
Usai peluncuran global Xiaomi 17 Ultra dan beberapa produk lainnya di Barcelona, Spanyol, pada akhir Februari, Xiaomi menggelar sesi wawancara dengan Director of Communications and Publiic Relations Xiaomi Global, Angus Ng. Event Q&A yang digelar di sela ajang Mobile World Congress (MWC) 2026 tersebut dihadiri sejumlah jurnalis, termasuk 91mobiles Indonesia.
Di sela pertanyaan dari wartawan, Angus menyebutkan kalimat yang menarik terkait pasaran smartphone lipat dan Apple. “Saya pikir perangkat foldable bakal jadi mainstream setelah Apple masuk,” ujarnya. Mainstream di sini mengacu pada adopsi perangkat yang lebih meluas di masyarakat sehingga menjadi lebih umum ditemui.
Kenapa dia berpikir begitu? 91mobiles Indonesia mencoba menggali lebih dalam dengan mengajukan pertanyaan lanjutan. Angus pun menuturkan pemikirannya terkait pasaran HP lipat dan Apple.
Table of Contents
iPhone lipat bukan hanya ditunggu konsumen, tapi juga brand
Menurut Angus, meskipun para pabrikan lain di industri gadget -termasuk Xiaomi sendiri- telah lama menelurkan produk HP lipat masing-masing, konsumen sebenarnya banyak menunggu “versi Apple”. Prospek kemunculan perangkat itu yang tidak jelas membuat publik bertanya-tanya dan penasaran.
“Apple pun tidak pernah berkomentar soal ini. Baru sekitar akhir tahun lalu mulai beredar rumor bahwa (iPhone lipat) akan hadir pada 2026,” ucap Angus.
Aneka bocoran tentang iPhone lipat memang sudah banyak beredar, mulai dari desain hingga harganya. Apple bahkan disinyalir bakal membuat dua jenis foldable, yakni iPhone Fold dengan lipatan book style dan iPhone Flip bergaya clamshell.

Kehadiran iPhone lipat agaknya bukan cuma ditunggu oleh konsumen, tapi juga pabrikan gadget seperti Xiaomi yang notabene adalah pesaingnya. Alasannya berkaitan dengan pasaran foldable yang disinggung oleh Angus.
“Saya pikir ini bergantung pada bagaimana mereka (Apple) bisa mendorong pasar dan penerimaan (dari perangkat foldable), mungkin juga menelurkan inovasi yang bisa membuatnya lebih berguna untuk konsumen,” ujar dia.
Dengan kata lain, iPhone lipat diharapkan bisa memperbesar pasar perangkat lipat sehingga ikut menguntungkan para pemain lain di industri gadget. Kalau dilihat dari sejarah Apple, prediksi Angus ada benarnya.
“Bukan pertama, tapi terbaik”
Apple dikenal jarang menjadi pabrikan yang pertama kali memperkenalkan sebuah ketegori produk baru. Tapi, begitu dirilis ke pasaran, produk “versi Apple” hampir selalu mengalami ledakan popularitas sehingga membuat volume pasar kategori produk yang bersangkutan ikut meroket.
Misalnya, meskipun telah lama didului oleh beberapa pabrikan dan platform (Windows Mobile, Palm OS, Symbian, BlackBerry, dll.), kemunculan iPhone pada 2007 membuat popularitas smartphone naik dan adopsinya meluas berkat terobosan dalam hal form factor dan ekosistem aplikasi.
iPad juga jauh dari predikat tablet pertama, tapi berandil besar memasyarakatkan jenis gadget tersebut ketika dirilis pada 2010. Apple kerap kali mengambil inovasi teknologi yang sudah ada, kemudian menyempurnakannya.
Hal ini tercermin dari filosofi “not first, but best” yang suatu ketika diungkapkan oleh CEO Apple, Tim Cook. Bukan tak mungkin fenomena serupa kembali terulang saat Apple akhirnya merilis perangkat ponsel lipat perdana.
Xiaomi sendiri sebenarnya sudah memiliki HP lipat book style bernama Mix Fold dan clamshell yang dijuluki Mix Flip, tapi jangkauannya relatif kurang luas dibandingkan perangkat sejenis lainnya.
Hanya Mix Flip yang dipasarkan secara global, itu pun relatif terbatas di beberapa negara tertentu di Eropa dan Asia. Sementara, Mix Fold hanya dirilis di China dan produk terakhirnya, Mix Fold 4, belum memiliki penerus semenjak meluncur pada pertengahan 2024.
Apakah Xiaomi menunggu langkah Apple terlebih dahulu sebelum membuat keputusan strategis yang lebih besar? Benarkah kehadiran iPhone Fold bakal membuat HP lipat jadi perangkat mainstream? Hanya waktu yang bisa menjawab.










