<\/span><\/h2>Vivo X200 muncul sebagai salah satu smartphone<\/em> dengan kamera terbaik di kelasnya, menampilkan hasil memukau pada aktivitas fotografi dan video. Dengan sejumlah peningkatan baru seperti chipset<\/em> Dimensity 9400 dan kapasitas baterai 5.800 mAh, ponsel ini bisa diandalkan oleh mereka yang berfokus pada produktivitas. Akan tetapi, Vivo sebenarnya masih bisa meningkatkan pengalaman penggunanya lebih baik lagi kalau saja jumlah aplikasi pre-installed-<\/em>nya dikurangi. Ditambah lagi, jika saja Vivo X200 terintegrasi dengan fitur-fitur AI generatif seperti yang dilakukan Samsung dan Oppo, mungkin akan membuatnya semakin unggul.<\/p><\/span>Desain dan layar<\/span><\/h2>Vivo secara jelas ingin memamerkan kemampuan kameranya lewat desain yang ditampilkan X200 series<\/em>. Sebab, tampilan belakangnya benar-benar berhasil mencerminkan hal itu, terlihat dari keberadaan modul kamera bundar berukuran besar di punggungnya.<\/p>Konsep desain demikian memang mulai cukup umum di kalangan smartphone<\/em> yang berfokus pada fotografi, dimulai dari Vivo X100 series<\/em> tahun kemarin, kemudian diikuti oleh Xiaomi 14 Ultra, dan terakhir ada Oppo Find X8 series<\/em> yang turut memiliki kamera bundar. <\/p>
<\/div>
Desain Vivo X200 yang paling layak disorot adalah bodinya yang begitu tipis dan ramping kendati punya baterai sebesar 5.800 mAh. <\/p>
Smartphone<\/em> ini terasa kokoh dan tahan banting, bahkan sudah mengalami beberapa kejadian terbentur yang tidak disengaja ketika sedang di-review<\/em>.<\/p>Vivo membekali HP ini dengan bingkai metal premium. Punggung bodinya menggunakan material kaca untuk memberikan finish<\/em> yang terasa premium. <\/p>Finish <\/em>metal tersebut turut diterapkan pada garis luar yang mengelilingi modul kamera belakang, membuat desain kameranya terlihat memukau.<\/p>Terlepas hal itu, Vivo X200 sayangnya hanya tersedia dalam varian warna yang cukup terbatas, kontras dengan Apple dan Google yang menawarkan berbagai macam pilihan untuk kelompok usia yang berbeda. <\/p>
Unit yang kami review <\/em>memiliki varian warna Natural Green. Menurut kami warna ini tampak lebih menyenangkan dibandingkan Cosmos Black. Padahal Vivo bisa saja memasukkan opsi warna putih dan biru. Dua warna ini akan terlihat cocok dengan tekstur finishing<\/em> matte<\/em>.<\/p>
<\/div>
Beralih ke layar, pengalaman menonton yang diberikan kurang lebih tetap sama seperti generasi sebelumnya. Ukuran layar Vivo X200 mungkin terlalu besar bagi sebagian orang, namun kami pribadi lebih senang dengan viewing area<\/em> yang luas.<\/p>Vivo X200 hadir dengan layar AMOLED berukuran 6,67 inci dengan resolusi Full HD Plus (2.800 x 1.260 piksel). Ujung-ujungnya yang sedikit melingkar juga membuat tangan kami nyaman saat memegangnya. Kami pun tidak merasa ada masalah saat menggenggamnya pada durasi panjang.<\/p>
Kami melakukan travelling<\/em> secara intens sembari membawa Vivo X200, menghabiskan banyak waktu menonton Netflix dan platform <\/em>OTT (over-the-air<\/em>) lainnya. Bezel<\/em> layar yang begitu tipis, kecerahan layar yang tinggi, serta berbagai kelebihan lainnya membuat pengalaman menonton kami menjadi tidak terlupakan. <\/p><\/span>Kamera<\/span><\/h2>Sementara Vivo X200 Pro hadir dengan kamera telefoto 200 MP, versi standarnya hanya punya resolusi 50 MP. Terdapat dua kamera lagi dengan resolusi 50 MP di punggungnya, disertai satu kamera depan 32 MP. <\/p>
Seperti generasi pendahulunya, Vivo kembali menjalan kolaborasi dengan Zeiss. Hal ini menunjukkan bahwa jenis lensa sama pentingnya dengan jenis sensor dan komponen-komponen kamera lainnya.<\/p>
Vivo juga telah berhasil melakukan tuning<\/em> terhadap hardware<\/em> dan software<\/em> kamera, sehingga sungguh terasa sulit menghasilkan foto berkualitas buruk menggunakan Vivo X200.<\/p>
<\/div>
Seperti model tahun lalu, Vivo X200 turut menawarkan hasil foto dengan detail dan kecerahan warna yang menakjubkan. Tersedia mode lanskap baru yang menyuguhkan profil warna beragam, sehingga dapat meningkatkan kecerahan warna agar foto terlihat dramatis dan menarik untuk dilihat. <\/p>
Sisi terbaik dari kemampuan fotografi Vivo X200 adalah mode portrait<\/em>, dapat bekerja dengan sangat baik kendati pada kondisi pencahayaan paling rumit sekali pun. Mode portrait <\/em>ini juga menawarkan panjang fokus berbeda-beda, yakni 23 mm, 35 mm, 85 mm, dan 100 mm. Jadi, Anda bisa menghasilkan foto bokeh meski dari kejauhan. Profil-profil warna beragam juga bisa dimanfaatkan agar lebih layak diunggah ke media sosial.<\/p>Satu-satunya fitur yang terlewatkan pada model reguler adalah kamera tele-makro untuk pengambilan gambar dari jarak dekat. Kemampuan perekaman video Vivo X200 punya fitur stabilisasi yang cukup mengejutkan. Hasil rekamannya berhasil stabil tanpa ada efek goyangan.<\/p>
Akan tetapi, white balance <\/em>pada hasilnya sedikit kurang konsisten, sehingga mungkin kurang terlihat menarik di mata kreator konten profesional. Vivo turut menawarkan fitur pengeditan video dengan kecerdasan buatan (AI), namun hasil videonya tetap tidak mengalami peningkatan kualitas yang signifikan. Berikut ini adalah sejumlah hasil foto dari kamera Vivo X200.<\/p>