Review | Indonesia Blog https://www.91mobiles.com/id/hub Wed, 08 Jul 2026 03:24:53 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.5.3 Review Oppo Reno 16F: Tampilan Cantik, Kamera Memadai https://www.91mobiles.com/id/hub/review-oppo-reno-16f-tampilan-cantik-kamera-memadai/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-oppo-reno-16f-tampilan-cantik-kamera-memadai/#respond Wed, 08 Jul 2026 03:24:53 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=23019 Pada awal tahun ini, Oppo mengisi segmen ponsel kelas menengah dengan menelurkan Reno 15 series di Indonesia. Tepat enam bulan kemudian, pabrikan ponsel ini kembali mengeluarkan seri penerusnya pada Juli 2026, yakni Oppo Reno 16 series. Seri Reno sendiri dikenal atas kemampuan fotografinya yang mumpuni serta desain bodi yang menawan, dan hal ini kembali tercermin pada Oppo Reno […]

The post Review Oppo Reno 16F: Tampilan Cantik, Kamera Memadai first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Pada awal tahun ini, Oppo mengisi segmen ponsel kelas menengah dengan menelurkan Reno 15 series di Indonesia. Tepat enam bulan kemudian, pabrikan ponsel ini kembali mengeluarkan seri penerusnya pada Juli 2026, yakni Oppo Reno 16 series

Seri Reno sendiri dikenal atas kemampuan fotografinya yang mumpuni serta desain bodi yang menawan, dan hal ini kembali tercermin pada Oppo Reno 16F. 

Kendati merupakan varian yang lebih murah dari Reno 16 dan Reno 16 Pro, smartphone ini menyuguhkan kemampuan fotografi yang cukup matang. Apalagi, Reno 16F kini hadir dengan kamera telefoto yang andal dalam pemotretan jarak jauh. 

Dalam kesempatan kali ini, tim 91Mobiles Indonesia akan menjelaskan pengalaman kami saat memakai Reno 16F selama beberapa waktu. Simak review selengkapnya berikut ini.

Kesimpulan awal

Reno 16F hadir dengan desain 3D yang cantik sekaligus tahan terhadap air. Performanya cukup, meskipun bukan yang terbaik untuk gaming. Kemampuan fotografinya kini makin lengkap dengan kehadiran kamera telefoto untuk memotret jarak jauh, berikut kamera depan ekstra lebar dengan tingkat zoom 0,6x dan kemampuan autofokus. 

Desain Oppo Reno 16F: Terlihat cantik dengan desain 3D

Oppo Reno 16F memang merupakan varian paling rendah dibandingkan Reno 16 dan Reno 16 Pro. Akan tetapi, desain belakang bodinya tetap berhasil membuat kami terpana. 

Perangkat ini menggunakan inovasi desain pertama di industri, yakni 3D Pop Planet Design. Desain tersebut menggunakan teknologi HoloVerse 3D yang menciptakan efek visual yang seolah “mengambang” di atas permukaan kaca, sehingga dapat bergerak ke kiri dan ke kanan saat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. 

Bodi belakangnya dirancang dengan konsep One-piece Elegant Design, sehingga modul kameranya menyatu secara mulus dengan punggung bodi. 

Modul kamera Reno 16F kini sedikit agak berbeda. LED Flash miliknya tidak lagi berbentuk cincin, dan lokasinya dipindahkan ke sisi kanan bawah sementara dua kamera lainnya masih terletak di sisi kiri. Alhasil, kamera belakang Reno 16F tidak lagi memberikan kesan “mirip iPhone” seperti Reno 15F dengan kamera boba-nya. 

Ponsel ini mengusung rangka dan layar yang datar sehingga memudahkan pengguna menggenggam ponsel dalam waktu lama tanpa khawatir tergelincir. Meski tidak melengkung (curved), Reno 16F tetap memberikan pengalaman hand-feel yang nyaman sekaligus tidak terasa bulky. Ini wajar, mengingat ketebalannya yang hanya mencapai 8,4 mm.

Tidak hanya tampil cantik, bodi belakang HP ini juga punya ketahanan sangat tinggi dengan sertifikasi IP69K Water and Dust Resistance. Rating ini merupakan tingkat perlindungan tertinggi yang bisa didapatkan sebuah smartphone, membuatnya tahan debu, kotoran, tumpahan air, hingga semprotan air bertekanan tinggi dan bersuhu ekstrem. 

Kali ini Oppo Reno 16 series dibekali dengan tombol AI Snap Key di samping kiri bodi. Tombol ini dirancang untuk memudahkan pengguna dalam mengakses sejumlah fungsi utama, misalnya merekam memo suara, mengambil tangkapan layar (screenshot), atau menyimpan ide secara instan. 

Hands-on Oppo Reno 16 Series, Tampilan Barunya Memukau dengan Efek 3D
Ketiga ponsel Reno 16 Series sama-sama dibekali tombol Snap Key yang berfungsi sebagai shortcut aplikasi atau fungsi tertentu.

AI Snap Key juga memiliki kesinambungan dengan fitur AI Mind Space, di mana semua konten yang ditangkap atau disimpan melalui tombol ini akan dikelola di satu tempat. 

Menyoal layarnya, Reno 16F hadir dengan bezel cukup tipis di sekeliling bodi, kendati tidak sepenuhnya simetris karena bezel bagian bawah masih terlihat sedikit lebih tebal dibandingkan dengan yang lainnya. Namun, untuk seukuran HP dengan layar flat, rasio bodi-ke-layarnya masih tergolong oke.

Meski merupakan varian terendah, ukuran layar Reno 16F justru yang paling besar yakni 6,57 inci. Ini kontras dengan Reno 16 dan Reno 16 Pro yang memiliki layar 6,32 inci. 

Panel yang digunakan tentu sudah AMOLED dengan resolusi Full HD Plus (1.080 x 2.372 piksel). Layar ini juga sudah mendukung refresh rate 120 Hz dan HDR. Saat memutar video yang kompatibel di YouTube, opsi HDR memang terbuka dan dapat dipilih. 

Kamera Oppo Reno 16F: Kini ada telefoto

Karena ini merupakan Oppo Reno series, tentu urusan fotografi tak luput menjadi perhatian utama. Oppo Reno 16F kini dibekali dengan kemampuan memotret dan merekam video yang meningkat ketimbang pendahulunya.

Kamera utamanya memiliki resolusi 50 MP dengan aperture f/1,8 dan focal length 26 mm, turut disertai autofokus dan OIS (Optical Image Stabilization). 

Sebagai pendampingnya, terdapat kamera baru berupa 50 MP telefoto yang punya aperture f/2,8, autofokus, OIS, dan dukungan pembesaran optis hingga tingkatan 3,5x. Kamera telefoto ini absen pada generasi sebelumnya, menjadikan Reno 16F salah satu opsi terjangkau yang bisa dijadikan “HP konser“.

Tidak ketinggalan, tersedia juga kamera ultrawide 8 MP yang turut mendukung fitur autofokus serta mampu memotret pada bidang pandang (FoV/ Field of View) seluas 116 derajat. 

Konfigurasi triple camera ini sudah lebih cukup untuk membuat kami terpukau akan hasil fotonya. Baik pada kondisi pencahayaan sulit maupun malam hari, perangkat ini tetap bisa diandalkan sebagai sarana kreasi konten. 

Masing-masing kamera belakangnya (main camera, telefoto, dan ultrawide) juga mampu menghasilkan foto dengan kualitas yang cukup konsisten. 

Bahkan untuk objek dengan tekstur rumit seperti rerumputan, ketiganya sama-sama sanggup menangkap detail yang baik dan enak dipandang. 

Kamera telefoto di perangkat ini mampu menangkap foto jarak jauh dengan pembesaran optis 3,5x. Artinya, hasil foto dengan jarak pembesaran sebesar itu memiliki detail yang nyaris sama bagusnya dengan mode Auto (lossless). Untuk zoom yang lebih dari 3,5x, penurunan kualitas akan mulai terasa. 

Kendati demikian, kami berhasil menangkap gambar dengan zoom 7x (170 mm) dan hasilnya masih cukup memadai. Detail dedaunan dan tanaman masih terlihat jelas, namun wajah-wajah subjek agak mulai terlihat samar. Kehadiran kamera telefoto di Oppo Reno 16F jelas menjadi game changer bagi mereka yang ingin berkunjung ke kebun binatang atau mengunjungi konser. 

Yang cukup unik adalah kamera depannya yang sanggup melakukan zoom out hingga 0,6x selayaknya kamera belakang. Ya, kamera depan Reno 16F memang memiliki resolusi 50 MP dengan fungsi ultrawide yang sanggup memotret pada FoV 100 derajat. 

Saat kami mencoba memotret dengan zoom 0,6x, kami langsung bisa menebak alasan mengapa Oppo menyematkan fitur ini. Sebab, yang semula t-shirt kami hanya terlihat setengah, zoom 0,6x membuat outfit kami terlihat nyaris sepenuhnya. Fitur ini sangat berguna bagi audiens yang senang memamerkan “OOTD” (outfit of the day). 

Menariknya lagi, kami sama sekali tidak dapat membedakan kualitas gambar dari zoom 1x dan 0,6x. Hasil dari kedua tingkat zoom ini sama-sama menampilkan dynamic range yang luas kendati subjek membelakangi sumber cahaya. Autofokus (AF) yang hadir pada kamera depan juga turut membantu menjaga tampilan subjek agar tetap detail. 

AI Pop Out 2.0
AI Pop Out 2.0

Salah satu fitur kamera terbaru yang ditonjolkan Oppo Reno 16 series adalah AI PopOut 2.0, yang membuat pengguna dapat menggabungkan dua foto dengan latar belakang berbeda tampak seperti “menyatu”. 

Untuk menggunakannya, Anda cukup mengambil gambar dengan subjek utama yang masuk frame secara utuh dengan latar belakang menarik. Lalu, pilih gambar kedua dan/atau ketiga yang menunjukkan pemandangan.

Anda kemudian cukup tap pada subjek yang ingin “dipotong” lalu pilih opsi “Pop Out”. Setelahnya, gambar subjek akan terlihat lebih besar dan bisa masuk ke frame foto kedua.

Perekaman video di perangkat ini juga tergolong nyaman karena dibekali fitur stabilisasi. Oppo Reno 16F bisa merekam video hingga resolusi 4K/ 30 fps atau 1080p/ 60 fps. 

Untuk melakukan panning atau perekaman sambil berjalan, video yang dihasilkan masih sangat stabil, kendati masih menampilkan efek “jitter” walau jarang. Akan tetapi, hasil video masih terasa cukup goyang ketika merekam sambil berlari. Hal ini masih tergolong wajar untuk seukuran HP mid-range

Secara garis besar, kamera pada Reno 16F hanya menyisakan sedikit ruang untuk bertumbuh. Nyaris tidak ada yang dapat dikeluhkan dari hasil fotonya. Lalu, di saat banyak vendor memangkas spesifikasi di tengah-tengah krisis kelangkaan RAM, Oppo malah berhasil menambahkan fitur kamera yang cukup dicari banyak orang: kamera telefoto. 

Performa Oppo Reno 16F: Bisa main game dengan mulus

Skor AnTuTu v11, Geekbench 6, dan Burnout Benchmark pada Oppo Reno 16F.
Skor AnTuTu v11, Geekbench 6, dan Burnout Benchmark pada Oppo Reno 16F.

Tidak lagi menggunakan chipset Snapdragon 6 Gen 1 seperti sebelumnya, Reno 16F kini disokong oleh MediaTek Dimensity 7300 Energy yang lebih kencang. Chip dengan fabrikasi 4 nm TSMC ini terdiri atas 4x Cortex-A78 (2,5 GHz), 4x Cortex-A55 (2,0 GHz), dan GPU Mali-G615 MC2. 

Perangkat yang kami terima kebetulan memiliki RAM LPDDR4X dengan kapasitas 8 GB serta penyimpanan internal 256 GB dengan teknologi UFS 3.1. Ada pula fitur ekspansi RAM (+8 GB) yang langsung aktif sejak awal. 

Kinerjanya cenderung gesit meskipun bukan yang terbaik di harganya. Dengan Dimensity 7300 Energy, Oppo Reno 16F berhasil menorehkan skor AnTuTu v11 di angka 900 ribuan poin, nyaman digunakan untuk memainkan berbagai judul game populer kekinian. 

Pengalaman bermain MLBB di Oppo Reno 16F.
Pengalaman bermain MLBB di Oppo Reno 16F.

Saat memainkan Mobile Legends Bang Bang dengan semua setting grafis mentok kanan, perangkat ini mampu meraih frame rate stabil dan konsisten di angka 90 FPS. Satu-satunya lagging yang terlihat adalah pada animasi karakter saat memilih hero menjelang awal permainan.

Permainan berikutnya yang diujikan adalah PUBG Mobile. Reno 16F dapat menjalankan permainan di pengaturan grafis HDR dan frame rate Ultra. Pengguna juga dapat mengaktifkan gyroscope untuk membidik lawan via motion aiming dengan responsivitas yang sangat baik. 

PUBG Mobile berjalan lancar di Oppo Reno 16F dengan frame rate 90 FPS (HDR - Ultra).
PUBG Mobile berjalan lancar di Oppo Reno 16F dengan frame rate 90 FPS (HDR – Ultra).

Selama 17 menit bermain, perangkat ini tidak pernah menyentuh frame rate di bawah 30 FPS, yang menurut kami masih cukup mulus untuk dianggap “lancar”. Setidaknya, kami disuguhkan dengan grafis menawan tanpa khawatir akan isu stutter yang dapat mengganggu permainan. Menjelang akhir match, bodi belakang cukup terasa hangat, tapi masih bisa ditoleransi. 

Tidak ketinggalan, kami tentunya telah menguji Genshin Impact di perangkat ini. Permainan open-world yang sangat menuntut performa tinggi tersebut rupanya masih bisa berjalan mulus di setting grafis tertinggi yaitu “Highest – 60 FPS”. 

Genshin Impact cukup playable di pengaturan grafis Highest 60 FPS, stabil di 30-an FPS.
Genshin Impact cukup playable di pengaturan grafis Highest 60 FPS, stabil di 30-an FPS.

Sebagai ponsel yang tidak berorientasi pada performa, tentu frame rate sesungguhnya tidak menyentuh angka 60 FPS. Akan tetapi, kami masih merasakan pengalaman yang enjoyable dengan frame rate 30-34 FPS. Satu-satunya kendala yang kami rasakan adalah rendering visual yang kadang mengalami keterlambatan. Namun, setidaknya HP ini tidak ngelag parah saat sedang bertempur dengan beberapa lawan sekaligus. 

Selain memberikan pengalaman gaming yang cukup lancar, Oppo Reno 16F juga dibekali sistem operasi intuitif yang kaya fitur. Perangkat ini berjalan pada antarmuka ColorOS 16 berbasis Android 16 secara out-of-the-box, turut dikemas dengan fitur kecerdasan buatan (AI) yang berguna. 

AI Mind Space dan AI Mind Pilot pada Oppo Reno 16F.
AI Mind Space dan AI Mind Pilot pada Oppo Reno 16F.

Terdapat tombol Snap Key di sisi kiri bodi yang bisa digunakan untuk mengakses berbagai fungsi, misalnya untuk berpindah ke mode getar atau mode silent, mengaktifkan Do Not Disturb, membuka aplikasi kamera, menyalakan senter, merekam suara, menggunakan fitur translation, mengambil screenshot, dan terakhir adalah untuk mengakses fitur AI Mind Space. 

Nah, untuk fitur AI Mind Space, tombol Snap Key ini langsung menjadi tombol serbaguna yang dapat menyulap HP Anda menjadi asisten pribadi virtual. Anda bisa menekan sekali untuk menangkap gambar atau menekan dan tahan untuk mulai merekam memo suara. Hasil tangkapan layar dan rekaman suara yang diambil pakai cara ini akan langsung tersimpan sebagai “Memory” di satu tempat bernama Mind Space.

Menariknya lagi, setelah berhasil menyimpan tangkapan layar dan rekaman suara, Mind Space bakal otomatis menganalisis dan membuatkan ringkasan dari konten tersebut. Anda pun dapat memilih untuk bertanya tentang memori tertentu pada kolom chat virtual bernama AI Mind Pilot, dan fitur ini akan menjawab pertanyaan Anda menggunakan knowledge yang “diambil” dari memori tersebut.

Tidak berhenti di situ, AI Mind Pilot memungkinkan Anda menggunakan tiga penyedia asisten virtual sekaligus, yakni Gemini, Perplexity, dan Gemini. Anda akan langsung disodorkan jawaban dari tiga layanan tersebut secara bersamaan. 

Baterai Oppo Reno 16F: Tahan lama 

Agar dapat bermain game pada durasi panjang tanpa terganggu oleh notifikasi baterai rendah, Oppo Reno 16F dibekali dengan kapasitas jumbo 7.000 mAh.

Teknologi baterai yang digunakan adalah silikon-karbon dengan tingkat kepadatan energi tinggi, sehingga dapat mencapai kapasitas besar tanpa membuat bodi “kembung”. Alhasil, HP berbaterai 7.000 mAh ini hanya punya ketebalan 8,4 mm.

Sepanjang kami menggunakan perangkat ini, Reno 16F sanggup bertahan lebih dari sehari setelah pemakaian sedang ke berat. Saat dipakai menonton YouTube selama 1 jam, baterai HP ini hanya berkurang 7 persen. 

Ketika bermain game Brookhaven di Roblox dengan pengaturan grafis tinggi selama 1 jam, baterai Oppo Reno 16F hanya terkuras sebanyak 15 persen. 

Unboxing Oppo Reno 16F, HP "3D Pop Planet" dengan Layar Paling Lebar
Unit charger memiliki keluaran daya 80 watt.

Karena baterainya yang sangat besar, tentu dibutuhkan daya charging yang cepat agar tidak memakan banyak waktu. Untuk itu, Oppo menyematkan teknologi 80W SuperVOOC Flash Charge yang diklaim dapat mengisi penuh baterai dalam waktu 62 menit.

Pada pengujian yang kami lakukan, pengisian selama 30 menit mampu mengisi baterai dari 4-38 persen. Sementara, total waktu yang dibutuhkan untuk mengisi baterai hingga penuh adalah 1 jam 18 menit.

Kesimpulan

Oppo Reno varian “F” yang rilis kali ini mendapatkan pembaruan yang cukup matang di sisi fotografi. Aspek performa juga mendapatkan peningkatan dengan chipset yang berbeda. 

Selebihnya, Oppo Reno 16F masih menyajikan pengalaman serupa dengan pendahulunya, namun ini bukan berarti hal buruk. Seperti Reno 15F, ponsel ini kembali menawarkan kamera selfie 50 MP dengan bidang pandang lebar sehingga cocok untuk wefie (selfie group) atau sekadar ingin memperlihatkan outfit dengan lebih luas.

Tak hanya itu, meski masih memakai kamera utama 50 MP yang sama dengan pendahulunya, hasil foto Reno 16F terbilang lebih dari cukup, bahkan pada kondisi malam hari sekalipun. 

Yang layak dianggap “bintang utama” pada rangkaian kamera di punggungnya adalah kamera telefoto yang sanggup melakukan pembesaran lossless jarak jauh. Dengan telefoto, Oppo Reno 16F menjadi varian “F” pertama yang layak digunakan untuk memotret panggung konser dari kejauhan. 

Akan tetapi, di harganya yang mencapai Rp 8 juta, dia memiliki sejumlah pesaing yang sulit. Salah satunya adalah iQoo 15R yang hadir dengan Snapdragon 8 Gen 5, baterai besar 7.600 mAh, dan layar 144 Hz. Ada juga Poco F8 Pro yang mengusung chipset Snapdragon 8 Elite dengan performa jauh lebih kuat, serta layar beresolusi 2K yang lebih tajam. 

Namun, ada beberapa hal yang dimiliki Reno 16F yang tidak dimiliki dua rivalnya tersebut, yakni kamera selfie ultralebar, kamera telefoto, dan fitur AI Snap Key serta AI Mind Space yang intuitif. 

Perangkat ini mampu diandalkan bagi mereka yang mencari HP fotografi untuk memotret jarak jauh, sekaligus menggandrungi desain bodi 3D yang unik. Oppo Reon 16F rilis di Indonesia pada 3 Juli 2026 dengan harga mulai dari Rp 8,7 juta untuk varian memori 8 GB/ 256 GB. 

Rating editor: 7,7/10

Kelebihan:

  • Desain bodi yang cantik dan tangguh terhadap air.
  • Kamera lengkap dengan telefoto.
  • Fitur Snap Key, Mind Space, dan Mind Pilot yang praktis.
  • Kamera selfie ultrawide dengan autofokus.

Kekurangan:

  • Performa sekadar cukup, namun bukan pilihan terbaik untuk gaming.
  • Masih menggunakan RAM LPDDR4X, bukan LPDDR5X seperti sejumlah rivalnya.
OPPO Reno16 F 5G Harga
Rp. 7.999.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review Oppo Reno 16F: Tampilan Cantik, Kamera Memadai first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-oppo-reno-16f-tampilan-cantik-kamera-memadai/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/06/oppo_reno16f_unboxing-13-150x150.jpg150150
Review Samsung Galaxy A37: Cocok untuk Pemakaian Jangka Panjang https://www.91mobiles.com/id/hub/review-samsung-galaxy-a37-cocok-untuk-pemakaian-jangka-panjang/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-samsung-galaxy-a37-cocok-untuk-pemakaian-jangka-panjang/#respond Wed, 10 Jun 2026 02:31:51 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=22255 Punya budget di kisaran Rp 6 jutaan? Anda mungkin tidak mau melewatkan Samsung Galaxy A37 yang hadir dengan fitur-fitur menarik. Perangkat ini merupakan penerus dari Galaxy A36 yang meluncur pada tahun lalu, kini kembali menggunakan chipset Exynos besutan sendiri setelah sebelumnya sempat beralih ke Snapdragon. Pengalaman tim 91Mobiles Indonesia saat menjajal Galaxy A37 pun cukup memuaskan. Ponsel ini sanggup menunjang […]

The post Review Samsung Galaxy A37: Cocok untuk Pemakaian Jangka Panjang first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Punya budget di kisaran Rp 6 jutaan? Anda mungkin tidak mau melewatkan Samsung Galaxy A37 yang hadir dengan fitur-fitur menarik. Perangkat ini merupakan penerus dari Galaxy A36 yang meluncur pada tahun lalu, kini kembali menggunakan chipset Exynos besutan sendiri setelah sebelumnya sempat beralih ke Snapdragon. 

Pengalaman tim 91Mobiles Indonesia saat menjajal Galaxy A37 pun cukup memuaskan. Ponsel ini sanggup menunjang kebutuhan produktivitas dan hiburan dengan baik dengan performa yang meningkat, bodi ramping, dan pengalaman kamera yang memadai. 

Kesimpulan awal

Tampilan bodi Samsung Galaxy A37 tidak berbeda dengan pendahulunya, namun masih sama-sama ramping dan juga menawan. Kini Samsung membekalinya dengan IP68, sekaligus memberikan sedikit peningkatan pada kamera utama. Terdapat peningkatan performa untuk bermain game, serta dijanjikan masa pembaruan Android hingga 6 tahun. Meski begitu, kapasitas baterai dan sejumlah hal lainnya tidak mengalami perubahan. 

Unboxing: Minim aksesori

Isi kemasan Samsung Galaxy A37.
Isi kemasan Samsung Galaxy A37.

Samsung Galaxy A37 hadir dalam sebuah kotak kemasan berukuran tipis. Dengan boks berwarna dominan putih, isiannya memang tidak terlalu lengkap dibandingkan mayoritas ponsel lain.

Selain menyediakan unit ponsel, boks penjualan ini hanya berisikan kabel data berwarna putih, buku panduan, dan alat pembuka laci kartu SIM. Ya, Samsung menjadi satu dari segelintir brand ponsel yang sudah tidak lagi menyertakan kepala charger di dalam boksnya. 

Meski tidak dibekali charger, fitur pengisian daya pada HP ini sebenarnya tergolong bersaing yakni 45 watt. Walau sudah banyak ponsel lain yang didukung daya lebih besar, Galaxy A37 setidaknya lebih baik dari Galaxy S26 yang masih memakai daya 25 watt. Hanya saja, sayangnya Anda mesti membeli charger yang sesuai secara terpisah. 

Desain: Seperti pinang dibelah dua

Melanjutkan bahasa desain sebelumnya, Galaxy A37 kembali menawarkan modul kamera berbentuk kapsul yang memuat tiga kamera belakang. Hal ini kontras dengan beberapa seri Galaxy A terdahulu yang lensa-lensa kameranya “menempel” langsung di permukaan bodi. 

Dengan modul kamera berbentuk pil ini, kami merasa Galaxy A37 lebih terasa wobbly saat ditaruh di atas permukaan yang datar seperti meja. Penampilannya pun jadi kehilangan nuansa “unik” yang biasanya menjadi ciri khas Samsung Galaxy. Walau begitu, kamera belakang ini jadi lebih mudah dibersihkan dan tidak mudah dihinggapi debu di sekeliling lensa-lensanya.

Dari segi penampilannya, Galaxy A37 dan A36 bak pinang dibelah dua lantaran saking miripnya. Nyaris tidak ada perbedaan antara keduanya, bahkan Galaxy A37 kembali mengusung dimensi bodi yang sama, yaitu 162,9 x 78,2 x 7,4 mm dengan bobot 196 gram. 

Layar ponsel ini kembali dilindungi Corning Gorilla Glass Victus+, sehingga lebih tahan terhadap goresan dan benturan ringan. Selama pengujian, kami menyimpannya di dalam tas bersama berbagai barang lain dan layar tetap mulus tanpa goresan.

Laci kartu SIM dan sensor sidik jari di layar Samsung Galaxy A37.
Laci kartu SIM dan sensor sidik jari di layar Samsung Galaxy A37.

Satu hal baru yang ditingkatkan pada bodi Galaxy A37 adalah kehadiran rating IP68, meningkat dari sebelumnya yang hanya IP67. Hal ini menunjukkan bahwa Galaxy A37 dapat bertahan di rendaman air hingga kedalaman lebih dari 1 meter selama 30 menit. 

Secara garis besar, Galaxy A37 tidak memiliki peningkatan besar dibandingkan dengan Galaxy A36 dari segi desain bodi. Keduanya masih sama-sama mengusung frame datar berbahan plastik, desain Key Island khas Samsung, serta perlindungan Gorilla Glass Victus+ di sisi depan dan belakang. Pembeda utamanya hanya pada peningkatan sertifikasi IP67 menjadi IP68. 

Kamera: Kini dengan ukuran sensor lebih besar

Setup kamera belakang Samsung Galaxy A37.
Setup kamera belakang Samsung Galaxy A37.

Jika hanya dilihat dari spesifikasi di atas kertas, Galaxy A37 tampak tidak mengalami peningkatan kamera ketimbang pendahulunya. Ya, smartphone ini kembali hadir dengan kamera utama 50 MP f/1,8 wide-angle, 8 MP f/2,2 ultrawide, dan 5 MP f/2,4 makro. 

Bedanya, kamera utama Galaxy A37 kini memiliki ukuran sensor 1/1,56 inci, lebih besar dari pendahulunya yang berukuran 1/1,96 inci. Samsung membenamkan teknologi “Big Pixel”, meningkatkan ukuran piksel yang semula 0,8 μm pada Galaxy A36 menjadi 1,0 μm pada A37. 

Dengan ukuran sensor lebih besar, kamera ponsel dapat menangkap lebih banyak cahaya. Hasil fotonya bakal cenderung lebih terang dan detail, terutama di kondisi minim cahaya (low-light). Detail, ketajaman, dynamic range, hingga depth of field juga akan meningkat dengan ukuran sensor yang lebih besar. 

Sesuai ekspektasi, hasil foto kamera utamanya sanggup menghadirkan hasil foto yang indah dengan warna cerah dan dynamic range yang luas. Kemampuan zoom hingga 2x dan 4x tingkatan juga masih dapat diandalkan, kendati secara keseluruhan hanya sanggup mencapai zoom di tingkatan 10x (digital). 

Pada fotografi malam hari, kamera mampu menekan noise dengan baik sekaligus meminimalkan efek flaring dari sumber cahaya. Bahkan di kondisi yang sangat gelap, hasil foto tetap tampak terang tanpa menampilkan cahaya dari lampu secara berlebihan.

Kemampuan kamera ultrawide pun tergolong cukup baik, meski hasil fotonya tidak sebaik kamera utama. Ini tampaknya menjadi masalah universal untuk smartphone di rentang harga menengah. Setidaknya, kami masih berhasil mendapatkan foto sudut lebar di kondisi outdoor dengan dynamic range yang baik. Sekilas kualitasnya pun tidak terlihat jauh berbeda. Namun, warna pada beberapa objek, seperti pohon dan dedaunan, tampak kurang menonjol. 

Kami pun mencoba menghasilkan foto close-up menggunakan mode makro, dan hasilnya masih cukup jauh dari kata memuaskan. Seperti pada perangkat pendahulunya, kamera makro di HP ini masih bersifat fixed focus sehingga sulit untuk mempertahankan detail tekstur permukaan benda. 

Pada mode portrait, kami berhasil mendapatkan foto dengan efek bokeh alami tanpa mengeluarkan banyak effort, berlaku untuk kamera belakang maupun kamera depan. Separasi foto pada portrait selfie cukup rapi, bahkan saat kami menggunakan mode zoom out untuk meraih bidang pandang lebih luas. 

Galaxy A37 tergolong cukup bagus untuk memenuhi kebutuhan fotografi sehari-hari, termasuk menggunakan mode portrait untuk menghasilkan foto yang estetis dan “medsos-ready”. Perangkat ini juga dapat menawarkan hasil video yang stabil saat merekam sambil berjalan. Namun, merekam sambil berlari membuat videonya sesekali jitter, meski sudah berada di frame rate 60 PFS. Untuk perekaman maksimalnya, Galaxy A37 sanggup mendukung hingga 4K di 30 FPS, baik kamera depan maupun belakang. 

Performa: Bukan yang terbaik, tapi cukup memadai

Dari kiri ke kanan: skor AnTuTu v11, Geekbench 6, dan CPU Throttling Test untuk Samsung Galaxy A37 5G.
Dari kiri ke kanan: skor AnTuTu v11, Geekbench 6, dan CPU Throttling Test untuk Samsung Galaxy A37 5G.

Soal dapur pacu Galaxy A37, Anda mungkin tidak akan merasakan pengalaman yang kompetitif. Ponsel ini memang mengalami kenaikan performa ketimbang pendahulunya yang memakai Snapdragon 6 Gen 3. 

Ponsel ini ditenagai Exynos 1480, chipset mid-range Samsung yang pertama kali menghadirkan GPU Xclipse berbasis AMD RDNA ke seri Exynos 1xxx. Chip ini debut melalui Galaxy A55 5G pada Maret 2024 sebelum diumumkan secara resmi oleh Samsung pada akhir bulan yang sama.

Exynos 1480 diproduksi dengan proses fabrikasi 4 nm Samsung 4LPP+ dan mengusung CPU octa-core yang terdiri dari empat inti Cortex-A78 berkecepatan hingga 2,75 GHz serta empat inti Cortex-A55 hingga 2,0 GHz. Untuk pengolahan grafis, chipset ini mengandalkan GPU Xclipse 530 berbasis AMD RDNA.

Samsung mengklaim GPU Xclipse 530 menawarkan peningkatan performa grafis hingga 53 persen dibandingkan dengan GPU Mali-G68 MP5 pada Exynos 1380.

Samsung mengklaim bahwa GPU Xclipse 530 tersebut mendapatkan peningkatan performa hingga 53 persen ketimbang pendahulunya, Exynos 1380. 

Hal ini pun membuat Galaxy A37 cukup nyaman untuk menjalankan berbagai tugas multitasking dan juga gaming. Akan tetapi, pada pengujian AnTuTu v11, perangkat ini hanya menorehkan skor 1.066.802 poin. Untuk ponsel seharga Rp 6 juta, skor ini bukanlah yang terbaik. Kompetitornya di kelas harga yang sama bisa menghasilkan kinerja jauh lebih tinggi.  

Pada benchmark lainnya, Galaxy A37 mendapatkan skor 1.147 poin (single-core) dan 3.429 poin (multi-core) pada Geekbench 6. Saat diujikan pada CPU Throttling Test, perangkat ini berhasil mempertahankan sekitar 75 persen dari performa maksimalnya selama 10 menit pengujian. 

Lantas, bagaimana kinerjanya saat diujikan bermain game? Galaxy A37 rupanya masih bisa diandalkan untuk memainkan sejumlah judul game kompetitif populer di Indonesia, meski sebenarnya masih banyak ruang untuk bertumbuh.

Sebagai salah satu game MOBA populer yang paling ringan dan optimized di Android, tentu saja Galaxy A37 dapat memainkan Mobile Legends: Bang Bang dengan sangat nyaman tanpa kendala. Sebab, meskipun kami memainkannya di pengaturan mentok kanan, frame rate yang terasa memang sangat mulus dan konsisten di 60 FPS. 

Game berikutnya yang kami coba adalah PUBG Mobile, permainan shooter yang cukup digandrungi banyak mobile gamer di Indonesia. Di sini, kami langsung mencoba memakai pengaturan grafis HDR dengan frame rate Ultra, dan pengalaman yang dirasakan cukup “playable”. 

Frame rate yang diperlihatkan memang tidak mencapai 60 FPS, namun setidaknya masih konstan di 30 FPS dengan sesekali turun ke bawahnya. Menariknya lagi, gyroscope di HP ini sudah bersifat hardware, terasa dari betapa responsifnya bidikan pistol saat kami menggerakkan ponsel untuk melawan musuh. 

Pengalaman yang dirasakan cukup unik saat memainkan salah satu game dunia terbuka paling berat di Android, yakni Genshin Impact. Pasalnya, memainkannya pada pengaturan terendah di Lowest 30 FPS tetap terasa kurang nyaman karena adanya sedikit stutter yang mengganggu. Beberapa objek yang berlokasi jauh dari karakter pun mengalami keterlambatan render.

Meski begitu, frame rate pada pengaturan tertinggi (Highest 60 FPS) rupanya tidak merosot terlalu jauh. Stutter dan keterlambatan rendering pada beberapa objek kembali muncul di Highest, namun setidaknya kami disuguhkan visual yang lebih bagus.

Karena pengalaman performanya tidak begitu jauh antara Lowest dan Highest, sebaiknya sekalian saja pilih yang Highest. Namun, Anda juga perlu mempertimbangkan durasi permainan yang panjang, karena isu overheating dan throttling bakal lebih terasa jika berada di pengaturan Highest dalam waktu lama. 

Software: Punya jaminan update panjang

Dari kiri ke kanan: tampilan antarmuka Home Screen Samsung Galaxy A37, tampilan About Phone, laman "Software Information", dan daftar fitur Awesome Intelligence pada One UI 8, dijamin masa pembaruan OS hingga 6 tahun.
Dari kiri ke kanan: tampilan antarmuka Home Screen Samsung Galaxy A37, tampilan About Phone, laman “Software Information”, dan daftar fitur Awesome Intelligence pada One UI 8, dijamin masa pembaruan OS hingga 6 tahun.

Menyoal software, Galaxy A37 berjalan pada sistem operasi Android 16 dengan polesan antarmuka One UI 8, langsung dari pabrikannya. Karena ini HP Samsung, tentu masa dukungan update yang dijanjikan tergolong sangat lama, yakni mencapai 6 kali update OS utama Android. Ini merupakan durasi masa update yang sama dengan Galaxy A36. 

Bedanya, karena Galaxy A37 rilis dengan Android 16, maka dia akan sanggup diperbarui hingga Android 22 pada tahun 2032. Lain halnya dengan Galaxy A36 yang mencapai Android 21 pada tahun 2022. 

Beralih ke fitur kecerdasan buatan, Galaxy A37 tidak dibekali fitur Galaxy AI seperti pada Galaxy S atau Z Series. Meski begitu, Samsung tetap memasukkan serangkaian fitur AI yang disebut sebagai “Awesome Intelligence”. 

Isi dari “paket fitur AI” tersebut meliputi Circle to Search untuk pencarian Google via melingkari objek dan teks di layar, AI Select yang dapat mengekstrak teks dari gambar, serta Gemini Integration. 

Galaxy A37 juga dilengkapi dengan Edit Suggestions dan Object Eraser untuk memodifikasi gambar agar lebih “medsos-ready”, misalnya dengan mengurangi bayangan, menghilangkan refleksi, menambahkan efek blur latar belakang, dan menghapus benda tak diinginkan pada foto. 

Sayangnya, kemampuan Object Eraser pada ponsel ini masih belum setara dengan Galaxy S26 series. Saat kami menghapus tangan yang menutupi sebagian wajah, fitur ini gagal menghasilkan bagian wajah yang natural dan proporsional.

Hasil serupa juga terlihat ketika kami mencoba menghapus kontroler dari genggaman. Ketimbang merekonstruksi jari dengan baik, fitur ini justru menghasilkan bentuk tangan yang terlihat janggal dan tidak realistis.

Secara keseluruhan, pengguna yang berharap kualitas Object Eraser di Galaxy A37 setara dengan Galaxy S26 series kemungkinan bakal kurang puas. Kemampuan penghapusan objeknya belum terasa cukup konsisten untuk merekonstruksi bagian gambar yang kompleks, seperti wajah dan tangan. 

Meski begitu, untuk keperluan yang lebih simpel seperti menghilangkan orang asing di latar belakang foto, fitur ini masih dapat diandalkan dan cukup membantu.

Ada satu catatan lain yang kami temui selama pengujian. Kami mengakses fitur Object Eraser melalui menu Edit Suggestion di aplikasi Galeri bawaan Samsung. Masalahnya, menu tersebut tidak selalu menampilkan opsi Object Eraser.

Dalam beberapa kesempatan, yang muncul malah rekomendasi fitur lain, misalnya remaster. Alhasil, akses fitur ini terasa agak “hit-and-miss”. Sebagai alternatif, saat opsi Object Eraser tidak muncul, kami dapat menggunakan fitur serupa yang tersedia di Google Photos. 

Baterai: Kapasitas masih sama

Dari kiri ke kanan: kabel USB-C ke USB-C dari kotak penjualan Galaxy A37 (tanpa kepala charger), laman pengujian PC Mark Battery Life.
Dari kiri ke kanan: kabel USB-C ke USB-C dari kotak penjualan Galaxy A37 (tanpa kepala charger), laman pengujian PC Mark Battery Life.

Samsung merupakan salah satu brand ponsel yang jarang melakukan peningkatan kapasitas baterai pada produk-produknya. Pada Galaxy A37, Samsung pun kembali menyematkan baterai 5.000 mAh, kontras dengan para pesaingnya yang sudah beralih ke 6.000 atau bahkan 7.000 mAh. 

Galaxy A37 juga masih mempertahankan daya pengisian yang sama dengan pendahulunya, yaitu 45 watt. Akan tetapi, pengguna harus membeli charger terpisah atau menggunakan adapter yang sudah ada di rumah. 

Daya charging 45 watt sebenarnya cukup layak diapresiasi, karena setidaknya Anda akan mendapatkan durasi pengisian lebih cepat dibandingkan dengan daya 25 watt pada Galaxy S26 standar. 

Bagaimana dengan durasi ketahanan baterai Samsung Galaxy A37? Meskipun tidak mengalami peningkatan kapasitas, skor PC Mark yang didapatkannya sedikit lebih baik dari sebelumnya. Ponsel ini meraih skor ketahanan 12 jam 25 menit, mengungguli Galaxy A36 yang hanya meraih skor 11 jam 34 menit. Kendati begitu, kenaikan skor tersebut tetap tidak membuatnya menjadi yang terbaik di kelas harganya.

Sesi permainan Mobile Legends: Bang Bang selama 30 menit membuat baterainya berkurang 7 persen. Ini kontras dengan Galaxy A36 yang berkurang 11 menit. Peningkatan efisiensi daya ini tampaknya berkat penggunaan Exynos 1480 yang lebih hemat daya. 

Saat melakukan pengujian charging, kami menggunakan adapter daya 90 watt. Hasilnya cukup memuaskan, karena baterai ponsel sanggup terisi dari 0-49 persen dalam waktu 30 menit pertama. Sementara untuk mengisi daya dari 0-100 persen, hanya memerlukan waktu pengisian sekitar 80 menit. 

Kesimpulan

Samsung Galaxy A37

Samsung tampak menganut konsep “if it’s not broken, don’t fix it” terhadap desain bodi belakang Galaxy A37. Dari tampilannya, nyaris tidak ada yang berubah dari Galaxy A36 karena sama-sama mengusung konsep housing kamera berbentuk pil. Dimensi bodinya pun tidak berubah.

Meski begitu, tidak dipungkiri bahwa desain demikian membuatnya tampil menawan dengan pengalaman grip yang nyaman karena hanya setipis 7,4 mm. Bagi yang suka bepergian ke daerah perairan seperti curug atau kolam, peningkatan rating IP67 menjadi IP68 pada Galaxy A37 juga layak diapresiasi. Dengan rating lebih tinggi, semakin kecil pula kemungkinan ponsel rusak akibat terjatuh ke kolam.

Performanya pun tergolong “cukup”, meskipun masih kalah saing dengan kontestan lain di kelas harga yang sama. Meski tidak lagi memakai Snapdragon, chipset Exynos 1480 miliknya mampu memberikan peningkatan frame rate saat bermain game

Akan tetapi, Galaxy A37 rasanya bukan pilihan yang menarik bagi Anda yang ingin upgrade dari Galaxy A36. Ini karena ponsel tersebut hampir tidak mengalami peningkatan yang berarti selain dari chipset dan ketahanan bodi. Kamera utamanya memang mendukung ukuran piksel lebih besar, namun resolusi dan setup kamera secara keseluruhannya tetap sama. Kapasitas baterainya pun tetap sama, kendati kini sedikit lebih hemat daya. 

Meski tidak memberikan banyak perubahan dari sebelumnya, pengguna yang beralih dari smartphone lain kemungkinan bakal mengapresiasi semua hal yang ditawarkan Galaxy A37. Kemampuan fotografinya solid, versi OS utama di ponsel ini bisa diperbarui hingga 6 tahun, dan bisa digenggam dalam waktu lama tanpa membuat tangan pegal. 

Samsung Galaxy A37 sudah dapat dibeli di Indonesia dengan pilihan warna Awesome Charcoal, Awesome Lavender, Awesome Graygreen, dan Awesome White dengan harga Rp 6.599.000 untuk RAM 8 GB/ 128 GB dan Rp 7.299.000 untuk RAM 8 GB/ 256 GB. 

Rating editor: 7,5/ 10

Kelebihan

+ Desain bodi tipis dan menawan, nyaman digenggam.
+ Ada peningkatan performa, lancar dipakai gaming.
Pengisian daya ngebut dengan fast charging 45 watt.
Dijanjikan masa pembaruan OS yang panjang hingga 6x.

Kekurangan

– Kapasitas baterai tidak berubah.
– Hanya sedikit peningkatan pada kamera.
– Tidak dibekali charger.

Samsung Galaxy A37 Harga
Rp. 5.275.000
Pergi Ke Toko
Rp. 5.289.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review Samsung Galaxy A37: Cocok untuk Pemakaian Jangka Panjang first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-samsung-galaxy-a37-cocok-untuk-pemakaian-jangka-panjang/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/06/photo_69_2026-06-08_12-00-56-150x150.jpg150150
Review Poco X8 Pro Max: Performa Gaming Monster, Kamera Standar https://www.91mobiles.com/id/hub/review-poco-x8-pro-max-performa-gaming-monster-kamera-standar/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-poco-x8-pro-max-performa-gaming-monster-kamera-standar/#respond Fri, 05 Jun 2026 07:14:32 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=22070 Bagi pengguna yang memprioritaskan kemampuan gaming, Poco X8 Pro Max menjadi salah satu perangkat yang patut dipertimbangkan. Ponsel ini dibekali dengan chipset kelas atas, baterai berkapasitas besar, serta sistem pendingin vapor chamber luas yang dirancang untuk menjaga performa tetap stabil selama sesi permainan yang panjang.Ulasan POCO X8 Pro Max yang kami sajikan ini akan menguji […]

The post Review Poco X8 Pro Max: Performa Gaming Monster, Kamera Standar first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Bagi pengguna yang memprioritaskan kemampuan gaming, Poco X8 Pro Max menjadi salah satu perangkat yang patut dipertimbangkan. Ponsel ini dibekali dengan chipset kelas atas, baterai berkapasitas besar, serta sistem pendingin vapor chamber luas yang dirancang untuk menjaga performa tetap stabil selama sesi permainan yang panjang.

Ulasan POCO X8 Pro Max yang kami sajikan ini akan menguji performa secara keseluruhan, termasuk keandalannya untuk penggunaan sehari-hari di luar aktivitas gaming. Simak ulasan lengkapnya untuk mengetahui apakah ponsel ini benar-benar mampu berfungsi sebagai perangkat all-rounder.

Kesimpulan awal

Poco X8 Pro Max menawarkan awal yang kuat berkat performa yang mengesankan, daya tahan baterai yang andal, serta pengalaman visual yang solid. Kendati demikian, sektor perangkat lunak pada ponsel ini terasa kurang rapi dan belum matang, sementara sektor kamera juga dinilai belum memenuhi ekspektasi. Meskipun memiliki kekurangan di sisi tersebut, bagi para gamer, kemampuan pencitraan (imaging) sering kali menjadi perhatian sekunder, sehingga kompromi ini cenderung lebih mudah diabaikan.

Desain sederhana namun solid

Poco X8 Pro Max mempertahankan desain yang bersih dan tidak asing, senada dengan Poco F7 rilisan tahun lalu melalui modul kamera berbentuk pil. Namun, kali ini ukuran modul tersebut dibuat sedikit lebih ringkas serta mengintegrasikan lampu LED RGB untuk memberikan sentuhan gaya. Menariknya, lampu ini tidak hanya berfungsi sebagai estetika, melainkan juga bertindak sebagai indikator notifikasi, status pengisian daya (charging), panggilan masuk, aktivitas kamera, hingga dapat disinkronisasikan dengan efek ritmis saat bermain game.

Pengguna dapat melakukan personalisasi pencahayaan tersebut dengan berbagai pilihan warna serta menyesuaikan tingkat kecerahan (brightness) melalui menu pengaturan. Kendati demikian, implementasi fitur ini dinilai kurang intuitif. Alih-alih mudah diakses, kontrol pencahayaan tersebut letaknya cukup tersembunyi di bawah menu additional settings dan “Back light effect”, sebuah penempatan yang terasa kurang efisien untuk fitur yang seharusnya ditonjolkan.

Di luar fungsi pengisian daya (charging) dan pengingat (alert), keberadaan lampu LED ini dinilai kurang fungsional. Poco mengklaim bahwa lampu-lampu tersebut dapat meningkatkan pengalaman bermain game. Namun, pada praktiknya, dukungan fitur dan penempatan posisi lampu membuat klaim tersebut kurang terbukti. Karena pencahayaan berada di bagian punggung perangkat, pengguna akan jarang memperhatikan lampu saat sedang bermain game, yang secara langsung mengurangi esensi dari efek bersangkutan.

Varian warna, port, dan pengalaman audio

Poco X8 Pro Max hadir dalam tiga varian warna, yaitu putih, hitam, dan biru. Unit yang diuji kali ini adalah varian warna hitam, yang menampilkan lapisan serat kaca (fiberglass) untuk membantu meminimalkan goresan kecil, sekaligus menjaga permukaan perangkat tetap bersih dan tahan terhadap bekas sidik jari. Desain secara keseluruhan tampil cukup minimalis, tanpa banyak aksen yang mencolok selain penempatan logo branding Poco di bagian kiri bawah.

Pada sisi atas, terdapat sensor infrared dan lampu kilat (LED Flash) yang tertata rapi di samping modul kamera. Desain lampu RGB pada ponsel ini juga dirancang secara samar. Saat dalam kondisi mati, lampu tersebut menyatu dengan sangat baik dengan bodi perangkat, sehingga keberadaannya hampir tidak terlihat.

Perangkat ini memiliki bobot 220 gram yang langsung terasa saat digenggam, terutama bagi pengguna yang terbiasa dengan ponsel yang lebih ringan seperti Samsung Galaxy S26 Plus. Kendati demikian, pengguna akan segera terbiasa dengan bobot serta ketebalan perangkat yang berukuran 8,2 mm ini. Ponsel ini juga terasa kokoh dan telah mengantongi sertifikasi ingress protection berlapis, mulai dari IP66, IP68, IP69, hingga IP69K, yang menawarkan ketahanan kuat terhadap debu, cipratan air, bahkan paparan air bertekanan tinggi.

Untuk sektor port, Poco X8 Pro Max menyematkan port USB Type-C di sisi bawah untuk kebutuhan pengisian daya dan transfer data, berdampingan dengan grille speaker utama. Ponsel ini juga dilengkapi dengan speaker sekunder di sisi atas untuk menghadirkan konfigurasi stereo. Dukungan teknologi Dolby Atmos pada konfigurasi ini mampu menawarkan pengalaman audio yang baik pada tingkat volume 70-80 persen, meski belum terasa sepenuhnya imersif. Jika volume ditingkatkan lebih dari itu, kualitas audio berpotensi mengalami sedikit penurunan.

Layar AMOLED 1,5K yang memukau

Poco X8 Pro Max mengusung layar AMOLED berukuran 6,83 inci dengan resolusi 1,5K, refresh rate 120Hz, dukungan HDR10+, serta tingkat kecerahan maksimal mencapai 3.500 nits. Meskipun tingkat kecerahan ini sedikit lebih rendah dibandingkan kompetitor terdekatnya, iQoo 15R, perbedaannya tidak terlalu signifikan saat digunakan di luar ruangan di bawah kondisi terik matahari. Layar Poco X8 Pro Max dinilai sama mampunya dalam memberikan pengalaman visual yang nyaman. Dalam pengaturan bawaan, reproduksi warna yang dihasilkan tampak bagus dan cerah, meski sedikit kontras.

Selain itu, dukungan HDR sudah tersedia secara langsung (out-of-the-box) pada sejumlah platform seperti Netflix, YouTube, dan layanan streaming lainnya. Karena ponsel ini telah mendukung panel dengan kedalaman warna 12-bit, perangkat ini juga kompatibel dengan konten Dolby Vision, yang memungkinkan tampilan warna lebih kaya dan kontras yang lebih baik saat menikmati tayangan streaming.

Kendati demikian, kualitas HDR dirasa sedikit kurang memuaskan saat digunakan untuk bermain game dengan grafis tinggi, seperti Tomb Raider dan Hitman: Absolution. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh optimasi atau dukungan yang terbatas dari sisi pengembang game, bukan karena keterbatasan dari panel layar itu sendiri.

Untuk sektor keamanan, Poco X8 Pro Max dilengkapi dengan pemindai sidik jari ultrasonik di dalam layar. Fitur ini mampu membuka kunci perangkat dengan cepat serta ditempatkan di posisi yang ergonomis, tepat di mana ibu jari secara alami bertumpu saat pengguna ingin membuka kunci ponsel.

Performa papan atas, tapi software-nya masih kurang oke

Poco X8 Pro Max dibekali hardware yang mampu menangani tugas sehari-hari hingga beban kerja berat seperti bermain game dengan lancar. Dapur pacu perangkat ini mengandalkan SoC sub-flagship MediaTek Dimensity 9500s berfabrikasi 3nm, yang dipadukan dengan opsi RAM LPDDR5X Ultra hingga 12GB serta media penyimpanan (storage) UFS 4.1 berkapasitas 256GB atau 512GB. Kombinasi ini tidak hanya memastikan performa yang mulus di berbagai skenario, tetapi juga menyajikan waktu pemuatan (load time) serta responsivitas yang konsisten cepat.

Ponsel pintar ini juga dilengkapi dengan sistem pendingin berupa vapor chamber besar berukuran 5.800 mm persegi dan lapisan grafit seluas 11.000 mm persegi untuk membuang panas. Sistem ini terbukti memberikan hasil yang efektif, baik dalam pengujian internal maupun penggunaan di dunia nyata.

Dari kiri ke kanan: AnTuTu v11, Geekbench 6, dan throttling test.
Dari kiri ke kanan: AnTuTu v11, Geekbench 6, dan throttling test.

Perangkat ini tercatat jauh lebih efisien secara termal dibandingkan dengan kompetitor utamanya, iQoo 15R, saat digunakan untuk memainkan sejumlah game populer seperti BGMI (PUBG Mobile versi India) dan COD: Mobile. Poco X8 Pro Max memang terasa agak hangat saat menjalankan Hitman: Absolution, namun hal tersebut dinilai wajar mengingat game tersebut merupakan porting dari versi PC dan merupakan salah satu judul yang menuntut performa tinggi.

Untuk sebagian besar skenario penggunaan lainnya, ponsel pintar ini dapat diandalkan untuk menangani berbagai tugas dengan lancar. Hal tersebut juga terbukti dalam pengujian stabilitas performa menggunakan Burnout CPU. Dalam uji tersebut, Poco X8 Pro Max mampu mempertahankan 51 persen dari performa maksimalnya, atau sekitar 20 persen lebih tinggi dibandingkan kompetitornya, iQoo 15R.

Di sektor perangkat lunak (software), Poco X8 Pro Max langsung menjalankan sistem operasi HyperOS 3 berbasis Android 16 secara bawaan (out-of-the-box). Ini menandai iterasi ketiga dari antarmuka (custom Android skin) milik Xiaomi sejak berganti nama dari MIUI. Lini flagship terbaru, Xiaomi 17 series, juga meluncur dengan versi yang sama, sehingga pengguna pada dasarnya mendapatkan tampilan antarmuka serta rangkaian fitur yang serupa. Daftar fitur tersebut meliputi depth dan cinematic wallpaper, animasi yang lebih mulus, hingga fitur HyperIsland untuk menampilkan peringatan (alert), notifikasi, dan “Live Activities” seperti pemutaran musik, hitung mundur pengatur waktu (timer countdown), arah navigasi, pelacakan ojek daring, serta panggilan masuk.

Perangkat ini juga dilengkapi fitur optimasi WildBoost yang mampu meningkatkan pengalaman bermain game dengan menyajikan gameplay hingga 120 fps, menjadikannya fitur krusial untuk game bertempo cepat seperti BGMI (PUBG Mobile versi India). Selain itu, ponsel ini turut menyediakan beberapa fitur bertenaga AI untuk membantu pengguna dalam menulis, mentranskripsi, mencari informasi dari apa yang tampil di layar, hingga menyunting gambar.

Kendati demikian, antarmuka ini dinilai kurang intuitif dan tidak sebersih beberapa custom skin Android lainnya. Perangkat ini hadir dengan banyak aplikasi bawaan (pre-installed app) yang mencapai total 63 aplikasi, dengan 21 di antaranya merupakan aplikasi pihak ketiga (third-party). Jumlah tersebut menjadi salah satu yang terbanyak untuk sebuah ponsel pintar di kelas sub-flagship.

Selain itu, panel notifikasi juga tampak penuh akibat adanya rekomendasi yang tidak diperlukan dari game centre serta aplikasi sistem lainnya. Ditemukan pula beberapa bug, khususnya pada profil pengguna sekunder (secondary user profile), yang tampaknya perlu segera diperbaiki melalui pembaruan sistem.

Beralih ke kebijakan pembaruan, Poco X8 Pro Max dijanjikan akan menerima setidaknya empat tahun pembaruan sistem operasi utama dan enam tahun pembaruan keamanan. Dukungan ini setara dengan standar yang ditawarkan oleh ponsel pintar kontemporer lainnya di segmen harga yang sama.

Baterai yang bisa diandalkan

Poco X8 Pro Max dibekali baterai berbahan silikon-karbon berkapasitas besar 9.000 mAh, yang didukung oleh fitur pengisian daya cepat (fast charging) 100 watt dan pengisian daya balik (reverse charging) 27 watt. Kepala pengisi daya (charger) yang kompatibel sudah tersedia di dalam kotak penjualan, dan mampu mengisi daya perangkat dari tingkat 20 persen hingga penuh dalam waktu sekitar satu jam 15 menit.

Perlu dicatat bahwa secara bawaan, ponsel pintar ini membatasi pengisian daya hanya sampai 80 persen melalui fitur Intelligent Charging demi memperpanjang kesehatan baterai. Pengguna dapat menonaktifkan fitur ini melalui menu Battery Protection di dalam opsi Battery pada aplikasi Settings.

Skor PC Mark pada Poco X8 Pro Max.
Skor PC Mark pada Poco X8 Pro Max.

Setelah terisi penuh, Poco X8 Pro Max mampu bertahan selama 21 jam 21 menit dalam uji baterai sintetis menggunakan PCMark. Hasil tersebut menjadi pencapaian tertinggi untuk ponsel di segmen ini sekaligus menunjukkan tingkat daya tahannya.

Di dunia nyata, ketahanan baterai ponsel pintar ini kurang lebih selaras dengan hasil pengujian sintetisnya. Kendati demikian, iQoo 15R dinilai sedikit lebih teroptimasi. Sebagai perbandingan, saat digunakan untuk melakukan pemutaran video dan bermain game selama satu jam, daya baterai iQoo berkurang sebesar 11 persen, sementara Poco X8 Pro Max mengonsumsi daya sebesar 13 persen.

Menyoal waktu screen-on time, ponsel pintar Poco ini secara meyakinkan mampu menawarkan waktu penggunaan sekitar tujuh jam dalam sekali pengisian daya di bawah penggunaan berat, yang mencakup sesi bermain game yang intens, streaming video, berselancar di web, serta mengakses media sosial.

Sementara itu, untuk skenario penggunaan sehari-hari yang lebih sedang, pihak pabrikan mengklaim bahwa perangkat ini dapat bertahan hingga tiga hari dalam sekali pengisian daya. Hal tersebut menjadikannya sebuah perangkat yang andal bagi pengguna yang memprioritaskan ketahanan baterai.

Konfigurasi kamera yang lumayan memadai

Untuk sebuah ponsel gaming kelas menengah (mid-range) yang dibekali perangkat keras (hardware) sekuat itu, sejumlah kompromi memang tidak dapat dihindari. Pada Poco X8 Pro Max, kompromi tersebut paling terlihat jelas pada sektor kamera. Perangkat ini mengusung konfigurasi kamera belakang ganda yang terdiri dari kamera utama 50MP dengan sensor Light Fusion 600 dilengkapi fitur OIS, serta lensa ultrawide 8MP. Sementara untuk kamera depan, terdapat sensor 20MP untuk kebutuhan swafoto (selfie) dan panggilan video yang ditempatkan dalam modul punch-hole.

Sebagai pembanding untuk memberikan konteks yang lebih baik, kami menyandingkan Poco X8 Pro Max dengan iQoo 15R yang juga menawarkan konfigurasi kamera serupa.

Daylight

Before image
POCO X8 Pro Max
After image
iQOO 15R

Poco X8 Pro Max dinilai kurang mampu menangkap gambar dengan reproduksi warna yang terlihat natural. Hasil foto cenderung terlampau “gonjreng” (oversaturated), dengan saturasi warna merah dan hijau yang tampak ditingkatkan. Dari segi detail, kualitas yang disajikan sebenarnya sudah tergolong lumayan, namun masih kurang memuaskan jika dibandingkan dengan iQoo 15R yang berhasil menghasilkan akurasi warna lebih mendekati kondisi aslinya.

Ultrawide

Before image
POCO X8 Pro Max
After image
iQOO 15R

Kedua ponsel pintar ini mengikuti karakter warna (color science) yang serupa saat beralih menggunakan lensa ultrawide. Poco X8 Pro Max, dengan karakteristik visual yang lebih cerah, mampu menarik perhatian pengguna secara instan. Kendati demikian, iQoo 15R dinilai memiliki keunggulan berkat penyajian detail yang lebih superior serta tata pencahayaan (exposure) yang lebih baik pada area bayangan (shadow).

Portrait

Before image
POCO X8 Pro Max
After image
iQOO 15R

Foto portrait pada Poco X8 Pro Max dapat terlihat sedikit lebih tajam, sebagian besar disebabkan oleh kecenderungan perangkat yang melakukan kelebihan pencahayaan (overexpose) pada hasil bidikan. Pemrosesan yang lebih cerah ini juga membantu menonjolkan detail yang sedikit lebih banyak dibandingkan dengan iQoo 15R. Sementara itu, performa deteksi tepi (edge detection) dan efek bokeh tercatat cukup serupa pada kedua perangkat. Namun, bagi pengguna yang lebih menyukai reproduksi warna kulit (skin tone) yang terlihat lebih natural, iQoo menjadi pilihan yang lebih baik.

Selfie

Before image
POCO X8 Pro Max
After image
iQOO 15R

Hal serupa juga terjadi pada hasil swafoto (selfie). Hasil gambar yang lebih cerah membuat foto dari Poco X8 Pro Max terlihat lebih menarik perhatian dibandingkan iQoo 15R. Kendati demikian, reproduksi warna kulit (skin tones) dan akurasi warnanya dinilai kurang akurat, serta kualitas detail yang dihasilkan pun tergolong sangat rata-rata.

Low light (night mode)

Before image
POCO X8 Pro Max
After image
iQOO 15R

Dengan night mode diaktifkan, Poco X8 Pro Max menangkap gambar yang lebih mencerminkan adegan sebenarnya. Sebagai perbandingan, iQoo 15R cenderung overexpose dan menerapkan smoothing yang lebih berat. Meskipun bidikan Poco dapat terlihat sedikit grainy, mereka mempertahankan finer details dan texture dengan lebih efektif.

Secara keseluruhan, sektor kamera Poco X8 Pro Max tampak lebih memprioritaskan hasil foto dengan warna yang cerah (saturated) dengan pencahayaan terang (overexposed) ketimbang mengejar akurasi. Meski dinilai agak kesulitan dalam menangkap akurasi warna dan detail di siang hari, performa ponsel ini justru mampu mengungguli iQoo 15R saat kondisi minim cahaya atau setelah matahari terbenam. Untuk perekaman video, kamera utama perangkat ini sudah mampu merekam hingga resolusi 4K pada 60 frames per second (fps), sementara kamera depan dan lensa ultrawide masih terbatas pada resolusi 1080p pada 30fps. Jika kemampuan kamera menjadi prioritas utama Anda, beralih ke alternatif lain di segmen ini seperti Vivo V70 atau Realme 16 Pro+ bisa menjadi pertimbangan yang lebih tepat.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Poco X8 Pro Max menawarkan hampir semua aspek yang dicari dari sebuah ponsel pintar kelas menengah (mid-range) yang berfokus pada performa. Mulai dari penggunaan chipset yang bertenaga, sistem pendingin yang efektif, hingga kapasitas baterai yang besar, ponsel ini konsisten menyajikan pengalaman penggunaan yang mulus, khususnya untuk aktivitas bermain game. Perangkat ini juga dapat diandalkan untuk kebutuhan harian berkat dukungan layar yang responsif dan jernih serta daya tahan baterai kuat yang mampu menemani aktivitas intensif pengguna sepanjang hari.

Kendati demikian, perangkat ini dinilai belum berhasil menjadi ponsel all-rounder yang sempurna. Catatan terbesarnya terletak pada konfigurasi kamera yang tergolong standar, dengan kecenderungan memprioritaskan visual yang terlampau oversaturated ketimbang akurasi warna dan detail. Selain itu, pengalaman antarmuka ponsel ini juga terasa kurang rapi dan belum se-inklusif kompetitornya, imbas dari banyaknya aplikasi bawaan serta kemunculan bug minor yang sesekali masih mengganggu kenyamanan. Ponsel lain di kelas yang sama, seperti iQoo 15R, mungkin bisa menjadi opsi yang lebih tepat jika Anda mendambakan perangkat yang lebih seimbang di sektor-sektor tersebut selain untuk kebutuhan gaming.

Meskipun begitu, iQoo 15R tersebut tidak dibanderol dengan harga sekompetitif Poco X8 Pro Max, yang membuatnya tetap menjadi pilihan yang sangat menarik di kelasnya. Di pasar Indonesia, ponsel pintar ini dipasarkan dengan harga Rp 6.099.000 untuk varian dasar dengan storage 256 GB, serta Rp 6.599.000 untuk varian tertinggi dengan storage 512GB.

Rating Editor: 8.4/10

Alasan untuk membeli

  • AMOLED display yang cerah dan mulus.
  • Performance luar biasa dengan output yang kuat dan berkelanjutan.
  • Cooling system yang efektif untuk sesi gaming yang panjang.
  • Battery besar dengan endurance yang andal.

Alasan untuk tidak membeli

  • Kamera kurang konsisten dan reproduksi warna natural.
  • Software yang berantakan dengan terlalu banyak pre-installed apps.

The post Review Poco X8 Pro Max: Performa Gaming Monster, Kamera Standar first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-poco-x8-pro-max-performa-gaming-monster-kamera-standar/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/06/DSC02712-e1780643532330-150x150.jpg150150
Review Motorola Signature: Jagonya Software di Kelas Flagship https://www.91mobiles.com/id/hub/review-motorola-signature-jagonya-software-di-kelas-flagship/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-motorola-signature-jagonya-software-di-kelas-flagship/#respond Mon, 18 May 2026 05:58:57 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=18982 Motorola Signature menandai ambisi besar kembalinya sang pionir telekomunikasi ke panggung utama ponsel flagship konvensional (slab). Dengan banderol harga mulai dari 59.999 rupee di pasar India (atau sekitar Rp 11 jutaan), perangkat ini tampil agresif untuk menantang dominasi pemain lama, terutama mengingat spesifikasi yang ditawarkan tergolong sangat komprehensif.Motorola tidak main-main dalam mempersenjatai Signature. Di balik […]

The post Review Motorola Signature: Jagonya Software di Kelas Flagship first appeared on Indonesia Blog.

]]>
.perf_test { border-bottom: 1px solid #e0e0e0; padding: 20px 0 20px 0; } .perf_test_wrap { padding: 7px 0 1px; position:relative; } .sortcode-table th:last-child, .sortcode-table td:last-child { border-right: none; } .perf_test_wrap:before { content: ''; background-image: repeating-linear-gradient(to right, #ededed54 0%, #f6f6f6 1px, transparent 1px, transparent 9.6%); position: absolute; left: 12%; top: 0; height: 100%; width: 100%; z-index: 1; } .pref-row { display: flex; align-items: flex-start; justify-content: space-between; background-image: repeating-linear-gradient(to right, black 1px, /* Line color & thickness */ transparent 1px 50px); z-index: 2; position: relative; margin: 3px 0; } .perf-img { flex: 0 0 10%; margin: 1px 10px 0 0; height: 38px; } .td-pb-span12 .perf-img { flex: 0 0 9.5%; } .perf-box { flex: 1; max-width: 100%; overflow: hidden; } .perf-num { flex: 0 0 20%; font-size: 16px; text-align: right; font-weight:normal; line-height: 25px; } .td-pb-span12 .perf-num { flex: 0 0 23%; } .perf-img img { max-width: 100%; border-radius: 0; max-height: 100% } .perf-meter { position: relative; font-size: 14px; font-weight: 400; height:20px; display: flex; align-items: center; } span.pref_meterbar { position: absolute !important; background: #ccc; height: 22px; width: 100%; left: 0; z-index: -1; border-radius: 2px; } .perf-meter span { margin: 9px 0 0; position: relative; width: 100%; padding: 0 6px; white-space: nowrap; text-overflow: ellipsis; overflow: hidden; color:#000000; } .perf-meter.thisphone span:first-child { font-weight: 600; } .thisphone .pref_meterbar { background: #FF9352; } .thisphone .perf-meter { color: #fff; } .perf-val { font-size: 12px; color: #7c7c7c; margin: 2px 0 10px; display: flex; align-items: center; font-weight:normal; } .perf_desc { text-align: center; font-size: 14px; margin-bottom: 30px; margin-bottom: 10px; } .greytxt { font-size: 14px; color: #777; line-height: 18px; display: block; } .perf_test_wrap .sprite-icn { background: url(https://www.91-cdn.com/images/hub/sort-code-widget-sprite.svg); background-repeat: no-repeat; } .sprite-icn.battery { background-position: 0px -16px; width: 19px; height: 15px; display: inline-block; } .sprite-icn.processor { background-position: 1px 1px; width: 19px; height: 17px; display: inline-block; } .sprite-icn.cam { background-position: 0 -31px; width: 19px; height: 11px; display: inline-block; } .perf-num.thisphone { font-weight: bold; } .td-container perf-img { flex: 0 0 8%; } .sortcode-container { width: 100%; overflow: auto; } .sortcode-table { width: 100%; background: #fff; text-align: left; border: solid 1px #e4e0e0; border-bottom: none; border-radius: 8px; border-collapse: unset; overflow: hidden; border-collapse: separate; } .sortcode-table th, .sortcode-table td { border: none; padding: 8px 12px; line-height: 20px; border-bottom: solid 1px #d4d4d4; border-right: solid 1px #d4d4d4; min-width:120px; font-size:16px; } .sortcode-table thead { background-color: #FFECDE; font-weight: bold; height:48px; } .sortcode-table th { text-align: center; font-size: 16px; line-height: 20px; } @media only screen and (min-width : 1025px) { .perf_test { padding-top: 0px; overflow: hidden; } .perf-img { flex: 0 0 10%; margin: -2px 7px 0 0; height: 50px; width: 46px; } .perf-img img { max-height: 100%; max-width: 100%; } .perf-num { flex: 0 0 9%; margin: -2px 0 0 16px; line-height: 25px; } .perf-val { font-size: 14px; margin-top: 7px; } .perf_test_wrap:before { left: 70px; } .td-pb-span12 .perf_test_wrap:before { left: 70px; } span.pref_meterbar{ height: 28px; } .pref-row { margin:13px 50px 0 0; } .perf_test_wrap:before { background-image: repeating-linear-gradient(to right, #ededed87 0%, #f6f6f6 1px, transparent 1px, transparent 9%); margin: 3px 60px 0 0; } .perf_desc { margin-top: 22px; } .perf-meter { font-size: 16px; } .greytxt { font-size: 16px; line-height: 22px; } .td-pb-span12 .perf-img { flex: 0 0 6.3%; margin: -2px 5px 0 0; } .td-pb-span12 .perf-num { flex: 0 0 16%; line-height: 28px; } .sortcode-table th, .sortcode-table td { padding: 12px 12px; } }

Motorola Signature menandai ambisi besar kembalinya sang pionir telekomunikasi ke panggung utama ponsel flagship konvensional (slab). Dengan banderol harga mulai dari 59.999 rupee di pasar India (atau sekitar Rp 11 jutaan), perangkat ini tampil agresif untuk menantang dominasi pemain lama, terutama mengingat spesifikasi yang ditawarkan tergolong sangat komprehensif.

Motorola tidak main-main dalam mempersenjatai Signature. Di balik desainnya yang elegan, tertanam “otak” terbaru Snapdragon 8 Gen 5, layar LTPO AMOLED yang memanjakan mata, konfigurasi kamera 50MP dengan kemampuan perekaman 8K, serta jaminan dukungan software jangka panjang. Di atas kertas, Motorola Signature nyaris tanpa celah.

Namun, spesifikasi tinggi bukanlah segalanya. Ujian sesungguhnya adalah bagaimana semua komponen tersebut berharmoni dalam penggunaan sehari-hari. Apakah performanya konsisten? Bagaimana daya tahan baterainya di bawah tekanan aktivitas yang intens?

Setelah menguji ponsel ini sebagai perangkat utama selama sepekan, berikut adalah ulasan lengkap Motorola Signature dari kami.

Kesimpulan Awal

Motorola Signature tampil unggul dengan performa tinggi dan dukungan software terdepan di kelasnya. Desainnya yang unik menjadi nilai plus bagi mereka yang ingin tampil beda. Namun, daya tahan baterai yang biasa-biasa saja, manajemen panas yang kurang optimal, serta karakter kamera yang terlalu konservatif menjadi catatan penting. Meski sangat kompetitif dari segi harga, kekurangan tersebut membuat perangkat ini harus bersaing ketat dengan alternatif lain yang lebih seimbang di sektor daya dan fotografi.

Desain Motorola Signature: Ramping, Ringan, dan Tahan Lama

Motorola Signature tampil memukau lewat bodi super ramping (7 mm) dan bobot ringan (186 gram), sangat ergonomis untuk layar 6,8 inci. Varian Martin Olive tampil unik dengan finishing kain yang nyaman, meski pilihan warna ini terasa terlalu kalem bagi sebagian orang.

Kami juga tidak pernah kesulitan menyelipkannya ke dalam atau mengeluarkan dari saku, yang semakin menambah daya tarik praktisnya.

Kami menerima Motorola Signature dalam opsi warna Pantone Martin Olive, dan pendapat tentangnya beragam. Sementara beberapa anggota tim kami menghargai pesona unik dan sederhananya, yang lain merasa warna tersebut sedikit terlalu kalem untuk sebuah flagship device. Kami termasuk dalam kategori yang terakhir dan merasa Pantone Carbon akan lebih sesuai dengan selera kami. Varian tersebut terlihat jauh lebih berkelas, setidaknya dalam gambar render.

Bagian punggung Motorola Signature dilapisi dengan material kain yang memberikan tekstur premium dan nyaman digenggam. Selama pengujian, permukaannya cukup bersih dari noda, namun daya tahannya terhadap keausan jangka panjang masih perlu dibuktikan.

Motorola Signature memancarkan nuansa premium yang kental berkat penggunaan frame aluminium dengan finishing warna senada serta lekukan sudut yang ergonomis. Kombinasi ini memberikan impresi genggaman yang solid sekaligus mewah.

Sayangnya, Motorola memilih desain modul kamera berbentuk persegi yang terkesan “main aman”. Pendekatan ini terasa kurang eksklusif karena sangat mirip dengan lini mid-range mereka, misalnya Edge 70. Bagi sebuah ponsel flagship, absennya bahasa desain yang “distinctive” tentu menjadi catatan tersendiri karena membuatnya sulit dibedakan dari seri di bawahnya.

Namun, di balik estetika yang minimalis tersebut, Motorola Signature adalah sebuah ponsel yang sangat tangguh. Ponsel ini tidak hanya mengantongi sertifikasi IP68 dan IP69 yang menjamin ketahanan terhadap debu serta rendaman air, tetapi juga telah lolos standar ketahanan militer MIL-STD-810H. Untuk perlindungan layar, Motorola menyematkan Corning Gorilla Glass Victus 2 yang diklaim mampu meredam dampak benturan maupun jatuh ringan. Secara keseluruhan, ponsel ini menawarkan durabilitas tingkat tinggi dalam balutan bodi yang tetap terlihat elegan.

Layar mantap, tapi audio kurang oke

Motorola Signature mengusung layar LTPO AMOLED 6,8 inci beresolusi Super HD, peak brightness hingga 6.200 nits, dukungan Dolby Vision, serta refresh rate dinamis 1Hz-165Hz. Namun, refresh rate tertinggi tersebut dibatasi hanya untuk game tertentu saja, sementara UI dan mayoritas aplikasi lain tertahan di 120Hz pada penggunaan harian. Ini bukan masalah besar, mengingat banyak produsen lain juga menerapkan kebijakan serupa demi efisiensi. 

Secara praktis, perbedaan antara 120Hz dan 165Hz tidak akan terlihat jelas bagi semua orang, dan refresh rate yang lebih tinggi pasti menyebabkan peningkatan konsumsi daya. Bagi kami, ini bukan masalah besar.

Catatan: Kami tidak dapat menemukan game yang saat ini mendukung refresh rate 165 Hz di Motorola Signature. Kami telah menghubungi Motorola untuk daftar judul yang kompatibel dan akan mengujinya setelah tersedia, memperbarui review ini sesuai kebutuhan.

Layar ini hadir dengan punch-hole kecil dan bezel tipis yang menjamin pengalaman visual imersif. Tingkat kecerahannya mumpuni di bawah sinar matahari, meski sempat tersamarkan oleh wallpaper dan tema bawaan Motorola yang senada dengan warna bodi, sehingga layar terkesan lebih kusam dari aslinya. Hal ini tetap terasa meski profil warna sudah diatur ke mode Vivid secara default.

Profil warna standarnya cenderung oversaturated, menghasilkan visual yang hidup. Pengguna bisa beralih ke Natural untuk tone realistis atau Radiant demi vibransi tambahan. Di berbagai konten, layar tetap tajam dan jernih. Dari film hingga game berat, Motorola Signature mampu menangani dynamic range dengan sangat baik, lengkap dengan kontras kaya dan hitam yang pekat.

Sektor audio dibekali setup dual-speaker bersertifikasi Bose dengan grille top-firing khusus, bukan sekadar memanfaatkan earpiece. Teoretisnya, ini menghasilkan suara imersif, namun realitanya audio terasa kurang bertenaga bahkan saat Dolby Atmos aktif. Dibandingkan OnePlus 15 yang lebih lantang dan jernih dengan low-end dominan, suara Signature cenderung melengking dengan frequency separation yang kurang rapi.

Meski audionya mengecewakan, in-display fingerprint scanner ponsel ini patut diacungi jempol. Posisinya sangat ergonomis, tepat di tempat ibu jari bersandar secara alami. Sensornya bekerja dengan sangat cepat, konsisten, serta akurat dalam membuka kunci perangkat.

Dukungan software yang clean serta cocok untuk jangka panjang 

Motorola Signature hadir dengan Android 16 langsung dari kotak. Meski pengalaman penggunanya mendekati stock Android, Motorola menyisipkan skin Hello UI yang apik di atasnya. Kami sebelumnya telah menjajal antarmuka baru ini pada Edge 60 Pro melalui pembaruan OTA tahun lalu.

Pada Signature, sensasinya tetap konsisten dengan pendekatan minimalis dan ekosistem aplikasi Google yang dominan. Menariknya, ponsel ini memiliki jumlah aplikasi bawaan (bloatware) terendah di kelasnya—hanya 38 aplikasi—sehingga antarmuka terasa sangat bersih dan ringan.

Animasi kini terasa lebih matang dan kaya akan opsi kustomisasi. Tersedia juga AI Key khusus di sisi kiri yang bisa diatur untuk mencatat cepat atau memicu fitur Update Me guna meringkas notifikasi.

Tekanan lama (press and hold) pada tombol ini akan mengaktifkan rangkaian fitur Moto AI, mulai dari ringkasan teks, image generation, transkripsi catatan, hingga pengarsipan momen. Pengguna bisa menonaktifkan pintasan ini, namun itu hanya akan membuat tombol tersebut tidak berfungsi. Akan lebih praktis jika Motorola memberi kendali lebih luas, seperti untuk pemindai QR, profil audio, atau shortcut sistem lainnya. Semoga hal ini diperbaiki pada pembaruan mendatang, bersama implementasi Material 3 Expressive, gaya jam dinamis, dan kustomisasi lock screen yang lebih mendalam.

Motorola menjanjikan dukungan hingga 7 tahun untuk pembaruan OS dan keamanan pada Signature. Komitmen ini menempatkannya setara dengan flagship besutan Google dan Samsung, sekaligus memastikan perangkat ini tetap relevan dan aman hingga tahun 2033 mendatang.

Integrasi AI, kolaborasi berbagai asisten

Terkait fitur Moto AI, fungsinya serupa dengan apa yang kami temukan pada Edge 70. Pengguna kini memiliki opsi lebih luas melalui Perplexity, mesin pencari berbasis AI yang terintegrasi langsung di sistem. Motorola juga menggandeng Microsoft untuk menghadirkan aplikasi Copilot, memungkinkan pengguna berinteraksi dengan lingkungan sekitar via kamera serta berbincang dengan asisten AI. Kehadiran keduanya melengkapi Google Gemini sebagai bagian dari upaya Motorola mempermudah akses teknologi kecerdasan buatan bagi pengguna.

Anehnya, baik Copilot maupun Perplexity justru sudah terinstal di profil pengguna sekunder yang kami buat saat pengujian. Kedua aplikasi ini tidak muncul di app drawer profil utama, sebuah inkonsistensi sistem yang terasa janggal. Anda mendapatkan versi gratis dari seluruh alat AI ini dan bisa menetapkan salah satunya sebagai asisten digital default. Meski menyadari potensi manfaat besar yang ditawarkan deretan tools canggih ini, dalam penggunaan sehari-hari kami pribadi tidak terlalu sering memanfaatkannya.

Performa Motorola Signature: Mengesankan, tapi Mungkin Mengalami throttle

Di sektor dapur pacu, Motorola Signature ditenagai oleh SoC Snapdragon 8 Gen 5 dari Qualcomm, chipset yang sama dengan yang memulai debutnya pada OnePlus 15R bulan lalu.

Meskipun posisinya setingkat di bawah Snapdragon 8 Elite Gen 5, saya sama sekali tidak memiliki keluhan selama penggunaan sehari-hari. Faktanya, penggunaan chip ini menjadikan Motorola Signature sebagai smartphone tercepat dan paling bertenaga di kelas harga Rp 11 jutaan, setidaknya untuk saat ini.

Skor AnTuTu
Motorola Signature
Qualcomm Snapdragon 8 Gen 5
3,098,258
AnTuTu menilai CPU, GPU, memori, dan pengalaman pengguna ponsel pintar secara keseluruhan (lebih tinggi lebih baik)

Unit yang kami uji merupakan varian tertinggi yang dibekali RAM 16GB LPDDR5x dan penyimpanan 1TB UFS 4.1. Spesifikasi tinggi ini tampaknya berkontribusi pada raihan skor benchmarking global, seperti AnTuTu dan Geekbench, yang sedikit lebih tinggi dibandingkan OnePlus 15R yang mentok di RAM 12GB dan storage 512GB. Perpaduan kapasitas memori yang luas dan kecepatan transfer data terbaru ini memastikan manajemen multitasking terasa sangat enteng tanpa hambatan.

Skor Geekbench Single-Core
Motorola Signature
Qualcomm Snapdragon 8 Gen 5
2,889
Geekbench menilai efisiensi inti tunggal (single core) dan banyak inti (multi core) pada CPU (lebih tinggi lebih baik)
Skor Geekbench Multi-Core
Motorola Signature
Qualcomm Snapdragon 8 Gen 5
9,583
Geekbench menilai efisiensi inti tunggal (single core) dan banyak inti (multi core) pada CPU (lebih tinggi lebih baik)

Secara realistis, Anda kemungkinan tidak akan merasakan perbedaan performa yang signifikan antara kedua smartphone ini dalam penggunaan harian, mulai dari scrolling media sosial, streaming, hingga multitasking

Skor Burnout
Motorola Signature
39.1%
Burnout menilai throttling CPU dan performa berkelanjutan di bawah beban berat (lebih tinggi lebih baik)

Dalam pengujian, suhu smartphone Motorola melonjak sekitar 15,5 derajat Celsius. Pada uji CPU Burnout throttle, kinerja Motorola Signature merosot hingga ke angka 39,1 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa meski flagship Motorola ini andal menangani beban kerja berat, perangkat ini tampak kesulitan menjaga stabilitas performa maksimal dalam durasi penggunaan yang panjang.

Baterai Motorola Signature: Daya tahan di bawah ekspektasi flagship

Motorola Signature dibekali baterai 5.200 mAh dengan pengisian daya cepat fast wired charging 90 watt. Adaptor pengisi daya tersedia dalam paket penjualan dan hanya membutuhkan waktu kurang dari 40 menit untuk mengisi daya dari 20 hingga 100 persen. Ponsel ini juga mendukung kecepatan wireless charging 50 watt.

Namun, kapasitas baterainya terasa biasa saja—tidak hanya di atas kertas, tapi juga dalam penggunaan nyata—jika dibandingkan dengan lini flagship Android terbaru. Bahkan, beberapa ponsel sub-flagship kini sudah membawa baterai di atas 7.000 mAh, yang membuat daya tahan Motorola Signature terasa kurang kompetitif.

Signature hanya bertahan 12 jam 53 menit dalam uji baterai PCMark dan memberikan screen-on time sekitar 4 hingga 5 jam. Selama pengujian lab kami, baterainya berkurang 4 persen setelah streaming YouTube selama 30 menit dan merosot 12 persen setelah satu jam bermain game.

Ini adalah performa yang cukup untuk penggunaan sehari penuh, asalkan Anda tidak membebani perangkat terlalu berat. Kami berharap flagship ini bisa melampaui standar dasar tersebut. Sedikit daya tahan ekstra akan membuat Signature menjadi pendamping yang lebih andal untuk bernavigasi, mengabadikan momen, hingga scrolling tanpa henti saat di luar ruangan tanpa harus terus-menerus merasa cemas akan sisa baterai.

Kamera Motorola Signature: Mumpuni tapi Konservatif

Motorola Signature membawa konfigurasi triple-camera serbaguna, dipimpin oleh sensor utama 50MP Sony Lytia 828 dengan OIS, kamera ultrawide 50MP (112 derajat), dan lensa periskop telefoto 50MP Sony Lytia 600 dengan 3x optical zoom. Untuk video, kamera belakangnya mendukung perekaman hingga 8K 30fps dengan Dolby Vision. Sementara di bagian depan, tertanam sensor 50MP Sony Lytia 500 dengan autofocus untuk kebutuhan selfie dan video call.

Antarmuka kameranya kini lebih simpel, meski transisi antar-lensa masih memperlihatkan color shift yang kentara—di mana lensa ultrawide tampak lebih kusam dan telefoto cenderung lebih saturated. Saturasi memang menjadi “bumbu” utama Motorola; bahkan pada profil ‘Natural’, warna tetap terasa sangat hidup, yang mungkin disukai pegiat media sosial. Detail pada kamera utama dan telefoto tergolong baik, namun gambar sering kali mengalami overexposure di siang hari dengan noise reduction yang agresif, sehingga membatasi dynamic range.

Untuk portrait dan selfie, detailnya cukup, namun tuning warna cenderung terlalu hangat (warm) dan hasil processing yang lembut mengurangi akurasi skin tone. Di kondisi low-light, Signature memprioritaskan gambar yang bersih daripada realisme, menghasilkan visual yang apik namun minim tekstur. Secara keseluruhan, kamera ini menawarkan hasil yang aman, meski processing yang berat seolah menahan potensi asli hardware-nya.

Siang Hari

Before image
Motorola Signature
After image
OnePlus 15

Motorola Signature mengandalkan sensor utama Sony LYT-828 yang secara teori sangat superior. Namun dalam pengujian nyata, kamera ini cenderung menghasilkan foto dengan exposure yang agak berlebih (overexpose). Hal ini terkadang memicu munculnya efek sedikit berkabut (haze) yang membatasi cakupan dynamic range. Meskipun mampu menekan noise dengan sangat baik, processing Motorola terasa terlalu agresif dalam menghaluskan area bayangan, yang berisiko mengorbankan tekstur alami dan detail halus pada objek.

Ultrawide

Before image
Motorola Signature
After image
OnePlus 15

Lensa ultrawide pada ponsel ini menawarkan sudut pandang yang sangat luas, memungkinkan lebih banyak elemen masuk ke dalam satu bingkai. Sayangnya, eksekusinya terasa kurang maksimal dalam menjaga keaslian suasana. Hasil tangkapan layarnya cenderung lebih gelap dengan distorsi yang cukup terlihat di sepanjang tepi frame. Selain itu, retensi detail pada lensa ini belum bisa dikatakan memuaskan, terutama saat digunakan untuk mengabadikan pemandangan yang kompleks.

Portrait

Before image
Motorola Signature
After image
OnePlus 15

Lensa telefoto 50MP Sony LYT-600 pada Signature menjanjikan spesifikasi tinggi untuk kebutuhan portrait. Sayangnya, fitur edge detection dan efek bokeh yang dihasilkan terkadang terasa kurang organik. Hal serupa ditemukan pada kamera selfie; meski detail wajah tertangkap dengan baik, processing Motorola memberikan warm cast (semburat warna hangat) yang cukup mencolok pada kulit serta saturasi yang berlebihan pada pakaian. Dynamic range pada latar belakang juga terasa kurang seimbang di kondisi cahaya yang menantang.

Before image
Motorola Signature
After image
OnePlus 15

50MP Sony LYT-600 telephoto lens Motorola Signature sekali lagi superior dibandingkan dengan 50MP S5KJN5 sensor Samsung milik OnePlus 15. Namun, smartphone OnePlus berhasil mengungguli penawaran Motorola dengan edge detection yang lebih baik dan bokeh effect yang terlihat alami. OnePlus 15 juga menghasilkan detail yang superior serta skin tone dan warna yang akurat.

Dalam hal selfie, processing Signature Motorola memperkenalkan warm cast yang terlihat jelas pada kulit subjek dan melakukan oversaturasi warna sweater. Handset Motorola juga kurang dalam dynamic range, menyebabkan detail background yang berkurang dan exposure overall yang kurang seimbang.

Low light (mode malam)

Before image
Motorola Signature
After image
OnePlus 15

Saat beralih ke kondisi minim cahaya, Motorola Signature lebih memprioritaskan estetika visual daripada realisme. Foto yang dihasilkan memang terlihat sangat bersih dari grain, namun hal itu dicapai melalui proses penghalusan detail secara digital yang cukup masif. Meskipun tekstur aslinya menjadi berkurang dan hasil akhir tampak kurang realistis, foto mode malamnya tetap tergolong memanjakan mata dan sangat layak untuk dibagikan ke media sosial.

Kesimpulan Akhir

Motorola Signature memang bukan tanpa cela. Sektor kamera, meski dibekali hardware kelas atas, masih terhambat oleh processing yang terlalu konservatif sehingga membatasi detail dan dynamic range. Baterai 5.200mAh miliknya memang sanggup bertahan sehari penuh, namun akan kedodoran di bawah penggunaan berat. Begitu pula dengan audio racikan Bose dan Dolby Atmos yang terasa kurang bertenaga dari segi volume maupun kejernihan untuk ukuran flagship. Adanya thermal throttling saat dipacu maksimal juga menjadi catatan bagi para hardcore gamer.

Namun, di balik kekurangan tersebut, ponsel ini tetap menjadi perangkat yang mampu memenuhi kebutuhan esensial banyak pengguna dengan cara yang sulit ditandingi oleh kompetitor. Chipset Snapdragon 8 Gen 5 menjamin performa harian yang sangat responsif, dipermanis dengan Hello UI yang bersih, ringan, dan bebas bloatware. Dikombinasikan dengan desain yang sangat ramping, layar memukau, serta jaminan update software jangka panjang, Motorola berhasil meramu keseimbangan apik antara performa tinggi dan kepraktisan penggunaan.

Di Indonesia, Motorola Signature sudah diluncurkan pada April lalu dan bisa diperoleh seharga Rp 12.999.000 untuk varian memori tunggalnya dengan konfigurasi 12 GB/256 GB. 

Rating Editor: 8.4/10

Alasan untuk membeli

  • Desain ramping, ringan, dan premium meskipun memiliki display 6.8-inci yang besar.
  • LTPO AMOLED panel yang memukau dengan brightness dan contrast yang sangat baik.
  • Pengalaman Android yang bersih, mendekati stock, dengan minimal bloatware dan tujuh tahun support software.
  • Kinerja Snapdragon 8 Gen 5 yang powerful untuk penggunaan sehari-hari.

Alasan untuk tidak membeli

  • Battery life hanya rata-rata untuk sebuah flagship.
  • Audio output kurang kedalaman dan bass.
Motorola Signature Harga
Rp. 12.599.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review Motorola Signature: Jagonya Software di Kelas Flagship first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-motorola-signature-jagonya-software-di-kelas-flagship/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/02/Motorola-Signature-review05-e1770733617663-150x150.jpg150150
Review Realme C85 Pro: HP Tahan Air Ekstrem di Harga Murah https://www.91mobiles.com/id/hub/review-realme-c85-pro-hp-tahan-air-ekstrem-di-harga-murah/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-realme-c85-pro-hp-tahan-air-ekstrem-di-harga-murah/#respond Tue, 17 Feb 2026 08:12:11 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=19148 Selama ini ponsel dengan ketahanan unggul terhadap air kerap identik dengan harganya yang selangit. Dulu, hanya smartphone Rp 10 jutaan ke atas yang tersertifikasi IP68 sehingga aman saat terendam di air. Kala itu hanya Samsung yang dapat memberikan sertifikasi tahan rendaman air di bawah Rp 10 juta. Kini, Realme tampaknya menjadi pionir dalam hal ketahanan bodi […]

The post Review Realme C85 Pro: HP Tahan Air Ekstrem di Harga Murah first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Selama ini ponsel dengan ketahanan unggul terhadap air kerap identik dengan harganya yang selangit. Dulu, hanya smartphone Rp 10 jutaan ke atas yang tersertifikasi IP68 sehingga aman saat terendam di air. Kala itu hanya Samsung yang dapat memberikan sertifikasi tahan rendaman air di bawah Rp 10 juta. Kini, Realme tampaknya menjadi pionir dalam hal ketahanan bodi di harga murah.

Ya, Realme C85 Pro yang dibanderol Rp 3 jutaan hadir dengan sertifikasi IP69 Pro, sebuah sorotan unik yang dipertahankan dari pendahulunya, Realme C75 series. Perangkat ini tak hanya sanggup bertahan di air kolam biasa, melainkan juga mampu bertahan di air dengan suhu ekstrem (dingin atau panas), dan bahkan bisa memotret serta merekam video di bawah air. 

Ponsel ini pun diuntungkan dengan kapasitas baterainya yang sebesar 7.000 mAh, tahan hingga lebih dari satu hari sehingga membuatnya cocok untuk penggunaan di luar ruangan. Kehadiran Realme C85 Pro dengan segala fitur ketahanannya menjadi pertanda bahwa keunggulan HP rugged mulai merambah ke industri ponsel konvensional. 

Namun yang jadi pertanyaannya, apa rahasia Realme sehingga mampu mengadopsi ketahanan tinggi di ponsel dengan harga murah? Apakah ada fitur yang mesti dikorbankan untuk memangkas harga? Untuk mengetahui jawabannya, Anda bisa menyimak review Realme C85 Pro berikut ini setelah pemakaian selama sepekan.

Unboxing

Seperti ponsel-ponsel Realme sebelumnya, kali ini C85 Pro pun hadir dengan paket penjualan yang lengkap. Selain unit ponsel itu sendiri, smartphone ini dilengkapi dengan casing transparan, manual book, pin ejektor laci kartu SIM, charger 45 watt, dan kabel data. 

Boks Realme C85 Pro sebenarnya memiliki tampilan luar berwarna kuning yang memang sudah menjadi ciri khas Realme C series. Hanya saja, boks tersebut diselipkan ke dalam cover yang memperlihatkan keunggulan ponsel.

Di bagian utama pada cover tersebut, terlihat adanya ilustrasi unit ponsel yang direndam ke dalam air, beserta sejumlah sorotan utamanya seperti IP69 Pro, kecerahan layar, chipset yang digunakan, dan lain sebagainya. 

Desain

Dari segi tampilan, Realme C85 Pro menghadirkan desain yang tampak lebih premium dibandingkan rata-rata ponsel lain di kelas harganya. Bodi belakangnya tampil dengan finishing mengilap dan modul kamera berukuran besar yang membuatnya terlihat modern. 

Pada housing kamera tersebut, terdapat tiga buah bulatan lensa yang disusun secara vertikal, serta lampu LED Pulse Light dan flash di samping kanannya. Lampu LED Pulse Light ini dapat menyala sebagai indikator notifikasi ketika menerima pesan atau panggilan masuk. Selain itu, lampu ini juga bisa berkedip atau menyala sebagai indikasi status charging

Tampilan LED Pulse Lighting.
Tampilan LED Pulse Lighting.

Lewat menu pengaturan, fitur Pulse Light ini dapat dikustomisasi dari segi periode aktifnya, warna, apakah ingin mengusung mode breathing atau ringtone sync, dan masih banyak lagi. 

Frame bodi yang berbentuk datar alias flat membuatnya mudah digenggam tanpa khawatir tergelincir dari tangan. Untuk semakin mempertegas kenyamanan genggam, Anda dapat mengaplikasikan casing khusus yang tersedia pada boks penjualan. Ini akan membuatnya sedikit lebih glossy, namun akan melindungi ponsel dari goresan dan benturan ringan saat digunakan sehari-hari. 

Realme C85 Pro pun masih terasa cukup ramping saat digenggam sehari-hari, lantaran hanya setebal 8,09 mm dengan bobot 205 gram. Cukup impresif mengingat kapasitas baterainya yang sebesar 7.000 mAh.

Berbicara soal ketahanan, Realme C85 Pro adalah salah satu ponsel paling tangguh di kelas harga menengah, terutama terhadap air. Ponsel ini dibekali sertifikasi ketahanan militer MIL-STD-810H, yang sering digunakan sebagai penanda bahwa sebuah perangkat sanggup menghadapi kondisi ekstrem seperti guncangan, benturan, atau perubahan suhu secara mendadak.

Standar yang dahulu umumnya hanya dijumpai pada ponsel outdoor atau rugged, kini sudah bisa dimiliki pada HP mid-range mainstream seperti Realme C85 Pro. Perangkat ini juga dibekali sertifikasi IP69 Pro yang merupakan gabungan dari tiga sertifikasi tahan air, yakni IP66 (tahan cipratan air bertekanan tinggi), IP68 (tahan terendam air pada kedalaman tertentu), dan IP69/ IP69K (tahan semburan air bertekanan tinggi dan panas ekstrem). 

Realme C85 Pro ini bahkan bisa tahan terhadap 36 jenis cairan yang berbeda, mulai dari air tawar biasa, kopi, hingga soda. Bahkan, HP ini pun tetap berfungsi normal setelah direndam di air mendidih selama beberapa detik. Ini membuatnya cocok digunakan untuk mengantisipasi skenario sehari-hari yang tidak terduga, seperti kehujanan, tercebur air, atau ketumpahan minuman. 

Uniknya lagi, tersedia pula mode pemotretan underwater yang membuatnya mampu memotret serta merekam video di bawah air tanpa menggunakan layar sentuh.

Di Indonesia, Realme C85 Pro ditawarkan dalam dua varian warna yakni Parrot Purple dan Peacock Green. Unit yang kami terima merupakan varian Peacock Green yang menawarkan kesan tenang namun elegan, dengan tone hijau yang sedikit lebih gelap sehingga tidak terlalu mencolok. 

Layar

Layar Realme C85 Pro.
Layar Realme C85 Pro.

Di harganya yang Rp 3 jutaan, tentu Realme C85 Pro tidak lagi dibekali panel IPS LCD, melainkan memakai panel AMOLED yang lebih cerah. Panel layar yang seluas 6,8 inci Full HD Plus ini benar-benar memiliki kontras tinggi dan warna lebih hidup, membuat pengalaman menonton video dan bermain game terasa lebih menyenangkan. 

Sayangnya, layar ini belum mendukung fitur HDR sehingga tidak dapat menampilkan konten high dynamic range di YouTube. Kami sudah mencoba mencari resolusi HDR pada salah satu video yang menyediakannya, namun opsi tersebut tidak muncul.

Layar Realme C85 Pro mendukung gamut warna 100 persen DCI-P3 yang membuat tampilan warnanya lebih kaya dan akurat, terutama ketika menonton film atau melihat hasil foto. Refresh rate yang didukungnya mencapai 120 Hz guna membuat animasi antarmuka dan transisi terasa lebih mulus ketimbang 60 Hz konvensional. Fitur ini sangat terasa ketika sedang browsing dan menjelajahi media sosial.

Namun yang cukup mengherankan, mode refresh rate tinggi sama sekali tidak aktif saat mencoba memainkan judul game yang mendukung HRR, seperti Dead Trigger 2. Saat dimainkan, di menu pengaturan hanya muncul mode default 60 FPS, yang berarti mode 120 FPS tidak kompatibel di HP ini.

Mungkin ini adalah isu yang dapat diperbaiki melalui update OTA atau pembaruan versi game, atau bisa saja karena memang dapur pacu Realme C85 Pro yang kurang mendukung. 

Menyoal kecerahannya, layar Realme C85 Pro ini mampu mencapai titik cerah paling tinggi di angka 4.000 nit. Tentu ini bukanlah kecerahan yang dicapai saat di bawah terik matahari. Namun, dengan bantuan fitur AI Outdoor Mode, kami berhasil membuat teks dan gambar di layar tetap layak dilihat meski di bawah sinar matahari langsung. Ini karena adanya fitur AI yang membantu layar menyesuaikan tingkat kecerahan secara cerdas sesuai kondisi cahaya sekitar.

Kami pun tidak menemukan masalah responsivitas saat memainkan game di HP ini. Dengan dukungan touch sampling rate 180 Hz pada Realme C85 Pro, setiap tembakan atau serangan nyaris tidak terasa delay sama sekali.

Bahkan saat jari kami basah setelah menyentuh kaleng minuman dingin, responsivitas layar tetap relatif normal berkat adanya teknologi wet-hand touch. Secara garis besar, untuk ponsel di kelasnya, pengalaman layar yang ditawarkan cukup memadai.

Sayangnya, speaker ponsel ini hanya tunggal alias bukan stereo. Ini akan membuat suara hanya keluar dari satu sisi saja. Suara yang dikeluarkan namun cukup jernih dan lantang, bahkan memiliki fitur Ultraboom untuk meningkatkan volume di level yang melebihi batas maksimal, kendati membuatnya terdistorsi. Jenis frekuensi bass dan treble cukup jelas namun tentunya tidak akan sebaik speaker flagship.

Kamera

Sektor fotografi bisa dibilang bukan salah satu “strong suit’ yang dimiliki Realme C85 Pro. Namun, perangkat ini tetap dapat menghasilkan foto yang cukup memadai, asalkan pengguna rela menyesuaikan ekspektasinya. 

Rangkaian kamera di HP ini cukup sederhana, dengan kamera tunggal 50 MP di belakang yang memiliki aperture f/1,8 dan autofokus PDAF. Di bagian depan, tersedia kamera 8 MP f/2,0 yang dapat menunjang kebutuhan selfie serta video call.

Jadi, penampakan “tiga kamera” di punggungnya sebenarnya tidak akurat lantaran cuman salah satunya saja yang merupakan sensor kamera aktif. Dua lainnya hanya dirancang sebagai aksen desain atau dekorasi.

Ketiadaan kamera ultrawide adalah salah satu kekurangan utama pada smartphone seharga Rp 3 jutaan ini. Meski begitu, ini memang bukan kali pertama seri entry pada merk ponsel China meniadakan kamera ultrawide. Vivo Y series dan Oppo A series juga kerap melakukannya.

Jika menginginkan kamera ultrawide di harga Rp 2-3 jutaan, tampaknya perlu melirik Galaxy A series, misalnya seperti Galaxy A17. 

Foto siang hari dan indoor

Menyoal hasil fotonya sendiri, pemotretan di siang hari hanya meninggalkan impresi “sedang” di benak kami. Kata “mediocre” kerap muncul saat melihat hasil foto yang berhasil kami dapatkan. Dynamic range sebenarnya cukup luas, detail yang didapatkan pun cukup melimpah. Namun, kami pernah mendapatkan pengalaman fotografi lebih memuaskan pada HP di harga Rp 2 jutaan, yakni Moto G45 (review).

Penyesuaian lighting pada foto siang harinya menurut kami masih cukup jauh dari kata “estetis”, setidaknya saat dibandingkan dengan Moto G45. Bahkan, kami berani bilang bahwa hasil fotonya hanya sedikit lebih baik dari HP Rp 1 jutaan yang dijadikan daily driver kami, yaitu Itel RS4.

Apabila dinilai tanpa dibandingkan, hasil foto Realme C85 Pro sebenarnya tidak bisa dikatakan buruk. Hanya perlu sedikit polesan untuk membuatnya medsos-ready, terutama untuk menambahkan efek background blur. Sebab, agak sulit mendapatkan efek bokeh creamy di ponsel ini, bahkan saat tingkat kedalamannya sudah diatur ke f/1,4. 

Foto malam hari

Perihal foto malam hari, di sini justru Realme C85 Pro cukup tergolong oke. Tingkat noise masih tergolong minim di sini, efek flare di sekitar sumber cahaya pun masih sanggup ditangani dengan baik. 

Absennya kamera telefoto di HP ini membuat pengalaman zoom miliknya kurang menarik. Pembesaran maksimal yang didukungnya adalah 10x, dan kami hanya dapat menghasilkan foto jarak jauh yang “usable” di tingkatan sekitar 3-5x. Tentu saja semua tingkat pembesarannya adalah digital, bukan optis maupun hibrida.

Realme C85 Pro juga tergolong standar saat dijadikan sarana kreasi konten. Perekaman videonya tidak stabil saat berjalan atau panning, dan resolusi maksimal yang didukungnya hanya 1080p di 30 FPS, alias tidak mendukung 60 FPS maupun 4K. 

Pada kamera depan, Realme C85 Pro cukup memberikan hasil yang baik saat selfie secara kasual maupun ketika melakukan video call. Hasil fotonya tergolong biasa-biasa saja. Tidak dapat disebut buruk, namun tidak pula masuk kategori “memukau”. Namun untuk kebutuhan sehari-hari, rasanya kamera depan HP ini masih cukup. Seperti yang disebut di awal, selama pengguna dapat menyesuaikan ekspektasi, pengalaman fotografi di Realme C85 Pro masih tergolong “aman”. 

Foto underwater (di dalam air)

Realme tampak seperti memanfaatkan sertifikasi IP69 Pro di ponsel ini ke tingkat paling tinggi. Karena tahan direndam, Realme C85 Pro pun dibekali mode pemotretan underwater agar bisa menghasilkan foto unik sambil menyelam di air. 

Saat mode ini diaktifkan, layar perangkat tidak akan mampu memberikan respons terhadap sentuhan. Pengguna mesti memanfaatkan tombol volume dan daya sebagai tombol shutter, berpindah antara kamera belakang dan depan, serta mematikan layar. 

Bagaimana dengan hasil fotonya? Detail tentu tidak akan sebagus pemotretan di atas air, namun masih cukup jelas dan layak untuk diunggah ke media sosial. Lalu, autofokusnya pun kadang meleset dan malah menghasilkan foto objek yang blur. Ini namun dirasakan ketika memotret objek secara dekat, pengalamannya mungkin bakal berbeda jika memotret subjek manusia dari jarak sedang. 

Mikrofon juga bekerja cukup baik saat merekam video, karena suara perekam yang berada di atas permukaan air masih terdengar dengan jelas. Seperti kamera belakang, kami juga menemukan masalah autofokus yang sedikit “hit and miss” pada kamera selfie.

Akan tetapi, cukup dengan dua hingga tiga kali percobaan ulang, kami akhirnya berhasil mendapatkan foto di dalam air dengan kualitas yang layak, baik untuk kamera depan maupun belakang. Warna objeknya pun masih terbilang akurat dengan aslinya. 

Perihal fitur pengeditan fotonya, Realme C85 Pro menyediakan fitur bernama AI Edit Genie yang fungsinya untuk mengubah foto secara mudah dengan perintah teks dan suara. Pengguna bahkan bisa menjelaskan dalam bentuk “prompt” mengenai jenis pengeditan apa yang ingin dilakukan, dan AI Edit Genie bakal memahami perintah tersebut untuk melakukan pengeditan yang sesuai. 

Performa

Dapur pacu bukanlah fokus utama pada ponsel seharga Rp 3 jutaan ini. Meski merupakan ponsel mid-range, jenis chipset yang dipakai adalah Snapdragon 685 (6 nm) yang merupakan chip entry-level keluaran 3 tahun lalu.

Prosesor di dalamnya terdiri dari 8 inti yang merupakan 4x inti performa Cortex A73 (2,8 GHz) dan 4x inti hemat daya Cortex A53 (1,9 GHz). Chip ini juga dilengkapi dengan GPU Adreno 610.

Agak mengherankan sebenarnya sebuah HP Rp 3 jutaan di tahun 2026 memakai chip 4G, di saat sejumlah ponsel Rp 2-3 jutaan lainnya sudah mendukung jaringan seluler 5G. Akan tetapi, mungkin ini adalah harga yang perlu dibayarkan demi mendapatkan bodi dengan tingkat ketangguhan di atas rata-rata.

Performance-wise, Realme C85 Pro masih terasa lancar saat beraktivitas sehari-hari seperti penggunaan media sosial, YouTube, hingga berselancar di dunia maya. Terdapat juga fitur Game Mode yang dapat mengoptimalkan pengalaman game.

Dari kiri ke kanan: skor benchmark Realme C85 Pro AnTuTu 11, Geekbench 6, dan Burnout.
Dari kiri ke kanan: skor benchmark Realme C85 Pro AnTuTu 11, Geekbench 6, dan Burnout.

Dari tangkapan layar di atas, terlihat bahwa Realme C85 Pro menorehkan skor 450.585 poin di AnTuTu v11, dan ini tergolong rendah untuk seukuran ponsel mid-range di harga Rp 3 jutaan. Pengujian Geekbench 6 mencatatkan skor 422 poin untuk single-core dan 1.312 poin untuk multi-core. Sementara, pengujian throttling di aplikasi Burnout menunjukkan bahwa HP ini hanya dapat mempertahankan 50,8 persen dari maksimal performa setelah dites selama 9 menit 25 detik.

Kami sempat menguji beberapa judul permainan di ponsel ini, dan hasilnya tergolong oke meski tidak selancar beberapa pesaingnya di harga yang sama. 

Di PUBG Mobile, pengaturan grafis dan frame rate tertinggi yang dimungkinkan adalah Balanced – High. Pengalaman yang dirasakan cukup normal tanpa ada stutter atau lag yang mengganggu, kecuali di beberapa kasus di mana karakter pemain berusaha menyerang beberapa musuh sekaligus.

Selebihnya, saat berkelana on foot maupun berkendara, frame rate yang didapatkan cukup mulus. Namun dari segi grafis, HP ini kalah saing dengan pesaingnya yang sudah bisa merasakan grafis HD dan HDR. 

Pengguna sebenarnya dimungkinkan mengaktifkan fitur gyroscope untuk membidik lawan. Namun sayangnya, gyroscope tersebut hanya bersifat virtual dan memiliki tingkat responsivitas yang buruk. Terdapat delay yang sungguh terasa ketika memindahkan crosshair, yang ujungnya membuat kami gagal menembak musuh.

Pengalaman serupa juga dirasakan untuk dua judul lainnya yaitu Delta Force dan COD Mobile. Pengaturan frame rate tertinggi yang bisa dipilih untuk grafis Exquisite adalah Medium, dan pengalaman yang dirasakan cukup playable meski bukan yang terbaik.

COD Mobile juga memperlihatkan gameplay yang cukup mulus, meski hanya dapat dimainkan hingga pengaturan grafis High pada frame rate Medium. Beberapa pesaingnya di harga yang sama, seperti Infinix GT 30 atau iQoo Z10, dapat meraih pengaturan grafis Very High dan frame rate Max. 

Gyroscope kembali dapat digunakan untuk game ini, namun masih dengan responsivitas yang sama seperti sebelumnya, pertanda bahwa ini adalah isu sensor ketimbang masalah di dalam game

Karena tidak punya sensor gyro yang memadai, rasanya Realme C85 Pro lebih cocok untuk permainan non-shooter, misalnya seperti Heartopia yang belakangan ini sedang ramai dibicarakan komunitas gamer.

Permainan farming ini dapat dijalankan cukup nyaman di Realme C85 Pro, selama dimainkan pada pengaturan grafis Low di 60 FPS. Jika ingin pengaturan grafis yang lebih tinggi dari itu, Anda mesti beralih ke ponsel lain dengan chipset lebih kuat dari Snapdragon 685. 

Menariknya, meski tidak difokuskan untuk gaming, Realme C85 Pro dibekali fitur untuk mengatur mode performa (Mode low power, Balanced, dan Pro Gamer). Fitur ini bahkan memungkinkan pengguna membuka floating window dengan cara cepat, cocok untuk yang ingin mengisi voucher Google Play atau browsing tanpa meninggalkan game

Software

Tampilan antarmuka Realme UI 6.0 di Realme C85 Pro.
Tampilan antarmuka Realme UI 6.0 di Realme C85 Pro.

Realme C85 Pro berjalan pada sistem antarmuka Realme UI 6.0 berbasis Android 15. Cukup lawas memang, mengingat sejumlah HP keluaran 2026 lainnya sudah banyak yang memakai Android 16. 

Tampilannya sangat jauh dari stock Android, lantaran memiliki beberapa “bloatware” yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan oleh sebagian besar orang. Meski begitu, antarmuka ini punya tampilan transparan modern seperti iOS 26, terutama saat mengakses panel Quick Settings.

Unit yang kami terima memiliki storage 256 GB dengan RAM 8 GB. Saat pertama kali dibuka, ROM di ponsel ini tercatat memakan penyimpanan sebanyak 26,5 GB. Kami sungguh menyarankan memilih varian ini ketimbang versi 128 GB yang lebih murah, mengingat cukup banyaknya aplikasi prainstal yang disediakan.

Di luar dari aplikasi bawaan dari Google, Realme C85 Pro mencakup sejumlah aplikasi prainstal berupa aplikasi Agoda, Block Blast!, Fineasy, Fitbit, Qpon, Netflix, Prime Video, J&T Express, LinkedIn, TikTok, Spotify, Tomoro Coffee, Booking.com. 

Tampilan antarmuka yang terindikasi memperlihatkan iklan dalam bentuk saran aplikasi.
Tampilan antarmuka yang terindikasi memperlihatkan iklan dalam bentuk saran aplikasi.

Antarmukanya pun dibekali dengan aplikasi bawaan untuk Files dan Photos, alih-alih menggantungkan fungsi pada aplikasi bawaan Google seperti yang sering dilakukan HP Motorola. Pada aplikasi Files, saat memilih “App management”, pengguna akan ditawarkan beberapa “saran aplikasi”. Kurang jelas apakah saran-saran ini masuk ke dalam kategori iklan atau tidak.

Lalu, setiap menginstal aplikasi dari Google Play Store, akan ada tampilan “scanning for virus” yang di bawahnya memperlihatkan saran aplikasi yang serupa. Tampaknya ini adalah upaya Realme untuk menampilkan iklan dengan cara yang lebih subtil.  

Di tengah tren AI yang semakin pesat, Realme tentu tidak mau ketinggalan kesempatan ini. Terdapat sejumlah fitur AI yang bisa dimanfaatkan untuk mempermudah pengguna. Fitur AI Edit Genie yang sempat dibahas di section kamera adalah salah satunya, dapat editing foto langsung dari galeri dengan perintah teks atau suara. Tersedia juga fitur AI Smart Loop sebagai jalan pintas otomatis sesuai konteks pemakaian aplikasi.

Google Gemini AI dan Circle to Search juga ikut disematkan, mampu melakukan pencarian visual serupa Google Lens dengan memilih objek di layar tanpa harus melakukan pencarian secara manual. 

Secara garis besar, software di Realme C85 Pro cantik dan modern dari segi desain, namun jauh dari pengalaman stock Android mengingat adanya iklan dan bloatware di dalamnya. 

Baterai dan pengisian daya

Realme C85 Pro tampaknya memang berfokus pada penggunaan outdoor. Tidak hanya tercermin dari ketahanan bodinya, perangkat ini turut disertai baterai jumbo 7.000 mAh yang berbasis teknologi silikon-karbon.

Pihaknya menyebutkan bahwa Realme C85 Pro bisa tahan hingga 19 jam saat menonton video online, 16 jam chatting, dan 59 jam durasi panggilan telepon. Bahkan ketika baterai tersisa 50 persen, perangkat ini diklaim masih kuat untuk 3 jam navigasi, 1 jam streaming, 1 jam chat, 3 jam mendengarkan musik, 2 jam telepon, dan 2 jam mode siaga. 

Dalam pemakaian kami sehari-hari, Realme C85 Pro memang bisa bertahan hingga 2-3 hari pemakaian saat kondisi ideal. Pada skenario normal, baterainya bisa tahan lebih dari satu hari, dari pagi hari pertama hingga malam di hari kedua saat dipakai gaming, browsing, dan tes kamera.

Pada pengetesan PC Work 3.0 Battery Life, Realme C85 Pro tercatat meraih skor ketahanan selama 17 jam 40 menit. Durasi ini jauh lebih unggul ketimbang Infinix GT 30 (5.500 mAh) yang hanya meraih 10,5 jam. 

Selain unggul di baterai, fitur pengisian di HP ini juga cukup melimpah. Terdapat fast charging 45 W SuperVOOC. Klaim dari Realme, disebutkan bahwa 5 menit pengisian sudah cukup untuk memberikan durasi pemutaran musik 5,9 jam dan pemutaran video selama 1 jam.

Tanpa perlu membeli charger secara terpisah, Realme sudah menyediakan charger dengan daya 45 watt di dalam paket penjualan. Berdasarkan pengujian, pengisian selama 30 menit dapat mengisi baterai dari 1-33 persen. Sementara untuk durasi 60 menit, baterai akan terisi hingga 64 persen. Total keseluruhan durasi charging dari kosong hingga penuh adalah sekitar 1 jam 38 menit. Durasi yang cukup cepat untuk baterai berkapasitas 7.000 mAh. 

Karena ini HP mid-range, tentu Realme tidak menyematkan fitur wireless charging. Akan tetapi, ponsel ini disematkan dengan bypass charging yang dapat mengalirkan daya dari sumber listrik langsung ke mainboard, tanpa melewati baterai sama sekali. 

Kesimpulan

Realme C85 Pro sudah tersedia di Indonesia sejak 28 November 2025 dengan harga rilis Rp 3 juta untuk versi RAM 8 GB/ 128 GB dan Rp 3,3 juta untuk varian RAM 8 GB/ 256 GB. 

Sedari awal, Realme C85 Pro sungguh dirancang untuk keperluan outdoor dan aktivitas ekstrem, ini terlihat jelas dari kehadiran sertifikasi IP69 Pro yang membuatnya tahan di air, serta standar militer MIL-STD-810H yang mengurangi potensi rusak saat terbentur. 

Ponsel ini bakal cocok untuk mereka yang sering bepergian ke tempat perairan, seperti kolam renang, danau, atau di tempat dengan curah hujan tinggi. Akan tetapi, sayangnya, banyak kompromi yang mesti dilakukan untuk membuatnya setahan banting itu.

Pertama, bagian dapur pacunya yang kurang bersaing. Pemakaian chipset Snapdragon 685 di rentang Rp 3 jutaan adalah keputusan yang cukup merugikan dari sisi perspektif gamer. Absennya 5G di rentang harga ini juga membuatnya kurang future-proof

Kedua, meski kameranya bisa menghasilkan foto dengan cukup oke (terlebih dengan mode underwater yang unik), absennya ultrawide juga menjadi kekurangan yang cukup disayangkan. 

Namun di luar dari dua kekurangan ini, Realme C85 Pro punya keunggulan lain selain bodinya yang tahan air, dan itu adalah baterainya yang sangat besar, yakni 7.000 mAh. Keberadaan fitur AI Edit Genie juga sungguh layak diapresiasi karena bisa memodifikasi foto hanya dari perintah suara atau arahan via teks. 

Rating editor: 7 / 10

Kelebihan:

  • Bodi tersertifikasi IP69 Pro, tahan terhadap berbagai jenis air.
  • Memiliki mode fotografi underwater untuk mengambil foto bawah air dengan mudah.
  • Baterai super awet untuk kebutuhan harian, punya kapasitas 7.000 mAh.
  • Layar AMOLED yang cerah.
  • Tampilan antarmuka yang cantik dan modern, turut hadir dengan fitur AI Edit Genie yang intuitive

Kekurangan:

  • Tidak ada sensor giroskop hardware.
  • Tanpa kamera ultrawide
  • Hasil perekaman video kurang stabil dan tidak mendukung resolusi 60 FPS.
realme C85 Pro Harga
Rp. 3.397.000
Pergi Ke Toko
Rp. 3.550.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review Realme C85 Pro: HP Tahan Air Ekstrem di Harga Murah first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-realme-c85-pro-hp-tahan-air-ekstrem-di-harga-murah/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/02/photo_13_2026-02-16_01-02-25-150x150.jpg150150
Review Tecno Spark Go 3: HP Entry-Level yang Nyaman untuk Selfie https://www.91mobiles.com/id/hub/review-tecno-spark-go-3-hp-entry-level-yang-nyaman-untuk-selfie/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-tecno-spark-go-3-hp-entry-level-yang-nyaman-untuk-selfie/#respond Sun, 15 Feb 2026 00:45:55 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=18958 Seri Tecno Spark identik dengan segmen budget dan entry-level. Dalam upaya memperluas portofolio yang terus berkembang, merek ini baru-baru ini meluncurkan Spark Go 3 di Indonesia. Sebagai penerus Spark Go 2, perangkat ini menghadirkan desain yang diperbarui, beragam pilihan warna cerah, dan sangat menekankan pada durability serta kemampuan AI.Dengan harga Rp 1,4 juta, Tecno Spark […]

The post Review Tecno Spark Go 3: HP Entry-Level yang Nyaman untuk Selfie first appeared on Indonesia Blog.

]]>
.perf_test { border-bottom: 1px solid #e0e0e0; padding: 20px 0 20px 0; } .perf_test_wrap { padding: 7px 0 1px; position:relative; } .sortcode-table th:last-child, .sortcode-table td:last-child { border-right: none; } .perf_test_wrap:before { content: ''; background-image: repeating-linear-gradient(to right, #ededed54 0%, #f6f6f6 1px, transparent 1px, transparent 9.6%); position: absolute; left: 12%; top: 0; height: 100%; width: 100%; z-index: 1; } .pref-row { display: flex; align-items: flex-start; justify-content: space-between; background-image: repeating-linear-gradient(to right, black 1px, /* Line color & thickness */ transparent 1px 50px); z-index: 2; position: relative; margin: 3px 0; } .perf-img { flex: 0 0 10%; margin: 1px 10px 0 0; height: 38px; } .td-pb-span12 .perf-img { flex: 0 0 9.5%; } .perf-box { flex: 1; max-width: 100%; overflow: hidden; } .perf-num { flex: 0 0 20%; font-size: 16px; text-align: right; font-weight:normal; line-height: 25px; } .td-pb-span12 .perf-num { flex: 0 0 23%; } .perf-img img { max-width: 100%; border-radius: 0; max-height: 100% } .perf-meter { position: relative; font-size: 14px; font-weight: 400; height:20px; display: flex; align-items: center; } span.pref_meterbar { position: absolute !important; background: #ccc; height: 22px; width: 100%; left: 0; z-index: -1; border-radius: 2px; } .perf-meter span { margin: 9px 0 0; position: relative; width: 100%; padding: 0 6px; white-space: nowrap; text-overflow: ellipsis; overflow: hidden; color:#000000; } .perf-meter.thisphone span:first-child { font-weight: 600; } .thisphone .pref_meterbar { background: #FF9352; } .thisphone .perf-meter { color: #fff; } .perf-val { font-size: 12px; color: #7c7c7c; margin: 2px 0 10px; display: flex; align-items: center; font-weight:normal; } .perf_desc { text-align: center; font-size: 14px; margin-bottom: 30px; margin-bottom: 10px; } .greytxt { font-size: 14px; color: #777; line-height: 18px; display: block; } .perf_test_wrap .sprite-icn { background: url(https://www.91-cdn.com/images/hub/sort-code-widget-sprite.svg); background-repeat: no-repeat; } .sprite-icn.battery { background-position: 0px -16px; width: 19px; height: 15px; display: inline-block; } .sprite-icn.processor { background-position: 1px 1px; width: 19px; height: 17px; display: inline-block; } .sprite-icn.cam { background-position: 0 -31px; width: 19px; height: 11px; display: inline-block; } .perf-num.thisphone { font-weight: bold; } .td-container perf-img { flex: 0 0 8%; } .sortcode-container { width: 100%; overflow: auto; } .sortcode-table { width: 100%; background: #fff; text-align: left; border: solid 1px #e4e0e0; border-bottom: none; border-radius: 8px; border-collapse: unset; overflow: hidden; border-collapse: separate; } .sortcode-table th, .sortcode-table td { border: none; padding: 8px 12px; line-height: 20px; border-bottom: solid 1px #d4d4d4; border-right: solid 1px #d4d4d4; min-width:120px; font-size:16px; } .sortcode-table thead { background-color: #FFECDE; font-weight: bold; height:48px; } .sortcode-table th { text-align: center; font-size: 16px; line-height: 20px; } @media only screen and (min-width : 1025px) { .perf_test { padding-top: 0px; overflow: hidden; } .perf-img { flex: 0 0 10%; margin: -2px 7px 0 0; height: 50px; width: 46px; } .perf-img img { max-height: 100%; max-width: 100%; } .perf-num { flex: 0 0 9%; margin: -2px 0 0 16px; line-height: 25px; } .perf-val { font-size: 14px; margin-top: 7px; } .perf_test_wrap:before { left: 70px; } .td-pb-span12 .perf_test_wrap:before { left: 70px; } span.pref_meterbar{ height: 28px; } .pref-row { margin:13px 50px 0 0; } .perf_test_wrap:before { background-image: repeating-linear-gradient(to right, #ededed87 0%, #f6f6f6 1px, transparent 1px, transparent 9%); margin: 3px 60px 0 0; } .perf_desc { margin-top: 22px; } .perf-meter { font-size: 16px; } .greytxt { font-size: 16px; line-height: 22px; } .td-pb-span12 .perf-img { flex: 0 0 6.3%; margin: -2px 5px 0 0; } .td-pb-span12 .perf-num { flex: 0 0 16%; line-height: 28px; } .sortcode-table th, .sortcode-table td { padding: 12px 12px; } }

Seri Tecno Spark identik dengan segmen budget dan entry-level. Dalam upaya memperluas portofolio yang terus berkembang, merek ini baru-baru ini meluncurkan Spark Go 3 di Indonesia. Sebagai penerus Spark Go 2, perangkat ini menghadirkan desain yang diperbarui, beragam pilihan warna cerah, dan sangat menekankan pada durability serta kemampuan AI.

Dengan harga Rp 1,4 juta, Tecno Spark Go 3 menawarkan segudang kelebihan tanpa membuat kantong jebol. Jadi, apakah ia memiliki apa yang dibutuhkan untuk menjadi smartphone entry-level yang ideal bagi banyak orang? Cari tahu dalam ulasan mendalam ini.

Kesimpulan awal

Tecno Spark Go 3 adalah pilihan yang cocok bagi mereka yang menginginkan hasil selfie yang layak, asisten AI multi-bahasa, dan battery life yang bertahan sehari atau lebih, terbungkus dalam build yang kokoh. Namun, ponsel ini kalah dalam performa dibandingkan dengan yang lain dan tidak mendukung 5G.

Sangat menekankan pada build yang kokoh

Tecno Spark Go 3 design
Sama seperti smartphone lain di segmennya, Tecno Spark Go 3 mengusung build polikarbonat terpadu dengan struktur boxy. Meskipun kami menerima ponsel dengan warna Ink Blade, Spark Go 3 juga tersedia dalam warna Aurora Purple, Galaxy Blue, dan Titanium Grey. Untuk memberikan sentuhan desain yang khas, housing kamera berbentuk pil yang sejajar di kiri berada di dalam potongan persegi panjang yang menampilkan warna berbeda dari bagian bodi lainnya.

Panel belakang reflektif dengan matte finish tidak terlalu grippy, sehingga kurang nyaman digunakan dengan satu tangan. Tecno sangat menekankan pada durability, dengan IP64 rating untuk perlindungan terhadap debu dan paparan air serta ketahanan jatuh hingga 1,2 meter. Kotak ponsel juga dilengkapi case bertekstur dan berpola untuk kenyamanan yang lebih baik. Meskipun demikian, Spark Go 3 tidak terlalu compact, tetapi sebagian besar ponsel di kisaran harga ini juga memang tidak.

Tecno Spark Go 3 SIM card
The Tecno Spark Go 3 supports dual SIM cards and a dedicated microSD card slot.

Layar lebar untuk kebutuhan hiburan Anda

Tecno Spark Go 3 mengusung display IPS LCD 6.74 inci dengan resolusi HD+ (720 x 1600 pixels) dan refresh rate hingga 120Hz. Display ini juga memiliki dew-drop notch cutout untuk menampung 8MP selfie shooter. Sama seperti Infinix Smart 10 (review), detail layar condong biasa saja tetapi setara dengan yang lain di segmennya. Mengejutkannya, video YouTube maksimal pada 720p di Tecno Spark Go 3, sementara Smart 10 dapat menghasilkan kualitas 1080p meskipun memiliki panel 720p yang serupa.

Tecno Spark Go 3 display
Mengenai colour output, meskipun tidak ada pengaturan untuk menyesuaikan colour tuning display, visualnya terlihat cukup berwarna secara default. Demikian pula, maximum brightness cukup baik untuk skenario dalam ruangan, sementara di luar ruangan, Anda mungkin mengalami kesulitan melihat konten di layar.

Karena ponsel ini dilengkapi dengan single top-firing speaker, Anda tidak mendapatkan pengalaman audio yang immersive, tetapi yang Anda dapatkan adalah sound output yang keras, meskipun kualitasnya cenderung teredam pada tingkat volume yang lebih tinggi.

Performanya mungkin membuat Anda menginginkan lebih

Di dalam Tecno Spark Go 3 terdapat Unisoc T7250, yang dipadukan dengan 4GB LPDDR4X dan 64GB eMMC 5.1 internal storage. Ponsel ini hanya hadir dalam satu varian memori. Ini adalah processor yang tidak mendukung 5G, namun cukup dimaklumi lantaran HP entry-level di Indonesia pada umumnya memang hanya mentok di 4G. 

Tecno Spark Go 3 display (1)

Meskipun banyak app dibatasi pada 90Hz, Anda dapat mengharapkan tingkat performance yang layak dari Spark Go 3 untuk penggunaan sehari-hari, kecuali Anda membebani ponsel dengan membuka banyak app. Membuka atau menutup app, menarik notification shade, atau memanggil halaman recents app, ponsel ini dapat melakukan tugasnya untuk pengguna kasual.

Kami juga mencoba memainkan beberapa game di Tecno Spark Go 3, seperti Call of Duty: Mobile dan BGMI (PUBG Mobile versi India) masing-masing selama 30 menit. Dalam graphical settings ‘Medium + High’ di CODM, game dapat dimainkan dengan sedikit stutter, sementara dalam settings ‘Balanced + Medium’ BGMI, ponsel ini menghasilkan sekitar 35 FPS. Setelah durasi 30 menit, kedua game mengakibatkan penurunan battery sebesar 7 persen.

Mengenai benchmark, processor Unisoc T7250 mungkin tidak menawarkan raw performance terbaik di luar sana dibandingkan dengan pesaing terdekatnya.

Skor AnTuTu
Tecno Spark Go 3
Unisoc T7250
374,119
AnTuTu menilai CPU, GPU, memori, dan pengalaman pengguna ponsel pintar secara keseluruhan (lebih tinggi lebih baik)
Skor Geekbench Multi-Core
Tecno Spark Go 3
Unisoc T7250
1,361
Geekbench menilai efisiensi inti tunggal (single core) dan banyak inti (multi core) pada CPU (lebih tinggi lebih baik)

Software kaya fitur dengan penekanan halus pada AI

Sisi software ditangani oleh custom skin Tecno, HiOS 15.1, yang berbasis Android 15. Karena ponsel ini dijadwalkan hanya menerima satu OS upgrade, saya berharap Spark Go 3 sudah menggunakan Android 16 sejak awal. Meskipun Anda mendapatkan banyak pre-installed apps, sebagian besar dapat dihapus untuk pengalaman yang bebas dari bloatware.

Ponsel PintarAplikasi Pra-instal Dukungan Perangkat Lunak
Tecno Spark Go 348NA

Sebagai bagian dari Tecno AI, sorotan utama software ini berpusat pada Ella AI. Ini adalah AI assistant internal Tecno, yang dapat Anda ajak berbicara dalam beberapa bahasa daerah, termasuk Hindi, Marathi, Gujarati, Tamil, dan Bengali. Selain itu, ada Writing Assistant untuk membantu Anda membuat atau meringkas teks di area input teks mana pun, yang sangat dihargai untuk smartphone di bawah Rp 2 jutaan.

Tecno Spark Go 3 software features
Dalam hal fitur, Anda mendapatkan Dynamic Port, versi Dynamic Island dari HiOS, yang menampilkan informasi real-time dalam interface mirip notch di dalam status bar, seperti status timer atau stopwatch, pemutaran musik, dan lainnya. Anda juga mendapatkan Outdoor volume booster yang memaksimalkan pitch sound output. Lalu ada juga Always on Display, yang tetap menyala selama beberapa detik saat mengetuk display.

Kamera belakang lumayan, tapi selfie bersinar

Tecno Spark Go 3 camera
Tecno Spark Go 3 memiliki single 13MP primary rear camera, sementara kamera depannya adalah 8MP shooter. Untuk perekaman video, kedua kamera mampu merekam hingga resolusi 2K 30FPS. Karena ini adalah camera sensor entry-level, Anda dapat mengharapkan beberapa hasil yang dapat digunakan saat mengambil daylight shots, kecuali Anda melakukan zoom ke gambar untuk mencari detail.

Meskipun kamera utama secara realistis menggambarkan adegan sebenarnya, sebagian besar bidikan yang diambil dalam pencahayaan baik memiliki grain yang terlihat, kemungkinan karena ukuran sensor yang kecil. Dynamic range juga tidak konsisten, tetapi hasil keseluruhannya layak untuk ponsel yang dijual di bawah Rp 2 juta. Dalam night shots, exposure control bukan yang terbaik, sementara sebagian besar detail dan tepi terlihat lembut. Mengejutkannya, Spark Go 3 adalah performer di atas rata-rata dalam selfie, setidaknya dalam pencahayaan luar ruangan yang baik.

Sekarang, mari kita bandingkan kamera Tecno Spark Go 3 dengan iQOO Z10 Lite:

Daylight

Before image
Tecno Spark Go 3
After image
iQOO Z10 Lite

Dalam perbandingan daylight di atas, meskipun kedua ponsel gagal memberikan output yang netral, bidikan Tecno Spark Go 3 terlihat memiliki colours yang pudar dan banyak noise artefacts. iQOO Z10 Lite telah menghasilkan output yang ideal dengan mempertahankan contrast tones dan dynamic range yang lebih baik.

Portrait

Before image
Tecno Spark Go 3
After image
iQOO Z10 Lite

Dalam portrait, iQOO Z10 Lite menghasilkan tampilan keputihan pada wajah, yang juga membuat colours jaket terlihat tidak realistis. Namun, saat melakukan zoom, Tecno Spark Go 3 tidak menghasilkan detail dan edge detection pada level yang sama dengan iQOO Z10 Lite.

Selfie

Before image
Tecno Spark Go 3
After image
iQOO Z10 Lite

Tecno Spark Go 3 menghasilkan selfie output yang cerah dan hangat, menghasilkan representasi yang lebih baik dari adegan sebenarnya. iQOO Z10 Lite, di sisi lain, kurang dalam detail, dan dynamic range tidak sebaik Spark Go 3.

Night mode

Before image
Tecno Spark Go 3
After image
iQOO Z10 Lite

Meskipun kedua ponsel kesulitan di malam hari, iQOO Z10 Lite sedikit unggul dengan menawarkan exposure control yang lebih baik terhadap sumber cahaya. Bidikan Tecno Spark Go 3 mengandung banyak noise dan menghasilkan detail yang lembut.

Daya tahan battery yang hebat

Dengan processor yang efisien dan display yang tidak perlu mendorong resolusi tinggi, battery 5,000mAh Tecno Spark Go 3 mampu memberikan daya tahan yang layak. Dalam PCMark battery drain test kami, ponsel ini mencatat lebih dari 14 jam 30 menit runtime dari 100 hingga 20 persen. Tes khusus ini meniru penggunaan smartphone di dunia nyata dengan menjalankan tugas-tugas seperti membuka dan melihat dokumen dan spreadsheet, memutar video, web browsing, dan lainnya.

Skor Baterai PCMark (dalam jam)
Tecno Spark Go 3
5000 mAh
14.6
Uji baterai PCMark mengukur masa pakai baterai ponsel dari 100% ke 20% (lebih tinggi lebih baik)

Ketika datang untuk mengisi ulang battery 5,000mAh, charger 10W yang ada di dalam kotak mengisi daya perangkat dari 20 persen hingga penuh dalam 2 jam 26 menit dalam salah satu charging test kami.

Tecno Spark Go 3 charging test

Putusan Akhir: Apakah Tecno Spark Go 3 layak dipertimbangkan di harga Rp 1 jutaan?

Dengan harga Rp 1.399.000, Tecno Spark Go 3 berpotensi menjadi salah satu pilihan utama bagi mereka yang beralih dari feature phone atau smartphone generasi lama. Display-nya yang besar, dikombinasikan dengan battery life yang kuat, seharusnya dapat memenuhi kebutuhan hiburan bagi sebagian besar pengguna, sementara desain bersertifikasi IP64 dan drop protection memastikan bahwa kerusakan yang tidak disengaja diminimalkan dalam penggunaan sehari-hari.

Tecno Spark Go 3 design

Meskipun rear camera masih banyak yang perlu ditingkatkan, kamera depannya adalah tergolong layak selama penggunaan kami, dengan hasil foto yang cerah. Bukan itu saja, dalam penggunaan sehari-hari, Spark Go 3 adalah performer yang cepat, membuat perangkat ini layak dipertimbangkan.

Rating Editor: 7.7/10

Alasan untuk membeli Tecno Spark Go 3

  • Menghadirkan desain bersertifikasi IP64 yang durable dengan drop protection.
  • Menghasilkan selfie yang cerah dalam pencahayaan luar ruangan yang baik.
  • Dilengkapi dengan beberapa fitur AI tingkat sistem, seperti Ella AI, voice assistant, dan AI writing tools.
  • Baterai tahan lama.

Alasan untuk tidak membeli Tecno Spark Go 3

  • Performance kalah dibandingkan dengan para pesaingnya.
  • Tidak dilengkapi dengan Android 16 terbaru sejak awal.
Tecno Spark Go 3 Harga
Rp. 1.667.000
Pergi Ke Toko
Rp. 1.755.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review Tecno Spark Go 3: HP Entry-Level yang Nyaman untuk Selfie first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-tecno-spark-go-3-hp-entry-level-yang-nyaman-untuk-selfie/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/02/Tecno-Spark-Go-3-design-e1770728182629-150x150.jpg150150
Review Moto G57 Power: Ponsel Murah dengan Baterai Awet https://www.91mobiles.com/id/hub/review-moto-g57-power-ponsel-murah-dengan-baterai-awet/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-moto-g57-power-ponsel-murah-dengan-baterai-awet/#respond Mon, 19 Jan 2026 03:57:28 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=18016 Persaingan smartphone di kelas menengah kembali diramaikan dengan produk terbaru dari Motorola. Pasalnya, pabrikan ponsel asal AS ini telah merilis Moto G57 Power di Indonesia, menyasar harga Rp 3 juta.Sesuai namanya, smartphone ini berfokus pada daya tahan baterai yang awet, serta tampilan bodi yang indah dan elegan. Perangkat ini menghadirkan kamera berkualitas untuk kelas harganya, berikut dengan […]

The post Review Moto G57 Power: Ponsel Murah dengan Baterai Awet first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Persaingan smartphone di kelas menengah kembali diramaikan dengan produk terbaru dari Motorola. Pasalnya, pabrikan ponsel asal AS ini telah merilis Moto G57 Power di Indonesia, menyasar harga Rp 3 juta.

Sesuai namanya, smartphone ini berfokus pada daya tahan baterai yang awet, serta tampilan bodi yang indah dan elegan. Perangkat ini menghadirkan kamera berkualitas untuk kelas harganya, berikut dengan performa chipset mumpuni untuk kebutuhan harian.

Uniknya, Moto G57 Power ini punya harga dan spesifikasi tak beda jauh dengan ponsel Motorola lainnya yang lebih dulu rilis, Moto G67 Power. Satu perbedaan besar dari dua HP ini adalah chipset-nya. Kini Moto G57 Power memakai Snapdragon 6s Gen 4 yang setingkat lebih rendah dari Snapdragon 7s Gen 2 pada Moto G67 Power. 

Moto G67 Power dibanderol harga rilis Rp 3,1 juta, sementara Moto G57 Power dijual dengan harga Rp 2,9 jutaan. Melihat perbandingan dua harga yang setipis tisu ini, rasanya menarik untuk mencari tahu apa saja yang ditawarkan Moto G57 Power ini. 

Kesimpulan awal

Moto G57 Power cocok untuk pengguna yang memprioritaskan daya tahan baterai sebaik mungkin, hasil kamera dengan detail tinggi, dan layar besar dan cerah untuk konsumsi konten dan gaming. Bodi ponsel ini dilengkapi desain vegan leather yang tampil berbeda. Di luar itu semua, dukungan software yang terbatas membuatnya kurang menarik untuk dilirik. 

Desain vegan leather yang unik

Sejak pertama digenggam, Moto G57 Power terasa sedikit lebih bongsor dibandingkan sejumlah pesaing di kelasnya. Mengingat ponsel ini dibekali baterai 7.000 mAh, bobot 210 gram dan ketebalan 8,6 mm masih terbilang masuk akal. Sisi positifnya, panel belakangnya yang berbahan vegan leather terasa nyaman di tangan, sementara modul kamera yang menonjol bisa menjadi sandaran jari telunjuk saat ponsel digunakan dengan satu tangan.

Moto G57 Power

Pada unit yang diterima 91Mobiles, kami mendapatkan Moto G57 Power dengan warna Pantone Regatta. Ponsel ini juga tersedia dalam dua opsi warna lain yaitu Pantone Corsair dan Pantone Fluidity. Untuk ketahanan, perangkat ini sudah mengantongi sertifikasi MIL-STD-810H guna menahan benturan akibat jatuh atau terbentur, serta rating IP64 yang melindunginya dari cipratan air ringan.

Layarnya dilapisi Corning Gorilla Glass 7i yang sama pada G67 Power. Motorola tidak menyertakan screen protector bawaan maupun case di dalam paket penjualan.

Pengguna yang masih mengandalkan audio kabel tentu akan senang, karena Moto G57 Power tetap menyediakan jack headphone 3,5mm di bagian bawah. Meski kami belum sempat menguji kualitas audio kabelnya, speaker stereo dengan dukungan Dolby Atmos mampu menghadirkan suara yang lantang dan cukup imersif, meski karakter bass-nya terasa minim.

Layar IPS LCD yang besar, cerah, dan tajam

Di bagian depan, Moto G57 Power mengusung layar IPS LCD berukuran 6,72 inci beresolusi Full HD Plus (2.400 × 1.080 piksel) dengan tingkat kecerahan hingga 1.050 nits. Karena sudah mengantongi rating IP64, layar ponsel ini juga dirancang agar tetap responsif saat disentuh dengan jari basah. Namun, seperti kebanyakan layar LCD di segmen ponsel murah dan menengah, Anda harus rela kehilangan warna hitam yang pekat dan kontras tinggi jika sebelumnya terbiasa menggunakan ponsel dengan panel AMOLED.

Layar Moto G57 Power.
Layar Moto G57 Power.

Dari sisi warna dan saturasi, tampilannya tergolong pas untuk ukuran layar IPS LCD. Artinya, pengalaman visual saat menonton film, series, atau video YouTube tetap terlihat hidup dan tidak terasa hambar. Mirip dengan Moto G67 Power, tingkat kecerahan layar sudah cukup nyaman untuk penggunaan di dalam ruangan, meski keterbacaan layar sedikit menurun saat dipakai di luar ruangan di bawah sinar matahari. Hal lain yang patut diapresiasi, Motorola memungkinkan pengguna memaksa refresh rate 120 Hz di sebagian besar aplikasi melalui pengaturan “Hyper Smooth” (kecuali saat memutar video, yang masih tergolong wajar).

Satu keluhan utama pada layar Moto G57 Power ada pada bezel bawah atau chin yang terlihat lebih tebal dibanding ponsel lain di kelas harga yang sama, sehingga sedikit mengurangi kesan visual secara keseluruhan.

Baterai jumbo yang benar-benar memuaskan

Sesuai namanya, Moto G57 Power dibekali baterai silikon-karbon berkapasitas sangat besar, yakni 7.000mAh. Kapasitas ini layak mendapat apresiasi karena nyaris tidak menyisakan keluhan soal daya tahan. Selama masa pengujian, sisa baterai selalu berada di atas 40 persen setelah pemakaian selama 24 hingga 25 jam. Pada salah satu pengujian, ponsel ini bahkan mampu mencatatkan waktu layar menyala sekitar 9 jam dalam 24 jam penggunaan, dengan sisa baterai masih 43 persen.

Perlu dicatat, sesi pengujian tersebut hanya mencakup 28 menit bermain game. Konsumsi baterai lebih banyak dihabiskan untuk scrolling Instagram, menonton film di Prime Video, chatting lewat WhatsApp dan Telegram, mendengarkan musik di Spotify, serta browsing. Selama pengujian, koneksi Wi-Fi, data 5G, Bluetooth, dan Location terus aktif. Untuk detail penggunaan aplikasi, Anda bisa melihat data pada slide kedua di bawah.

Meski mengusung baterai besar, charger bawaan 33 watt mampu mengisi daya baterai 7.000 mAh dari 20 hingga 100 persen dalam waktu sekitar 73 menit berdasarkan pengujian internal. Waktu ini hampir sama dengan yang dicapai Moto G67 Power saat diuji lebih dari sebulan lalu. 

Performa yang bisa diandalkan untuk aktivitas sehari-hari

Moto G57 Power menjadi smartphone pertama di dunia yang ditenagai SoC Qualcomm Snapdragon 6s Gen 4. Chipset ini dibuat dengan proses fabrikasi 4nm dan memiliki kecepatan clock hingga 2,4 GHz. Karena hanya tersedia dalam satu varian memori, ponsel ini dibekali RAM 8 GB LPDDR4X serta penyimpanan internal 128 GB berbasis UFS 2.2, tanpa dukungan ekspansi memori.

Dalam penggunaan sehari-hari, perbedaan performa antara Snapdragon 6s Gen 4 dan Snapdragon 7s Gen 2 yang digunakan Moto G67 Power terasa sangat tipis. Chipset yang lebih rendah ini tetap mampu menjalankan berbagai aktivitas harian dengan lancar, dan secara pribadi kami tidak merasa kehilangan performa meski harga ponsel ini lebih murah. Aplikasi yang berjalan maupun di latar belakang serta panel notifikasi terbuka dengan mulus, meskipun sesekali ponsel bisa menunjukkan sedikit stutter saat RAM dipenuhi banyak aplikasi sekaligus.

Untuk menguji kemampuan gaming, saya juga mencoba beberapa game populer seperti Call of Duty Mobile (COD M) dan Battlegrounds Mobile India (BGMI/PUBG Mobile versi India). Saat memainkan mode battle royale BGMI dengan pengaturan grafis “HD + High” selama sekitar 30 menit, ponsel ini mencatat rata-rata frame rate 29,6 FPS, dengan suhu maksimal mencapai 34 derajat Celsius.

Sementara itu di COD Mobile, Moto G57 Power mampu menjalankan mode Multiplayer hingga 90 FPS pada pengaturan grafis terendah. Berdasarkan data permainan selama 20 menit nonstop yang mencakup tiga pertandingan, ponsel ini menghasilkan rata-rata 88 FPS di akhir sesi.

Meski Snapdragon 6s Gen 4 tidak bisa menyamai performa murni dari chipset populer seperti MediaTek Dimensity 7400, chipset ini tetap tergolong andal. Tenaganya sudah lebih dari cukup untuk menjalankan game dengan pengaturan grafis rendah hingga menengah secara nyaman. Di Geekbench 6, Moto G57 Power mendapatkan skor 1.015 poin di single-core dan 2.931 poin di multi-core

Perbandingan skor AnTuTu v11
Perbandingan skor AnTuTu v11

Hasil kamera siang hari yang realistis dan tajam

  • Kamera utama: 50MP 1/2 inci LYTIA 600, aperture f/1.8
  • Ultrawide: 8 MP
  • Kamera depan: 8 MP
  • Perekaman video: hingga 2K 30FPS (depan dan belakang)

Kamera utama Moto G57 Power tergolong bisa diandalkan di kelas harganya. Pemilihan sensor berukuran 1/2 inci dengan aperture f/1.8 terbukti membantu menghasilkan foto yang cukup detail untuk ponsel seharga Rp 2 jutaan. Bahkan, hasil foto dengan zoom digital 2x masih terlihat layak digunakan. Dari sisi karakter warna, Moto G57 Power cenderung menampilkan warna yang natural tanpa dibuat terlalu mencolok.

Rentang dinamisnya secara umum sudah tergolong baik, meski ponsel ini terkadang kesulitan mengangkat detail dan highlight di area gelap atau bayangan. Ini menjadi satu-satunya catatan utama pada kamera belakang, dan untungnya tidak selalu muncul di setiap foto. Beralih ke kamera ultrawide, fungsinya sebatas menangkap sudut pandang yang lebih luas. Saat foto diperbesar, detail terlihat cepat hilang, dan reproduksi warnanya juga kerap tidak konsisten jika dibandingkan dengan kamera utama.

Foto siang hari

Dalam kondisi pencahayaan siang hari, kamera Moto G57 Power masih menunjukkan keterbatasan dalam menjaga kontras warna. Meski begitu, hasil fotonya tetap terlihat cukup seimbang dengan detail yang baik dan rentang dinamis yang memadai. Karakter gambar yang dihasilkan juga tampak realistis, tanpa warna yang dibuat terlalu berlebihan.

Mode portrait

Saat menggunakan mode potret, Moto G57 Power mampu menampilkan warna kulit yang mendekati aslinya. Efek blur latar belakang terlihat rapi, dengan pemisahan objek dan latar yang cukup akurat. Detail pada subjek juga masih terjaga dengan baik, terutama di area wajah.

Selfie

Hasil foto selfie dari Moto G57 Power cenderung memiliki tone warna yang lebih sejuk. Dalam kondisi cuaca mendung sekalipun, warna kulit tetap terlihat natural dan tidak berlebihan. Detail pada wajah maupun pakaian juga tampak tajam, membuat kamera depan ini cukup bisa diandalkan untuk kebutuhan foto kasual atau media sosial.

Low light

Di kondisi minim cahaya, hasil foto dari Moto G57 Power terlihat relatif bersih dan tidak terlalu berkabut. Pengaturan eksposurnya cukup baik dalam menangani sumber cahaya di sekitar, meski detail foto masih tergolong terbatas. Meski demikian, ketajaman gambar masih berada di level yang cukup memuaskan untuk kelas harganya.

Night mode

Dengan mode malam aktif, kamera Moto G57 Power mampu meningkatkan kontrol eksposur dan menjaga detail foto dengan lebih baik. Noise masih ada, namun tidak terlalu mengganggu, sehingga hasil foto malam terlihat lebih seimbang dan enak dipandang dibandingkan foto tanpa night mode.

Software fungsional, tapi dukungan OS terbatas

Moto G57 Power menjalankan Android versi terbaru dari Google, yakni Android 16 dengan antarmuka Hello UI. Tampilannya terkesan sederhana, namun tetap dibekali berbagai fitur canggih dan berguna. Beberapa ciri khas Motorola tetap hadir, seperti gesture “karate chop” untuk menyalakan senter dan gerakan memutar cepat untuk membuka kamera. Selain itu, ada fitur Smart Connect untuk menghubungkan ponsel ke PC, sidebar, kontrol media saat layar mati, peek display, dan berbagai fitur lainnya.

Moto G57 Power punya fitur software yang mirip dengan Moto G67 Power.
Moto G57 Power punya fitur software yang mirip dengan Moto G67 Power.

Dari sisi pengalaman penggunaan, fitur yang ditawarkan Moto G57 Power pada dasarnya mirip dengan Moto G67 Power. Animasi buka-tutup aplikasi dari Home Screen serta saat menarik panel notifikasi kini terasa lebih mulus ketimbang Android 15. Meski begitu, aspek kustomisasinya masih bisa dibenahi lebih lanjut, misalnya dengan menambah variasi gaya jam di Lock Screen. Saat ini, opsi personalisasi yang tersedia masih standar, seperti pilihan bentuk ikon aplikasi, tema warna aksen, serta dua opsi tampilan Control Center.

Soal pembaruan software, Moto G57 Power hanya dijanjikan satu kali pembaruan OS utama, yaitu hingga Android 17, serta tiga tahun pembaruan keamanan. Di sisi lain, beberapa ponsel pesaing sudah menjanjikan dua kali pembaruan OS. 

Kesimpulan: Apakah Moto G57 Power layak dibeli di harga Rp 2.999.000?

Moto G57 Power menjadi pilihan yang sangat menarik bagi pengguna yang mengutamakan daya tahan baterai. Dengan kapasitas 7.000 mAh, ponsel ini mampu bertahan lebih dari dua hari untuk penggunaan kasual, termasuk bermain game dan pemakaian data 5G yang intensif.

Di luar baterai, Moto G57 Power juga tampil solid di banyak aspek lain, mulai dari kamera utama yang mampu menghasilkan foto siang hari yang realistis dan detail, layar LCD Full HD Plus yang lega dan cerah, hingga performa yang mulus berkat chipset Snapdragon 6s Gen 4.

Namun, dengan jaminan pembaruan OS utama yang hanya satu tahun, ponsel ini mungkin kurang ideal bagi pengguna yang ingin memakainya dalam jangka panjang agar tetap relevan. Selain itu, bodinya tergolong cukup besar dan berat.

Jika dibandingkan langsung dengan Moto G67 Power, perbedaan pengalaman penggunaan sehari-hari sebenarnya sangat tipis. Moto G67 Power memang sedikit unggul dalam hasil kamera yang lebih tajam berkat ISP yang lebih mumpuni, serta peningkatan performa yang tipis. Namun selisihnya tidak signifikan. Moto G57 Power pada akhirnya menawarkan pengalaman yang hampir serupa dengan harga yang sedikit lebih terjangkau.

Rating editor: 8,2 / 10

Alasan membeli Moto G57 Power:

  • Ketahanan baterai luar biasa, mencapai dua hari pemakaian.
  • Desain vegan leather yang unik di antara ponsel lain yang memakai plasik polikarbonat.
  • Performa nyaris tidak lagging sama sekali saat pemakaian sehari-hari, mayoritas judul game lancar dimainkan di pengaturan grafis rendah ke sedang.
  • Hasil kamera natural dengan detail yang cukup baik di kelas harganya. 
Moto G57 Power Harga
Rp. 3.090.000
Pergi Ke Toko
Rp. 3.118.900
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review Moto G57 Power: Ponsel Murah dengan Baterai Awet first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-moto-g57-power-ponsel-murah-dengan-baterai-awet/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2026/01/Moto-G57-Power-review-150x150.jpg150150
Review Vivo V60 Lite 5G: HP Ramping Cocok untuk Main dan Motret https://www.91mobiles.com/id/hub/review-vivo-v60-lite-5g-hp-ramping-cocok-untuk-main-dan-motret/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-vivo-v60-lite-5g-hp-ramping-cocok-untuk-main-dan-motret/#respond Wed, 17 Dec 2025 04:16:25 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=16847 Vivo V60 Lite series hadir perdana di Indonesia pada 2 Oktober kemarin sebagai versi lebih terjangkau dari Vivo V60 standar. Ponsel ini dimaksudkan sebagai sarana fotografi layak di kelas menengah, membawakan sederet peningkatan ketimbang Vivo V50 Lite yang rilis lebih dulu pada April lalu.Dibandingkan V60 Lite varian 4G, versi 5G ini lebih layak didapatkan bukan hanya […]

The post Review Vivo V60 Lite 5G: HP Ramping Cocok untuk Main dan Motret first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Vivo V60 Lite series hadir perdana di Indonesia pada 2 Oktober kemarin sebagai versi lebih terjangkau dari Vivo V60 standar. Ponsel ini dimaksudkan sebagai sarana fotografi layak di kelas menengah, membawakan sederet peningkatan ketimbang Vivo V50 Lite yang rilis lebih dulu pada April lalu.

Dibandingkan V60 Lite varian 4G, versi 5G ini lebih layak didapatkan bukan hanya karena dukungan jaringan selulernya, melainkan karena kinerjanya yang lebih gesit. Lalu, meski sudah tidak lagi dibekali telefoto seperti Vivo V60 standar, ada satu hal dari V60 Lite 5G yang justru menjadikannya lebih unggul.

Vivo V60 Lite 5G ini mengusung chipset menengah Dimensity 7360 Turbo dari MediaTek, baterai Si/C 6.500 mAh beserta fast charging 90 watt, serta bodi yang super tipis sekaligus tahan banting. Meski beberapa fiturnya meningkat, V60 Lite 5G sayangnya mengalami kenaikan harga dibandingkan V50 Lite 5G, dari Rp 4,6 juta menjadi Rp 5 juta.

Vivo V60 Lite 5G tampaknya punya sejumlah “PR” untuk membuktikan bahwa dirinya layak dihargai lebih mahal. Maka dari itu, review kali ini akan membahas seluk-beluk Vivo V60 Lite 5G, seperti kinerjanya, kemampuan kameranya, dan lain sebagainya untuk menguji kelayakannya di persaingan ponsel mid-range Tanah Air. Simak berikut ini.

Kesimpulan awal

Karena ini adalah HP besutan Vivo, jelas desain bodi V60 Lite 5G menjadi salah satu daya tariknya. Selain cantik, bodinya sangat ramping sehingga mudah dioperasikan dalam waktu lama. Ketahanannya yang solid berkat sertifikasi MIL-STD-810H juga turut membuatnya lebih cocok untuk pemakaian jangka panjang. Meski tipis, baterainya cukup besar di angka 6.500 mAh, siap memberikan pasokan daya agar menyala seharian penuh. 

Performa Vivo V60 Lite 5G tidak dapat dikategorikan buruk, namun memang kalah saing dengan sejumlah rival di harga yang sama. Game populer seperti Genshin Impact setidaknya masih nyaman dimainkan di HP ini. Di tangan orang yang tepat, kami percaya V60 Lite 5G bisa menjadi sarana fotografi yang layak kendati ada sedikit kejanggalan dalam proses mengambil gambar. Namun, overall, hasil foto-fotonya tetap bagus dan sesuai dengan harganya. 

Desain: Stylish dan tahan banting

Bodi belakang Vivo V60 Lite 5G.

Jika dilihat secara sekilas, rasanya tak heran jika Vivo V60 Lite 5G dikira sebagai iPhone 17 standar. Bukan tanpa sebab, modul kameranya yang berbentuk pil dengan dua lensa besar memang membuatnya sedikit mirip dengan sang flagship bergengsi tersebut. 

Meskipun begitu, V60 Lite 5G sebenarnya masih lebih mirip dengan Vivo V60 standar ketimbang iPhone, hanya saja kini tidak dihiasi logo Zeiss di modul kameranya. Pada review Vivo V60, kami sempat bilang bahwa logo tersebut sungguh mencolok karena punya warna biru pekat, tidak selaras dengan keseluruhan warnanya yang soft. Sekarang, Vivo V60 Lite 5G tampak lebih minimalis tanpa ada aksen visual yang mengganggu. 

Kini tidak ada lensa kamera yang berada di luar camera island, karena memang hanya dibekali dual camera tanpa telefoto. Namun, LED yang bentuknya menyerupai ring light tetap dipertahankan pada posisi yang sama. 

Penempatan tombol dan port-nya sama sekali tidak terasa asing. Power button dan volume rocker terpampang di sisi kanan, sementara bagian kirinya kosong. Laci kartu SIM, port USB-C, speaker grille terletak di bawah, menyisakan area atas yang dihiasi speaker kedua. Ponsel ini sayangnya tidak menyediakan slot MicroSD sama sekali.

Kami cukup menyukai bodi belakangnya yang terasa halus namun tidak licin. Seperti V60 standar, versi Lite ini juga tidak mudah dihinggapi bekas sidik jari, kecuali jika jari Anda sangat berminyak. Bodinya yang ramping langsung terasa nyaman saat pertama kali dipegang, tidak mudah membuat pegal saat dipakai berjam-jam.

Vivo V60 Lite 5G tidak dapat diselipkan kartu MicroSD.
Vivo V60 Lite 5G tidak dapat diselipkan kartu MicroSD.

Untungnya lagi, HP ini mengusung rangka flat yang semakin membuatnya terasa kokoh saat digenggam, kontras dengan Vivo V60 yang curved. Saat disentuh pun bodi belakang ponsel ini masih terasa mewah dan premium kendati mengusung bahan plastik. 

Unit Vivo V60 Lite 5G yang diterima 91Mobiles Indonesia merupakan varian Vibing Blue dengan ketebalan 7,59 mm, salah satu yang tertipis di kelasnya untuk seukuran HP berbaterai 6.500 mAh. Warna birunya terlihat soft dan kalem, sekaligus menjadi satu-satunya varian yang tidak terlalu girly dan tidak monoton dibandingkan dua varian lainnya, Vibing Pink dan Vibing Black. 

Di awal sempat disebutkan bahwa bodi ponsel ini punya daya tahan yang baik. Ini karena ponsel sudah tersertifikasi MIL-STD-810H yang dapat mengurangi risiko rusak akibat terbentur. Sayangnya, ketahanannya terhadap debu dan air tak sebaik Vivo V60 standar, menurun dari IP68/ IP69 menjadi IP65. Artinya, dia hanya tahan terhadap semburan air bertekanan rendah dari segala arah, namun bakal rentan rusak saat tenggelam di air.

Vivo V60 Lite 5G masih berfungsi normal meskipun layar terkena guyuran air gerimis.
Vivo V60 Lite 5G masih berfungsi normal meskipun layar terkena guyuran air gerimis.

Vivo V60 Lite 5G juga diklaim tahan air hujan selama 12 jam dan water jet selama 180 detik. Kami sempat mengujinya di luar ruangan, dan ponsel ini tetap berfungsi normal kendati terguyur hujan gerimis yang cukup parah. Responsivitas layarnya memang sedikit berkurang, namun masih menawarkan pengalaman pakai yang relatif normal. Ini karena perangkat dibekali fitur Wet-Hand Touch, sehingga nyaris tidak pernah terjadi ghost touch selama pengujian. 

Layar: Cerah dan memukau

Layar Vivo V60 Lite 5G.

Seperti mayoritas ponsel menengah lain di kelas harganya, Vivo V60 Lite 5G pun sudah dibekali dengan panel AMOLED yang cerah. Ukuran layarnya 6,77 inci dengan resolusi Full HD Plus (1.080 x 2.392 piksel), tidak berbeda dengan pendahulunya, V50 Lite 5G.

Seperti Vivo V60, layar ponsel ini mendukung HDR10+ sehingga mampu memilih resolusi HDR pada platform streaming seperti YouTube. Warna-warna dan kontras yang ditampilkan begitu memanjakan mata, menjadikannya sarana ideal untuk konsumsi konten.

Vivo V60 Lite 5G mendukung resolusi HDR di YouTube.
Vivo V60 Lite 5G mendukung resolusi HDR di YouTube.

Untuk semakin meningkatkan kualitas gambar, tersedia fitur “Visual enhancement” yang bisa diakses melalui menu pengaturan. Fungsinya adalah mengoptimalkan warna dan kontras agar terlihat lebih hidup dan cerah, kendati bakal membuat konsumsi dayanya bertambah. 

Pada penanganan refresh rate, layar ponsel ini juga cukup predictable. Pengguna dapat berada dalam opsi Smart Switch pada kondisi defaultmemilih opsi Standard agar konsisten di 60 Hz, atau memilih High guna condong memperlihatkan 120 Hz. Layar ponsel ini cukup mampu menyesuaikan refresh rate dengan baik sesuai konten yang ditampilkan. 

Adapun menu-menu layar di pengaturan memperlihatkan opsi auto-brightnesscustom brightness, proteksi mata, mode gelap, screen timeoutscreen saver, dan auto-rotate screen. Pada pengaturan warnanya, terdapat tiga opsi yaitu Standard, Professional, dan Bright. Menurut pengalaman kami, alangkah baiknya memilih mode Standard lantaran inilah mode yang memperlihatkan warna hasil foto paling mendekati aslinya. Namun, pengalaman serupa belum tentu terjadi pada Anda. 

Menu pengaturan layar Vivo V60 Lite 5G.
Menu pengaturan layar Vivo V60 Lite 5G.

Fitur Always-On Display juga tersedia. Meski tanpa mengutak-atik menu pengaturan, layar Vivo V60 Lite 5G memperlihatkan kondisi baterai saat dicas sambil locked screen, memudahkan kami mencatat durasi pengisian baterai untuk keperluan review

Meski begitu, secara default, fitur AoD ini tergolong nonaktif. Anda bisa mengaktifkannya via menu pengaturan, kemudian memilih salah satu dari belasan style tampilan yang diinginkan. Meski namanya “Always-on Display” rupanya tampilan AoD ini tidak tergolong “always”, alias hanya tampil beberapa detik saja. Agar muncul kembali, pengguna perlu tap layar atau sedikit menggerakkan ponsel. 

Soal visibilitasnya di luar ruangan, ponsel ini tidak perlu diragukan. Kami tidak sempat benar-benar mengujinya di bawah matahari super terik lantaran cuaca kota Bandung yang seminggu ke belakang selalu mendung. Namun, sepanjang penggunaan HP ini, baik di dalam maupun luar ruangan, tak sekalipun kami merasa kesulitan melihat isi layar gara-gara terlalu gelap. Ponsel ini disebut mengalami peningkatan kecerahan maksimal menjadi 3.000 nit, dari kecerahan 1.800 nit pada pendahulunya. 

Kualitas stereo speaker miliknya pun tergolong bagus, masih dapat memberikan sensasi menggelegar ketika bertarung sengit pada salah satu game yang dimainkan. Distorsi memang sedikit terdengar ketika volume ditingkatkan hingga paling tinggi, namun masih berada di tingkatan yang lumrah. 

Kamera: Hasil memadai, namun ada sedikit catatan

Kamera Vivo V60 Lite 5G.

Vivo V60 Lite 5G dibekali dengan setup dua kamera di punggungnya, mencakup main camera 50 MP Sony IMX882 1/1,95 inci dan 8 MP ultrawide dengan bidang pandang 120 derajat. Terdapat juga LED Flash berbentuk cincin yang disebut AI Aura Light untuk membuat pencahayaannya seimbang.

Di depannya, tersemat kamera selfie 32 MP, berkurang drastis dari Vivo V60 yang beresolusi 50 MP. Kamera depan Lite ini bahkan masih fixed focus, bukan autofokus seperti “kakak”-nya. 

Menyoal dukungan perekaman video, Vivo V60 Lite 5G sanggup meraih resolusi 1080p di 30 dan 60 FPS, serta 4K di 30 FPS. Tentunya sudah tersedia fitur stabilisasi EIS yang bisa aktifkan dan nonaktifkan sesuai kebutuhan. Hasil videonya sangat stabil, terlebih saat merekam di 60 FPS. Kami rasa kreator konten Instagram Reels dan TikTok dapat menggunakan HP ini sebagai sarana utamanya tanpa kendala. 

Kamera depan ponsel ini mendukung hingga resolusi 4K di 30 FPS, namun sayangnya tidak ada opsi 60 FPS untuk 1080p. Meski hasil rekamannya tidak jitter, namun stabilisasinya kurang terasa memadai lantaran masih ada efek shaky yang cukup terlihat. 

Kesan yang ditimbulkan dari hasil-hasil foto Vivo V60 Lite 5G selama masa pengujian agak sedikit mixed feeling, namun secara keseluruhan masih terlihat estetis. Dari segi warna, ada sejumlah objek yang terlihat pudar dari aslinya. Namun ini hanya terjadi sesekali. Meski begitu, pada objek-objek yang sama tadi, kami merasa puas dengan detail dan pencahayaannya.

Mengingat HP ini tidak dibekali telefoto, opsi zoom yang tersedia pun lebih terbatas. Kamera belakang hanya mentok di 10x, dengan hasil fotonya yang masih “usable” hingga tingkat pembesaran 5x. Foto akan terlihat buram pada tingkat pembesaran yang melebihi itu.

Ada tiga tingkat pembesaran yang didukung pada mode portrait yakni 1x, 1,5x, dan 2x. Kami merasa mode portrait di 2x sangat sulit digunakan. Pada beberapa kali pemotretan di satu objek yang sama, tak sekalipun kami berhasil mendapatkan foto yang bagus pada tingkatan 2x. Yang seharusnya efek blur diaplikasikan di latar belakang, justru malah objek depan yang buram (defocus). Padahal, sebelum pemotretan sudah dilakukan tap pada objek yang dituju. Barulah pada 1x dan 1,5x, hasil fotonya terlihat memadai dengan efek bokeh yang creamy dan separasi yang cukup rapi. 

Pemotretan ultrawide cukup mampu memberikan foto yang konsisten, namun tentunya ada pengurangan kualitas ketimbang kamera utamanya. Lalu, pada kondisi minim cahaya, kami merasa nyaris tidak ada bedanya antara mode biasa dan night mode. Hasilnya sama-sama bagus dengan exposure pencahayaan yang oke. Akan tetapi, isu flaring pada night mode memang sedikit lebih teratasi. 

Secara garis besar, hasil-hasil foto Vivo V60 Lite 5G sebenarnya terlihat bagus. Namun tidak semua fiturnya berjalan sesuai ekspektasi (contoh: mode portrait di tingkat zoom 2x). Hasil fotonya pun kadang terasa terlalu tajam (over sharpen) dan warnanya tidak sepenuhnya akurat dengan objek asli. Foto-foto di malam hari namun setidaknya bersih dari noise, dan area gelap masih terlihat cukup terang. 

Performa: Game populer lancar, dibekali software yang mendukung

Vivo V60 Lite 5G kini menggunakan Dimensity 7360 Turbo dengan fabrikasi 4 nm, terdiri atas 8-core CPU yang mencakup 4x Cortex A78 (2,5 GHz) dan 4x Cortex A55 (2,0 GHz) berikut GPU Mali-G615 MC2. Chip tersebut lebih unggul dibandingkan Dimensity 6300 yang dimiliki Vivo V50 Lite 5G, baik dari segi clock speed maupun generasi core

Bahkan dibandingkan Vivo V60 standar yang mengusung standar penyimpanan UFS 2.2, versi Lite ini masih lebih unggul dengan standar UFS 3.1. Itu artinya, Vivo V60 Lite 5G akan lebih cepat saat loading ketika bermain game dan transfer data. 

Kendati memiliki kinerja yang cukup baik untuk keseharian dan gaming, perlu diakui bahwa Vivo V60 Lite 5G bukanlah sebuah powerhouse di kelas harganya. Namun uniknya, walau bukan sepenuhnya HP gaming, ponsel ini tetap mengusung sederet fitur software yang mendukung pengalaman bermain yakni Ultra Game Mode.

Fitur ini bakal otomatis aktif setiap Anda membuka game, mencakup game sidebar untuk membuka aplikasi lain di tengah permainan, mode Esports untuk mengoptimalkan kontrol pada layar dan mengaktifkan “Do Not Disturb”, 4D Game Vibration untuk memberikan efek getaran realistis saat tembak-menembak, dan berbagai penunjang gaming lainnya. 

Anda juga dapat mengaktifkan Frame-rate Priority untuk game seperti Genshin Impact guna menurunkan resolusi untuk meningkatkan frame rate. Terdapat juga fitur screen mistouch prevention agar tidak salah pencet saat sedang bermain, pengaturan efek suara di dalam game, kustomisasi suara earphone berdasarkan rentang usia pengguna, hingga fitur picture-in-picture agar bisa membuka aplikasi lain dalam floating window tanpa keluar dari permainan. 

Pada performance panel, pengguna juga dapat memantau alokasi daya pada CPU dan GPU, melihat durasi permainan, sisa baterai, serta memilih salah satu dari tiga mode performa yakni battery saverbalanced, dan boost. Masih di panel yang sama, tersedia juga opsi untuk berpindah jaringan antara seluler dan Wi-Fi serta mode refresh rate

Menyoal kinerjanya sendiri, nyaris tidak ada satu pun yang bisa dikeluhkan saat bermain. Vivo V60 Lite 5G diujikan dalam sejumlah judul yang menuntut kinerja tinggi, seperti PUBG Mobile, Delta Force, dan Genshin Impact.

Saat memainkan PUBG Mobile, perangkat ini sanggup memilih pengaturan grafis mentok kanan yaitu HDR (grafis) dan Ultra (frame rate). Karena setingkat di atas HD, tampilan grafisnya sungguh terlihat memukau. Frame rate juga sama sekali tidak pernah turun ke bawah 30 FPS, terlihat dari absennya stuttering dan lagging sepanjang permainan. 

Motion control di ponsel ini juga sangat responsif berkat sensor giroskop hardware. Bodi ponsel juga tidak terasa panas sepanjang bermain selama 30 menit menggunakan casing. Jika bisa dinilai, pengalaman bermain PUBG Mobile di Vivo V60 Lite 5G benar-benar 10/10.

Beralih ke Genshin Impact, judul permainan dunia terbuka ini sangat playable di pengaturan grafis paling tinggi yaitu Highest 60 FPS. Tentu saja frame rate yang ditampilkan tidak sepenuhnya 60 FPS. Kadang terasa sedikit stutter di kondisi tertentu, namun sama sekali tidak mengganggu permainan. Apabila ditakar, frame rate terendah yang diraihnya hanya sedikit di bawah 30 FPS, itu pun hanya sebentar dan sesekali. Suhu ponsel cukup terasa hangat namun tidak membuat tangan kepanasan. 

Barulah pada Delta Force, performa Vivo V60 Lite 5G ini agak tersendat. Opsi pengaturan tertinggi yang terbuka adalah HD, namun ini memaksa frame rate ke opsi terendahnya yaitu Low. Ketika dimainkan, gameplay terlihat indah namun sungguh tersendat-sendat. Alhasil diturunkan ke Exquisite dan Medium, namun kami masih terasa kurang mulus. Barulah saat memilih Standard – High, kami menemukan keseimbangan yang pas antara grafis dan frame rate.

Skor AnTuTu v11, Geekbench 6, dan CPU Throttling Test pada Vivo V60 Lite 5G.
Skor AnTuTu v11, Geekbench 6, dan CPU Throttling Test pada Vivo V60 Lite 5G.

Pada pengujian benchmark sintetis, Vivo V60 Lite 5G menorehkan skor 905.153 poin pada AnTuTu v11 dan 942 poin (single-core) serta 2.745 poin (multi-core) pada Geekbench 6. Ponsel ini juga berhasil mempertahankan 76 persen dari performa maksimal saat diujikan CPU Throttling Test selama 5 menit. 

Dengan kemampuannya yang cukup layak untuk gaming, aktivitas ringan lain seperti multi-tasking, berkirim pesan, dan berselancar di dunia maya pun tidak ada kendala sama sekali. 

Software: Mulus, tanpa iklan, banyak fitur AI

Vivo V60 Lite 5G menjalankan sistem operasi Android 15 dengan polesan antarmuka Funtouch OS 15. Vivo tidak menyebutkan masa jaminan versi utamanya. Namun jika mengacu pada versi non-Lite, kemungkinan HP ini mendukung pembaruan Android hingga 4 tahun dengan patch keamanan mencapai 6 tahun.

Software HP menengah ini berisikan beragam fitur AI yang cukup melimpah. Sejumlah fiturnya seperti Smart Call Assistant dan AI Note Assist membutuhkan pengguna terhubung ke akun Vivo. Namun sisanya, seperti AI Erase 3.0 dan AI Photo Enhance, dapat digunakan secara bebas pada aplikasi Album. 

Fitur AI Erase 3.0 cukup mampu menghilangkan subjek tak diinginkan pada foto dengan hasil yang tampak natural. AI Photo Enhance juga hadir untuk meningkatkan kualitas foto dari segi detail, warna, kontras, dan lain sebagainya. 

Di dalam aplikasi Album juga tersedia fitur untuk menghapus refleksi. Kami semula mengira bahwa ini dapat menghilangkan pantulan pada lensa kacamata. Namun saat dicoba, refleksi di lensa masih tetap ada. 

Circle to Search untuk melakukan pencarian pada bagian yang dilingkari di layar, serta Gemini Live yang mendukung percakapan dua arah secara hands-free juga tersedia. Gemini Live ini bahkan bekerja dengan sangat baik saat diajak berbicara bahasa Indonesia, rasanya benar-benar seperti mengobrol dengan orang sungguhan. 

Fitur AI pada aspek fotografi juga tersedia, seperti AI Aura Light untuk menghasilkan foto dengan cahaya lebih natural dan seimbang, serta AI Master Aura Light Portrait yang dapat menyesuaikan tone secara otomatis di berbagai kondisi pencahayaan.

Antarmuka pada Vivo V60 Lite 5G cukup clean dengan jumlah aplikasi prainstal yang masih tergolong wajar. Terlebih untuk iklan, tentu saja sama sekali tidak ditemukan pada ponsel di kelas mid-range ini. 

Baterai dan pengisian daya: Super awet, super “ngebut” saat dicas

Dengan teknologi baterai silikon-karbon, Vivo sanggup menyelipkan kapasitas 6.500 mAh di dalam bodi V60 Lite 5G sembari mempertahankan kerampingannya. Keberadaan chipset Dimensity 7360 Turbo yang efisien juga turut membantu memperlambat laju konsumsi daya perangkat ini.

Berdasarkan pengujian internal kami, Vivo V60 Lite 5G berhasil bertahan hingga 21 jam 20 menit pada PC Mark Battery Life. Ini termasuk durasi ketahanan yang cukup panjang untuk ponsel di kelas harganya. 

PC Mark Battery Life (kiri), charger bawaan VIvo V60 Lite 6G, 90 watt (kanan)
PC Mark Battery Life (kiri), charger bawaan VIvo V60 Lite 6G, 90 watt (kanan)

Pada permainan PUBG Mobile (HDR – Ultra) berdurasi 30 menit, baterai hanya terkuras sebanyak 4 persen. Lalu untuk game Genshin Impact (Highest 60 FPS) selama 30 menit, baterai berkurang 7 persen. Vivo V60 Lite 5G juga diujikan bermain Delta Force pada durasi yang sama, mengurangi baterai sebanyak 4 persen. 

Menariknya lagi, Vivo V60 Lite 5G dibekali dengan salah satu daya fast charging tercepat di seluruh dunia yakni 90 watt. Charger dengan daya yang sesuai juga sudah tersedia dari dalam boks. 

Dalam pengujian kami, HP ini dapat mencapai kondisi 48 persen setelah dicas selama 30 menit. Untuk pengisian dari kosong hingga penuh, diperlukan waktu sekitar 63 menit. 

Kesimpulan

Varian termurah Vivo V60 Lite 5G memiliki memori RAM 8 GB/ 256 GB dengan harga rilis Rp 5 juta. Sementara, satu varian lainnya, RAM 12 GB/ 512 GB, dibanderol Rp 6 juta. Di harga tersebut Vivo telah menyajikan sederet kelebihan yang berdaya saing tinggi, seperti desain bodi yang cantik dan ramping, pengalaman fotografi yang menyenangkan, baterai besar yang disertai fast charging gesit, hingga performa gaming yang memadai. 

Meski tidak difokuskan untuk gaming, kehadiran Ultra Game Mode sungguh menjadi nilai plus untuk ponsel yang menonjolkan kemampuan fotografi. Layar AMOLED miliknya yang mendukung HDR juga sangat membantu meningkatkan pengalaman menonton dan bermain game

Fitur-Fitur AI miliknya pun mungkin tidak semelimpah flagship, namun sudah cukup banyak untuk memenuhi standar ponsel mid-range tahun ini, seperti AI Eraser, Circle to Search, dan Gemini Live. Kemampuan fotografi ponsel ini pun sudah dapat diacungi jempol, kendati memiliki sedikit kejanggalan dalam beberapa skenario pemotretan. All in all, Vivo V60 Lite 5G layak didapatkan bagi yang mencari HP menengah bodi tipis berbaterai besar yang nyaman untuk gaming dan cocok untuk fotografi kasual.

Rating editor: 7,5 / 10

Kelebihan:

  • Punya performa yang gesit untuk gaming dan aktivitas ringan, diperkuat dengan Ultra Game Mode yang intuitive.
  • Layar AMOLED yang cerah, sudah mendukung HDR.
  • Hasil fotografi yang memadai untuk hampir semua skenario. 
  • Bodi elegan yang minimalis dan ramping, mudah dioperasikan dengan satu tangan.
  • Baterai awet dengan fast charging 90 watt yang gesit.

Kekurangan:

  • Ada sedikit kejanggalan saat memotret (e.g mode portrait 2x yang kurang nyaman, over sharpening, warna sesekali terlihat pudar).
  • Tanpa slot MicroSD.

The post Review Vivo V60 Lite 5G: HP Ramping Cocok untuk Main dan Motret first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-vivo-v60-lite-5g-hp-ramping-cocok-untuk-main-dan-motret/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2025/12/photo_2025-12-01_13-31-55-2-150x150.jpg150150
Review iQoo Z10R: HP Mid-Range dengan Performa Tinggi https://www.91mobiles.com/id/hub/review-iqoo-z10r-hp-mid-range-dengan-performa-tinggi/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-iqoo-z10r-hp-mid-range-dengan-performa-tinggi/#respond Sat, 29 Nov 2025 07:00:23 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=16638 iQoo Z10R adalah anggota terbaru di lini seri Z10, diposisikan sebagai opsi yang lebih seimbang. Varian yang lebih terjangkau, iQoo Z10x, lebih berfokus pada performa dan daya tahan baterai dengan harga yang lebih terjangkau. Sementara itu, saudaranya yang lebih mahal, iQoo Z10, juga menonjolkan performa dan membawa salah satu kapasitas baterai terbesar saat ini.Dibandingkan dua […]

The post Review iQoo Z10R: HP Mid-Range dengan Performa Tinggi first appeared on Indonesia Blog.

]]>

iQoo Z10R adalah anggota terbaru di lini seri Z10, diposisikan sebagai opsi yang lebih seimbang. Varian yang lebih terjangkau, iQoo Z10x, lebih berfokus pada performa dan daya tahan baterai dengan harga yang lebih terjangkau. Sementara itu, saudaranya yang lebih mahal, iQoo Z10, juga menonjolkan performa dan membawa salah satu kapasitas baterai terbesar saat ini.

Dibandingkan dua varian lainnya, iQoo Z10R justru memilih pendekatan yang lebih seimbang. Mari kita cari tahu apakah iQoo Z10R benar-benar mampu tampil sebagai all-rounder sejati seperti yang dijanjikan.

Kesimpulan awal

iQoo Z10R menawarkan desain premium yang tahan air serta layar berwarna cerah, sangat cocok untuk kebutuhan multimedia. Performanya juga cukup dapat diandalkan untuk penggunaan sehari-hari, dan dukungan perekaman video 4K di kamera depan menjadi nilai lebih yang menarik bagi para kreator.

Namun, ketiadaan kamera ultrawide menjadi kekurangan yang cukup kentara. Ponsel ini juga memiliki durasi pengisian baterai yang agak lambat. Secara keseluruhan, ponsel ini tetap menjadi pilihan kuat bagi pengguna yang mengutamakan bodi tahan lama, kualitas layar, dan kemampuan merekam video selfie beresolusi tinggi.

Desain bodi ramping, namun tetap kokoh

Desain bodi iQoo Z10R terlihat cukup mirip dengan seri Vivo V50. Bagian belakangnya membawa finishing brushed yang reflektif, sementara bingkainya tampil dengan sentuhan metalik. Keduanya dipadukan untuk memberikan kesan yang cukup elegan. Modul kamera besar di panel belakang turut memuat cincin lampu flash berbentuk lingkaran bernama “Aura Light”. Tidak ada wobble saat diletakkan di meja, sehingga membuatnya cukup menyenangkan. Bobotnya ringan, sangat ramping, nyaman digenggam, dan memberikan kesan premium secara keseluruhan. Perangkat ini sudah mengantongi sertifikasi IP68 dan IP69, sehingga mengusung ketahanan terhadap debu dan air yang benar-benar maksimal.

Layar dengan warna yang cerah dan memikat

Layar menjadi bagian favorit kami dari ponsel ini. Keistimewaannya hadir melalui desain quad curve yang membuatnya terasa berbeda dibandingkan para pesaing di kelas harga yang sama. iQoo Z10R dilengkapi panel AMOLED 6,78 inci dengan refresh rate 120 Hz dan tingkat kecerahan maksimal hingga 4.500 nits. Sementara itu, tingkatan high brightness mode (HBM) mencapai 1.300 nits, yang menurut kami sudah cukup terang untuk penggunaan indoor maupun outdoor. Selama pemakaian, kami tidak pernah kesulitan melihat layar meskipun berada di luar ruangan.

Warnanya punchy dan pengalaman visualnya sangat immersive. Semua itu terasa semakin lengkap berkat stereo speaker yang dimilikinya. Speaker ini mampu mengeluarkan suara yang jernih dan lantang, sehingga pengalaman multimedia terasa maksimal. Menariknya, iQoo Z10 standar justru masih memakai speaker tunggal alias mono. Jadi, dalam hal ini, Z10R bisa dibilang lebih unggul.

Kamera

iQOO Z10R dibekali kamera utama 50 MP Sony IMX882 yang dipadukan dengan kamera depth. Kamera utamanya sudah mendukung OIS dan memiliki sudut pandang lebih lebar sebagai kompensasi atas absennya lensa ultrawide. Di bagian depan, tersedia kamera 32 MP untuk selfie dan video call. Dalam kondisi cahaya terang, hasil fotonya terlihat menarik dengan dynamic range yang luas serta highlight dan shadow yang seimbang.

Warna yang dihasilkan sedikit lebih hangat dan cerah sehingga terasa lebih siap untuk diunggah ke media sosial tanpa perlu banyak pengeditan. Foto portrait terlihat bersih dan detailnya cukup terjaga, kendati detail wajah tidak selalu maksimal karena kamera cenderung membuat kulit tampak lebih soft. Kamera selfie-nya cukup memuaskan, menghasilkan foto yang tajam dengan warna yang enak dipandang.

Dalam kondisi low light, iQoo Z10R masih mampu menghasilkan foto yang layak, meskipun cukup sering memperlihatkan noise ketika diperbesar. Kami pribadi kurang cocok dengan night mode bawaan iQoo karena warnanya sering terlihat berlebihan sehingga hasil akhirnya kadang tampak kurang natural.

Nilai plus yang cukup menonjol adalah kemampuan perekaman 4K dari kamera utama maupun kamera depan. Anda bahkan bisa berpindah dari kamera depan ke belakang (atau sebaliknya) saat merekam tanpa ada jeda, fitur yang jarang dimiliki pesaingnya di kelas harga yang sama. 

Pemotretan siang hari

Dalam kondisi cahaya terang, iQoo Z10R mampu menghasilkan foto yang solid dengan kontras tinggi dan dynamic range yang luas. Detail yang ditangkap juga cukup baik dan konsisten. Untuk akurasi warna, hasilnya memang tidak selalu benar-benar mendekati warna asli, dan sering kali menampilkan interpretasi warna yang berbeda dari kondisi aslinya.

Portrait

Pada mode portrait, hasil fotonya terlihat jauh lebih baik berkat exposure yang pas dan tone kulit yang natural. Detail wajah cukup baik, sementara pemisahan antara subjek dan latar belakang terlihat rapi dan bersih.

Selfie

Untuk foto selfie, kinerja kamera iQoo Z10R sungguh terlihat menjanjikan. Reproduksi warna kulit terasa lebih mendekati aslinya, dan detail wajah yang ditampilkan juga lebih terjaga. Dynamic range pada kamera depannya tergolong baik sehingga hasil akhirnya tampak lebih seimbang.

Low light

Dalam kondisi cahaya rendah dengan night mode aktif, hasil foto iQoo Z10R terlihat cukup menarik. Exposure terlihat pas dan mampu menampilkan suasana yang mendekati aslinya. Penanganan flare maupun cahaya liar juga cukup clean. Kendati begitu, warna pada mode malam cenderung mengalami koreksi yang cukup agresif sehingga hasil akhirnya kadang tampak berbeda dari warna asli.

Performa gesit yang bisa diandalkan 

Sebagai dapur pacunya, iQoo Z10R menggunakan SoC MediaTek Dimensity 7400, dipasangkan dengan RAM LPDDR4X hingga 12 GB dan penyimpanan UFS 2.2 hingga 256 GB. Namun ada satu kekurangan besar, tidak adanya dukungan penyimpanan eksternal. Anda “terjebak” pada varian penyimpanan yang Anda pilih, jadi di tahun 2025, lebih baik memilih varian 256GB.

Berbicara soal performa, untuk pemakaian sehari-hari, semuanya berjalan tanpa masalah. Tidak ada penurunan performa atau lag saat menggulir app drawer, berpindah aplikasi, maupun multi-tasking. Tidak ada masalah panas berlebih selama penggunaan harian.

Ketika digunakan untuk bermain game, iQoo Z10R dapat menangani sebagian besar gim modern dengan cukup baik. Judul yang lebih berat seperti BGMI (PUBG Mobile) dan Genshin Impact masih dapat berjalan pada pengaturan medium dengan pengalaman 30 FPS yang playable. BGMI juga mendukung 90 FPS pada grafik Smooth; meski tidak stabil di 90 FPS, Anda bisa mengharapkan performa konsisten sekitar 75 FPS.

Game battle royale yang lebih ringan seperti COD: Mobile juga berjalan mulus, rata-rata di atas 50 FPS pada pengaturan medium. Suhu juga terjaga dengan baik, hanya naik sekitar 2,3 derajat Celsius setelah 30 menit bermain. Ponsel ini memiliki vapour chamber untuk pendinginan, meski dimensinya tidak dijelaskan. Meski begitu, suhunya tetap stabil saat bermain sehingga menjadikannya pilihan bagus untuk gamer.

iQoo Z10R mendapatkan skor AnTuTu v10 sebesar 666.321 poin, serta menorehkan skor Geekbench di angka 1.038 poin (single-core) dan 2.988 poin (multi-core). Menyoal kinerja suhunya, perangkat ini berhasil mempertahankan 62,3 persen dari performa maksimal ketika diujikan pada aplikasi benchmark Burnout. 

Software butuh sedikit penyempurnaan

Funtouch OS 15 berbasis Android 15 terasa stabil dan mulus untuk pemakaian harian, serta menawarkan banyak fitur. Ada banyak opsi untuk menyesuaikan animasi OS, mulai dari app drawer, home screen, face unlock, lock screen, dan lainnya sehingga Anda bisa memberi sentuhan personal. Jumlah aplikasi bawaan lebih sedikit dibanding sebelumnya, namun Anda tetap mendapat 14 aplikasi prainstal di dalam kotak.

Dari segi pengalaman penggunaan, OS ini cukup lancar, namun ada beberapa hal yang bisa ditingkatkan. Refresh rate tidak konsisten di beberapa aplikasi, bahkan ketika Anda menguncinya di 120 Hz. Elemen UX terlihat kurang oke, dan UI secara keseluruhan terlihat cukup kuno dan tidak terasa premium. Pendekatannya lebih mengutamakan fungsi dibanding tampilan. Meskipun demikian, di tahun 2025, pengalaman software menjadi aspek yang sama pentingnya. OS yang kurang menarik secara estetika dan tidak terlalu bisa dikustomisasi membuat pengalaman di perangkat ini terasa kurang lengkap.

Anda juga mendapatkan rangkaian fitur AI seperti AI Screen Translate, Live Image (mengekstrak teks dari gambar), Circle to Search, dan lain sebagainya. Fitur baru bernama AI Documentation membantu Anda memindai foto dan mengonversinya menjadi file dengan cepat. Anda mendapat 2x pembaruan OS besar hingga Android 17 dan pembaruan keamanan hingga 2028. Cukup standar di kelas harganya.

Baterai yang oke, tapi bisa lebih baik

Salah satu hal yang cukup mengejutkan dari iQoo Z10R adalah baterainya yang lebih kecil, 5.700 mAh, dengan dukungan fast charging 44 watt. Meski kapasitasnya lebih kecil, performa baterainya tetap solid baik di benchmark maupun penggunaan nyata.

Dalam pengujian lab (sekitar 2 jam, termasuk gaming dan playback video), baterai hanya turun 21 persen. Ini sedikit lebih baik dari rata-rata ponsel lain di kelasnya yang terkuras 22 persen. Di uji PCMark Battery Life, hasilnya juga mengungguli banyak ponsel dengan baterai 6.000mAh (tahan 13,9 jam).

Dalam penggunaan sehari-hari, kami mendapatkan sekitar 6-7 jam screen-on time, termasuk penggunaan 5G. Itu bukan angka yang besar untuk tahun 2025, tapi lebih dari cukup untuk mayoritas pengguna. Untuk kecepatan pengisian, charger 44 watt memakan waktu sedikit lebih dari satu jam untuk mengisi penuh. Durasi ini masih dapat diterima, tapi seharusnya bisa lebih cepat mengingat kapasitas baterainya yang tidak besar.

Kesimpulan

Dengan harga mulai dari Rp 3,3 juta, iQoo Z10R menawarkan serangkaian fitur yang baik serta performa yang solid untuk harganya. Satu-satunya kekurangan yang terasa adalah tidak adanya kamera ultrawide dan kecepatan pengisian daya yang terasa agak lambat. Namun, keduanya bukan deal-breaker besar.

Jika Anda menginginkan ponsel dengan desain yang ramping dan tahan lama, performa harian yang stabil, kamera yang baik dengan dukungan video 4K pada kamera depan dan belakang, serta pengalaman multimedia yang sangat baik, maka iQoo Z10R adalah pilihan yang tepat. Ini adalah all-rounder yang kompeten di bawah Rp 4 juta.

Rating editor: 8 / 10

Alasan membeli:

  • Menawarkan desain premium dengan ketahanan IP68/ IP69.
  • Nyaman dipakai aktivitas hiburan dengan layarnya yang berwarna cerah dan stereo speaker
  • Performa keseluruhannya terasa gesit dan mulus untuk aktivitas sehari-hari.
  • Kamera depannya mendukung perekaman video 4K, cocok untuk kreator konten.

Alasan tidak membeli:

  • Durasi charging kalah saing.
  • Tidak ada kamera ultrawide.
iQOO Z10R Harga
Rp. 4.499.000
Pergi Ke Toko
Rp. 4.599.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review iQoo Z10R: HP Mid-Range dengan Performa Tinggi first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-iqoo-z10r-hp-mid-range-dengan-performa-tinggi/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2025/11/iQOO-Z10R-review-image-150x150.jpg150150
Review Poco C85: Cocok untuk Penggemar Film https://www.91mobiles.com/id/hub/review-poco-c85-cocok-untuk-penggemar-film/ https://www.91mobiles.com/id/hub/review-poco-c85-cocok-untuk-penggemar-film/#respond Mon, 24 Nov 2025 04:37:58 +0000 https://www.91mobiles.com/id/hub/?p=16468 Untuk yang sedang mencari smartphone murah meriah yang punya layar dan baterai besar, tidak ada salahnya mempertimbangkan Poco C85 yang rilis di Indonesia di harga Rp 1 jutaan. Tim 91Mobiles Indonesia telah menguji ponsel ini selama beberapa waktu, dan menurut kami ponsel ini adalah perangkat yang immersive untuk aktivitas hiburan. Dengan layar 6,9 inci, baterai 6.000 mAh, dan chipset […]

The post Review Poco C85: Cocok untuk Penggemar Film first appeared on Indonesia Blog.

]]>

Untuk yang sedang mencari smartphone murah meriah yang punya layar dan baterai besar, tidak ada salahnya mempertimbangkan Poco C85 yang rilis di Indonesia di harga Rp 1 jutaan. Tim 91Mobiles Indonesia telah menguji ponsel ini selama beberapa waktu, dan menurut kami ponsel ini adalah perangkat yang immersive untuk aktivitas hiburan. 

Dengan layar 6,9 inci, baterai 6.000 mAh, dan chipset Helio G81 Ultra yang cukup memadai, Poco C85 menjadi salah satu HP entry-level yang paling cocok untuk menonton film, produktivitas, dan bermain game

Kameranya bukan yang terbaik, namun masih cukup oke untuk pemotretan siang maupun malam hari di kelasnya. Ketahanan bodi IP64 juga membuatnya bisa diandalkan di cuaca dengan curah hujan tinggi. Simak selengkapnya pada review Poco C85 berikut ini.

Unboxing: Ada charger dan casing transparan

Poco C85 hadir membawa kotak kemasan berwarna kuning khas Poco. Tampilan boksnya secara keseluruhan sungguh minimalis dengan hanya menampilkan nama produk “POCO C85” dalam font berwarna hitam serta logo Poco di pojok kanan bawah. 

Menyoal kelengkapan isinya, tidak ada yang bisa dikeluhkan dalam hal ini. Boks unit disertai dengan booklet panduan singkat, kartu garansi, bookmark, dan sejumlah stiker bernuansa Poco. 

Di dalam boks penjualan Poco C85 juga terdapat casing transparan yang dapat melindungi ponsel dari kerusakan akibat benturan, tanpa mengubah estetika bodi belakang. Menariknya lagi, sudah ada charger dengan daya 33 watt beserta kabelnya (USB-A ke USB-C).

Daya 33 watt juga kebetulan (atau mungkin memang disengaja) merupakan daya pengisian yang didukung Poco C85. Jadi, pengguna bisa langsung merasakan kecepatan pengisian daya maksimal yang didukung ponsel tersebut tanpa membeli adaptor lain secara terpisah. Terakhir, terdapat juga PIN ejector tool untuk melepas laci kartu SIM. 

Desain: Cukup bongsor, namun masih pas di tangan

Poco C85 adalah salah satu ponsel dengan ukuran layar terbesar di kelas entry-level, mencapai 6,9 inci. Jadi, tidak mengherankan jika ujung atas ponsel ini sedikit “nyempil” saat dimasukkan ke kantong. 

Meski begitu, kami pribadi masih bisa merasakan pengalaman genggam cukup nyaman lantaran ketebalan bodinya yang masih tergolong wajar, yakni 8 mm (serta berbobot 205 gram). Karena menggunakan panel IPS LCD, untungnya frame ponsel ini berbentuk flat alias rata, jadi tidak mudah tergelincir. Kami sungguh tidak membayangkan jika ponsel setinggi ini punya sisi layar melengkung. 

Di tangan seorang pria Indonesia berumur 30 tahun, Poco C85 tetap mengharuskan pengguna melakukan “gymnastic jari” saat menggunakannya dengan satu tangan. Misalnya, ketika sehabis menyalakan Wi-Fi di Quick Settings lalu ingin kembali ke Home Screen (menekan tombol Home di sisi bawah layar).

Poco C85 didukung dengan triple card slot.

Rasanya ponsel ini tidak terlalu dimaksudkan untuk digunakan dengan satu tangan. Ketika dipakai secara normal, penggunaan Poco C85 tidak menimbulkan masalah sama sekali dari segi ergonomika. 

Berbicara soal tampilannya, Poco kembali menghadirkan konsep dual-tone. Bagian kiri memiliki porsi lebih besar, seukuran dengan modul kamera. Sementara, sisi kanan menyisakan porsi bagian yang lebih kecil. Ini berlaku untuk ketiga varian warnanya, yakni Black, Green, dan Purple. Kebetulan, unit yang diuji 91Mobiles Indonesia merupakan varian Green. 

Bodi belakang perangkat ini mengusung bahan material plastik dengan finishing matte, sehingga tidak licin sama sekali. Namun sayangnya, punggung ponsel tetap menjadi “magnet” noda sidik jari yang membuatnya sulit terlihat bersih sepanjang hari. 

Solusinya, Anda tinggal perlu menggunakan casing transparan yang telah disediakan. Ini membuat ketebalan bodinya sedikit bertambah, namun overall masih nyaman digunakan. 

Menyoal penempatan tombol dan port, posisinya cukup standar di industri ponsel Android. Sisi kiri menampilkan tombol power (sekaligus menjelma sebagai sensor sidik jari) dan tombol volume. Sementara, bagian kanan hanya dihiasi laci kartu SIM. 

Sisi bawahnya tampak paling “ramai”, menampilkan satu mikrofon, speaker grille, dan port USB-C. Untungnya, ponsel ini masih dibekali dengan port jek audio 3,5 mm sehingga bisa dihubungkan dengan earphone kabel. 

Mengingat ponsel diuji di kota Bandung dengan curah hujan tinggi, kami bersyukur Poco C85 tersertifikasi IP64. Secara teori, ini artinya perangkat bakal terlindungi dari debu dan cipratan air yang datang dari arah mana pun. 

Perangkat yang kami uji pernah satu kali kecipratan air cukup banyak, dan ponsel ini tentunya masih menyala. Responsivitas layarnya sedikit berkurang, namun tidak sekalipun terjadi “ghost touch”, fenomena yang menyebabkan layar bergerak-gerak sendiri akibat salah mengira tetesan air sebagai input jari. Tampaknya ini karena Poco C85 memiliki fitur Wet Touch Display 2.0.

Layar: Jumbo, namun beresolusi rendah

Poco C85 dilengkapi dengan panel IPS LCD 6,9 inci beresolusi HD Plus (1.600 x 720 piksel), terbilang sangat besar untuk seukuran HP non-lipat. Dengan layar sebesar ini, ponsel terbilang cocok untuk para “cinephile” alias pencinta film. Layar ini juga mengusung refresh rate 120 Hz dengan tingkat kecerahan 810 nit (HBM). 

Di menu pengaturan, layar ini menyediakan berbagai fitur seperti mode gelap (dark mode), kecerahan otomatis, mode membaca, mode sunlight, dan tentunya opsi untuk mengatur refresh rate. Seperti ponsel Xiaomi sejutaan lain dengan HyperOS pada umumnya, Anda dapat memilih mode refresh rate default untuk menghemat baterai, atau memilih mode custom 60 Hz dan up to 120 Hz. 

Saat berada di mode custom up to 120 Hz, navigasi antarmuka dan berbagai aplikasi (baik itu pihak pertama maupun ketiga) memang benar berada dalam refresh rate 120 Hz. Namun saat memainkan Dead Trigger 2, game tembak-menembak yang memang mendukung laju penyegaran tinggi, layar tetap saja mentok di 60 Hz. 

Antarmuka pengaturan layar Poco C85

Viewing angle pada layar ponsel ini tergolong bagus, namun sayangnya masih beresolusi rendah 720p. Ini sebenarnya tidak terlalu memengaruhi pengalaman menonton. Hanya saja, jika Anda sudah terbiasa melihat layar Full HD Plus atau bahkan QHD Plus, sesekali akan merasakan bagian-bagian yang tampak buram atau kotak-kotak alias “choppy”. Di harga Rp 1 juta, layar HD Plus memang masih bisa dimaklumi. Namun di rentang harga ini pun sebenarnya sudah ada beberapa yang menggunakan Full HD Plus (1080p). 

Visibilitas layar di luar ruangan pada siang hari cukup memukau. Ada mode sunlight yang dapat diaktifkan, berfungsi untuk menjaga layar tetap terang meski berada di bawah terik matahari. Namun menurut pengalaman kami, mode yang justru bakal membuat layar sangat terang adalah mode auto brightness, bukan mode sunlight

Saat kecerahan otomatis diaktifkan, kami masih bisa melihat gambar dan teks dengan nyaman meskipun matahari sedang terik-teriknya. Secara keseluruhan, layar ponsel masih memberikan pengalaman optimal untuk kelas harga Rp 1 juta. 

Menyoal pengalaman hiburan, speaker di ponsel ini sayangnya hanya satu alias mono, sehingga nyaris tidak mengeluarkan suara jika tangan tak sengaja menutupi keseluruhan speaker grille di area kanan (posisi lanskap). Namun, suara yang dihasilkannya cukup lantang. Terdapat juga fitur volume boost yang bisa meningkatkan volume hingga 200 persen dengan minim distorsi. 

Kamera: Agak saturated pada foto makanan

Poco C85 hanya dibekali dengan satu kamera yang fungsional di punggungnya, beresolusi 50 MP dengan aperture f/1,8, focal length 28 mm, dan ukuran sensor 1/2,76 inci. Tentu saja, kamera ini sudah mendukung autofokus. 

Soal kemampuan perekaman videonya, ponsel ini sayangnya hanya mendukung resolusi hingga 1080 di 30 FPS. Hasil videonya tampak sedikit stabil, namun tetap saja terasa goyang saat merekam sambil berjalan. Bersiap-siaplah mengeluarkan biaya untuk membeli gimbal terpisah jika ingin vlogging dengan HP ini. 

Hasil foto siang hari pada Poco C85 masih satisfactory untuk kelas harga entry-level. Kami sempat membandingkan beberapa hasil fotonya dengan HP Rp 1 jutaan lainnya, Itel RS4, dan hasilnya cukup oke kendati ada beberapa catatan.

Pada perbandingan foto halaman depan rumah di bawah, foto Poco C85 terlihat memiliki dynamic range lebih luas. Ini karena kecerahan langit dan subjek utama terlihat lebih selaras dibandingkan hasil foto pesaingnya. Warna keseluruhannya pun tampak lebih hidup. Kami sungguh menyukai foto Poco C85 yang masih memperlihatkan detail bangunan di latar belakang dengan jauh lebih jelas. Warna langit lebih kontras, texture pada permukaan kayu pohon juga lebih terlihat menarik. 

Untuk pemotretan malam hari (night mode), kualitas hasilnya tentu menurun drastis, hal lumrah untuk ponsel di harga sejutaan. Detail fotonya bahkan tidak sebaik hasil foto malam Itel RS4, terlebih ketika dibandingkan sambil di-zoom. Namun, perlu diakui Poco C85 berhasil menangani isu flaring pada sumber cahaya, sesuatu hal yang tidak berhasil digapai oleh pesaingnya. 

Di bagian depan, Poco membekali smartphone ini dengan kamera selfie 8 MP f/2,0 berukuran sensor 1/4,0 inci. Kamera depan tersebut juga hanya mendukung perekaman video hingga resolusi 1080p di 30 FPS, sama seperti kamera belakang.

Pemotretan selfie menggunakan mode portrait sungguh berjalan dengan menyenangkan pada Poco C85, yang berhasil memberikan efek bokeh creamy dengan separasi subjek yang rapi. Warna kulit dan detail halusnya namun masih terlihat kurang oke, kendati sudah tergolong passable untuk kelas harganya. 

Pada pesaingnya, efek latar belakang bahkan hampir sama sekali tidak terlihat. Kami sungguh menyukai betapa mudahnya menghasilkan foto background blur yang estetis pada Poco C85, baik itu di kamera belakang maupun kamera depan. Karena memang perlu diakui, tidak semua HP Rp 1 jutaan dapat melakukannya.

Pada beberapa kesempatan, misalnya saat memotret makanan, hasil foto Poco C85 kadang tidak mendekati warna aslinya. Hasilnya memang terlihat lebih menarik, namun untuk yang lebih peduli dengan keaslian warna, tentu ini agak disayangkan. Namun pada foto makanan lain (kali ini dengan pencahayaan lebih baik), hasil foto makanan pada Poco C85 cukup identik dengan pesaingnya. 

Secara keseluruhan, jika Anda bisa menjaga ekspektasi yang realistis untuk ponsel di harga Rp 1 juta, hasil foto Poco C85 masih dikategorikan sebagai layak. Kami membayangkan jika sejumlah hasilnya diunggah ke media sosial (terutama foto siang hari), hanya segelintir orang saja yang sadar bahwa foto tersebut datang dari kamera HP Rp 1 jutaan.

Performa: Memadai, tapi bukan yang terbaik di kelasnya

Chipset yang dipakai Poco C85 memang bukan yang terbaik di harga Rp 1 jutaan, namun sudah memberikan pengalaman mumpuni untuk aktivitas harian. Poco memilih Helio G81 Ultra sebagai dapur pacunya, dibangun pada fabrikasi 12 nm serta dibekali 8-core CPU berisikan 2x Cortex A75 (2,0 GHz) dan 6x Cortex A55 (1,8 GHz) beserta GPU Mali-G52 MC2. 

Ponsel ini hanya mendukung storage eMMC 5.1, sehingga kecepatan baca-tulisnya tidak secepat beberapa rival yang sudah UFS 2.2. Kendati begitu, selama pengujian, perangkat ini tidak terasa lagging atau stutter ketika dipakai membuka aplikasi, navigasi antarmuka, browsing, atau pun kegiatan sehari-hari lainnya. 

Unit yang kami uji kebetulan merupakan varian RAM 8 GB/ 256 GB. Pengalamannya mungkin sedikit berbeda untuk varian satunya lagi yang lebih rendah, RAM 6 GB/ 128 GB. 

Skor benchmark sintetis Poco C85.
Skor benchmark sintetis Poco C85.

Seperti yang terlihat pada gambar di atas, Poco C85 menorehkan skor 379.150 poin di AnTuTu v11. Sementara, skor Geekbench 6 miliknya meraih skor 396 poin di single-core dan 1.323 poin untuk multi-core. Pada pengujian Burnout, perangkat ini masih dapat mempertahankan 68,4 persen dari performa maksimalnya.

Poco C85 masih kuat memainkan sejumlah judul game populer seperti Mobile Legends: Bang Bang, PUBG Mobile, dan COD Mobile. Dua di antaranya masih dapat mencapai frame rate tinggi pada pengaturan grafis paling kanan. 

Saat bermain Mobile Legends, pengalaman gaming terasa lancar di pengaturan grafis mentok kanan, tidak ada stutter maupun lagging sama sekali sepanjang permainan. Bahkan, animasi preview pemilihan karakter pun tampak mulus. Permainan dilakukan saat ponsel memakai casing, dan nyaris tidak terasa adanya kenaikan suhu di tangan setelah bermain selama 30 menit. Pada intinya, sama sekali tidak ada yang bisa dikeluhkan soal HP ini saat memainkan Mobile Legends.

Game berikutnya yang dites adalah COD Mobile, hanya bisa disetel hingga pengaturan grafis medium dan frame rate High. Penggunaan Helio G81 Ultra di sini tampaknya membuatnya tak sanggup menangani setting-an grafis lebih tinggi.

Di awal permainan, cukup lancar kendati ada sedikit stutter. Namun beberapa pergerakan animasi karakter terasa agak tersendat, kendati pengalamannya cukup playable. Barulah saat mendekati batas waktu 30 menit, responsivitas layar agak memburuk meskipun frame rate tetap lancar. Memindahkan crosshair terasa berat. Suhu perangkat naik, namun tidak drastis. 

Di pengaturan HD – High pada judul PUBG Mobile, game berjalan lancar tanpa stutter dan lagging dari awal hingga akhir permainan. Namun yang disayangkan, kami tidak dapat menggunakan motion aiming dengan giroskop. Kami awalnya berharap Poco C85 masih dibekali gyroscope virtual kendati tidak memiliki sensornya secara hardware. Tanpa motion aiming, mendapatkan “Chicken Dinner” di permainan ini bakal terasa lebih sulit dan tidak nyaman.

Secara penilaian keseluruhan, pemilihan chipset Helio G81 Ultra sebenarnya cukup memadai namun masih kalah saing. Di harga Rp 1 juta, beberapa pesaingnya sudah dibekali Helio G99, misalnya seperti Itel RS4 dan Samsung Galaxy A07. 

Software: Banyak iklan dan bloatware

Poco C85 menjalankan sistem operasi Android 15 dengan antarmuka HyperOS 2 sedari awal rilis. Pengalaman yang diberikan secara keseluruhan cukup intuitive, bahkan ada aplikasi Files dan Gallery bawaan. Dengan kata lain, tersedia opsi lain untuk manajemen file dan foto selain Google Files dan Photos.

Hanya saja, pengalamannya sungguh jauh dari Android stock. Ketika kami membuka app drawer, langsung disambut oleh beragam aplikasi prainstal yang tidak akan terlalu sering dipakai. Beberapa di antaranya bisa dihapus, namun ini tetap saja merepotkan dan memakan waktu. 

Pada kondisi default, beberapa aplikasi tertentu bahkan akan menampilkan notifikasi iklan yang mengganggu, misalnya dari Mi Video dan GetApps. Bahkan ketika membuka salah satu aplikasi manajemen file bawaan dari Poco, kadang bermunculan iklan pop-up yang baru akan hilang setelah kita mengetuk simbol “X”. 

Poco C85 juga sayangnya belum dibekali dengan fitur-fitur AI yang “mewah” seperti live translation, transkrip, atau generate gambar. Meski begitu, sejumlah fitur AI yang terintegrasi dengan Google Photos, seperti Magic Eraser dan Unblur, masih tersedia. Selain itu ada juga fitur Gemini yang bisa dipanggil dengan menekan lama tombol power, dan Circle to Search dengan menahan tombol Home. 

Fitur Gemini (kiri), Circle to Search (kanan).

Baterai: Awet seharian penuh

Mengikuti tren industri yang tengah berkembang belakangan ini, Poco C85 tidak lagi dibekali baterai yang “hanya” berkapasitas 5.000 mAh. Sebab, ponsel entry-level ini punya baterai 6.000 mAh yang disertai pengisian daya 33 watt, tergolong lengkap di kelasnya. 

Poco menyebutkan bahwa perangkat ini sanggup dipakai menonton video non-stop hingga 22 jam, dan kami pun tidak meragukan klaim tersebut. Sebab, HP ini memang terbukti punya ketahanan yang baik sepanjang pengujian. 

Bukan itu saja, Poco C85 juga dipersenjatai dengan fast charging 33 watt yang bersaing tinggi di harga Rp 1 jutaan. Padahal, sejumlah ponsel di harga lebih tinggi masih menggunakan daya 18 watt. Perangkat ini diklaim hanya memerlukan sekitar 31 menit untuk mencapai baterai penuh dari kondisi kosong. 

Pada saat pengujian sejumlah game dengan durasi masing-masing 30 menit, Mobile Legends Bang Bang hanya menguras baterai sekitar 5 persen. Permainan PUBG Mobile menghabiskan baterai sekitar 6 persen, dan COD Mobile memangkas baterai sekitar 5 persen. 

Adapun pada saat pengujian PC Mark Battery Life, Poco C85 berhasil meraih durasi ketahanan cukup lama yakni 16 jam 49 menit. Dengan begini, pengguna tidak perlu khawatir saat sedang berada di luar rumah dan lupa tidak membawa charger

Kesimpulan

Dengan banderol harga Rp 1.549.000 untuk RAM 6 GB/ 128 GB dan Rp 1.699.000 untuk RAM 8 GB/ 256 GB, Poco C85 menawarkan pengalaman penggunaan all-rounder yang memadai. Layarnya yang super besar menjadikannya sarana ideal untuk menonton film, terlebih dengan refresh rate 120 Hz miliknya yang bisa membuat nyaman pengguna saat scrolling media sosial. Baterai 6.000 mAh miliknya juga mampu memberikan durasi menonton lebih lama tanpa harus selalu tercolok ke charger

Kameranya pun cukup mumpuni di kelas harganya, terlebih bagi Anda yang hanya berfokus di area pemotretan siang hari dan bokeh. Sedikit catatan, hasil foto malam harinya bukan yang terbaik, dan stabilisasi videonya pun kurang oke untuk kebutuhan media sosial. Namun, ini memang kekurangan yang sangat umum di harga entry-level

Rating editor: 7,5 / 10

Kelebihan:

  • Layar besar dan cerah, nyaman untuk dijadikan sarana hiburan.
  • Baterai super awet dengan kapasitas 6.000 mAh.
  • Pengisian daya 33 watt yang unggul di kelas harga Rp 1 juta.
  • Pengalaman fotografi siang hari yang memadai.

Kekurangan:

  • Meskipun performanya memadai, namun kurang cocok untuk gaming karena tidak ada gyroscope
  • Performa kamera kurang oke untuk malam hari.
  • Software banyak iklan dan aplikasi prainstal.
POCO C85 Harga
Rp. 2.179.000
Pergi Ke Toko
Rp. 2.350.000
Pergi Ke Toko
Lihat Semua

The post Review Poco C85: Cocok untuk Penggemar Film first appeared on Indonesia Blog.

]]>
https://www.91mobiles.com/id/hub/review-poco-c85-cocok-untuk-penggemar-film/feed/ 0 https://static.hub.91mobiles.com/multisite/wp-content/uploads/sites/6/2025/11/photo_9_2025-11-15_21-54-32-150x150.jpg150150