Review Poco C85: Cocok untuk Penggemar Film

Untuk yang sedang mencari smartphone murah meriah yang punya layar dan baterai besar, tidak ada salahnya mempertimbangkan Poco C85 yang rilis di Indonesia di harga Rp 1 jutaan. Tim 91Mobiles Indonesia telah menguji ponsel ini selama beberapa waktu, dan menurut kami ponsel ini adalah perangkat yang immersive untuk aktivitas hiburan.

Dengan layar 6,9 inci, baterai 6.000 mAh, dan chipset Helio G81 Ultra yang cukup memadai, Poco C85 menjadi salah satu HP entry-level yang paling cocok untuk menonton film, produktivitas, dan bermain game.

Kameranya bukan yang terbaik, namun masih cukup oke untuk pemotretan siang maupun malam hari di kelasnya. Ketahanan bodi IP64 juga membuatnya bisa diandalkan di cuaca dengan curah hujan tinggi. Simak selengkapnya pada review Poco C85 berikut ini.

Table of Contents

Unboxing: Ada charger dan casing transparan

Poco C85 hadir membawa kotak kemasan berwarna kuning khas Poco. Tampilan boksnya secara keseluruhan sungguh minimalis dengan hanya menampilkan nama produk “POCO C85” dalam font berwarna hitam serta logo Poco di pojok kanan bawah.

Menyoal kelengkapan isinya, tidak ada yang bisa dikeluhkan dalam hal ini. Boks unit disertai dengan booklet panduan singkat, kartu garansi, bookmark, dan sejumlah stiker bernuansa Poco.

Di dalam boks penjualan Poco C85 juga terdapat casing transparan yang dapat melindungi ponsel dari kerusakan akibat benturan, tanpa mengubah estetika bodi belakang. Menariknya lagi, sudah ada charger dengan daya 33 watt beserta kabelnya (USB-A ke USB-C).

Daya 33 watt juga kebetulan (atau mungkin memang disengaja) merupakan daya pengisian yang didukung Poco C85. Jadi, pengguna bisa langsung merasakan kecepatan pengisian daya maksimal yang didukung ponsel tersebut tanpa membeli adaptor lain secara terpisah. Terakhir, terdapat juga PIN ejector tool untuk melepas laci kartu SIM.

Desain: Cukup bongsor, namun masih pas di tangan

Poco C85 adalah salah satu ponsel dengan ukuran layar terbesar di kelas entry-level, mencapai 6,9 inci. Jadi, tidak mengherankan jika ujung atas ponsel ini sedikit “nyempil” saat dimasukkan ke kantong.

Meski begitu, kami pribadi masih bisa merasakan pengalaman genggam cukup nyaman lantaran ketebalan bodinya yang masih tergolong wajar, yakni 8 mm (serta berbobot 205 gram). Karena menggunakan panel IPS LCD, untungnya frame ponsel ini berbentuk flat alias rata, jadi tidak mudah tergelincir. Kami sungguh tidak membayangkan jika ponsel setinggi ini punya sisi layar melengkung.

Di tangan seorang pria Indonesia berumur 30 tahun, Poco C85 tetap mengharuskan pengguna melakukan “gymnastic jari” saat menggunakannya dengan satu tangan. Misalnya, ketika sehabis menyalakan Wi-Fi di Quick Settings lalu ingin kembali ke Home Screen (menekan tombol Home di sisi bawah layar).

Poco C85 didukung dengan triple card slot.

Rasanya ponsel ini tidak terlalu dimaksudkan untuk digunakan dengan satu tangan. Ketika dipakai secara normal, penggunaan Poco C85 tidak menimbulkan masalah sama sekali dari segi ergonomika.

Berbicara soal tampilannya, Poco kembali menghadirkan konsep dual-tone. Bagian kiri memiliki porsi lebih besar, seukuran dengan modul kamera. Sementara, sisi kanan menyisakan porsi bagian yang lebih kecil. Ini berlaku untuk ketiga varian warnanya, yakni Black, Green, dan Purple. Kebetulan, unit yang diuji 91Mobiles Indonesia merupakan varian Green.

Bodi belakang perangkat ini mengusung bahan material plastik dengan finishing matte, sehingga tidak licin sama sekali. Namun sayangnya, punggung ponsel tetap menjadi “magnet” noda sidik jari yang membuatnya sulit terlihat bersih sepanjang hari.

Solusinya, Anda tinggal perlu menggunakan casing transparan yang telah disediakan. Ini membuat ketebalan bodinya sedikit bertambah, namun overall masih nyaman digunakan.

Menyoal penempatan tombol dan port, posisinya cukup standar di industri ponsel Android. Sisi kiri menampilkan tombol power (sekaligus menjelma sebagai sensor sidik jari) dan tombol volume. Sementara, bagian kanan hanya dihiasi laci kartu SIM.

Sisi bawahnya tampak paling “ramai”, menampilkan satu mikrofon, speaker grille, dan port USB-C. Untungnya, ponsel ini masih dibekali dengan port jek audio 3,5 mm sehingga bisa dihubungkan dengan earphone kabel.

Mengingat ponsel diuji di kota Bandung dengan curah hujan tinggi, kami bersyukur Poco C85 tersertifikasi IP64. Secara teori, ini artinya perangkat bakal terlindungi dari debu dan cipratan air yang datang dari arah mana pun.

Perangkat yang kami uji pernah satu kali kecipratan air cukup banyak, dan ponsel ini tentunya masih menyala. Responsivitas layarnya sedikit berkurang, namun tidak sekalipun terjadi “ghost touch”, fenomena yang menyebabkan layar bergerak-gerak sendiri akibat salah mengira tetesan air sebagai input jari. Tampaknya ini karena Poco C85 memiliki fitur Wet Touch Display 2.0.

Layar: Jumbo, namun beresolusi rendah

Poco C85 dilengkapi dengan panel IPS LCD 6,9 inci beresolusi HD Plus (1.600 x 720 piksel), terbilang sangat besar untuk seukuran HP non-lipat. Dengan layar sebesar ini, ponsel terbilang cocok untuk para “cinephile” alias pencinta film. Layar ini juga mengusung refresh rate 120 Hz dengan tingkat kecerahan 810 nit (HBM).

Di menu pengaturan, layar ini menyediakan berbagai fitur seperti mode gelap (dark mode), kecerahan otomatis, mode membaca, mode sunlight, dan tentunya opsi untuk mengatur refresh rate. Seperti ponsel Xiaomi sejutaan lain dengan HyperOS pada umumnya, Anda dapat memilih mode refresh rate default untuk menghemat baterai, atau memilih mode custom 60 Hz dan up to 120 Hz.

Saat berada di mode custom up to 120 Hz, navigasi antarmuka dan berbagai aplikasi (baik itu pihak pertama maupun ketiga) memang benar berada dalam refresh rate 120 Hz. Namun saat memainkan Dead Trigger 2, game tembak-menembak yang memang mendukung laju penyegaran tinggi, layar tetap saja mentok di 60 Hz.

Antarmuka pengaturan layar Poco C85

Viewing angle pada layar ponsel ini tergolong bagus, namun sayangnya masih beresolusi rendah 720p. Ini sebenarnya tidak terlalu memengaruhi pengalaman menonton. Hanya saja, jika Anda sudah terbiasa melihat layar Full HD Plus atau bahkan QHD Plus, sesekali akan merasakan bagian-bagian yang tampak buram atau kotak-kotak alias “choppy”. Di harga Rp 1 juta, layar HD Plus memang masih bisa dimaklumi. Namun di rentang harga ini pun sebenarnya sudah ada beberapa yang menggunakan Full HD Plus (1080p).

Visibilitas layar di luar ruangan pada siang hari cukup memukau. Ada mode sunlight yang dapat diaktifkan, berfungsi untuk menjaga layar tetap terang meski berada di bawah terik matahari. Namun menurut pengalaman kami, mode yang justru bakal membuat layar sangat terang adalah mode auto brightness, bukan mode sunlight.

Saat kecerahan otomatis diaktifkan, kami masih bisa melihat gambar dan teks dengan nyaman meskipun matahari sedang terik-teriknya. Secara keseluruhan, layar ponsel masih memberikan pengalaman optimal untuk kelas harga Rp 1 juta.

Menyoal pengalaman hiburan, speaker di ponsel ini sayangnya hanya satu alias mono, sehingga nyaris tidak mengeluarkan suara jika tangan tak sengaja menutupi keseluruhan speaker grille di area kanan (posisi lanskap). Namun, suara yang dihasilkannya cukup lantang. Terdapat juga fitur volume boost yang bisa meningkatkan volume hingga 200 persen dengan minim distorsi.

Kamera: Agak saturated pada foto makanan

Poco C85 hanya dibekali dengan satu kamera yang fungsional di punggungnya, beresolusi 50 MP dengan aperture f/1,8, focal length 28 mm, dan ukuran sensor 1/2,76 inci. Tentu saja, kamera ini sudah mendukung autofokus.

Soal kemampuan perekaman videonya, ponsel ini sayangnya hanya mendukung resolusi hingga 1080 di 30 FPS. Hasil videonya tampak sedikit stabil, namun tetap saja terasa goyang saat merekam sambil berjalan. Bersiap-siaplah mengeluarkan biaya untuk membeli gimbal terpisah jika ingin vlogging dengan HP ini.

Hasil foto siang hari pada Poco C85 masih satisfactory untuk kelas harga entry-level. Kami sempat membandingkan beberapa hasil fotonya dengan HP Rp 1 jutaan lainnya, Itel RS4, dan hasilnya cukup oke kendati ada beberapa catatan.

Pada perbandingan foto halaman depan rumah di bawah, foto Poco C85 terlihat memiliki dynamic range lebih luas. Ini karena kecerahan langit dan subjek utama terlihat lebih selaras dibandingkan hasil foto pesaingnya. Warna keseluruhannya pun tampak lebih hidup. Kami sungguh menyukai foto Poco C85 yang masih memperlihatkan detail bangunan di latar belakang dengan jauh lebih jelas. Warna langit lebih kontras, texture pada permukaan kayu pohon juga lebih terlihat menarik.

Untuk pemotretan malam hari (night mode), kualitas hasilnya tentu menurun drastis, hal lumrah untuk ponsel di harga sejutaan. Detail fotonya bahkan tidak sebaik hasil foto malam Itel RS4, terlebih ketika dibandingkan sambil di-zoom. Namun, perlu diakui Poco C85 berhasil menangani isu flaring pada sumber cahaya, sesuatu hal yang tidak berhasil digapai oleh pesaingnya.

Di bagian depan, Poco membekali smartphone ini dengan kamera selfie 8 MP f/2,0 berukuran sensor 1/4,0 inci. Kamera depan tersebut juga hanya mendukung perekaman video hingga resolusi 1080p di 30 FPS, sama seperti kamera belakang.

Pemotretan selfie menggunakan mode portrait sungguh berjalan dengan menyenangkan pada Poco C85, yang berhasil memberikan efek bokeh creamy dengan separasi subjek yang rapi. Warna kulit dan detail halusnya namun masih terlihat kurang oke, kendati sudah tergolong passable untuk kelas harganya.

Pada pesaingnya, efek latar belakang bahkan hampir sama sekali tidak terlihat. Kami sungguh menyukai betapa mudahnya menghasilkan foto background blur yang estetis pada Poco C85, baik itu di kamera belakang maupun kamera depan. Karena memang perlu diakui, tidak semua HP Rp 1 jutaan dapat melakukannya.

Pada beberapa kesempatan, misalnya saat memotret makanan, hasil foto Poco C85 kadang tidak mendekati warna aslinya. Hasilnya memang terlihat lebih menarik, namun untuk yang lebih peduli dengan keaslian warna, tentu ini agak disayangkan. Namun pada foto makanan lain (kali ini dengan pencahayaan lebih baik), hasil foto makanan pada Poco C85 cukup identik dengan pesaingnya.

Secara keseluruhan, jika Anda bisa menjaga ekspektasi yang realistis untuk ponsel di harga Rp 1 juta, hasil foto Poco C85 masih dikategorikan sebagai layak. Kami membayangkan jika sejumlah hasilnya diunggah ke media sosial (terutama foto siang hari), hanya segelintir orang saja yang sadar bahwa foto tersebut datang dari kamera HP Rp 1 jutaan.

Performa: Memadai, tapi bukan yang terbaik di kelasnya

Chipset yang dipakai Poco C85 memang bukan yang terbaik di harga Rp 1 jutaan, namun sudah memberikan pengalaman mumpuni untuk aktivitas harian. Poco memilih Helio G81 Ultra sebagai dapur pacunya, dibangun pada fabrikasi 12 nm serta dibekali 8-core CPU berisikan 2x Cortex A75 (2,0 GHz) dan 6x Cortex A55 (1,8 GHz) beserta GPU Mali-G52 MC2.

Ponsel ini hanya mendukung storage eMMC 5.1, sehingga kecepatan baca-tulisnya tidak secepat beberapa rival yang sudah UFS 2.2. Kendati begitu, selama pengujian, perangkat ini tidak terasa lagging atau stutter ketika dipakai membuka aplikasi, navigasi antarmuka, browsing, atau pun kegiatan sehari-hari lainnya.

Unit yang kami uji kebetulan merupakan varian RAM 8 GB/ 256 GB. Pengalamannya mungkin sedikit berbeda untuk varian satunya lagi yang lebih rendah, RAM 6 GB/ 128 GB.

Skor benchmark sintetis Poco C85.

Seperti yang terlihat pada gambar di atas, Poco C85 menorehkan skor 379.150 poin di AnTuTu v11. Sementara, skor Geekbench 6 miliknya meraih skor 396 poin di single-core dan 1.323 poin untuk multi-core. Pada pengujian Burnout, perangkat ini masih dapat mempertahankan 68,4 persen dari performa maksimalnya.

Poco C85 masih kuat memainkan sejumlah judul game populer seperti Mobile Legends: Bang Bang, PUBG Mobile, dan COD Mobile. Dua di antaranya masih dapat mencapai frame rate tinggi pada pengaturan grafis paling kanan.

Saat bermain Mobile Legends, pengalaman gaming terasa lancar di pengaturan grafis mentok kanan, tidak ada stutter maupun lagging sama sekali sepanjang permainan. Bahkan, animasi preview pemilihan karakter pun tampak mulus. Permainan dilakukan saat ponsel memakai casing, dan nyaris tidak terasa adanya kenaikan suhu di tangan setelah bermain selama 30 menit. Pada intinya, sama sekali tidak ada yang bisa dikeluhkan soal HP ini saat memainkan Mobile Legends.

Game berikutnya yang dites adalah COD Mobile, hanya bisa disetel hingga pengaturan grafis medium dan frame rate High. Penggunaan Helio G81 Ultra di sini tampaknya membuatnya tak sanggup menangani setting-an grafis lebih tinggi.

Di awal permainan, cukup lancar kendati ada sedikit stutter. Namun beberapa pergerakan animasi karakter terasa agak tersendat, kendati pengalamannya cukup playable. Barulah saat mendekati batas waktu 30 menit, responsivitas layar agak memburuk meskipun frame rate tetap lancar. Memindahkan crosshair terasa berat. Suhu perangkat naik, namun tidak drastis.

Di pengaturan HD – High pada judul PUBG Mobile, game berjalan lancar tanpa stutter dan lagging dari awal hingga akhir permainan. Namun yang disayangkan, kami tidak dapat menggunakan motion aiming dengan giroskop. Kami awalnya berharap Poco C85 masih dibekali gyroscope virtual kendati tidak memiliki sensornya secara hardware. Tanpa motion aiming, mendapatkan “Chicken Dinner” di permainan ini bakal terasa lebih sulit dan tidak nyaman.

Secara penilaian keseluruhan, pemilihan chipset Helio G81 Ultra sebenarnya cukup memadai namun masih kalah saing. Di harga Rp 1 juta, beberapa pesaingnya sudah dibekali Helio G99, misalnya seperti Itel RS4 dan Samsung Galaxy A07.

Software: Banyak iklan dan bloatware

Poco C85 menjalankan sistem operasi Android 15 dengan antarmuka HyperOS 2 sedari awal rilis. Pengalaman yang diberikan secara keseluruhan cukup intuitive, bahkan ada aplikasi Files dan Gallery bawaan. Dengan kata lain, tersedia opsi lain untuk manajemen file dan foto selain Google Files dan Photos.

Hanya saja, pengalamannya sungguh jauh dari Android stock. Ketika kami membuka app drawer, langsung disambut oleh beragam aplikasi prainstal yang tidak akan terlalu sering dipakai. Beberapa di antaranya bisa dihapus, namun ini tetap saja merepotkan dan memakan waktu.

Pada kondisi default, beberapa aplikasi tertentu bahkan akan menampilkan notifikasi iklan yang mengganggu, misalnya dari Mi Video dan GetApps. Bahkan ketika membuka salah satu aplikasi manajemen file bawaan dari Poco, kadang bermunculan iklan pop-up yang baru akan hilang setelah kita mengetuk simbol “X”.

Poco C85 juga sayangnya belum dibekali dengan fitur-fitur AI yang “mewah” seperti live translation, transkrip, atau generate gambar. Meski begitu, sejumlah fitur AI yang terintegrasi dengan Google Photos, seperti Magic Eraser dan Unblur, masih tersedia. Selain itu ada juga fitur Gemini yang bisa dipanggil dengan menekan lama tombol power, dan Circle to Search dengan menahan tombol Home.

Fitur Gemini (kiri), Circle to Search (kanan).

Baterai: Awet seharian penuh

Mengikuti tren industri yang tengah berkembang belakangan ini, Poco C85 tidak lagi dibekali baterai yang “hanya” berkapasitas 5.000 mAh. Sebab, ponsel entry-level ini punya baterai 6.000 mAh yang disertai pengisian daya 33 watt, tergolong lengkap di kelasnya.

Poco menyebutkan bahwa perangkat ini sanggup dipakai menonton video non-stop hingga 22 jam, dan kami pun tidak meragukan klaim tersebut. Sebab, HP ini memang terbukti punya ketahanan yang baik sepanjang pengujian.

Bukan itu saja, Poco C85 juga dipersenjatai dengan fast charging 33 watt yang bersaing tinggi di harga Rp 1 jutaan. Padahal, sejumlah ponsel di harga lebih tinggi masih menggunakan daya 18 watt. Perangkat ini diklaim hanya memerlukan sekitar 31 menit untuk mencapai baterai penuh dari kondisi kosong.

Pada saat pengujian sejumlah game dengan durasi masing-masing 30 menit, Mobile Legends Bang Bang hanya menguras baterai sekitar 5 persen. Permainan PUBG Mobile menghabiskan baterai sekitar 6 persen, dan COD Mobile memangkas baterai sekitar 5 persen.

Adapun pada saat pengujian PC Mark Battery Life, Poco C85 berhasil meraih durasi ketahanan cukup lama yakni 16 jam 49 menit. Dengan begini, pengguna tidak perlu khawatir saat sedang berada di luar rumah dan lupa tidak membawa charger.

Kesimpulan

Dengan banderol harga Rp 1.549.000 untuk RAM 6 GB/ 128 GB dan Rp 1.699.000 untuk RAM 8 GB/ 256 GB, Poco C85 menawarkan pengalaman penggunaan all-rounder yang memadai. Layarnya yang super besar menjadikannya sarana ideal untuk menonton film, terlebih dengan refresh rate 120 Hz miliknya yang bisa membuat nyaman pengguna saat scrolling media sosial. Baterai 6.000 mAh miliknya juga mampu memberikan durasi menonton lebih lama tanpa harus selalu tercolok ke charger.

Kameranya pun cukup mumpuni di kelas harganya, terlebih bagi Anda yang hanya berfokus di area pemotretan siang hari dan bokeh. Sedikit catatan, hasil foto malam harinya bukan yang terbaik, dan stabilisasi videonya pun kurang oke untuk kebutuhan media sosial. Namun, ini memang kekurangan yang sangat umum di harga entry-level.

Rating editor: 7,5 / 10

Kelebihan:

Kekurangan:

POCO C85 Harga
Rp. 2.151.450
Pergi Ke Toko
Rp. 2.299.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua
Home Reviews