Vivo tampak berkomitmen untuk terus menggarap segmen ponsel lipat. Ini tercermin dengan kehadiran Vivo X Fold 5 di Indonesia sebagai penerus Vivo X Fold 3 Pro tahun lalu. Merk ini mengambil pendekatan yang lebih hati-hati dengan X Fold 5, yakni dengan mempertahankan hardware inti yang sama. Mulai dari chipset, sistem kamera, hingga layar. Walau begitu, tetap ada peningkatan di sisi desain, baterai, efisiensi baterai, serta pengalaman penggunaan yang lebih baik secara keseluruhan. Selain itu, Vivo juga melakukan pemangkasan harga untuk Vivo X Fold 5.
Namun, bagaimana performanya dalam penggunaan sehari-hari? Bisakah ia menjadi alternatif yang layak bagi Samsung Galaxy Z Fold 7? Simak ulasan lengkapnya dalam review Vivo X Fold 5 berikut.
Table of Contents
Kesimpulan awal
Vivo X Fold 5 mungkin bukan ponsel lipat paling bertenaga atau terbaik di setiap aspek, tetapi dengan harga yang ditawarkan, ia menghadirkan paket lengkap yang seimbang antara desain premium, fitur produktivitas, dan hardware mumpuni. Ponsel ini menonjol dalam hal multi-tasking, baterai, dan kualitas layar. Selain itu, tambahan seperti Origin Workbench dan berbagai alat AI praktis lainnya semakin membuatnya pilihan menarik.
Desain lebih ringkas dan kokoh
Vivo X Fold 5 mempertahankan desain yang mengingatkan pada pendahulunya, X Fold 3 Pro, tetapi kini hadir dengan penyempurnaan signifikan pada bobot dan ketebalan untuk ergonomi lebih baik. Ponsel ini hanya memiliki bobot 217 gram dan ketebalan 9,2 mm, menjadikannya lebih ringan dan tipis dibandingkan beberapa ponsel flagship ultra-premium terbaru. Saat lipatannya dibuka, bodinya hanya 4,3 mm, bahkan lebih tipis dari cincin di jari kami.
Bentuknya yang ramping juga diimbangi dengan peningkatan ketahanan. X Fold 5 diklaim mampu menahan hingga 600.000 kali lipatan, meningkat 25 persen dibandingkan pendahulunya. Meskipun klaim ini sulit diverifikasi dalam waktu singkat, selama penggunaan kami memperlakukan ponsel ini seperti ponsel biasa. Bahkan sempat beberapa kali kami duduk di atasnya saat berada di saku belakang, dan tidak ada tanda-tanda retak atau bunyi berderit sedikit pun.
Ketahanan ini bisa dikaitkan dengan engsel yang kuat serta perlindungan kaca Armour Glass generasi kedua, dipasang menggunakan teknologi gap-filling glue yang mencegah air merembes masuk. Kombinasi ini membuat perangkat meraih sertifikasi IP58 dan IP59, tingkat perlindungan air dan debu tertinggi yang pernah ada pada ponsel lipat.
Vivo juga menyertakan case bawaan untuk perlindungan tambahan. Case ini menutupi bagian engsel dan memiliki lapisan belakang bertekstur kulit, memberikan kesan premium. Kendati begitu, kami berharap bagian sisi smartphone tidak terlalu halus dan mengilap, karena membuatnya agak licin dan sedikit sulit dibuka cepat untuk menggunakan layar utama. Seandainya memakai finishing matte tentu akan lebih ideal karena memberikan pengalaman grip lebih baik serta mencegah noda sidik jari.
Di bagian belakang, Vivo X Fold 5 menampilkan modul kamera berbentuk lingkaran besar yang cukup menonjol dari permukaan. Hal ini bisa dimaklumi demi memuat konfigurasi kameranya. Desain tersebut mungkin tidak akan disukai semua orang, terutama karena jari telunjuk mudah menyentuh tepi modul saat menggenggam perangkat. Meski begitu, kami pribadi menyukai modul ini. Selain mencegah ponsel bergoyang saat diletakkan datar, bentuknya juga memberikan titik tumpu alami yang nyaman di tangan.
Sisi kanan ponsel menampung sensor sidik jari yang terintegrasi dengan tombol daya, dapat membuka kunci dengan cepat dan akurat. Tepat di bawahnya terdapat tombol volume, sementara di sisi atas ada tombol shortcut yang bisa dikustomisasi untuk berbagai fungsi, mulai dari menonaktifkan suara, membuka kamera, mencatat cepat, merekam, hingga mengaktifkan AI captions.
Bagian bawah perangkat memuat port USB Type-C, speaker grille, dan laci kartu SIM, sedangkan speaker kedua berada di sisi atas.
Layar
Vivo X Fold 5 dibekali dua layar yakni 8,03 inci utama dan 6,53 inci layar cover, keduanya berjenis AMOLED dengan bezel tipis dan mendukung refresh rate hingga 120 Hz. Karena keduanya menggunakan panel LTPO, refresh rate dapat turun hingga 1 Hz untuk efisiensi daya. Layar ini juga mendukung HDR10+ dan telah dikalibrasi oleh Dolby Vision, menghasilkan pengalaman visual yang kaya dengan kontras tinggi, hitam pekat, dan warna yang nyaris akurat, bisa disesuaikan juga dengan preferensi pengguna.
Kedua layar mampu mencapai kecerahan maksimal hingga 4.500 nit, membuatnya mudah dibaca di bawah cahaya matahari langsung. Sudut pandangnya juga sangat baik, dan resolusi tinggi memastikan ketajaman gambar maksimal. Layar cover punya resolusi 2.748 × 1.172 piksel, sementara layar utama lipat memiliki resolusi 2.480 × 2.200 piksel.
Kedua layar menampung kamera selfie dalam lubang kecil di atasnya, pilihan standar yang untungnya tidak mengganggu penggunaan. Tantangan utama justru ada pada rasio aspeknya yaitu 21:9 untuk layar luar dan 4:3.55 untuk layar dalam. Rasio ini, yang umum pada ponsel lipat bergaya buku, membuat beberapa aplikasi populer seperti Instagram tampil kurang proporsional dengan tata letak dan skala yang janggal. Bahkan aplikasi YouTube mengalami kesulitan menampilkan video tanpa bilah hitam, atau terpotong saat di-zoom.
Namun, hal ini lebih merupakan masalah optimalisasi dari sisi pengembang aplikasi. Vivo sendiri sudah memberikan yang terbaik lewat layar berkualitas tinggi yang menghadirkan pengalaman menonton yang memuaskan. Selain itu, lekukan (crease) di layar utama nyaris tak terlihat, dan fitur seamless continuity memungkinkan pengguna berpindah dengan mulus antara layar luar dan dalam, baik di UI sistem maupun aplikasi yang mendukungnya. Hal ini meningkatkan kenyamanan penggunaan secara keseluruhan.
Kamera yang didukung Zeiss
Untuk urusan fotografi, Vivo X Fold 5 dibekali konfigurasi tiga kamera belakang yang terdiri atas sensor utama 50 MP Sony IMX921 (dengan OIS), kamera ultrawide 50 MP Samsung ISOCELL JN1, dan telefoto 50 MP Sony IMX882 dengan OIS yang mendukung zoom optik hingga tingkatan 3x dan digital hingga 100x. Kamera-kamera ini dikembangkan bersama Zeiss untuk menghasilkan detail dan akurasi warna lebih baik. Hasil jepretannya menunjukkan detail yang kuat, meski cenderung menampilkan warna yang terlalu tajam dan sedikit berlebihan pada pengaturan default, membuat tampilan gambar lebih mencolok ketimbang realistis.
Untungnya, pengguna dapat memilih berbagai filter di aplikasi kamera. Filter Zeiss memberikan warna yang mendekati nyata, tetapi sedikit meningkatkan tingkat kecerahan secara keseluruhan sehingga kadang mengurangi kontras. Kendati begitu, hasil yang diperoleh tetap mengesankan untuk ukuran ponsel lipat, yang umumnya tidak dikenal karena kemampuan kameranya.
Untuk memberikan konteks yang lebih jelas, kami membandingkan hasil kamera Vivo X Fold 5 dengan Samsung Galaxy Z Fold 7, dan berikut sampel fotonya.
Foto siang hari
Dalam kondisi pencahayaan terang, Vivo X Fold 5 unggul dalam detail dan ketajaman dibandingkan Galaxy Z Fold 7. Namun, akurasi warna dan dynamic range ponsel ini masih tertinggal, sering kali membuat area bayangan menjadi terlalu gelap dan kehilangan gradasi halus pada bagian tersebut.
Ultrawide
Kedua perangkat menghasilkan kualitas serupa lewat ultrawide masing-masing. Namun, Vivo X Fold 5 menampilkan tone warna yang lebih realistis dibandingkan sensor utamanya serta mampu mempertahankan bayangan dengan lebih baik. Ponsel ini juga sedikit lebih unggul dalam mengatasi distorsi di tepi gambar, kemungkinan berkat bidang pandang yang lebih sempit. Sebaliknya, Galaxy Z Fold 7 menawarkan frame yang lebih lebar, menjaga konsistensi warna, dan menangkap detail yang lebih kaya di seluruh gambar.
Portrait
Vivo X Fold 5 memiliki keunggulan karena dapat mengambil foto potret pada berbagai focal length, khususnya di jarak 50 mm (zoom 2,2x), di mana hasil detailnya sangat baik. Namun, warna kulit sering kali tidak akurat dengan tone kemerahan dan tingkat kecerahan yang tampak tidak alami. Galaxy Z Fold 7 menghasilkan warna kulit yang lebih realistis, keseimbangan warna yang lebih baik, serta deteksi tepi yang lebih bersih tanpa efek blur berlebihan seperti pada Vivo. Keduanya menampilkan efek bokeh yang tampak alami.
Selfie
Kedua ponsel dilengkapi dua kamera selfie, satu di layar luar dan satu di layar utama, dengan resolusi dan hasil yang serupa. Namun, Galaxy Z Fold 7 sedikit lebih unggul berkat kontrol exposure yang lebih baik, memotret di area terang pun tidak akan membuat foto silau berlebihan, dan warna kulitnya pun lebih natural. Detail wajah juga konsisten di kedua perangkat.
Foto minim cahaya
Dalam kondisi pencahayaan minim, Vivo X Fold 5 mampu mengontrol pantulan cahaya, mengurangi noise, dan menampilkan hasil yang mendekati aslinya. Kendati begitu, Galaxy Z Fold 7 tetap unggul dengan gambar yang lebih bersih, detail yang lebih terjaga, serta fidelitas warna yang lebih baik (lebih sesuai aslinya), menghasilkan performa mode malam yang lebih matang.
Secara keseluruhan, Vivo X Fold 5 menonjol di siang hari berkat detail dan ketajaman yang sangat baik, meski masih perlu perbaikan dalam pengendalian bayangan dan akurasi warna. Ponsel ini juga menyediakan berbagai mode tambahan seperti Super Macro untuk foto jarak dekat yang tajam dan Ultra Document untuk pemindaian dokumen.
Selain itu, Vivo X Fold 5 mendukung perekaman video hingga resolusi 8K pada 30 FPS. Menurut kami, hasil terbaiknya ada di 4K 60 FPS lewat kamera utama, dengan video yang stabil serta warna yang akurat.
Performanya masih tangguh, meski mulai tertinggal
Vivo X Fold 5 mengandalkan chipset Snapdragon 8 Gen 3, sama seperti yang digunakan pada X Fold 3 Pro pendahulunya. Meski masih bertenaga dan efisien, performanya mungkin terasa kurang menggoda bagi pengguna yang berorientasi pada spesifikasi, mengingat chipset ini sudah digantikan oleh Snapdragon 8 Elite yang lebih bertenaga di ponsel flagship terbaru. Akibatnya, performa Vivo X Fold 5 sedikit tertinggal dalam pengujian global seperti AnTuTu dan Geekbench. Dalam uji CPU Throttle Burnout, performa maksimalnya turun hingga 30 persen, padahal sudah dibekali sistem pendingin besar dengan Vapour Chamber dan lapisan grafit untuk mengurangi panas.
Sebenarnya, Vivo X Fold 5 tidak dirancang untuk menjadi ponsel tercepat di kelasnya. Fokus utamanya adalah pada produktivitas dan multi-tasking, bukan raw performance. Dengan layar utama berukuran 8,03 inci, pengguna bisa merasakan pengalaman mirip tablet saat mengelola dokumen, spreadsheet, atau email di mana pun. Dalam penggunaan sehari-hari, seperti membuka Google Sheets, membaca artikel panjang, atau mengecek email, ponsel ini tetap mulus tanpa jeda atau lag.
Pada pengujian benchmark sintetis, Vivo X Fold 5 dapat menorehkan skor 1.985.189 poin, masih setara dengan skor Galaxy Z Fold 7 sebesar 2.008.157 poin. Sementara pada Geekbench 6, skor Vivo X Fold 5 adalah 2.194 poin (single-core) dan 6.413 poin (multi-core).
Dengan RAM 16 GB dan penyimpanan internal 512 GB, Vivo X Fold 5 mampu menangani berbagai aktivitas multi-tasking dengan lancar. Kendati demikian, varian 1 TB seharusnya bisa menjadi pilihan tambahan mengingat target pasar ponsel ini adalah kalangan profesional. Untungnya, perangkat ini sudah menggunakan RAM LPDDR5X dan storage UFS 4.0, yang menjamin waktu muat aplikasi lebih cepat, multi-tasking lebih mulus, dan transfer data yang efisien.
Walaupun bukan ponsel gaming, Vivo X Fold 5 tetap mampu menjalankan game berat seperti BGMI (PUBG Mobile versi India), Call of Duty: Mobile, dan Real Racing 3 pada pengaturan grafis menengah dengan frame rate stabil. Setelah bermain selama 30 menit, suhu perangkat hanya meningkat sekitar 3,6 derajat Celsius, menunjukkan sistem pendingin yang efektif. Untuk gamer kasual, ponsel ini tetap menjadi pilihan yang solid.
Dilengkapi fitur-fitur khusus foldable
Vivo X Fold 5 menjalankan FunTouch OS 15 berbasis Android 15 secara out-of-the-box. Walau bukan versi Android paling baru di pasaran, ini adalah versi terkini yang ditawarkan Vivo. Menariknya, versi OS ini juga digunakan di lini flagship, kelas menengah, hingga ponsel terjangkau Vivo tahun ini.
Salah satu fitur unggulan di perangkat lipat ini adalah Origin Workbench, yang memanfaatkan sepenuhnya layar besar bagian dalam. Fitur ini memungkinkan pengguna membuka hingga lima jendela aktif sekaligus di layar utama, menawarkan pengalaman multi-tasking layaknya desktop. Aplikasi utama ditampilkan di bagian tengah, sementara empat lainnya muncul di sisi kiri dalam tampilan tab untuk memudahkan perpindahan antar-aplikasi. Pengguna juga dapat mengunci jendela agar tidak tertutup saat membuka aplikasi lain.
Dalam penggunaan, Origin Workbench terasa jauh lebih fungsional dibandingkan mode split-screen atau picture-in-picture tradisional yang biasanya terbatas pada dua aplikasi. Sayangnya, fitur ini tidak aktif secara default dan juga tidak bisa dikustomisasi. Untuk menggunakannya, pengguna harus mengaktifkannya secara manual melalui menu Settings, lalu mengaksesnya dengan gestureswipe dari kanan bawah layar, metode yang terasa kurang praktis. Semoga Vivo bisa membuatnya lebih mudah diakses lewat pembaruan mendatang.
Mode tenda dan fold-to-split dari generasi sebelumnya juga tetap hadir. Selain itu, Vivo X Fold 5 turut dibekali beberapa fitur berbasis AI, meski tidak selengkap Galaxy AI milik Samsung pada Galaxy Z Fold 7. Beberapa fitur tersebut mencakup menghapus pantulan, objek, dan blur pada foto, recompose atau menyusun ulang komposisi gambar, membuat captionreal-time untuk panggilan dan video, AI Call Assistant untuk mentranskrip percakapan telepon, serta Vivo DocMaster untuk mengedit dokumen (belum tersedia saat review ini dibuat).
Fitur caption dan pengeditan foto berbasis AI memerlukan koneksi internet serta akun Vivo. Berdasarkan pengujian, caption real-time bekerja akurat dan fungsional bagi kebutuhan aksesibilitas atau dokumentasi percakapan. Vivo juga memperkenalkan AI Visual, yang dapat menambahkan empat filter musiman ke foto portrait, meski fitur ini belum tersedia di perangkat saat ini. Selain itu, pengguna juga mendapat akses ke Google Gemini AI, yang bisa membuat teks, gambar, meringkas konten, menerjemahkan bahasa, dan mengatur pengaturan aplikasi.
Dalam hal dukungan software, Vivo menjanjikan 4 pembaruan Android utama dan 5 tahun pembaruan keamanan untuk Vivo X Fold 5. Meskipun belum menyamai standar Samsung dan Google yang kini mencapai 7 tahun, dukungan ini tetap memastikan ponsel relevan hingga 2031, termasuk pembaruan minor untuk bug seperti app misalignment antar-layar dan notifikasi yang kadang sulit dibaca.
Baterai terbesar di kelas foldable
Vivo X Fold 5 dibekali baterai berkapasitas 6.000 mAh, menjadikannya ponsel lipat dengan baterai terbesar sejauh ini. Vivo menggunakan baterai silikon-karbon dengan desain anoda berlapis ganda untuk mencegah degradasi selama siklus pengisian daya.
Dalam penggunaan sehari-hari, mulai dari multi-tasking, menjelajahi web, menonton video, hingga scrolling media sosial, daya tahannya bisa mencapai hingga satu setengah hari. Penggunaan berat seperti bermain game selama berjam-jam mungkin akan membuat pengguna perlu mengisi daya lebih awal, tetapi daya tahan ini tetap impresif untuk perangkat dengan layar utama lebih dari 8 inci.
Dalam pengujian lab, ponsel ini menguras 28 persen daya baterai setelah memainkan BGMI (PUBG Mobile versi India), Call of Duty: Mobile, dan Real Racing 3 selama masing-masing 30 menit. Saat digunakan untuk menonton video YouTube selama 30 menit, baterainya hanya turun 4 persen, setara dengan ponsel flagship konvensional. Adapun pada pengujian PC Mark, Vivo X Fold 5 berhasil bertahan selama 10,5 jam.
Kendati begitu, Samsung Galaxy Z Fold7 menunjukkan optimasi daya yang sedikit lebih baik, dengan total konsumsi 25 persen untuk pengujian yang sama, atau sekitar 6 persen lebih efisien dibandingkan X Fold 5.
Kecepatan pengisian daya Vivo X Fold 5 menjadi salah satu yang paling menonjol. Berkat teknologi 80W FlashCharge (charger sudah termasuk dalam paket penjualan), ponsel ini dapat terisi dari 20-100 persen dalam waktu hanya 38 menit. Selain itu, tersedia pula dukungan pengisian nirkabel 40W FlashCharge untuk kenyamanan tambahan.
Kesimpulan
Vivo X Fold 5 dijual di Indonesia dengan harga Rp 24.999.000, lebih murah Rp 3,5 juta dibandingkan Samsung Galaxy Z Fold 7 yang dihargai Rp 28,5 juta. Memang, ponsel lipat Samsung unggul dengan chipset terbaru, dukungan software jangka panjang, sistem kamera yang lebih akurat secara warna, serta rangkaian fitur AI yang lebih kaya.
Namun, Vivo X Fold 5 tetap unggul di beberapa aspek penting. Desainnya tangguh dengan sertifikasi IP58 dan IP59, menjadikannya salah satu foldable paling tahan air dan debu di pasaran. Meski bukan yang paling ringan, bodinya yang ramping dan ergonomis membuatnya nyaman digenggam dan mudah dibawa. Kualitas layarnya luar biasa, meski rasio aspeknya agak tidak lazim, dan performa keseluruhannya cukup untuk kebutuhan produktivitas profesional.
Daya tarik lainnya ada pada baterai 6.000 mAh yang besar, pengisian daya super cepat, serta fitur software produktif seperti Origin Workstation yang menghadirkan pengalaman mirip desktop. Selain itu, fitur AI kamera dan editing juga memberi nilai tambah nyata, meski warna hasil fotonya terkadang terlalu saturated, detail yang dihasilkan tetap luar biasa untuk ponsel lipat.
Selama Vivo menepati janji dukungan software dengan pembaruan berkala dan terus meningkatkan optimalisasi sistem, Vivo X Fold 5 bisa menjadi investasi jangka panjang yang menarik di segmen foldable premium.
Rating editor: 8,2 / 10
Alasan membeli:
Salah satu foldable dengan ketahanan bodi paling unggul (tersertifikasi IP58/ IP59).
Pengalaman multi-tasking yang luar biasa dengan fitur Origin Workbench, bisa membuka lipa jendela aktif sekaligus.
Hasil jepretan dengan detail memadai, cocok untuk segala keperluan, serta dibekali filter Zeiss.
Punya kapasitas baterai 6.000 mAh, salah satu yang terbesar di industri ponsel lipat.
Alasan tidak membeli:
Raw performance pada Snapdragon 8 Gen 3 tidak sebagus Snapdragon 8 Elite yang lebih baru.
Pembaruan software kalah saing dengan Samsung dan Google yang dijamin 7 tahun pembaruan OS.