
Kemunculan MacBook Neo beberapa bulan lalu membuat geger industri PC. Betapa tidak, laptop ini dibanderol relatif terjangkau untuk ukuran MacBook dari Apple sehingga mengancam produk-produk sejenis dari merek lain di segmen harga yang sama.
Para pelaku industri PC pun bereaksi, salah satunya adalah Intel selaku pabrikan prosesor terbesar, yang belakangan menelurkan inisiatif Project Firefly. Dalam sebuah video yang diunggah pekan lalu, Intel mengatakan bahwa Project Firefly dimaksudkan untuk merombak kategori PC (laptop) entry-level lewat standarisasi desain.
Motor utama dari Project Firefly adalah platform prosesor Core Series 3 “Wildcat Lake” yang dirancang khusus sebagai system-on-chip cost-effective untuk menekan biaya. Di dalamnya tertanam enam inti CPU yang terdiri dari 2 P-core dan 4 LP-E core, berikut 1-tile NPU dan 2 buah core GPU Xe3.
Namun, Project Firefly lebih dari sekadar prosesor, melainkan ikut mencakup keseluruhan ekosistem. Intel turut menggandeng mitra-mitra pabrikan supply chain ponsel dan tablet di China untuk menyediakan komponen-komponen berkualitas yang akan digunakan di produk laptop Project Firefly.
Dalam video, misalnya, Intel menunjukkan contoh laptop bernama “Intel Color” yang memiliki cangkang aluminium kokoh, tanpa adanya ventilasi karena memang tidak memerlukan kipas. Laptop yang ramping dengan ketebalan 12,9 mm tersebut juga menggunakan komponen-komponen dari gadget mobile (ponsel dan tablet) yang berharga lebih murah tapi terstandarisasi, seperti interface kabel dan modul memori.
Desain baseline dari laptop Project Firefly bisa digunakan oleh para rekanan pabrikan laptop untuk memangkas waktu pengembangan sehingga produknya bisa dipasarkan dalam tempo yang jauh lebih singkat. Dengan kata lain, inisiatif ini menyediakan “resep” atau reference design yang dapat diadopsi oleh pabrikan untuk membuat laptop entry-level.
Beberapa produk laptop berbasis prosesor Wildcat Lake sebagai bagian dari inisiatif Project Firefly bahkan telah mulai dipasarkan di China oleh sejumlah pabrikan, seperti Asus, HP, dan Honor. Banderol harganya dipatok di kisaran 600 dolar AS (Rp 10,6 juta) sehingga bersaing langsung dengan MacBook Neo.
Intel sendiri, berdasarkan laporan PC World, mengaku bahwa Project Firefly tidak diluncurkan untuk menyaingi MacBook Neo. Sebab, inisiatif tersebut sudah dimulai sebelum kemunculan Neo, yakni sejak setahun lalu saat harga memori mulai meroket dan mempersulit para pelaku industri PC.
Ke depan, bakal ada lebih banyak laptop murah berbasis Project Firefly yang beredar di pasaran. Intel mengatakan sudah ada lebih dari 10 rancangan produk dari berbagai pabrikan laptop yang menggunakan prosesor Core Series 3.









