Review Samsung Galaxy A17 5G: Unggul di Layar dan Dukungan Software

Ringkasan Tinjauan

Peringkat Pakar

8.0/10
Desain
 
8.0
/10
Layar
 
8.0
/10
Sistem operasi
 
8.3
/10
Kamera
 
8.3
/10
Kinerja
 
7.7
/10
Baterai
 
7.8
/10

Pros

  • Layar cerah dan memukau
  • Hasil foto malam hari mengesankan
  • Jaminan update software yang panjang

Cons

  • Masih pakai waterdrop notch
  • Pengisian daya lambat

Samsung telah meluncurkan Galaxy A17 di Indonesia pada Agustus 2025 sebagai penerus dari Galaxy A16. Model terbaru ini mempertahankan beberapa elemen yang sudah familiar seperti layar waterdrop notch, baterai 5.000 mAh, dan setup kamera yang sama, namun kini hadir dengan tambahan OIS. Kali ini, Samsung juga menyertakan charger di dalam kemasan, memperbaiki kekurangan besar yang ada pada pendahulunya.

Yang benar-benar menjadikan Galaxy A17 beda dari yang lain adalah dukungan software jangka panjang, sesuatu yang masih jarang dijumpai di segmen harga murah. Berikut penjelasan lebih dekat mengenai apa saja yang ditawarkan Galaxy A17, serta posisinya di kelas harga terjangkau dibandingkan dengan pendahulunya dan para pesaingnya.

Table of Contents

Kesimpulan awal

Samsung Galaxy A17 hadir dengan desain ramping, layar AMOLED yang memukau, kamera yang mumpuni di kondisi minim cahaya, serta dukungan software terbaik di kelasnya. Namun, dengan performa yang tergolong rata-rata, kecepatan pengisian daya yang lambat, dan daya tahan baterai yang biasa saja, para pesaing seperti Infinix GT 30 menawarkan nilai yang lebih seimbang secara keseluruhan.

Desain dan layar: Perpaduan antara yang baru dan lama

Galaxy A17 tampil dengan desain bersih dan ramping, menampilkan modul kamera belakang berisi tiga lensa. Meski berukuran besar, ponsel ini tidak terasa terlalu berat atau sulit digenggam. Samsung menawarkan tiga pilihan warna klasik yakni Grey, Blue, dan Black. Unit yang kami uji adalah varian Blue, tampilannya mirip dengan warna Blue Shadow pada Galaxy Z Fold7. Bagian belakangnya juga menampilkan efek kilau yang menarik saat terkena sinar matahari.

Di bagian depan, ponsel ini dilindungi oleh Gorilla Glass Victus, menambah ketahanan terhadap benturan dan goresan. Namun, ponsel ini hanya tersertifikasi IP45 untuk mengurangi risiko rusak akibat debu dan percikan air, tergolong standar. Padahal, sejumlah ponsel di harga yang sama sudah tersertifikasi IP69.

Satu hal yang terasa ketinggalan zaman adalah notch berbentuk “U” pada bagian atas layar. Desain ini terasa usang, mengingat sebagian besar ponsel di segmen harga yang sama sudah beralih ke layar punch hole. Selain itu, bezel di sekitar layar juga sedikit lebih tebal dibandingkan ponsel lain di harga Rp 3 jutaan, sehingga mengurangi kesan immersive saat menonton konten.

Kendati begitu, kualitas layarnya tetap memukau. Seperti yang bisa diharapkan dari panel Super AMOLED milik Samsung, tampilan layar Galaxy A17 cerah, halus, dan responsif meski hanya mendukung refresh rate 90 Hz. Layar berukuran 6,7 inci ini memiliki resolusi Full HD Plus, dan meskipun tingkat kecerahan maksimalnya tidak disebutkan, layar tetap mudah dibaca di bawah sinar matahari langsung.

Performa memadai untuk pemakaian sehari-hari

Umumnya, HP Samsung memang bukan pilihan utama bagi yang memprioritaskan performa tangguh di kelas menengah, ini juga tercermin pada Galaxy A17 5G. Ponsel ini disokong oleh Exynos 1330, chipset berfabrikasi 5 nm yang pertama kali digunakan pada Galaxy A14 di tahun 2023. Dibandingkan dengan kompetitor terkini, performanya mulai tertinggal, sebagaimana terlihat dari hasil benchmark.

Galaxy A17 5G hanya menorehkan skor AnTuTu di angka 604.677 poin, berdasarkan pengujian internal yang dilakukan tim 91Mobiles. Salah satu pesaingnya di harga Rp 3 juta, Infinix GT 30, berhasil meraih skor 727.195 poin yang lebih tinggi lantaran dibekali chip MediaTek Dimensity 7400.

Meski hasil benchmark-nya tertinggal, Galaxy A17 tetap cukup untuk kebutuhan harian seperti navigasi, media sosial, dan streaming. Tidak ada lag besar atau stutter yang mengganggu, sementara performa gaming tergolong lumayan. Akan tetapi, sesi bermain yang panjang dapat membuat perangkat panas, suhu meningkat sekitar 9 derajat setelah 30 menit bermain Call of Duty: Mobile. Kenaikan suhu tersebut termasuk yang tertinggi di segmen ini. Menariknya, hal ini tidak terjadi saat memainkan BGMI (PUBG Mobile versi India) atau Real Racing 3.

Masa dukungan update OS yang panjang, kustomisasi melimpah

Galaxy A17 menjalankan One UI 7 berbasis Android 15 sedari awal rilis, dijanjikan 6 tahun pembaruan OS serta patch keamanan. Ini merupakan masa dukungan terlama di kelas harga Rp 3 jutaan. Meski tidak menyerupai pengalaman stock Android, antarmukanya tetap terasa bersih dengan jumlah aplikasi bawaan yang relatif sedikit, hanya 49 aplikasi (bandingkan dengan Moto G96 yang memiliki 44 aplikasi).

Keunggulan utama One UI ada pada fleksibilitasnya. Pengguna bisa menyesuaikan hampir semua elemen, mulai dari menu notifikasi dan papan ketik, hingga tampilan pesan, dengan berbagai theme gratis. Bagi yang ingin kontrol lebih dalam, Good Lock memberikan opsi kustomisasi tingkat lanjut, menjadikan pengalaman penggunaan lebih personal dan ramah pengguna.

Kamera mumpuni dengan hasil foto malam hari yang memuaskan

Galaxy A17 memiliki kamera yang baik di kelasnya karena mampu memberikan hasil seimbang di berbagai kondisi pemotretan. Ponsel ini dibekali kamera utama 50 MP dengan OIS, ultrawide 5 MP, dan kamera makro 2 MP. Untuk kebutuhan selfie, tersedia kamera depan 13 MP. Smartphone ini mampu menghasilkan foto yang layak di kondisi pencahayaan terang dan selfie, namun performanya justru paling menonjol saat digunakan di kondisi minim cahaya.

Kamera Galaxy A17 menghasilkan foto cukup memukau untuk kelas harganya, meski belum sepenuhnya memuaskan. Dalam kondisi siang hari, fotonya sekilas terlihat oke, tapi detail kecil dan ketajamannya terlihat kurang oke saat diperbesar. Warnanya kadang agak meleset dan dynamic range pun tampak kurang luas.

Untuk foto portrait, hasilnya tergolong bagus. Warna kulit terlihat alami dan detail wajah terjaga. Efek background blur memang belum terlihat sempurna, tapi pemisahan antara subjek dan latar (edge detection) masih tergolong cukup rapi.

Selfie dari kamera depan terlihat cerah dengan sedikit efek skin smoothing, sehingga cocok untuk media sosial, meski warna kulitnya tidak seakurat kompetitor.

Kamera ultrawide miliknya menghasilkan gambar yang menarik secara sekilas, tetapi jika diperbesar terlihat ada distorsi dan penurunan ketajaman di bagian tepinya.

Menariknya, performa kamera Galaxy A17 di kondisi minim cahaya justru solid. Hasil foto malam hari tampak terang, dengan flare dan noise yang terkendali, serta detail yang cukup jelas untuk kelas harganya.

Ketahanan baterai biasa-biasa saja

Kapasitas baterai Galaxy A17 tergolong standar yakni 5.000 mAh. Pengisian dayanya didukung dengan fast charging 25 watt yang tergolong kalah saing. Tidak seperti pendahulunya, kali ini Galaxy A17 disertai dengan charger di kemasan penjualannya. Kendati kapasitas baterainya tergolong cukup untuk kelas harga Rp 3 jutaan, tak sedikit pesaingnya yang sudah disertai baterai 6.000 mAh atau 7.000 mAh. Durasi pengisian daya ponsel ini juga tergolong lambat, lantaran hanya punya daya 25 watt yang sungguh kalah saing. Dalam pengujian internal, Galaxy A17 membutuhkan waktu 1 jam 10 menit untuk terisi dari 20-100 persen. Dengan kata lain, pengisian dari nol hingga penuh bisa memakan waktu hingga satu jam setengah.

Dalam pengujian PC Mark, Galaxy A17 berhasil bertahan selama 9 jam 59 menit, salah satu durasi terendah di kelasnya. Pengujian tersebut menyimulasikan penggunaan sehari-hari seperti browsing, mengedit foto, dan gaming, menjadikannya sebuah indikator yang bisa dipercaya dalam hal ketahanan di skenario nyata. Pada penggunaan sehari-hari, Anda bisa mengharapkan durasi ketahanan hingga seharian penuh sebelum akhirnya perangkat butuh dicas.

Kesimpulan

Galaxy A17 menghadirkan sejumlah peningkatan dibandingkan Galaxy A16 dari segi penambahan OIS di kamera utama, penyertaan charger di boks penjualan, serta jaminan dukungan update 6 tahun yang tak tertandingi. Ponsel ini juga memiliki bodi yang ramping, layar AMOLED cerah, serta kinerja fotografi minim cahaya yang memadai. Namun, di harga Rp 3.699.000, pemilihan chipset Exynos 1330 sungguh membatasi kinerja ponsel. Ketahanan baterainya pun tergolong biasa saja, dan pengisian dayanya lebih lambat dari berbagai rivalnya. Terlepas dari itu semua, Galaxy A17 memang tidak dirancang untuk berfokus pada kinerja. Masih banyak pesaingnya yang bisa direkomendasikan jika Anda seorang gamer, Infinix GT 30 misalnya. Namun jika memprioritaskan keindahan layar serta software Samsung yang dijanjikan masa pembaruan panjang, Galaxy A17 layak direkomendasikan.

Rating editor: 8 / 10

Alasan membeli:


Alasan tidak membeli:

Home Reviews