
Di venue acara sebenarnya terdapat dua unit headset Vivo Vision berikut seperangkat motion controller yang sayangnya tak diperkenankan untuk disentuh atau dicoba, tapi setidaknya boleh difoto.
Dapat dilihat bahwa tampilan perangkat yang pertama kali diperkenalkan Agustus lalu ini secara keseluruhan mirip dengan perangkat sejenis yang telah lebih dulu hadir seperti Apple Vision Pro dan Samsung Galaxy XR. Vivo Vision Discovery Edition dirancang berbentuk ringkas dan ringan dengan bobot 398 gram.
Di depan terdapat bantalan visor agar membuatnya terasa nyaman saat dikenakan, sedangkan di bagaian belakang terdapat headband untuk memasangkannya di kepala. Model headand ini bisa dipilih antara single loop atau dual loop.
Di balik kaca visor terdapat dua layar micro-OLED binocular 8K yang masing-masing memiliki resolusi 3.840 x 3.552 piksel dengan lebar sudut pandang 180 derajat dan cakupan color space DCI-P3 94 persen. Sepasang layar ini diklaim dapat menghadirkan pengalaman imersif seperti menonton layar berukuran 120 inci.
Seperti perangkat lain sejenisnya, terdapat video passthrough untuk meneruskan tampilan dunia luar dengan latency sangat rendah, hanya 13 ms, sehingga bisa dipadukan secara seamless dengan grafis virtual (mixed reality).
“Otak” utama di balik Vivo Vision Discovery Edition adalah platform Qualcomm Snapdragon XR2 Plus Gen 2, dipadukan sistem manajemen daya BlueVolt Battery System dengan teknologi anoda silikon dan baterai semi padat untuk memberikan energy density lebih tinggi, sehingga daya tahan baterainya bisa dioptimalkan.
Fitur lain dari Vivo Vision Discovery Edition termasuk teknologi audio dan video spasial, kendali dengan gestur tangan, eye tracking, penyesuaian diopter layar untuk pengguna berkacamata, serta kompatibilitas dengan game MR dan PCVR.