Layar depan ini kurang ideal untuk media sosial, sehingga seolah memaksa pengguna untuk melakukan “digital detox”.<\/figcaption><\/figure>Dengan kata lain, layar cover<\/em> ini memang tidak ideal untuk scrolling<\/em> media sosial, namun ini justru hal yang sangat bagus. Rasanya bagaikan digital detox<\/em> bawaan.<\/p>Sebaliknya, sejumlah aplikasi justru bekerja dengan sangat baik. Google Maps, YouTube Music, Netflix, dan Google Photos dapat dijalankan tanpa perlu membuka lipatan smartphone<\/em> sama sekali. Kami bahkan bisa menegakkan Flip 7 dalam posisi tent mode<\/em> untuk menonton serial TV berjudul “Friends” di Netflix sambil memasak, setup<\/em> yang praktis dan menyenangkan. <\/p>Menonton Netflix di mode tenda sungguh menyenangkan, bisa sambil melakukan aktivitas lain.<\/figcaption><\/figure>Layar depan ini juga terasa nyaman untuk digunakan menonton video atau konten sambil melakukan aktivitas yang lain. Menariknya lagi, ukuran layarnya yang begitu kecil justru membuat interaksi dengan kecerdasan buatan (AI) terasa lebih alami. Kami biasanya tidak terlalu suka menggunakan aplikasi AI, namun memakai Gemini di layar depan terasa seperti berbicara dengan asisten pribadi mini. Bentuknya yang compact<\/em> seperti Rabbit R1 (salah satu perangkat asisten personal) membuat perintah suara dan pencarian cepat terasa lebih menyenangkan. <\/p>Hal-hal yang kurang menyenangkan<\/h3> Layar cover<\/em> yang lebih besar memang memudahkan saat membalas pesan lantaran punya ukuran keyboard<\/em> yang lebih lega. Sehingga, kesalahan mengetik pun menjadi lebih jarang. Namun pengalaman membalas pesan di WhatsApp tetap terasa menyebalkan, keyboard<\/em> bawaan Samsung menutupi seluruh layar sehingga pesan terakhir yang ingin dibalas malah tidak terlihat. Padahal, kami suka melihat pesan sebelumnya untuk konteks percakapan.<\/p>Di Motorola Razr 60 Ultra, hal ini tidak terjadi karena layout<\/em> Google Keyboard yang lebih tidak makan tempat. Semoga Samsung memperbaiki hal ini melalui pembaruan software<\/em>. <\/p>Google Keyboard di Razr 60 Ultra (kiri) masih memperlihatkan pesan terakhir dari lawan bicara, sementara keyboard Samsung di Galaxy Z Flip 7 (kanan) menutupi seluruh area.<\/figcaption><\/figure>Hal-hal yang membuat frustrasi<\/h3> Bahkan tugas sederhana seperti menambahkan aplikasi ke layar depan, mengubah tampilan jam, atau mengedit widget<\/em> masih sering memunculkan peringatan “buka ponsel untuk melanjutkan”. Kelihatannya sih<\/em> sepele, namun cukup mengganggu dalam hal penggunaan sehari-hari. Dalam hal ini, Razr 60 Ultra lebih praktis lantaran bisa menambahkan aplikasi secara langsung tanpa perlu membuka lipatan ponsel. <\/p>Sejumlah aktivitas di layar cover mengharuskan pengguna untuk membuka lipatan ponsel untuk melanjutkan.<\/figcaption><\/figure>Selain itu, beberapa widget<\/em> seperti Weather dan Calendar juga belum memanfaatkan sepenuhnya ukuran layar cover<\/em> yang lebih besar. Widget<\/em> tersebut tampil dalam format kecil 4 x 2 dan baru membesar ke tampilan penuh ketika disentuh. Motorola lagi-lagl unggul dalam hal ini karena menampilkan widget<\/em> dalam bentuk kartu penuh secara default<\/em>. <\/p>Galaxy Z Flip 7 (kanan) menampilkan widget seperti Weather dan Calendar pada format 4×2 ketimbang ditampilkan secara penuh seperti pada Motorola Razr 60 Ultra (kiri).<\/figcaption><\/figure>Di luar itu semua, layar depan yang besar ini tetap dipadukan dengan desain bodi yang ramping dan elegan. Galaxy Z Flip 7 lebih tipis dibandingkan Motorola Razr 60 Ultra, baik saat dilipat maupun dibuka. Sisi belakang bodi yang matte<\/em> memang tampak premium, namun agak licin ketika digenggam. Sedangkan, varian Scarab pada Razr 60 Ultra dengan tekstur kain lebih praktis dan aman di tangan. <\/p>Kedua ponsel flip<\/em> ini memang tidak ideal untuk dibuka-tutup dengan satu tangan, namun curved edge<\/em> pada Razr 60 Ultra membuatnya sedikit lebih mudah dioperasikan.<\/p><\/span>Performa gesit, ada jaminan update<\/em> 7 tahun<\/span><\/h2>Chipset<\/em> Exynos 2500 yang digunakan Galaxy Z Flip 7 sebenarnya cukup bertenaga, meski potensinya belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan pada ponsel flip<\/em> ini. Maksudnya, Galaxy Z Flip 7 bukanlah ponsel yang diperuntukkan pada aktivitas berat seperti bermain game<\/em> intensif atau mengedit foto beresolusi super tinggi, sehingga Anda bakal jarang memaksimalkan performanya. Jika dipaksakan, maka ponsel ini akan cenderung memunculkan sedikit throttling<\/em> performa, kemungkinan untuk menjaga suhu perangkat tetap stabil dan menghemat baterai.<\/p><\/div>
Sementara itu, Galaxy Z Fold 7 disokong oleh Snapdragon 8 Elite, dan menurut kami, ini lebih masuk akal untuk pengguna yang berorientasi pada “power”. Galaxy Z Flip 7 lebih cocok dianggap sebagai perangkat lifestyle<\/em>, dirancang agar nyaman digunakan pada aktivitas harian, terutama melalui layar depannya. Untuk menjelajahi internet, mengecek email, dan melakukan multi-tasking<\/em> ringan di layar utama, Exynos 2500 mampu menjalankan semuanya tanpa masalah berarti. <\/p><\/div>
Yang paling menarik dari Galaxy Z Flip 7 (dan juga Fold 7) justru terletak di pengalaman software<\/em>. One UI dari Samsung tetap menjadi salah satu antarmuka terbaik yang punya tampilan bersih, mudah digunakan, dan kaya akan fitur. Kabar bagusnya, kedua ponsel lipat tersebut langsung menjalankan Android 16 secara out-of-the-box<\/em> dan dijanjikan menerima pembaruan OS serta patch<\/em> keamanan selama 7 tahun. Secara teori, itu berarti Galaxy Z Flip 7 akan didukung hingga tahun 2032. <\/p>Dengan kata lain, akan ada banyak lipatan dan bukaan selama bertahun-tahun, dan Flip 7 sudah mempersiapkannya untuk itu. Samsung mengklaim bahwa perangkat ini tahan hingga lebih dari 200 ribu kali lipatan, cukup untuk menemani pengguna yang paling aktif sekalipun dalam jangka panjang. <\/p>
<\/span>Fotografi yang teroptimasi untuk Flip<\/span><\/h2>Salah satu keuntungan besar dari ponsel flip<\/em> adalah bisa memakai kamera utama untuk selfie<\/em> melalui layar depan alias cover screen<\/em>, sehingga kamera depan di layar utama yang kualitasnya lebih rendah jadi hampir tidak diperlukan. <\/p>Kamera utama 50 MP ISOCELL GN 3 miliknya mampu menghasilkan foto siang hari yang memanjakan mata, dengan warna akurat dan detail yang baik. Saat melakukan tingkatan zoom<\/em> di 2x, hasilnya masih cukup solid, namun setelah melewati tingkatan 4x, detail mulai turun dan foto menjadi terlihat biasa saja. Sementara itu, kamera ultrawide<\/em> 12 MP miliknya tidak memiliki autofokus, sehingga lebih cocok untuk memotret objek diam seperti bangunan atau lanskap dibandingkan subjek manusia. <\/p>Untuk selfie<\/em>, Anda juga ditawarkan banyak mode yang dapat dicoba. Kamera utamanya menghasilkan selfie<\/em> tajam dengan warna kulit natural, bahkan bisa melakukan zoom<\/em> di tingkatan 2x, 4x, atau bahkan 10x untuk hasil yang lebih dekat. Kamera ultrawide<\/em> cukup fungsional untuk foto grup, dan layar depan yang lebih besar memudahkan pengguna untuk memeriksa sudut dan komposisi gambar sebelum menekan tombol shutter<\/em>. <\/p>\r\n