Konflik dengan ARM, Qualcomm Terancam Tak Bisa Jual Chip Snapdragon Terbaru
Qualcomm sudah lama bekerja sama dengan ARM dalam proses pembuatan
chipset. ARM merupakan pemegang set instruksi yang dijadikan dasar pembuatan
chipset Qualcomm, termasuk Snapdragon 8 Elite yang baru beberapa hari sebelumnya resmi diumumkan.
Namun, ARM dan Qualcomm kini terlibat dalam perselisihan terkait kontrak perjanjian, sebagaimana dihimpun
91mobiles dari
Bloomberg. ARM menuduh bahwa Qualcomm sudah melakukan pelanggaran kontrak dengan tidak melakukan renegosiasi terkait penciptaan desain CPU kustom bernama “Oryon”.
Awal mula perselisihan antara ARM dan Qualcomm
Qualcomm mengakuisisi perusahaan bernama Nuvia pada tahun 2022. Nuvia diketahui merupakan perusahaan yang juga memegang lisensi teknologi ARM.
Tujuan Qualcomm mengakuisisi Nuvia adalah untuk membuat desain CPU
custom bernama “Oryon”, yakni unit CPU yang berada di dalam
chip Snapdragon X Elite untuk laptop dan Snapdragon 8 Elite untuk
smartphone.
Setelah akuisisi tersebut berhasil, ARM pun menuduh Qualcomm atas dasar pelanggaran kontrak. Menurut ARM, Qualcomm telah melanggar kontrak karena sudah mengambil alih lisensi ARM yang dimiliki Nuvia, tanpa adanya negosiasi terlebih dahulu dengan pihak ARM.
Ditambah lagi, keputusan ARM yang kini berfokus pada pembuatan
chipset pesaing Qualcomm (tidak lagi hanya sekadar set instruksi) diduga menjadi salah satu penyebab konflik.
Tindakan yang diambil ARM
ARM akhirnya memutuskan untuk berupaya mencabut lisensi Qualcomm. Jika ini terjadi, Qualcomm tidak dapat lagi membuat desain
chip menggunakan set instruksi berbasis ARM.
Jika ingin tetap menggunakan ARM, jalan bagi Qualcomm adalah melalui perjanjian terpisah. Namun ini pun bakal memakan waktu dan berpotensi menyebabkan Qualcomm harus membuang usaha produksi yang sudah mereka lakukan.
ARM menyebutkan, desain yang Nuvia buat saat masih di bawah lisensi ARM tidak dapat dialihkan ke pihak Qualcomm tanpa adanya negosiasi ulang terlebih dahulu. Oleh karena itu, ARM merasa memiliki justifikasi untuk meminta desain tersebut dihapuskan.
ARM memberikan
ultimatum kepada Qualcomm. Jika tidak ada penyelesaian dalam 60 hari, baik itu dengan cara menghapuskan desain
chip yang sudah dibuat maupun membuat kesempatan baru, maka Qualcomm terancam harus berhenti melakukan penjualan atau melakukan ganti rugi dengan nominal yang tidak sedikit.
ARM menyatakan bahwa tindakan hukum yang dilakukan tersebut adalah demi melindungi ekosistem teknologi mereka yang sudah terbangun selama lebih dari 30 tahun. ARM menyatakan kesiapan mereka untuk menghadapi Qualcomm di pengadilan pada Desember 2024, serta merasa yakin akan memenangkan sengketa ini.
Apa dampaknya bagi Qualcomm?
Desain yang ARM anggap sebagai “pelanggaran kontrak” adalah CPU
custom Oryon yang ada di Snapdragon X Elite dan Snapdragon 8 Elite. Sebab, desain ini dibuat oleh Nuvia untuk Qualcomm tanpa adanya persetujuan dari ARM.
Jadi, ponsel-ponsel dengan
chip Snapdragon 8 Gen 3, atau pun produk lain yang tidak menggunakan
chip Oryon, tidak akan terpengaruh oleh perselisihan ini.
Lalu apakah lantas ponsel-ponsel yang penjualannya saat ini tengah berlangsung akan terdampak? Jawabannya, belum tentu. Sebab, seperti yang sudah disinggung, ARM memberikan waktu 60 hari pada Qualcomm sebelum larangan penjualan benar-benar diberlakukan.
Artinya, ponsel-ponsel
flagship seperti Xiaomi 15, iQoo 13, ataupun
ponsel lainnya yang diotaki Snapdragon 8 Elite tampaknya tetap akan lanjut dijual. Barulah jika setelah 60 hari terlewati dan ARM memenangkan sengketa ini, Qualcomm tidak dapat memasarkan Snapdragon 8 Elite pada ponsel ponsel
flagship berikutnya. Walau begitu, tetap saja belum ada kepastian soal ini.
Reaksi Qualcomm terhadap ultimatum ARM
Qualcomm menganggap tuduhan dari ARM tersebut tidak berdasar. Bahkan, mereka menyebut tindakan ARM ini sebagai “rancangan untuk memaksa mitra lama mereka, mengganggu produksi CPU mereka, dan meningkatkan tarif royalti terlepas dari hak-hak yang Qualcomm miliki di bawah lisensi arsitektur mereka.”
Qualcomm menyatakan akan memperjuangkan hak lisensi di pengadilan. Pasalnya, mereka yakin perjanjian lisensi ARM yang ada sudah mencakup aktivitas Nuvia dalam kaitan pembuatan
chip “Oryon”.
Kalau Qualcomm memenangkan sengketa ini, produksi
chip Snapdragon 8 Elite dan Snapdragon X Elite kemungkinan tidak akan terganggu dan bisa terus berjalan untuk produk-produk
smartphone ke depannya. Namun jika kalah, maka Qualcomm harus mencari jalan lain agar tetap bisa memproduksi
chipset.
ARM dan Qualcomm pun diketahui bakal bertemu di pengadilan pada Desember 2024. Pihak Qualcomm meyakini dirinya akan berhasil mempertahankan hak pembuatan
chipset di pengadilan.
Qualcomm berpotensi beralih ke sumber set instruksi lain
Jika tidak ada keputusan baru setelah 60 hari, maka Qualcomm bisa jadi tidak bisa menggunakan set instruksi milik ARM sebagai basis pembuatan chipset-nya.
Selain itu, unsur ketidakpastian dengan ARM ini tampaknya akan mendorong Qualcomm untuk mencari sumber set instruksi selain ARM. Kabarnya, Qualcomm bisa saja memutuskan untuk beralih ke RISC-V sebagai sumber terbuka set instruksi.
Bukan tanpa sebab, Qualcomm dan Google pernah mengumumkan kolaborasi dengan RISC-V untuk pembuatan chip Wear OS pada Oktober 2023.
Belum diketahui pasti siapa yang akan memenangkan sengketa ini. Masing-masing merasa punya bukti yang kuat untuk mempertahankan argumennya.