Review Xiaomi 17 Ultra: Ahli Kamera yang Luar Biasa

Ringkasan Tinjauan

Peringkat Pakar

8.7/10
Desain
 
8.5
/10
Layar
 
9.0
/10
Sistem operasi
 
8.0
/10
Kamera
 
8.7
/10
Kinerja
 
8.8
/10
Baterai
 
9.0
/10

Pros

  • Salah satu kamera terbaik di industri saat ini.
  • Layar besar yang cerah dan akurat.
  • Performa komputasi yang sangat kencang.
  • Daya tahan baterai tinggi dengan charging cepat.

Cons

  • Harga tergolong mahal.
  • Bodi berat dan bongsor.
  • Pembaruan software tertinggal dari kompetitor.

Persaingan di kelas ponsel premium kini kian sengit, terutama dalam hal kemampuan fotografi yang semakin mendekati kamera profesional. Xiaomi pun tidak ragu menunjukkan taringnya lewat Xiaomi 17 Ultra, sebuah perangkat yang secara terang-terangan memamerkan jati dirinya sebagai ponsel kamera kelas atas.

Desain modul kamera melingkar berukuran besar di bagian punggung, logo Leica yang ikonik, serta konfigurasi tiga lensa premium langsung menegaskan kemampuan fotografinya bahkan sebelum layar ponsel dinyalakan. Melalui flagship terbarunya ini, Xiaomi mengusung filosofi yang berani: alih-alih mengandalkan manipulasi software untuk menutupi keterbatasan sensor yang biasa-biasa saja, mereka memilih merancang sistem optik dan sensor berkualitas tinggi agar pemrosesan software tidak perlu bekerja terlalu keras.

Mari kita bedah apakah pendekatan tersebut mampu mendefinisikan ulang standar fotografi smartphone saat ini. Saya sendiri berkesempatan menguji Xiaomi 17 Ultra dalam dua momen berbeda. Pertama, saat mencoba langsung unit versi China bulan lalu, dan yang kedua saat mengeksplorasi kemampuan kameranya secara mendalam menggunakan unit versi India di Pulau Phu Quoc, Vietnam. Setelah mengabadikan lebih dari 500 foto dan menguji perangkat ini secara intensif sebagai daily driver, berikut adalah ulasan lengkap saya.

Table of Contents

Desain: Ponsel Kamera dengan Estetika yang Tegas

Dari kejauhan, tampilan Xiaomi 17 Ultra terasa cukup familiar. Mirip dengan pendahulunya, Xiaomi 15 Ultra, bagian punggung ponsel ini didominasi oleh modul kamera melingkar berukuran besar. Xiaomi memberikan sentuhan aksen merah di sekeliling cincin kamera, yang tampak sangat menawan pada varian warna hitam yang saya uji. Kendati demikian, Xiaomi tampak mulai mengurangi lekukan di area tepi pada setiap generasi terbarunya. Kini, Xiaomi 17 Ultra hadir dengan desain yang sepenuhnya datar, mulai dari layar, panel belakang, hingga bingkai bodinya. Desain flat-edge ini memang sedang menjadi tren hangat di industri smartphone flagship, dan Xiaomi berhasil mengadopsinya dengan sangat baik.

Aksen merah di sekeliling modul kamera memberikan sentuhan estetika yang manis.

Secara fisik, ponsel ini terasa bongsor dan sangat kokoh. Menariknya, meski mengemas kapasitas baterai 6.000 mAh yang jauh lebih besar dibandingkan dengan baterai 5.410 mAh milik Xiaomi 15 Ultra, Xiaomi justru sukses memangkas bobotnya dari 226 gram menjadi 218 gram. Tak hanya itu, pencapaian yang lebih mengesankan adalah ketebalan bodi yang kini menyusut dari 9,35 mm menjadi sekitar 8,29 mm.

Walau demikian, perangkat ini tetap tergolong berat dan akan cukup terasa di tangan saat digunakan dalam durasi lama. Berkat dimensi yang sedikit diperluas serta bezel yang kian tipis, ukuran layarnya kini meningkat dari 6,73 inci menjadi 6,9 inci. Di dunia nyata, perubahan ini menyajikan visual yang luar biasa luas dan memanjakan mata, baik untuk menikmati konten HDR10+ dan Dolby Vision, menjelajahi media sosial, maupun mengurasi hasil foto yang baru saja Anda abadikan.

Sektor visualnya mengandalkan panel LTPO HyperRGB OLED dengan refresh rate 120 Hz yang menyajikan transisi sangat mulus, terlebih saat berpadu dengan animasi fluid khas HyperOS. Layar ini mampu mereproduksi warna dengan sangat akurat, tajam, dan cerah, menjadikannya tandem yang sempurna untuk sebuah ponsel yang dirancang khusus untuk memotret sekaligus menikmati hasilnya. Dengan tingkat kecerahan maksimal hingga 3.500 nits, layarnya tetap terlihat sangat jelas meski di bawah terik matahari langsung, sebuah kondisi yang sering saya jumpai selama pengujian di Vietnam maupun di Delhi.

Satu aksesori tambahan yang sangat menarik untuk dibahas adalah photography kit. Dijual terpisah dengan harga Rp 2 juta di Indonesia, Photography Kit Pro hadir berupa grip eksternal yang dapat dipasang pada Xiaomi 17 Ultra untuk memberikan pengalaman memotret layaknya kamera profesional saat bepergian.

Aksesori ini dilengkapi dengan berbagai kontrol intuitif, mulai dari tombol shutter dua tahap, dial yang dapat dikustomisasi untuk mengatur EV, filter, ISO, shutter speed, atau white balance, hingga tombol perekaman video dan tuas zoom. Terhubung melalui port USB Type-C, grip ini juga berfungsi ganda sebagai power bank berkat baterai cadangan berkapasitas 2.000 mAh di dalamnya. Secara keseluruhan, saya sangat menikmati pengalaman menggunakannya selama di Vietnam, meski aksesori ini rasanya kurang praktis untuk penggunaan sehari-hari karena membuat dimensi ponsel menjadi lebih tebal dan berat.

Kamera: Keunggulan Hardware Tanpa Perlu Campur Tangan AI

Daya tarik utama untuk meminang Xiaomi 17 Ultra tentu saja terletak pada sektor kameranya. Ponsel ini dibekali konfigurasi tiga lensa yang mumpuni: kamera utama 50 MP dengan sensor berukuran 1 inci (focal length setara 23 mm) yang didukung optik Leica, kamera ultrawide 50 MP (14 mm), serta kamera telefoto 200 MP yang mendukung continuous optical zoom dari jangkauan 75 mm hingga 100 mm. Lensa telefoto terakhir inilah yang menjadi bintang utamanya.

Pada sistem dual-telephoto generasi sebelumnya, kita kerap menemui penurunan kualitas gambar yang cukup drastis saat ponsel beralih lensa secara otomatis—misalnya dari zoom 3x ke 5x—meninggalkan rentang zoom di antaranya dengan kualitas yang kurang optimal. Namun, modul tunggal baru dari Xiaomi ini mampu menangani seluruh rentang fokus 75–100 mm secara kontinu, dan hasilnya sangat mengesankan. Dari sekitar 500 foto yang saya abadikan di Vietnam, saya bisa berpindah dari focal length 75 mm, 90 mm, dan 100 mm tanpa perlu memikirkan lensa mana yang sedang aktif.

Reproduksi warna, ketajaman, serta efek blur pada latar belakang tampak sangat konsisten di setiap rentang. Satu hal yang perlu dicatat: melakukan zoom melebihi batas optis native (yang mengandalkan teknik cropping pada sensor 200 MP) akan menghasilkan detail yang sedikit lebih soft. Walau resolusi tingginya membuat foto tetap layak pakai, ini adalah satu-satunya celah kecil dalam sistem kamera yang sebenarnya sudah sangat mulus ini.

Kamera depan juga mendapatkan peningkatan yang signifikan, dari yang sebelumnya hanya bersensor 32 MP fixed-focus kini menjadi 50 MP yang dilengkapi fitur autofocus. Detail gambar yang dihasilkan sangat tinggi, foto selfie jarak dekat tampak sangat tajam, dan kemampuan pemisahan objek (edge detection) dalam kondisi cahaya ideal bahkan terasa lebih rapi dibanding Vivo X300 Pro. Kendati demikian, kamera depan Xiaomi ini cenderung membuat warna kulit wajah tampak sedikit lebih terang, yang terkadang berujung pada overexposure. Dalam hal ini, Vivo X300 Pro mampu menyajikan reproduksi warna kulit (skin tone) yang lebih natural dan seimbang.

Kondisi Siang Hari (Daylight)

Untuk skenario point-and-shoot di siang hari, performa Xiaomi 17 Ultra benar-benar luar biasa. Sensor berukuran 1 inci miliknya mampu menangkap detail gambar yang melimpah tanpa efek penajaman (sharpening) buatan yang berlebihan. Reproduksi warnanya tampak hidup namun tetap natural, akurasi white balance sangat konsisten, dan noise hampir tidak ditemukan sama sekali. Kinerja autofocus juga terasa sangat responsif, memudahkan saya untuk menangkap objek bergerak dengan tajam tanpa adanya gejala stutter.

Satu keunikan kecil yang konsisten saya temukan: saat memotret pemandangan dengan beberapa objek pada jarak yang berbeda, kamera ponsel ini sesekali justru mengunci fokus pada objek kedua terdekat, alih-alih objek yang paling dekat dengan kamera. Masalah ini memang jarang mengganggu saat memotret satu objek tunggal, namun dalam skenario foto grup atau jalanan yang ramai, saya harus beberapa kali mengetuk layar secara manual untuk mengunci fokus pada objek yang diinginkan.

Rentang dinamis (dynamic range) yang dihasilkan tergolong sangat luas, meski pada kondisi dengan kontras tinggi, pemrosesan gambar bawaannya terkadang membuat kontras tampak sedikit flat. Dalam skenario spesifik seperti ini, Vivo X300 Pro mampu menyajikan hasil foto yang terasa lebih realistis. Walau begitu, untuk sebagian besar skenario pemotretan di siang hari, kualitas jepretan Xiaomi 17 Ultra adalah salah satu yang terbaik di kelasnya tahun ini.

Vivo X300 Pro
Xiaomi 17 Ultra

Kemampuan lensa telefoto ponsel ini benar-benar membuktikan kelasnya yang sebanding dengan harganya yang premium. Pada focal length 75 mm, lensa ini dengan mudah menggantikan peran kamera zoom 3x dedicated dengan detail yang luar biasa, warna akurat, serta rentang dinamis yang sangat baik. Saat beralih ke 100 mm pun kualitasnya tetap terjaga di level tertinggi.

Foto potret yang saya abadikan pada focal length ini sama sekali tidak terlihat seperti hasil jepretan ponsel, melainkan tampak seperti jepretan kamera mirrorless profesional yang kebetulan muat di dalam saku. Efek bokeh optis yang dihasilkan pun terasa sangat natural berkat kombinasi lensa cepat dan sensor berukuran besar yang menciptakan depth of field nyata, bukan sekadar hasil rekayasa algoritma software yang menebak siluet objek.

Jika harus memilih mana yang menghasilkan foto potret lebih baik antara Xiaomi 17 Ultra dan Vivo X300 Pro, jawabannya tentu tidak sesederhana itu. Secara pribadi, saya lebih menyukai karakter foto Vivo X300 Pro yang kaya akan kontras dibandingkan dengan hasil jepretan Xiaomi 17 Ultra yang cenderung terlalu terang dan agak overexposure. Kendati demikian, flagship besutan Xiaomi ini mampu menyajikan detail gambar yang jauh lebih tajam, yang akan sangat terasa perbedaannya saat kita melakukan zoom pada hasil foto.

Vivo X300 Pro
Xiaomi 17 Ultra

Kamera ultrawide ponsel ini juga menyajikan performa di luar ekspektasi meskipun tidak membawa perubahan hardware dari generasi sebelumnya. Hasil fotonya tampak lebih tajam dengan rentang dinamis yang solid, walau akurasi warna pada Vivo X300 Pro masih terasa sedikit lebih unggul di sektor ini.

Kondisi Minim Cahaya (Low Light)

Kemampuan fotografi low-light menjadi panggung utama bagi Xiaomi 17 Ultra untuk unjuk gigi. Di sinilah teknologi LOFIC (Lateral Overflow Integration Capacitor) membuktikan dirinya bukan sekadar jargon pemasaran belaka.

Kamera smartphone konvensional biasanya menangani kondisi kontras tinggi dengan menggabungkan beberapa frame foto (multi-frame stacking). Meski metode ini cukup efektif, ia kerap memicu munculnya motion blur, efek halo yang tidak natural, serta hasil akhir yang terasa terlalu diproses oleh software.

Sebaliknya, teknologi LOFIC mampu menangkap rentang tonal yang jauh lebih luas hanya dalam satu kali jepretan, membuat kamera bekerja layaknya saksi mata yang merekam momen secara jujur, bukan seperti editor foto.

Baca juga: Pengalaman Menggunakan Xiaomi 17 Ultra di Vietnam: Kameranya Membuat Saya Enggan Menggunakan Fotografi AI

Saya sendiri baru benar-benar memahami keunggulan teknologi ini saat menyaksikan pertunjukan api di tepi pantai pada malam terakhir saya di Phu Quoc. Tiga penari beraksi dengan kobaran api, lingkaran api, serta bola-bola api yang melayang di udara—sebuah skenario ekstrem yang biasanya membuat kamera ponsel kewalahan. Pada kondisi seperti ini, kamera umumnya akan menghasilkan kobaran api yang overexposure hingga berwarna putih polos, atau mencoba menyeimbangkan pencahayaan, namun justru menghasilkan noise abu-abu yang mengganggu di seluruh area foto.

Namun, Xiaomi 17 Ultra yang saya gunakan pada focal length 75 mm and 100 mm dengan ISO di kisaran 160 hingga 250, sama sekali tidak mengalami masalah tersebut. Dalam satu jepretan, saya berhasil mengabadikan momen ketika seorang penari memutar lingkaran api dengan wajah yang tersorot cahaya api secara pas, pohon kelapa di latar belakang yang tetap terlihat, lampu perahu di kejauhan, hingga tekstur pasir di bawah kakinya—semuanya terekam jelas secara bersamaan dengan detail yang luar biasa. Tanpa ada efek ghosting maupun penggabungan frame yang dipaksakan. Sebuah momen yang benar-benar terekam secara instan dan apa adanya.

Tak hanya itu, Xiaomi juga menyediakan mode pemandangan khusus, yaitu Fireworks dan Flames, yang ditenagai langsung oleh teknologi LOFIC. Ini merupakan mode pengambilan gambar berbasis hardware, bukan hasil rekayasa AI. Foto kembang api yang saya abadikan menggunakan mode Fireworks pada sensor 1 inci membuktikan hal tersebut: setiap percikan api terlihat jelas, garis-garis cahayanya tampak tajam, dan ledakan cahayanya menampilkan warna yang sesungguhnya. Saat saya memperbesar area langit yang gelap, masih terlihat noise halus seperti grain pada foto analog—detail yang biasanya akan langsung dihaluskan secara paksa oleh ponsel lain pada ISO 1000. Xiaomi 17 Ultra memilih untuk mempertahankan grain tersebut demi menjaga ketajaman detail gambar. Ini adalah sebuah kompromi yang berani dari Xiaomi, dan menurut saya, keputusan tersebut sangat tepat.

Sentuhan optimasi dari Leica pada ponsel ini juga benar-benar terasa dampaknya, bukan sekadar tempelan merek belaka. Warna yang dihasilkan tampak akurat tanpa terkesan flat, serta hidup tanpa terlihat berlebihan. Beberapa hasil foto bahkan terlihat sangat bersih hingga saya tidak perlu menyuntingnya lagi sebelum dibagikan. Sebagai contoh, bangunan kanal bergaya Venesia di Phu Quoc yang memiliki warna merah, kuning, dan biru cerah mampu direproduksi dengan sangat natural. Tidak ada saturasi yang dipaksakan, semuanya tampak jujur sesuai aslinya.

Kualitas foto mentah (RAW) yang dihasilkan juga menyajikan ruang edit yang sangat luas bagi Anda yang gemar melakukan color grading. Saat saya mencoba menyesuaikan slider HSL pada foto payung pantai, hasilnya tampak sangat hidup tanpa terlihat seperti menggunakan filter instan murahan. Hal ini karena kita sedang menyalurkan visi artistik fotografi, bukan sibuk memperbaiki kualitas gambar dari sensor yang buruk.

Selain itu, foto hitam-putih menggunakan mode Leica Monochrome saat membidik para penari jalanan menjadi salah satu hasil favorit saya selama pengujian. Gradasi tonalnya terasa sangat halus dari area putih terang hingga warna kulit yang lebih gelap, dengan detail highlight yang terjaga serta bayangan yang terpisah dengan rapi.

Performa dan Software: Sisi Fundamental Sebuah Ponsel Kamera

Beralih ke sektor dapur pacu, Xiaomi 17 Ultra ditenagai oleh chipset flagship terbaru dari Qualcomm, yakni Snapdragon 8 Elite Gen 5. Prosesor octa-core berfabrikasi 3nm ini mampu menyentuh clock speed hingga 4,61 GHz. Pada pengujian benchmark sintetis seperti AnTuTu, ponsel ini menorehkan skor fantastis melampaui 3,6 juta poin.

Angka ini mengungguli hampir seluruh kompetitor flagship di kelas harganya, kecuali Samsung Galaxy S26 Ultra yang mencatatkan skor di atas 3,9 juta poin menggunakan chipset serupa yang telah dioptimalkan khusus untuk lini Galaxy. Hasil pengujian Geekbench pun menunjukkan performa yang tak kalah mengesankan, seperti yang bisa Anda lihat di bawah ini.

Skor Geekbench Multi-Core
Samsung Galaxy S26 Ultra
Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5
11,407
Xiaomi 17 Ultra
Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5
10,941
vivo X300 Pro
MediaTek Dimensity 9500
10,279
OPPO Find X9 Pro
MediaTek Dimensity 9500
7,811
Geekbench menilai efisiensi inti tunggal (single core) dan banyak inti (multi core) pada CPU (lebih tinggi lebih baik)

Untuk penggunaan harian, performa ponsel ini terasa sangat gegas dan responsif. Berbagai aplikasi dapat terbuka secara instan, proses multitasking berjalan tanpa kendala, dan animasi pada antarmuka HyperOS menyajikan pengalaman penggunaan yang sangat premium. HyperOS sendiri masih menjadi salah satu kustomisasi Android yang tergolong bersih dan minim bloatware. Fitur-fitur seperti floating windows, multitasking, serta tata letak antarmukanya secara umum telah dioptimalkan dengan sangat baik untuk memaksimalkan potensi layar besarnya.

Dalam hal dukungan software, Xiaomi menjanjikan pembaruan sistem operasi (OS) hingga 5 tahun serta pembaruan keamanan selama 6 tahun. Kebijakan ini tentu sudah sangat baik untuk sebuah ponsel flagship, meski masih sedikit tertinggal jika dibandingkan dengan Pixel 10 Pro XL atau Galaxy S26 Ultra yang berani menjamin pembaruan OS dan keamanan hingga 7 tahun.

Baterai: Bebas Khawatir Kehabisan Daya di Tengah Hari

Kapasitas baterai pada perangkat ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dari yang sebelumnya 5.410 mAh pada Xiaomi 15 Ultra kini menjadi 6.000 mAh pada unit versi India yang saya uji. Dalam skenario penggunaan nyata, daya tahan baterainya tergolong sangat memuaskan. Ponsel ini dapat dengan mudah bertahan seharian penuh untuk penggunaan intensif, bahkan bisa mencapai satu setengah hari untuk pola penggunaan yang lebih kasual.

Ketangguhan baterainya juga terbukti dalam pengujian benchmark PCMark, di mana unit Xiaomi 17 Ultra versi India ini mampu bertahan selama 15 jam 31 menit (dari kondisi baterai 100 hingga 20 persen). Sebagai perbandingan, varian versi China yang mengusung baterai lebih besar (6.800 mAh) mencatatkan waktu sekitar 17 jam, sehingga hasil pengujian ini terasa sangat logis. Kendati demikian, daya tahan baterai Xiaomi 17 Ultra ini masih sedikit tertinggal dari kompetitornya seperti Vivo X300 Pro dan Oppo Find X9 Pro yang dibekali baterai lebih besar dan sukses menembus angka 16 jam pada pengujian PCMark kami.

Skor Baterai PCMark (dalam jam)
OPPO Find X9 Pro
7500 mAh
16.0
vivo X300 Pro
6510 mAh
16.0
Xiaomi 17 Ultra
6000 mAh
15.5
Samsung Galaxy S26 Ultra
5000 mAh
14.4
Uji baterai PCMark mengukur masa pakai baterai ponsel dari 100% ke 20% (lebih tinggi lebih baik)

Selama perjalanan di Phu Quoc, saya sangat aktif mengambil foto dan video, bahkan hampir setiap 10 menit saya membuka aplikasi kamera untuk mengabadikan momen. Menariknya, meski digunakan di bawah cuaca yang cukup terik, suhu bodi ponsel tetap terjaga dengan baik dan tidak mengalami panas berlebih. Di akhir hari, sisa baterai saya masih berada di kisaran 50 persen. Sebuah pencapaian yang sangat mengesankan dan layak diacungi jempol.

Meskipun ponsel flagship ini mendukung pengisian daya cepat 90W, Xiaomi berbaik hati menyertakan charger HyperCharge 100W di dalam kotak penjualannya. Berdasarkan pengujian kami, pengisian daya dari 20 hingga 100 persen membutuhkan waktu sekitar 48 menit. Tak hanya itu, dukungan wireless charging 50 W juga turut disematkan, memberikan kepraktisan ekstra untuk penggunaan sehari-hari.

Kesimpulan: Ponsel Kamera Terbaik Jika Budget Anda Mencukupi

Sejak pertama kali digenggam, Xiaomi 17 Ultra secara tegas menunjukkan fokus utamanya, dan ponsel ini berhasil membuktikannya dengan sangat meyakinkan. Kombinasi sensor utama berukuran 1 inci, lensa telefoto dengan kemampuan continuous zoom, serta integrasi teknologi LOFIC melahirkan sistem kamera yang menjadi salah satu yang terbaik di industri smartphone saat ini. Perangkat ini sangat cocok bagi para pengguna yang menginginkan hasil foto yang tampak jujur sesuai dengan momen aslinya, bukan sekadar gambar hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI).

Di luar sektor fotografi, peningkatan yang dihadirkan pada aspek lainnya juga terasa sangat signifikan. Layar flat AMOLED berukuran 6,9 inci menyajikan visual yang sangat memanjakan mata, chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 mampu melibas berbagai tugas berat tanpa kendala, dan baterai 6.000 mAh yang didukung pengisian daya cepat 90 W memastikan Anda bebas dari rasa khawatir kehabisan daya di tengah hari. Antarmuka HyperOS juga terasa kian matang dan responsif, didukung kebijakan pembaruan software yang tergolong lumayan oke meski belum menjadi yang terbaik di kelasnya.

Dibanderol dengan harga mulai dari Rp 19 juta, Xiaomi 17 Ultra memosisikan dirinya di kasta tertinggi dalam jajaran smartphone Xiaomi. Ponsel ini juga mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan dibandingkan dengan pendahulunya. Langkah ini memang bisa dimaklumi mengingat kelangkaan komponen global yang masih berlangsung, namun tetap berpotensi membuat sebagian calon konsumen mengernyitkan dahi.

Di rentang harga ini, Anda juga memiliki opsi menarik seperti Galaxy S26 Ultra yang menawarkan dukungan software lebih panjang, antarmuka yang lebih bersih dan ramah pengguna, rangkaian fitur AI khas Samsung, serta kekuatan brand image Samsung yang kuat. Selain itu, dengan harga yang sedikit lebih terjangkau, ada pula iPhone 17 Pro. Xiaomi 17 Ultra dipastikan akan menghadapi persaingan yang sangat sengit dari para rivalnya di kelas premium, namun ia dibekali modal hardware yang sangat tangguh untuk tetap bersaing di papan atas.

Rating Editor: 8,7 / 10

Kelebihan:

Kekurangan:

Spesifikasi Utama

Xiaomi 17 Ultra
Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5 SM8850-ACProsesor
6.9 inci (17.53 cm)Menampilkan
16 Gigabita RAM + 512 Gigabita
16 Gigabita RAM + 1 TBRAM & Penyimpanan
50 Megapiksel + 200 Megapiksel + 50 MegapikselKamera Utama
50 MegapikselKamera Depan
6000 mAhBaterai
Lihat Spesifikasi Lengkap
Xiaomi 17 Ultra Harga
Rp. 19.799.010
Pergi Ke Toko
Lihat Semua
Home Reviews