Ringkasan Tinjauan
Peringkat Pakar
Motorola Signature menandai ambisi besar kembalinya sang pionir telekomunikasi ke panggung utama ponsel flagship konvensional (slab). Dengan banderol harga mulai dari 59.999 rupee di pasar India (atau sekitar Rp 11 jutaan), perangkat ini tampil agresif untuk menantang dominasi pemain lama, terutama mengingat spesifikasi yang ditawarkan tergolong sangat komprehensif.
Motorola tidak main-main dalam mempersenjatai Signature. Di balik desainnya yang elegan, tertanam “otak” terbaru Snapdragon 8 Gen 5, layar LTPO AMOLED yang memanjakan mata, konfigurasi kamera 50MP dengan kemampuan perekaman 8K, serta jaminan dukungan software jangka panjang. Di atas kertas, Motorola Signature nyaris tanpa celah.
Namun, spesifikasi tinggi bukanlah segalanya. Ujian sesungguhnya adalah bagaimana semua komponen tersebut berharmoni dalam penggunaan sehari-hari. Apakah performanya konsisten? Bagaimana daya tahan baterainya di bawah tekanan aktivitas yang intens?
Setelah menguji ponsel ini sebagai perangkat utama selama sepekan, berikut adalah ulasan lengkap Motorola Signature dari kami.
Table of Contents
Kesimpulan Awal
Motorola Signature tampil unggul dengan performa tinggi dan dukungan software terdepan di kelasnya. Desainnya yang unik menjadi nilai plus bagi mereka yang ingin tampil beda. Namun, daya tahan baterai yang biasa-biasa saja, manajemen panas yang kurang optimal, serta karakter kamera yang terlalu konservatif menjadi catatan penting. Meski sangat kompetitif dari segi harga, kekurangan tersebut membuat perangkat ini harus bersaing ketat dengan alternatif lain yang lebih seimbang di sektor daya dan fotografi.
Desain Motorola Signature: Ramping, Ringan, dan Tahan Lama

Motorola Signature tampil memukau lewat bodi super ramping (7 mm) dan bobot ringan (186 gram), sangat ergonomis untuk layar 6,8 inci. Varian Martin Olive tampil unik dengan finishing kain yang nyaman, meski pilihan warna ini terasa terlalu kalem bagi sebagian orang.
Kami juga tidak pernah kesulitan menyelipkannya ke dalam atau mengeluarkan dari saku, yang semakin menambah daya tarik praktisnya.
Kami menerima Motorola Signature dalam opsi warna Pantone Martin Olive, dan pendapat tentangnya beragam. Sementara beberapa anggota tim kami menghargai pesona unik dan sederhananya, yang lain merasa warna tersebut sedikit terlalu kalem untuk sebuah flagship device. Kami termasuk dalam kategori yang terakhir dan merasa Pantone Carbon akan lebih sesuai dengan selera kami. Varian tersebut terlihat jauh lebih berkelas, setidaknya dalam gambar render.
Bagian punggung Motorola Signature dilapisi dengan material kain yang memberikan tekstur premium dan nyaman digenggam. Selama pengujian, permukaannya cukup bersih dari noda, namun daya tahannya terhadap keausan jangka panjang masih perlu dibuktikan.

Motorola Signature memancarkan nuansa premium yang kental berkat penggunaan frame aluminium dengan finishing warna senada serta lekukan sudut yang ergonomis. Kombinasi ini memberikan impresi genggaman yang solid sekaligus mewah.
Sayangnya, Motorola memilih desain modul kamera berbentuk persegi yang terkesan “main aman”. Pendekatan ini terasa kurang eksklusif karena sangat mirip dengan lini mid-range mereka, misalnya Edge 70. Bagi sebuah ponsel flagship, absennya bahasa desain yang “distinctive” tentu menjadi catatan tersendiri karena membuatnya sulit dibedakan dari seri di bawahnya.
Namun, di balik estetika yang minimalis tersebut, Motorola Signature adalah sebuah ponsel yang sangat tangguh. Ponsel ini tidak hanya mengantongi sertifikasi IP68 dan IP69 yang menjamin ketahanan terhadap debu serta rendaman air, tetapi juga telah lolos standar ketahanan militer MIL-STD-810H. Untuk perlindungan layar, Motorola menyematkan Corning Gorilla Glass Victus 2 yang diklaim mampu meredam dampak benturan maupun jatuh ringan. Secara keseluruhan, ponsel ini menawarkan durabilitas tingkat tinggi dalam balutan bodi yang tetap terlihat elegan.
Layar mantap, tapi audio kurang oke
Motorola Signature mengusung layar LTPO AMOLED 6,8 inci beresolusi Super HD, peak brightness hingga 6.200 nits, dukungan Dolby Vision, serta refresh rate dinamis 1Hz-165Hz. Namun, refresh rate tertinggi tersebut dibatasi hanya untuk game tertentu saja, sementara UI dan mayoritas aplikasi lain tertahan di 120Hz pada penggunaan harian. Ini bukan masalah besar, mengingat banyak produsen lain juga menerapkan kebijakan serupa demi efisiensi.

Secara praktis, perbedaan antara 120Hz dan 165Hz tidak akan terlihat jelas bagi semua orang, dan refresh rate yang lebih tinggi pasti menyebabkan peningkatan konsumsi daya. Bagi kami, ini bukan masalah besar.
Catatan: Kami tidak dapat menemukan game yang saat ini mendukung refresh rate 165 Hz di Motorola Signature. Kami telah menghubungi Motorola untuk daftar judul yang kompatibel dan akan mengujinya setelah tersedia, memperbarui review ini sesuai kebutuhan.
Layar ini hadir dengan punch-hole kecil dan bezel tipis yang menjamin pengalaman visual imersif. Tingkat kecerahannya mumpuni di bawah sinar matahari, meski sempat tersamarkan oleh wallpaper dan tema bawaan Motorola yang senada dengan warna bodi, sehingga layar terkesan lebih kusam dari aslinya. Hal ini tetap terasa meski profil warna sudah diatur ke mode Vivid secara default.
Profil warna standarnya cenderung oversaturated, menghasilkan visual yang hidup. Pengguna bisa beralih ke Natural untuk tone realistis atau Radiant demi vibransi tambahan. Di berbagai konten, layar tetap tajam dan jernih. Dari film hingga game berat, Motorola Signature mampu menangani dynamic range dengan sangat baik, lengkap dengan kontras kaya dan hitam yang pekat.

Sektor audio dibekali setup dual-speaker bersertifikasi Bose dengan grille top-firing khusus, bukan sekadar memanfaatkan earpiece. Teoretisnya, ini menghasilkan suara imersif, namun realitanya audio terasa kurang bertenaga bahkan saat Dolby Atmos aktif. Dibandingkan OnePlus 15 yang lebih lantang dan jernih dengan low-end dominan, suara Signature cenderung melengking dengan frequency separation yang kurang rapi.

Meski audionya mengecewakan, in-display fingerprint scanner ponsel ini patut diacungi jempol. Posisinya sangat ergonomis, tepat di tempat ibu jari bersandar secara alami. Sensornya bekerja dengan sangat cepat, konsisten, serta akurat dalam membuka kunci perangkat.
Dukungan software yang clean serta cocok untuk jangka panjang
Motorola Signature hadir dengan Android 16 langsung dari kotak. Meski pengalaman penggunanya mendekati stock Android, Motorola menyisipkan skin Hello UI yang apik di atasnya. Kami sebelumnya telah menjajal antarmuka baru ini pada Edge 60 Pro melalui pembaruan OTA tahun lalu.
Pada Signature, sensasinya tetap konsisten dengan pendekatan minimalis dan ekosistem aplikasi Google yang dominan. Menariknya, ponsel ini memiliki jumlah aplikasi bawaan (bloatware) terendah di kelasnya—hanya 38 aplikasi—sehingga antarmuka terasa sangat bersih dan ringan.

Animasi kini terasa lebih matang dan kaya akan opsi kustomisasi. Tersedia juga AI Key khusus di sisi kiri yang bisa diatur untuk mencatat cepat atau memicu fitur Update Me guna meringkas notifikasi.
Tekanan lama (press and hold) pada tombol ini akan mengaktifkan rangkaian fitur Moto AI, mulai dari ringkasan teks, image generation, transkripsi catatan, hingga pengarsipan momen. Pengguna bisa menonaktifkan pintasan ini, namun itu hanya akan membuat tombol tersebut tidak berfungsi. Akan lebih praktis jika Motorola memberi kendali lebih luas, seperti untuk pemindai QR, profil audio, atau shortcut sistem lainnya. Semoga hal ini diperbaiki pada pembaruan mendatang, bersama implementasi Material 3 Expressive, gaya jam dinamis, dan kustomisasi lock screen yang lebih mendalam.
Motorola menjanjikan dukungan hingga 7 tahun untuk pembaruan OS dan keamanan pada Signature. Komitmen ini menempatkannya setara dengan flagship besutan Google dan Samsung, sekaligus memastikan perangkat ini tetap relevan dan aman hingga tahun 2033 mendatang.
Integrasi AI, kolaborasi berbagai asisten
Terkait fitur Moto AI, fungsinya serupa dengan apa yang kami temukan pada Edge 70. Pengguna kini memiliki opsi lebih luas melalui Perplexity, mesin pencari berbasis AI yang terintegrasi langsung di sistem. Motorola juga menggandeng Microsoft untuk menghadirkan aplikasi Copilot, memungkinkan pengguna berinteraksi dengan lingkungan sekitar via kamera serta berbincang dengan asisten AI. Kehadiran keduanya melengkapi Google Gemini sebagai bagian dari upaya Motorola mempermudah akses teknologi kecerdasan buatan bagi pengguna.

Anehnya, baik Copilot maupun Perplexity justru sudah terinstal di profil pengguna sekunder yang kami buat saat pengujian. Kedua aplikasi ini tidak muncul di app drawer profil utama, sebuah inkonsistensi sistem yang terasa janggal. Anda mendapatkan versi gratis dari seluruh alat AI ini dan bisa menetapkan salah satunya sebagai asisten digital default. Meski menyadari potensi manfaat besar yang ditawarkan deretan tools canggih ini, dalam penggunaan sehari-hari kami pribadi tidak terlalu sering memanfaatkannya.
Performa Motorola Signature: Mengesankan, tapi Mungkin Mengalami throttle
Di sektor dapur pacu, Motorola Signature ditenagai oleh SoC Snapdragon 8 Gen 5 dari Qualcomm, chipset yang sama dengan yang memulai debutnya pada OnePlus 15R bulan lalu.
Meskipun posisinya setingkat di bawah Snapdragon 8 Elite Gen 5, saya sama sekali tidak memiliki keluhan selama penggunaan sehari-hari. Faktanya, penggunaan chip ini menjadikan Motorola Signature sebagai smartphone tercepat dan paling bertenaga di kelas harga Rp 11 jutaan, setidaknya untuk saat ini.

Unit yang kami uji merupakan varian tertinggi yang dibekali RAM 16GB LPDDR5x dan penyimpanan 1TB UFS 4.1. Spesifikasi tinggi ini tampaknya berkontribusi pada raihan skor benchmarking global, seperti AnTuTu dan Geekbench, yang sedikit lebih tinggi dibandingkan OnePlus 15R yang mentok di RAM 12GB dan storage 512GB. Perpaduan kapasitas memori yang luas dan kecepatan transfer data terbaru ini memastikan manajemen multitasking terasa sangat enteng tanpa hambatan.


Secara realistis, Anda kemungkinan tidak akan merasakan perbedaan performa yang signifikan antara kedua smartphone ini dalam penggunaan harian, mulai dari scrolling media sosial, streaming, hingga multitasking.

Dalam pengujian, suhu smartphone Motorola melonjak sekitar 15,5 derajat Celsius. Pada uji CPU Burnout throttle, kinerja Motorola Signature merosot hingga ke angka 39,1 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa meski flagship Motorola ini andal menangani beban kerja berat, perangkat ini tampak kesulitan menjaga stabilitas performa maksimal dalam durasi penggunaan yang panjang.
Baterai Motorola Signature: Daya tahan di bawah ekspektasi flagship
Motorola Signature dibekali baterai 5.200 mAh dengan pengisian daya cepat fast wired charging 90 watt. Adaptor pengisi daya tersedia dalam paket penjualan dan hanya membutuhkan waktu kurang dari 40 menit untuk mengisi daya dari 20 hingga 100 persen. Ponsel ini juga mendukung kecepatan wireless charging 50 watt.
Namun, kapasitas baterainya terasa biasa saja—tidak hanya di atas kertas, tapi juga dalam penggunaan nyata—jika dibandingkan dengan lini flagship Android terbaru. Bahkan, beberapa ponsel sub-flagship kini sudah membawa baterai di atas 7.000 mAh, yang membuat daya tahan Motorola Signature terasa kurang kompetitif.

Signature hanya bertahan 12 jam 53 menit dalam uji baterai PCMark dan memberikan screen-on time sekitar 4 hingga 5 jam. Selama pengujian lab kami, baterainya berkurang 4 persen setelah streaming YouTube selama 30 menit dan merosot 12 persen setelah satu jam bermain game.
Ini adalah performa yang cukup untuk penggunaan sehari penuh, asalkan Anda tidak membebani perangkat terlalu berat. Kami berharap flagship ini bisa melampaui standar dasar tersebut. Sedikit daya tahan ekstra akan membuat Signature menjadi pendamping yang lebih andal untuk bernavigasi, mengabadikan momen, hingga scrolling tanpa henti saat di luar ruangan tanpa harus terus-menerus merasa cemas akan sisa baterai.
Kamera Motorola Signature: Mumpuni tapi Konservatif
Motorola Signature membawa konfigurasi triple-camera serbaguna, dipimpin oleh sensor utama 50MP Sony Lytia 828 dengan OIS, kamera ultrawide 50MP (112 derajat), dan lensa periskop telefoto 50MP Sony Lytia 600 dengan 3x optical zoom. Untuk video, kamera belakangnya mendukung perekaman hingga 8K 30fps dengan Dolby Vision. Sementara di bagian depan, tertanam sensor 50MP Sony Lytia 500 dengan autofocus untuk kebutuhan selfie dan video call.
Antarmuka kameranya kini lebih simpel, meski transisi antar-lensa masih memperlihatkan color shift yang kentara—di mana lensa ultrawide tampak lebih kusam dan telefoto cenderung lebih saturated. Saturasi memang menjadi “bumbu” utama Motorola; bahkan pada profil ‘Natural’, warna tetap terasa sangat hidup, yang mungkin disukai pegiat media sosial. Detail pada kamera utama dan telefoto tergolong baik, namun gambar sering kali mengalami overexposure di siang hari dengan noise reduction yang agresif, sehingga membatasi dynamic range.
Untuk portrait dan selfie, detailnya cukup, namun tuning warna cenderung terlalu hangat (warm) dan hasil processing yang lembut mengurangi akurasi skin tone. Di kondisi low-light, Signature memprioritaskan gambar yang bersih daripada realisme, menghasilkan visual yang apik namun minim tekstur. Secara keseluruhan, kamera ini menawarkan hasil yang aman, meski processing yang berat seolah menahan potensi asli hardware-nya.
Siang Hari
Motorola Signature mengandalkan sensor utama Sony LYT-828 yang secara teori sangat superior. Namun dalam pengujian nyata, kamera ini cenderung menghasilkan foto dengan exposure yang agak berlebih (overexpose). Hal ini terkadang memicu munculnya efek sedikit berkabut (haze) yang membatasi cakupan dynamic range. Meskipun mampu menekan noise dengan sangat baik, processing Motorola terasa terlalu agresif dalam menghaluskan area bayangan, yang berisiko mengorbankan tekstur alami dan detail halus pada objek.
Ultrawide
Lensa ultrawide pada ponsel ini menawarkan sudut pandang yang sangat luas, memungkinkan lebih banyak elemen masuk ke dalam satu bingkai. Sayangnya, eksekusinya terasa kurang maksimal dalam menjaga keaslian suasana. Hasil tangkapan layarnya cenderung lebih gelap dengan distorsi yang cukup terlihat di sepanjang tepi frame. Selain itu, retensi detail pada lensa ini belum bisa dikatakan memuaskan, terutama saat digunakan untuk mengabadikan pemandangan yang kompleks.
Portrait
Lensa telefoto 50MP Sony LYT-600 pada Signature menjanjikan spesifikasi tinggi untuk kebutuhan portrait. Sayangnya, fitur edge detection dan efek bokeh yang dihasilkan terkadang terasa kurang organik. Hal serupa ditemukan pada kamera selfie; meski detail wajah tertangkap dengan baik, processing Motorola memberikan warm cast (semburat warna hangat) yang cukup mencolok pada kulit serta saturasi yang berlebihan pada pakaian. Dynamic range pada latar belakang juga terasa kurang seimbang di kondisi cahaya yang menantang.
50MP Sony LYT-600 telephoto lens Motorola Signature sekali lagi superior dibandingkan dengan 50MP S5KJN5 sensor Samsung milik OnePlus 15. Namun, smartphone OnePlus berhasil mengungguli penawaran Motorola dengan edge detection yang lebih baik dan bokeh effect yang terlihat alami. OnePlus 15 juga menghasilkan detail yang superior serta skin tone dan warna yang akurat.
Dalam hal selfie, processing Signature Motorola memperkenalkan warm cast yang terlihat jelas pada kulit subjek dan melakukan oversaturasi warna sweater. Handset Motorola juga kurang dalam dynamic range, menyebabkan detail background yang berkurang dan exposure overall yang kurang seimbang.
Low light (mode malam)
Saat beralih ke kondisi minim cahaya, Motorola Signature lebih memprioritaskan estetika visual daripada realisme. Foto yang dihasilkan memang terlihat sangat bersih dari grain, namun hal itu dicapai melalui proses penghalusan detail secara digital yang cukup masif. Meskipun tekstur aslinya menjadi berkurang dan hasil akhir tampak kurang realistis, foto mode malamnya tetap tergolong memanjakan mata dan sangat layak untuk dibagikan ke media sosial.
Kesimpulan Akhir
Motorola Signature memang bukan tanpa cela. Sektor kamera, meski dibekali hardware kelas atas, masih terhambat oleh processing yang terlalu konservatif sehingga membatasi detail dan dynamic range. Baterai 5.200mAh miliknya memang sanggup bertahan sehari penuh, namun akan kedodoran di bawah penggunaan berat. Begitu pula dengan audio racikan Bose dan Dolby Atmos yang terasa kurang bertenaga dari segi volume maupun kejernihan untuk ukuran flagship. Adanya thermal throttling saat dipacu maksimal juga menjadi catatan bagi para hardcore gamer.
Namun, di balik kekurangan tersebut, ponsel ini tetap menjadi perangkat yang mampu memenuhi kebutuhan esensial banyak pengguna dengan cara yang sulit ditandingi oleh kompetitor. Chipset Snapdragon 8 Gen 5 menjamin performa harian yang sangat responsif, dipermanis dengan Hello UI yang bersih, ringan, dan bebas bloatware. Dikombinasikan dengan desain yang sangat ramping, layar memukau, serta jaminan update software jangka panjang, Motorola berhasil meramu keseimbangan apik antara performa tinggi dan kepraktisan penggunaan.
Di Indonesia, Motorola Signature sudah diluncurkan pada April lalu dan bisa diperoleh seharga Rp 12.999.000 untuk varian memori tunggalnya dengan konfigurasi 12 GB/256 GB.
Rating Editor: 8.4/10
Alasan untuk membeli
- Desain ramping, ringan, dan premium meskipun memiliki display 6.8-inci yang besar.
- LTPO AMOLED panel yang memukau dengan brightness dan contrast yang sangat baik.
- Pengalaman Android yang bersih, mendekati stock, dengan minimal bloatware dan tujuh tahun support software.
- Kinerja Snapdragon 8 Gen 5 yang powerful untuk penggunaan sehari-hari.
Alasan untuk tidak membeli
- Battery life hanya rata-rata untuk sebuah flagship.
- Audio output kurang kedalaman dan bass.























