
Di tengah desain ponsel yang semakin seragam, ponsel layar lipat hadir membawa desain dan bentuk yang benar-benar baru. HP lipat memungkinkan pengguna mendapatkan layar berukuran besar sembari mempertahankan dimensi bodi yang mungil agar mudah dimasukkan ke saku.
Meski begitu, konsep foldable sebenarnya bukan inovasi yang benar-benar baru. Jauh sebelum era layar foldable seperti sekarang, industri ponsel sudah lebih dulu mengenal perangkat dengan mekanisme lipat. Lantas, bagaimana sejarah industri ponsel lipat selengkapnya? Simak berikut ini.
Table of Contents
Pada era 1990-an hingga awal 2000-an, ponsel seperti Motorola StarTAC dan Motorola Razr V3 menggunakan mekanisme lipat untuk membuat bodinya lebih ringkas sekaligus melindungi tombol fisiknya.
Motorola Razr V3 merupakan ponsel clamshell (dilipat secara vertikal) yang ikonis pada masanya. Alih-alih layarnya yang dilipat, yang dilipat sebenarnya adalah bodinya guna memperkecil ukuran ponsel ketika dibawa. Desain seperti ini kemudian sempat mendulang popularitas tinggi di era feature phone.
Tahun 2010-an ke atas adalah di mana konsep feature phone mulai ditinggalkan. Namun, pada saat itu teknologi layar fleksibel (layar yang dapat dilipat) masih belum siap.
Alhasil produsen pun masih menggunakan dua panel layar terpisah yang dihubungkan dengan engsel. Ketimbang seperti HP lipat, ponsel-ponsel lipat tersebut malah terlihat seperti Nintendo DS.
Sejumlah perangkat yang mengadopsi desain tersebut adalah Kyocera Echo (2011), NEC Medias W (2013), dan ZTE Axon M (2017).
Dari penemuan teknologi tersebut, kemudian muncul sebuah gagasan yang mendekati konsep foldable modern di masa kini, yakni perangkat yang tetap ringkas saat dilipat namun tetap memiliki layar yang luas saat dibentangkan.
Biasanya, jika ditanya “Dari mana era foldable berasal?”, seseorang akan menyebutkan era di mana layar fleksibel sudah dikembangkan.
Perusahaan pertama yang berhasil membuat ponsel lipat dengan layar fleksibel adalah Royole Technologies yang kini sudah gulung tikar.
Sebagai HP lipat dengan layar fleksibel pertama di dunia, Royole FlexPai rilis di tahun 2018 dengan membawakan layar yang bisa ditekuk ke belakang. Jadi, layar cover masih belum dibutuhkan.
Pada tahun 2019, HP layar lipat mainstream pertama di dunia pun akhirnya diperkenalkan yaitu Samsung Galaxy Fold. Kontras dengan Royole FlexPai, Samsung kini menggunakan desain inward-folding alias melipat ke dalam seperti buku. Ini adalah HP lipat perdana yang dibekali layar cover.
Selanjutnya Huawei Mate X pun diperkenalkan di ajang MWC 2019 sebelum akhirnya rilis pada bulan November 2019, bersamaan dengan pengumuman Motorola Razr sebagai HP lipat “flip” (clamshell) dengan layar fleksibel pertama di dunia.
Huawei Mate X mengusung konsep lipat ke luar (outward-folding) yang sangat tipis pada masanya, di mana satu layar fleksibel dapat membungkus bagian luar bodi saat HP dilipat.
Akhirnya ponsel lipat bergaya buku dan clamshell pun menjadi sebuah “standar baru” yang mulai dikenal banyak orang. Samsung dengan seri Galaxy Z Fold kini sudah mencapai seri ke-8, dan sejumlah seri lain seperti Vivo dan Oppo juga punya seri HP lipat mereka sendiri yaitu Vivo X Fold series dan Oppo Find N series.
Bahkan seri HP lipat pun kini tidak lagi eksklusif di segmen flagship. Tecno sempat meluncurkan ponsel lipat clamshell di harga lebih terjangkau yaitu Tecno Phantom V Flip.
Di saat konsep HP lipat sudah menjadi standar yang dikenal orang, salah satu produsen mulai melirik pasar HP lipat tiga. Konsepnya mirip dengan ponsel lipat biasa, namun kini layar utamanya terbagi jadi tiga bagian saat dibentangkan sepenuhnya.
Awal mula konsep HP lipat tiga sebenarnya ketika Nokia Morph Concept dipamerkan pada tahun 2008. Ponsel tersebut mengusung bentuk yang elastis sehingga bisa diketuk menjadi HP, tablet, maupun gelang pintar.
Secara teori, ketika dibentangkan sepenuhnya, layar HP ini bakal punya ukuran setara dengan HP lipat tiga masa kini. Ponsel konsep ini namun hanya sekadar bayangan awal dan tidak dipasarkan secara komersial.
Pada tahun 2020, TCL Trifold Prototype pun diperkenalkan sebagai purwarupa tri-fold fisik pertama di dunia. Layarnya berukuran 10 inci ketika dibuka dan 6,65 inci ketika dilipat. Sayangnya HP tersebut punya bodi sangat tebal serta bobot yang berat lantaran dibekali tiga baterai terpisah. Ponsel ini pun tidak pernah dijual secara massal.
Samsung kemudian memamerkan konsep HP lipat tiga “Flex S” yang lipatannya berbentuk zig-zag menyerupai huruf “S”. Di saat bersamaan, konsep “Flex G” yang mengharuskan lipatan dilakukan secara berurutan juga turut diperkenalkan pada ajang yang sama, yaitu CES 2022.
Meskipun Samsung lebih dulu memamerkan purwarupa miliknya, justru Huawei lah yang pertama kali memproduksi HP lipat secara komersial dengan nama Huawei Mate XT Ultimate Design.
Ponsel ini secara mengejutkan juga resmi dirilis di Indonesia pada tahun 2025, dan tim 91Mobiles Indonesia berkesempatan jadi salah satu orang Indonesia pertama yang menjajal HP tersebut pada sebuah acara hands-on.
Mate XT Ultimate Design yang menggunakan konsep lipatan “Z” ini langsung menjadi best seller di pasar global kendati dibanderol dengan harga yang cukup fantastis.
Pada Desember 2025, Samsung pun kemudian menyusul menjadi produsen HP tri-fold kedua di dunia saat meluncurkan Galaxy Z TriFold. Berbeda dengan Mate XT, HP lipat ini menggunakan struktur in-folding yang lipatannya membentuk huruf “G”. Pengguna harus melipat ponsel dengan urutan yang benar (bagian kiri dulu, lalu kemudian yang kanan). Ponsel ini namun hanya dijual secara terbatas dan tidak dibawa masuk ke Indonesia. Kelebihan konsep lipatan “G” ini adalah layar luarnya yang lebih aman dari risiko tergores.
Huawei pun sepertinya menyadari kelebihan tersebut, dan memutuskan untuk menerapkan mekanisme lipatan “G” pada HP lipat tiga generasi berikutnya yaitu Huawei Mate XT 2. Perangkat yang rilis di China pada September 2026 ini merupakan HP tri-fold pertama di dunia yang dibekali fitur “privacy display”, menyulitkan orang di samping pengguna dalam mengintip layar.
Kelemahan dari HP lipat konvensional adalah bodinya yang terlalu tinggi seperti remote TV ketika dilipat, dan ini bakal menyulitkan sejumlah pengguna saat mengetik. Selain itu, aktivitas menonton di layar utama bakal sedikit terganggu dengan kehadiran “letterboxing” alias bar berwarna hitam di sekeliling konten.
Alhasil Huawei pun menjadi pabrikan ponsel pertama yang meluncurkan wide foldable, yakni ponsel lipat yang bentuknya menyerupai paspor. Ponsel bernama Huawei Pura X Max ini rilis pada April 2026 dengan layar cover 5,4 inci dan layar internal 7,7 inci.
Aspek rasio layar luarnya sebesar 1,46:1, mirip buku saku atau paspor. Sementara ketika terbentang, aspek rasionya berukuran 1,41:1 atau menyerupai selembar kertas A4. Dengan ukuran lebih lebar, ujung ponsel ini cenderung tidak akan “mencuat” saat dimasukkan di kantung serta lebih nyaman dipakai multi-tasking.
Menyusul HP Huawei tersebut, Samsung pun meluncurkan Galaxy Z Fold 8 pada Juli 2026 dengan konsep wide serupa. Meskipun masih membawa nama besar “Galaxy Z Fold” seperti pendahulunya, ponsel ini sebenarnya adalah produk baru yang mengusung konsep wide ketimbang menjadi penerus langsung dari Z Fold 7. Bagian luarnya punya layar cover dengan aspek rasio 10:16 sementara layar internalnya punya aspek rasio 4:3.
Xiaomi 18 Fold kemudian rilis sebagai HP lipat wide besutan perusahaan, hadir di China dua hari sebelum Apple mengumumkan ponsel lipat perdananya. Seperti HP lipat wide lainnya, Xiaomi 18 Fold menawarkan pengalaman multi-tasking lebih nyaman sekaligus lebih ringkas untuk dibawa bepergian ketimbang HP lipat biasa.
Masih melanjutkan tren wide foldable yang tengah berjalan, semalam Apple baru saja mengumumkan ponsel lipat pertamanya sepanjang sejarah yaitu iPhone Duo.
Seperti Galaxy Z Fold 8, HP lipat ini juga memiliki ukuran bodi yang cenderung melebar menyerupai paspor. Bedanya, keempat sisi bodinya kini dibuat lebih melingkar untuk meningkatkan kenyamanan genggam.
Layar cover miliknya berukuran 5,4 inci sedangkan layar internalnya berukuran 7,6 inci. Ketahanan bodinya mengandalkan engsel titanium grade 5 dan juga bahan aerospace-grade aluminium pada cangkangnya. Bodi belakangnya dilindungi dengan Ceramic Shield, sementara sisi layar penutup dilapisi dengan Ceramic Shield 2.
Untuk kenyamanan visual, layarnya pun dibekali lapisan matte untuk mengurangi pantulan cahaya. Mekanisme lipatannya pun dirancang dengan mulus sehingga bekas lipatan (crease) nyaris tidak terasa ketika disentuh.
Lalu, ini adalah salah satu HP lipat pertama di dunia yang menggunakan chipset berfabrikasi 2 nm. Cip Apple A20 Pro miliknya diklaim memberikan lonjakan performa berkelanjutan (sustained performance) hingga 35 persen lebih kencang dibandingkan iPhone 17 Pro.
Itu tadi merupakan sejarah perkembangan HP lipat dari awal hingga tren terkini. Ke depannya, sejumlah produsen tampaknya bakal terus mengikuti tren yang ada untuk menelurkan HP lipat dalam bentuk lebar. Motorola, misalnya, kini dikabarkan tengah bersiap merilis wide foldable versi mereka dalam waktu dekat.