Ringkasan Tinjauan
Peringkat Pakar
Motorola kembali meramaikan pasar smartphone Indonesia dengan peluncuran Motorola Edge 60 Pro pada Kamis (17/07/2025) lalu. Ini adalah ponsel ketiga yang dirilis Motorola di Indonesia setelah Motorola G45 dan Motorola Edge 60 Pro.
Tim 91Mobiles Indonesia berkesempatan mencoba HP ini, dan pengalaman yang dirasakan sungguh jauh dari kata mengecewakan. Buat kami, kemampuan fotografi dan ketahanan baterai HP ini menjadi beberapa daya tarik utamanya.
Selain karena mengandalkan sensor unggulan Sony LYT-700C 50 MP, Motorola juga menyematkan pemrosesan gambar yang baik demi hasil foto yang begitu mengagumkan. Ponsel ini juga mengusung desain dengan warna terkurasi Pantone untuk memberikan tampilan estetis yang tiada duanya.
Ponsel ini juga cukup membuat kami kerepotan saat harus mengujikan daya tahan baterai, lantaran saking sulit menghabiskannya. Bukan tanpa sebab, Motorola Edge 60 Pro memasuki daftar ponsel dengan baterai paling awet versi DxOMark. Ingin tahu pengalaman memakai HP ini? Simak pada review Motorola Edge 60 Pro sebagai berikut.
Table of Contents
Kesimpulan awal
Motorola Edge 60 Pro unggul di sektor fotografi, baterai, performa, dan juga software. Ada fitur-fitur AI yang menambah daya tarik ponsel ini, dikemas dengan tampilan desain menawan khas Motorola. Namun, kendati punya kinerja baik untuk bermain game, perlu diakui bahwa chipset miliknya kalah saing dengan beberapa ponsel lain di harga yang sama.
Unboxing: Ada tambahan aksesoris khusus untuk pasar Indonesia!

Motorola Edge 60 Pro hadir dalam kotak berwarna putih yang polos. Usut punya usut, boks ini dibuat dengan bahan hasil daur ulang sehingga membuatnya ramah lingkungan.
Isi kemasannya pun begitu melimpah, bahkan disertakan satu buah aksesoris yang tidak dihadirkan untuk Edge 60 Pro di negara wilayah lain, yakni casing pelindung.
Jika Anda sudah membaca review Motorola Edge 60 Fusion yang pernah kami buat, mungkin sudah tak asing dengan casing ini. Ya, baik Fusion maupun Pro mendapatkan casing yang punya warna yang selaras dengan opsi warna bodi.
Kalau Anda membeli yang varian warna biru, maka akan mendapatkan casing warna biru juga. Sungguh kontras dengan berbagai ponsel lain yang hanya menawarkan casing transparan. Baik transparan maupun casing Edge 60 Pro ini tampaknya dirancang agar tidak mengubah estetika bodi belakang.
Selain casing tersebut, hadir pula beragam aksesoris lain seperti booklet panduan singkat, PIN ejector untuk kartu SIM, kabel data USB-C ke USB-C berwarna hitam, serta charger dengan daya pengisian yang didukung unit ponsel.
Desain: Mirip Fusion, tapi ketambahan satu tombol baru
Berhubung ponsel ini masih satu “keluarga” dengan varian Fusion (sama-sama dari lini Edge), tampilan bodi belakangnya memang nyaris sama. Bahkan jika dibandingkan dengan Motorola G45 (review), akan sulit membedakannya dengan bodi belakang Edge 60 Pro.
Ini karena Motorola memang punya ciri khas yang sama untuk seluruh smartphone besutannya. Tiga HP Motorola yang sudah hadir di Indonesia kompak dibekali backdoor dengan finishing tekstur kulit imitasi, sehingga tidak mudah tergelincir dari tangan.
Selain itu, tiga ponsel ini juga memiliki “sloping edge” alias bagian landai di sekitar modul kamera, guna membuat transisi dari bodi ke kamera terasa halus. Ini akan membuat jari tetap nyaman meski tak sengaja bersentuhan dengan bingkai kamera.
Varian-varian warna yang hadir untuk ponsel ini juga begitu memesona lantaran terkurasi oleh Pantone, lembaga otoritas global dalam sistem pencocokan warna. Alhasil, warnanya pun terlihat lebih hidup sekaligus menunjukkan pengalaman visual yang premium.
Unit yang kami pegang kebetulan punya warna Pantone Dazzling Blue, salah satu versi yang dirilis di Indonesia selain Pantone Shadow (abu) dan Pantone Grape (ungu).
Seperti Fusion, Motorola Edge 60 Pro juga dirancang dengan layar yang melengkung di sisi kiri dan kanan sehingga bezel-nya tampak minim, bahkan tidak terlihat sama sekali.
Bagi yang belum terbiasa, pinggiran melengkung mungkin akan terasa kurang nyaman saat digenggam ketimbang layar flat. Di sinilah penggunaan casing dapat membantu, karena setidaknya dapat memberikan sensasi grip yang lebih mantap.
Satu hal yang paling membedakan Motorola Edge 60 Pro dengan varian Fusion adalah kehadiran tombol khusus “Key AI” di sisi kiri. Tombol ini fungsinya untuk memanggil Google Gemini guna melakukan pencarian relevan berdasarkan tampilan di layar.
Perihal dimensinya, ukuran fisik dari Motorola Edge 60 Pro adalah 160,7 mm x 73,1 mm dengan ketebalan 8,2 mm dan bobot 186 gram. Pabrikan ponsel asal AS ini juga membekalinya dengan sertifikasi ketahanan IP68/ IP69 dan standar militer MIL-STD-810H.
Layar: Terlihat tajam dan cerah dengan resolusi tinggi

Tidak seperti mayoritas ponsel lain di kelasnya yang masih Full HD Plus, layar Motorola Edge 60 Pro sudah beresolusi 1,5K alias 1.220 x 2.712 piksel. Hasilnya, tampilan layar tajam saat browsing, bermain game, dan berbagai aktivitas lainnya.
Panel yang digunakan adalah P-OLED dengan ukuran 6,7 inci, turut mendukung refresh rate 120 Hz dan PWM Dimming 720 Hz. Seperti sejumlah rivalnya, layar ini juga dibekali sertifikasi HDR Plus yang membuat tampilannya tampak aesthetic.

Untuk membuktikan bahwa ponsel ini dapat mengakses konten HDR, kami mencoba menonton salah satu video YouTube yang menawarkan opsi HDR. Benar saja, opsi tersebut muncul pada daftar resolusi yang bisa dipilih.
Saat menggunakan ponsel ini di luar ruangan, layarnya masih dapat memperlihatkan keterbacaan yang baik. Tidak perlu mengernyitkan mata saat berusaha melihat chat atau teks.
Namun perlu diketahui, pengalaman ini dirasakan saat cuaca mendung. Layar tersebut bisa jadi bakal sedikit struggle pada cuaca kemarau yang terik.
Kami pun sempat berusaha menguji refresh rate tinggi 120 Hz pada salah satu game yang “seharusnya” mendukungnya, yaitu Dead Trigger 2.
Hasilnya cukup disayangkan, game tersebut tetap mentok di 60 Hz, sebuah fenomena yang tampaknya sering terjadi pada ponsel yang baru saja dirilis. Kemungkinan perlu menunggu waktu hingga developer mengeluarkan update terbaru untuk mengatasi hal ini.
Namun, secara keseluruhan, tidak ada yang dapat dikeluhkan mengenai pengalaman layar ponsel ini, terutama untuk pemakaian sehari-hari.
Warna yang ditampilkan sungguh cerah dan hidup, ketajamannya baik, dan bezel-nya yang begitu tipis sungguh menyenangkan untuk dilihat.
Kamera: Tidak sulit untuk menghasilkan foto profesional

Kesan pertama yang dirasakan saat mencoba kamera Motorola Edge 60 Pro adalah betapa mudahnya menghasilkan karya foto yang profesional. Nyaris tidak dapat dipercaya bahwa hasilnya sebagus ini hanya dari pemandangan sehari-hari yang relatif kurang istimewa.
Penampakan kucing yang sehari-hari lewat depan rumah penulis tampak menyerupai foto-foto profesional di majalah, terutama jika mode portrait digunakan.
Dari segi spesifikasi, Motorola Edge 60 Pro hadir dengan kamera utama 50 MP Sony-LYT 700C, 10 MP telefoto, serta 50 MP ultra wide. Uniknya lagi, kamera ultrawide ini sudah mendukung autofokus.
Kamera utamanya memiliki kualitas yang bisa diharapkan dari ponsel 7 jutaan: jernih, detail, minim noise, dan punya reproduksi warna yang indah.
Mengambil gambar dengan pembesaran yang jauh juga masih terasa oke lantaran mendukung OIS. Ponsel ini bisa di-zoom hingga tingkatan 50x, dan masih menawarkan detail tinggi pada pembesaran di tingkat 10x.
Salah satu fitur yang kami anggap menarik adalah Action Shot. Biasanya apabila subjek bergerak cepat (seperti saat berlari, menari, atau melompat) akan sulit difoto dengan jelas. Namun dengan Action Shot, kami berhasil menangkap foto orang yang sedang melompat tanpa blue sama sekali.

Fitur ini sayangnya hanya bekerja di siang hari atau dengan pencahayaan cukup. Sebab, saat di malam hari, Action Shot bakal menghasilkan foto yang underexposure, serta waktu shutter yang jauh lebih lama.
Berbicara soal malam hari, Motorola Edge 60 Pro mampu menghasilkan foto minim cahaya yang begitu indah. Sama sekali tidak terlihat adanya noise pada foto yang kami ambil. Warnanya pun masih terlihat akurat dengan aslinya.
Yang menjadi sedikit kekurangannya, memotret pemandangan saat kondisi gelap gulita akan menghasilkan foto yang lebih gelap dari aslinya, baik saat memakai mode biasa maupun Night Vision.
Kamera depannya pun bekerja sangat baik untuk menghasilkan foto yang layak unggah ke medsos. Walau bukan ultrawide, kamera depan ini menawarkan mode biasa dan mode wide-angle bagi yang hendak selfie grup. Dua mode tersebut menghasilkan foto dengan kualitas yang sama, baik itu mode auto maupun portrait.
Pengalaman merekam video juga terasa menyenangkan. Untuk hasil yang maksimal tanpa membuat size-nya membengkak, kami menggunakan mode 60 FPS di 1080p sehingga hasilnya sungguh stabil karena mendukung EIS. Kami sempat mencoba mode 30 FPS, namun video yang dihasilkan terasa sering jitter.
Performa: Semua game berat mampu dilibas
Motorola Edge 60 Pro memang “hanya” dibekali dengan chipset MediaTek Dimensity 8350 Extreme. Pemilihan SoC tersebut tidak membuatnya yang paling powerful di harga Rp 7 juta. Sebab, Poco X7 Pro yang seharga Rp 4 jutaan pun sudah dibekali Dimensity 8400 yang lebih gesit.
Terlepas hal itu, Motorola berhasil meracik Dimensity 8350 pada Edge 60 Pro agar menghasilkan pengalaman yang serba lancar. Melakukan scrolling, browsing, hingga bermain game berat di pengaturan grafis tinggi terasa enteng tanpa masalah berarti.

Pada pengujian benchmark sintetis, Motorola Edge 60 Pro mampu menorehkan skor 1.376.170 poin pada AnTuTu v10 serta 1.407 poin (single-core) dan 4.479 poin pada Geekbench 6.
Demi mengurangi kecenderungan overheating, Edge 60 Pro difasilitasi vapor chamber cooling system dengan luas permukaan 4.473 mm persegi. Sistem pendingin ini mampu membuat perangkat mempertahankan 76 persen peak performance saat diujikan CPU Throttling Test selama 10 menit.
Saat diujikan dengan Mobile Legends, perangkat ini tentu berhasil meraih frame rate tinggi pada pengaturan grafis rata kanan. Begitu pun saat diujikan dengan PUBG Mobile, permainan tetap berjalan mulus pada pengaturan HDR – Ultra, stabil di 40-60 FPS.
Kami pun tentu tak ingin melewatkan kesempatan mencoba Genshin Impact di Motorola Edge 60 Pro. Game tersebut merupakan salah satu yang paling berat di Android.
Hasilnya mengesankan. Pada mode Turbo, ponsel ini dapat mencapai frame rate 45-60 FPS saat memainkannya dengan pengaturan grafis Highest 60 FPS.
Namun sayangnya, setelah 30 menit bermain, ponsel ini meraih suhu yang sedikit mengkhawatirkan. Tampaknya perlu menurunkan mode-nya ke Balanced atau menurunkan pengaturan grafis jika ingin bermain berjam-jam dengan nyaman.
Yang membuat kami cukup tercengang adalah betapa bagusnya grafis permainan Delta Force saat dimainkan di Motorola Edge 60 Pro pada pengaturan High – Ultra. Saking bagusnya, game ini tampak punya grafis setara konsol dan PC. Bahkan performanya pun berjalan begitu mulus di kisaran 50 FPS.
Tidak berhenti sampai di situ, perangkat ini juga diujikan pada permainan Fortnite di pengaturan grafis Low. Tidak terasa adanya stutter sama sekali, kendati ia merupakan game yang sangat demanding untuk Android.
Software: Moto AI dan Smart Connect yang menakjubkan
Fitur Smart Connect yang sempat kami ulas pada review Moto G45 kembali hadir pada Edge 60 Pro. Menurut kami, Smart Connect mampu membuat ponsel ini terasa seperti PC.
Bagaimana tidak? Kami dapat mirroring layar HP agar tampil di layar laptop, melakukan pembagian file dan media dengan drag-and-drop, dan bahkan “menyulap” antarmuka smartphone menjadi seperti PC. Smart Connect adalah fitur yang menurut kami wajib ada untuk perangkat-perangkat dari merk lain.
Pengalaman yang dirasakan saat streaming aplikasi HP di PC pun begitu mulus, sungguh tidak ada delay sama sekali. Jika Mobile Legends yang terinstal di HP ingin dimainkan pada laptop Anda, hal ini sangat mudah dilakukan.
Menariknya lagi, jika PC Anda tidak memiliki webcam, kamera depan Edge 60 Pro dapat “disulap” menjadi webcam PC dengan hanya beberapa klik saja. Dengan begini, kamera jernihnya ponsel bisa menggantikan webcam laptop yang kadang punya resolusi seadanya.
Kini beralih ke Moto AI, sekumpulan fitur kecerdasan buatan yang dapat membantu pengguna dalam hal produktivitas dan kreasi.
Beberapa fitur yang kami coba adalah menghapus objek tak diinginkan, memanggil fitur Gemini via tombol Key AI yang tersedia, dan juga sketch to image.
Saat sedang membaca artikel, kita dapat menekan dan menahan tombol Key AI untuk memunculkan Gemini. Kemudian, tinggal masukkan prompt seperti “tolong ringkas halaman ini” atau semacamnya, dan Moto AI bakal menghasilkan rangkuman yang lebih nyaman dibaca.
Fitur lain seperti Sketch to Image dan Create Image juga bekerja dengan cukup baik, kendati hanya menampilkan dua hasil untuk dipilih per aksinya. Tentunya, semakin detail sketsa atau deskripsi yang Anda masukkan, hasilnya pun akan semakin akurat.

Lalu, fitur penghapus subjek pada foto juga nyaman digunakan lantaran bakal secara otomatis mendeteksi subjek di latar belakang. Pengguna hanya perlu melakukan tap sekali saja dan subjek-subjek itu pun akan terhapus. Pendeteksiannya rapi, dan gambar hasil generate untuk mengisi kekosongannya pun terlihat natural.
Motorola Edge 60 Pro sendiri menjalankan sistem operasi Android 15 dalam balutan antarmuka Hello UI. Antarmukanya sangat bersih dan tanpa iklan, ROM hanya memakan storage sebanyak 24 GB saat pertama kali di-setup.
Konon pada Oktober nanti, Motorola bakal menggulirkan Android 16 untuk Edge 60 Pro. Pihak perusahaan juga telah menjanjikan masa dukungan update versi OS hingga 3 tahun lamanya.
Baterai dan pengisian daya

Motorola Edge 60 Pro menduduki posisi ponsel nomor satu dengan baterai terawet versi DxOMark, per 24 Juli 2025. Perangkat ini didukung dengan baterai jumbo 6.000 mAh serta pengisian daya 90 watt.
Saat diujikan pada PC Mark Battery Life, ponsel ini dapat bertahan hingga 8 jam 27 menit. Durasi ini memang cenderung sebentar, namun pada pengalaman sehari-hari, ponsel ini bisa tahan hingga dua hari pada pemakaian intens.
Kami memakai ponsel ini dalam kondisi 50 persen brightness dan speaker untuk berbagai macam uji coba seperti kamera, bermain game, dan menonton YouTube. Hasilnya, ponsel ini masih tahan hingga keesokan harinya dengan sisa 30 persen.
Saat bermain Mobile Legends Bang Bang selama kurang lebih 30 menit (Balanced Mode), baterai ponsel ini sama sekali tidak berkurang alias masih tetap di angka 100 persen.
Lalu saat dilanjutkan bermain PUBG Mobile selama 30 menit, barulah baterai berkurang menjadi 95 persen. Pengurangan baterai terbanyak terjadi saat memainkan Genshin Impact selama 30 menit (Turbo mode), turun 10 persen menjadi 79 persen.
Jadi kalau ditakar-takar, durasi bermain game 1,5 jam hanya memakan baterai sekitar 15 persen. Semua game ini dimainkan pada pengaturan grafis rata kanan menggunakan Wi-Fi tanpa kartu SIM di dalamnya.
Perihal pengisian dayanya, untungnya Motorola cukup dermawan dengan menyertakan charger 90 watt di dalam boks. Hasilnya cukup memuaskan, hanya memerlukan waktu 30 menit untuk mengisi daya dari 20 persen ke 70 persen. Jika diteruskan hingga penuh, total durasi yang diperlukan sekitar 45 menit saja.
Kesimpulan
Motorola Edge 60 Pro sungguh “checked all boxes” dengan berbagai fitur yang ditawarkan. Dari segi performa, kendati bukan yang terbaik di harganya, namun tetap memberikan pengalaman menyenangkan saat bermain game.
Adapun dari segi bodinya yang menampilkan ciri khas warna terkurasi Pantone membuatnya tampak menonjol di antara mayoritas rivalnya.
Kemampuan fotografinya pun cukup layak dipuji, kendati akan lebih baik jika foto malam harinya sedikit ditingkatkan lagi. Secara keseluruhan, Motorola Edge 60 Pro mampu menghasilkan foto aesthetic pada nyaris segala kondisi.
Sisi software-nya pun menawarkan fitur-fitur yang menurut kami seharusnya disediakan di setiap smartphone, yakni Smart Connect yang membuat aktivitas multi-tasking terasa mudah dan menyenangkan.
Nyaris tidak ada satu pun pesaingnya di luar sana yang menawarkan fitur sebaik Smart Connect dalam hal kemudahan koneksi dengan perangkat lain. Antarmukanya pun bersih dari aplikasi pra-instal dan iklan, serta mendukung masa jaminan update cukup panjang hingga 3 tahun.
Apabila disimpulkan, Motorola Edge 60 Pro seperti ponsel “on steroid” yang menonjolkan banyak sisi sekaligus. Tak hanya sekadar merata di semua bidang, namun hampir segala aspek dan fiturnya dipikirkan dengan niat yang matang. Jika ada ponsel yang layak dijuluki “flagship killer”, mungkin Motorola Edge 60 Pro adalah salah satu kandidat terbaiknya.
Motorola Edge 60 Pro mulai dijual di Indonesia pada hari ini, Kamis, 24 Juli 2025 dengan harga promo Rp 7.399.000. Harga ini akan naik menjadi harga normal Rp 7.699.000 di kemudian hari.
Rating editor: 8,5 / 10
Kelebihan:
- Layar melengkung dengan tampilan cerah dan tajam
- Bodi belakang yang unik dengan opsi warna yang hidup
- Hadir dengan fitur Smart Connect yang tiada duanya untuk menunjang multi-tasking
- Ketahanan baterai menakjubkan, salah satu yang terbaik di kelasnya
- Menawarkan pengalaman fotografi yang menyenangkan, ada telefoto, ultrawide dengan autofokus, serta fitur Action Shot
- Paket penjualan lengkap, ada charger dan casing
Kekurangan
- Chipset-nya kalah saing untuk ponsel seharga Rp 7 jutaan
- Pemotretan malam harinya perlu diperbaiki sedikit lagi untuk mencapai kata sempurna.
blibli | Rp. 6.949.000 | Pergi Ke Toko |
Tokopedia | Rp. 6.998.000 | Pergi Ke Toko |
