Pasar smartphone kelas menengah kembali kedatangan penantang tangguh lewat peluncuran iQoo Z11x. Sebagai suksesor dari iQoo Z10x yang sangat populer tahun lalu, ponsel ini jelas memikul ekspektasi besar untuk mempertahankan reputasi pendahulunya. Di satu sisi, iQoo tetap mempertahankan resep suksesnya dengan membekali baterai raksasa, peningkatan chipset berkecepatan UFS 3.1, serta durabilitas tinggi. Namun, di sisi lain, peningkatan spesifikasi ini juga dibarengi dengan kenaikan harga yang cukup terasa. Mari kita bedah apakah peningkatan tersebut sebanding dengan harga yang ditawarkan.
Di pasar Indonesia, iQoo Z11x dibanderol dengan harga kompetitif mulai Rp 3,7 juta. Namun, apakah ponsel ini mampu mengungguli para kompetitor di kelas harga yang sama? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Table of Contents
iQoo Z11x menawarkan performa dan daya tahan baterai terbaik di kelas harga di bawah Rp 4 juta. Tak hanya itu, ponsel ini juga dibekali kamera utama yang mumpuni serta antarmuka yang mulus dan kaya fitur. Sayangnya, bobotnya yang tergolong berat serta absennya lensa ultra-wide membuat sektor kameranya kurang fleksibel bagi para pencinta fotografi.
Dari segi estetika, iQoo tidak melakukan perombakan desain yang radikal pada iQoo Z11x jika dibandingkan dengan Z10x. Saya pribadi menyukai modul kameranya yang kini dibuat lebih minimalis, namun tetap mempertahankan konfigurasi dua kamera, IR blaster, lampu kilat, serta lingkaran RGB Dynamic Light di dalamnya. Unit ulasan yang saya uji adalah varian warna Titan Black dengan finishing matte reflektif. Selain itu, iQoo juga menyediakan opsi warna Prismatic Green yang menampilkan pola kotak-kotak yang unik.
Untungnya, berkat sudut-sudut bodi yang membulat, ponsel ini tetap nyaman digenggam dengan satu tangan tanpa membuat telapak tangan terasa sakit. Selain itu, berkat sertifikasi IP68/69+, perangkat ini memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap paparan air dan debu.
Sektor layar bukanlah fokus peningkatan utama pada iQoo Z11x dibandingkan dengan pendahulunya. Mengusung panel LCD berukuran 6,67 inci dengan resolusi FHD+ (2344 x 1080 piksel), layar ini memang agak tertinggal dalam menyajikan kontras tinggi dan warna hitam yang pekat jika disandingkan dengan kompetitornya seperti Realme P4 dan Moto G86 Power. Kendati demikian, layar iQoo Z11x masih mampu menyajikan reproduksi warna yang cukup hidup saat digunakan untuk menonton film di platform OTT atau video YouTube, terutama setelah mengaktifkan mode “Bright” pada pengaturan warna layar.
Di tengah minimnya kompetitor baru di kelas harga di bawah Rp 4 juta, kehadiran iQoo Z11x yang ditenagai chipset MediaTek Dimensity 7400 Turbo menjadi angin segar.
Sama seperti hasil benchmark, performa gaming iQoo Z11x juga sedikit lebih unggul dibandingkan dengan para rival terdekatnya. Saat saya menguji game Call of Duty: Mobile pada pengaturan grafis ‘Very High + Max’, ponsel ini mampu menghasilkan rata-rata 56,1 frame per detik (fps) selama 40 menit permainan, dengan suhu perangkat yang terjaga di angka 32 derajat Celsius. Pada skenario dan pengaturan yang sama, Poco M8 hanya mencatatkan rata-rata 51,3 fps, membuat iQoo Z11x memimpin.
Di game BGMI (PUBG Mobile versi India), iQoo Z11x kembali menunjukkan taringnya dengan menorehkan rata-rata 38,5 fps pada pengaturan ‘HDR + Ultra’. Sebaliknya, Poco M8 hanya sanggup meraih 28,5 fps dalam durasi pengujian 40 menit yang sama. Untuk penggunaan sehari-hari, performa iQoo Z11x terasa sangat mulus tanpa kendala lag atau penurunan performa, bahkan saat menjalankan banyak aplikasi di latar belakang secara bersamaan.
Menjalankan OriginOS 6, sektor software menjadi salah satu aspek yang paling saya sukai dari ponsel ini. Meskipun perangkat ini membawa cukup banyak game bawaan dan aplikasi pihak ketiga (bloatware), pengalaman navigasi antarmukanya tetap terasa sangat responsif. Berbeda dengan ponsel berbasis Realme UI, HyperOS, atau Moto Hello UI, iQoo Z11x menyajikan efek blur yang estetik serta animasi transisi yang mulus dan interaktif untuk memanjakan mata pengguna.
| Ponsel Pintar | Aplikasi Pra-instal | Dukungan Perangkat Lunak |
| iQOO Z11x 5G | 64 | 2 Tahun Pembaruan OS + 4 Tahun Pembaruan Keamanan |
Di luar itu, sistem operasinya dibekali berbagai fitur cerdas seperti AI Writer untuk membuat dan merangkum teks, Office Kit untuk mengakses data ponsel di PC, panel Quick Settings ganda, dan masih banyak lagi.
Berbekal baterai raksasa berkapasitas 7.200 mAh, daya tahan baterai iQoo Z11x terbukti sangat tangguh selama masa pengujian saya. Untuk penggunaan kasual, ponsel ini bisa dengan mudah bertahan hingga lebih dari dua hari dalam sekali pengisian daya penuh. Pada pengujian PCMark Battery—sebuah aplikasi benchmark sintetis yang menyimulasikan aktivitas harian seperti mengedit video, membuka dokumen, menonton video, hingga berselancar di internet—ponsel ini mampu mencatatkan waktu bertahan hingga 20 jam.
Jika dibandingkan dengan seluruh ponsel di bawah Rp 4 juta yang meluncur beberapa bulan terakhir, termasuk yang mengusung baterai 7.000 mAh, iQoo Z11x sukses menduduki posisi puncak. Berdasarkan pengalaman nyata saya, pada siklus pengisian daya pertama, ponsel ini sanggup bertahan selama 2 hari 10 jam untuk aktivitas seperti membuka Instagram, menonton YouTube, browsing, mencatat, dan navigasi harian lainnya. Selama periode tersebut, perangkat ini menghasilkan screen-on-time (SoT) hingga 9 jam dengan sisa baterai masih berada di angka 13 persen.
| Ponsel Pintar | Kapasitas Baterai | Dukungan Pengisian Daya | Waktu Pengisian Daya (20% hingga 100%) |
| iQOO Z11x 5G | 7200 mAh | NA | 1h 16m |
Untuk urusan fotografi, iQoo Z11x mengandalkan konfigurasi dua kamera belakang yang terdiri dari kamera utama 50 MP bersensor Sony IMX852 (f/2,4) dan sensor bokeh 2 MP. Sementara di bagian depan, terdapat kamera selfie 32 MP yang ditempatkan pada punch-hole melingkar.
Saat pertama kali mencoba mengambil gambar, saya langsung merasakan bahwa focal length bawaan kamera utamanya yang berada di angka 28 mm terasa agak sempit, terutama jika dibandingkan dengan Moto G96 yang memiliki focal length 24 mm. Alhasil, untuk mendapatkan komposisi gambar yang pas pada mode 1x, saya harus sedikit melangkah mundur saat memotret.
Untuk menguji kemampuan lainnya seperti mode potret dan selfie, saya membandingkan performa kamera iQoo Z11x dengan Moto G96 dalam beberapa skenario berikut:
Kondisi Siang Hari (Daylight)
Pada pengujian di siang hari, Moto G96 mampu menangkap detail yang lebih tajam dengan akurasi warna yang sangat mendekati aslinya. Di sisi lain, iQoo Z11x lebih unggul dalam menonjolkan detail pada area bayangan atau bagian foto yang lebih gelap.
Mode Potret (Portrait)
Untuk foto potret, meski detail gambar pada iQoo Z11x tidak setajam hasil jepretan Moto G96, ponsel ini lebih unggul dalam menyajikan warna kulit (skin tone) dan warna pakaian yang lebih akurat. Sementara untuk kerapian efek blur pada tepian subjek (edge detection), kedua ponsel ini menyajikan performa yang seimbang.
Kamera Depan (Selfie)
Beralih ke kamera depan, iQoo Z11x kembali memikat lewat reproduksi warna kulit dan tone keseluruhan yang natural dan sedap dipandang. Sebaliknya, hasil foto selfie Moto G96 cenderung memiliki highlight yang terlalu tinggi, sehingga membuat wajah subjek tampak terlalu putih.
Kondisi Low-Light
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, meski iQoo Z11x mampu mengontrol exposure dengan baik saat minim cahaya, Moto G96 menyajikan detail gambar yang lebih merata di berbagai sudut foto. Selain itu, reproduksi warna pada Moto G96 juga tampak lebih realistis.
Mode Malam (Night Mode)
Mengaktifkan mode malam khusus pada kedua ponsel ini rupanya tidak memberikan perbedaan yang signifikan, selain hanya sedikit meningkatkan ketajaman detail gambar.
Speaker Stereo: Berkat dukungan speaker stereo, iQoo Z11x mampu menghasilkan keluaran suara yang lantang untuk mendengarkan musik maupun menonton video. Volume speaker ini bahkan bisa ditingkatkan hingga 400 persen menggunakan fitur audio boost.
Haptic Feedback: Sama seperti kebanyakan ponsel kelas menengah lainnya, kualitas getaran (haptic feedback) pada iQoo Z11x tergolong biasa saja.
RGB Dynamic Light: Lampu LED melingkar di bagian punggung ponsel dapat memancarkan berbagai warna yang disesuaikan dengan skenario penggunaan, seperti saat ada notifikasi masuk, panggilan telepon, hingga pemutaran musik.
Berdasarkan pengujian saya, iQoo Z11x sukses membuktikan ketangguhannya di sektor yang menjadi nilai jual utamanya, yaitu performa jempolan, daya tahan baterai luar biasa, serta bodi yang kokoh untuk kelas harga di bawah Rp 4 juta. Walau belum menggunakan panel AMOLED, kualitas layar LCD yang diusungnya masih menyajikan detail dan reproduksi warna yang cukup memuaskan untuk kebutuhan harian. Namun, jika keberadaan layar AMOLED adalah harga mati bagi Anda, maka Poco M8 atau jajaran ponsel tahun lalu seperti Realme P4, Moto G86 Power, serta CMF Phone 2 Pro patut masuk dalam radar pertimbangan.
Di sektor fotografi, kamera iQoo Z11x memang bukan yang tertajam di kelasnya. Meski sebagian besar jepretan tergolong lumayan oke, inkonsistensi temperatur warna yang kadang bergeser antara tone dingin (cool) dan hangat (warm) masih sering ditemui. Di sisi lain, berkat sertifikasi IP68/69+, ponsel ini memiliki proteksi ekstra terhadap cipratan air dan debu. Hanya saja, bobotnya yang mencapai 218 gram mungkin akan terasa kurang nyaman di tangan saat digunakan dalam durasi lama, setidaknya pada masa-masa awal pemakaian.
Tak hanya itu, iQoo Z11x juga menjadi jawara dalam hal efisiensi daya. Baterai raksasa 7.200 mAh miliknya terbukti sangat andal selama saya gunakan, dengan daya tahan yang sanggup menembus hingga lebih dari tiga hari.
Skor Editor: 8,3/10
Kelebihan iQoo Z11x
Kekurangan iQoo Z11x