
Pengumuman MacBook Neo beberapa waktu lalu membuat heboh dunia gadget lantaran harganya yang relatif ramah kantong. Laptop berprosesor A18 Pro ini dijual dengan harga mulai 599 dolar AS (sekitar Rp 10,1 juta) sehingga menjadi MacBook termurah dari Apple.
Bukan hanya konsumen saja, kedatangan MacBook Neo konon juga membuat geger industri PC (Windows), seperti diungkap oleh co-CEO AQsus S.Y. Hsu dalam sebuah earnings call pada Selasa (10/3/2026). Dia mengatakan bahwa laptop terjangkau dari Apple itu bakal memaksa industri PC untuk merespons.
“Di masa lalu, harga Apple selalu tinggi. Jadi, ketika mereka merilis produk budget-friendly, hal tersebut membuat geger seluruh industri,” ujar Hsu dalam bahasa China yang diterjemahkan dalam earnings call.
Menurut Hsu, para pemain besar di industri PC, termasuk Microsoft, Intel dan AMD, menanggapi MacBook Neo sebagai ancaman serius. Dia mengatakan bahwa sudah banyak diskusi mengenai cara bersaing dengan laptop Apple tersebut.
Kendati demikian, seperti dilaporkan oleh PC Magazine, Hsu turut berpendapat bahwa MacBook Neo sebenarnya memiliki batu ganjalan dalam hal kapasitas memori (RAM) yang terbatas, yaitu hanya sebesar 8 GB dan tidak bisa di-upgrade karena merupakan bagian dari SoC Apple A18 Pro.
Sebab itu, Hsu menyebut MacBook Neo sebagai perangkat untuk konsumsi konten, mirip dengan iPad. Skenario penggunaannya berbeda dari laptop lain pada umumnya. Perbedaan sistem operasi mungkin juga menghalangi pengguna PC Windows untuk membelinya.
Hsu mungkin saja benar. Namun, dari ulasan-ulasan yang sudah dipublikasikan, MacBook Neo sepertinya memiliki kinerja lebih dari cukup untuk menjalankan skenario penggunaan kasual. Laptop Mac OS ini bahkan memiliki tenaga cukup besar untuk menjalankan game.
Efek MacBook Neo terhadap industri PC, lanjut Hsu, masih harus diamati lebih jauh. “Tentu saja, seluruh ekosistem PC Windows akan merilis produk untuk berkompetisi dengan Apple,” ujarnya.










