
Selain output default sebesar 12 MP dengan pixel binning, pengguna Samsung Galaxy S26 Ultra juga dapat memilih untuk menjepret dengan resolusi native 200 MP. Hasilnya adalah foto berukuran sangat besar yang juga sangat tajam dan kaya akan detail.
Andy mengatakan, foto 200 MP itu kemudian bisa dipotong (crop) sesuai selera untuk memperoleh framing yang diinginkan. Dengan demikian, pengguna bisa memperoleh field-of-view alias bidang pandang berbeda, tampak lebih dekat menyerupai kamera dengan focal length lebih tinggi.
“Jadi, kita cukup memotret dengan kamera utama saja, kemudian hasilnya di-crop supaya dapat framing lebih bagus,” ujar Andy dalam workshop Samsung bertajuk #YouandAICan di Hanoi, Vietnam, pekan lalu.
Menurut Andy, memotret dengan kamera 200 MP di Galaxy S26 membuat pengguna lebih gesit dalam mengabadikan kejadian menarik sehingga tak kehilangan momen. Dia mencontohkan sebuah foto yang memperlihatkan sebuah pesawat tertangkap kamera sedang terbang di antara dua gedung. Foto awalnya berbidang pandang lebar sehingga kurang menarik, kemudian di-crop agar lebih ketat dan membuat pesawat tampil lebih menonjol.
“Momen cepat seperti ini sulit difoto kalau kita ribet pindah kamera dulu ke telephoto. Sebaliknya, kalau pakai kamera 200 MP nggak usah pusing, cukup jepret lalu kita bisa cropping sesuai keinginan. Hasilnya masih sangat tajam karena resolusi awalnya tinggi,” tutur Andy.
Untuk membuktikan ucapan Andy, 91mobiles Indonesia memotret dengan mode 200 MP Samsung Galaxy S26 Ultra di dataran tinggi Sapa, Vietnam. Jepretan foto beresolusi tinggi diambil dari atas cable car yang menggantung di atas lembah.
Satu foto lagi diambil secara spontan dalam waktu hanya beberapa detik, ketika Andy, sang travel vlogger, kebetulan melintas di depan 91mobiles Indonesia saat berada di wahana Alpine Coaster. Wajahnya penuh senyum, tangan kanan terangkat tinggi mengacungkan jempol, pertanda excitement seperti yang dirasakan para anggota rombongan saat itu.
Masalahnya, bidang pandang foto terlalu lebar sehingga Andy tidak terlihat jelas. Dia tampak kecil di tengah gambar. Di saat seperti ini biasanya timbul penyesalan, “Ah, seandainya saja aku pakai kamera telephoto untuk mengambil gambar yang terlihat lebih dekat!”
Namun, penyesalan itu tidak terjadi karena 91mobiles Indonesia bisa melakukan cropping. Foto jadi terlihat sangat dekat. Ekspresi semringah Andy pun mengemuka sementara detail-detail kecil lainnya tetap tampil sangat tajam dan jelas, mulai dari lipatan baju yang dikenakan, tulisan di mobil wahana, hingga helai daun di latar belakang dan baut-baut kecil di rel. Luar biasa.
Framing dengan bidang pandang berbeda pun bisa dilakukan dengan sama apik, seperti dalam foto berikutnya yang dipotong dalam format landscape (horizontal) untuk menyesuaikan komposisi dan menampakkan lebih banyak latar belakang. Padahal, foto aslinya berorientasi portrait alias vertikal.
Hal serupa kembali dialami saat mengambil gambar pemandangan dari ketinggian cable car. Saat melakukan pembesaran hingga 100 persen (actual size), 91mobiles Indonesia menemukan banyak detail menarik seperti sebuah mobil golf yang kebetulan melintas di antara rumah.
Detail-detail seperti penumpang di dalamnya hingga pohon dan bebatuan di sekitar masih tampak meskipun area cropping sangat ekstrem, seperti bisa dilihat dalam kotak merah pada contoh gambar. Memang terdapat efek haloing akibat oversharpening, tapi ingatlah bahwa ini merupakan pembesaran 100 persen. Apabila zoom-out sedikit saja, hasil gambarnya sudah jauh meningkat.
Dari satu foto pemandangan itu, 91mobiles Indonesia bisa memperoleh tiga foto berbeda. Satu foto memperlihatkan pemandangan keseluruhan dalam orientasi portrait; dua lainnya fokus pada deretan rumah di tepi lembah dalam orientasi landscape. Semuanya tampak tajam dan detail, seolah diambil dengan tiga kamera berbeda. Padahal kamera yang digunakan hanya satu saja.
Karena resolusi awalnya sangat tinggi, foto hasil cropping pun masih memiliki resolusi besar di kisaran 17-18 MP sehingga jelas memadai untuk dicetak, apalagi sekadar diunggah ke media sosial.
Satu hal yang perlu diingat adalah kamera 200 MP sebenarnya ditujukan untuk pixel binning, yakni teknik di mana beberapa piksel digabungkan menjadi satu untuk meningkatkan kualitas gambar. Misalnya, untuk meredam noise di situasi low-light atau implementasi real-time HDR. Itulah sebabnya resolusi default kamera utama Galaxy S26 Ultra adalah sebesar 12 MP.
Meskipun demikian, apabila berada dalam situasi terang dengan pencahayaan memadai yang tidak memerlukan pixel binning, pengguna dapat memotret dalam mode 200 MP untuk memperoleh detail yang luar biasa seperti dalam contoh-contoh foto di artikel ini. Momen sekejap bisa ditangkap tanpa ribet; satu foto pun bisa disulap menjadi beberapa.