bokeh | Indonesia Blog https://www.91mobiles.com/id/hub Sat, 19 Sep 2026 08:46:27 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.5.3 Kamera iPhone 18 Pro Punya Variable Aperture, Ini Fungsinya https://www.91mobiles.com/id/hub/kamera-iphone-18-pro-punya-variable-aperture-ini-fungsinya/ https://www.91mobiles.com/id/hub/kamera-iphone-18-pro-punya-variable-aperture-ini-fungsinya/#respond Sat, 19 Sep 2026 09:02:33 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=25558 Apple telah menghadirkan perubahan pada kamera utama iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max. Kedua smartphone ini menjadi iPhone pertama dalam sejarah yang menggunakan teknologi variable aperture yang dapat berubah. Teknologi ini diterapkan pada kamera utama Fusion 48 MP, menggunakan mekanisme fisik yang memungkinkan aperture (bukaan) lensa diubah ke beberapa tingkatan yang berbeda alih-alih satu aperture tetap pada generasi […]

The post Kamera iPhone 18 Pro Punya Variable Aperture, Ini Fungsinya first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Apple telah menghadirkan perubahan pada kamera utama iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max. Kedua smartphone ini menjadi iPhone pertama dalam sejarah yang menggunakan teknologi variable aperture yang dapat berubah. 

Teknologi ini diterapkan pada kamera utama Fusion 48 MP, menggunakan mekanisme fisik yang memungkinkan aperture (bukaan) lensa diubah ke beberapa tingkatan yang berbeda alih-alih satu aperture tetap pada generasi iPhone pendahulunya. 

Lantas, sebenarnya apa itu variable aperture dan apa manfaatnya untuk pengguna? Simak pada penjelasan singkat berikut ini.

Cara kerja variable aperture

Aperture merupakan “bukaan” pada lensa kamera yang mengatur jumlah cahaya yang masuk ke sensor. Ukurannya dinyatakan dengan angka “f-Number”, misalnya f/1,48, f/1,8, f/2,8 dan f/4,0.

Pada sistem tersebut, angka yang lebih kecil menunjukkan aperture yang lebih lebar. Artinya, lensa dengan bukaan f/1,48 dapat memasukkan cahaya lebih banyak ketimbang f/4,0. 

Konsepnya kurang lebih mirip dengan pupil mata. Saat berada di tempat yang terik atau sangat terang, pupil mata akan secara otomatis menyempit untuk membatasi jumlah cahaya yang masuk agar pandangan tidak silau. Sebaliknya, saat berada di ruangan gelap atau pada malam hari, pupil mata akan melebar untuk menyerap cahaya sebanyak mungkin agar dapat melihat lingkungan sekitar.

Pada kamera dengan fixed aperture seperti yang terdapat di kebanyakan ponsel, “bukaan” lensa hanya memiliki satu ukuran sehingga tidak dapat diubah-ubah untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk. Pengaturan aperture juga berpengaruh terhadap depth of field, atau seberapa luas area di dalam frame yang terlihat tajam. 

Karena aperture tidak bisa diubah, kamera ponsel biasanya mengandalkan kecepatan shutter, ISO, dan pemrosesan gambar untuk menyesuaikan foto dengan kondisi cahaya. Untuk menghasilkan efek blur pada background menyerupai efek aperture lebar, ponsel mengandalkan algoritma di mode portrait untuk mengenali subjek dan memisahkannya dari latar belakang. 

Efek dari variable aperture juga dapat terlihat dari perbandingan keempat foto di atas. Pada f/1,4, ruang tajam sangat tipis sehingga memberikan efek bokeh yang cukup dramatis di latar belakang. Tingkat sensitivitas juga bisa dijaga rendah pada ISO 125 sehingga kualitas gambar sangat tinggi. Namun, area fokusnya terlalu sempit sehingga hanya satu subjek saja yang terlihat jelas (fokus). 

Di hasil foto dengan aperture f/5,6, area fokus pun meluas dan kini sanggup menjaga dua subjek foto (Aquaman dan Batman) terlihat jelas, namun subjek ketiga dan background terlihat buram. Intensitas blur-nya pun sedikit berkurang di foto tersebut. 

Untuk hasil foto f/8 dan f/16, kini menjaga fokus untuk keseluruhan subjek di dalam frame jadi lebih mudah. Sebagian besar subjek, berikut helai-helai daun tanaman di dalam pot, kini menjadi tajam karena masuk ke dalam ruang fokus (DoF) yang menjadi lebih “tebal”. 

Konsekuensinya, karena aperture kecil, cahaya yang masuk pun jadi jauh lebih sedikit sehingga kamera terpaksa menaikkan sensitivitas hingga ISO 6400 sambil menurunkan shutter speed. Ini berujung pada kualitas gambar yang menurun dan rawan noise, serta berpotensi buram akibat gerakan (motion blur). 

Semakin sedikit cahaya yang masuk, dynamic range pun jadi lebih luas dan membuat latar belakang terlihat lebih jelas. Terlihat pada f/16 bahwa ketiga subjek akhirnya sama-sama fokus, dengan efek blur yang hanya terlihat tipis pada tanaman di belakangnya. 

Untuk keperluan dramatisasi, keempat foto di atas diambil dengan kamera APS-C yang ukuran sensornya jauh lebih besar daripada ponsel mana pun. Oleh karena itu, depth of field yang diraihnya lebih tipis sehingga mampu menghasilkan efek bokeh yang dramatis.

Selain itu, kamera tersebut juga menggunakan lensa telefoto dengan focal length ekuivalen 85 mm. Dengan sensor lebih besar dan focal length yang lebih panjang, depth of field pun menjadi lebih tipis sehingga latar belakang terlihat lebih blur. 

Pada kamera smartphone dengan sensor yang lebih kecil, aperture f/1,4 sudah menghasilkan ruang fokus yang relatif “tebal”. Ketika aperture berada pada f/4, hampir semua benda pada berbagai jarak sudah terlihat fokus. Kamera smartphone juga tidak perlu menggunakan aperture hingga f/16 dan secara teknis tidak memungkinkan untuk mencapai bukaan tersebut.

Selain ukuran sensor, focal length lensa juga berpengaruh terhadap depth of field. Semakin panjang focal length, semakin tipis depth of field yang dihasilkan. Hal ini membuat lensa telefoto lebih mudah menghasilkan efek blur pada latar belakang dibandingkan dengan lensa wide, meski ukuran sensor dan aperture yang digunakan sama.

iPhone 18 Pro hadir dengan empat pilihan aperture

Pada iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max, Apple menggunakan 6 bilah yang dipotong dengan laser. Bilah tersebut digerakkan oleh mekanisme rotor untuk mengubah ukuran aperture lensa. 

Kamera dapat berganti aperture secara otomatis, dan bisa juga diganti secara manual melalui fitur Pro Control di empat tingkatan aperture yaitu f/1,48, f/1,8, f/2,8, dan f/4,0. Berikut ini penjelasan dan efek masing-masing tingkatan pada hasil foto.

  • f/1,48 (aperture maksimal) digunakan saat malam hari atau kondisi minim cahaya (low light) agar foto lebih terang, detail, dan terhindar dari noise (bintik-bintik). 
  • f/1,8 adalah tingkatan yang cocok untuk mode portrait untuk menghasilkan efek bokeh creamy sembari mempertahankan dynamic range yang luas. 
  • f/2,8 dapat memberikan pengalaman pemotretan yang fleksibel untuk pengambilan gambar sehari-hari. Di tingkatan ini, detail subjek dan background sama-sama jelas karena depth of field yang lebih dalam. 
  • f/4,0 (aperture paling sempit) memperluas depth of field untuk memastikan seluruh wajah orang saat foto grup tetap fokus dan tajam dari depan hingga belakang. Tingkatan ini juga cocok digunakan untuk memotret pemandangan di bawah terik matahari. 

Sejarah singkat variable aperture

Variable aperture sebenarnya bukan teknologi baru dalam dunia kamera. Sejak tahun 1800-an, kamera film telah menggunakan diafragma dengan bilah yang dapat dibuka dan ditutup untuk mengatur cahaya yang masuk ke sensor.

Teknologi serupa juga pernah diterapkan pada smartphone. Nokia N86, misalnya, menggunakan tiga pilihan aperture pada kamera utamanya ketika pertama diluncurkan pada tahun 2009. 

Samsung kemudian menjadi brand pertama yang mengadopsi teknologi ini pada produk smartphone, yakni melalui Galaxy S9 di tahun 2018. Ponsel tersebut mendukung dua tingkatan aperture, yakni f/1,5 dan f/2,4. 

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai merek ponsel asal China seperti Huawei, Xiaomi, dan Honor juga turut menerapkan teknologi variable aperture ini, dimulai dari Huawei Mate 50 Pro pada tahun 2022, Xiaomi 13 Ultra pada tahun 2023, dan Honor Magic 6 Pro pada tahun 2024. 

Apple kini akhirnya “bergabung” dalam daftar ponsel terbaru yang dibekali aperture variabel melalui kamera utama iPhone 18 Pro dan Pro Max. 

Mengapa fitur variable aperture sempat ditinggalkan?

Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, fitur variable aperture pertama kali hadir di Android pada Galaxy S9 pada tahun 2018. Namun, teknologi ini sempat ditinggalkan dan baru digunakan kembali pada tahun 2022 melalui Huawei Mate 50 Pro.

Menurut Android Authority, saat itu ukuran sensor kamera ponsel masih kecil sehingga kebutuhan terhadap variable aperture masih tergolong minim. Kondisi tersebut mulai berubah seiring hadirnya sensor berukuran besar pada HP flagship.

Sensor besar dengan aperture lebar menghasilkan area fokus yang lebih tipis dibandingkan dengan sensor kecil dengan aperture yang sama. Tanpa kemampuan mempersempit aperture, ponsel tidak dapat diatur untuk membuat lebih banyak bagian di foto terlihat tajam. 

Teknologi variable aperture pun mulai kembali digunakan pada 2022 dan 2023, ketika sejumlah ponsel dengan sensor besar mulai memanfaatkannya untuk mengatasi masalah depth of field yang muncul akibat aperture lebar. Alhasil, kini HP dengan sensor besar bisa memotret foto grup dengan detail yang jelas, namun di sisi lain juga bisa menghasilkan efek bokeh yang lembut jika memang diperlukan. 

The post Kamera iPhone 18 Pro Punya Variable Aperture, Ini Fungsinya first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/kamera-iphone-18-pro-punya-variable-aperture-ini-fungsinya/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/09/TDGJvmYLvs-150x150.jpg150150