<\/span><\/h2>Itel A80 merupakan ponsel entry-level<\/em> yang layak dipertimbangkan bagi pengguna yang membutuhkan ponsel dengan layar besar untuk membaca dan menonton konten. Kameranya juga cukup memadai untuk kelas harganya, meski tentu saja ekspektasi perlu disesuaikan. <\/p><\/span>Desain dan layar<\/span><\/h2>Itel A80 menampilkan bodi belakang yang simpel dan minimalis. Ponsel ini ditawarkan dalam tiga varian warna, cukup jarang di kelas harganya. Unit yang diterima 91Mobiles<\/em> merupakan varian Wave Blue yang menampilkan pola garis halus pada bagian belakang, memberikan kesan elegan tanpa membuatnya terlihat “norak”. Sementara itu, dua opsi lainnya yakni Glacier White dan Sandstone Black, hadir dengan pola khas masing-masing, menawarkan variasi tampilan yang dapat disesuaikan dengan selera pengguna. <\/p>
<\/div>
Semua tiga varian warna ini memiliki konsep desain yang sama, dengan dua bulatan kamera di punggung yang memuat setup <\/em>kamera ganda. Modul kamera demikian ini tampaknya mengambil inspirasi dari iPhone 16, meskipun ukuran LED Flash miliknya tampak kebesaran untuk memberi kesan sebagai kamera ketiga. Bahkan keempat sisinya dan juga bingkai yang rata menjadikannya mirip seperti iPhone terbaru.<\/p>Dari sisi dimensi bodi, Itel A80 punya ketebalan 8,54 mm dengan bobot 195 gram, tergolong standar untuk ponsel entry-level<\/em> di harga sejutaan. Namun menariknya, HP terjangkau ini sudah tersertifikasi IP54 sehingga dapat mengurangi risiko rusak saat terkena debu dan percikan air. Ini membuatnya cocok dipakai sebagai sarana driver<\/em> online<\/em>, terutama di saat curah hujan sedang tinggi. <\/p>Sebagai ponsel murah, bodinya tentu terbuat dari bahan plastik. Namun, ponsel ini tetap terasa kokoh dan tidak murahan. Penempatan port-nya cukup standar yakni USB-C dan jek audio 3,5 mm di sisi bawah, sementara tombol daya dan volume<\/em> terletak di sisi kanan. Di sisi kirinya pun terdapat laci kartu SIM yang mendukung Dual SIM. <\/p>Secara ukuran dan bobot, smartphone<\/em> ini terasa ergonomis dan nyaman digenggam, terutama bagi pengguna yang menyukai ponsel berlayar besar. Itel A80 hadir dengan layar IPS berukuran 6,67 inci beresolusi HD Plus (1.600 x 720 piksel) dan refresh rate<\/em> 120 Hz, spesifikasi yang umum di kelas harganya. Dengan begitu, pengalaman visualnya tidak membawa terobosan baru, namun tetap menawarkan kecerahan memadai dan warna yang cukup baik, meski tidak secerah panel AMOLED. <\/p>
<\/div>
Kami menguji kualitas layar ponsel ini dengan menampilkan beberapa video YouTube, dan kualitasnya memang cukup baik untuk kelas harganya. Namun, ponsel ini hanya mendukung sertifikasi DRM Widevine L3, sehingga tidak dapat menampilkan konten Netflix di resolusi Full HD. Keterbatasan ini lumrah untuk ponsel di kelasnya, dan bukan untuk dianggap sebagai kekurangan. <\/p>
Itel A80 menampilkan lampu LED kecil yang “tersembunyi” di bawah bezel<\/em> hitam di sisi atas layar. Lampu LED ini menyala setiap ponsel dicas atau ketika kamera depan sedang aktif untuk selfie<\/em>. Meski fungsinya tidak terlalu beragam, namun fitur ini terasa unik dan menyenangkan untuk ponsel di harga Rp 1 jutaan kecil. <\/p>
<\/div>
<\/span>Kamera<\/span><\/h2>Seperti kebanyakan ponsel kelas budget<\/em> di segmennya, Itel A80 menawarkan setup<\/em> kamera sederhana dengan sensor utama 50 MP sebagai andalannya. Panel belakangnya juga memiliki lensa kamera sekunder, meski lebih berfungsi sebagai elemen desain ketimbang peningkatan fungsionalitas. Di sisi depannya, terdapat kamera selfie<\/em> 8 MP yang ditempatkan dalam lubang punch hole<\/em>, memberikan tampilan lebih segar dan modern dibandingkan waterdrop notch<\/em> yang masih digunakan mayoritas ponsel Rp 1 jutaan lainnya. Desain punch hole<\/em> ini membantu menciptakan kesan layar yang lebih bersih dan immersive<\/em>, sekaligus mengurangi tampilan bezel<\/em> tebal. <\/p>
<\/div>
Berdasarkan hasil pengujian, performa kamera Itel A80 tergolong cukup baik, meski tidak menonjol. Ponsel ini memang menawarkan beragam fitur pemotretan, namun hasil fotonya cenderung kurang kaya warna dan detail. Dalam kondisi pencahayaan yang cukup, Anda masih dapat menghasilkan foto yang tajam, namun pemotretan di kondisi minim cahaya cukup buruk. Selain itu, kamera juga kesulitan menangkap warna kulit subjek manusia secara konsisten, dan mode portrait<\/em> masih jauh dari ideal, seperti yang terlihat pada perbandingan berikut.<\/p>\r\n