
Menjelang gelaran acara Mobile World Congress (MWC) 2026, Amazon Web Services (AWS) memaparkan strategi mereka dalam membantu industri telekomunikasi (telco) untuk melakukan transformasi.
Strategi ini berfokus pada pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk memodernisasi infrastruktur yang selama ini dianggap kaku dan berbiaya tinggi. Dalam sesi preview yang diadakan pada Kamis (24/2/2026) pukul 10.00 WIB pagi kemarin, AWS menyoroti peralihan dari AI generatif biasa menuju Agentic AI.
Teknologi ini diklaim mampu bertindak secara mandiri untuk mengelola operasional jaringan, bukan sekadar memberikan respons teks atau jawaban otomatis.
Salah satu tantangan besar bagi banyak perusahaan telco adalah ketergantungan pada sistem lama atau legacy infrastructure yang sulit diperbarui. AWS menyoroti bahwa banyak operator telekomunikasi masih menjalankan aplikasi legacy berbasis VMware, mainframe, dan Sun Solaris di infrastruktur on-premise. Model ini dinilai kurang efisien dari sisi biaya dan kompleks dalam pemeliharaan.
“Perusahaan telekomunikasi memiliki departemen IT yang besar dan infrastruktur lama yang masih berjalan di lingkungan on-premise. Yang kami lakukan adalah membantu mereka memodernisasi infrastruktur tersebut, mulai dari data hingga aplikasi, dan beralih ke sistem berbasis cloud yang lebih modern,” ujar Ishwar Parulkar selaku AWS Chief Technologist for Telecommunications.
Dengan pemanfaatan Agentic AI, AWS memberikan contoh pada AT&T di Amerika Utara yang telah memigrasikan sekitar 1.500 beban kerja (workload), termasuk aplikasi VMware, ke infrastruktur AWS Outposts.
AWS Outposts merupakan rack infrastruktur AWS yang dapat ditempatkan di data center pelanggan namun tetap dikelola seperti layanan cloud. Pendekatan ini disebut memungkinkan modernisasi tanpa harus sepenuhnya meninggalkan lingkungan on-premise.
Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menjalankan fungsi cloud di lokasi fisik mereka sendiri, sehingga meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan keamanan data.
Table of Contents
AWS juga mendorong modernisasi arsitektur jaringan, salah satunya adalah kolaborasi dengan Lumen Technologies. Melalui kerja sama ini, Lumen menyediakan konektivitas last-mile dari kantor cabang enterprise ke lokasi AWS Direct Connect. Dari sana, trafik masuk ke backbone AWS menuju region dan layanan cloud.
Lumen disebut memiliki akses ke lebih dari 160 ribu gedung di AS, sehingga integrasi ini memungkinkan konektivitas enterprise langsung ke cloud dengan provisioning otomatis dan fitur resiliency bawaan. Singkatnya, perusahaan jadi dapat terhubung ke cloud dengan lebih cepat, stabil, dan otomatis, sehingga koneksinya lebih andal dan minim gangguan.
AWS juga menegaskan bahwa mereka telah menjalankan 5G packet core di cloud untuk sejumlah operator, termasuk EchoStar (sebelumnya Dish), Telefonica, dan Comcast.
Di MWC nanti, AWS disebut akan mengumumkan pendekatan baru berupa model 5G core berbasis software-as-a-service (SaaS) bersama Nokia. Model ini memungkinkan operator menjalankan 5G core sebagai layanan cloud, bukan lagi sebagai appliance berbasis hardware tradisional.
“Kami telah menjalankan 5G packet core di cloud untuk sejumlah operator, dan kini kami mengumumkan bahwa 5G core tersebut juga dijalankan dalam model software-as-a-service (SaaS) bersama Nokia,” ujar Ishwar.
Tema besar berikutnya yang diangkat AWS adalah otomatisasi jaringan berbasis Agentic AI. Operator telekomunikasi disebut telah lama mengincar konsep autonomous network, dengan klasifikasi level 0 hingga 5 yang dirumuskan oleh TM Forum.
AWS menawarkan full stack layanan AI Agentic, mulai dari infrastruktur, tools pengembangan agen, hingga aplikasi siap pakai. Pendekatan ini memungkinkan operator melakukan deteksi anomali, analisis akar masalah (root cause analysis), optimasi performa jaringan, dan traffic steering serta traffic sharing.
Salah satu hal penting yang diumumkan adalah penyediaan RApps dari Ericsson sebagai layanan (RApps as a Service) melalui AWS Marketplace. RApps merupakan aplikasi non-real-time untuk optimasi jaringan RAN berbasis konsep Open RAN. AWS menyebutkan bahwa operator dapat menggunakan natural language prompt untuk melakukan query dan optimasi jaringan. Vivo Brasil menjadi salah satu operator yang tengah menguji pendekatan ini.
Dalam pengumuman preview menjelang MWC 2026, AWS turut menyebutkan bahwa pihaknya melihat masa depan jaringan sebagai integrasi antara cloud, edge, fiber, dan satelit. Dalam konteks fiber, AWS menyebutkan soal kolaborasi dengan operator seperti Verizon dan AT&T untuk membangun konektivitas fiber berkapasitas tinggi ke data center AWS, terlebih untuk mendukung lonjakan trafik AI.
Di sisi lain, AWS mengembangkan jaringan satelit orbit rendah (LEO) untuk broadband, satelit ini disebut bakal melengkapi jaringan terestial alih-alih menggantikannya. Dalam sesi preview ini, turut ditegaskan bahwa keterbatasan spektrum membuat jaringan satelit tidak akan menyamai kapasitas fiber, namun akan terintegrasi lebih erat pada era 6G.
Secara keseluruhan, rangkaian pembicaraan yang terjadi pada sesi preview menjelang MWC 2026 ini menegaskan arah baru industri telekomunikasi yang semakin cloud-native dan berbasis AI. AWS tidak lagi sekadar menawarkan infrastruktur komputasi, melainkan juga ikut terlibat langsung dalam transformasi core network, otomatisasi operasional, hingga pengembangan 6G.