual yang choppy atau kotak-kotak akibat resolusinya yang cuman 720p. Menonton YouTube pun masih terasa menyenangkan, kendati dengan mono speaker.

Berbicara soal speaker, suara yang dihasilkan ponsel ini cukup lantang, bahkan ketika berada di volume maksimal. Saat mendengarkan podcast, suaranya terdengar keras tanpa terdengar “nyaring” atau “melengking”.

Malahan, menekan tombol volume atas sampai mentok akan mencapai kondisi 200 persen yang cocok untuk lingkungan crowded. Jika sedang melakukan panggilan telepon namun suara lawan bicara tidak terdengar, Anda bisa mengaktifkan loudspeaker dan memaksimalkan volume hingga 200 persen.

Masalah baru hadir saat memainkan game tanpa earphone, lantaran suaranya bakal tertutup oleh tangan kanan. Terlebih saat berada di tengah-tengah pertempuran sengit. Apabila ponsel ini memiliki stereo speaker, setidaknya masih ada suara yang bisa keluar dari area earpiece.

Kamera: Tergolong oke di kelas harganya, hasil foto malam hari cukup memukau

Anda mungkin tidak akan bisa mendapatkan hasil fotografi setara profesional dengan Redmi 15C. Meski begitu, hasil fotonya masih tetap oke untuk sekadar dipublis ke media sosial. Setidaknya, detail dan pencahayaannya masih cukup baik di siang hari. Pemotretannya di malam hari pun menyisakan noise yang tidak begitu kentara, alias masih tampak jernih.

Bahkan ketika memotret dalam kondisi subjek membelakangi sumber cahaya, dynamic range pada fotonya masih tergolong luas. Pengguna juga bisa merasakan efek bokeh yang creamy saat menggunakan mode portrait, baik pada kamera belakang maupun depan.

Di atas kertas, Redmi 15C dilengkapi kamera utama 50 MP f/1.8 dengan focal length 28 mm dan ukuran sensor 1/2,76 inci. Terdapat kamera pendamping yang fungsinya sebagai “QVGA” dengan aperture f/3.0. Di bagian depan, terdapat kamera selfie 8 MP f/2.0 berukuran 1/4,0 inci, menurun dari Redmi 14C yang asalnya 13 MP.

Tidak ada perekaman video 60 FPS di ponsel ini. Kamera belakang dan depan hanya menampilkan dua opsi yaitu 720p di 30 FPS dan 1080p di 30 FPS. Stabilisasi di kamera ini pun sayangnya cukup minim, lantaran terasa “goyang” saat merekam video sambil berjalan. Akan tetapi, kalau sekadar merekam sambil diam untuk melakukan “panning”, kami masih bisa mendapatkan video yang cukup stabil.

Kami pun membandingkan hasil foto Redmi 15C dengan ponsel lainnya yang dihargai Rp 1 jutaan, yakni Itel RS4. Rupanya ponsel entry-level sudah berkembang cukup pesat dibandingkan keluaran 2024, setidaknya dari segi fotografi.

Hasil foto di atas diambil menggunakan Redmi 15C. Tidak banyak yang dikeluhkan soal kualitasnya, mengingat ini adalah smartphone seharga sejutaan yang standarnya tidak terlalu tinggi. Setidaknya, kami berhasil mengambil beberapa foto dengan akurasi warna kulit yang baik, serta detail yang mencukupi di siang hari.

Bukan itu saja, mode portrait di ponsel ini juga cukup canggih karena mampu memberikan efek bokeh creamy secara effortless, baik itu pada kamera depan maupun belakang.

Detail ini memang agak berkurang saat kondisi minim cahaya pada malam hari, namun tetap melampaui ekspektasi. Pasalnya, hasilnya jauh mengalami peningkatan dibandingkan Itel RS4 yang merupakan ponsel Rp 1 jutaan keluaran tahun lalu.

Flaring-nya tidak begitu kentara, warna-warnanya lebih cerah, dan secara keseluruhan merupakan hasil yang jauh lebih layak diunggah ke media sosial tanpa perlu penyuntingan tambahan. Namun, perbandingan foto di luar ruangan pada siang hari cenderung mirip.

Saat melakukan pemotretan suasana area bermain anak di dalam ruangan, reproduksi warna pada kamera Redmi 15C sedikit lebih gelap dari Itel RS4. Tapi satu hal yang cukup konsisten dari semua foto yang kami ambil, Redmi 15C selalu berhasil menghilangkan flare pada sumber cahaya seperti lampu, baik siang hari maupun malam hari.

Dari segi perekaman video, stabilisasi pada Redmi 15C sayangnya kurang begitu bagus, kontras dengan Itel RS4 yang mampu meredam efek guncangan dengan cukup baik. Absennya fitur perekaman 60 FPS juga cukup disayangkan. Namun, ini memang wajar untuk ponsel sejutaan keluaran tahun 2025.

Performa: Cukup memadai, namun bukan yang terbaik

Redmi 15C disokong oleh chipset kelas terjangkau dari MediaTek yaitu Helio G81 Ultra, dibangun pada fabrikasi 12 nm. Ini merupakan chipset yang turut dijumpai pada pendahulunya, Redmi 14C.

Di atas kertas, Helio G81 Ultra memiliki konfigurasi CPU 8-core berisikan 2x Cortex A75 (2,0 GHz) dan 6x Cortex A55 (1,8 GHz) berikut dengan GPU Mali G52 MC2. Karena memiliki core performa yang ditandai dengan “Cortex A75”, tandanya chipset ini sudah cukup memadai untuk menunjang gaming dan edit video.

Melakukan navigasi antarmuka, browsing, dan aktivitas ringan sehari-hari lainnya masih terasa lancar tanpa kendala. Terutama karena layar ponsel ini didukung refresh rate 120 Hz, sehingga kian menambah kesan mulus saat menggulir-gulirkan layar.

Dipakai bermain sejumlah judul populer pun, seperti Mobile Legends dan PUBG Mobile, masih bisa memberikan pengalaman yang nyaman. Redmi 15C masih bisa mendapatkan frame rate di kisaran 60 FPS saat bermain Mobile Legends di pengaturan grafis maksimal.

Saat memainkan PUBG Mobile di pengaturan HD – High, permainan masih berjalan secara playable walau tidak bisa dikatakan mulus. Ponsel ini beberapa kali mengalami frame drop sedikit di bawah 30 FPS, namun ini bukan pengalaman yang deal-breaker.

Barulah saat dimainkan Garena Delta Force, Redmi 15C mulai “kewalahan”. Awalnya, pengaturan grafis disetel ke Exquisite – Medium. Namun karena terasa stutter, kami menurunkannya ke Standard – Medium. Di awal-awal masih terasa stutter namun tidak separah sebelumnya. Namun saat menuju akhir match, yakni saat menampilkan lebih banyak musuh dan kawan beserta efek visual seperti asap dan ledakan, Redmi 15C menunjukkan lagging yang cukup parah. Bahkan, nyaris unplayable.

Ini diperparah absennya software pendukung gaming untuk mengoptimalkan performa, atau untuk sekadar menampilkan besaran FPS. Jika ditakar-takar, tampaknya kami telah memainkan Delta Force dengan frame rate 15 FPS di 15 menit terakhir.

Suhu yang meningkat selama sesi permainan namun masih tergolong wajar. Karena kami menggunakan casing, tidak terasa adanya kenaikan suhu yang membuat tangan kami tidak nyaman.

Pemilihan chipset Helio G81 Ultra di harga Rp 1 jutaan bukanlah opsi terbaik yang bisa dilakukan vendor pada produknya. Apabila menggunakan Helio G99, G100, atau G200, tentu akan lebih baik lagi. Setidaknya permainan Delta Force akan lebih playable.

Software: Masa pembaruan yang “langgeng”, tapi banyak bloatware

Xiaomi membekali Redmi 15C dengan HyperOS 2 berbasis Android 15 dari pabrikannya. Ponsel ini dijanjikan masa pembaruan OS utama yang panjang yakni 4x OS dan 6 tahun patch keamanan. Artinya, Redmi 15C masih bisa diperbarui hingga Android 19 di tahun 2029. Masa dukungan ini tergolong panjang, terutama untuk entry-level.

Saat pertama kali menjelajahi antarmukanya, kami langsung disambut dengan aplikasi prainstal yang cukup banyak. Beberapa di antaranya adalah Agoda, Amazon Shop, Block Blast, Block Puzzle, Booking.com, Bubble Shooter, GetApps, Jewels Blast, LinkedIn, dan masih banyak lagi.

Walau jauh dari pengalaman stock Android, Redmi 15C namun memiliki aplikasi Gallery sendiri di luar dari Google Photos. Saat baru selesai menyelesaikan setup awal, storage Redmi 15C sudah terpakai 29,2 GB.

Unit yang kami pegang merupakan varian RAM 8 GB/ 256 GB, sehingga masih tersisa penyimpanan 226,8 GB. Ponsel ini juga ditawarkan dalam varian lain yaitu RAM 6 GB/ 128 GB. Namun, varian tersebut tidak kami rekomendasikan untuk standar tahun 2025, terlebih karena sebagian penyimpanannya bakal terpakai untuk ROM dan bloatware.

Masih membahas aplikasi bawaan, beberapa di antaranya bahkan memunculkan notifikasi yang tidak begitu penting, misalnya dari Game Center. Isinya hanya ajakan untuk mengunduh dan memainkan game tertentu. GetApps juga sesekali memunculkan notifikasi. Parahnya lagi, saat smartphone baru dinyalakan setelah cukup lama dimatikan, notifikasi-notifikasi ini akan datang secara bertubi-tubi dan mengganggu kenyamanan.

Redmi 15C juga tidak dibekali dengan fitur kecerdasan buatan (AI) yang umumnya ditemukan pada mayoritas ponsel lain, seperti fitur generate gambar atau fitur penulisan. Bahkan menu Xiaomi HyperAI pun tidak ditemukan pada pengaturan.

Akan tetapi, masih ada fitur Circle to Search yang dapat “dipanggil” dengan menahan tombol Home. Lalu, Google Photos juga menawarkan fitur Magic Eraser untuk menghapus objek tak diinginkan dalam foto.

Alangkah baiknya jika Redmi 15C dibekali kemampuan merangkum tulisan, menulis ulang pesan dengan gaya berbeda, atau transkrip rekaman suara otomatis. Tampaknya fitur-fitur ini masih belum bisa didatangkan pada ponsel entry-level.

Baterai: Daya tahan dan kecepatan pengisian meningkat

Redmi 15C memang memiliki bobot cukup berat, mencapai 205 gram. Namun hal ini dikarenakan kapasitas baterainya yang besar yakni 6.000 mAh, meningkat dari yang semula 5.160 mAh pada Redmi 14C. Dengan baterai lebih besar, perangkat ini mampu bertahan seharian penuh bahkan hingga hari kedua.

Baterai ponsel ini hanya berkurang sedikit saat diujikan bermain game selama 30 menit. Memainkan Mobile Legends: Bang Bang hanya mengurangi baterai 4 persen, PUBG Mobile hanya berkurang 8 persen, dan Delta Force berkurang 5 persen.

Lalu untuk pemakaian screen-on time saat menonton di YouTube, baterai Redmi 15C hanya berkurang 26 persen saat dipakai streaming selama 4 jam 58 menit. Ini adalah ketahanan baterai yang terbilang awet untuk entry-level.

Perihal pengisian daya, perangkat ini dilengkapi dengan fast charging 33 watt, tergolong gesit untuk ponsel Rp 1 jutaan di tahun 2025 yang umumnya hanya mentok di 15 watt atau 18 watt.

Saat diujikan, pengisian daya Redmi 15C selama 30 menit dapat mencapai baterai 39 persen. Sementara, durasi pengisian dari 0-100 persen membutuhkan waktu 1 jam 20 menit.

Kesimpulan

Redmi 15C adalah ponsel yang cocok dimiliki bagi mereka yang mencari baterai layak. Baterainya yang besar ini membuatnya mampu bertahan hingga seharian penuh dalam sekali siklus charging. Layarnya yang besar juga sungguh nyaman untuk menunjang aktivitas menonton, terlebih bersama teman atau pasangan.

Kameranya sanggup menangkap foto di malam hari dengan hasil yang impresif, cocok untuk mereka yang mencari ponsel fotografi di kelas harga terjangkau. Performa chipset cukup memadai namun bukan yang terbaik

Secara keseluruhan, ini adalah smartphone yang cukup seimbang di segala sisi, dapat memenuhi semua jenis kebutuhan meski tidak punya satu aspek yang sangat menonjol dibandingkan para rivalnya. Yang cukup disayangkan, pengalaman software-nya agak kurang nyaman karena sering munculnya notifikasi dari aplikasi-aplikasi prainstal.

Rating editor: 7,5 / 10

Alasan membeli:


Alasan tidak membeli:
Xiaomi Redmi 15C Harga
Rp. 1.899.000
Pergi Ke Toko
Rp. 2.169.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua
Home Reviews