Wawancara Bagus Prasetyo: Pimpinan Baru Motorola Indonesia yang Tidak Menjual Nostalgia

Setelah absen delapan tahun lamanya, Motorola akhirnya kembali ke pasaran smartphone Indonesia pada awal 2025. Pabrikan ini langsung jor-joran merilis produk, dimulai dari Moto G45, kemudian seri Edge 60, hingga yang terbaru, lini ponsel lipat clamshell ikonik Razer 60.

Ketika 91mobiles Indonesia berniat mengunjungi kantor Motorola Indonesia, pertengahan Februari lalu, kami diarahkan ke alamat kantor Lenovo di lantai 21 Wisma 46, bilangan Sudirman, Jakarta. Motorola memang bernaung di bawah Lenovo sehingga saling berbagi office space.

Motorola pada waktu tersebut sedang menyiapkan kantor terpisah. Letaknya berseberangan dengan Lenovo di gedung dan lantai yang sama. Sebuah logo Motorola berukuran besar dengan lampu backlight berwarna putih menghiasi pintu masuk, tapi ruangan-ruangan di baliknya terlihat masih dalam proses konstruksi. Suasananya agak gelap karena belum semua lampu terpasang.

“Kami akan pindah ke sana bulan depan (Maret 2026),” ujar Country Managing Director Motorola Indonesia, Bagus Prasetyo, sebelum memulai wawancara dengan 91mobiles Indonesia di sebuah ruang rapat di kantor Lenovo yang terletak hanya sekitar 20 meter dari calon kantor baru Motorola.

Dari otomotif ke teknologi

Sebelum berlabuh di industri teknologi, Bagus mengawali perjalanan profesionalnya di dunia otomotif di sebuah perusahaan yang berbasis di Jakarta. Dia menangani manajemen suku cadang, komponen sepeda motor, mobil, hingga penyimpanan dan distribusinya.

Beberapa tahun berkiprah di bidang otomotif dan sempat beberapa kali pindah ke unit berbeda, lulusan Teknik Industri dari Universitas Atma Jaya ini beralih ke e-commerce dengan bergabung ke Lazada, salah satu pemain terbesar di Asia Tenggara yang juga beroperasi di Indonesia.

Bagus awalnya berkutat dengan manajemen operasi logistik, lalu perlahan meniti karier hingga mencapai posisi Vice President. Beberapa perusahaan lain yang dia singgahi setelahnya juga berbisnis di ranah e-commerce, termasuk sebuah peritel fashion yang dikenal lewat brand Uniqlo.

Pemasaran online tetap menjadi spesialisasi Bagus ketika dia bergabung dengan Samsung selepas masa pandemi Covid-19, tepatnya pada November 2022, sebagai kepala grup eStore dan Online Business Platform.

Di sini, dia tak hanya menangani logistik dan penjualan ponsel pintar Galaxy, tetapi juga berbagai perangkat consumer electronics buatan perusahaan asal Korea Selatan tersebut, mulai dari mesin cuci, vacuum cleaner, hingga televisi dan monitor.

Bagus kemudian didapuk menjadi direktur bisnis Direct to Consumer untuk produk smartphone dan elektronik konsumen. Sebenarnya dia bisa tetap bertahan dengan peran di balik layar ini, tapi perjalanan hidup membawanya ke panggung yang lebih tersorot oleh publik.

Dikirimi tantangan

Kertika masih bekerja di perusahaan sebelumnya, Bagus tiba-tiba mendapat challenge dari seseorang yang memperhatikan sepak terjangnya. Pertanyaannya sederhana: mau menerima tantangan untuk mengembangkan brand di Indonesia atau tidak?

“Saya katakan, oke, brand apa dan produk apa. Mereknya masih belum bisa diungkap, tapi produknya adalah smartphone dan lain-lain,” tutur Bagus. Dia tak bisa langsung memberikan jawaban karena sedang berada dalam perjalanan dinas di luar negeri.

Belakangan, diberitahukan bahwa brand perusahaan yang menyampaikan tantangan adalah Motorola Mobility. Bagus sempat bimbang dan menimbang-nimbang cukup lama, lebih dari satu bulan, sebelum dia akhirnya menyanggupi tantangan tersebut. Sang penantang ternyata adalah rekan kerjanya sekarang, kepala Motorola untuk wilayah Asia Pasifik. 

Bagus Prasetyo pun bergabung dengan Motorola Indonesia sebagai nakhoda, mengemban jabatan Country Managing Director. Dia membangun tim kecil berisikan pemain veteran lintas industri. Latar belakangnya bukan hanya dari industri teknologi saja, tetapi juga dari e-commerce, bahkan otomotif.

Tim Motorola dijalankannya dengan “semangat startup” di mana semua anggota bisa berpartisipasi aktif dan saling mendukung dalam upaya membawa brand itu kembali ke Indonesia. Setahun pertama, di awal-awal siklus perkenalannya, tim bekerja serba cepat.

“Tidak semua orang bisa ikut dalam pace seperti demikian. Oleh karena itu, kami benar-benar memilih tim secara handpicked, orang-orang yang dinamis dan profesional luar biasa,” ujar Bagus mengenai para anggota timnya.

Tak lama kemudian, pada Februari 2025, Bagus Prasetyo tampil di panggung untuk mengumumkan kembalinya Motorola ke Indonesia. Dia mencanangkan target ambisius untuk membawa Motorola ke dalam daftar 5 pabrikan smartphone terbesar dalam waktu beberapa tahun.

Bukan jual nostalgia

Motorola yang dipimpin oleh Bagus di Indonesia adalah brand telekomunikasi legendaris. Perusahaan yang umurnya hampir seabad ini dikenal sebagai pelopor teknologi telepon seluler di dekade 80-an. Pada dekade-dekade berikutnya pun Motorola tak pernah absen mewarnai dunia teknologi.

Meskipun demikian, Bagus meyakini bahwa Motorola bisa sukses di Indonesia bukan dengan menjual legacy, nostalgia, atau nama besarnya, tapi dengan fokus pada sebuah celah yang ada di pasar menurut pengamatannya. Celah dimaksud adalah aspek gaya hidup dari sebuah gadget.

“Saat ini yang saya lihat, development smartphone dari sisi teknologi saja, bukan dalam bentuk lifestyle. Padahal, dari hari ke hari, handphone itu yang selalu ada di dalam genggaman kita,” katanya. Dia menambahkan, aspek lifestyle juga bisa menjembatani gap yang ada dari ketika vakum di Indonesia hingga kemudian melakukan comeback.

Kebetulan pula, lanjut Bagus, Motorola belakangan juga menelurkan sejumlah inovasi sesuai dengan ceruk pasar yang dibidiknya di Indonesia. Dari segi desain, misalnya, Motorola menggandeng perusahaan spesialis warna, Pantone, untuk menerapkan aneka kelir unik di produknya sehingga tampil khas dan menarik.

Kolaborasi tersebut juga mencakup fine-tuning aspek kamera untuk menghasilkan tangkapan gambar dengan warna-warna sesuai selera pasar konsumen Asia Tenggara, terutama dalam hal skin tone. Menurut Bagus, kamera ponsel Motorola mengedepankan hasil yang natural tanpa touch-up berlebihan, tapi sudah siap untuk langsung diunggah ke media sosial.

Bagus menjelaskan bahwa inilah yang mencerminkan pendekatan Motorola pada tahun 2025, ketika comeback, dan dilanjutkan pada 2026. Semua berbeda dari sebelumnya. “Fresh, colorful, dan benar-benar menyentuh langsung fungsionalitas dari para penggunanya, baik dari sisi lifestyle maupun teknologi,” ujarnya.

Mimpi harus setinggi langit

Berbekal pendekatan yang diubah, produk-produk baru Motorola berhasil mendapat sambutan hangat di Indonesia. Ponsel perdananya setelah comeback, Moto G45, bahkan sempat bertengger di daftar perangkat terlaris di platform e-commerce.

Target ambisius yang dicanangkan oleh Bagus ketika memperkenalkan kembali gadget Motorola di depan publik Indonesia kemudian terdengar masuk akal. Dia mengatakan memang sengaja mematok target “setinggi langit” agar tak membatasi pencapaian yang dapat diraih.

“Itu adalah statement kami bahwa untuk menjadi noticeable, kami harus mencapai satu level tertentu,” ujarnya. Nama Motorola memang masih absen dari peringkat lima besar pabrikan smartphone di Indonesia. Namun, melihat sepak terjang Motorola di pasaran, impian masuk top-5 tersebut kini terasa mungkin.

Perlahan tapi pasti, produk Motorola mulai mengisi segmen-segmen harga berbeda di pasaran gadget Indonesia. Pabrikan ini bahkan sudah berani merilis produk ponsel lipat ikonik dari seri Razr yang sebelumnya belum pernah diboyong ke Tanah Air. Produknya kini bisa ditemui di segmen entry-level di kisaran Rp 1 jutaan hingga kelas premium.

Ke depan, Bagus menjelaskan bahwa Motorola memiliki visi untuk tidak sekadar menjadi penyedia perangkat keras, tetapi juga solusi berbasis perangkat lunak. Salah satu perwujudannya adalah rangkaian fitur berbasis kecerdasan buatan yang tergabung di bawah bendera Moto AI.

“Moto AI lah yang akan menemani para pengguna. Handphone dengan kemampuan AI gabungan cloud AI dan personal AI di perangkat. Nah, bagaimana caranya mendemokratisasikan ini? Tunggu saja Motorola di tahun ini dan tahun depan,” pungkasnya.

iconicon
Oik telah bekerja untuk sejumlah media ternama di Indonesia. Karirnya diawali dengan menulis review hardware komputer untuk Majalah Chip dan JagatReview. Dia kemudian menjadi jurnalis di Kompas.com selama lebih dari satu dekade, meliput produk-produk dan tren terkni di dunia teknologi, sebelum bergabung dengan 91Mobiles Indonesia sebagai Associate Editor.