Review Vivo X300 Ultra: HP Flagship untuk Fotografer Serius
Banyak flagship mendekati penawaran sistem kamera layaknya DSLR, seperti Vivo X300 Pro, OPPO Find X9 Pro, Samsung Galaxy S26 Ultra, dan iPhone 17 Pro Max. Namun, kemudian hadir Vivo X300 Ultra yang tidak hanya “mendekati penawaran foto layaknya DSLR.” Ia mencapainya. Tentu saja, asalkan Anda bersedia totalitas dan membeli tidak hanya ponselnya tetapi juga photography kit-nya. Vivo X300 Ultra bukanlah flagship untuk khalayak umum; ini untuk pembeli yang serius tentang fotografi. Maksud saya, benar-benar serius.
Kesimpulan awal
Vivo X300 Ultra adalah, yang pertama dan terpenting, sebuah camera phone. Setiap keputusan desain, mulai dari Zeiss camera module yang besar hingga aksesori photography kit, memperkuat identitas tersebut. Sebagai camera phone, X300 Ultra adalah yang terbaik yang bisa Anda beli saat ini. Sistem tiga lensanya memberikan konsistensi terdepan di kelasnya di seluruh focal length, color science Vivo tetap menjadi yang terbaik di industri, dan Zeiss Telephoto Extender Kit memperluas kemampuan X300 Ultra ke wilayah yang tidak tersentuh smartphone lain.
Performance, display, dan baterai semuanya berkelas flagship. Software-nya memiliki beberapa kekurangan, tombol shortcut-nya tidak ada, dan harga mulai Rp 26 juta untuk ponselnya saja memastikan ini adalah ponsel untuk pembeli yang sangat spesifik. Jika kamera adalah alasan utama Anda membeli ponsel, X300 Ultra adalah jawabannya. Jika tidak, ada flagship yang lebih seimbang, termasuk Vivo X300 Pro milik Vivo sendiri, yang tersedia dengan harga lebih murah.
Kamera: Tiga lensa, satu standar konsisten
Anda bisa saja membeli Vivo X300 Ultra tanpa photography kit dan tetap puas dengan kameranya. Vivo telah memastikan ponsel seharga mulai Rp 26 juta ini memiliki sistem kamera terbaik yang seharusnya ditawarkan oleh ponsel ultra-premium.
Secara teknis, X300 Ultra memiliki empat kamera belakang, tiga di antaranya dapat digunakan, masing-masing dengan tujuan yang berbeda.
35 mm Zeiss Documentary Camera adalah kamera utama dengan sensor 200 MP Sony LYTIA 901 berukuran 1/1,12 inci.
Focal length tersebut adalah yang paling mendekati cara mata manusia melihat suatu pemandangan, yang menjadikannya
default alami untuk street photography, travel, dan pengambilan gambar sehari-hari.
14 mm Zeiss ultra-wide menggunakan sensor 50 MP dengan
2-degree OIS dan dukungan untuk 4K 120 fps.
85mm ZEISS Gimbal-Like Stabilisation APO Telephoto melengkapi tiga lensa utama, dengan
gimbal-grade 3-degree OIS, 200MP output, dan
60fps AF tracking dalam mode Snapshot. Ini mencakup apa yang Vivo sebut sebagai “golden focal length.”
Masing-masing dari ketiga lensa ini memiliki coating ZEISS T* dan Super Blue Glass untuk mengurangi flare dan ghosting. Kamera keempat, 5MP multispectral sensor dengan 12 color channels, berada di latar belakang dan memastikan warna di setiap bidikan seakurat mungkin, terlepas dari ambient light.
Hal yang paling mengesankan dari kamera X300 Ultra adalah konsistensinya di ketiga lensa. Baik Anda memotret pada 14mm, 35mm, atau 85mm, hasilnya terasa seperti berasal dari kamera yang sama. Satu-satunya perbedaan berarti yang saya temukan adalah bahwa
telephoto dan
ultrawide sedikit lebih rentan terhadap
motion blur dengan subjek bergerak cepat dalam pencahayaan yang kurang ideal. Saya menghabiskan lebih banyak waktu memilih di antara lensa untuk menemukan
framing yang tepat untuk sebuah bidikan daripada menghitung lensa mana yang paling tidak akan mengecewakan saya. Itu adalah masalah yang menyenangkan untuk dimiliki.
Color science Vivo terus menjadi yang terbaik. Pemrosesannya naturalistik daripada punchy, menghindari tampilan oversaturated yang diandalkan beberapa pesaing untuk membuat foto terlihat mengesankan pada pandangan pertama. Anda perlu tahu tentang Zeiss colour styles, khususnya Vivid, Refined, dan Natural. Vivid cenderung meningkatkan warna untuk foto-foto cerah yang siap di media sosial. Natural menurunkan colour saturation dan merupakan gaya yang paling saya sukai. Refined membawa warna paling dekat dengan apa yang mata Anda lihat, sehingga paling akurat, meskipun relatif kusam. Saya juga menemukan Super Macro mode cukup mengesankan untuk bidikan ultra-close bunga dan serangga, dengan stability dan detail yang sangat baik.
Saya membandingkan X300 Ultra dengan X300 Pro untuk memberi Anda gambaran yang lebih baik tentang apa yang Anda dapatkan dengan tambahan sekitar Rp 7juta. Semua sampel diambil dalam Zeiss Natural mode.
Cahaya Siang
Kamera ultrawide X300 Ultra adalah salah satu yang terbaik di kelasnya dalam cahaya yang baik. Dynamic range-nya luas, white balance akurat, dan level detail pada native 14mm focal length-nya secara konsisten sangat baik. Kamera utama 35mm memberikan keandalan yang sama. Warna-warna cerah tanpa terasa diproses, background blur dalam Photo mode cukup alami sehingga Portrait mode jarang diperlukan.
Pada resolution modes, kamera utama memotret pada 12MP secara default, tetapi sweet spot di ketiga lensa adalah 25MP atau 50MP. Mode 200MP menghasilkan hasil yang dapat digunakan dalam cahaya yang baik tetapi menambah ukuran file. Sebaiknya tetap gunakan 50MP sebagai batas atas.
Dibandingkan dengan X300 Pro pada default 12MP resolution-nya, X300 Ultra menangkap warna yang lebih realistis, dan ada lebih banyak ketajaman serta detail retention saat zooming in. Kamera utama 35mm pada Ultra menangkap frame yang lebih rapat dibandingkan dengan lensa 24mm pada X300 Pro, memberikan yang terakhir sedikit lebih banyak kebebasan dalam framing bidikan.
Vivo X300 Pro
Vivo X300 Ultra
Pada ultrawide, X300 Ultra juga unggul, menawarkan sharpness dan detail yang lebih baik daripada X300 Pro.
Vivo X300 Pro
Vivo X300 Ultra
Potret
Pada 50mm, lensa telephoto menangani bidikan orang dengan sangat baik. Proporsi wajah alami, skin tones akurat, dan ada cukup background separation pada jarak dekat hingga menengah tanpa perlu mengaktifkan Portrait mode. Telephoto 85mm membawa ini lebih jauh dengan framing yang lebih rapat, subject isolation yang lebih baik, dan headshots yang mempertahankan detail.
Sampel di bawah ini diambil dengan kedua ponsel dalam ZEISS Natural mode. Kedua gambar serupa dalam colour reproduction, menawarkan warna alami dan true-to-life di seluruh latar belakang dan pakaian. Potret 85mm juga crisp dan detailed di kedua perangkat. Namun X300 Ultra menghasilkan skin tones yang lebih datar dan netral, sedangkan X300 Pro cenderung ke arah warna yang lebih hangat, keemasan, yang mungkin lebih disukai untuk media sosial.
Vivo X300 Pro 50mm
Vivo X300 Ultra 50mm
Vivo X300 Pro
Vivo X300 Ultra
Selfie
Kamera depan memotret pada 24mm dan 47mm crop. X300 Pro dan OPPO Find X9 Ultra keduanya lebih lebar untuk memungkinkan lebih banyak orang dalam frame. Ini bukan kekurangan yang berarti dalam praktiknya, dan X300 Ultra menangani close-up selfie dengan baik terlepas dari itu. Sharpness umumnya sangat baik dalam cahaya siang, tetapi cenderung melunak di area wajah tertentu saat memotret di dalam ruangan atau dalam low light. Meskipun demikian, dynamic range sangat baik, dan warna-warna akurat saat memotret di luar ruangan.
Dibandingkan dengan X300 Pro, portrait selfie X300 Ultra menunjukkan exposure yang lebih seimbang, warna yang lebih realistis, dan subject separation yang lebih baik.
Vivo X300 Pro
Vivo X300 Ultra
Makro
Saya sebutkan sebelumnya bahwa super macro mode X300 Ultra benar-benar hebat. Meskipun X300 Pro dan Ultra keduanya menawarkan macro shots yang stabil, Ultra menangani colour separation dengan lebih baik. Itulah inti cerita X300 Ultra: color reproduction yang lebih baik.
Vivo X300 Pro
Vivo X300 Ultra
Low-light
Kamera utama 35mm adalah yang terkuat dari ketiganya dalam low light, menghasilkan dynamic range yang luas, warna yang akurat, dan sharpness yang sangat baik tanpa noise reduction agresif yang menghaluskan tekstur pada ponsel lain. Ultrawide juga bertahan dengan baik, dengan exposure yang seimbang dan white balance yang akurat. Telephoto bekerja dengan andal pada native 85mm-nya dan tetap dapat digunakan melalui 135mm zoom range, meskipun detail mulai melunak secara signifikan di luar itu dalam cahaya yang menantang.
Sensor yang lebih besar pada X300 Ultra menangkap lebih banyak cahaya dan mempertahankan clarity serta detail yang lebih baik daripada X300 Pro dalam low-light conditions.
Vivo X300 Pro
Vivo X300 Ultra
Video
Vivo telah melakukan dorongan serius pada video tahun ini, meskipun peningkatannya ditujukan langsung untuk pengguna profesional . X300 Ultra mendukung 4K 120 fps 10-bit Log recording di ketiga lensa belakang, dengan color science dan dynamic range yang konsisten di antara focal length yang ada. Custom 3D LUTs dapat diimpor untuk real-time monitoring, dan Pro Video mode menawarkan full manual controls, termasuk shutter speed, ISO, white balance, dan fokus. Jika Anda tahu apa arti semua itu, X300 Ultra adalah salah satu smartphone dengan kemampuan video paling mumpuni yang tersedia saat ini. Jika tidak, mode video standar sangat baik dan tidak memerlukan pengetahuan tambahan untuk menghasilkan hasil yang bagus.
Perlu juga disebutkan bahwa X300 Ultra memiliki camera app UI yang didesain ulang. Photo mode sekarang menunjukkan focal length alih-alih tingkat zoom. Ada ikon enam titik baru di kanan bawah untuk akses yang lebih mudah ke pengaturan aspect ratio, pemilihan super macro, snapshot, dan sebagainya. Street Photography kini telah berpindah ke carousel alih-alih menggeser ke atas dari bawah — meskipun saya lebih suka cara geser ke atas yang lama. Meskipun desain baru ini memudahkan penggunaan beberapa kontrol tambahan tanpa meregangkan jari atau menggunakan dua tangan, ini masih bisa terasa overwhelming.
Photography kit: Mengubah kamera hebat menjadi luar biasa
ZEISS Telephoto Extender Kit membawa X300 Ultra ke tempat yang sebagian besar kamera smartphone tidak bisa menjangkau. Sebenarnya ada kit dengan dua lensa teleconverter seperti tampak di bawah, masing-masing dengan focal length 200 mm dan 400 mm. Namun, di Indonesia hanya ada satu versi dengan lensa 400 mm saja seharga Rp 6 juta.
Sebelum Anda bersemangat, ada realitas praktis yang patut disebutkan di awal. Ini bukan kit untuk memotret secara spontan. Memasang grip dan lensa membutuhkan satu menit atau lebih, jadi setiap momen yang membutuhkan reaksi cepat sudah hilang. Anggap saja seperti perbedaan antara
point-and-shoot dan DSLR: keduanya mengambil foto, tetapi hanya satu yang mengharuskan Anda memutuskan terlebih dahulu. Satu hal lagi:
selalu pastikan teleconverter yang benar dipilih di camera app. Memilih yang salah akan menciptakan masalah stabilitas yang merusak seluruh pengalaman.
Lensa 200mm adalah lensa yang lebih praktis untuk penggunaan sehari-hari. Ini lebih kecil, lebih ringan, dan cukup serbaguna untuk potret dari jarak jauh, detail arsitektur, dan situasi di mana Anda membutuhkan jangkauan ekstra.
Lihat beberapa bidikan yang diambil menggunakan lensa 200mm di bawah ini.
Lensa 400mm beroperasi dalam kategori yang sama sekali berbeda. Ini front-heavy dan membutuhkan dukungan dari grip, tetapi ketika Anda memiliki subjek di kejauhan yang tidak dapat dijangkau dengan jelas oleh smartphone lain, hasilnya benar-benar sulit dipercaya berasal dari ponsel.
Berikut adalah beberapa hasil tangkapan dengan lensa 400mm.
Camera grip menambahkan two-stage shutter, control dial yang dapat disesuaikan, zoom lever, dan baterai built-in 2,300 mAh untuk mengoperasikan kontrol, bukan untuk mengisi daya ponsel. Di tangan, pengaturan lengkap ini terasa seperti kamera khusus. Saya telah menulis secara panjang lebar tentang pengalaman ini, termasuk siapa yang harus dan tidak boleh membelinya, dalam artikel khusus di sini. Versi singkatnya: untuk pemotretan yang direncanakan dan subjek yang jauh, lensa teleconverter benar-benar masuk akal. Untuk fotografi kasual dan spontan, tiga kamera native sudah lebih dari cukup.
Desain: Besar, berat, tapi tak mengapa
Vivo X300 Ultra adalah versi yang sedikit lebih tebal dan lebih besar dari X300 Pro. Bagian belakang, tentu saja, adalah highlight-nya, dengan modul kamera bundar yang menonjol lebih dari pada X300 Pro. Begitu menonjolnya hingga Anda bahkan bisa memegang camera module dengan jari dan mengangkat ponsel. Varian warna Victory Green yang kami terima memiliki dual-tone finishing yang terlihat cukup bagus.
Bagian belakang
glass fiber matte finish terasa lembut saat disentuh, terkadang sedikit licin, dan tidak akan meninggalkan noda di bagian belakang. Anda kemungkinan akan menggunakan case untuk melindunginya dari benturan.
Softcase berwarna hijau yang disertakan membuat ponsel lebih mudah digenggam. Dan saya lebih menyukai ini daripada
camera kit case, yang membuat ponsel menjadi lebih
bulky dari yang sudah ada.
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, X300 Ultra adalah ponsel besar dan akan memenuhi seluruh saku Anda. Varian warna Victory Green memiliki berat 237 gram, yang terasa substansial dan dapat membuat pergelangan tangan Anda tegang jika Anda menggunakan ponsel dengan satu tangan untuk waktu yang lama. Versi Eclipse Black beberapa gram lebih ringan.
Menariknya, Vivo telah menghilangkan shortcut button pada X300 Ultra dan X300 FE. Sebagai pengingat, X300 Pro memiliki tombol tambahan di sisi kiri yang dapat melakukan beberapa fitur, seperti beralih antara ring dan vibrate, mengaktifkan senter, merekam audio secara instan, atau meluncurkan aplikasi favorit. Pada saat hampir setiap brand lain telah menambahkan shortcut button (mirip dengan Action button iPhone), Vivo memilih untuk melewatkannya pada ponsel X300 terbaru. Meskipun bukan dealbreaker, saya merindukannya untuk beralih sound profiles dengan cepat.
X300 Ultra memiliki sertifikasi IP68 dan IP69, memastikan tidak ada kondisi cuaca yang menghentikan Anda menangkap jenis foto wildlife atau alam yang dirancang untuk dihasilkan oleh kamera.
Layar: Cerah, tajam, dan tanpa cela
Dalam hal layar, Vivo telah melakukan segalanya. X300 Ultra mendapatkan layar 6.82 inci yang luar biasa dengan bingkai yang sangat tipis di sekelilingnya, resolusi 2K, refresh rate 144 Hz, tingkat kecerahan maksimal 4500 nits, cakupan color space P3 100 persen, dan dukungan untuk Dolby Vision, di antara fitur-fitur lainnya.
Layarnya besar, jernih, dan menarik, menjadikannya bagus untuk melihat konten saat bepergian. Warna terlihat cerah, dan hitam tampak pekat. Speaker stereo juga jernih dan detil pada tingkat volume menengah. Layar juga cukup terang di bawah sinar matahari yang terik. Secara keseluruhan, hampir tidak ada yang bisa dicela dari layar X300 Ultra.
Kinerja: Snapdragon 8 Elite Gen 5 melakukan apa yang dijanjikan
Sama seperti layarnya, kinerja X300 Ultra juga top. Ditenagai oleh chip flagship Snapdragon 8 Elite Gen 5, Vivo X300 Ultra memecahkan benchmark dan dengan mudah menangani apa pun yang Anda berikan padanya setiap hari. Ada beberapa flagship Snapdragon 8 Elite Gen 5 tahun ini, termasuk Xiaomi 17 Ultra, Samsung Galaxy S26 Ultra, iQOO 15, OnePlus 15, dan Realme GT 8 Pro. Vivo X300 Ultra menjadi yang paling dekat untuk mencapai angka 4 juta dalam uji AnTuTu kami, menunjukkan bahwa Vivo telah melakukan optimalisasi yang mengesankan.
Skor AnTuTu
vivo X300 Ultra
Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5
3,977,648
Samsung Galaxy S26 Ultra
Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5
3,905,605
iQOO 15
Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5
3,842,735
Xiaomi 17 Ultra
Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5
3,654,776
vivo X300 Pro
MediaTek Dimensity 9500
3,536,552
AnTuTu mengukur kinerja CPU, GPU, memori, dan user experience keseluruhan dari sebuah smartphone (lebih tinggi lebih baik)
Selama saya menggunakan X300 Ultra sebagai daily driver, saya tidak menemukan masalah apa pun dengan kinerja ponsel ini. Semuanya berjalan cepat, lancar, dan tanpa lag, mulai dari membuka apps hingga beralih di antaranya. Saya tidak mengalami aplikasi yang crash secara acak. Ponsel memang menjadi lebih hangat daripada flagship lain yang kami uji selama 30-menit main game, tetapi saya sebagian menyalahkan itu pada cuaca musim panas yang semakin meningkat.
Software: Cerdas dengan beberapa kekurangan
Vivo X300 Ultra hadir dengan Android 16 dan OriginOS 6. Ponsel ini menerima beberapa update selama proses review, termasuk security patch untuk April. Vivo menjanjikan update versi OS selama lima tahun dan patch sekuriti selama tujuh tahun. Lumayan lama, tetapi Samsung dan Google masih unggul dengan kebijakan update 7+7 tahun mereka.
OriginOS 6 memiliki banyak daya tarik bagi pengguna yang suka melakukan kustomisasi tampilan ponsel mereka, seperti flip cards di lockscreen themes, di mana wallpaper dapat bergeser antara dua gambar saat ponsel dimiringkan. Ada Origin Island yang menampilkan notifikasi, music playback, live alerts, dan lainnya. Anda mendapatkan Airdrop support dengan Quick Share, memungkinkan transfer file antara X300 Ultra dan iPhone. Animasi lebih cepat dan lebih responsif.
Meskipun OriginOS sebagian besar lancar dan mengesankan, saya merasa
lockscreen notifications dapat ditingkatkan, seperti menampilkan
chat terpisah dari aplikasi seperti WhatsApp dan tidak membatasi kemampuan untuk memperluas notifikasi ke panah kecil yang mengarah ke bawah di sudut kanan. Masalah lain yang terus-menerus adalah ketika Anda beralih dari
app drawer ke
widgets dan lupa untuk beralih kembali, dan
widgets menjadi
default setiap kali Anda
swipe up. Saya juga menemukan sensor sidik jari terkadang
glitchy, gagal mengenali sidik jari saya atau membeku sama sekali, yang saya yakin dapat diperbaiki melalui
update software.
Baterai: Cukup untuk bertahan sehari, pengisian 100 watt menangani sisanya
Baterai Li-ion 6,600 mAh di dalam Vivo X300 Ultra mungkin tidak terdengar besar hari ini. Sekarang sudah umum melihat sub-flagship diluncurkan dengan baterai 8.000 mAh dan 9.000 mAh. Kapasitas 6.600 mAh masih lebih besar dari Xiaomi 17 Ultra atau Samsung Galaxy S26 Ultra, meskipun lebih kecil dari unit 7.050 mAh di OPPO Find X9 Ultra. Pada kenyataannya, daya tahan baterai Vivo X300 Ultra sama bagusnya dengan flagship mana pun di pasaran saat ini.
Skor Baterai PCMark (dalam jam)
Samsung Galaxy S26 Ultra
5000 mAh
14.4
PCMark battery test mengukur daya tahan baterai ponsel dari 100 persen ke 20 persen (lebih tinggi lebih baik)
Vivo X300 Ultra dapat dengan nyaman bertahan sehari penuh dengan sekali pengisian daya. Pada penggunaan sedang, saya bisa mendapatkan sekitar 1,5 hari dengan sekali charge, yang sama sekali tidak buruk.
Juga membantu bahwa Vivo X300 Ultra mendukung 100W FlashCharge, dan Anda mendapatkan charger 100 watt di dalam kotak. Saat Anda menancapkannya, Anda dapat memilih antara normal dan rapid charging. Memilih yang terakhir mengisi baterai dari 20 persen hanya dalam 36 menit, tetapi akan menghangatkan perangkat dalam proses tersebut. Normal mode membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk mengisi daya, yang harus Anda pilih jika Anda tidak terburu-buru.
Kesimpulan: Untuk siapa sebenarnya Vivo X300 Ultra?
Vivo X300 Ultra tidak mencoba menjadi flagship all-round terbaik. Ia mencoba menjadi camera phone terbaik di luar sana, dan ia berhasil. Sistem tiga lensanya adalah yang paling konsisten yang pernah saya uji pada smartphone mana pun, colour science-nya naturalistik dan akurat, dan kemampuan videonya menempatkannya dalam kategori tersendiri untuk mobile video profesional. Vivo X300 Ultra dengan Zeiss telephoto extender kit membuat fotografi jarak jauh tingkat profesional yang menakjubkan terasa sangat mudah dijangkau oleh siapa pun yang menggunakannya.
Di luar kamera, X300 Ultra adalah flagship yang mumpuni dalam setiap aspek lainnya. Snapdragon 8 Elite Gen 5 menangani semuanya tanpa ragu, layar 6.82-inci 2K termasuk yang terbaik yang tersedia, dan baterai 6.600 mAh dengan charging 100 watt berarti Anda mengakhiri setiap hari dengan sisa daya dan menghabiskan sangat sedikit waktu menunggu untuk mengisi penuh. OriginOS 6 memiliki personality dan sebagian besar lancar, meskipun masalah keandalan pemindai sidik jari, notifikasi di lockscreen, dan beberapa elemen lain membutuhkan perhatian. Jaminan update software lumayan panjang, tetapi Samsung dan Google tetap unggul dalam hal ini.
Harga mulai Rp 26 juta dan berat 237 gram menjadikan X300 Ultra ponsel yang menuntut komitmen. Tambahkan photography kit, dan Anda melihat total investasi di kisaran 30 jutaan untuk sistem kamera penuh. Ini bukan untuk pengguna kasual, melainkan fotografer serius yang menginginkan kamera paling mumpuni dalam form factor ponsel, yang berfungsi sebagai daily driver tanpa kompromi. Vivo X300 Ultra berada di liganya sendiri pada tahun 2026.
Rating Editor: 8.7 / 10
Alasan untuk membeli:
- Sistem kamera tiga lensa terbaik dan paling konsisten pada smartphone mana pun saat ini.
- Colour science Vivo naturalistik, akurat, dan dapat disesuaikan dengan film simulation profiles yang benar-benar berguna.
- Zeiss Telephoto Extender Kit membuka optical zoom 200mm dan 400mm yang tidak dapat ditandingi smartphone lain.
- Flagship performance dan 2K display yang luar biasa menjadikannya ultra-premium flagship phone yang hampir sempurna.
Alasan untuk tidak membeli:
- Banderol mulai Rp 26 juta adalah harga yang signifikan, dan full photography kit menambah Rp 6 juta lagi ke total.
- Meskipun daya tahan baterai dapat diandalkan, jarang bertahan lebih dari sehari penuh, terutama jika Anda banyak menggunakan kamera.
- OriginOS belum sepenuhnya sempurna, terutama notifikasi lockscreen, dan masa update tertinggal dari Samsung dan Google.