
Kabar buruk bagi para gamer yang berencana meminang konsol handheld buatan Valve. Mengikuti tren kenaikan harga perangkat keras (hardware) di tahun 2026, Valve resmi mengumumkan kenaikan harga Steam Deck secara drastis.
Kenaikan ini tergolong signifikan. Untuk model Steam Deck OLED dengan kapasitas penyimpanan 512 GB, harganya melonjak dari 549 dolar AS (Rp 9,7 jutaan) menjadi 789 dolar AS (Rp 14 jutaan), sebagaimana dihimpun 91Mobiles Indonesia dari Polygon. Ya, kenaikan harga Steam Deck OLED nyaris mencapai Rp 5 juta.
Selain itu, kenaikan yang paling mencolok terasa pada varian tertinggi, yakni kapasitas storage 1 TB. Konsol tersebut kini dibanderol seharga 949 dolar AS (Rp 16,9 jutaan) alias meningkat 300 dolar AS (Rp 5,3 jutaan) dari harga sebelumnya.
Kabar ini juga menjadi sinyal buruk bagi para penggemar yang mengharapkan kehadiran “Steam Machine”. Dengan harga perangkat yang melambung tinggi, tak menutup kemungkinan Steam Machine bakal sulit dilirik sebagai alternatif PC gaming yang ramah di kantong.
Table of Contents
Keputusan Valve meningkatkan harga jual Steam Deck sebenarnya bukan hal yang mengejutkan, mengingat para pesaingnya sudah lebih dulu menaikkan harga. Valve justru dinilai “terlambat” bergabung dalam tren kenaikan harga hardware konsol yang kian menggila.
Tahun lalu, Microsoft telah menaikkan harga seluruh model Xbox Series S dan X, di mana Series X (dengan disk drive) kini mencapai 650 dolar AS (Rp 11,5 jutaan).
Sony kemudian menyusul pada Maret lalu dengan meningkatkan harga PlayStation 5 (PS5) Pro menjadi 900 dolar AS (Rp 16 jutaan). Nintendo juga telah meningkatkan harga Nintendo Switch 2 menjadi 500 dolar AS (Rp 8,9 jutaan), namun masih terlihat jauh lebih murah dibandingkan dengan harga terbaru Steam Deck.
Ada dua faktor utama di balik lonjakan harga ini. Pertama adalah kebijakan tarif impor menyeluruh dari Presiden Donald Trump tahun lalu yang menargetkan negara-negara manufaktur konsol. Hal ini menciptakan ketidakpastian besar bagi para produsen hardware.
Faktor kedua dan yang paling mendesak adalah krisis RAM yang saat ini melanda industri komputasi. Saat ini, perusahaan-perusahaan teknologi sedang berlomba-lomba membangun pusat data AI yang membutuhkan kapasitas memori sangat besar.
Produsen chip memori cenderung lebih memilih menjual komponen mereka ke pusat data AI karena margin keuntungan yang jauh lebih tinggi dibandingkan menjualnya untuk produk konsumen. Akibatnya, terjadi kelangkaan RAM yang memicu lonjakan biaya produksi untuk konsol dan handheld.
Kemudian hal ini pun diperparah oleh konversi dolar ke rupiah yang semakin mahal, sehingga membuat selisih harganya di Indonesia menjadi jauh lebih besar dibandingkan jika kurs sedang stabil.
Kenaikan harga ini berdampak buruk bagi aksesibilitas industri game secara keseluruhan. Padahal, agar publisher game dapat meraih untung, mereka perlu meraih jumlah audiens sebanyak-banyaknya. Namun dengan naiknya harga konsol, jumlah gamer bisa menyusut sehingga industri game secara keseluruhan pun bisa terancam.
Bukan itu saja, mereka yang sudah memiliki konsol game pun terancam kena imbasnya. Contohnya saja, game populer seperti Call of Duty Warzone sudah mulai meninggalkan konsol generasi lama seperti PS4 dan Xbox One. Itu berarti, mau tidak mau, pemain harus membeli konsol baru yang harganya selangit jika ingin tetap memainkan game kesayangan mereka.
Saat ini belum ada cara cepat yang dapat menurunkan harga konsol dan berbagai perangkat elektronik di seluruh dunia. Kita hanya dapat berharap semoga “demam AI” di dunia teknologi sedikit mereda, sehingga stok komponen memori kembali normal dan harga konsol bisa turun lagi ke harga yang masuk akal.