Menilik Tren Kenaikan Harga HP yang Makin Lama Makin Mahal

Harga smartphone di tahun 2026 belakangan terasa semakin tinggi. Fenomena ini tak hanya dirasakan pada ponsel kelas flagship, melainkan juga terlihat di segmen menengah bahkan entry-level

Jika beberapa tahun lalu konsumen masih bisa mendapatkan HP dengan spesifikasi mumpuni di kisaran Rp 3-5 jutaan, kini perangkat di harga serupa menawarkan spesifikasi yang lebih rendah. Kini untuk mendapatkan HP dengan kualitas yang sama dengan beberapa tahun lalu, pengguna harus merogoh kocek lebih dalam lagi. 

Kenaikan harga paling kentara terlihat pada salah satu flagship keluaran terbaru, Samsung Galaxy S26 Ultra. Varian tertingginya (RAM 16 GB/ 1 TB) kini sudah menembus angka Rp 30 juta. Ini kontras dengan pendahulunya, Galaxy S25 Ultra, yang masih berada di harga Rp 28 jutaan.

Lantas, apa yang mendorong kenaikan harga ini? Apa saja merek-merek yang terdampak dan bagaimana prediksi nasib industri gadget ke depannya? Di artikel ini, kami akan menelusuri pertanyaan-pertanyaan ini untuk menjadi insight yang bermanfaat bagi penggiat gadget di Indonesia. 

Lonjakan harga HP di 2026

Tidak hanya di pasar global, tren kenaikan harga juga turut berdampak pada industri ponsel di Tanah Air, mulai dari segmen harga entry-level, menengah, hingga flagship. 

Q2 2024Q2 2025Q2 2026
Redmi Note 13 (RAM 8 GB/ 256 GB) Rp 2.799.000Redmi Note 14 (RAM 8 GB/ 256 GB)Rp 2.999.000
Redmi Note 15 (RAM 8 GB/ 256 GB)
Rp 3.399.000
Vivo V50 (RAM 12 GB/ 256 GB)Rp 6.999.000Vivo V60 (RAM 12 GB/ 256 GB)Rp 7.499.000
Vivo V70 (RAM 12 GB/ 256 GB)
Rp 8.999.000
Samsung Galaxy S24 Ultra (RAM 12 GB/ 1 TB)Rp 27.999.000Samsung Galaxy S25 Ultra (RAM 16 GB/ 1 TB)Rp 28.999.000
Samsung Galaxy S26 Ultra (RAM 16 GB/ 1 TB)
Rp 31.999.000

Jika dilihat pada tabel di atas, varian standar untuk Redmi Note series untuk Q2 2026 mengalami kenaikan harga yang lebih tinggi dibandingkan Q2 2025. Redmi Note 14 hanya naik harga Rp 200 ribu ketimbang Redmi Note 13, namun Redmi Note 15 mengalami kenaikan Rp 400 ribu dari sebelumnya. 

Di segmen mid-range, Vivo V60 tahun 2025 mendapatkan kenaikan harga Rp 500 ribu dari pendahulunya, namun masih tidak separah Vivo V70. Generasi terbaru tersebut naik Rp 1,5 juta dari Rp 7,5 juta menjadi Rp 9 juta.

Kejadian yang lebih parah terlihat di segmen harga flagship, di mana Galaxy S26 Ultra varian 1 TB mengalami kenaikan Rp 3 juta dibandingkan pendahulunya. Padahal, Galaxy S25 Ultra hanya mengalami kenaikan Rp 1 juta dari sebelumnya.

Penyebab kenaikan harga HP

Lembaga riset Counterpoint Research mengungkapkan bahwa biaya produksi smartphone murah (di bawah 200 dolar AS) telah meningkat sekitar 20-30 persen sejak awal tahun. Sementara itu, biaya produksi ponsel kelas menengah hingga premium juga naik sekitar 10-15 persen, sebagaimana dikutip dari EE Times Asia.

Menurut Counterpoint, kenaikan tersebut dipicu oleh melonjaknya harga chip DRAM yang pada akhir 2025 telah meningkat sekitar 40-60 persen. Penyebab utamanya adalah tingginya permintaan memori untuk infrastruktur AI, sehingga pasokan DRAM untuk perangkat konsumen, termasuk smartphone, menjadi lebih terbatas. Kondisi ini turut mendorong proyeksi kenaikan harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) smartphone global sebesar 6,9 persen pada 2026.

Singkatnya, harga smartphone diperkirakan naik pada 2026 karena biaya komponen memori ikut melonjak. Kenaikan biaya tersebut merupakan dampak dari tingginya permintaan chip memori untuk data center AI, yang membuat pasokan bagi industri smartphone semakin terbatas.

Harga tinggi sampai tahun depan

Lantas, sampai kapan tren kenaikan harga smartphone ini bakal berakhir? Berdasarkan proyeksi TrendForce, kenaikan harga ponsel akibat kelangkaan memori ini sayangnya diprediksi belum akan mereda dalam waktu dekat.

Selama produsen memori masih memprioritaskan pusat data AI, biaya komponen DRAM dan NAND diprediksi tetap tinggi hingga setidaknya tahun 2027.

Sejumlah pelaku industri bahkan menilai kondisi ini berpotensi menjadi "new normal", sehingga perangkat kemungkinan tidak akan kembali ke harga yang sama seperti dulu meskipun kapasitas produksinya mulai bertambah. 

Bahkan salah satu flagship yang direncanakan rilis pada akhir tahun ini, iPhone 18 Pro, disebut-sebut akan mengalami kenaikan harga yang signifikan. Sebagaimana dikutip dari TechInsight via GSM Arena, biaya komponen RAM pada iPhone 18 Pro diprediksi bakal naik hampir 4x lipat dibandingkan sebelumnya. Yang semula iPhone 17 Pro dibanderol mulai dari 1.099 dolar AS (Rp 19,7 jutaan), kini iPhone 18 Pro diprediksi mengusung harga mulai dari 1.299 dolar AS (Rp 23,3 jutaan). 

Beli HP, sebaiknya sekarang atau nanti? 

Ke depannya, para penggiat gawai tampaknya harus membiasakan diri atas kenaikan harga ini. Khalayak diharapkan untuk dapat menyesuaikan ekspektasi akan spesifikasi yang didapat dengan harga terjangkau, atau harus rela merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan spesifikasi yang lebih unggul. 

Tentu saja akan lebih baik kalau saja kelangkaan komponen dapat mereda. Masalahnya, tren penggunaan AI tampaknya hanya akan semakin menjamur yang artinya produsen smartphone bakal terus berebut kapasitas produksi pabrikan memori dengan pusat data AI. 

Kita hanya dapat berharap semoga suatu saat nanti akan ada kapasitas produksi baru yang dapat mengimbangi (atau bahkan melampaui) permintaan AI dengan stok komponen yang melimpah. 

Lalu, kapan waktu yang paling pas untuk membeli HP? Dari segi harga, sebenarnya tidak banyak alasan untuk menunda pembelian smartphone. Sejumlah analis industri memprediksi bahwa biaya produksi masih akan meningkat hingga 2027, sehingga harga perangkat baru pun berpotensi bakal ikut baik. Dengan kata lain, jika hanya memperhitungkan faktor harga, membeli lebih awal akan berpotensi lebih menguntungkan ketimbang menunggu terlalu lama. 

iconicon
Ananda Ganesha Maaruf adalah seorang gadget enthusiast. Ia selalu menyenangi gadget di harga murah dengan value tinggi. Kini, ia bekerja sebagai Senior Writer di 91mobiles Indonesia. Sebelumnya, Ganesha bekerja sebagai Content Writer di Carisinyal.com selama 4 tahun.