Sejak kembalinya Motorola di Indonesia pada Februari 2025, produk-produk bagus dari pabrikan asal AS tersebut kerap berdatangan. Salah satunya yang cukup layak diminati adalah tablet Moto Pad 60 Neo yang hadir di harga Rp 2 jutaan dengan berbagai penawaran menarik.
Tablet ini dikemas dengan stylus bawaan yang tak hanya sekadar gimmick tapi juga menawarkan kenyamanan berlebih. Desain bodinya yang ramping dan ringan sungguh menjadikannya teman travelling yang layak dan tidak membuat repot.
Tim 91Mobiles Indonesia berkesempatan menguji kebolehan dari tablet ini, sekaligus mengetahui apa saja yang bisa ditingkatkan di kelas harganya. Simak pada review Moto Pad 60 Neo berikut ini.
Table of Contents
Dari luar, penampakan boks tablet Motorola ini tampak sederhana dengan dominan warna putih dan sedikit aksen visual. Kendati begitu, di dalamnya justru tersedia aksesoris yang cukup komplet.
Selain buku manual dan kartu garansi, terdapat charger 20 watt beserta kabel USB-A ke USB-C yang berfungsi untuk pengisian daya. Menariknya, tablet ini juga dibekali stylus bawaan yang bisa dipakai untuk menulis atau menggambar.
Akan tetapi di sini pula kami menemukan sebuah pengalaman yang kurang wajar. Walau ada stylus bawaan, pengguna tidak dapat menempelkan atau memasukkan stylus ke bodi tablet itu sendiri. Ini agaknya bakal cukup merepotkan setiap kali bepergian. Pihak pabrikan tampak lebih memilih untuk merancang bodi yang tipis ketimbang menyediakan ruang untuk stylus.
Tablet ini dirancang dengan bahan material aluminium untuk bagian frame dan punggungnya. Tak heran, bodinya terasa begitu premium baik saat dilihat maupun dipegang.
Permukaan panel belakangnya terasa halus namun tidak licin, memudahkan pengoperasian tanpa khawatir tergelincir dari tangan.
Meskipun Moto Pad 60 Neo hadir di pasar global dalam varian warna Pantone Bronze Green, Indonesia justru kebagian varian warna Malibu Blue.
Warna birunya sekilas mengingatkan kami akan biru laut, dan sepertinya menjadi varian yang lebih mudah diterima masyarakat Indonesia dibandingkan Bronze Green.
Dengan tampilan polos di punggung, Moto Pad 60 Neo hanya menampilkan logo Motorola, modul kamera dengan satu lensa di pojok kiri atas, sekaligus aksen dual-tone yang menambah daya tarik tablet ini. Secara umum, tablet ini bakal sangat mudah melebur ke segala situasi, baik itu kasual maupun profesional.
Yang mencengangkan dari tablet ini adalah ketebalan bodinya yang sangat tipis, hanya 7 mm. Panjang dan lebarnya 254,6 x 166,2 mm dengan bobot 480 gram. Ini nyaris membuatnya seringan iPad Air terbaru yang punya bobot 460 gram.
Menyoal penggunaan, tablet ini jelas dimaksudkan untuk dipakai secara lanskap. Soalnya, kamera depannya berada persis di tengah bezel yang lebih panjang. Di sisi bawahnya pun terlihat tiga buah titik konektor untuk dipasangkan dengan keyboard.
Bagian kiri dan kanan masing-masing memuat dua speaker grille yang mendukung Dolby Atmos, dengan laci kartu SIM yang terletak di bagian atas. Ya, tablet murah ini turut mendukung jaringan seluler 5G. Sementara itu, tombol volume dan power berada di pojok kiri atas jika dilihat dari posisi lanskap.
Untuk mengantisipasi curah hujan Indonesia yang kerap tinggi, tablet Motorola ini juga sudah tersertifikasi IP52 agar tidak mudah rusak apabila terkena cipratan air.
Moto Pad 60 Neo memang tidak dibekali panel AMOLED atau refresh rate 120 Hz. Meski begitu, layarnya tetap cukup cerah untuk penggunaan indoor. Di atas kertas, tablet ini datang membawakan panel IPS LCD 11 inci dengan resolusi 1.600 x 2.560 piksel, mendukung refresh rate 90 Hz dan kecerahan hingga 500 nit.
Berbekal aspek rasio 16:10, layar tablet ini sungguh menampilkan konten dengan area penglihatan yang sangat luas. Ini akan memudahkan pengguna melihat data spreadsheet dengan lebih lengkap tanpa harus scrolling.
Meskipun memiliki refresh rate 90 Hz, pengguna rupanya tidak dapat melihat pengaturan refresh rate di menu pengaturan bagian layar. Opsi mengurangi refresh rate justru terletak di bagian baterai untuk mengurangi konsumsi daya.
Tablet ini punya penanganan refresh rate lebih baik dari perangkat Rp 2 jutaan lain yang pernah kami review. Sebab, saat diujikan pada Dead Trigger 2, layarnya benar-benar menunjukkan refresh rate 90 Hz sehingga gameplay tampak lebih mulus.
Untuk membuatnya terlihat menyerupai laptop, tablet ini juga memiliki stand by mode yang memperlihatkan “screensaver” berbentuk informasi jam atau foto album. Namun, ini tidak dapat dianggap sebagai mode “Always-On Display” lantaran hanya bisa aktif saat tercolok charger.
Tersedia mode adaptive brightness yang sesuai namanya, dapat menyesuaikan tingkat kecerahan berdasarkan kondisi sekitar. Layar ini masih terlihat cerah dan terang ketika digunakan secara outdoor di siang hari, baik saat manual brightness digeser paling kanan atau saat adaptive brightness diaktifkan.
Namun, tampaknya Moto tidak memberikan lapisan anti-reflektif di layar sehingga bayangan pengguna akan jelas terlihat, berpotensi menjadi distraksi saat hendak melakukan produktivitas. Jika memang sudah disediakan fitur atau lapisan anti-reflektif, mungkin efeknya kurang kuat untuk menghadang teriknya sinar matahari kota Bandung di siang bolong.
Seperti mayoritas tablet murah lainnya, Moto Pad 60 Neo hanya disuguhkan dengan single camera di belakang yaitu 8 MP wide-angle. Kamera ini tidak memiliki autofokus, sehingga hanya akan cocok untuk memindai dokumen.
Di bagian depan, tersemat kamera “webcam” beresolusi 5 MP yang bisa dipakai untuk selfie atau video call. Kamera ini terletak di sisi atas pada orientasi lanskap, sehingga tidak akan memberikan efek “eye-contact” yang canggung saat rapat daring.
Menyoal hasil fotonya sendiri, sebaiknya jangan terlalu berharap banyak. Pasalnya, detail yang terjaga pada fotonya condong minim. Dynamic range juga tidak luas, sehingga langit malah terlihat sangat terang alih-alih biru.
Hal serupa juga terjadi pada kamera depan, di mana hasil fotonya tampak buram meskipun dilakukan di siang hari pada luar ruangan. Setidaknya, kamera depan ini terletak di sisi atas pada orientasi lanskap sehingga dapat berfungsi sebagai webcam untuk rapat daring.
Kalau sedang membahas tablet, fitur multi-tasking menjadi salah satu yang tidak boleh dilewatkan. Sebab, meski tidak diniatkan sebagai pengganti laptop sepenuhnya, tablet punya layar cukup besar sehingga masih dapat dipakai untuk multi-tasking, apalagi jika didukung dengan software yang tepat.
Berapa banyak jendela aktif yang bisa dimunculkan bersamaan? Untuk menjawabnya, kami mesti membahas dulu soal dua mode tampilan yang disediakan tablet ini yaitu mode default dan mode desktop.
Seperti namanya, mode desktop ini dapat menyulap tampilan antarmuka menjadi mirip PC, fitur yang sangat langka untuk tablet seharga Rp 2 jutaan. Mode ini akan menampilkan taskbar di bawah, dengan tampilan informasi waktu, baterai, status jaringan, hingga akses menuju quick setting dan notifikasi.
Jendela aktif pun dapat di-minimize dan di-resize selayaknya memakai Windows 11, bahkan disandingkan secara side-by-side. Untuk menjawab pertanyaan di awal, mode desktop di Moto Pad 60 Neo sanggup menampilkan hingga empat jendela aktif sekaligus, baik itu dalam bentuk dua jendela split-screen dan dua jendela mengambang maupun empat jendela aktif dalam ukuran kecil.
Pendukung multi-tasking lainnya turut hadir dalam fitur unik bernama Smart Connect. Fitur yang kerap dihadirkan untuk produk Motorola ini dapat menghubungkan tablet dengan PC secara mulus, mulai dari sinkronisasi notifikasi, berbagi clipboard, mirroring layar, hingga streaming aplikasi.
Saat berada di depan PC, pengguna dapat melihat foto atau video yang tersimpan di ponsel. Smart Clipboard juga memungkinkan teks atau file yang disalin di satu perangkat untuk dapat ditempel di perangkat lain. Pengalaman memakai fitur ini dapat dilihat pada review Moto G45 yang pernah kami tulis.
Moto Pad 60 Neo berjalan pada sistem operasi Android 15 sedari awal rilis, dengan pengalaman yang cukup mendekati Android stock. Sepanjang penggunaan, sama sekali tidak terlihat adanya iklan di dalam sistem, baik itu di aplikasi bawaan maupun notifikasi pop-up.
Berbicara soal aplikasi bawaan, jumlah yang dapat ditemukan di tablet ini sangat sedikit, bahkan nyaris tidak ada. Motorola bahkan tidak membekalinya dengan aplikasi Files dan Galeri bawaan, melainkan mengandalkan aplikasi yang sudah disediakan Google.
Menyoal performa dari perangkat ini, Moto Pad 60 Neo dibekali dengan chipset MediaTek Dimensity 6300 yang dibangun pada fabrikasi 6 nm. Rangkaian delapan prosesornya terdiri atas 2x Cortex A76 (2,4 GHz) dan 6x Cortex A55 (2,0 GHz), disertai dengan GPU ARM Mali-G57 MC2.
Pengujian benchmark pada perangkat ini terkendala karena aplikasi AnTuTu menolak untuk menampilkan skornya, kendati sudah dites berulang kali dengan koneksi internet yang berbeda-beda. Meski begitu, perangkat dengan Dimensity 6300 umumnya punya kinerja yang sama dengan Helio G99/G100/G200, yakni meraih skor 400 ribuan poin di AnTuTu v10.
Di pengujian Geekbench 6, Moto Pad 60 Neo mencapai skor 773 poin di single-core dan 1.901 poin di multi-score. Lalu pada pengujian throttling menggunakan Burnout selama 8 menit, perangkat ini tercatat berhasil mempertahankan 60,9 persen dari peak performance.
Pengalaman gaming di tablet ini juga tidak bisa disebut buruk. Setidaknya, sejumlah judul populer seperti PUBG Mobile dan COD Mobile masih berjalan dengan baik, meski tidak sepenuhnya mulus.
Saat bermain PUBG Mobile, pengalaman secara keseluruhan cukup memadai, stabil di 30 FPS walau terkadang turun ke 20-an FPS saat menggunakan pengaturan grafis HDR – Ultra. Saat diturunkan ke grafis “Balanced”, ada kenaikan frame rate namun tetap tidak menyentuh 60 FPS.
Ini memang bukan pengalaman yang “flawless”, tapi masih playable untuk sesi permainan kasual. Hanya terjadi sedikit kenaikan suhu di area modul kamera setelah bermain beberapa menit.
Pengalaman serupa dirasakan ketika memainkan COD Mobile di pengaturan maksimal yang diizinkan, yaitu Medium (grafis) dan Max (frame rate). Sepanjang bermain, tidak terasa adanya lagging yang mengganggu, namun sesekali memang terjadi stutter ringan. Untuk yang tidak mengejar tampilan grafis paling bagus atau frame rate paling mulus, Moto Pad 60 Neo masih bisa nyaman dipakai bermain game shooter.
Satu kekurangan yang tampaknya bakal menjadi pertimbangan para gamer adalah absennya fitur gyroscope. Bahkan fitur ini pun tidak tersedia secara virtual, sehingga bisa menjadi deal-breaker bagi yang terbiasa menggunakan gyro aiming untuk membasmi musuh.
Kami juga sempat menguji performanya saat bermain Roblox, tepatnya permainan Fish It! dan Brookhaven yang tengah populer belakangan ini. Pergerakan karakter pemain di tengah-tengah kerumunan membuatnya cukup stuttering, namun masih bisa diterima.
Layar juga masih sangat responsif untuk menerima input ketukan bertubi-tubi saat berusaha memancing ikan. Intinya, pengalamannya serupa dengan PUBG Mobile dan COD Mobile. Kalau tidak terlalu memprioritaskan FPS yang super mulus, tablet ini masih sangat oke untuk permainan Roblox.
Yang menjadikan Moto Pad 60 Neo sangat menonjol di harganya adalah kehadiran stylus di boks penjualan. Ya, tanpa membayar lebih, Anda sudah mendapatkan stylus bawaan pada tablet Rp 2 jutaan ini untuk menunjang produktivitas, seperti menulis, menggambar, dan bernavigasi.
Stylus yang dinamakan Moto Pen ini mendukung 4.096 tingkat tekanan sehingga setiap goresannya terasa natural untuk menulis catatan, menggambar sketsa, atau sekadar mencoret-coret. Tekanan yang ringan dan kuat pun akan menghasilkan garis dengan ketebalan berbeda.
Bukan itu saja, stylus ini juga punya latensi yang sangat rendah sehingga input terasa lebih responsif dan terhindar dari delay. Selama penggunaan pun, kami sungguh dapat menggambar dengan tenang dan nyaman kendati tangan menempel di layar. Ini karena Moto Pen mendukung palm rejection sehingga telapak tangan dapat diletakkan di layar tanpa terjadi “mistouch” atau salah sentuh.
Moto Pen ini juga fungsi lain dari sekadar menulis dan menggambar, yakni untuk mencari informasi yang ditampilkan di layar. Dengan fitur Circle to Search, stylus dapat dipakai untuk melingkari teks atau gambar, kemudian langsung mencari informasi di Google.
Kekurangannya cuman satu, Moto Pen ini tidak dapat diletakkan di bodi tablet sama sekali karena memang tidak ada slot khusus. Stylus ini bahkan tidak dapat dicas lantaran menggunakan baterai AAAA yang mesti diganti setiap kali habis daya, alias tidak memakai charging USB-C seperti Moto Pen Pro. Namun perlu diingat, stylus bawaan ini di-bundling dengan tablet Rp 2 jutaan, jadi kekurangan ini masih dapat dimaklumi.
Moto Pad 60 Neo tak hanya ditunjang dengan stylus, melainkan juga kompatibel dengan keyboard tertentu. Dalam pengujian kami, unit datang bersamaan dengan Lenovo Idea Tab Folio Keyboard yang sayangnya mesti dibeli secara terpisah.
Papan ketik ini sebenarnya merupakan keyboard resmi yang dirancang khusus untuk Lenovo Idea Tab, namun rupanya kompatibel juga dengan Moto Pad 60 Neo. Fungsinya tidak hanya untuk mengetik, melainkan juga sebagai cover pelindung depan dan belakang, serta bisa dilipat menjadi stand penyangga tablet saat disimpan di meja.
Latensinya pun lebih rendah dibandingkan keyboard generik yang memakai Bluetooth. Sebab, papan ketik ini menggunakan koneksi pogo pin sehingga mudah terpasang, tidak harus pairing terlebih dahulu.
Tombol fisik full-size yang disematkan cukup membantu dalam mengetik dokumen, chatting, browsing, atau editing ringan. Beberapa shortcut seperti pengaturan volume, kecerahan layar, pengambilan screenshot, hingga akses ke split-screen bahkan turut disediakan. Namun yang agak disayangkan, tidak tersedia touchpad yang bisa dipakai untuk menggeser-geser cursor.
Lenovo Idea Tab Folio Keyboard juga sebenarnya memiliki “slot” untuk menampung stylus. Namun ukuran Moto Pen bawaan dari tablet ini rupanya terlalu besar sehingga tidak muat.
Meski berbodi ringkas, Moto Pad 60 Neo difasilitasi dengan baterai yang cukup besar yaitu 7.040 mAh. Tablet ini diklaim dapat bertahan hingga kurang lebih 12 jam. Unit review yang kami terima disertakan dengan charger 20 watt, daya yang memang sesuai dengan spesifikasi charging tablet ini.
Tampaknya klaim dari Motorola benar adanya. Sebab, ketika diujikan dengan PC Mark Battery Life, Moto Pad 60 Neo berhasil bertahan selama 12 jam 14 menit. Ini bukan durasi yang terlalu lama, namun cukup oke untuk menunjang kebutuhan pengguna selama seharian penuh.
Pengguna kemungkinan perlu agak bersabar saat mengecas tablet ini, terlebih dari kondisi mati. Sebab, ketika tercolok, perlu menunggu cukup lama (hingga hitungan menit) hingga tablet bisa kembali menyala dari kondisi mati.
Dalam pengujian yang kami lakukan, pengisian selama 30 menit akan membuat baterai naik dari 3 persen menjadi 31 persen, lalu mencapai 63 persen untuk 30 menit berikutnya. Jika ditotal-total, Moto Pad 60 Neo memerlukan sekitar 1 jam 49 menit dari kondisi 0-100 persen.
Di harga Rp 2 jutaan, opsi untuk mendapatkan tablet yang layak untuk multi-tasking sangat jauh dari kata melimpah. Rasanya bisa dihitung jari mana saja yang sudah disertai stylus bawaan, dan jumlahnya akan lebih sedikit lagi jika mengharapkan software yang menyediakan mode PC seperti Moto Pad 60 Neo.
Alternatif yang mungkin mendekati adalah Advan Stylus Sketsa 3 yang sudah hadir dengan keyboard dan stylus di dalam boksnya. Meski begitu, pengalaman software di tablet lokal tersebut masih kalah jauh ketimbang Moto Pad 60 Neo ini.
Semestinya seluruh pabrikan gawai mencontoh pada Motorola yang kerap menonjolkan pengalaman pengguna dari segi software, bukan sekadar mementingkan spesifikasi di atas kertas. Terlebih untuk tablet di harga murah, sudah saatnya fitur multi-tasking di Moto Pad 60 Neo dijadikan standar yang umum.
Di luar dari kenyamanan yang ditawarkan, sayangnya Moto Pad 60 Neo masih menyisakan beberapa hal yang membuat kami kurang “sreg” selama periode review. Absennya sensor giroskop, kemampuan fotografi yang kurang oke, dan dapur pacu yang kalah saing menjadi beberapa hal yang mesti diperhatikan dari tablet ini.
Pesaingnya di harga yang sangat mirip, Galaxy Tab A11 Plus, hadir dengan Dimensity 7300 yang lebih gesit, Samsung DeX untuk pengalaman antarmuka PC, dan sensor giroskop. Namun, tablet Samsung ini tidak punya stylus bawaan, bahkan tidak pula kompatibel dengan S Pen.
Moto Pad 60 Neo rilis di Indonesia pada 5 November 2025 dengan harga Rp 2.869.000 untuk RAM 4 GB/ 128 GB.
Rating editor: 7,5 / 10
Alasan membeli:
Alasan tidak membeli: